Selasa, 29 Juni 2010

Wernaning Ati Wernaning Panyuwunan

(diambil dari Notes yang sudah usang..)
menapaki panggung mahabharata..
panggung yang biasanya hingar dgan warna emas berpadu kuning cerah dan juga hitam dan merah sebagai lambang kemewahan,keserakahan hingga keberanian..dalam panggung yang tak nampak sarat dgn sgala yang berbau norak..panggung yang hanya mengenal kata klasik..

terdapat kejenuhan beberapa pementas perang khurusetra yang dgn kterpaksaannya berias untuk menghbur mereka yang hanya menikmati warna klasik tanpa perubahan sama sekali itu..
dalam panggung ramayana para pementas tarian mulai melenggak-lenggokkan badannya dgn sesekali berpikir 'mana warnaku? tidakkah mereka suka dgn warnaku?' ketika mereka menyajikan liuk tubuh mereka..
sungguh ironis apa yang mereka rasakan..sebuah kehausan akan tampaknya berbagai ilusi pikiran yang ditangkap denyut otak sebagai warna..
'aku terperangkap dalam warna ini,tak lagi bisa melihat warnaku' mereka disergap sdikit keraguan mengapa harus mementaskan tarian dengan penekanan terhadap warna mewah dan berani..

Kunti yang dikenal sbgai ibu para pandawa berkata 'aku ingin mengenakan gaun jambonku..melambangkan feminismeku sebagai seorang wanita bangsawan dan juga kelemahanku ddpan anak kandungku-Karna'..lalu sang Duryadana menyahut 'aku juga ingin mengenakan pakaian unguku agar tak perlu ku berkabung untuk smua yang tlah kubunuh,,biarlah aku berkabung lewat warnaku'
suatu hal yang aneh terjadi ketika Kresna berkoar tentang warna 'jadikan mahkota badanku ini hanya hitam dan putih..aku orang yang hanya menilai baik dan buruk! tak mengenal abu-abu..dan biarlah aku memiliki hitam bukan karna kemurkaanku,tetapi lebih pada peringatanku untuk kehidupan kalian smua sebelum putihku berkibar disamping peti kalian yang serakah!' dia mengeluarkan smua kebijaksanaannya 'tidak seperti Bishma dan Durna yang lebih memilih abu2 yang tetap membela kurawa walaupun mereka tahu mereka di pihak yang salah'
'guru,,hijau bukankah lebih cocok kukenakan..agar aku dpandang lebih berhati nyaman ketimbang aku yang sesumbar kemewahan..tidakkah hijau ini masih tampak didominasi kemewahan? namaku berarti 'ia yang tidak lurus' tapi aku ingin lurus tanpa kemewahan,aku tak boleh berhenti pada ak saja,tapi bukankah pada orang lain juga aku harus mengabdi,guru?'tanya Arjuna pada Kresna..
'dan kami Arjuna' Bishma dan Durna tak ingin kalah 'berikan merah pdaku,,lambang keberanian pengabdian lebih kepada kekuasaan..apapun kami lakukan bhkan hingga kami mati'
begitulah kehausan mereka akan warna yang tak mmberi ruang

Berontaklah mereka,,menapaki panggung dalam sandiwara dengan kemurkaan..batasan yang dilekatkan dalam tiap kain yang mereka kenakan, mereka lumuri dengan baluran teres ..
berontaklah mereka akan segala aturan yang mengharuskan mereka terpenjara dalam satu dimensi yang belum tentu benar adanya,,dimensi ruang yang sekali lagi memberi kawat dalam setiap gerak..

bebas lah kini mereka, menari diiringi iringan gendhing yang benar-benar hidup..tarian dari hati yang mendalam dalam tiap relung suara hati mereka...

tak lagi mereka memikirkan sejenak segala murka dari sang Sutradara yang mengajari mereka bagaimana caranya menari,,tapi memberi batasan yang jelas seakan mereka tak harus tahu apa yang kelak mereka harus lakukan..

Panggung Ramayana menjadi hidup dalam berbagai warna menyala..tak lagi temaram dalam suasan yang mencekam..dan Ramayana pun akan semakin ddinikmati..setidaknya oleh hati kecil para penari..yang lirih,,dan kadang tak tersuarakan...terhempas oleh abab-abab mereka yang dengan lantang dan berani menyuarakan uang mereka di setiap persiapan..memaksakan segala keluhan menjadi persetujuan..menutup mata mereka.....tanpa memperhatikan betapa tajamnya hati yang mereka miliki...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar