Rabu, 02 November 2011

Mendaki Lagi, Naik Hingga di Pos 3


Mendaki Gunung kembali. Ya, walaupun saya berikhtiar untuk berhenti mendaki gunung Lawu, Merapi ataupun Merbabu..sekali lagi bukan berarti saya menghindari pendakian saya dalam hidup ini. Pendakian yang begitu luas,,bahkan yang paling menguras tenaga. Banyak waktu yang mungkin terlewatkan untuk sekedar berbasa basi dalam pendakian ini. Saya berterimakasih sekali lagi untuk nenek saya, yang walaupun masih selalu menyisipkan rindu dalam setiap bekalnya, tetapi ternyata mampu memberikan bekal terbaik untuk saya. Kalau dikatakan terbaik, saya yakin ini terbaik dari kemampuan saya saat ini dan tidak ada yang bisa memaksa kami untuk mencapai puncak tertinggi ketika saya baru pertama kali terjun dalam festival periklanan ini. Kami telah berusaha, sejatinya usaha kami pun diiringi dengan restu dan bantuan semua rekan yang bekerjasama dengan kami, baik Temankecil, Bohlam maupun sahabat-sahabat kami diluar itu.
Kami hadir dalam ajang ini murni untuk mencoba masuk dan terjun, bukan untuk menang. Jujur, kami masih sedikit buta dengan dunia festival. Jujur kami akui banyak pengentry yang lebih punya banyak kreativitas daripada yang kami miliki. Tapi satu hal yang pasti, kami sudah melaju, walaupun dianggap sebagai kuda hitam tapi kami harus berani bertanggungjawab karena kami telah berani melaju. Bukan sebuah perutusan yang ringan ketika ternyata kami tiba di lokasi karantina, tapi sekali lagi kami harus tetap melaju. Melihat mereka yang berumur lebih matang, pengalaman festival yang sudah banyak diikuti, kami merasa gagap untuk mencoba menyaingi. Tapi, saya ya tetap saya, bercanda tanpa batas, mencoba bergalau bersama dan menyelami kebiasaan bersama ya tetap kami lakoni. Kami hadir bukan untuk bersaing, kami hadir bukan untuk membesarkan diri di tengah teman-teman yang belum lolos. Kami hadir awalnya hanya untuk menjadi pemanis optimisme teman-teman UAJY yang selalu mempertahankan gelar juara. Hal itu yang membuat kami, khususnya saya terbebani sebenarnya.
Setelah melihat medan tempur, jujur kembali, saya merasa tak punya kendali untuk memenangkan kompetisi ini. Saya merasa kami hanya anak muda, yang jauh dari pengalaman, kami hanya berbekal teori dan mencoba untuk melaju di dunia yang penuh praktisi. Sekali lagi, sudah maju, tak boleh mundur. Di hari pertama mendapat kabar bahwa kami harus mengerjakan Acer, kami tak punya nyali untuk sekedar berbicara kami punya optimisme. Kami garap brief dengan tekanan yang saya yakin asalnya dari pesimisme dan ketakutan kami. Hahaha, dan bukan Sidhi namanya ketika tidak berani merubah konsep 12 jam sebelum presentasi. Dengan bantuan perangkat problematika dan insights yang kami dapatkan, kami menyusun dalam sebuah presentasi yang kami sepakati, sekali bukan untuk menang..lebih pada sharing apa yang kami dapatkan.
Tak disangka kami menang. Tapi kalian tahukah? Medali Bronze hanyalah sebuah pemanis untuk semua perjalanan kami. Hadiah dari tim Pinasthika yang sebenarnya adalah beribu-ribu pengalaman tak ternilai, disamping kasur empuk, makanan enak dan juga hadiah tambahan tidur bersama partner perempuan saya :)). Hadiah sebnarnya bukanlah sorakan bangga dari Universitas, bukan juga dari kerabat, bukan juga ucapan selamat dari semuanya. Hadiah sebenarnya adalah sebuah karya yang dihasilkan selama tiga hari, dan hal itu lah yang seharusnya membuat mereka bangga. Kami berproses bersama dengan mereka, entah yang kami temui setiap hari maupun yang hanya kami temui dalam waktu 5 hari karantina.
Ya, kami datang awalnya bukan untuk menang. Kami datang untuk belajar. Kami datang sebagai seorang yang masih polos dan mencoba terjun ke dalam lautan pengalaman. Kami beruntung bertemu Babe Djito (maaf ya Be, saya punya pengalaman yang tidak enak dengan kata "Ayah"..jadinya saya merasa lebih akrab dengan kata Babe), beruntung bertemu Mbak Nisa, Ipeh, Rendra, Matahari, Angga, Reisha, Moe, Putu, Fian, Ruru, Vicky, para pembicara, para volunteer dan segenap panitia. Kami juga beruntung mengenal teman-teman ultrainspirasi dari Bohlam, Temankecil maupun sahabat-sahabat lain. Kami juga berterimakash untuk bung Gan, Ko Yul, mbak Tit, Natal, Mas Dikol. Unlimited inspiration yang sempat juga membuat kami takut untuk pulang Babe Agus Putranto.
Sebenarnya inilah penghargaan untuk proses. Sekali lagi hanya simbolisasi yang akan cepat dilupakan. Hadiah utama yang kami miliki adalah kalian semua yang selalu menginspirasi kami. Saya berterimakasih khusus untuk teman-teman saya dalam penadkian gunung. Saya tidak berhenti di pos dua pertama, saya mencoba meraih puncak bersama kalian. Kalian yang mendorong saya maju ke atas, hingga akhirnya saya bisa menarik kalian naik dan mencapai puncak yang lebih tinggi. Begitu seterusnya, kalian dan saya saling mengangkat. Terimakasih semuanya. Maaf jika terlalu lebay. Kadang saya merasa periklanan adalah dunia yang terlalu praktis ditengah keinginan saya yang terlalu sosialis. Tapi saya sudah terjun di dalamnya, semoga saya bisa menggabungkan idealisme saya dengan keinginan saya untuk terus melangkah.
Sekali lagi treimakasih semuanya. :)) You're the Champion, You're one of the best that the world had.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar