Kamis, 03 November 2011

Little Terrorist



Coba sebelum Anda, pengunjung membaca ulasan saya, tonton hingga lengkap film yang sangat menginspirasi saya ini.

Sudah??

Baik, Anda bisa membaca ulasan saya jika tidak paham.
Sebelum mengulas, saya ingin bercerita terlbih dahulu bahwa saya mendapatkan referensi film ini dari dosen Penulisan Skenario, Bapak Tri Giovanni. Sekali lagi saya adalah anak iklan yang setengah jurnalis. Saya memang tertarik dengan film-film yang mengedepankan isu-isu perang dan sensitivitas warga masyarakat terhadap isu-isu tersebut. Kenapa? Karna film-film tersebut memberikan alur yang rapih menurut saya. Tengok saja Life Is Beautiful, atau Boy in the Stripped Pyjamas. Dua film favorit saya yang mengedepankan sisi humanitas dilihat dari korban, dan benar-benar membuat penonton akan trenyuh dan masuk dalam cerita. Film-film semacam itu bukanlah sebuah film yang mahal dibandingkan dengan Twilight, Harry Potter, Transformer ataupun Avatar, tapi nilai lebih dari film itu ada pada penggalian cerita yang riil. Penggalian makna yang ingin disampaikan juga menjadi satu sisi yang membutuhkan perjuangan. Tidak bisa dibandingkan memang antara genre fantasi dengan genre drama perang, tapi cukup memberi saya pemahaman bahwa Anda harus menonton film-film drama perang!
Kembali pada Little Terrorist, sebuah film pendek, singkat yang menyabet penghargaan Oscar. Kami mengulas film ini dalam kelas. Satu hal yang paling kentara dari film ini adalah sisi budaya. Ya, budaya yang sebenarnya hampir sama anatara orang Pakistan dan Indisa, cuma agama saja yang membedakan, menjadi unsur yang kental terasa dari awal hingga akhir scene. Pakaian, simbol-simbol budaya lewat tempat tinggal hingga makanan. Walaupun ditampilkan oleh dua tokoh yang sangat kontras, antara India dan Pakistan, tapi sekali lagi unsur budaya menjadi pemersatu kedua pihak ini. Beda dengan film Indonesia yang kadang kebarat-baratan, bahkan jarang yang ke-Indonesia-ke-Indonesiaan, mungkin realitas ke-Indonesiaan juga sudah mulai luntur berganti seiring perkembangan jaman, mungkin.
Kembali ke film pendek ini. Bayangkan ketika Anda harus melewati ladang ranjau, berlari dari bahaya militer yang terkadang sangat otoriter dan ganas hanya untuk sekedar mengetahui siapa yang mereka kejar. Guys, saya yakin, sikap militan ini juga terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Banyak stigma-stigma kita munculkan bersama, hal ini yang kemudian menghapus toleransi kita bahkan sekedar untuk mengetahui siapa yang berebda dari kita. Ahmadiyah menjadi contoh kasus yang paling nyata untuk direfleksikan dalam kehidupan beragama yang sebenarnya sangat militan. Kadang saya teringat perkataan Sakti Makki dalam seminar Pinasthika, Agama adalah brand terlama dan kita tidak tahu produknya apa. Ya, ketika kita membela agama dengan fantisme, lalu banyak yang mengartikan produk Agama adalah sebuah pencerahan yang dilakukan dengan militansi mental yang berujung pada kekerasan fisik. Hal ini nyata terjadi dan tergambar jelas dalam Little Terrorist berdurasi 16 menit ini.
Anda tahu? kepala botak menjadi identitas utama yang wajib dipatuhi. Nama Islam menjadi sangat tabu untuk diucapkan. Begitu pula dengan berbagi piring, menjadi haram ketika dilihat dari sudut pandang Agama. Tapi ketika pergulatan-pergulatan keagaamaan digambarkan secara manusiawi, Anda lihat sendiri hasil penggambarannya. Anaka menjadi lebih memahami apa itu Hindu, bagaiaman mereka menyelamatkan nyawa tanpa pamrih. Tapi si Hindu juga kemudian dapat berbicara secara manusiawi bahwa Islam ternyata lugu.
Ya, dalam tataran manusiawi sekali lagi kita bisa melihat keseimbangan kehidupan. Tidak ada yang salah tidak ada yang benar, yang ada hanyalah selalu berubah. Kehidupna harusnya dimaknai dengan sikap mental yang menghamba. Ketika manusia merasa superior dengan kedekatan mereka yang sungguh eksklusif dengan Tuhan, maka komunikasi antar manusia tidak akan dapat terjalin dengan harmonis. Akan tetapi, ketika manusia menjadi hamba yang sama dalam dunia, niscaya kehidupan akan menjadi lebih bermakna. Teman, Anda mehat senyuman di akhir scene? senyuman yang saya tidak tahu, apakah senyuman gembira atas pembebasan si Anak dari kematian atau senyuman sinis akan keadaan yang sebenarnya tidak perlu menuphak darah. Saya tidak tahu, tapi senyuman bahkan suara tawa si Anak PAkistan mampu membuka mata saya, bahwa dalam penderitaan akan perbedaan, ternyata ada secercah harapan untuk menyatukan. Teman, lihat sekitarmu, jangan lagi meninggikan dirimu atas Tuhan, biar saja Tuhan yang meninggikan kodrat Anda ketika Anda menemuinya, dan pasti Anda akan menemuinya. Hukum terutama yang harus dijunjung sekarang adalah cinta kasih. Katakan I LOVE YOU pada orang yang selama ini Anda benci, berikan salam, senyuman dan semangat untuk mereka. Jabat tangan dan mulailah berdiskusi santai. SAya yakin, Anda, mereka dan kita lantas akan menemukan satu titik dimana berbagai warna dapat berbaur. Guys, adakah yang memiliki kerinduan yang sama dengan saya? dengan penulis naskah ataupun orang-orang di balik film pendek ini? dengan mereka yang gencar berbicara tentang perdamaaian? Saya yakin Anda semua punya kerinduan yang sama. Yeah, saya punya banyak teman.. :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar