Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2011

Arisan 2: Awal yang Absurd, Akhir yang Cukup

Judul yang mungkin membuat Anda berpikir, "Arisan yang dapat banyak penghargaan hanya dibilang cukup?" Tapi memang benar, Arisan 2 menurut saya tidak lebih dari cukup.
Singkat saja, awal dari film ini ingin menggambarkan masing-masing karakter yang bermain dengan segala aktivitas mereka. Saya rasa, scene-scene yang ditampilkan kemudian tersa sangat cepat dan sangat absurd untuk dicerna. Bagi yang sudah menonton Arisan sebelumnya pastilah karakter masing-masing tokoh: Mey, Lita, Andin, Sakti dan Nino masih melekat jelas. Di awal film Arisan 2, tampaknya Nia Dinata ingin mengulang kembali ingatan penonton tentang karakter masing-masing tokoh. Banyak latar belakang cerita yang kemudian (menurut saya) tidak penting. Hal ini berakibat pada scene-scene yang sebenarnya terlalu cepat itu tadi.

Dari segi cerita, saya menangkap sesuatu yang sebenarnya kuat. Yaitu tentang harapan dan persahabatan. Cerita dalam film Arisan 2 bukan lagi berbicara tentang kenyataan dalam hidup yang harus dihargai, tapi lebih dari itu. Setelah kenyataan itu dihargai, lalu muncul sebuah masalah (penyakit kanker yang diderita Mey). Dia kemudian membutuhkan harapan. Mey mencoba mendekatkan diri dengan alam dan Tuhan. Saya tertarik dengan pendekatan yang ditawarkan oleh Nia Dinata. Mencoba membandingkan kenyataan elite dengan kenyataan religius. Saat Mey mencoba bersatu dengan alam dan Tuhan, banyak sekali hal yang didapatkan. Bukan hanya soal persahabatan, tapi juga soal kehidupan, soal menanggapi Tuhan dan juga soal harapan.

"Kalau saya meditasi, saya tidak meminta, saya berdialog" (Tom-dokter Mey)
"Kanker itu sebuah berkah, karena kita bisa mengetahui kapan hidup kita berakhir." (Molly, penjaga bar-teman baru Mey)

Kata-kata yang kuat, yang tertanam dalam pikiran saya dan mengubah pemikiran saya. Hal ini yang lemudian memunculkan harapan dalam diri Mey. Tapi lebih dari itu, saat keduniawian dihadapkan dengan keTuhanan, banyak hal yang sebenarnya bisa dijadikan sebuah permenungan. Kalau di Arisan kita harus menanggapi perbedaan sebagai sebuah cara untuk memanusiakan manusia, di Arisan 2 kita bisa merefleksikan bahwa manusia sebenarnya tidak bisa dibedakan ketika berhadapan dengan maut. Hal ini berarti segala atribut kemanusiaan sebenarnya tidak berguna dalam relasi Tuhan dan manusia, inilah yang kemudian membuat Mey ingin menyingkir dari kehidupan foya-foya.

Hal yang menurut saya sangat menonjol dalam film ini adalah karakter masing-masing tokoh. Rio Dewanto pun muncul sebagai public enemy yang sangat kuat, hal ini yang membuat penghuni Studio 2, 21 Amplaz tak berhenti ngakak dan menghujat saat Rio Dewanto muncul. Karakter Lita, Andin, Sakti dan Nino pun tak kalah kuat. Saya suka penggambaran karakternya, sayang di awal scene masing-masing karakter terlalu di eksploitasi sehingga cerita awal menjadi sangat absurd menurut saya. Katakter-karakter ini kemudian disatukan dalam persahabatan. Harapan itu juga muncul dari kesadaran tentang adanya persahabatan. Ini lah inti lain creita yang juga cukup mengharukan.

Secara keseluruhan, menurut saya film ini bolehlah dapat bintang 3 dari 5. Bagus untuk sekedar menghibur juga melihat kenyataan, tapi kurang untuk teman-teman yang ingin menonton sesuatu yang menggetarkan. Maaf, cuma menceracau...saya juga kurang paham tentang film sebenarnya :))

Kamis, 24 November 2011

Puzzle: Film Nasionalis Karya Satu Atap (FSMR ISI) yang Minimalis tapi Manis

"Kita adalah kepingan Puzzle, Indonesia adalah bingkainya"

Kalimat itu yang terus terngiang dalam benak saya. Ya, mungkin sangat sederhana, tapi makna di balik kalimat tersebut menurut saya sangat luar biasa. Ini juga yang mengawali keluarbiasaan yang ditampilkan sebuah karya minim persiapan, tapi maksimal dalam makna.

Puzzle menceritakan Damar, yang di waktu kecil mndapatkan sebuah Puzzle Indonesia dari kakeknya. Bukan hanya puzzle saja, melainkan rangkaian makna dari puzzle tersebut. Ya, namanya anak kecil, ketika beranjak SD, SMP bahkan SMA pun DAmar belum mengerti apa yang diceritakan kakeknya tersebut mengenai "Bhinneka Tunggal Ika".

Damar SD diceritakan sangat tidak tolerir, bahkan cenderung nggentho. Damar SD terlibat perkelahian dengan seorang anak dari Ambon. Suatu kali mereka berebut Peta yang dipinjamkan ibu guru, dan akhirnya sobek. Mereka akhirnya mengisolasi bersama-sama.

Damar SMP, tak jauh beda. Bukan lagi isu rasisme yang diangkat, tapi kepedulian terhadap orang kecil. Damar SMP sama sekali tidak menghormati tukang kebun di rumahnya. Hingga suatu kali, Damar bertemu perempuan cantik (yang tidak diceritakan siapa) yang membuka matanya bahwa sekaya apapun dirinya, ternyata ketergantungan terhadap mereka yang kecil ssangat besar. Ya, saya setuju, mereka yang kaya adalah mereka yang sebenarnya mengambil kenyamanan dari orang-orang kecil di sekitar mereka.

Damar SMA, tak lagi bersinggungan dengan masalah rasisme atau pun kepedulian. Tapi dengan menggunakan Nasinalisme yang sedang jadi trend. Damar yang diceritakan mencinati bola terlibat perselisihan kecil terkait siapa yang akan menang saat Timnas Indonesia bertanding. Dan sekali lagi saya sepakat, di tengah carut marut dunia persepakbolaan Indonesia (yang saya kurang mengerti), dukungan seluruh elemen merupakan sebuah langkah memajukan Indoensia. Dan saya harap, bukan hanya untuk bola, tapi dukungan untuk segala pengalaman Damar tadi.

Ramuan pengalaman Damar dari kecil-SMA diselingi dengan Damar Kuliah yang mencoba merangkai kembali "kita" sebagai puzzle, dalam bingkai ke-Indonesiaa-an yang tunggal. Bhinneka Tunggal Ika.

Ya, berbeda, tapi sekali lagi ketika perbedaan itu tak bisa dilengkapi, maka akan ada bagian yang kosong. Kekosongan itu harus diisi dengan persatuan. Persatuan yang emmbutuhkan semua elemen ke-Indonesia-an untuk melengkapi sebuah bingkai besar, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Analogi yang tak main-main. Walaupun minim persiapan (hanya 1 minggu), tapi film yang diproduksi selama 3 minggu ini benar-benar manis untuk menjawab segala tantangan Indonesia di masa kini. BUkan saja mengenai pluralisme, tapi juga berbica penghargaan pada mereka yang kadang tidsk pernah kita sentuh. Bukan saja mengenai bagaimana belajar tentang Indonesia, tapi juga bagimana kita mengajarkan pada semua orang yang kita kenal mengenai indahnya Indonesia yang sesungguhnya.

Kalah jadi abu, menang jadi arang. Sebuah ungkapan yang juga muncul sebagai pemanis. Pertikaian sebenarnya bukanlah sebuah solusi. Kepingan Puzzle hanya bisa disusun dengan landasan logika dan juga kesabaran. Ketika semua itu luntur, maka emosi yang berlebihan selanjutnya akan merusak bingkai persatuan yang telah dibangun dengan perjuangan besar jauh-jauh hari.

Bukan lagi tugas para pahlawan untuk menyatukan kepingan-kepingan tersebut, tapi sekarang sudah menjadi tugas kita untuk merekatkan diri satu sama lain. Memberikan sebuah kehangatan tentang bagiaman bingkai Indoensia bisa distukan. Bukan lagi berpikir tentang say, tapi tentang kita. Bukan lagi berpikir bagiamana caranya menjadi kaya, tapi bagaimana caranya menjadi berharga. Bukan lagi berseru "Ini Tuhanku", tapi berpikir "Cara Tuhan untuk menyayangi mereka". Ya, hanya sebuah ulasan kecil, menanggapinya dengan opini. Dan menurut saya, walupun film ini sangat minimalis dari segi peran, tapi menjadi sangat manis untuk menggugah ke-Indonesia-an. Sukses Satu Atap. Sukses terus FSMR ISI. Saya tunggu screening karya selanjutnya.

Selasa, 22 November 2011

Nadia

"aku lebih suka dikerjai, daripada harus membantu ibu membereskan gerobak yang kami tinggal"

Pagi ini aku sedang membantu ibu membereskan gerobak jualan kami. Rutinitas seperti ini kami lakukan setiap hari, untuk mencari sesuap nasi. O ya, namaku Nadia, perempuan 15 tahun yang sudah tak gadis lagi. Heran kan? Tapi memang aku sudah tak gadis lagi di umurku yang masih sangat hijau. Aku sudah datang di pinggiran jalan Suramadu ini dari jam 8 pagi dan sudah sejam lamanya kami beres-beres. Beginilah nasib kami, uang datang seperti keberuntungan. Dan benar, ternyata tak lama setelah kami beres-beres datang orang-orang beseragam lagi.

Tanganku digenggam Ibu, kami mencoba lari. Ibu menggeretku keluar dari jembatan untuk menghindari pria-pria berseragam itu. Tapi, aku melepaskan tangan ibu. Aku sudah kecewa dengan ibu yang berulang kali meninggalkanku. Aku memang tak bisa bicara dan mendengar, tapi sakit rasanya ketika ibu berulangkali tak pernah mengucap namaku ketika aku pergi. Kini ibu mengenggam tanganku pun hanya karna takut, ketika para seragam itu bercerita aku bertemu ayahku di penjara.

Aku menyerahkan diri lagi pada pria-pria berseragam yang berulangkali mengerjaiku itu. Aku lebih suka dikerjai dan setelahnya melepas rindu dengan ayah yang katanya merekayasa penculikan, daripada harus tinggal ketakutan di rumah dan disuruh-suruh ibu memberesi gerobak yang kami tinggal.

Pria-pria berseragam itu membawaku dengan mobil bertempat duduk yang mereka miliki. Heran, sesampainya di kantor yang jadi satu dengan bui, mereka mendiamkanku. Mereka seakan tak melihat mataku yang minta dikerjai, mereka juga tak lihat tetesan air dari mataku yang rindu ayahku. Satu hari lebih mereka mencoba menggeretku keluar dari tempat itu, tapi aku tak mau sebelum bertemu ayahku. Mereka kemudian bercerita dengan nada yang tak kedengaran, tapi mimik muka mereka marah, dan saya tahu maksudnya. Ayah sudah keluar dari bui, mereka tak tahu dia pergi entah kemana.
Ah, aku seketika keluar dari tempat itu. Aku berjalan tak tahu entah kemana. Aku ingin jauh-jauh dari rumah, aku ingin jauh-jauh dari pria-pria berseragam. Aku ingin bertemu ayah. Aku teringat cerita ibu. Ketika sedang mencuci, aku membuka buku-buku catatannya. “Lebih baik dikerjai perampok, daripada main biasa sama suami sendiri.” Aku tak tahu maksudnya, tapi aku membaca bagian lain. Luka ibu ketika diperkosa oleh perampok. Ibu akhirnya kesampaian punya anak, walaupun cacat seperti saya. Ibu menuliskan kalau ayah seperti bajingan yang tidak pernah mencari nafkah, tidak bisa memberi kepuasan, tidak pernah menanamkan benih anak. Luka tersebut semakin dalam, ketika ayah tak bisa berbuat apa-apa saat ibu diperkosa oleh perampok. Hingga akhirnya ibu menjadi setengah gila. Ibu kemudian minggat dari rumah ayah, dan mencari si perampok dengan membawaku dalam kandungannya.

Ibu hidup di jalan dan terus mendambakan raut wajah si perampok. Tapi dalam perjalanannya dia tak sadar kalau aku sudah hampir lahir. Ibu hanya singgah di emperan toko, dan tidur, mengerang-erang kesakitan di situ ketika aku akan lahir. Untung ada orang Cina baik yang mendengar erangan Ibu. Koh Liang membawa ibu ke rumah sakit, membayar semua biaya pengobatan dan memberi kami sebuah rumah singgah. Koh Liang yang kemudian memperistri ibu saya, mengajari ibu untuk mandiri dan bekerja lagi.

Aku telah jauh, entah berjalan kemana. Dalam ingatan tentang cerita ibu, aku selalu teringat tentang perasaan ibu yang hingga kini masih disimpan kepada perampok yang memperkosanya. Entah perasaan benci, atau rasa terimakasih. Hal yang sudah pasti adalah, ibu gembira ketika aku lahir dan membenciku seumur hidup saat dia tahu aku bisu dan tuli.

Aku berjalan terus, hingga melewati sebuah rumah berperawakan China. Rumah dengan dekorasi serba merah itu mengingatkanku pada kematian ayah tiriku, Koh Liang. Waktu itu ibu masuk ke warung Koh Liang, hendak mengambil beberapa uang. Koh Liang mengetahuinya, dia sudah lama menyimpan benci pada ibu yang masih menyimpan hasrat pada si perampok sejak Koh Liang menikahinya. Melihat peluang menjebloskan ibu ke penjara, Koh Liang membekap ibu di depan mataku. Koh Liang mencoba menyeret ibu ke luar warung. Akan tetapi ibu keburu mengambil pisau dan menghujamkan pisau itu ke perut Koh Liang. Ditendangnya kemaluan koh Liang dan dicabik-cabiknya tubuh Koh Liang dengan mata dendam.

Ahhhhhhhhhhhhhhhhh.. aku berteriak kencang ketika mengingat kejadian itu. Aku diinterogasi oleh banyak polisi. Ibu dengan muka tanpa dosa melimpahkan kesalahannya padaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu aku berumur 10 tahun. Aku dikerjai oleh pria-pria berseragam untuk pertama kalinya. Setelah dua hari dikerjai, aku dilepas begitu saja, karna menurut mereka aku punya gangguan jiwa. Ahhhhhhh, aku berteriak sekali lagi. Aku benci pulang, aku benci ibu. Tapi hasratku dengan ibu untuk dikerjai sama. Kami ingin bertemu dengan orang yang pertama kali mengerjai kami.

Lama sekali aku hanya diam di depan rumah serba merah itu untuk merenungi nasib. Tiba-tiba pintunya terbuka, aku lagi-lagi sudah salah arah. Ibu muncul dari balik pintu, dengan senyum sinis menjewerku masuk ke dalam rumah. Ah, bangunan ini bangunan dari Koh Liang. Aku sudah menuju rumah. Aku tak tahu kenapa, aku rindu penyiksaan-penyiksaan di dalam rumah ini.

Kamis, 03 November 2011

Little Terrorist



Coba sebelum Anda, pengunjung membaca ulasan saya, tonton hingga lengkap film yang sangat menginspirasi saya ini.

Sudah??

Baik, Anda bisa membaca ulasan saya jika tidak paham.
Sebelum mengulas, saya ingin bercerita terlbih dahulu bahwa saya mendapatkan referensi film ini dari dosen Penulisan Skenario, Bapak Tri Giovanni. Sekali lagi saya adalah anak iklan yang setengah jurnalis. Saya memang tertarik dengan film-film yang mengedepankan isu-isu perang dan sensitivitas warga masyarakat terhadap isu-isu tersebut. Kenapa? Karna film-film tersebut memberikan alur yang rapih menurut saya. Tengok saja Life Is Beautiful, atau Boy in the Stripped Pyjamas. Dua film favorit saya yang mengedepankan sisi humanitas dilihat dari korban, dan benar-benar membuat penonton akan trenyuh dan masuk dalam cerita. Film-film semacam itu bukanlah sebuah film yang mahal dibandingkan dengan Twilight, Harry Potter, Transformer ataupun Avatar, tapi nilai lebih dari film itu ada pada penggalian cerita yang riil. Penggalian makna yang ingin disampaikan juga menjadi satu sisi yang membutuhkan perjuangan. Tidak bisa dibandingkan memang antara genre fantasi dengan genre drama perang, tapi cukup memberi saya pemahaman bahwa Anda harus menonton film-film drama perang!
Kembali pada Little Terrorist, sebuah film pendek, singkat yang menyabet penghargaan Oscar. Kami mengulas film ini dalam kelas. Satu hal yang paling kentara dari film ini adalah sisi budaya. Ya, budaya yang sebenarnya hampir sama anatara orang Pakistan dan Indisa, cuma agama saja yang membedakan, menjadi unsur yang kental terasa dari awal hingga akhir scene. Pakaian, simbol-simbol budaya lewat tempat tinggal hingga makanan. Walaupun ditampilkan oleh dua tokoh yang sangat kontras, antara India dan Pakistan, tapi sekali lagi unsur budaya menjadi pemersatu kedua pihak ini. Beda dengan film Indonesia yang kadang kebarat-baratan, bahkan jarang yang ke-Indonesia-ke-Indonesiaan, mungkin realitas ke-Indonesiaan juga sudah mulai luntur berganti seiring perkembangan jaman, mungkin.
Kembali ke film pendek ini. Bayangkan ketika Anda harus melewati ladang ranjau, berlari dari bahaya militer yang terkadang sangat otoriter dan ganas hanya untuk sekedar mengetahui siapa yang mereka kejar. Guys, saya yakin, sikap militan ini juga terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Banyak stigma-stigma kita munculkan bersama, hal ini yang kemudian menghapus toleransi kita bahkan sekedar untuk mengetahui siapa yang berebda dari kita. Ahmadiyah menjadi contoh kasus yang paling nyata untuk direfleksikan dalam kehidupan beragama yang sebenarnya sangat militan. Kadang saya teringat perkataan Sakti Makki dalam seminar Pinasthika, Agama adalah brand terlama dan kita tidak tahu produknya apa. Ya, ketika kita membela agama dengan fantisme, lalu banyak yang mengartikan produk Agama adalah sebuah pencerahan yang dilakukan dengan militansi mental yang berujung pada kekerasan fisik. Hal ini nyata terjadi dan tergambar jelas dalam Little Terrorist berdurasi 16 menit ini.
Anda tahu? kepala botak menjadi identitas utama yang wajib dipatuhi. Nama Islam menjadi sangat tabu untuk diucapkan. Begitu pula dengan berbagi piring, menjadi haram ketika dilihat dari sudut pandang Agama. Tapi ketika pergulatan-pergulatan keagaamaan digambarkan secara manusiawi, Anda lihat sendiri hasil penggambarannya. Anaka menjadi lebih memahami apa itu Hindu, bagaiaman mereka menyelamatkan nyawa tanpa pamrih. Tapi si Hindu juga kemudian dapat berbicara secara manusiawi bahwa Islam ternyata lugu.
Ya, dalam tataran manusiawi sekali lagi kita bisa melihat keseimbangan kehidupan. Tidak ada yang salah tidak ada yang benar, yang ada hanyalah selalu berubah. Kehidupna harusnya dimaknai dengan sikap mental yang menghamba. Ketika manusia merasa superior dengan kedekatan mereka yang sungguh eksklusif dengan Tuhan, maka komunikasi antar manusia tidak akan dapat terjalin dengan harmonis. Akan tetapi, ketika manusia menjadi hamba yang sama dalam dunia, niscaya kehidupan akan menjadi lebih bermakna. Teman, Anda mehat senyuman di akhir scene? senyuman yang saya tidak tahu, apakah senyuman gembira atas pembebasan si Anak dari kematian atau senyuman sinis akan keadaan yang sebenarnya tidak perlu menuphak darah. Saya tidak tahu, tapi senyuman bahkan suara tawa si Anak PAkistan mampu membuka mata saya, bahwa dalam penderitaan akan perbedaan, ternyata ada secercah harapan untuk menyatukan. Teman, lihat sekitarmu, jangan lagi meninggikan dirimu atas Tuhan, biar saja Tuhan yang meninggikan kodrat Anda ketika Anda menemuinya, dan pasti Anda akan menemuinya. Hukum terutama yang harus dijunjung sekarang adalah cinta kasih. Katakan I LOVE YOU pada orang yang selama ini Anda benci, berikan salam, senyuman dan semangat untuk mereka. Jabat tangan dan mulailah berdiskusi santai. SAya yakin, Anda, mereka dan kita lantas akan menemukan satu titik dimana berbagai warna dapat berbaur. Guys, adakah yang memiliki kerinduan yang sama dengan saya? dengan penulis naskah ataupun orang-orang di balik film pendek ini? dengan mereka yang gencar berbicara tentang perdamaaian? Saya yakin Anda semua punya kerinduan yang sama. Yeah, saya punya banyak teman.. :))

Rabu, 02 November 2011

Script yang Gagal Dieksekusi, Ada yang Berminat?

CATATAN DUNIAWI
Manusia, Belahan Jiwa dan Tuhan: Menerawang Dalam Lembaran, Seakan Kehidupan Terbayang

SCENE I:
“Cinta itu seakan rasa yang terlalu abstrak, ingin menelan dalam, apa daya....lidah tak mampu mengecap pahit....ingin memuntahkannya dalam bak sampah, tetap mulut tak mau berhenti mengunyah..mengharapkan manis itu datang dengan sendirinya...”
Mata Nuel tak henti-hentinya membaca dan memahami status facebook Aisyah itu. Tak lama kemudian tangannya mulai cekatan berpadu dengan suara ketikan
Kasihan ya si Cinta, bergabung terus dengan liur....diaduk hancur hingga lebur oleh gertakan gigi....
Hahaha....kok kamu tiba-tiba muncul mas Nuel? Apa kabar? Lama tidak berjumpa, padahal kita sama-sama di Yogyakarta....
Lho?? Kok mengalihkan pembicaraan? Kita kan sedang berbicara tentang Cinta dalam mulut, kunyahan duniawi....Hahaha, Baik Aisyah...iya sudah dua bulan kita gak ketemu....
Dua bulan ternyata tidak cukup membuat saya lupa tentang cinta lho....hehe,, kunyahan kita tidak hanya dipelajari dalam keduniawian,, cinta dikunyah dalam iman..Nuel...
Kalau begitu mengapa cinta tidak dibiarkan masuk dalam perut dan menjadi lebih bermakna untuk iman,, dari sekedar rasa yang seringkali ditolak oleh pengecap??
Karna cinta dan iman seringkali seperti lidah yang ingin mengecap manis, tapi mendapat pahit....padahal si empunya lapar berat...haha...seperti kamu tu, tiap jam lapar!!
Ahahaha,, kalau begitu cinta bukan bagian dari iman tu, atau imannya yang sama sekali gak kuat....?? Haha....
Nyindir ni?? Eh, aku Shalat Maghrib dulu ya....sudah dijemput Bapak...
Selamat beribadah Aisyah....
Nuel mematikan koneksi internetnya, berjalan ke arah rak bukunya..mengambil sebuah buku tentang Cinta dan Agama. Membalik halaman demi halaman bukan untuk dibaca, melainkan untuk mencari kalimat yang kemudian akan ditulisnya dalam sebuah catatan. Catatan Duniawi begitu dia memberi judul catatan kecilnya. Banyak kalimat-kalimat singkat, bahkan beberapa adalah tulisan tentang dilema cinta sahabatnya. Nuel menambahkan beberapa kalimat dalam catatannya.
Sudah dua buku dia bolak-balik demi kalimat-kalimat yang berbicara tentang cinta. Buku sudah menjadi belahan jiwanya dua bulan ini. Tidak kurang dari enam kalimat dia tambahkan dalam catatannya. Teng, teng, teng alarm pukul 21.00 menyambut keseriusannya dalam menggoreskan tinta di catatannya. Nuel beranjak dari meja belajarnya menuju ke kamar mandi, membersihkan kaki dan tangannya. Selesai membasuh dirinya sendiri, dia kembali menuju kamar, mengambil secarik kertas bertuliskan SKRIPSI dan menempelkan pada stereofoam di depan meja belajarnya. Nuel mengambil lilin, menyalakannya dan mengambil secarik kertas doa dan mulailah dia berdoa dengan rosario di tangannya.

SCENE II:
Perpustakaan, tempat yang tidak asing lagi untuk Nuel. Dia meletakkan Laptopnya di atas meja, bergegas menuju rak-rak buku keagamaan dan mengambil beberapa buku dari dalamnya. Nuel kembali ke mejanya, bertegur sapa dengan beberapa orang yang memanggilnya dan menanyakan Kapan mau lulus?? Nuel hanya tersenyum kelu sambil kembali ke mejanya. Dia menyalakan Laptopnya, sambil membaca buku-buku yang tadi diambilnya, dia kemudian mengetik beberapa kalimat dengan serius.
“Boy, serius bener lu ngetiknya? Ngebet lulus apa ngebet kawin?” Sapa David temannya.
“Anjrit, diem lu, gw lagi serius ni!!”
“Ahahaha, lu gak lagi ngebet kawin kan?”
“Nyet, gw udah janji sama Aisyah 3 bulan gw udah selesai Skripsi”
“Ah, mengada-ada aja tu babenya, masa’ pacaran aje harus nunggu lu lulus!”
“Iya lhah, Aisyah aja udah kerja.” Jawab Nuel sambil membereskan mejanya dan bergegas keluar.
“Emang Aisyah beneran gak boleh ketemu sama lu?”
“Kalo boleh sih kaga mungkin gw serajin dua bulan ini, Nyet!!”
Mereka berdua melanjutkan obrolan hingga keluar dari peRpustakaan.


SCENE III:
Nuel kembali ke kosnya dengan motornya. Dia mampir sejenak ke Masjid, menemui seorang Bapak dan tergopoh-gopoh bertanya, “Pak, pindah Agama ke Islam kalau karena Cinta kira-kira bertahan berapa lama ya?”
“Nuel, nuel...kamu sudah tanya tentang ini berapa kali? Sekali lagi jawabannya ada di hatimu.” Ujar Bapak itu sambil memegang dada kiri Nuel.
“Tapi, kalau misalnya menikah beda Agama itu dosa tidak menurut Islam?”
“Kamu kan sudah baca bukunya yang saya beri, kamu tahu jawabannya kan?”
“Tapi Pak, kalau menurut Bapak bagaimana saya harus mendekati bapaknya Aisyah?”
“Pakai hatimu, Nak. Dekati dulu anaknya, agar dia percaya iman tidak bermasalah untuk cinta.”
“Ehm, oke Pak. Makasih, Maaf Pak kalau pertanyaan yang sama saya tanyakan berkali-kali.” Nuel pergi berlalu dengan wajah yang agak murung.
“Ikuti hatimu Nu, catatan dalam buku-bukumu berkata hal yang duniawi”

SCENE IV:
Sore menjelang malam, kembali Nuel melahap buku-buku yang tadi dia pinjam di Perpustakaan. Kemudian dia terlihat agak sedikit murung, tampak memikirkan hal lain diluar isi buku tersebut. Kemudian membuka Laptopnya, menyalakannya dan mulai online.
“Eh, Aisyah komen apa ni?”
Nuel: Sudah dua bulan tidak bertemu, saya akhirnya beranikan diri menyapa maya dirinya.
Aisyah: Gimana Skripsinya Mas?
Nuel mulai tenggelam dalam bunyi gemertak jarinya.
Masih stug, tinggal satu minggu lagi ya batasnya? Hahaha
Hahaha, santai aja....Aisyah tunggu kok
Tapi Bapak sepertinya sudah memburu....
Hahahaha....
Kok ketawa?
Abisnya, kayaknya mas Nuel yang sudah memburu lulus *diceritain frater David tadi
Ahahaha, sialan tu anak cerita ke kamu!! Kamu tadi ke perpus juga ya??
Iya,, Cuma bentar....Mas, ada Bapak..bentar yaa...

SCENE V:
Nuel sangat rajin mengejar skripsinya. Bimbingan skripsi dengan seorang Romo Pembimbing. Berdoa dengan lilin dan rosario. Buku yang dipinjam sekarang lebih banyak tentang panggilan.

SCENE VI:
Nuel membuka-buka kembali catatan duniawinya, dia seakan terlena oleh skripsi hingga lupa dengan catatan itu. Dia membaca kembali tulisan Aisyah saat itu
Radikal dan moderat, mencampurkan air dengan minyak....semoga ada sabun basa yang menyatukan keduanya.
Dia kemudian membuka laptop, menuliskan hal tersebut di facebook dengan harapan Aisyah membacanya.
Mas, masih ingat to? Pasti baru buka catatan duniawi ya? Hahaha
Iya, kamu masih ingat buku yang dulu kamu baca sebelum menuliskan kalimat itu?
Masih Mas....saya tidak bisa jalani hubungan beda Agama, apalagi Bapak saya...nunggu janji mas Nuel setelah selesai Skripsi
Bukannya cinta itu biar kita yang berbeda disatukan sehingga ada damai, dek?
Tapi pandangan kami berbeda, saya masih percaya sama bapak..cinta yang dijalani berbeda bikin dosa,, gak di ridhoi..nanti bikin kisruh di antara keluarga....
Aisyah....
Iya...
Tapi....
Mas kan udah janji dulu??
Tapi kayaknya aku gak mau pindah....aku gak yakin,,
Mas... TT
Nuel menghentikan jemarinya sejenak. Dia menutup laptopnya dan berdoa, masih dengan menggantungkan tulisan skripsi di depannya. Tapi kini tulisannya tidak lagi dengan tinta hitam, melainkan tinta merah.

SCENE VII:
2 bulan kemudian
Nuel sudah berada di depan laptop dengan berbagai ucapan selamat yang dia dapatkan atas kelulusannya.
Aisyah: Selamat ya Mas....
Nuel: Makasih....Masih ingat janji kita empat setengah bulan lalu? Saya telat satu setengah bulan nih....hahahaha
Aisyah: Gapapa Mas..hehe..saya tadi ke kampus Mas, tapi mas sudah terlanjur pulang..terus tadi ketemu frater David pas ke Perpustakaan....aku nitip surat untuk Mas ke dia....hahaha...Aisyah tunggu janji Mas...
Nuel: hahaha...aku nanti ke tempat David dulu aja ya....aku baca dulu suratnya, baru nanti kita bahas lagii...
Nuel segera membereskan laptopnya, berganti baju dan bergegas menuju Perpustakaan Kolose Santo Ignatius.
“David ada Mas?”
“Bentar ya saya panggilkan mas Nuel”
“Nu, ini surat dari Aisyah” tiba-tiba David muncul di hadapan Nuel.
Nuel dengan segera membuka surat itu dan membacanya.
Mas, radikal vs moderat....sudah ada sabun basa yang menyatukan..kesabaran Mas!! Hahahaha....Aisyah mau ambil resiko,, Mas gak harus pindah Agama gapapa....nanti Aisyah yang ngomong ke Bapak.
Mas, Aisyah teringat kata-kata Mas. Benar, kata-kata di buku Cuma sesuatu yang semu....idealisme sebagian orang,, bukan kenyataan yang sebenarnya...semu....Aisyah salah menganggap buku-buku keagamaan itu Kehidupan, padahal Aisyah gak dapat kedamaian karena menolak perasaan Aisyah. Maafin Aisyah Mas.
“Vid, lu ada nomer Aisyah yang baru kan? Gw pinjem donk hape lu!” Paksa Nuel sembari merogoh kantong David.
Aisyah, ini Nuel....ketemuan yuk besok jam 2 di Perpustakaan.
“Thanks Vid....”
“Ah, elu mah...maksa jadi orang....Gimana? Besok ketemu Aisyah?”
“Iya....hehehe...” Lalu Nuel membisiki David, sembari keluar dari ruangan.
David melambaikan tangan sambil tersenyum lebar, “Sukses Boy! Gw tunggu!!”

SCENE VIII:
Esoknya Nuel menunggu di Perpustakaan. Sejenak kemudian Aisyah datang dengan jilbab dan rok panjangnya.
“Eh, Aisyah....lama gak ketemu, kangen gak??”
“Hahaha...gak usah ditanya Mas.” Mereka kemudian duduk di tangga masuk Perpustakaan.
“Jadi ingat dulu kita pertama kali ketemu disini juga kan Mas.”
“Hahaha..iyaaa....Kamu ingat ini juga gak?” Jawab Nuel sambil mengeluarkan catatan duniawi-nya.
“Masih lhah Mas.”
Nuel dan Aisyah berbincang-bincang lebih lanjut beberapa saat. Di akhir pertemuan sekitar 15 menit itu, Aisyah kemudian berdiri tersenyum, sedang Nuel merasa sedikit bersalah. Nuel memeluk Aisyah sambil memberikan catatan duniawinya. Aisyah dan Nuel pergi ke depan, Aisyah menghentikan becak yang lewat dan mulai melaju. Tampak Aisyah mulai menangis, sedang Nuel dengan muka bersalahnya menaiki motornya kembali ke kos.

SCENE IX:
Nuel memulai ritual doa malamnya di Kos. Kali ini dia mengambil Tulisan Skripsi berwarna hitam, di balik tulisan itu terdapat nama Aisyah. Nuel membakar kertas itu. Kemudian Nuel merapikan buku-buku panggilannya, menuju sterofoam dan membalik kertas bertuliskan SKRIPSI tinta merah. Ketika di balik muncul tulisan ROMO dengan tinta merah pula....Nuel mulai berdoa.

SCENE X:
DI Mobil menuju Seminari, Nuel melamun. Menerawang kembali malam sebelum dia memberikan catatan duniawinya ke Aisyah, saat dia menuliskan
Maaf Aisyah, saat kamu tersadar dari kesemuan sebuah buku...aku justru terseret masuk dalam kebenaran tiap lembar buku panggilan. Saat kamu dulu aku kecam karena menganggap kebenaran radikal yang tertulis dalam buku harus menjadi nyata, sekarang justru aku yang harus kamu kecam karena masuk dalam persuasui kehidupan. Aku terjerumus dalam kenyataan semu, yang saya yakin ada!! Maaf Aisyah, aku ingin jadi Romo.
Tak sadar, ternyata Nuel sudah tiba di gerbang Seminarai. Dia heran melihat Aisyah sudah hadir di sana bersama David.
Nuel turun, dan Aisyah membisikkan sesuatu kepadanya.
“Untuk kedamaian hatimu, aku tidak akan mengecam Mas terseret dalam bayangan semu buku-buku yang Mas baca. Aku senang, Mas berpikir untuk kedamaian..juga bukan untuk mebohongi perasaan Mas. Salam untuk Tuhan, doakan Aisyah ya Mas.” Aisyah menitikkan air matanya masuk ke dalam mobil.
David ganti menghampiri Nuel, “Saya salut Bos sama Anda..Saya tunggu kita ditahbiskan bersama Bos.” Katanya sambil naik mobil.
Nuel hanya bisa diam, dia tersenyum..melambaikan tangan kanannya ke arah David dan Aisyah yang melaju pergi. Tangan kirinya menggenggam catatan duniawi yang tadi dikembalikan Aisyah. Dia lemparkan catatan duniawi itu ke bak sampah dan melaju pergi, masuk ke rumahnya yang baru.