
“Ibu kan ingin mengabdi, dek”
Judul di atas bukan untuk menyiratkan peranan perempuan yang besar dalam pendidikan. Saya hanya ingin menjelaskan pengabdian seorang Ibu, Margaretha Endang Iriani Lestari Pujiastuti, yang merupakan guru. Quotes awal itu juga saya ambil dari pengalaman Bu Endang, Ibu saya.
Sudah lebih dari 20 tahun ibu menjadi guru. Berbekal ijazah SPG Sedes Ambarawa, Ibu pernah menjadi guru TK di Recis Bogor (saya lupa tahunnya), guru TK Santa Maria, Sidorajo (1993-1998) dan TK Mardisiwi Gantang (2001-sekarang). Ibu, sebagai seorang Guru tidak sama dengan guru-guru lainnya.
Saya tidak tahu kapan mulanya Ibu tertarik menjadi Guru, yang saya tahu Ibu selalu senang mengajari anak kecil walaupun berada di luar sekolah. Ya, menurut saya Ibu adalah guru yang sangat berbeda.
Saya melihat guru-guru masa kini yang sudah menggunakan motor, HP yang canggih, gaya yang sangat mewah. Tapi, Ibu adalah seorang guru yang tetap sederhana dan sangat rendah hati. Bahkan, Ibu tidak pernah menuntut banyak gaji sebagai pemenuhan kebutuhan yang mewah. Ibu hanya menuntut hak yang sudah disepakati sebelumnya. Dulu, gaji Ibu saya hanya 300.000 per bulan.
Dalam kejamnya dunia sekarang ini, dimana yang punya uang selalu menang, Ibu mengajarkan pada saya pengabdian adalah hal yang sangat mendesak untuk dilatih. Ibu mengajarkan pada saya bagaimana caranya berprestasi meski tak punya uang. Haha, saya ingat masa kecil saya yang dekil. Dulu, tas dan sepatu pun bukan ibu yang membelikan, tapi guru-guru SD saya. Dari dulu hingga sekarang, bahkan, sekolah siapa yang membayar? Sedikit dari orang tua, kebanyakan dari beassiswa. Semua itu saya dapatkan dari perjuangan Ibu, yang memandang uang bukanlah hal utama untuk mencapai kesuksesan.
Saat seperti itu, kala Ibu mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah institusi yang lebih banyak gajinya, Ibu tetap memilih bertahan di Mardisiwi. Saat Ibu mendaftar sebagai PNS (walupun tidak diterima), Ibu tetap berjanji akan berkarya di Gantang. Ibu bukan hanya sekedar Guru yang mengajar saat kelas, tapi memiliki kedekatan batin yang kuat dengan masyarakat Gantang.
Ya, pengalaman Ibu mengajar di Gantang adalah pengalaman yang menurut saya mengesankan. Dulu Gantang bukanlah daerah beraspal seperti sekarang. Gantang adalah daerah yang jalannya terjal, tidak rata dan menanjak. Ibu berangkat mengajar ya dengan berjalan kaki, walaupun kini sudah bisa menikmati mudahnya kendaraan. Semua dilakoni Ibu, bahkan Ibu pernah beberapa kali cerita kalau Ibu pingsan saat mengajar karena lelah saat berjalan. Tapi Ibu menyerah? Tidak pernah.
Dulu Gantang adalah sebuah daerah yang hanya memiliki satu SD Negeri. Bukan keberadaan SD nya yang memilukan, tapi belum ada kesadaran kuat tentang pentingnya pendidikan di daerah itu. Dan benar, pertama kali Ibu mengajar di sana, menumpang rumah dari kayu yang masih kecil, muridnya bisa dihitung dengan jari. Tapi, pendekatan kepada masyarakat terus dijalani. Ibu membimbing dengan sepenuh hati murid-muridnya sehingga bisa menularkan pada teman-temannya kalau bersekolah itu bukan sebuah beban, tapi menjadi pembelajaran yang asik.
Dulu masyarakat sana menganggap, mending ceat kawin daripada kelamaan sekolah. Tapi sekarang, generasi 12 tahun lalu yang dibimbing ibu di masa TK mulai tumbuh menjadi pribadi yang peduli pendidikan. Walupun bukan semuanya, tapi Ibu tetap berusaha menanamkan pentingnya pendidikan utnuk masa depan.
Dengan misi itu, Ibu tidak hanya bersentuhan dengan anak. Ibu juga rajin bersosialisasi dengan warga sekitar. Hahaha, kalau ada hajatan kecil saja, rumah bisa sangat ramai dipenuhi dengan warga Gantang yang berkunjung bebarengan. Saya kurang tahu pasti, tapi mereka pernah berbisik pada saya “Jangan kaget ya, Ibumu sudah dianggap seperti keluarga kami”. Sedekat itukah Ibu? Tapi menurut saya kedekatan itu juga sebuah isyarat kalau Ibu juga terus berjuang dalam pendidikan ank-anaknya. Anak Ibu bukan hanya saya, Mbak Mita, atau Ian. Bahkan Nando, anak kecil (murid ibu) yang sekarang sudah di surga, anak-anak gimbal di Ganang juag semua anak yang pernah bersentuhan dengan Ibu.
Saya bangga dengan Ibu, saya trenyuh dengan perjuangan Ibu. Suatu kali teman-teman saya berkesempatan bertemu Ibu, salah seorang di antaranya mengatakan “Ibumu mencerminkan seorang Guru”. Ya, Ibu adalah Guru yang sejati di mata saya. Ibu, lanjutkan pengabdianmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar