Frater Jhony, SCJ (Weekend dan Pelantikan Lektor, 26-27 November 2011 - Omah Petruk, Kaliurang) bilang "Selama ini banyak yang mengumpamakan kelompok sebagai sekumpulan lidi, jika sendiri akan mudah dipatahkan, kalau bersama akan sulit dipatahkan. Tapi, Saya tidak setuju. Komunitas kalian itu sudah kuat walaupun hanya berdiri sendiri-sendiri, bayangkan ketika sudah disatukan!"
Sebuah footage yang saya ambil dari weekend menyenangkan selama dua hari. Dalam kesempatan ini saya juga resmi dilantik menjadi salah satu anggota Lektor Pringwulung. Tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan. Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman berharga tentang TIM.
Ya, ketika mendengar pernyataan tidak setuju Frater (baca: Kapten) terhadap perumpamaan yang telah lama ada itu, saya kemudian teringat tentang banyak orang yang berusaha mendefinisikan tim dan kelompok. Ya, berbekal pernyataan tidak setuju dari Frater Jhony saya akan mencoba share pengalaman tentang beda tim dan kelompok.
Tim dan kelompok, kadang dipahami sebagai dua hal yang sama. Berbekal dari ketertarikan di bidang yang sama, terbentuklah entah itu tim ataupun kelompok. Kelompok, dengan semakin berkembangnya teknologi, juga mulai banyak menjamur. Grup-grup terbentuk di dunia maya. Tapi apakah grup itu bisa disebut tim?
Sekali lagi, berbekal pernyataan tidak setuju Frater Jhony, saya akan mencoba mendedinisikan apa itu kelompok dan tim. Saat orang berkata, satu anggota rapuh dan ketika digabungkan akan jauh lebih kokoh, menurut saya inilah yang dinamakan kelompok. Tapi, ketika satu anggota saja sudah kuat, dan ketika disatukan akan menjadi semakin kuat, itulah yang kemudian saya sebut sebagai tim.
Latar belakang terbentuknya kelompok dan tim mungkin bisa sama, yaitu ketertarikan pada hal yang sama. Tapi, dalam prosesnya, akan ada perbedaan jelas antara kelompok dan tim. Dalam proses kerjanya, sebuah grup atau kelompok akan cenderung memanfaatkan kemampuan masing-masing. Kemampuan itu bukan kemudian disatukan, tapi hanya sebagai sebuah pendapat untuk kemudian menyepakati satu cara general untuk mencapai sebuah tujuan. Nah dari sini kita tahu, bahwa satu orang akan cenderung mempertahankan pendapat atau opininya. Ketika opini itu disatukan, barulah muncul kekuatan yang nyata.
Hal ini berbeda dengan kerja dalam tim. Ketika menyebut kumpulan orang sebagai sebuah tim, maka akan ada spesifikasi kemampuan pada tiap-tiap anggota. Hal inilah yang membedakan tim dengan kelompok. Dengan tujuan yang sudah disepakati, masing-masing anggota tim akan bekerja dalam satu tujuan dengan kemampuan masing-masing yang kuat. Perbedaan kemampuan itu bukannya untuk memisahkan satu anggota dengan anggota lain dalam proses, tapi lebih pada pembagian tugas.
Kompleksitas kerja mungkin akan lebih banyak dijumpai dalam sebuah tim, yang masing-masing anggotanya sudah membawa kemampuan masing-masing yang saling melengkapi. Hal ini jugalah yang membuat sebuah tim memerlukan ketua yang sangat kuat agar kemampuan yang berebda-beda tersebut dapat disinkronisasikan dalam pencapaian tujuan. Akan tetapi, dalam proses dan hasil, dinamika sebuah tim akan semakin berwarna karena akan ada perbedaan pendapat yang rasional sesuai dengan pengalaman dan kemampuan masing-masing.
Tim juga akan sangat kokoh ketika satu sama lain saling menjaga, tingkat kejenuhan akan mengecil karena satu sama lain dapat belajar. Ya, tim adalah sebuah kelomok pembelajaran yang lebih kompleks daripada kelompok. Tujuan yang ingin dicapai juga direncanakan jauh ke depan.
Ya, tidak ada salahnya membentuk kelompok. Karena dalam dinamika kelompom tersebut, suatau saat dalam satu atau banyak event pasti akan dibentuk tim. Dan sekali lagi, dengan koordinasi yang baik, sebuah tim yang terdiri dari anggota yang sudah kuat akan mampu memberikan dinamika dan hasil yang sangat kokoh.
Selamat berproses bagi kalian yang sedang berorganisasi :)) semoga tulisan kecil gak jelas ini bisa menjadi inspirasi :)) Maaf, sangat gak jelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar