
Senyum Masa Depan, sebuah judul yang sangat menarik untuk merefleksikan Indonesia ke depan. Saya terinspirasi dengan para pengajar muda, entah mereka yang secara kolektif mengajar di suatu tempat (misalnya Indonesia Mengajar) ataupun mereka yang secara mandiri berinisiatif untuk belajar bersama teman-teman yang kurang beruntung dalam pendidikan.
Indonesia ke depan, sebenarnya tidak membutuhkan hujatan-hujatan akan masalah-masalah sosial yang ada. Biar saja itu menjadi urusan mereka yang berkompetensi dalam dunia ekonomi, politik, dlll. Ignorance terhadap hal ini bukan tanpa alasan. Saat orang gegap gempita mengkritisi hal-hal yang besar, banayk kemudian melupakan langkah-langkah kecil untuk memberikan senyuman kepada mereka yang belum beruntung. Ya, saya adalah orang yang sebenarnya pesimis dengan keadaan Indonesia yang sekarang ini mencoba keras memperbaiki diri. Saya pesimis ketika mental semua elemen bukan menjadi prioritas utama yang harus diubah.
Ya, hanya sekedar pemikiran yang mungkin sangat-sangat sederhana. Sekali lagi saya sok kritis padahal penuh dengan nada pesimistis. Saya menilai senyuman untuk mereka yang belum mampu adalahs ebuah hal yang harus diwujudkan. Mereka yang kini belum bisa tersenyum mempunyai mental baja, diterpa segala angin kerinduan. Kerinduan akan kasih sayang, kerinduan akan pendidikan, kerinduan akan kepedulian. Untuk meraih kerinduan itu, mereka telah berproses panjang. Mental itu yang harusnya didampingi agar berguna untuk memberikan senyman masa depan bagi Indonesia.
Teman, sepertinya sudah bukan waktunya ketika kalian menanyakan lembaga sosial mana yang cocok untuk penelitian. Bukan lagi kalian sekedar menganalisis dan mencoba mencibir pemerintah yang keras hati untuk memperbaiki keadaan. Sekarang waktunya bangkit, Teman. Ayo wujudkan senyuman kecil dalam wajah mereka. Sebuah senyuman untuk masa depan. Bukan saatnya ahnya berdoa dan beroptimis, banyak wadah yang bisa kalian gunakan untuk mencurahkan kata-kata optimis itu dalam hidup nyata. Enggage it into real world.
Saya mengajak bukan berarti saya sudah punya kontribusi besar, saya pun sedang berprose. Saya sedang mencoba untuk memberikan senyuman kecil. Dan kalian akan tahu rasanya betapa senyuman yang berbalas itu menimbulkan ketegaran hati yang luar biasa. Ketegaran hati untuk terus berdiri tegar dalam pendirian, melihat mereka yang ternyata bisa lebih tegar daripada kita.
Saya punya cerita untuk hal ini. Salah seorang anak bernama Ganis suatu hari mengatakan "Aku wis ra duwe Ibu", padahal ibunya nyata ada dan dalam keadaan yang gila..sekarang entah kemana perginya ibunya itu. Tapi satu hal yang membuat saya tersentuh adalah ketika Ganis suatu kali berbicara banyak ke saya tentang bagaimana dia sebenarnya hidup dalam bayang-banyang kerinduan. Tapi, dia selalu mencoba untuk bangkit dan dengan bantuan teman-temannya dia tetap bisa tegar menganggap bahwa dia harus hidup, walaupun kadang iri dengan teman-teman lain. Begitu juga Sita yang selalu tersenyum menyambut tangan saya untuk bermain, walaupun kadang dia menangis karna banyak temannya yang tidak suka dengan penampilan dia yang kumal.
Teman, saya belajar banyak hal tentang hidup dari mereka. Saya merasa belum mengalami apapun ketika banyak cerita mereka yang benar-benar sangat menginspirasi hidup saya. Teman, satu hal yang saya yakin adalah senyuman mereka yang selama ini menegarkan hati saya.
This is an excellent piece of journalism, an enjoyable read. One thing I have to say is you have to PROOFREAD for typos before posting (quite a lot of typos you have there), but that's why every journalist needs an editor, right? ;) cup cup cup
BalasHapusthks reisha..hahah..yoa..males ngedit rei..but thx...
BalasHapus