"aku lebih suka dikerjai, daripada harus membantu ibu membereskan gerobak yang kami tinggal"
Pagi ini aku sedang membantu ibu membereskan gerobak jualan kami. Rutinitas seperti ini kami lakukan setiap hari, untuk mencari sesuap nasi. O ya, namaku Nadia, perempuan 15 tahun yang sudah tak gadis lagi. Heran kan? Tapi memang aku sudah tak gadis lagi di umurku yang masih sangat hijau. Aku sudah datang di pinggiran jalan Suramadu ini dari jam 8 pagi dan sudah sejam lamanya kami beres-beres. Beginilah nasib kami, uang datang seperti keberuntungan. Dan benar, ternyata tak lama setelah kami beres-beres datang orang-orang beseragam lagi.
Tanganku digenggam Ibu, kami mencoba lari. Ibu menggeretku keluar dari jembatan untuk menghindari pria-pria berseragam itu. Tapi, aku melepaskan tangan ibu. Aku sudah kecewa dengan ibu yang berulang kali meninggalkanku. Aku memang tak bisa bicara dan mendengar, tapi sakit rasanya ketika ibu berulangkali tak pernah mengucap namaku ketika aku pergi. Kini ibu mengenggam tanganku pun hanya karna takut, ketika para seragam itu bercerita aku bertemu ayahku di penjara.
Aku menyerahkan diri lagi pada pria-pria berseragam yang berulangkali mengerjaiku itu. Aku lebih suka dikerjai dan setelahnya melepas rindu dengan ayah yang katanya merekayasa penculikan, daripada harus tinggal ketakutan di rumah dan disuruh-suruh ibu memberesi gerobak yang kami tinggal.
Pria-pria berseragam itu membawaku dengan mobil bertempat duduk yang mereka miliki. Heran, sesampainya di kantor yang jadi satu dengan bui, mereka mendiamkanku. Mereka seakan tak melihat mataku yang minta dikerjai, mereka juga tak lihat tetesan air dari mataku yang rindu ayahku. Satu hari lebih mereka mencoba menggeretku keluar dari tempat itu, tapi aku tak mau sebelum bertemu ayahku. Mereka kemudian bercerita dengan nada yang tak kedengaran, tapi mimik muka mereka marah, dan saya tahu maksudnya. Ayah sudah keluar dari bui, mereka tak tahu dia pergi entah kemana.
Ah, aku seketika keluar dari tempat itu. Aku berjalan tak tahu entah kemana. Aku ingin jauh-jauh dari rumah, aku ingin jauh-jauh dari pria-pria berseragam. Aku ingin bertemu ayah. Aku teringat cerita ibu. Ketika sedang mencuci, aku membuka buku-buku catatannya. “Lebih baik dikerjai perampok, daripada main biasa sama suami sendiri.” Aku tak tahu maksudnya, tapi aku membaca bagian lain. Luka ibu ketika diperkosa oleh perampok. Ibu akhirnya kesampaian punya anak, walaupun cacat seperti saya. Ibu menuliskan kalau ayah seperti bajingan yang tidak pernah mencari nafkah, tidak bisa memberi kepuasan, tidak pernah menanamkan benih anak. Luka tersebut semakin dalam, ketika ayah tak bisa berbuat apa-apa saat ibu diperkosa oleh perampok. Hingga akhirnya ibu menjadi setengah gila. Ibu kemudian minggat dari rumah ayah, dan mencari si perampok dengan membawaku dalam kandungannya.
Ibu hidup di jalan dan terus mendambakan raut wajah si perampok. Tapi dalam perjalanannya dia tak sadar kalau aku sudah hampir lahir. Ibu hanya singgah di emperan toko, dan tidur, mengerang-erang kesakitan di situ ketika aku akan lahir. Untung ada orang Cina baik yang mendengar erangan Ibu. Koh Liang membawa ibu ke rumah sakit, membayar semua biaya pengobatan dan memberi kami sebuah rumah singgah. Koh Liang yang kemudian memperistri ibu saya, mengajari ibu untuk mandiri dan bekerja lagi.
Aku telah jauh, entah berjalan kemana. Dalam ingatan tentang cerita ibu, aku selalu teringat tentang perasaan ibu yang hingga kini masih disimpan kepada perampok yang memperkosanya. Entah perasaan benci, atau rasa terimakasih. Hal yang sudah pasti adalah, ibu gembira ketika aku lahir dan membenciku seumur hidup saat dia tahu aku bisu dan tuli.
Aku berjalan terus, hingga melewati sebuah rumah berperawakan China. Rumah dengan dekorasi serba merah itu mengingatkanku pada kematian ayah tiriku, Koh Liang. Waktu itu ibu masuk ke warung Koh Liang, hendak mengambil beberapa uang. Koh Liang mengetahuinya, dia sudah lama menyimpan benci pada ibu yang masih menyimpan hasrat pada si perampok sejak Koh Liang menikahinya. Melihat peluang menjebloskan ibu ke penjara, Koh Liang membekap ibu di depan mataku. Koh Liang mencoba menyeret ibu ke luar warung. Akan tetapi ibu keburu mengambil pisau dan menghujamkan pisau itu ke perut Koh Liang. Ditendangnya kemaluan koh Liang dan dicabik-cabiknya tubuh Koh Liang dengan mata dendam.
Ahhhhhhhhhhhhhhhhh.. aku berteriak kencang ketika mengingat kejadian itu. Aku diinterogasi oleh banyak polisi. Ibu dengan muka tanpa dosa melimpahkan kesalahannya padaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu aku berumur 10 tahun. Aku dikerjai oleh pria-pria berseragam untuk pertama kalinya. Setelah dua hari dikerjai, aku dilepas begitu saja, karna menurut mereka aku punya gangguan jiwa. Ahhhhhhh, aku berteriak sekali lagi. Aku benci pulang, aku benci ibu. Tapi hasratku dengan ibu untuk dikerjai sama. Kami ingin bertemu dengan orang yang pertama kali mengerjai kami.
Lama sekali aku hanya diam di depan rumah serba merah itu untuk merenungi nasib. Tiba-tiba pintunya terbuka, aku lagi-lagi sudah salah arah. Ibu muncul dari balik pintu, dengan senyum sinis menjewerku masuk ke dalam rumah. Ah, bangunan ini bangunan dari Koh Liang. Aku sudah menuju rumah. Aku tak tahu kenapa, aku rindu penyiksaan-penyiksaan di dalam rumah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar