Kamis, 24 November 2011

Puzzle: Film Nasionalis Karya Satu Atap (FSMR ISI) yang Minimalis tapi Manis

"Kita adalah kepingan Puzzle, Indonesia adalah bingkainya"

Kalimat itu yang terus terngiang dalam benak saya. Ya, mungkin sangat sederhana, tapi makna di balik kalimat tersebut menurut saya sangat luar biasa. Ini juga yang mengawali keluarbiasaan yang ditampilkan sebuah karya minim persiapan, tapi maksimal dalam makna.

Puzzle menceritakan Damar, yang di waktu kecil mndapatkan sebuah Puzzle Indonesia dari kakeknya. Bukan hanya puzzle saja, melainkan rangkaian makna dari puzzle tersebut. Ya, namanya anak kecil, ketika beranjak SD, SMP bahkan SMA pun DAmar belum mengerti apa yang diceritakan kakeknya tersebut mengenai "Bhinneka Tunggal Ika".

Damar SD diceritakan sangat tidak tolerir, bahkan cenderung nggentho. Damar SD terlibat perkelahian dengan seorang anak dari Ambon. Suatu kali mereka berebut Peta yang dipinjamkan ibu guru, dan akhirnya sobek. Mereka akhirnya mengisolasi bersama-sama.

Damar SMP, tak jauh beda. Bukan lagi isu rasisme yang diangkat, tapi kepedulian terhadap orang kecil. Damar SMP sama sekali tidak menghormati tukang kebun di rumahnya. Hingga suatu kali, Damar bertemu perempuan cantik (yang tidak diceritakan siapa) yang membuka matanya bahwa sekaya apapun dirinya, ternyata ketergantungan terhadap mereka yang kecil ssangat besar. Ya, saya setuju, mereka yang kaya adalah mereka yang sebenarnya mengambil kenyamanan dari orang-orang kecil di sekitar mereka.

Damar SMA, tak lagi bersinggungan dengan masalah rasisme atau pun kepedulian. Tapi dengan menggunakan Nasinalisme yang sedang jadi trend. Damar yang diceritakan mencinati bola terlibat perselisihan kecil terkait siapa yang akan menang saat Timnas Indonesia bertanding. Dan sekali lagi saya sepakat, di tengah carut marut dunia persepakbolaan Indonesia (yang saya kurang mengerti), dukungan seluruh elemen merupakan sebuah langkah memajukan Indoensia. Dan saya harap, bukan hanya untuk bola, tapi dukungan untuk segala pengalaman Damar tadi.

Ramuan pengalaman Damar dari kecil-SMA diselingi dengan Damar Kuliah yang mencoba merangkai kembali "kita" sebagai puzzle, dalam bingkai ke-Indonesiaa-an yang tunggal. Bhinneka Tunggal Ika.

Ya, berbeda, tapi sekali lagi ketika perbedaan itu tak bisa dilengkapi, maka akan ada bagian yang kosong. Kekosongan itu harus diisi dengan persatuan. Persatuan yang emmbutuhkan semua elemen ke-Indonesia-an untuk melengkapi sebuah bingkai besar, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Analogi yang tak main-main. Walaupun minim persiapan (hanya 1 minggu), tapi film yang diproduksi selama 3 minggu ini benar-benar manis untuk menjawab segala tantangan Indonesia di masa kini. BUkan saja mengenai pluralisme, tapi juga berbica penghargaan pada mereka yang kadang tidsk pernah kita sentuh. Bukan saja mengenai bagaimana belajar tentang Indonesia, tapi juga bagimana kita mengajarkan pada semua orang yang kita kenal mengenai indahnya Indonesia yang sesungguhnya.

Kalah jadi abu, menang jadi arang. Sebuah ungkapan yang juga muncul sebagai pemanis. Pertikaian sebenarnya bukanlah sebuah solusi. Kepingan Puzzle hanya bisa disusun dengan landasan logika dan juga kesabaran. Ketika semua itu luntur, maka emosi yang berlebihan selanjutnya akan merusak bingkai persatuan yang telah dibangun dengan perjuangan besar jauh-jauh hari.

Bukan lagi tugas para pahlawan untuk menyatukan kepingan-kepingan tersebut, tapi sekarang sudah menjadi tugas kita untuk merekatkan diri satu sama lain. Memberikan sebuah kehangatan tentang bagiaman bingkai Indoensia bisa distukan. Bukan lagi berpikir tentang say, tapi tentang kita. Bukan lagi berpikir bagiamana caranya menjadi kaya, tapi bagaimana caranya menjadi berharga. Bukan lagi berseru "Ini Tuhanku", tapi berpikir "Cara Tuhan untuk menyayangi mereka". Ya, hanya sebuah ulasan kecil, menanggapinya dengan opini. Dan menurut saya, walupun film ini sangat minimalis dari segi peran, tapi menjadi sangat manis untuk menggugah ke-Indonesia-an. Sukses Satu Atap. Sukses terus FSMR ISI. Saya tunggu screening karya selanjutnya.

5 komentar:

  1. terima kasih atas apresiasinya, ini feedback yg sangat kami tunggu, dan semoga bukan hanya kami yang bersemangat untuk membawa kesejahteraan untuk nusantara, tapi kita semua.
    dan kami yakin, kepingan-kepingan ini akan segera terbingkai dengan manis... dan mari kita berproses bersama hai anak-anak Ibu Pertiwi / anak-anak Nusantara raya....
    Salam budaya!
    -Ludfi-

    email SatuAtap Prod : prod.satuatap@yahoo.com

    BalasHapus
  2. eh, maaf banyak salah ketik mbak :)) hahaha....asik,asik..yang dapet juara III ihiirr..MERDEKA!! kalau ada screening lagi,,makan2nya lebih banyak yaa *ngarepp* hahaha...yang penting terus berkarya,,itu sudah menunjukkan kecintaan kita pada Indonesia. :))

    BalasHapus
  3. Yoyoa..... sippp....
    Mari menebar pesan lewat karya.... hkakakakaka.....

    BalasHapus
  4. Thanks banget buat apresiasinya.....semoga film yang banyak kekurangan ini dapat memberikan pencerahan kepada orang-orang yang mengaku Bangsa Indonesia namun tidak menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Eka.

    BalasHapus
  5. Pesan yang sangat berguna. Penting guna kembali mengingatkan tentang BHINEKA TUNGGAL IKA yang kian hari kian merosot hingga pecah belah. Ini mengingatkan kita kembali betapa perjuangan para pahlawan dahulu dalam mempersatukan NUSANTARA INDONESIA yang majemuk menjadi satu kesatuan. hmmhhh,,, Lanjutkan berkarya SatuAtap, SUKSES selalu!

    BalasHapus