Tampilkan postingan dengan label Abstrak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abstrak. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 November 2011
Senyum Masa Depan versi Video 1 menit
deskripsinya ada di tulisan Senyum Masa Depan :)) selamat menikmati
Senin, 28 November 2011
Satu Lidi Sudah Kuat, Apalagi Kalau Banyak
Frater Jhony, SCJ (Weekend dan Pelantikan Lektor, 26-27 November 2011 - Omah Petruk, Kaliurang) bilang "Selama ini banyak yang mengumpamakan kelompok sebagai sekumpulan lidi, jika sendiri akan mudah dipatahkan, kalau bersama akan sulit dipatahkan. Tapi, Saya tidak setuju. Komunitas kalian itu sudah kuat walaupun hanya berdiri sendiri-sendiri, bayangkan ketika sudah disatukan!"
Sebuah footage yang saya ambil dari weekend menyenangkan selama dua hari. Dalam kesempatan ini saya juga resmi dilantik menjadi salah satu anggota Lektor Pringwulung. Tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan. Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman berharga tentang TIM.
Ya, ketika mendengar pernyataan tidak setuju Frater (baca: Kapten) terhadap perumpamaan yang telah lama ada itu, saya kemudian teringat tentang banyak orang yang berusaha mendefinisikan tim dan kelompok. Ya, berbekal pernyataan tidak setuju dari Frater Jhony saya akan mencoba share pengalaman tentang beda tim dan kelompok.
Tim dan kelompok, kadang dipahami sebagai dua hal yang sama. Berbekal dari ketertarikan di bidang yang sama, terbentuklah entah itu tim ataupun kelompok. Kelompok, dengan semakin berkembangnya teknologi, juga mulai banyak menjamur. Grup-grup terbentuk di dunia maya. Tapi apakah grup itu bisa disebut tim?
Sekali lagi, berbekal pernyataan tidak setuju Frater Jhony, saya akan mencoba mendedinisikan apa itu kelompok dan tim. Saat orang berkata, satu anggota rapuh dan ketika digabungkan akan jauh lebih kokoh, menurut saya inilah yang dinamakan kelompok. Tapi, ketika satu anggota saja sudah kuat, dan ketika disatukan akan menjadi semakin kuat, itulah yang kemudian saya sebut sebagai tim.
Latar belakang terbentuknya kelompok dan tim mungkin bisa sama, yaitu ketertarikan pada hal yang sama. Tapi, dalam prosesnya, akan ada perbedaan jelas antara kelompok dan tim. Dalam proses kerjanya, sebuah grup atau kelompok akan cenderung memanfaatkan kemampuan masing-masing. Kemampuan itu bukan kemudian disatukan, tapi hanya sebagai sebuah pendapat untuk kemudian menyepakati satu cara general untuk mencapai sebuah tujuan. Nah dari sini kita tahu, bahwa satu orang akan cenderung mempertahankan pendapat atau opininya. Ketika opini itu disatukan, barulah muncul kekuatan yang nyata.
Hal ini berbeda dengan kerja dalam tim. Ketika menyebut kumpulan orang sebagai sebuah tim, maka akan ada spesifikasi kemampuan pada tiap-tiap anggota. Hal inilah yang membedakan tim dengan kelompok. Dengan tujuan yang sudah disepakati, masing-masing anggota tim akan bekerja dalam satu tujuan dengan kemampuan masing-masing yang kuat. Perbedaan kemampuan itu bukannya untuk memisahkan satu anggota dengan anggota lain dalam proses, tapi lebih pada pembagian tugas.
Kompleksitas kerja mungkin akan lebih banyak dijumpai dalam sebuah tim, yang masing-masing anggotanya sudah membawa kemampuan masing-masing yang saling melengkapi. Hal ini jugalah yang membuat sebuah tim memerlukan ketua yang sangat kuat agar kemampuan yang berebda-beda tersebut dapat disinkronisasikan dalam pencapaian tujuan. Akan tetapi, dalam proses dan hasil, dinamika sebuah tim akan semakin berwarna karena akan ada perbedaan pendapat yang rasional sesuai dengan pengalaman dan kemampuan masing-masing.
Tim juga akan sangat kokoh ketika satu sama lain saling menjaga, tingkat kejenuhan akan mengecil karena satu sama lain dapat belajar. Ya, tim adalah sebuah kelomok pembelajaran yang lebih kompleks daripada kelompok. Tujuan yang ingin dicapai juga direncanakan jauh ke depan.
Ya, tidak ada salahnya membentuk kelompok. Karena dalam dinamika kelompom tersebut, suatau saat dalam satu atau banyak event pasti akan dibentuk tim. Dan sekali lagi, dengan koordinasi yang baik, sebuah tim yang terdiri dari anggota yang sudah kuat akan mampu memberikan dinamika dan hasil yang sangat kokoh.
Selamat berproses bagi kalian yang sedang berorganisasi :)) semoga tulisan kecil gak jelas ini bisa menjadi inspirasi :)) Maaf, sangat gak jelas.
Sebuah footage yang saya ambil dari weekend menyenangkan selama dua hari. Dalam kesempatan ini saya juga resmi dilantik menjadi salah satu anggota Lektor Pringwulung. Tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan. Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman berharga tentang TIM.
Ya, ketika mendengar pernyataan tidak setuju Frater (baca: Kapten) terhadap perumpamaan yang telah lama ada itu, saya kemudian teringat tentang banyak orang yang berusaha mendefinisikan tim dan kelompok. Ya, berbekal pernyataan tidak setuju dari Frater Jhony saya akan mencoba share pengalaman tentang beda tim dan kelompok.
Tim dan kelompok, kadang dipahami sebagai dua hal yang sama. Berbekal dari ketertarikan di bidang yang sama, terbentuklah entah itu tim ataupun kelompok. Kelompok, dengan semakin berkembangnya teknologi, juga mulai banyak menjamur. Grup-grup terbentuk di dunia maya. Tapi apakah grup itu bisa disebut tim?
Sekali lagi, berbekal pernyataan tidak setuju Frater Jhony, saya akan mencoba mendedinisikan apa itu kelompok dan tim. Saat orang berkata, satu anggota rapuh dan ketika digabungkan akan jauh lebih kokoh, menurut saya inilah yang dinamakan kelompok. Tapi, ketika satu anggota saja sudah kuat, dan ketika disatukan akan menjadi semakin kuat, itulah yang kemudian saya sebut sebagai tim.
Latar belakang terbentuknya kelompok dan tim mungkin bisa sama, yaitu ketertarikan pada hal yang sama. Tapi, dalam prosesnya, akan ada perbedaan jelas antara kelompok dan tim. Dalam proses kerjanya, sebuah grup atau kelompok akan cenderung memanfaatkan kemampuan masing-masing. Kemampuan itu bukan kemudian disatukan, tapi hanya sebagai sebuah pendapat untuk kemudian menyepakati satu cara general untuk mencapai sebuah tujuan. Nah dari sini kita tahu, bahwa satu orang akan cenderung mempertahankan pendapat atau opininya. Ketika opini itu disatukan, barulah muncul kekuatan yang nyata.
Hal ini berbeda dengan kerja dalam tim. Ketika menyebut kumpulan orang sebagai sebuah tim, maka akan ada spesifikasi kemampuan pada tiap-tiap anggota. Hal inilah yang membedakan tim dengan kelompok. Dengan tujuan yang sudah disepakati, masing-masing anggota tim akan bekerja dalam satu tujuan dengan kemampuan masing-masing yang kuat. Perbedaan kemampuan itu bukannya untuk memisahkan satu anggota dengan anggota lain dalam proses, tapi lebih pada pembagian tugas.
Kompleksitas kerja mungkin akan lebih banyak dijumpai dalam sebuah tim, yang masing-masing anggotanya sudah membawa kemampuan masing-masing yang saling melengkapi. Hal ini jugalah yang membuat sebuah tim memerlukan ketua yang sangat kuat agar kemampuan yang berebda-beda tersebut dapat disinkronisasikan dalam pencapaian tujuan. Akan tetapi, dalam proses dan hasil, dinamika sebuah tim akan semakin berwarna karena akan ada perbedaan pendapat yang rasional sesuai dengan pengalaman dan kemampuan masing-masing.
Tim juga akan sangat kokoh ketika satu sama lain saling menjaga, tingkat kejenuhan akan mengecil karena satu sama lain dapat belajar. Ya, tim adalah sebuah kelomok pembelajaran yang lebih kompleks daripada kelompok. Tujuan yang ingin dicapai juga direncanakan jauh ke depan.
Ya, tidak ada salahnya membentuk kelompok. Karena dalam dinamika kelompom tersebut, suatau saat dalam satu atau banyak event pasti akan dibentuk tim. Dan sekali lagi, dengan koordinasi yang baik, sebuah tim yang terdiri dari anggota yang sudah kuat akan mampu memberikan dinamika dan hasil yang sangat kokoh.
Selamat berproses bagi kalian yang sedang berorganisasi :)) semoga tulisan kecil gak jelas ini bisa menjadi inspirasi :)) Maaf, sangat gak jelas.
Selasa, 22 November 2011
Bersyukur dan Kurang Mensyukuri
Judul yang hanya berupa formulasi kata jika ya maka lawannya adalah tidak. Tapi sebenarnya yang ingin saya bahas bukanlah apa itu bersyukur apa itu kurang mensyukuri. Saya hanya ingin menulis berbagai pengalaman saya terkait bersyukur dan tidak mensyukuri.
Bersyukur. Benarkah setiap orang, setiap hari bersyukur. Saya tidak mau munafik, saya sendiri masih belum bisa bersyukur setiap harinya. Hal ini memang bukan menjadi sebuah kebiasaan. Okelah, sesekali saya mensyukuri sesuatu tanpa ada sebabnya, berdoa dengan syukur karena mengingat kalau kita harus bersyukur atas segala sesuatu.
Pengalaman lebih dalam lagi, saya diajak bersyukur melihat segala keindahan yang ada. Ironisnya, bersyukur semacam menjadi sebuah alat untuk menakut-nakuti anak kecil. “Kalau kamu gak bersyukur, nanti Tuhan marah. Kamu nanti dapat sial” hal itupun seringkali direpresentasikan dalam produk-produk audiovisual. Akan tetapi, harusnya ada sebuah pendidikan yang lebih dalam untuk menjelaskan kenapa kita musti bersyukur.
Pengalaman saja, saya cenderung bersyukur ketika sudah mepet sekali. Kalau sudah tidak ada uang, dapet uang seribu saja sudah sangat alhamdullilah. Bahkan lebih dari itu, ketika sudah mepet, rasa syukur yang mendalam akan dirasakan dengan sangat menjaga uang tersebut. Ya, sebenarnya terlalu kontras juga ketika menghubungkan syukur dengan uang, akan tetapi ini adalah sebuah contoh yang nyata. oRang bersyukur ketika mendapatkan uang. Ya, uang memang adalah sebuah alat pembayaran, tapi harusnya yang disyukuri adalah kehidupan, fasilitas untuk berbagi yang ada di balik uang itu. Bukan sebuah kemewahan, bukan lagi penderitaan yang bisa ditimbulkan dari uang.
Sebenarnya dari hal-hal tersebutlah kemudian kita bisa mensyukuri sesuatu. Lebih lagi, kita akan mensyukuri dengan menghargai sesuatu itu. Saat sudah mepet. Benarkah semua orang bersyukur setiap hari, atau HARUS bersyukur setiap hari? Menurut saya manut saja pada ego masing-masing. Sekali lagi syukur itu harusnya timbul dari pengalaman yang sudah terarah dengan baik, bukan lagi atas dasar paksaan dan ketakutan akan Tuhan. Hahaha..sekali lagi saya masih percaya Tuhan adalah konstruksi masing-masing manusia dalam bahasa ke-Tuhanan mereka.
Nah, sekarang, ketika kita sedang tidak kepepet atau sedang berlimpah, apakah kita tidak bersyukur? Bukan, saya tidak mengatakan seperti itu. Akan tetapi kecenderungannya adalah kita menghilangkan rasa syukur tersebut setelah menerima berkah. Boleh lhah setelah sekian lama kepepet, kita akan mengahrgai sesuatu yang datang sebagai jawaban atas situasi mepet. Akan tetapi, ketika berkah tersebut terus-menerus datang, ya rasa syukur itu sebnarnya sedag diuji.
Saya punya pengalaman. Ketika habis memenangkan sebuah event, saya cenderung takut. Saya merasa saya berada di sana hanya atas dasar luck bukan kemampuan yang saya punya. Selanjutnya saya terus berada pada titik ketakutan, apakah karya-karya saya kemudian juga bisa diapresiasi. Saya kemudian takut, apakah saya akan terus dibanding-bandingkan. Haha..ya, rasa takut ini kemudian membuat saya jauh dari rasa syukur. Sangaattt jauuuhh..
Hal yang kontras, tapi senada juga pernah saya alami. Kontras dalam rasa takut, senada dalam ketidakbersyukuran. Saat saya mempunyai banyak sekali uang hasil pekerjaan, uang menjadi begitu gampang dibuang. Ah, saya sangat tidak mensyukuri sepeser uang. Saya menjadi lupa makna-makna di balik uang tersebut. Saya membuangnya dengan mudah.
Hahaha..ya hanya share saja tentang bersyukur dan tidak bersyukur. Saya merasa sebenarnya syukur itu tidak perlu ditunjukkan pad orang lain. Syukur yang harusnya dimenegerti pun harusnya lebih dari Terimakasih saya mendapat uang. Tapi mensyukuri pula apa yang ada di balik uang, di balik berkat dengan memahami dan melakukan aksi. Kalua uang ya, boleh lho berbagi rasa syukur dengan memberi sedekah pada yang membutuhkan (teman yang bokek mungkin). Tapi yang lebih penting lagi, syukur seharusnya lahir dari refleksi atas situasi lupa bersyukur. Ya, ini snagat penting karena akan ada makna yang lebih di balik rasa syukur tersebut dibanding ketika kita bersyukur hanya karena ingat paksaan saja.
Selamat menikmati hari, berefleksi dan menemukan begitu banyak berkah yang bisa disyukuri )
Bersyukur. Benarkah setiap orang, setiap hari bersyukur. Saya tidak mau munafik, saya sendiri masih belum bisa bersyukur setiap harinya. Hal ini memang bukan menjadi sebuah kebiasaan. Okelah, sesekali saya mensyukuri sesuatu tanpa ada sebabnya, berdoa dengan syukur karena mengingat kalau kita harus bersyukur atas segala sesuatu.
Pengalaman lebih dalam lagi, saya diajak bersyukur melihat segala keindahan yang ada. Ironisnya, bersyukur semacam menjadi sebuah alat untuk menakut-nakuti anak kecil. “Kalau kamu gak bersyukur, nanti Tuhan marah. Kamu nanti dapat sial” hal itupun seringkali direpresentasikan dalam produk-produk audiovisual. Akan tetapi, harusnya ada sebuah pendidikan yang lebih dalam untuk menjelaskan kenapa kita musti bersyukur.
Pengalaman saja, saya cenderung bersyukur ketika sudah mepet sekali. Kalau sudah tidak ada uang, dapet uang seribu saja sudah sangat alhamdullilah. Bahkan lebih dari itu, ketika sudah mepet, rasa syukur yang mendalam akan dirasakan dengan sangat menjaga uang tersebut. Ya, sebenarnya terlalu kontras juga ketika menghubungkan syukur dengan uang, akan tetapi ini adalah sebuah contoh yang nyata. oRang bersyukur ketika mendapatkan uang. Ya, uang memang adalah sebuah alat pembayaran, tapi harusnya yang disyukuri adalah kehidupan, fasilitas untuk berbagi yang ada di balik uang itu. Bukan sebuah kemewahan, bukan lagi penderitaan yang bisa ditimbulkan dari uang.
Sebenarnya dari hal-hal tersebutlah kemudian kita bisa mensyukuri sesuatu. Lebih lagi, kita akan mensyukuri dengan menghargai sesuatu itu. Saat sudah mepet. Benarkah semua orang bersyukur setiap hari, atau HARUS bersyukur setiap hari? Menurut saya manut saja pada ego masing-masing. Sekali lagi syukur itu harusnya timbul dari pengalaman yang sudah terarah dengan baik, bukan lagi atas dasar paksaan dan ketakutan akan Tuhan. Hahaha..sekali lagi saya masih percaya Tuhan adalah konstruksi masing-masing manusia dalam bahasa ke-Tuhanan mereka.
Nah, sekarang, ketika kita sedang tidak kepepet atau sedang berlimpah, apakah kita tidak bersyukur? Bukan, saya tidak mengatakan seperti itu. Akan tetapi kecenderungannya adalah kita menghilangkan rasa syukur tersebut setelah menerima berkah. Boleh lhah setelah sekian lama kepepet, kita akan mengahrgai sesuatu yang datang sebagai jawaban atas situasi mepet. Akan tetapi, ketika berkah tersebut terus-menerus datang, ya rasa syukur itu sebnarnya sedag diuji.
Saya punya pengalaman. Ketika habis memenangkan sebuah event, saya cenderung takut. Saya merasa saya berada di sana hanya atas dasar luck bukan kemampuan yang saya punya. Selanjutnya saya terus berada pada titik ketakutan, apakah karya-karya saya kemudian juga bisa diapresiasi. Saya kemudian takut, apakah saya akan terus dibanding-bandingkan. Haha..ya, rasa takut ini kemudian membuat saya jauh dari rasa syukur. Sangaattt jauuuhh..
Hal yang kontras, tapi senada juga pernah saya alami. Kontras dalam rasa takut, senada dalam ketidakbersyukuran. Saat saya mempunyai banyak sekali uang hasil pekerjaan, uang menjadi begitu gampang dibuang. Ah, saya sangat tidak mensyukuri sepeser uang. Saya menjadi lupa makna-makna di balik uang tersebut. Saya membuangnya dengan mudah.
Hahaha..ya hanya share saja tentang bersyukur dan tidak bersyukur. Saya merasa sebenarnya syukur itu tidak perlu ditunjukkan pad orang lain. Syukur yang harusnya dimenegerti pun harusnya lebih dari Terimakasih saya mendapat uang. Tapi mensyukuri pula apa yang ada di balik uang, di balik berkat dengan memahami dan melakukan aksi. Kalua uang ya, boleh lho berbagi rasa syukur dengan memberi sedekah pada yang membutuhkan (teman yang bokek mungkin). Tapi yang lebih penting lagi, syukur seharusnya lahir dari refleksi atas situasi lupa bersyukur. Ya, ini snagat penting karena akan ada makna yang lebih di balik rasa syukur tersebut dibanding ketika kita bersyukur hanya karena ingat paksaan saja.
Selamat menikmati hari, berefleksi dan menemukan begitu banyak berkah yang bisa disyukuri )
Nadia
"aku lebih suka dikerjai, daripada harus membantu ibu membereskan gerobak yang kami tinggal"
Pagi ini aku sedang membantu ibu membereskan gerobak jualan kami. Rutinitas seperti ini kami lakukan setiap hari, untuk mencari sesuap nasi. O ya, namaku Nadia, perempuan 15 tahun yang sudah tak gadis lagi. Heran kan? Tapi memang aku sudah tak gadis lagi di umurku yang masih sangat hijau. Aku sudah datang di pinggiran jalan Suramadu ini dari jam 8 pagi dan sudah sejam lamanya kami beres-beres. Beginilah nasib kami, uang datang seperti keberuntungan. Dan benar, ternyata tak lama setelah kami beres-beres datang orang-orang beseragam lagi.
Tanganku digenggam Ibu, kami mencoba lari. Ibu menggeretku keluar dari jembatan untuk menghindari pria-pria berseragam itu. Tapi, aku melepaskan tangan ibu. Aku sudah kecewa dengan ibu yang berulang kali meninggalkanku. Aku memang tak bisa bicara dan mendengar, tapi sakit rasanya ketika ibu berulangkali tak pernah mengucap namaku ketika aku pergi. Kini ibu mengenggam tanganku pun hanya karna takut, ketika para seragam itu bercerita aku bertemu ayahku di penjara.
Aku menyerahkan diri lagi pada pria-pria berseragam yang berulangkali mengerjaiku itu. Aku lebih suka dikerjai dan setelahnya melepas rindu dengan ayah yang katanya merekayasa penculikan, daripada harus tinggal ketakutan di rumah dan disuruh-suruh ibu memberesi gerobak yang kami tinggal.
Pria-pria berseragam itu membawaku dengan mobil bertempat duduk yang mereka miliki. Heran, sesampainya di kantor yang jadi satu dengan bui, mereka mendiamkanku. Mereka seakan tak melihat mataku yang minta dikerjai, mereka juga tak lihat tetesan air dari mataku yang rindu ayahku. Satu hari lebih mereka mencoba menggeretku keluar dari tempat itu, tapi aku tak mau sebelum bertemu ayahku. Mereka kemudian bercerita dengan nada yang tak kedengaran, tapi mimik muka mereka marah, dan saya tahu maksudnya. Ayah sudah keluar dari bui, mereka tak tahu dia pergi entah kemana.
Ah, aku seketika keluar dari tempat itu. Aku berjalan tak tahu entah kemana. Aku ingin jauh-jauh dari rumah, aku ingin jauh-jauh dari pria-pria berseragam. Aku ingin bertemu ayah. Aku teringat cerita ibu. Ketika sedang mencuci, aku membuka buku-buku catatannya. “Lebih baik dikerjai perampok, daripada main biasa sama suami sendiri.” Aku tak tahu maksudnya, tapi aku membaca bagian lain. Luka ibu ketika diperkosa oleh perampok. Ibu akhirnya kesampaian punya anak, walaupun cacat seperti saya. Ibu menuliskan kalau ayah seperti bajingan yang tidak pernah mencari nafkah, tidak bisa memberi kepuasan, tidak pernah menanamkan benih anak. Luka tersebut semakin dalam, ketika ayah tak bisa berbuat apa-apa saat ibu diperkosa oleh perampok. Hingga akhirnya ibu menjadi setengah gila. Ibu kemudian minggat dari rumah ayah, dan mencari si perampok dengan membawaku dalam kandungannya.
Ibu hidup di jalan dan terus mendambakan raut wajah si perampok. Tapi dalam perjalanannya dia tak sadar kalau aku sudah hampir lahir. Ibu hanya singgah di emperan toko, dan tidur, mengerang-erang kesakitan di situ ketika aku akan lahir. Untung ada orang Cina baik yang mendengar erangan Ibu. Koh Liang membawa ibu ke rumah sakit, membayar semua biaya pengobatan dan memberi kami sebuah rumah singgah. Koh Liang yang kemudian memperistri ibu saya, mengajari ibu untuk mandiri dan bekerja lagi.
Aku telah jauh, entah berjalan kemana. Dalam ingatan tentang cerita ibu, aku selalu teringat tentang perasaan ibu yang hingga kini masih disimpan kepada perampok yang memperkosanya. Entah perasaan benci, atau rasa terimakasih. Hal yang sudah pasti adalah, ibu gembira ketika aku lahir dan membenciku seumur hidup saat dia tahu aku bisu dan tuli.
Aku berjalan terus, hingga melewati sebuah rumah berperawakan China. Rumah dengan dekorasi serba merah itu mengingatkanku pada kematian ayah tiriku, Koh Liang. Waktu itu ibu masuk ke warung Koh Liang, hendak mengambil beberapa uang. Koh Liang mengetahuinya, dia sudah lama menyimpan benci pada ibu yang masih menyimpan hasrat pada si perampok sejak Koh Liang menikahinya. Melihat peluang menjebloskan ibu ke penjara, Koh Liang membekap ibu di depan mataku. Koh Liang mencoba menyeret ibu ke luar warung. Akan tetapi ibu keburu mengambil pisau dan menghujamkan pisau itu ke perut Koh Liang. Ditendangnya kemaluan koh Liang dan dicabik-cabiknya tubuh Koh Liang dengan mata dendam.
Ahhhhhhhhhhhhhhhhh.. aku berteriak kencang ketika mengingat kejadian itu. Aku diinterogasi oleh banyak polisi. Ibu dengan muka tanpa dosa melimpahkan kesalahannya padaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu aku berumur 10 tahun. Aku dikerjai oleh pria-pria berseragam untuk pertama kalinya. Setelah dua hari dikerjai, aku dilepas begitu saja, karna menurut mereka aku punya gangguan jiwa. Ahhhhhhh, aku berteriak sekali lagi. Aku benci pulang, aku benci ibu. Tapi hasratku dengan ibu untuk dikerjai sama. Kami ingin bertemu dengan orang yang pertama kali mengerjai kami.
Lama sekali aku hanya diam di depan rumah serba merah itu untuk merenungi nasib. Tiba-tiba pintunya terbuka, aku lagi-lagi sudah salah arah. Ibu muncul dari balik pintu, dengan senyum sinis menjewerku masuk ke dalam rumah. Ah, bangunan ini bangunan dari Koh Liang. Aku sudah menuju rumah. Aku tak tahu kenapa, aku rindu penyiksaan-penyiksaan di dalam rumah ini.
Pagi ini aku sedang membantu ibu membereskan gerobak jualan kami. Rutinitas seperti ini kami lakukan setiap hari, untuk mencari sesuap nasi. O ya, namaku Nadia, perempuan 15 tahun yang sudah tak gadis lagi. Heran kan? Tapi memang aku sudah tak gadis lagi di umurku yang masih sangat hijau. Aku sudah datang di pinggiran jalan Suramadu ini dari jam 8 pagi dan sudah sejam lamanya kami beres-beres. Beginilah nasib kami, uang datang seperti keberuntungan. Dan benar, ternyata tak lama setelah kami beres-beres datang orang-orang beseragam lagi.
Tanganku digenggam Ibu, kami mencoba lari. Ibu menggeretku keluar dari jembatan untuk menghindari pria-pria berseragam itu. Tapi, aku melepaskan tangan ibu. Aku sudah kecewa dengan ibu yang berulang kali meninggalkanku. Aku memang tak bisa bicara dan mendengar, tapi sakit rasanya ketika ibu berulangkali tak pernah mengucap namaku ketika aku pergi. Kini ibu mengenggam tanganku pun hanya karna takut, ketika para seragam itu bercerita aku bertemu ayahku di penjara.
Aku menyerahkan diri lagi pada pria-pria berseragam yang berulangkali mengerjaiku itu. Aku lebih suka dikerjai dan setelahnya melepas rindu dengan ayah yang katanya merekayasa penculikan, daripada harus tinggal ketakutan di rumah dan disuruh-suruh ibu memberesi gerobak yang kami tinggal.
Pria-pria berseragam itu membawaku dengan mobil bertempat duduk yang mereka miliki. Heran, sesampainya di kantor yang jadi satu dengan bui, mereka mendiamkanku. Mereka seakan tak melihat mataku yang minta dikerjai, mereka juga tak lihat tetesan air dari mataku yang rindu ayahku. Satu hari lebih mereka mencoba menggeretku keluar dari tempat itu, tapi aku tak mau sebelum bertemu ayahku. Mereka kemudian bercerita dengan nada yang tak kedengaran, tapi mimik muka mereka marah, dan saya tahu maksudnya. Ayah sudah keluar dari bui, mereka tak tahu dia pergi entah kemana.
Ah, aku seketika keluar dari tempat itu. Aku berjalan tak tahu entah kemana. Aku ingin jauh-jauh dari rumah, aku ingin jauh-jauh dari pria-pria berseragam. Aku ingin bertemu ayah. Aku teringat cerita ibu. Ketika sedang mencuci, aku membuka buku-buku catatannya. “Lebih baik dikerjai perampok, daripada main biasa sama suami sendiri.” Aku tak tahu maksudnya, tapi aku membaca bagian lain. Luka ibu ketika diperkosa oleh perampok. Ibu akhirnya kesampaian punya anak, walaupun cacat seperti saya. Ibu menuliskan kalau ayah seperti bajingan yang tidak pernah mencari nafkah, tidak bisa memberi kepuasan, tidak pernah menanamkan benih anak. Luka tersebut semakin dalam, ketika ayah tak bisa berbuat apa-apa saat ibu diperkosa oleh perampok. Hingga akhirnya ibu menjadi setengah gila. Ibu kemudian minggat dari rumah ayah, dan mencari si perampok dengan membawaku dalam kandungannya.
Ibu hidup di jalan dan terus mendambakan raut wajah si perampok. Tapi dalam perjalanannya dia tak sadar kalau aku sudah hampir lahir. Ibu hanya singgah di emperan toko, dan tidur, mengerang-erang kesakitan di situ ketika aku akan lahir. Untung ada orang Cina baik yang mendengar erangan Ibu. Koh Liang membawa ibu ke rumah sakit, membayar semua biaya pengobatan dan memberi kami sebuah rumah singgah. Koh Liang yang kemudian memperistri ibu saya, mengajari ibu untuk mandiri dan bekerja lagi.
Aku telah jauh, entah berjalan kemana. Dalam ingatan tentang cerita ibu, aku selalu teringat tentang perasaan ibu yang hingga kini masih disimpan kepada perampok yang memperkosanya. Entah perasaan benci, atau rasa terimakasih. Hal yang sudah pasti adalah, ibu gembira ketika aku lahir dan membenciku seumur hidup saat dia tahu aku bisu dan tuli.
Aku berjalan terus, hingga melewati sebuah rumah berperawakan China. Rumah dengan dekorasi serba merah itu mengingatkanku pada kematian ayah tiriku, Koh Liang. Waktu itu ibu masuk ke warung Koh Liang, hendak mengambil beberapa uang. Koh Liang mengetahuinya, dia sudah lama menyimpan benci pada ibu yang masih menyimpan hasrat pada si perampok sejak Koh Liang menikahinya. Melihat peluang menjebloskan ibu ke penjara, Koh Liang membekap ibu di depan mataku. Koh Liang mencoba menyeret ibu ke luar warung. Akan tetapi ibu keburu mengambil pisau dan menghujamkan pisau itu ke perut Koh Liang. Ditendangnya kemaluan koh Liang dan dicabik-cabiknya tubuh Koh Liang dengan mata dendam.
Ahhhhhhhhhhhhhhhhh.. aku berteriak kencang ketika mengingat kejadian itu. Aku diinterogasi oleh banyak polisi. Ibu dengan muka tanpa dosa melimpahkan kesalahannya padaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu aku berumur 10 tahun. Aku dikerjai oleh pria-pria berseragam untuk pertama kalinya. Setelah dua hari dikerjai, aku dilepas begitu saja, karna menurut mereka aku punya gangguan jiwa. Ahhhhhhh, aku berteriak sekali lagi. Aku benci pulang, aku benci ibu. Tapi hasratku dengan ibu untuk dikerjai sama. Kami ingin bertemu dengan orang yang pertama kali mengerjai kami.
Lama sekali aku hanya diam di depan rumah serba merah itu untuk merenungi nasib. Tiba-tiba pintunya terbuka, aku lagi-lagi sudah salah arah. Ibu muncul dari balik pintu, dengan senyum sinis menjewerku masuk ke dalam rumah. Ah, bangunan ini bangunan dari Koh Liang. Aku sudah menuju rumah. Aku tak tahu kenapa, aku rindu penyiksaan-penyiksaan di dalam rumah ini.
Rabu, 09 November 2011
Tuhan
Bukan untuk menambanh definisi tentang Tuhan, tapi hanya ingin mengungkapkan kembali definisi-definisi yang telah ada tentang Tuhan. Berbicara tentang Tuhan dalam kelas PNI, membuat saya terinspirasi untuk menyindir mereka yang berdoa dengan nama baik Allah, memuji dengan lantang dan keras nama Allah. Tapi, menurut pemikiran saya, pemahaman Allah dalam kuasa kebaikan adalah sesuatu yang sempit. Akan saya jelaskan hal ini dalam paragraf selanjutnya, tapi sebelumnya ijinkan saya share ayat ini:
“ Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. ”
See....walaupun mungkin penafsiran saya tidak 100% benar,,tapi saya melihat sebuah pencerahan untuk menilai orang lain. Ya, tidak usah banyak bicara tentang ini..tak ada kaitannya sedikitpun dengan apa yang saya tuliskan dalam kelas PNI tentang Tuhan. Aneh ya, bicara iklan, tapi bicara Tuhan, kontras terasa..tapi ya sudah lah...ini tulisan saya...
Tuhan.
Tuhan selama ini digambarkan duduk di sebelah kanan. Hal itu yang kemudian membuat "kanan" identik dengan kebaikan surgawi. Ya, surgawi, ketika semua orang percaya bahwa Tuhan tinggal di surga. Tuhan, menghalau setan yang bermuram di neraka, yang selama ini selalu di-"kiri"-kan. Seperti analogi tentang malaikat dan bidadari, mengalahkan setan berarti sebuah berkah. Karena berkah melimpah itulah, kemudian Tuhan menjadi muara segala doa. Tapi, menurut saya Tuhan itu juga hadir dalam sifat ke-"kiri"an manusia. Tuhan yang dianggap Agung, pasti punya kuasa atas segala kejahatan yang bebas dari jeratan. Ya, Tuhan itu kuasa, oleh karenanya masing-masing manusia punya peranan juga untuk menggunakan kuasa itu. Berarti Tuhan dikendalikan manusia? Sekali lagi, bukan bermaksud menjadi Agnostik, tapi manusia punya kuasa untuk menciptakan imaji tentang Tuhan dalam bahasa ke-Tuhan-n mereka masing-masing.
See, Tuhan dan manusia adalah hubungan imaji yang pribadi. Jadi buat apa saya berteriak-teriak memuji Tuhan untuk didengar? sepertinya tidak berguna ketika imaji pribadi tersebut tak muncul dalam kuasa yang lebih hakiki dan esensial, yaitu sikap. Silahkan berimaji, silahkan memuji, tapi jangan lupa sinkronisasi dengan sikap, pikiran dan perbuatan :))
“ Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. ”
See....walaupun mungkin penafsiran saya tidak 100% benar,,tapi saya melihat sebuah pencerahan untuk menilai orang lain. Ya, tidak usah banyak bicara tentang ini..tak ada kaitannya sedikitpun dengan apa yang saya tuliskan dalam kelas PNI tentang Tuhan. Aneh ya, bicara iklan, tapi bicara Tuhan, kontras terasa..tapi ya sudah lah...ini tulisan saya...
Tuhan.
Tuhan selama ini digambarkan duduk di sebelah kanan. Hal itu yang kemudian membuat "kanan" identik dengan kebaikan surgawi. Ya, surgawi, ketika semua orang percaya bahwa Tuhan tinggal di surga. Tuhan, menghalau setan yang bermuram di neraka, yang selama ini selalu di-"kiri"-kan. Seperti analogi tentang malaikat dan bidadari, mengalahkan setan berarti sebuah berkah. Karena berkah melimpah itulah, kemudian Tuhan menjadi muara segala doa. Tapi, menurut saya Tuhan itu juga hadir dalam sifat ke-"kiri"an manusia. Tuhan yang dianggap Agung, pasti punya kuasa atas segala kejahatan yang bebas dari jeratan. Ya, Tuhan itu kuasa, oleh karenanya masing-masing manusia punya peranan juga untuk menggunakan kuasa itu. Berarti Tuhan dikendalikan manusia? Sekali lagi, bukan bermaksud menjadi Agnostik, tapi manusia punya kuasa untuk menciptakan imaji tentang Tuhan dalam bahasa ke-Tuhan-n mereka masing-masing.
See, Tuhan dan manusia adalah hubungan imaji yang pribadi. Jadi buat apa saya berteriak-teriak memuji Tuhan untuk didengar? sepertinya tidak berguna ketika imaji pribadi tersebut tak muncul dalam kuasa yang lebih hakiki dan esensial, yaitu sikap. Silahkan berimaji, silahkan memuji, tapi jangan lupa sinkronisasi dengan sikap, pikiran dan perbuatan :))
Penghiburan Diri
ketika kamu terlarut dalam imaji,
yang kamu rasakan hanyalah bayangan mimpi..
kadang tak mengandung esensi,,
hingga akhirnya kamu berdiskusi dalam diri..
kalau kamu sebenarnya adalah orang yang berambisi....
hanya sebatas ambisi..tanpa eksekusi pasti,,
bukan eksekusi untuk mebayar kebutuhan diri,,
tapi untuk menggali...
atas apa saja dirimu berdiri..
hingga kini..kau melupakan kembali Ilahi,
hanya untuk meretas panggilan diri...
Sidhi....
ayo kembali,,pada siapa yang hendak kau kasihi :))
yang kamu rasakan hanyalah bayangan mimpi..
kadang tak mengandung esensi,,
hingga akhirnya kamu berdiskusi dalam diri..
kalau kamu sebenarnya adalah orang yang berambisi....
hanya sebatas ambisi..tanpa eksekusi pasti,,
bukan eksekusi untuk mebayar kebutuhan diri,,
tapi untuk menggali...
atas apa saja dirimu berdiri..
hingga kini..kau melupakan kembali Ilahi,
hanya untuk meretas panggilan diri...
Sidhi....
ayo kembali,,pada siapa yang hendak kau kasihi :))
Rabu, 02 November 2011
Script yang Gagal Dieksekusi, Ada yang Berminat?
CATATAN DUNIAWI
Manusia, Belahan Jiwa dan Tuhan: Menerawang Dalam Lembaran, Seakan Kehidupan Terbayang
SCENE I:
“Cinta itu seakan rasa yang terlalu abstrak, ingin menelan dalam, apa daya....lidah tak mampu mengecap pahit....ingin memuntahkannya dalam bak sampah, tetap mulut tak mau berhenti mengunyah..mengharapkan manis itu datang dengan sendirinya...”
Mata Nuel tak henti-hentinya membaca dan memahami status facebook Aisyah itu. Tak lama kemudian tangannya mulai cekatan berpadu dengan suara ketikan
Kasihan ya si Cinta, bergabung terus dengan liur....diaduk hancur hingga lebur oleh gertakan gigi....
Hahaha....kok kamu tiba-tiba muncul mas Nuel? Apa kabar? Lama tidak berjumpa, padahal kita sama-sama di Yogyakarta....
Lho?? Kok mengalihkan pembicaraan? Kita kan sedang berbicara tentang Cinta dalam mulut, kunyahan duniawi....Hahaha, Baik Aisyah...iya sudah dua bulan kita gak ketemu....
Dua bulan ternyata tidak cukup membuat saya lupa tentang cinta lho....hehe,, kunyahan kita tidak hanya dipelajari dalam keduniawian,, cinta dikunyah dalam iman..Nuel...
Kalau begitu mengapa cinta tidak dibiarkan masuk dalam perut dan menjadi lebih bermakna untuk iman,, dari sekedar rasa yang seringkali ditolak oleh pengecap??
Karna cinta dan iman seringkali seperti lidah yang ingin mengecap manis, tapi mendapat pahit....padahal si empunya lapar berat...haha...seperti kamu tu, tiap jam lapar!!
Ahahaha,, kalau begitu cinta bukan bagian dari iman tu, atau imannya yang sama sekali gak kuat....?? Haha....
Nyindir ni?? Eh, aku Shalat Maghrib dulu ya....sudah dijemput Bapak...
Selamat beribadah Aisyah....
Nuel mematikan koneksi internetnya, berjalan ke arah rak bukunya..mengambil sebuah buku tentang Cinta dan Agama. Membalik halaman demi halaman bukan untuk dibaca, melainkan untuk mencari kalimat yang kemudian akan ditulisnya dalam sebuah catatan. Catatan Duniawi begitu dia memberi judul catatan kecilnya. Banyak kalimat-kalimat singkat, bahkan beberapa adalah tulisan tentang dilema cinta sahabatnya. Nuel menambahkan beberapa kalimat dalam catatannya.
Sudah dua buku dia bolak-balik demi kalimat-kalimat yang berbicara tentang cinta. Buku sudah menjadi belahan jiwanya dua bulan ini. Tidak kurang dari enam kalimat dia tambahkan dalam catatannya. Teng, teng, teng alarm pukul 21.00 menyambut keseriusannya dalam menggoreskan tinta di catatannya. Nuel beranjak dari meja belajarnya menuju ke kamar mandi, membersihkan kaki dan tangannya. Selesai membasuh dirinya sendiri, dia kembali menuju kamar, mengambil secarik kertas bertuliskan SKRIPSI dan menempelkan pada stereofoam di depan meja belajarnya. Nuel mengambil lilin, menyalakannya dan mengambil secarik kertas doa dan mulailah dia berdoa dengan rosario di tangannya.
SCENE II:
Perpustakaan, tempat yang tidak asing lagi untuk Nuel. Dia meletakkan Laptopnya di atas meja, bergegas menuju rak-rak buku keagamaan dan mengambil beberapa buku dari dalamnya. Nuel kembali ke mejanya, bertegur sapa dengan beberapa orang yang memanggilnya dan menanyakan Kapan mau lulus?? Nuel hanya tersenyum kelu sambil kembali ke mejanya. Dia menyalakan Laptopnya, sambil membaca buku-buku yang tadi diambilnya, dia kemudian mengetik beberapa kalimat dengan serius.
“Boy, serius bener lu ngetiknya? Ngebet lulus apa ngebet kawin?” Sapa David temannya.
“Anjrit, diem lu, gw lagi serius ni!!”
“Ahahaha, lu gak lagi ngebet kawin kan?”
“Nyet, gw udah janji sama Aisyah 3 bulan gw udah selesai Skripsi”
“Ah, mengada-ada aja tu babenya, masa’ pacaran aje harus nunggu lu lulus!”
“Iya lhah, Aisyah aja udah kerja.” Jawab Nuel sambil membereskan mejanya dan bergegas keluar.
“Emang Aisyah beneran gak boleh ketemu sama lu?”
“Kalo boleh sih kaga mungkin gw serajin dua bulan ini, Nyet!!”
Mereka berdua melanjutkan obrolan hingga keluar dari peRpustakaan.
SCENE III:
Nuel kembali ke kosnya dengan motornya. Dia mampir sejenak ke Masjid, menemui seorang Bapak dan tergopoh-gopoh bertanya, “Pak, pindah Agama ke Islam kalau karena Cinta kira-kira bertahan berapa lama ya?”
“Nuel, nuel...kamu sudah tanya tentang ini berapa kali? Sekali lagi jawabannya ada di hatimu.” Ujar Bapak itu sambil memegang dada kiri Nuel.
“Tapi, kalau misalnya menikah beda Agama itu dosa tidak menurut Islam?”
“Kamu kan sudah baca bukunya yang saya beri, kamu tahu jawabannya kan?”
“Tapi Pak, kalau menurut Bapak bagaimana saya harus mendekati bapaknya Aisyah?”
“Pakai hatimu, Nak. Dekati dulu anaknya, agar dia percaya iman tidak bermasalah untuk cinta.”
“Ehm, oke Pak. Makasih, Maaf Pak kalau pertanyaan yang sama saya tanyakan berkali-kali.” Nuel pergi berlalu dengan wajah yang agak murung.
“Ikuti hatimu Nu, catatan dalam buku-bukumu berkata hal yang duniawi”
SCENE IV:
Sore menjelang malam, kembali Nuel melahap buku-buku yang tadi dia pinjam di Perpustakaan. Kemudian dia terlihat agak sedikit murung, tampak memikirkan hal lain diluar isi buku tersebut. Kemudian membuka Laptopnya, menyalakannya dan mulai online.
“Eh, Aisyah komen apa ni?”
Nuel: Sudah dua bulan tidak bertemu, saya akhirnya beranikan diri menyapa maya dirinya.
Aisyah: Gimana Skripsinya Mas?
Nuel mulai tenggelam dalam bunyi gemertak jarinya.
Masih stug, tinggal satu minggu lagi ya batasnya? Hahaha
Hahaha, santai aja....Aisyah tunggu kok
Tapi Bapak sepertinya sudah memburu....
Hahahaha....
Kok ketawa?
Abisnya, kayaknya mas Nuel yang sudah memburu lulus *diceritain frater David tadi
Ahahaha, sialan tu anak cerita ke kamu!! Kamu tadi ke perpus juga ya??
Iya,, Cuma bentar....Mas, ada Bapak..bentar yaa...
SCENE V:
Nuel sangat rajin mengejar skripsinya. Bimbingan skripsi dengan seorang Romo Pembimbing. Berdoa dengan lilin dan rosario. Buku yang dipinjam sekarang lebih banyak tentang panggilan.
SCENE VI:
Nuel membuka-buka kembali catatan duniawinya, dia seakan terlena oleh skripsi hingga lupa dengan catatan itu. Dia membaca kembali tulisan Aisyah saat itu
Radikal dan moderat, mencampurkan air dengan minyak....semoga ada sabun basa yang menyatukan keduanya.
Dia kemudian membuka laptop, menuliskan hal tersebut di facebook dengan harapan Aisyah membacanya.
Mas, masih ingat to? Pasti baru buka catatan duniawi ya? Hahaha
Iya, kamu masih ingat buku yang dulu kamu baca sebelum menuliskan kalimat itu?
Masih Mas....saya tidak bisa jalani hubungan beda Agama, apalagi Bapak saya...nunggu janji mas Nuel setelah selesai Skripsi
Bukannya cinta itu biar kita yang berbeda disatukan sehingga ada damai, dek?
Tapi pandangan kami berbeda, saya masih percaya sama bapak..cinta yang dijalani berbeda bikin dosa,, gak di ridhoi..nanti bikin kisruh di antara keluarga....
Aisyah....
Iya...
Tapi....
Mas kan udah janji dulu??
Tapi kayaknya aku gak mau pindah....aku gak yakin,,
Mas... TT
Nuel menghentikan jemarinya sejenak. Dia menutup laptopnya dan berdoa, masih dengan menggantungkan tulisan skripsi di depannya. Tapi kini tulisannya tidak lagi dengan tinta hitam, melainkan tinta merah.
SCENE VII:
2 bulan kemudian
Nuel sudah berada di depan laptop dengan berbagai ucapan selamat yang dia dapatkan atas kelulusannya.
Aisyah: Selamat ya Mas....
Nuel: Makasih....Masih ingat janji kita empat setengah bulan lalu? Saya telat satu setengah bulan nih....hahahaha
Aisyah: Gapapa Mas..hehe..saya tadi ke kampus Mas, tapi mas sudah terlanjur pulang..terus tadi ketemu frater David pas ke Perpustakaan....aku nitip surat untuk Mas ke dia....hahaha...Aisyah tunggu janji Mas...
Nuel: hahaha...aku nanti ke tempat David dulu aja ya....aku baca dulu suratnya, baru nanti kita bahas lagii...
Nuel segera membereskan laptopnya, berganti baju dan bergegas menuju Perpustakaan Kolose Santo Ignatius.
“David ada Mas?”
“Bentar ya saya panggilkan mas Nuel”
“Nu, ini surat dari Aisyah” tiba-tiba David muncul di hadapan Nuel.
Nuel dengan segera membuka surat itu dan membacanya.
Mas, radikal vs moderat....sudah ada sabun basa yang menyatukan..kesabaran Mas!! Hahahaha....Aisyah mau ambil resiko,, Mas gak harus pindah Agama gapapa....nanti Aisyah yang ngomong ke Bapak.
Mas, Aisyah teringat kata-kata Mas. Benar, kata-kata di buku Cuma sesuatu yang semu....idealisme sebagian orang,, bukan kenyataan yang sebenarnya...semu....Aisyah salah menganggap buku-buku keagamaan itu Kehidupan, padahal Aisyah gak dapat kedamaian karena menolak perasaan Aisyah. Maafin Aisyah Mas.
“Vid, lu ada nomer Aisyah yang baru kan? Gw pinjem donk hape lu!” Paksa Nuel sembari merogoh kantong David.
Aisyah, ini Nuel....ketemuan yuk besok jam 2 di Perpustakaan.
“Thanks Vid....”
“Ah, elu mah...maksa jadi orang....Gimana? Besok ketemu Aisyah?”
“Iya....hehehe...” Lalu Nuel membisiki David, sembari keluar dari ruangan.
David melambaikan tangan sambil tersenyum lebar, “Sukses Boy! Gw tunggu!!”
SCENE VIII:
Esoknya Nuel menunggu di Perpustakaan. Sejenak kemudian Aisyah datang dengan jilbab dan rok panjangnya.
“Eh, Aisyah....lama gak ketemu, kangen gak??”
“Hahaha...gak usah ditanya Mas.” Mereka kemudian duduk di tangga masuk Perpustakaan.
“Jadi ingat dulu kita pertama kali ketemu disini juga kan Mas.”
“Hahaha..iyaaa....Kamu ingat ini juga gak?” Jawab Nuel sambil mengeluarkan catatan duniawi-nya.
“Masih lhah Mas.”
Nuel dan Aisyah berbincang-bincang lebih lanjut beberapa saat. Di akhir pertemuan sekitar 15 menit itu, Aisyah kemudian berdiri tersenyum, sedang Nuel merasa sedikit bersalah. Nuel memeluk Aisyah sambil memberikan catatan duniawinya. Aisyah dan Nuel pergi ke depan, Aisyah menghentikan becak yang lewat dan mulai melaju. Tampak Aisyah mulai menangis, sedang Nuel dengan muka bersalahnya menaiki motornya kembali ke kos.
SCENE IX:
Nuel memulai ritual doa malamnya di Kos. Kali ini dia mengambil Tulisan Skripsi berwarna hitam, di balik tulisan itu terdapat nama Aisyah. Nuel membakar kertas itu. Kemudian Nuel merapikan buku-buku panggilannya, menuju sterofoam dan membalik kertas bertuliskan SKRIPSI tinta merah. Ketika di balik muncul tulisan ROMO dengan tinta merah pula....Nuel mulai berdoa.
SCENE X:
DI Mobil menuju Seminari, Nuel melamun. Menerawang kembali malam sebelum dia memberikan catatan duniawinya ke Aisyah, saat dia menuliskan
Maaf Aisyah, saat kamu tersadar dari kesemuan sebuah buku...aku justru terseret masuk dalam kebenaran tiap lembar buku panggilan. Saat kamu dulu aku kecam karena menganggap kebenaran radikal yang tertulis dalam buku harus menjadi nyata, sekarang justru aku yang harus kamu kecam karena masuk dalam persuasui kehidupan. Aku terjerumus dalam kenyataan semu, yang saya yakin ada!! Maaf Aisyah, aku ingin jadi Romo.
Tak sadar, ternyata Nuel sudah tiba di gerbang Seminarai. Dia heran melihat Aisyah sudah hadir di sana bersama David.
Nuel turun, dan Aisyah membisikkan sesuatu kepadanya.
“Untuk kedamaian hatimu, aku tidak akan mengecam Mas terseret dalam bayangan semu buku-buku yang Mas baca. Aku senang, Mas berpikir untuk kedamaian..juga bukan untuk mebohongi perasaan Mas. Salam untuk Tuhan, doakan Aisyah ya Mas.” Aisyah menitikkan air matanya masuk ke dalam mobil.
David ganti menghampiri Nuel, “Saya salut Bos sama Anda..Saya tunggu kita ditahbiskan bersama Bos.” Katanya sambil naik mobil.
Nuel hanya bisa diam, dia tersenyum..melambaikan tangan kanannya ke arah David dan Aisyah yang melaju pergi. Tangan kirinya menggenggam catatan duniawi yang tadi dikembalikan Aisyah. Dia lemparkan catatan duniawi itu ke bak sampah dan melaju pergi, masuk ke rumahnya yang baru.
Manusia, Belahan Jiwa dan Tuhan: Menerawang Dalam Lembaran, Seakan Kehidupan Terbayang
SCENE I:
“Cinta itu seakan rasa yang terlalu abstrak, ingin menelan dalam, apa daya....lidah tak mampu mengecap pahit....ingin memuntahkannya dalam bak sampah, tetap mulut tak mau berhenti mengunyah..mengharapkan manis itu datang dengan sendirinya...”
Mata Nuel tak henti-hentinya membaca dan memahami status facebook Aisyah itu. Tak lama kemudian tangannya mulai cekatan berpadu dengan suara ketikan
Kasihan ya si Cinta, bergabung terus dengan liur....diaduk hancur hingga lebur oleh gertakan gigi....
Hahaha....kok kamu tiba-tiba muncul mas Nuel? Apa kabar? Lama tidak berjumpa, padahal kita sama-sama di Yogyakarta....
Lho?? Kok mengalihkan pembicaraan? Kita kan sedang berbicara tentang Cinta dalam mulut, kunyahan duniawi....Hahaha, Baik Aisyah...iya sudah dua bulan kita gak ketemu....
Dua bulan ternyata tidak cukup membuat saya lupa tentang cinta lho....hehe,, kunyahan kita tidak hanya dipelajari dalam keduniawian,, cinta dikunyah dalam iman..Nuel...
Kalau begitu mengapa cinta tidak dibiarkan masuk dalam perut dan menjadi lebih bermakna untuk iman,, dari sekedar rasa yang seringkali ditolak oleh pengecap??
Karna cinta dan iman seringkali seperti lidah yang ingin mengecap manis, tapi mendapat pahit....padahal si empunya lapar berat...haha...seperti kamu tu, tiap jam lapar!!
Ahahaha,, kalau begitu cinta bukan bagian dari iman tu, atau imannya yang sama sekali gak kuat....?? Haha....
Nyindir ni?? Eh, aku Shalat Maghrib dulu ya....sudah dijemput Bapak...
Selamat beribadah Aisyah....
Nuel mematikan koneksi internetnya, berjalan ke arah rak bukunya..mengambil sebuah buku tentang Cinta dan Agama. Membalik halaman demi halaman bukan untuk dibaca, melainkan untuk mencari kalimat yang kemudian akan ditulisnya dalam sebuah catatan. Catatan Duniawi begitu dia memberi judul catatan kecilnya. Banyak kalimat-kalimat singkat, bahkan beberapa adalah tulisan tentang dilema cinta sahabatnya. Nuel menambahkan beberapa kalimat dalam catatannya.
Sudah dua buku dia bolak-balik demi kalimat-kalimat yang berbicara tentang cinta. Buku sudah menjadi belahan jiwanya dua bulan ini. Tidak kurang dari enam kalimat dia tambahkan dalam catatannya. Teng, teng, teng alarm pukul 21.00 menyambut keseriusannya dalam menggoreskan tinta di catatannya. Nuel beranjak dari meja belajarnya menuju ke kamar mandi, membersihkan kaki dan tangannya. Selesai membasuh dirinya sendiri, dia kembali menuju kamar, mengambil secarik kertas bertuliskan SKRIPSI dan menempelkan pada stereofoam di depan meja belajarnya. Nuel mengambil lilin, menyalakannya dan mengambil secarik kertas doa dan mulailah dia berdoa dengan rosario di tangannya.
SCENE II:
Perpustakaan, tempat yang tidak asing lagi untuk Nuel. Dia meletakkan Laptopnya di atas meja, bergegas menuju rak-rak buku keagamaan dan mengambil beberapa buku dari dalamnya. Nuel kembali ke mejanya, bertegur sapa dengan beberapa orang yang memanggilnya dan menanyakan Kapan mau lulus?? Nuel hanya tersenyum kelu sambil kembali ke mejanya. Dia menyalakan Laptopnya, sambil membaca buku-buku yang tadi diambilnya, dia kemudian mengetik beberapa kalimat dengan serius.
“Boy, serius bener lu ngetiknya? Ngebet lulus apa ngebet kawin?” Sapa David temannya.
“Anjrit, diem lu, gw lagi serius ni!!”
“Ahahaha, lu gak lagi ngebet kawin kan?”
“Nyet, gw udah janji sama Aisyah 3 bulan gw udah selesai Skripsi”
“Ah, mengada-ada aja tu babenya, masa’ pacaran aje harus nunggu lu lulus!”
“Iya lhah, Aisyah aja udah kerja.” Jawab Nuel sambil membereskan mejanya dan bergegas keluar.
“Emang Aisyah beneran gak boleh ketemu sama lu?”
“Kalo boleh sih kaga mungkin gw serajin dua bulan ini, Nyet!!”
Mereka berdua melanjutkan obrolan hingga keluar dari peRpustakaan.
SCENE III:
Nuel kembali ke kosnya dengan motornya. Dia mampir sejenak ke Masjid, menemui seorang Bapak dan tergopoh-gopoh bertanya, “Pak, pindah Agama ke Islam kalau karena Cinta kira-kira bertahan berapa lama ya?”
“Nuel, nuel...kamu sudah tanya tentang ini berapa kali? Sekali lagi jawabannya ada di hatimu.” Ujar Bapak itu sambil memegang dada kiri Nuel.
“Tapi, kalau misalnya menikah beda Agama itu dosa tidak menurut Islam?”
“Kamu kan sudah baca bukunya yang saya beri, kamu tahu jawabannya kan?”
“Tapi Pak, kalau menurut Bapak bagaimana saya harus mendekati bapaknya Aisyah?”
“Pakai hatimu, Nak. Dekati dulu anaknya, agar dia percaya iman tidak bermasalah untuk cinta.”
“Ehm, oke Pak. Makasih, Maaf Pak kalau pertanyaan yang sama saya tanyakan berkali-kali.” Nuel pergi berlalu dengan wajah yang agak murung.
“Ikuti hatimu Nu, catatan dalam buku-bukumu berkata hal yang duniawi”
SCENE IV:
Sore menjelang malam, kembali Nuel melahap buku-buku yang tadi dia pinjam di Perpustakaan. Kemudian dia terlihat agak sedikit murung, tampak memikirkan hal lain diluar isi buku tersebut. Kemudian membuka Laptopnya, menyalakannya dan mulai online.
“Eh, Aisyah komen apa ni?”
Nuel: Sudah dua bulan tidak bertemu, saya akhirnya beranikan diri menyapa maya dirinya.
Aisyah: Gimana Skripsinya Mas?
Nuel mulai tenggelam dalam bunyi gemertak jarinya.
Masih stug, tinggal satu minggu lagi ya batasnya? Hahaha
Hahaha, santai aja....Aisyah tunggu kok
Tapi Bapak sepertinya sudah memburu....
Hahahaha....
Kok ketawa?
Abisnya, kayaknya mas Nuel yang sudah memburu lulus *diceritain frater David tadi
Ahahaha, sialan tu anak cerita ke kamu!! Kamu tadi ke perpus juga ya??
Iya,, Cuma bentar....Mas, ada Bapak..bentar yaa...
SCENE V:
Nuel sangat rajin mengejar skripsinya. Bimbingan skripsi dengan seorang Romo Pembimbing. Berdoa dengan lilin dan rosario. Buku yang dipinjam sekarang lebih banyak tentang panggilan.
SCENE VI:
Nuel membuka-buka kembali catatan duniawinya, dia seakan terlena oleh skripsi hingga lupa dengan catatan itu. Dia membaca kembali tulisan Aisyah saat itu
Radikal dan moderat, mencampurkan air dengan minyak....semoga ada sabun basa yang menyatukan keduanya.
Dia kemudian membuka laptop, menuliskan hal tersebut di facebook dengan harapan Aisyah membacanya.
Mas, masih ingat to? Pasti baru buka catatan duniawi ya? Hahaha
Iya, kamu masih ingat buku yang dulu kamu baca sebelum menuliskan kalimat itu?
Masih Mas....saya tidak bisa jalani hubungan beda Agama, apalagi Bapak saya...nunggu janji mas Nuel setelah selesai Skripsi
Bukannya cinta itu biar kita yang berbeda disatukan sehingga ada damai, dek?
Tapi pandangan kami berbeda, saya masih percaya sama bapak..cinta yang dijalani berbeda bikin dosa,, gak di ridhoi..nanti bikin kisruh di antara keluarga....
Aisyah....
Iya...
Tapi....
Mas kan udah janji dulu??
Tapi kayaknya aku gak mau pindah....aku gak yakin,,
Mas... TT
Nuel menghentikan jemarinya sejenak. Dia menutup laptopnya dan berdoa, masih dengan menggantungkan tulisan skripsi di depannya. Tapi kini tulisannya tidak lagi dengan tinta hitam, melainkan tinta merah.
SCENE VII:
2 bulan kemudian
Nuel sudah berada di depan laptop dengan berbagai ucapan selamat yang dia dapatkan atas kelulusannya.
Aisyah: Selamat ya Mas....
Nuel: Makasih....Masih ingat janji kita empat setengah bulan lalu? Saya telat satu setengah bulan nih....hahahaha
Aisyah: Gapapa Mas..hehe..saya tadi ke kampus Mas, tapi mas sudah terlanjur pulang..terus tadi ketemu frater David pas ke Perpustakaan....aku nitip surat untuk Mas ke dia....hahaha...Aisyah tunggu janji Mas...
Nuel: hahaha...aku nanti ke tempat David dulu aja ya....aku baca dulu suratnya, baru nanti kita bahas lagii...
Nuel segera membereskan laptopnya, berganti baju dan bergegas menuju Perpustakaan Kolose Santo Ignatius.
“David ada Mas?”
“Bentar ya saya panggilkan mas Nuel”
“Nu, ini surat dari Aisyah” tiba-tiba David muncul di hadapan Nuel.
Nuel dengan segera membuka surat itu dan membacanya.
Mas, radikal vs moderat....sudah ada sabun basa yang menyatukan..kesabaran Mas!! Hahahaha....Aisyah mau ambil resiko,, Mas gak harus pindah Agama gapapa....nanti Aisyah yang ngomong ke Bapak.
Mas, Aisyah teringat kata-kata Mas. Benar, kata-kata di buku Cuma sesuatu yang semu....idealisme sebagian orang,, bukan kenyataan yang sebenarnya...semu....Aisyah salah menganggap buku-buku keagamaan itu Kehidupan, padahal Aisyah gak dapat kedamaian karena menolak perasaan Aisyah. Maafin Aisyah Mas.
“Vid, lu ada nomer Aisyah yang baru kan? Gw pinjem donk hape lu!” Paksa Nuel sembari merogoh kantong David.
Aisyah, ini Nuel....ketemuan yuk besok jam 2 di Perpustakaan.
“Thanks Vid....”
“Ah, elu mah...maksa jadi orang....Gimana? Besok ketemu Aisyah?”
“Iya....hehehe...” Lalu Nuel membisiki David, sembari keluar dari ruangan.
David melambaikan tangan sambil tersenyum lebar, “Sukses Boy! Gw tunggu!!”
SCENE VIII:
Esoknya Nuel menunggu di Perpustakaan. Sejenak kemudian Aisyah datang dengan jilbab dan rok panjangnya.
“Eh, Aisyah....lama gak ketemu, kangen gak??”
“Hahaha...gak usah ditanya Mas.” Mereka kemudian duduk di tangga masuk Perpustakaan.
“Jadi ingat dulu kita pertama kali ketemu disini juga kan Mas.”
“Hahaha..iyaaa....Kamu ingat ini juga gak?” Jawab Nuel sambil mengeluarkan catatan duniawi-nya.
“Masih lhah Mas.”
Nuel dan Aisyah berbincang-bincang lebih lanjut beberapa saat. Di akhir pertemuan sekitar 15 menit itu, Aisyah kemudian berdiri tersenyum, sedang Nuel merasa sedikit bersalah. Nuel memeluk Aisyah sambil memberikan catatan duniawinya. Aisyah dan Nuel pergi ke depan, Aisyah menghentikan becak yang lewat dan mulai melaju. Tampak Aisyah mulai menangis, sedang Nuel dengan muka bersalahnya menaiki motornya kembali ke kos.
SCENE IX:
Nuel memulai ritual doa malamnya di Kos. Kali ini dia mengambil Tulisan Skripsi berwarna hitam, di balik tulisan itu terdapat nama Aisyah. Nuel membakar kertas itu. Kemudian Nuel merapikan buku-buku panggilannya, menuju sterofoam dan membalik kertas bertuliskan SKRIPSI tinta merah. Ketika di balik muncul tulisan ROMO dengan tinta merah pula....Nuel mulai berdoa.
SCENE X:
DI Mobil menuju Seminari, Nuel melamun. Menerawang kembali malam sebelum dia memberikan catatan duniawinya ke Aisyah, saat dia menuliskan
Maaf Aisyah, saat kamu tersadar dari kesemuan sebuah buku...aku justru terseret masuk dalam kebenaran tiap lembar buku panggilan. Saat kamu dulu aku kecam karena menganggap kebenaran radikal yang tertulis dalam buku harus menjadi nyata, sekarang justru aku yang harus kamu kecam karena masuk dalam persuasui kehidupan. Aku terjerumus dalam kenyataan semu, yang saya yakin ada!! Maaf Aisyah, aku ingin jadi Romo.
Tak sadar, ternyata Nuel sudah tiba di gerbang Seminarai. Dia heran melihat Aisyah sudah hadir di sana bersama David.
Nuel turun, dan Aisyah membisikkan sesuatu kepadanya.
“Untuk kedamaian hatimu, aku tidak akan mengecam Mas terseret dalam bayangan semu buku-buku yang Mas baca. Aku senang, Mas berpikir untuk kedamaian..juga bukan untuk mebohongi perasaan Mas. Salam untuk Tuhan, doakan Aisyah ya Mas.” Aisyah menitikkan air matanya masuk ke dalam mobil.
David ganti menghampiri Nuel, “Saya salut Bos sama Anda..Saya tunggu kita ditahbiskan bersama Bos.” Katanya sambil naik mobil.
Nuel hanya bisa diam, dia tersenyum..melambaikan tangan kanannya ke arah David dan Aisyah yang melaju pergi. Tangan kirinya menggenggam catatan duniawi yang tadi dikembalikan Aisyah. Dia lemparkan catatan duniawi itu ke bak sampah dan melaju pergi, masuk ke rumahnya yang baru.
Senyum Masa Depan

Senyum Masa Depan, sebuah judul yang sangat menarik untuk merefleksikan Indonesia ke depan. Saya terinspirasi dengan para pengajar muda, entah mereka yang secara kolektif mengajar di suatu tempat (misalnya Indonesia Mengajar) ataupun mereka yang secara mandiri berinisiatif untuk belajar bersama teman-teman yang kurang beruntung dalam pendidikan.
Indonesia ke depan, sebenarnya tidak membutuhkan hujatan-hujatan akan masalah-masalah sosial yang ada. Biar saja itu menjadi urusan mereka yang berkompetensi dalam dunia ekonomi, politik, dlll. Ignorance terhadap hal ini bukan tanpa alasan. Saat orang gegap gempita mengkritisi hal-hal yang besar, banayk kemudian melupakan langkah-langkah kecil untuk memberikan senyuman kepada mereka yang belum beruntung. Ya, saya adalah orang yang sebenarnya pesimis dengan keadaan Indonesia yang sekarang ini mencoba keras memperbaiki diri. Saya pesimis ketika mental semua elemen bukan menjadi prioritas utama yang harus diubah.
Ya, hanya sekedar pemikiran yang mungkin sangat-sangat sederhana. Sekali lagi saya sok kritis padahal penuh dengan nada pesimistis. Saya menilai senyuman untuk mereka yang belum mampu adalahs ebuah hal yang harus diwujudkan. Mereka yang kini belum bisa tersenyum mempunyai mental baja, diterpa segala angin kerinduan. Kerinduan akan kasih sayang, kerinduan akan pendidikan, kerinduan akan kepedulian. Untuk meraih kerinduan itu, mereka telah berproses panjang. Mental itu yang harusnya didampingi agar berguna untuk memberikan senyman masa depan bagi Indonesia.
Teman, sepertinya sudah bukan waktunya ketika kalian menanyakan lembaga sosial mana yang cocok untuk penelitian. Bukan lagi kalian sekedar menganalisis dan mencoba mencibir pemerintah yang keras hati untuk memperbaiki keadaan. Sekarang waktunya bangkit, Teman. Ayo wujudkan senyuman kecil dalam wajah mereka. Sebuah senyuman untuk masa depan. Bukan saatnya ahnya berdoa dan beroptimis, banyak wadah yang bisa kalian gunakan untuk mencurahkan kata-kata optimis itu dalam hidup nyata. Enggage it into real world.
Saya mengajak bukan berarti saya sudah punya kontribusi besar, saya pun sedang berprose. Saya sedang mencoba untuk memberikan senyuman kecil. Dan kalian akan tahu rasanya betapa senyuman yang berbalas itu menimbulkan ketegaran hati yang luar biasa. Ketegaran hati untuk terus berdiri tegar dalam pendirian, melihat mereka yang ternyata bisa lebih tegar daripada kita.
Saya punya cerita untuk hal ini. Salah seorang anak bernama Ganis suatu hari mengatakan "Aku wis ra duwe Ibu", padahal ibunya nyata ada dan dalam keadaan yang gila..sekarang entah kemana perginya ibunya itu. Tapi satu hal yang membuat saya tersentuh adalah ketika Ganis suatu kali berbicara banyak ke saya tentang bagaimana dia sebenarnya hidup dalam bayang-banyang kerinduan. Tapi, dia selalu mencoba untuk bangkit dan dengan bantuan teman-temannya dia tetap bisa tegar menganggap bahwa dia harus hidup, walaupun kadang iri dengan teman-teman lain. Begitu juga Sita yang selalu tersenyum menyambut tangan saya untuk bermain, walaupun kadang dia menangis karna banyak temannya yang tidak suka dengan penampilan dia yang kumal.
Teman, saya belajar banyak hal tentang hidup dari mereka. Saya merasa belum mengalami apapun ketika banyak cerita mereka yang benar-benar sangat menginspirasi hidup saya. Teman, satu hal yang saya yakin adalah senyuman mereka yang selama ini menegarkan hati saya.
Rabu, 01 Juni 2011
Membujuk Pahlawan

Foto ini saya unggah bukan untuk menunjukkan bahwa saya sedang menggeluti fotografi. Dilihat dari teknik fotografi, foto ini pasti sangat jauh dari kata bagus, mulai dari ekspresi yang kurang tersampaikan, fokus yang tidak jelas, penggunaan hitam putih yang tidak jelas gunanya atau bahkan gambar yang blurred. Tapi, setidaknya saya punya satu alasan atau beberapa alasan untuk menjelaskan makna dibalik foto ini. Simbol Pahlawan Barat saya tunjukkan dengan menggunakan baju Spiderman yang digunakan si Anak. Pahlawan bagi anak mungkin sebuah gambaran kepahlawanan yang terhegemoni oleh budaya Barat yang berulang kali menjadi bagian konsumsi wajib anak-anak jaman sekarang. Kontradiksi saya hadirkan melalui simbol-simbol tradisional yang berlawanan dengan Pahlawan ala Barat, mengenalkan kembali makanan tradisional yang dijual secara tradisional. Hal ini sebenarnya sangat sering kita lihat, tapi secara tidak sadar pola konsumsi keseluruhan Pahlawan Kecil ini juga dipengaruhi oleh makanan yang sering mereka tonton, bukan mereka pelajari. Inilah mengapa seorang Pahlawan pun harus dibujuk....
Rabu, 21 Juli 2010
Anak Kecil di Warung McD
hari ini saya menyempatkan diri sejenak untuk menikmati makanan-makanan cepat saji di warung international yang orang-orang sebut dengan Mc Donalds..atau lebih sering disingkat McD..saya sebenarnya tidak tahu apa yang menjadi istimewa dari warung yang punya imej yang agak jelek ini...
tapi bukan menceritakan kejelekan atau kebaikan McD tujuan utama saya menuliskan blog ini..akan tetapi sebuah fenomena kecil yang mengingatkan saya pada 30 Juli 1996 tepat ketika saya berulang tahun ke 5..
begini ceritanya......
tadi setelah makan di warung nasi goreng Babi di depan Progo,,teman-teman saya mengajak untuk mampir bentar merasakan krim dingin instan bernama Mc Flurry..singkat kata akhirnya kita tiba di McD...
gurauan demi gurauan kita lontarkan sembari menikmati krim dingin itu dan juga kentang berbalut minyak yang masih agak pekat menjadi hidangan yang kami nikmati..di tengah kenikmatan tersebut,,saya seolah disentil dengan datangnya satu keluarga lusuh yang membawa anak kecil berusia sekitar 5 tahun yang masih sangat polos dan lucu..
sentilan itu saya rasakan ketika saya melihat dua orang tua anak itu menyuapi dengan sabar anaknya..dan terlihat sekali raut bahagia tampak dari wajah si anak kecil yang nampaknya masih sangat lugu...wow..sepertinya dia jarang menikmati makanan-makanan instan seperti itu..makanan yang sepertinya bukan menjadi nikmat karena rasanya di lidah,,akan tetapi karena nama, merek,,harga dan juga frekuensi makanan itu dinikmati...
apa yang menyentil saya??saya pernah merasakan hal seperti itu,,ulang tahun dan merasa bahagia diajak ke tempat seperti itu,,hanya karena label McD..padahal kebahagiaan saya bahkan lebih terasa ketika saya menikmati hidangan rumah...hal lain yang membuat saya miris adalah bahwa saya baru sadar bahwa kebahagiaan yang ditawarkan tersebut hanya sementara..kemewahan seperti itu hanya sementara..dan mungkin akan hilang tiba-tiba..
saya jadi berpikir kembali..*walaupun ini baru dugaan saya kalau anak tersebut terlahir di sebuah keluarga yang memprihatinkan* bukankah kebahagiaan materi tersebut justru akan membuat miris si anak kecil di masa tua nantinya...wow...saya berpikir iya...
ketika seorang anak sudah ditanamkan dalam benaknya bahwa makanan instan sebgai hadiah ulang tahun yang mewah..maka dia akan beranggapan bahwa dalam setiap kesempatan istimewa dia akan berusaha menikmati makanan instan tersebut..hmmm...ya hanya begitulah..selanjutnya akan menjadi harapan semu...
materi..materi dan materi...bukankah kebahagiaan itu bukan hanya dari materi?? walaupun kebanyakan orang merasa bahagia dari materi...tapi saya merasakan kemirisan seorang anak kecil yang sudah dijejali dengan mindset bahwa materi merupakan sumber kebahagiaan...perhatian untuk bapak/ibu...jangan membanggakan materi..memberi harapan semu pada anak anda dalam kesempatan istimewa yang ternyata tidak bisa diberikan terus menerus...ha.ha...dalam kesempatan ini..saya ingin mengatakan kalau anak anda ulangtahun,,mending dimasakkin aja di rumahh..walaupun mungkin dianggap tidak spesial bagi anak kecil..tapi dia akan sadar bahwa masakan rumah di hari spesial merupaakan sesuatu yang sangat spesial ketika sudah beranjak dewasa..dan momen itu akan dikenang sebagai momen sederhana yang penuh makna..walaupun tidak mencerminkan kemewahan sama sekali...
hanya saran..ini gratis..boleh dilakukan atau tidakk...
tapi bukan menceritakan kejelekan atau kebaikan McD tujuan utama saya menuliskan blog ini..akan tetapi sebuah fenomena kecil yang mengingatkan saya pada 30 Juli 1996 tepat ketika saya berulang tahun ke 5..
begini ceritanya......
tadi setelah makan di warung nasi goreng Babi di depan Progo,,teman-teman saya mengajak untuk mampir bentar merasakan krim dingin instan bernama Mc Flurry..singkat kata akhirnya kita tiba di McD...
gurauan demi gurauan kita lontarkan sembari menikmati krim dingin itu dan juga kentang berbalut minyak yang masih agak pekat menjadi hidangan yang kami nikmati..di tengah kenikmatan tersebut,,saya seolah disentil dengan datangnya satu keluarga lusuh yang membawa anak kecil berusia sekitar 5 tahun yang masih sangat polos dan lucu..
sentilan itu saya rasakan ketika saya melihat dua orang tua anak itu menyuapi dengan sabar anaknya..dan terlihat sekali raut bahagia tampak dari wajah si anak kecil yang nampaknya masih sangat lugu...wow..sepertinya dia jarang menikmati makanan-makanan instan seperti itu..makanan yang sepertinya bukan menjadi nikmat karena rasanya di lidah,,akan tetapi karena nama, merek,,harga dan juga frekuensi makanan itu dinikmati...
apa yang menyentil saya??saya pernah merasakan hal seperti itu,,ulang tahun dan merasa bahagia diajak ke tempat seperti itu,,hanya karena label McD..padahal kebahagiaan saya bahkan lebih terasa ketika saya menikmati hidangan rumah...hal lain yang membuat saya miris adalah bahwa saya baru sadar bahwa kebahagiaan yang ditawarkan tersebut hanya sementara..kemewahan seperti itu hanya sementara..dan mungkin akan hilang tiba-tiba..
saya jadi berpikir kembali..*walaupun ini baru dugaan saya kalau anak tersebut terlahir di sebuah keluarga yang memprihatinkan* bukankah kebahagiaan materi tersebut justru akan membuat miris si anak kecil di masa tua nantinya...wow...saya berpikir iya...
ketika seorang anak sudah ditanamkan dalam benaknya bahwa makanan instan sebgai hadiah ulang tahun yang mewah..maka dia akan beranggapan bahwa dalam setiap kesempatan istimewa dia akan berusaha menikmati makanan instan tersebut..hmmm...ya hanya begitulah..selanjutnya akan menjadi harapan semu...
materi..materi dan materi...bukankah kebahagiaan itu bukan hanya dari materi?? walaupun kebanyakan orang merasa bahagia dari materi...tapi saya merasakan kemirisan seorang anak kecil yang sudah dijejali dengan mindset bahwa materi merupakan sumber kebahagiaan...perhatian untuk bapak/ibu...jangan membanggakan materi..memberi harapan semu pada anak anda dalam kesempatan istimewa yang ternyata tidak bisa diberikan terus menerus...ha.ha...dalam kesempatan ini..saya ingin mengatakan kalau anak anda ulangtahun,,mending dimasakkin aja di rumahh..walaupun mungkin dianggap tidak spesial bagi anak kecil..tapi dia akan sadar bahwa masakan rumah di hari spesial merupaakan sesuatu yang sangat spesial ketika sudah beranjak dewasa..dan momen itu akan dikenang sebagai momen sederhana yang penuh makna..walaupun tidak mencerminkan kemewahan sama sekali...
hanya saran..ini gratis..boleh dilakukan atau tidakk...
Jumat, 09 Juli 2010
Tipe manusia
Saya mencoba mempelajari tipe manusia dari perangai-perangai pengemis yang menurut saya sangat relevan dgn manusia saat ini:
1. manusia egois..tampak pada mereka yang berbaik hati jika diberi dan memaki ketika tidak mendapat sepeserpun,,tanpa mencari tahu penyebabnya..isinya ya menggerutu saja..
2.manusia lembut hati dan pasrah..adalah manusia yang walaupun tak mendapat yg diinginkan tetap tersenyum tulus dan memberikan doa yg tidak dibuat2 pula..tp kadang,,kepasrahan dan ketulusannya membuat dia lemah dgn tantangan jaman..kurang peka terhadap bahaya-bahaya yang ada..
1. manusia egois..tampak pada mereka yang berbaik hati jika diberi dan memaki ketika tidak mendapat sepeserpun,,tanpa mencari tahu penyebabnya..isinya ya menggerutu saja..
2.manusia lembut hati dan pasrah..adalah manusia yang walaupun tak mendapat yg diinginkan tetap tersenyum tulus dan memberikan doa yg tidak dibuat2 pula..tp kadang,,kepasrahan dan ketulusannya membuat dia lemah dgn tantangan jaman..kurang peka terhadap bahaya-bahaya yang ada..
Kamis, 08 Juli 2010
Become Free is not Really Beautiful
demokrasi..kebebasan..lepas ikatan..keluar kandang..dan masih byak lg istilah2 yg berusaha menunjukkan bahwa bebas it indah..begitu pun dgan film2 yg sya tonton selama ini..memohon kbebasan..melepas sgala tekanan....
tapi saya berpikir ulang..apa iya menjadi bebas it selalu indah? jgn2 ide2 kreatif film trsbut trcipta ktika ada ruang yg smpit untuk brkreasi..jangan jangan kbebasan dcari bukan untuk kemajuan,,namun hanya sekedar mencari sensasi atau bahkan ksenangan duniawi yg tak kondusif untuk kmajuan..jangan2 kebebasan ternyata justru punya arti terlalu sempit yang akan membelenggu diri kita sendiri..jangan2..jangan2 dan masih byk prasangka tentang kbebasan it sndiri....
Christo pun begitu..merasakan kebebasan sbgai akibat rasa bersalah orang tua yg tidak mampu menjamin masa belianya..memberikan kbebasan untuk memilih apa yg dia mauu..
senang? pada awalnya iya..dia membanggakan diri di tengah orang2 yg merasa tertekan dgn pilihan yang dipaksakan oleh ortu mereka masing2..tapi sbrapa jauh ksenangan itu? tunggu dulu..ksenangan ìt hanya sbtas membanggakan diri dan mencri sensasi..
kbebasan yg dia rasakan adalah pelepasan..seperti burung keluar dr sangkar..bebas pilih teman, bebas pilih kuliah..bebas ambil kegiatan..tapi tak skalipun ada bmbingan yg signifikan...
kcerdasan christo membuat dy agak smbong..perasaan bebas membuat dia merasa ingin memamerkannya...singkat kata..apa yang dia suka selalu dpilihnya..mulai dr nyanyi,desain, public speaking, jurnalistik hngga organisasi kpemimpinan dilahapnya hbiz..awalnya hanya untuk memperlihatkan mukanya saja..tapi kemudian??
christo bahkan tak punya wktu yg bebas..stres dgn kgiatan dia..bhkan disorientasi ketika menghubungkan smua kgiatannya..*hrusnya ak masuk skolah seni,bukan..skolah teknik..bukan..tp sekolah jurnalistik*..lbh singkatnya kbebasan tyta mmbuat dy brpikir ulang..'saya bebas tapi saya tak didampingi'..
kebebasan yg dia rasakan justru membuat dia tertekan..tp karna kcerdasan dia,,tekanan it justru membuat dia smakin kreatif....tujuan utama untuk nampang sudah tergantikan dgn brbagai pengalaman dan pelajaran hidup..dan dia berpikir 'ketika saya tlalu bebas,saya tak kreatif..tp ktka saya dbelenggu,,saya mulai brpikir untuk lepas dgn cra yg kreatif..sy brpikir!'
tapi..kmudian dia brpikir kmbali..'kalau tidak bebas,pasti saya terlalu tertekan dan bisa saja bunuh diri..lalu, arti bebas dan belenggu it apa?'
dia brpikir dan menemukan..bebas itu butuh kdewasaan..! setuju?
tapi saya berpikir ulang..apa iya menjadi bebas it selalu indah? jgn2 ide2 kreatif film trsbut trcipta ktika ada ruang yg smpit untuk brkreasi..jangan jangan kbebasan dcari bukan untuk kemajuan,,namun hanya sekedar mencari sensasi atau bahkan ksenangan duniawi yg tak kondusif untuk kmajuan..jangan2 kebebasan ternyata justru punya arti terlalu sempit yang akan membelenggu diri kita sendiri..jangan2..jangan2 dan masih byk prasangka tentang kbebasan it sndiri....
Christo pun begitu..merasakan kebebasan sbgai akibat rasa bersalah orang tua yg tidak mampu menjamin masa belianya..memberikan kbebasan untuk memilih apa yg dia mauu..
senang? pada awalnya iya..dia membanggakan diri di tengah orang2 yg merasa tertekan dgn pilihan yang dipaksakan oleh ortu mereka masing2..tapi sbrapa jauh ksenangan itu? tunggu dulu..ksenangan ìt hanya sbtas membanggakan diri dan mencri sensasi..
kbebasan yg dia rasakan adalah pelepasan..seperti burung keluar dr sangkar..bebas pilih teman, bebas pilih kuliah..bebas ambil kegiatan..tapi tak skalipun ada bmbingan yg signifikan...
kcerdasan christo membuat dy agak smbong..perasaan bebas membuat dia merasa ingin memamerkannya...singkat kata..apa yang dia suka selalu dpilihnya..mulai dr nyanyi,desain, public speaking, jurnalistik hngga organisasi kpemimpinan dilahapnya hbiz..awalnya hanya untuk memperlihatkan mukanya saja..tapi kemudian??
christo bahkan tak punya wktu yg bebas..stres dgn kgiatan dia..bhkan disorientasi ketika menghubungkan smua kgiatannya..*hrusnya ak masuk skolah seni,bukan..skolah teknik..bukan..tp sekolah jurnalistik*..lbh singkatnya kbebasan tyta mmbuat dy brpikir ulang..'saya bebas tapi saya tak didampingi'..
kebebasan yg dia rasakan justru membuat dia tertekan..tp karna kcerdasan dia,,tekanan it justru membuat dia smakin kreatif....tujuan utama untuk nampang sudah tergantikan dgn brbagai pengalaman dan pelajaran hidup..dan dia berpikir 'ketika saya tlalu bebas,saya tak kreatif..tp ktka saya dbelenggu,,saya mulai brpikir untuk lepas dgn cra yg kreatif..sy brpikir!'
tapi..kmudian dia brpikir kmbali..'kalau tidak bebas,pasti saya terlalu tertekan dan bisa saja bunuh diri..lalu, arti bebas dan belenggu it apa?'
dia brpikir dan menemukan..bebas itu butuh kdewasaan..! setuju?
Selasa, 29 Juni 2010
Wernaning Ati Wernaning Panyuwunan
(diambil dari Notes yang sudah usang..)
menapaki panggung mahabharata..
panggung yang biasanya hingar dgan warna emas berpadu kuning cerah dan juga hitam dan merah sebagai lambang kemewahan,keserakahan hingga keberanian..dalam panggung yang tak nampak sarat dgn sgala yang berbau norak..panggung yang hanya mengenal kata klasik..
terdapat kejenuhan beberapa pementas perang khurusetra yang dgn kterpaksaannya berias untuk menghbur mereka yang hanya menikmati warna klasik tanpa perubahan sama sekali itu..
dalam panggung ramayana para pementas tarian mulai melenggak-lenggokkan badannya dgn sesekali berpikir 'mana warnaku? tidakkah mereka suka dgn warnaku?' ketika mereka menyajikan liuk tubuh mereka..
sungguh ironis apa yang mereka rasakan..sebuah kehausan akan tampaknya berbagai ilusi pikiran yang ditangkap denyut otak sebagai warna..
'aku terperangkap dalam warna ini,tak lagi bisa melihat warnaku' mereka disergap sdikit keraguan mengapa harus mementaskan tarian dengan penekanan terhadap warna mewah dan berani..
Kunti yang dikenal sbgai ibu para pandawa berkata 'aku ingin mengenakan gaun jambonku..melambangkan feminismeku sebagai seorang wanita bangsawan dan juga kelemahanku ddpan anak kandungku-Karna'..lalu sang Duryadana menyahut 'aku juga ingin mengenakan pakaian unguku agar tak perlu ku berkabung untuk smua yang tlah kubunuh,,biarlah aku berkabung lewat warnaku'
suatu hal yang aneh terjadi ketika Kresna berkoar tentang warna 'jadikan mahkota badanku ini hanya hitam dan putih..aku orang yang hanya menilai baik dan buruk! tak mengenal abu-abu..dan biarlah aku memiliki hitam bukan karna kemurkaanku,tetapi lebih pada peringatanku untuk kehidupan kalian smua sebelum putihku berkibar disamping peti kalian yang serakah!' dia mengeluarkan smua kebijaksanaannya 'tidak seperti Bishma dan Durna yang lebih memilih abu2 yang tetap membela kurawa walaupun mereka tahu mereka di pihak yang salah'
'guru,,hijau bukankah lebih cocok kukenakan..agar aku dpandang lebih berhati nyaman ketimbang aku yang sesumbar kemewahan..tidakkah hijau ini masih tampak didominasi kemewahan? namaku berarti 'ia yang tidak lurus' tapi aku ingin lurus tanpa kemewahan,aku tak boleh berhenti pada ak saja,tapi bukankah pada orang lain juga aku harus mengabdi,guru?'tanya Arjuna pada Kresna..
'dan kami Arjuna' Bishma dan Durna tak ingin kalah 'berikan merah pdaku,,lambang keberanian pengabdian lebih kepada kekuasaan..apapun kami lakukan bhkan hingga kami mati'
begitulah kehausan mereka akan warna yang tak mmberi ruang
Berontaklah mereka,,menapaki panggung dalam sandiwara dengan kemurkaan..batasan yang dilekatkan dalam tiap kain yang mereka kenakan, mereka lumuri dengan baluran teres ..
berontaklah mereka akan segala aturan yang mengharuskan mereka terpenjara dalam satu dimensi yang belum tentu benar adanya,,dimensi ruang yang sekali lagi memberi kawat dalam setiap gerak..
bebas lah kini mereka, menari diiringi iringan gendhing yang benar-benar hidup..tarian dari hati yang mendalam dalam tiap relung suara hati mereka...
tak lagi mereka memikirkan sejenak segala murka dari sang Sutradara yang mengajari mereka bagaimana caranya menari,,tapi memberi batasan yang jelas seakan mereka tak harus tahu apa yang kelak mereka harus lakukan..
Panggung Ramayana menjadi hidup dalam berbagai warna menyala..tak lagi temaram dalam suasan yang mencekam..dan Ramayana pun akan semakin ddinikmati..setidaknya oleh hati kecil para penari..yang lirih,,dan kadang tak tersuarakan...terhempas oleh abab-abab mereka yang dengan lantang dan berani menyuarakan uang mereka di setiap persiapan..memaksakan segala keluhan menjadi persetujuan..menutup mata mereka.....tanpa memperhatikan betapa tajamnya hati yang mereka miliki...
menapaki panggung mahabharata..
panggung yang biasanya hingar dgan warna emas berpadu kuning cerah dan juga hitam dan merah sebagai lambang kemewahan,keserakahan hingga keberanian..dalam panggung yang tak nampak sarat dgn sgala yang berbau norak..panggung yang hanya mengenal kata klasik..
terdapat kejenuhan beberapa pementas perang khurusetra yang dgn kterpaksaannya berias untuk menghbur mereka yang hanya menikmati warna klasik tanpa perubahan sama sekali itu..
dalam panggung ramayana para pementas tarian mulai melenggak-lenggokkan badannya dgn sesekali berpikir 'mana warnaku? tidakkah mereka suka dgn warnaku?' ketika mereka menyajikan liuk tubuh mereka..
sungguh ironis apa yang mereka rasakan..sebuah kehausan akan tampaknya berbagai ilusi pikiran yang ditangkap denyut otak sebagai warna..
'aku terperangkap dalam warna ini,tak lagi bisa melihat warnaku' mereka disergap sdikit keraguan mengapa harus mementaskan tarian dengan penekanan terhadap warna mewah dan berani..
Kunti yang dikenal sbgai ibu para pandawa berkata 'aku ingin mengenakan gaun jambonku..melambangkan feminismeku sebagai seorang wanita bangsawan dan juga kelemahanku ddpan anak kandungku-Karna'..lalu sang Duryadana menyahut 'aku juga ingin mengenakan pakaian unguku agar tak perlu ku berkabung untuk smua yang tlah kubunuh,,biarlah aku berkabung lewat warnaku'
suatu hal yang aneh terjadi ketika Kresna berkoar tentang warna 'jadikan mahkota badanku ini hanya hitam dan putih..aku orang yang hanya menilai baik dan buruk! tak mengenal abu-abu..dan biarlah aku memiliki hitam bukan karna kemurkaanku,tetapi lebih pada peringatanku untuk kehidupan kalian smua sebelum putihku berkibar disamping peti kalian yang serakah!' dia mengeluarkan smua kebijaksanaannya 'tidak seperti Bishma dan Durna yang lebih memilih abu2 yang tetap membela kurawa walaupun mereka tahu mereka di pihak yang salah'
'guru,,hijau bukankah lebih cocok kukenakan..agar aku dpandang lebih berhati nyaman ketimbang aku yang sesumbar kemewahan..tidakkah hijau ini masih tampak didominasi kemewahan? namaku berarti 'ia yang tidak lurus' tapi aku ingin lurus tanpa kemewahan,aku tak boleh berhenti pada ak saja,tapi bukankah pada orang lain juga aku harus mengabdi,guru?'tanya Arjuna pada Kresna..
'dan kami Arjuna' Bishma dan Durna tak ingin kalah 'berikan merah pdaku,,lambang keberanian pengabdian lebih kepada kekuasaan..apapun kami lakukan bhkan hingga kami mati'
begitulah kehausan mereka akan warna yang tak mmberi ruang
Berontaklah mereka,,menapaki panggung dalam sandiwara dengan kemurkaan..batasan yang dilekatkan dalam tiap kain yang mereka kenakan, mereka lumuri dengan baluran teres ..
berontaklah mereka akan segala aturan yang mengharuskan mereka terpenjara dalam satu dimensi yang belum tentu benar adanya,,dimensi ruang yang sekali lagi memberi kawat dalam setiap gerak..
bebas lah kini mereka, menari diiringi iringan gendhing yang benar-benar hidup..tarian dari hati yang mendalam dalam tiap relung suara hati mereka...
tak lagi mereka memikirkan sejenak segala murka dari sang Sutradara yang mengajari mereka bagaimana caranya menari,,tapi memberi batasan yang jelas seakan mereka tak harus tahu apa yang kelak mereka harus lakukan..
Panggung Ramayana menjadi hidup dalam berbagai warna menyala..tak lagi temaram dalam suasan yang mencekam..dan Ramayana pun akan semakin ddinikmati..setidaknya oleh hati kecil para penari..yang lirih,,dan kadang tak tersuarakan...terhempas oleh abab-abab mereka yang dengan lantang dan berani menyuarakan uang mereka di setiap persiapan..memaksakan segala keluhan menjadi persetujuan..menutup mata mereka.....tanpa memperhatikan betapa tajamnya hati yang mereka miliki...
Mantari
Mantari menghampiri Batara Bayu,,meminta angin melesat jauh..membawa pesan menusuk kalbu..pesan jiwa menerkam dalam kehidupan,,tak ayal menjadi sarat akan kesengsaraan..
Mantari ku dulu hangat memeluk,,kini panaz,,liar tanpa kemudi..melesat kencang..melelehkan tiap titik keringat dalam kehidupan..
tak adakah yang lain selain Mantari? apakah Lintang pun tak bisa menghangatkan tiap kulit kehidupan,,ataukah sang Wulan tak mampu menjamah sejengkalpun kehidupan dgn senyum hangatnya?
ku telusuri Mantari..kehidupan Mantari..keinginan Mantari..
'aku hanya dpersalahkan kini'
Mantari tak sengaja berkata,,ketika semua berada di atas normal,,khdupan pun berada berbalik menghujamnya dengan makian..
'aku pun kini kehilangan panasku'
entah siapa yang salah,,ketika kehidupan merasakan gejolak yg mendalam dalam panas yang seperti api tak di surga..
'aku ingin kalian menjaga diri,,jangan sok merawat bumi..tapi skedar keluaran liur..tertelan kembali saat menjadi penuh,,tanpa pernah liur itu memandikan segala tangan dan kakimu dengan niatan..manakala hanya bicara..manakala kaki dan tanganmu terlalu kaku tanpa niatan,,dan akhirnya mulutmu pun kelu tuk sekedar berucap..
hatimu keras berusaha kawan..tapi nadi otakmu tak sdkitpun memberikan pemikiran..dan lihatlah! kw hnya diam memandang..'
Mantari tak berharap makian kita..ketika dia dirias dgn hujaman..ketika itu pula dia semakin cantik..karna hujaman tanpa gerakan itu akan membuat dia semakin 'panaz'..
kehidupan dan Mantari..atau bhkan Lintang dan Wulan pun tersangkut di dalamnya..membangun konflik sendiri..bhkan ketika Gerhana datang,,mereka sibuk menyiapkan posisi masing2..dan menghilangkan satu esensi kegunaan..'sinar'
tanpa kata lagi..kehidupan ini sbenarnya sarat akan cahaya yg mampu mengubah pikiran,,membangkitkan rasa..menggerakkan jiwa bahkan mengotak atik sgala paradigma yg menjadi terlalu umum..
namun sinar tetaplah sinar..Mantari tetaplah Mantari..bgtu pula Lintang dan Wulan..tetaplah Lintang dan Wulan..yg hanya mampu menerangi kehidupan..dan tak mampu memaksakan keputusan..mereka mati dalam kenyataan,,tapi seolah-olah selalu hidup dalam stiap renungan jiwa..
akhrnya..merekapun terlalu kelu dan terbutakan oleh sinar mereka sendiri..bgtu pun kehidupan,,menjadi terbutakan oleh sgala himpunan kekuasaan yg telah mereka dapatkan..
untuk ap lagi berpikir? kita tak sedang menonton drama kisah tentang Mantari..kita sdang berpikir tentang khdupan..tak ada panggung teater..yang ada hanya pndgn picik..
aku ingin sekali mantari lepas dr kalut akan sgala kekacauan..
mantariku,,kau kini hilang dterjang omongan..d antara smua celaan..
Mantari ku dulu hangat memeluk,,kini panaz,,liar tanpa kemudi..melesat kencang..melelehkan tiap titik keringat dalam kehidupan..
tak adakah yang lain selain Mantari? apakah Lintang pun tak bisa menghangatkan tiap kulit kehidupan,,ataukah sang Wulan tak mampu menjamah sejengkalpun kehidupan dgn senyum hangatnya?
ku telusuri Mantari..kehidupan Mantari..keinginan Mantari..
'aku hanya dpersalahkan kini'
Mantari tak sengaja berkata,,ketika semua berada di atas normal,,khdupan pun berada berbalik menghujamnya dengan makian..
'aku pun kini kehilangan panasku'
entah siapa yang salah,,ketika kehidupan merasakan gejolak yg mendalam dalam panas yang seperti api tak di surga..
'aku ingin kalian menjaga diri,,jangan sok merawat bumi..tapi skedar keluaran liur..tertelan kembali saat menjadi penuh,,tanpa pernah liur itu memandikan segala tangan dan kakimu dengan niatan..manakala hanya bicara..manakala kaki dan tanganmu terlalu kaku tanpa niatan,,dan akhirnya mulutmu pun kelu tuk sekedar berucap..
hatimu keras berusaha kawan..tapi nadi otakmu tak sdkitpun memberikan pemikiran..dan lihatlah! kw hnya diam memandang..'
Mantari tak berharap makian kita..ketika dia dirias dgn hujaman..ketika itu pula dia semakin cantik..karna hujaman tanpa gerakan itu akan membuat dia semakin 'panaz'..
kehidupan dan Mantari..atau bhkan Lintang dan Wulan pun tersangkut di dalamnya..membangun konflik sendiri..bhkan ketika Gerhana datang,,mereka sibuk menyiapkan posisi masing2..dan menghilangkan satu esensi kegunaan..'sinar'
tanpa kata lagi..kehidupan ini sbenarnya sarat akan cahaya yg mampu mengubah pikiran,,membangkitkan rasa..menggerakkan jiwa bahkan mengotak atik sgala paradigma yg menjadi terlalu umum..
namun sinar tetaplah sinar..Mantari tetaplah Mantari..bgtu pula Lintang dan Wulan..tetaplah Lintang dan Wulan..yg hanya mampu menerangi kehidupan..dan tak mampu memaksakan keputusan..mereka mati dalam kenyataan,,tapi seolah-olah selalu hidup dalam stiap renungan jiwa..
akhrnya..merekapun terlalu kelu dan terbutakan oleh sinar mereka sendiri..bgtu pun kehidupan,,menjadi terbutakan oleh sgala himpunan kekuasaan yg telah mereka dapatkan..
untuk ap lagi berpikir? kita tak sedang menonton drama kisah tentang Mantari..kita sdang berpikir tentang khdupan..tak ada panggung teater..yang ada hanya pndgn picik..
aku ingin sekali mantari lepas dr kalut akan sgala kekacauan..
mantariku,,kau kini hilang dterjang omongan..d antara smua celaan..
Langganan:
Postingan (Atom)