Bukan untuk menambanh definisi tentang Tuhan, tapi hanya ingin mengungkapkan kembali definisi-definisi yang telah ada tentang Tuhan. Berbicara tentang Tuhan dalam kelas PNI, membuat saya terinspirasi untuk menyindir mereka yang berdoa dengan nama baik Allah, memuji dengan lantang dan keras nama Allah. Tapi, menurut pemikiran saya, pemahaman Allah dalam kuasa kebaikan adalah sesuatu yang sempit. Akan saya jelaskan hal ini dalam paragraf selanjutnya, tapi sebelumnya ijinkan saya share ayat ini:
“ Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. ”
See....walaupun mungkin penafsiran saya tidak 100% benar,,tapi saya melihat sebuah pencerahan untuk menilai orang lain. Ya, tidak usah banyak bicara tentang ini..tak ada kaitannya sedikitpun dengan apa yang saya tuliskan dalam kelas PNI tentang Tuhan. Aneh ya, bicara iklan, tapi bicara Tuhan, kontras terasa..tapi ya sudah lah...ini tulisan saya...
Tuhan.
Tuhan selama ini digambarkan duduk di sebelah kanan. Hal itu yang kemudian membuat "kanan" identik dengan kebaikan surgawi. Ya, surgawi, ketika semua orang percaya bahwa Tuhan tinggal di surga. Tuhan, menghalau setan yang bermuram di neraka, yang selama ini selalu di-"kiri"-kan. Seperti analogi tentang malaikat dan bidadari, mengalahkan setan berarti sebuah berkah. Karena berkah melimpah itulah, kemudian Tuhan menjadi muara segala doa. Tapi, menurut saya Tuhan itu juga hadir dalam sifat ke-"kiri"an manusia. Tuhan yang dianggap Agung, pasti punya kuasa atas segala kejahatan yang bebas dari jeratan. Ya, Tuhan itu kuasa, oleh karenanya masing-masing manusia punya peranan juga untuk menggunakan kuasa itu. Berarti Tuhan dikendalikan manusia? Sekali lagi, bukan bermaksud menjadi Agnostik, tapi manusia punya kuasa untuk menciptakan imaji tentang Tuhan dalam bahasa ke-Tuhan-n mereka masing-masing.
See, Tuhan dan manusia adalah hubungan imaji yang pribadi. Jadi buat apa saya berteriak-teriak memuji Tuhan untuk didengar? sepertinya tidak berguna ketika imaji pribadi tersebut tak muncul dalam kuasa yang lebih hakiki dan esensial, yaitu sikap. Silahkan berimaji, silahkan memuji, tapi jangan lupa sinkronisasi dengan sikap, pikiran dan perbuatan :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar