Rabu, 02 November 2011

Script yang Gagal Dieksekusi, Ada yang Berminat?

CATATAN DUNIAWI
Manusia, Belahan Jiwa dan Tuhan: Menerawang Dalam Lembaran, Seakan Kehidupan Terbayang

SCENE I:
“Cinta itu seakan rasa yang terlalu abstrak, ingin menelan dalam, apa daya....lidah tak mampu mengecap pahit....ingin memuntahkannya dalam bak sampah, tetap mulut tak mau berhenti mengunyah..mengharapkan manis itu datang dengan sendirinya...”
Mata Nuel tak henti-hentinya membaca dan memahami status facebook Aisyah itu. Tak lama kemudian tangannya mulai cekatan berpadu dengan suara ketikan
Kasihan ya si Cinta, bergabung terus dengan liur....diaduk hancur hingga lebur oleh gertakan gigi....
Hahaha....kok kamu tiba-tiba muncul mas Nuel? Apa kabar? Lama tidak berjumpa, padahal kita sama-sama di Yogyakarta....
Lho?? Kok mengalihkan pembicaraan? Kita kan sedang berbicara tentang Cinta dalam mulut, kunyahan duniawi....Hahaha, Baik Aisyah...iya sudah dua bulan kita gak ketemu....
Dua bulan ternyata tidak cukup membuat saya lupa tentang cinta lho....hehe,, kunyahan kita tidak hanya dipelajari dalam keduniawian,, cinta dikunyah dalam iman..Nuel...
Kalau begitu mengapa cinta tidak dibiarkan masuk dalam perut dan menjadi lebih bermakna untuk iman,, dari sekedar rasa yang seringkali ditolak oleh pengecap??
Karna cinta dan iman seringkali seperti lidah yang ingin mengecap manis, tapi mendapat pahit....padahal si empunya lapar berat...haha...seperti kamu tu, tiap jam lapar!!
Ahahaha,, kalau begitu cinta bukan bagian dari iman tu, atau imannya yang sama sekali gak kuat....?? Haha....
Nyindir ni?? Eh, aku Shalat Maghrib dulu ya....sudah dijemput Bapak...
Selamat beribadah Aisyah....
Nuel mematikan koneksi internetnya, berjalan ke arah rak bukunya..mengambil sebuah buku tentang Cinta dan Agama. Membalik halaman demi halaman bukan untuk dibaca, melainkan untuk mencari kalimat yang kemudian akan ditulisnya dalam sebuah catatan. Catatan Duniawi begitu dia memberi judul catatan kecilnya. Banyak kalimat-kalimat singkat, bahkan beberapa adalah tulisan tentang dilema cinta sahabatnya. Nuel menambahkan beberapa kalimat dalam catatannya.
Sudah dua buku dia bolak-balik demi kalimat-kalimat yang berbicara tentang cinta. Buku sudah menjadi belahan jiwanya dua bulan ini. Tidak kurang dari enam kalimat dia tambahkan dalam catatannya. Teng, teng, teng alarm pukul 21.00 menyambut keseriusannya dalam menggoreskan tinta di catatannya. Nuel beranjak dari meja belajarnya menuju ke kamar mandi, membersihkan kaki dan tangannya. Selesai membasuh dirinya sendiri, dia kembali menuju kamar, mengambil secarik kertas bertuliskan SKRIPSI dan menempelkan pada stereofoam di depan meja belajarnya. Nuel mengambil lilin, menyalakannya dan mengambil secarik kertas doa dan mulailah dia berdoa dengan rosario di tangannya.

SCENE II:
Perpustakaan, tempat yang tidak asing lagi untuk Nuel. Dia meletakkan Laptopnya di atas meja, bergegas menuju rak-rak buku keagamaan dan mengambil beberapa buku dari dalamnya. Nuel kembali ke mejanya, bertegur sapa dengan beberapa orang yang memanggilnya dan menanyakan Kapan mau lulus?? Nuel hanya tersenyum kelu sambil kembali ke mejanya. Dia menyalakan Laptopnya, sambil membaca buku-buku yang tadi diambilnya, dia kemudian mengetik beberapa kalimat dengan serius.
“Boy, serius bener lu ngetiknya? Ngebet lulus apa ngebet kawin?” Sapa David temannya.
“Anjrit, diem lu, gw lagi serius ni!!”
“Ahahaha, lu gak lagi ngebet kawin kan?”
“Nyet, gw udah janji sama Aisyah 3 bulan gw udah selesai Skripsi”
“Ah, mengada-ada aja tu babenya, masa’ pacaran aje harus nunggu lu lulus!”
“Iya lhah, Aisyah aja udah kerja.” Jawab Nuel sambil membereskan mejanya dan bergegas keluar.
“Emang Aisyah beneran gak boleh ketemu sama lu?”
“Kalo boleh sih kaga mungkin gw serajin dua bulan ini, Nyet!!”
Mereka berdua melanjutkan obrolan hingga keluar dari peRpustakaan.


SCENE III:
Nuel kembali ke kosnya dengan motornya. Dia mampir sejenak ke Masjid, menemui seorang Bapak dan tergopoh-gopoh bertanya, “Pak, pindah Agama ke Islam kalau karena Cinta kira-kira bertahan berapa lama ya?”
“Nuel, nuel...kamu sudah tanya tentang ini berapa kali? Sekali lagi jawabannya ada di hatimu.” Ujar Bapak itu sambil memegang dada kiri Nuel.
“Tapi, kalau misalnya menikah beda Agama itu dosa tidak menurut Islam?”
“Kamu kan sudah baca bukunya yang saya beri, kamu tahu jawabannya kan?”
“Tapi Pak, kalau menurut Bapak bagaimana saya harus mendekati bapaknya Aisyah?”
“Pakai hatimu, Nak. Dekati dulu anaknya, agar dia percaya iman tidak bermasalah untuk cinta.”
“Ehm, oke Pak. Makasih, Maaf Pak kalau pertanyaan yang sama saya tanyakan berkali-kali.” Nuel pergi berlalu dengan wajah yang agak murung.
“Ikuti hatimu Nu, catatan dalam buku-bukumu berkata hal yang duniawi”

SCENE IV:
Sore menjelang malam, kembali Nuel melahap buku-buku yang tadi dia pinjam di Perpustakaan. Kemudian dia terlihat agak sedikit murung, tampak memikirkan hal lain diluar isi buku tersebut. Kemudian membuka Laptopnya, menyalakannya dan mulai online.
“Eh, Aisyah komen apa ni?”
Nuel: Sudah dua bulan tidak bertemu, saya akhirnya beranikan diri menyapa maya dirinya.
Aisyah: Gimana Skripsinya Mas?
Nuel mulai tenggelam dalam bunyi gemertak jarinya.
Masih stug, tinggal satu minggu lagi ya batasnya? Hahaha
Hahaha, santai aja....Aisyah tunggu kok
Tapi Bapak sepertinya sudah memburu....
Hahahaha....
Kok ketawa?
Abisnya, kayaknya mas Nuel yang sudah memburu lulus *diceritain frater David tadi
Ahahaha, sialan tu anak cerita ke kamu!! Kamu tadi ke perpus juga ya??
Iya,, Cuma bentar....Mas, ada Bapak..bentar yaa...

SCENE V:
Nuel sangat rajin mengejar skripsinya. Bimbingan skripsi dengan seorang Romo Pembimbing. Berdoa dengan lilin dan rosario. Buku yang dipinjam sekarang lebih banyak tentang panggilan.

SCENE VI:
Nuel membuka-buka kembali catatan duniawinya, dia seakan terlena oleh skripsi hingga lupa dengan catatan itu. Dia membaca kembali tulisan Aisyah saat itu
Radikal dan moderat, mencampurkan air dengan minyak....semoga ada sabun basa yang menyatukan keduanya.
Dia kemudian membuka laptop, menuliskan hal tersebut di facebook dengan harapan Aisyah membacanya.
Mas, masih ingat to? Pasti baru buka catatan duniawi ya? Hahaha
Iya, kamu masih ingat buku yang dulu kamu baca sebelum menuliskan kalimat itu?
Masih Mas....saya tidak bisa jalani hubungan beda Agama, apalagi Bapak saya...nunggu janji mas Nuel setelah selesai Skripsi
Bukannya cinta itu biar kita yang berbeda disatukan sehingga ada damai, dek?
Tapi pandangan kami berbeda, saya masih percaya sama bapak..cinta yang dijalani berbeda bikin dosa,, gak di ridhoi..nanti bikin kisruh di antara keluarga....
Aisyah....
Iya...
Tapi....
Mas kan udah janji dulu??
Tapi kayaknya aku gak mau pindah....aku gak yakin,,
Mas... TT
Nuel menghentikan jemarinya sejenak. Dia menutup laptopnya dan berdoa, masih dengan menggantungkan tulisan skripsi di depannya. Tapi kini tulisannya tidak lagi dengan tinta hitam, melainkan tinta merah.

SCENE VII:
2 bulan kemudian
Nuel sudah berada di depan laptop dengan berbagai ucapan selamat yang dia dapatkan atas kelulusannya.
Aisyah: Selamat ya Mas....
Nuel: Makasih....Masih ingat janji kita empat setengah bulan lalu? Saya telat satu setengah bulan nih....hahahaha
Aisyah: Gapapa Mas..hehe..saya tadi ke kampus Mas, tapi mas sudah terlanjur pulang..terus tadi ketemu frater David pas ke Perpustakaan....aku nitip surat untuk Mas ke dia....hahaha...Aisyah tunggu janji Mas...
Nuel: hahaha...aku nanti ke tempat David dulu aja ya....aku baca dulu suratnya, baru nanti kita bahas lagii...
Nuel segera membereskan laptopnya, berganti baju dan bergegas menuju Perpustakaan Kolose Santo Ignatius.
“David ada Mas?”
“Bentar ya saya panggilkan mas Nuel”
“Nu, ini surat dari Aisyah” tiba-tiba David muncul di hadapan Nuel.
Nuel dengan segera membuka surat itu dan membacanya.
Mas, radikal vs moderat....sudah ada sabun basa yang menyatukan..kesabaran Mas!! Hahahaha....Aisyah mau ambil resiko,, Mas gak harus pindah Agama gapapa....nanti Aisyah yang ngomong ke Bapak.
Mas, Aisyah teringat kata-kata Mas. Benar, kata-kata di buku Cuma sesuatu yang semu....idealisme sebagian orang,, bukan kenyataan yang sebenarnya...semu....Aisyah salah menganggap buku-buku keagamaan itu Kehidupan, padahal Aisyah gak dapat kedamaian karena menolak perasaan Aisyah. Maafin Aisyah Mas.
“Vid, lu ada nomer Aisyah yang baru kan? Gw pinjem donk hape lu!” Paksa Nuel sembari merogoh kantong David.
Aisyah, ini Nuel....ketemuan yuk besok jam 2 di Perpustakaan.
“Thanks Vid....”
“Ah, elu mah...maksa jadi orang....Gimana? Besok ketemu Aisyah?”
“Iya....hehehe...” Lalu Nuel membisiki David, sembari keluar dari ruangan.
David melambaikan tangan sambil tersenyum lebar, “Sukses Boy! Gw tunggu!!”

SCENE VIII:
Esoknya Nuel menunggu di Perpustakaan. Sejenak kemudian Aisyah datang dengan jilbab dan rok panjangnya.
“Eh, Aisyah....lama gak ketemu, kangen gak??”
“Hahaha...gak usah ditanya Mas.” Mereka kemudian duduk di tangga masuk Perpustakaan.
“Jadi ingat dulu kita pertama kali ketemu disini juga kan Mas.”
“Hahaha..iyaaa....Kamu ingat ini juga gak?” Jawab Nuel sambil mengeluarkan catatan duniawi-nya.
“Masih lhah Mas.”
Nuel dan Aisyah berbincang-bincang lebih lanjut beberapa saat. Di akhir pertemuan sekitar 15 menit itu, Aisyah kemudian berdiri tersenyum, sedang Nuel merasa sedikit bersalah. Nuel memeluk Aisyah sambil memberikan catatan duniawinya. Aisyah dan Nuel pergi ke depan, Aisyah menghentikan becak yang lewat dan mulai melaju. Tampak Aisyah mulai menangis, sedang Nuel dengan muka bersalahnya menaiki motornya kembali ke kos.

SCENE IX:
Nuel memulai ritual doa malamnya di Kos. Kali ini dia mengambil Tulisan Skripsi berwarna hitam, di balik tulisan itu terdapat nama Aisyah. Nuel membakar kertas itu. Kemudian Nuel merapikan buku-buku panggilannya, menuju sterofoam dan membalik kertas bertuliskan SKRIPSI tinta merah. Ketika di balik muncul tulisan ROMO dengan tinta merah pula....Nuel mulai berdoa.

SCENE X:
DI Mobil menuju Seminari, Nuel melamun. Menerawang kembali malam sebelum dia memberikan catatan duniawinya ke Aisyah, saat dia menuliskan
Maaf Aisyah, saat kamu tersadar dari kesemuan sebuah buku...aku justru terseret masuk dalam kebenaran tiap lembar buku panggilan. Saat kamu dulu aku kecam karena menganggap kebenaran radikal yang tertulis dalam buku harus menjadi nyata, sekarang justru aku yang harus kamu kecam karena masuk dalam persuasui kehidupan. Aku terjerumus dalam kenyataan semu, yang saya yakin ada!! Maaf Aisyah, aku ingin jadi Romo.
Tak sadar, ternyata Nuel sudah tiba di gerbang Seminarai. Dia heran melihat Aisyah sudah hadir di sana bersama David.
Nuel turun, dan Aisyah membisikkan sesuatu kepadanya.
“Untuk kedamaian hatimu, aku tidak akan mengecam Mas terseret dalam bayangan semu buku-buku yang Mas baca. Aku senang, Mas berpikir untuk kedamaian..juga bukan untuk mebohongi perasaan Mas. Salam untuk Tuhan, doakan Aisyah ya Mas.” Aisyah menitikkan air matanya masuk ke dalam mobil.
David ganti menghampiri Nuel, “Saya salut Bos sama Anda..Saya tunggu kita ditahbiskan bersama Bos.” Katanya sambil naik mobil.
Nuel hanya bisa diam, dia tersenyum..melambaikan tangan kanannya ke arah David dan Aisyah yang melaju pergi. Tangan kirinya menggenggam catatan duniawi yang tadi dikembalikan Aisyah. Dia lemparkan catatan duniawi itu ke bak sampah dan melaju pergi, masuk ke rumahnya yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar