Judul yang mungkin membuat Anda berpikir, "Arisan yang dapat banyak penghargaan hanya dibilang cukup?" Tapi memang benar, Arisan 2 menurut saya tidak lebih dari cukup.
Singkat saja, awal dari film ini ingin menggambarkan masing-masing karakter yang bermain dengan segala aktivitas mereka. Saya rasa, scene-scene yang ditampilkan kemudian tersa sangat cepat dan sangat absurd untuk dicerna. Bagi yang sudah menonton Arisan sebelumnya pastilah karakter masing-masing tokoh: Mey, Lita, Andin, Sakti dan Nino masih melekat jelas. Di awal film Arisan 2, tampaknya Nia Dinata ingin mengulang kembali ingatan penonton tentang karakter masing-masing tokoh. Banyak latar belakang cerita yang kemudian (menurut saya) tidak penting. Hal ini berakibat pada scene-scene yang sebenarnya terlalu cepat itu tadi.
Dari segi cerita, saya menangkap sesuatu yang sebenarnya kuat. Yaitu tentang harapan dan persahabatan. Cerita dalam film Arisan 2 bukan lagi berbicara tentang kenyataan dalam hidup yang harus dihargai, tapi lebih dari itu. Setelah kenyataan itu dihargai, lalu muncul sebuah masalah (penyakit kanker yang diderita Mey). Dia kemudian membutuhkan harapan. Mey mencoba mendekatkan diri dengan alam dan Tuhan. Saya tertarik dengan pendekatan yang ditawarkan oleh Nia Dinata. Mencoba membandingkan kenyataan elite dengan kenyataan religius. Saat Mey mencoba bersatu dengan alam dan Tuhan, banyak sekali hal yang didapatkan. Bukan hanya soal persahabatan, tapi juga soal kehidupan, soal menanggapi Tuhan dan juga soal harapan.
"Kalau saya meditasi, saya tidak meminta, saya berdialog" (Tom-dokter Mey)
"Kanker itu sebuah berkah, karena kita bisa mengetahui kapan hidup kita berakhir." (Molly, penjaga bar-teman baru Mey)
Kata-kata yang kuat, yang tertanam dalam pikiran saya dan mengubah pemikiran saya. Hal ini yang lemudian memunculkan harapan dalam diri Mey. Tapi lebih dari itu, saat keduniawian dihadapkan dengan keTuhanan, banyak hal yang sebenarnya bisa dijadikan sebuah permenungan. Kalau di Arisan kita harus menanggapi perbedaan sebagai sebuah cara untuk memanusiakan manusia, di Arisan 2 kita bisa merefleksikan bahwa manusia sebenarnya tidak bisa dibedakan ketika berhadapan dengan maut. Hal ini berarti segala atribut kemanusiaan sebenarnya tidak berguna dalam relasi Tuhan dan manusia, inilah yang kemudian membuat Mey ingin menyingkir dari kehidupan foya-foya.
Hal yang menurut saya sangat menonjol dalam film ini adalah karakter masing-masing tokoh. Rio Dewanto pun muncul sebagai public enemy yang sangat kuat, hal ini yang membuat penghuni Studio 2, 21 Amplaz tak berhenti ngakak dan menghujat saat Rio Dewanto muncul. Karakter Lita, Andin, Sakti dan Nino pun tak kalah kuat. Saya suka penggambaran karakternya, sayang di awal scene masing-masing karakter terlalu di eksploitasi sehingga cerita awal menjadi sangat absurd menurut saya. Katakter-karakter ini kemudian disatukan dalam persahabatan. Harapan itu juga muncul dari kesadaran tentang adanya persahabatan. Ini lah inti lain creita yang juga cukup mengharukan.
Secara keseluruhan, menurut saya film ini bolehlah dapat bintang 3 dari 5. Bagus untuk sekedar menghibur juga melihat kenyataan, tapi kurang untuk teman-teman yang ingin menonton sesuatu yang menggetarkan. Maaf, cuma menceracau...saya juga kurang paham tentang film sebenarnya :))
Senin, 05 Desember 2011
Selasa, 29 November 2011
Senyum Masa Depan versi Video 1 menit
deskripsinya ada di tulisan Senyum Masa Depan :)) selamat menikmati
Senin, 28 November 2011
Satu Lidi Sudah Kuat, Apalagi Kalau Banyak
Frater Jhony, SCJ (Weekend dan Pelantikan Lektor, 26-27 November 2011 - Omah Petruk, Kaliurang) bilang "Selama ini banyak yang mengumpamakan kelompok sebagai sekumpulan lidi, jika sendiri akan mudah dipatahkan, kalau bersama akan sulit dipatahkan. Tapi, Saya tidak setuju. Komunitas kalian itu sudah kuat walaupun hanya berdiri sendiri-sendiri, bayangkan ketika sudah disatukan!"
Sebuah footage yang saya ambil dari weekend menyenangkan selama dua hari. Dalam kesempatan ini saya juga resmi dilantik menjadi salah satu anggota Lektor Pringwulung. Tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan. Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman berharga tentang TIM.
Ya, ketika mendengar pernyataan tidak setuju Frater (baca: Kapten) terhadap perumpamaan yang telah lama ada itu, saya kemudian teringat tentang banyak orang yang berusaha mendefinisikan tim dan kelompok. Ya, berbekal pernyataan tidak setuju dari Frater Jhony saya akan mencoba share pengalaman tentang beda tim dan kelompok.
Tim dan kelompok, kadang dipahami sebagai dua hal yang sama. Berbekal dari ketertarikan di bidang yang sama, terbentuklah entah itu tim ataupun kelompok. Kelompok, dengan semakin berkembangnya teknologi, juga mulai banyak menjamur. Grup-grup terbentuk di dunia maya. Tapi apakah grup itu bisa disebut tim?
Sekali lagi, berbekal pernyataan tidak setuju Frater Jhony, saya akan mencoba mendedinisikan apa itu kelompok dan tim. Saat orang berkata, satu anggota rapuh dan ketika digabungkan akan jauh lebih kokoh, menurut saya inilah yang dinamakan kelompok. Tapi, ketika satu anggota saja sudah kuat, dan ketika disatukan akan menjadi semakin kuat, itulah yang kemudian saya sebut sebagai tim.
Latar belakang terbentuknya kelompok dan tim mungkin bisa sama, yaitu ketertarikan pada hal yang sama. Tapi, dalam prosesnya, akan ada perbedaan jelas antara kelompok dan tim. Dalam proses kerjanya, sebuah grup atau kelompok akan cenderung memanfaatkan kemampuan masing-masing. Kemampuan itu bukan kemudian disatukan, tapi hanya sebagai sebuah pendapat untuk kemudian menyepakati satu cara general untuk mencapai sebuah tujuan. Nah dari sini kita tahu, bahwa satu orang akan cenderung mempertahankan pendapat atau opininya. Ketika opini itu disatukan, barulah muncul kekuatan yang nyata.
Hal ini berbeda dengan kerja dalam tim. Ketika menyebut kumpulan orang sebagai sebuah tim, maka akan ada spesifikasi kemampuan pada tiap-tiap anggota. Hal inilah yang membedakan tim dengan kelompok. Dengan tujuan yang sudah disepakati, masing-masing anggota tim akan bekerja dalam satu tujuan dengan kemampuan masing-masing yang kuat. Perbedaan kemampuan itu bukannya untuk memisahkan satu anggota dengan anggota lain dalam proses, tapi lebih pada pembagian tugas.
Kompleksitas kerja mungkin akan lebih banyak dijumpai dalam sebuah tim, yang masing-masing anggotanya sudah membawa kemampuan masing-masing yang saling melengkapi. Hal ini jugalah yang membuat sebuah tim memerlukan ketua yang sangat kuat agar kemampuan yang berebda-beda tersebut dapat disinkronisasikan dalam pencapaian tujuan. Akan tetapi, dalam proses dan hasil, dinamika sebuah tim akan semakin berwarna karena akan ada perbedaan pendapat yang rasional sesuai dengan pengalaman dan kemampuan masing-masing.
Tim juga akan sangat kokoh ketika satu sama lain saling menjaga, tingkat kejenuhan akan mengecil karena satu sama lain dapat belajar. Ya, tim adalah sebuah kelomok pembelajaran yang lebih kompleks daripada kelompok. Tujuan yang ingin dicapai juga direncanakan jauh ke depan.
Ya, tidak ada salahnya membentuk kelompok. Karena dalam dinamika kelompom tersebut, suatau saat dalam satu atau banyak event pasti akan dibentuk tim. Dan sekali lagi, dengan koordinasi yang baik, sebuah tim yang terdiri dari anggota yang sudah kuat akan mampu memberikan dinamika dan hasil yang sangat kokoh.
Selamat berproses bagi kalian yang sedang berorganisasi :)) semoga tulisan kecil gak jelas ini bisa menjadi inspirasi :)) Maaf, sangat gak jelas.
Sebuah footage yang saya ambil dari weekend menyenangkan selama dua hari. Dalam kesempatan ini saya juga resmi dilantik menjadi salah satu anggota Lektor Pringwulung. Tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan. Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman berharga tentang TIM.
Ya, ketika mendengar pernyataan tidak setuju Frater (baca: Kapten) terhadap perumpamaan yang telah lama ada itu, saya kemudian teringat tentang banyak orang yang berusaha mendefinisikan tim dan kelompok. Ya, berbekal pernyataan tidak setuju dari Frater Jhony saya akan mencoba share pengalaman tentang beda tim dan kelompok.
Tim dan kelompok, kadang dipahami sebagai dua hal yang sama. Berbekal dari ketertarikan di bidang yang sama, terbentuklah entah itu tim ataupun kelompok. Kelompok, dengan semakin berkembangnya teknologi, juga mulai banyak menjamur. Grup-grup terbentuk di dunia maya. Tapi apakah grup itu bisa disebut tim?
Sekali lagi, berbekal pernyataan tidak setuju Frater Jhony, saya akan mencoba mendedinisikan apa itu kelompok dan tim. Saat orang berkata, satu anggota rapuh dan ketika digabungkan akan jauh lebih kokoh, menurut saya inilah yang dinamakan kelompok. Tapi, ketika satu anggota saja sudah kuat, dan ketika disatukan akan menjadi semakin kuat, itulah yang kemudian saya sebut sebagai tim.
Latar belakang terbentuknya kelompok dan tim mungkin bisa sama, yaitu ketertarikan pada hal yang sama. Tapi, dalam prosesnya, akan ada perbedaan jelas antara kelompok dan tim. Dalam proses kerjanya, sebuah grup atau kelompok akan cenderung memanfaatkan kemampuan masing-masing. Kemampuan itu bukan kemudian disatukan, tapi hanya sebagai sebuah pendapat untuk kemudian menyepakati satu cara general untuk mencapai sebuah tujuan. Nah dari sini kita tahu, bahwa satu orang akan cenderung mempertahankan pendapat atau opininya. Ketika opini itu disatukan, barulah muncul kekuatan yang nyata.
Hal ini berbeda dengan kerja dalam tim. Ketika menyebut kumpulan orang sebagai sebuah tim, maka akan ada spesifikasi kemampuan pada tiap-tiap anggota. Hal inilah yang membedakan tim dengan kelompok. Dengan tujuan yang sudah disepakati, masing-masing anggota tim akan bekerja dalam satu tujuan dengan kemampuan masing-masing yang kuat. Perbedaan kemampuan itu bukannya untuk memisahkan satu anggota dengan anggota lain dalam proses, tapi lebih pada pembagian tugas.
Kompleksitas kerja mungkin akan lebih banyak dijumpai dalam sebuah tim, yang masing-masing anggotanya sudah membawa kemampuan masing-masing yang saling melengkapi. Hal ini jugalah yang membuat sebuah tim memerlukan ketua yang sangat kuat agar kemampuan yang berebda-beda tersebut dapat disinkronisasikan dalam pencapaian tujuan. Akan tetapi, dalam proses dan hasil, dinamika sebuah tim akan semakin berwarna karena akan ada perbedaan pendapat yang rasional sesuai dengan pengalaman dan kemampuan masing-masing.
Tim juga akan sangat kokoh ketika satu sama lain saling menjaga, tingkat kejenuhan akan mengecil karena satu sama lain dapat belajar. Ya, tim adalah sebuah kelomok pembelajaran yang lebih kompleks daripada kelompok. Tujuan yang ingin dicapai juga direncanakan jauh ke depan.
Ya, tidak ada salahnya membentuk kelompok. Karena dalam dinamika kelompom tersebut, suatau saat dalam satu atau banyak event pasti akan dibentuk tim. Dan sekali lagi, dengan koordinasi yang baik, sebuah tim yang terdiri dari anggota yang sudah kuat akan mampu memberikan dinamika dan hasil yang sangat kokoh.
Selamat berproses bagi kalian yang sedang berorganisasi :)) semoga tulisan kecil gak jelas ini bisa menjadi inspirasi :)) Maaf, sangat gak jelas.
Kamis, 24 November 2011
Ibu Guru

“Ibu kan ingin mengabdi, dek”
Judul di atas bukan untuk menyiratkan peranan perempuan yang besar dalam pendidikan. Saya hanya ingin menjelaskan pengabdian seorang Ibu, Margaretha Endang Iriani Lestari Pujiastuti, yang merupakan guru. Quotes awal itu juga saya ambil dari pengalaman Bu Endang, Ibu saya.
Sudah lebih dari 20 tahun ibu menjadi guru. Berbekal ijazah SPG Sedes Ambarawa, Ibu pernah menjadi guru TK di Recis Bogor (saya lupa tahunnya), guru TK Santa Maria, Sidorajo (1993-1998) dan TK Mardisiwi Gantang (2001-sekarang). Ibu, sebagai seorang Guru tidak sama dengan guru-guru lainnya.
Saya tidak tahu kapan mulanya Ibu tertarik menjadi Guru, yang saya tahu Ibu selalu senang mengajari anak kecil walaupun berada di luar sekolah. Ya, menurut saya Ibu adalah guru yang sangat berbeda.
Saya melihat guru-guru masa kini yang sudah menggunakan motor, HP yang canggih, gaya yang sangat mewah. Tapi, Ibu adalah seorang guru yang tetap sederhana dan sangat rendah hati. Bahkan, Ibu tidak pernah menuntut banyak gaji sebagai pemenuhan kebutuhan yang mewah. Ibu hanya menuntut hak yang sudah disepakati sebelumnya. Dulu, gaji Ibu saya hanya 300.000 per bulan.
Dalam kejamnya dunia sekarang ini, dimana yang punya uang selalu menang, Ibu mengajarkan pada saya pengabdian adalah hal yang sangat mendesak untuk dilatih. Ibu mengajarkan pada saya bagaimana caranya berprestasi meski tak punya uang. Haha, saya ingat masa kecil saya yang dekil. Dulu, tas dan sepatu pun bukan ibu yang membelikan, tapi guru-guru SD saya. Dari dulu hingga sekarang, bahkan, sekolah siapa yang membayar? Sedikit dari orang tua, kebanyakan dari beassiswa. Semua itu saya dapatkan dari perjuangan Ibu, yang memandang uang bukanlah hal utama untuk mencapai kesuksesan.
Saat seperti itu, kala Ibu mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah institusi yang lebih banyak gajinya, Ibu tetap memilih bertahan di Mardisiwi. Saat Ibu mendaftar sebagai PNS (walupun tidak diterima), Ibu tetap berjanji akan berkarya di Gantang. Ibu bukan hanya sekedar Guru yang mengajar saat kelas, tapi memiliki kedekatan batin yang kuat dengan masyarakat Gantang.
Ya, pengalaman Ibu mengajar di Gantang adalah pengalaman yang menurut saya mengesankan. Dulu Gantang bukanlah daerah beraspal seperti sekarang. Gantang adalah daerah yang jalannya terjal, tidak rata dan menanjak. Ibu berangkat mengajar ya dengan berjalan kaki, walaupun kini sudah bisa menikmati mudahnya kendaraan. Semua dilakoni Ibu, bahkan Ibu pernah beberapa kali cerita kalau Ibu pingsan saat mengajar karena lelah saat berjalan. Tapi Ibu menyerah? Tidak pernah.
Dulu Gantang adalah sebuah daerah yang hanya memiliki satu SD Negeri. Bukan keberadaan SD nya yang memilukan, tapi belum ada kesadaran kuat tentang pentingnya pendidikan di daerah itu. Dan benar, pertama kali Ibu mengajar di sana, menumpang rumah dari kayu yang masih kecil, muridnya bisa dihitung dengan jari. Tapi, pendekatan kepada masyarakat terus dijalani. Ibu membimbing dengan sepenuh hati murid-muridnya sehingga bisa menularkan pada teman-temannya kalau bersekolah itu bukan sebuah beban, tapi menjadi pembelajaran yang asik.
Dulu masyarakat sana menganggap, mending ceat kawin daripada kelamaan sekolah. Tapi sekarang, generasi 12 tahun lalu yang dibimbing ibu di masa TK mulai tumbuh menjadi pribadi yang peduli pendidikan. Walupun bukan semuanya, tapi Ibu tetap berusaha menanamkan pentingnya pendidikan utnuk masa depan.
Dengan misi itu, Ibu tidak hanya bersentuhan dengan anak. Ibu juga rajin bersosialisasi dengan warga sekitar. Hahaha, kalau ada hajatan kecil saja, rumah bisa sangat ramai dipenuhi dengan warga Gantang yang berkunjung bebarengan. Saya kurang tahu pasti, tapi mereka pernah berbisik pada saya “Jangan kaget ya, Ibumu sudah dianggap seperti keluarga kami”. Sedekat itukah Ibu? Tapi menurut saya kedekatan itu juga sebuah isyarat kalau Ibu juga terus berjuang dalam pendidikan ank-anaknya. Anak Ibu bukan hanya saya, Mbak Mita, atau Ian. Bahkan Nando, anak kecil (murid ibu) yang sekarang sudah di surga, anak-anak gimbal di Ganang juag semua anak yang pernah bersentuhan dengan Ibu.
Saya bangga dengan Ibu, saya trenyuh dengan perjuangan Ibu. Suatu kali teman-teman saya berkesempatan bertemu Ibu, salah seorang di antaranya mengatakan “Ibumu mencerminkan seorang Guru”. Ya, Ibu adalah Guru yang sejati di mata saya. Ibu, lanjutkan pengabdianmu.
Puzzle: Film Nasionalis Karya Satu Atap (FSMR ISI) yang Minimalis tapi Manis
"Kita adalah kepingan Puzzle, Indonesia adalah bingkainya"
Kalimat itu yang terus terngiang dalam benak saya. Ya, mungkin sangat sederhana, tapi makna di balik kalimat tersebut menurut saya sangat luar biasa. Ini juga yang mengawali keluarbiasaan yang ditampilkan sebuah karya minim persiapan, tapi maksimal dalam makna.
Puzzle menceritakan Damar, yang di waktu kecil mndapatkan sebuah Puzzle Indonesia dari kakeknya. Bukan hanya puzzle saja, melainkan rangkaian makna dari puzzle tersebut. Ya, namanya anak kecil, ketika beranjak SD, SMP bahkan SMA pun DAmar belum mengerti apa yang diceritakan kakeknya tersebut mengenai "Bhinneka Tunggal Ika".
Damar SD diceritakan sangat tidak tolerir, bahkan cenderung nggentho. Damar SD terlibat perkelahian dengan seorang anak dari Ambon. Suatu kali mereka berebut Peta yang dipinjamkan ibu guru, dan akhirnya sobek. Mereka akhirnya mengisolasi bersama-sama.
Damar SMP, tak jauh beda. Bukan lagi isu rasisme yang diangkat, tapi kepedulian terhadap orang kecil. Damar SMP sama sekali tidak menghormati tukang kebun di rumahnya. Hingga suatu kali, Damar bertemu perempuan cantik (yang tidak diceritakan siapa) yang membuka matanya bahwa sekaya apapun dirinya, ternyata ketergantungan terhadap mereka yang kecil ssangat besar. Ya, saya setuju, mereka yang kaya adalah mereka yang sebenarnya mengambil kenyamanan dari orang-orang kecil di sekitar mereka.
Damar SMA, tak lagi bersinggungan dengan masalah rasisme atau pun kepedulian. Tapi dengan menggunakan Nasinalisme yang sedang jadi trend. Damar yang diceritakan mencinati bola terlibat perselisihan kecil terkait siapa yang akan menang saat Timnas Indonesia bertanding. Dan sekali lagi saya sepakat, di tengah carut marut dunia persepakbolaan Indonesia (yang saya kurang mengerti), dukungan seluruh elemen merupakan sebuah langkah memajukan Indoensia. Dan saya harap, bukan hanya untuk bola, tapi dukungan untuk segala pengalaman Damar tadi.
Ramuan pengalaman Damar dari kecil-SMA diselingi dengan Damar Kuliah yang mencoba merangkai kembali "kita" sebagai puzzle, dalam bingkai ke-Indonesiaa-an yang tunggal. Bhinneka Tunggal Ika.
Ya, berbeda, tapi sekali lagi ketika perbedaan itu tak bisa dilengkapi, maka akan ada bagian yang kosong. Kekosongan itu harus diisi dengan persatuan. Persatuan yang emmbutuhkan semua elemen ke-Indonesia-an untuk melengkapi sebuah bingkai besar, Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Analogi yang tak main-main. Walaupun minim persiapan (hanya 1 minggu), tapi film yang diproduksi selama 3 minggu ini benar-benar manis untuk menjawab segala tantangan Indonesia di masa kini. BUkan saja mengenai pluralisme, tapi juga berbica penghargaan pada mereka yang kadang tidsk pernah kita sentuh. Bukan saja mengenai bagaimana belajar tentang Indonesia, tapi juga bagimana kita mengajarkan pada semua orang yang kita kenal mengenai indahnya Indonesia yang sesungguhnya.
Kalah jadi abu, menang jadi arang. Sebuah ungkapan yang juga muncul sebagai pemanis. Pertikaian sebenarnya bukanlah sebuah solusi. Kepingan Puzzle hanya bisa disusun dengan landasan logika dan juga kesabaran. Ketika semua itu luntur, maka emosi yang berlebihan selanjutnya akan merusak bingkai persatuan yang telah dibangun dengan perjuangan besar jauh-jauh hari.
Bukan lagi tugas para pahlawan untuk menyatukan kepingan-kepingan tersebut, tapi sekarang sudah menjadi tugas kita untuk merekatkan diri satu sama lain. Memberikan sebuah kehangatan tentang bagiaman bingkai Indoensia bisa distukan. Bukan lagi berpikir tentang say, tapi tentang kita. Bukan lagi berpikir bagiamana caranya menjadi kaya, tapi bagaimana caranya menjadi berharga. Bukan lagi berseru "Ini Tuhanku", tapi berpikir "Cara Tuhan untuk menyayangi mereka". Ya, hanya sebuah ulasan kecil, menanggapinya dengan opini. Dan menurut saya, walupun film ini sangat minimalis dari segi peran, tapi menjadi sangat manis untuk menggugah ke-Indonesia-an. Sukses Satu Atap. Sukses terus FSMR ISI. Saya tunggu screening karya selanjutnya.
Kalimat itu yang terus terngiang dalam benak saya. Ya, mungkin sangat sederhana, tapi makna di balik kalimat tersebut menurut saya sangat luar biasa. Ini juga yang mengawali keluarbiasaan yang ditampilkan sebuah karya minim persiapan, tapi maksimal dalam makna.
Puzzle menceritakan Damar, yang di waktu kecil mndapatkan sebuah Puzzle Indonesia dari kakeknya. Bukan hanya puzzle saja, melainkan rangkaian makna dari puzzle tersebut. Ya, namanya anak kecil, ketika beranjak SD, SMP bahkan SMA pun DAmar belum mengerti apa yang diceritakan kakeknya tersebut mengenai "Bhinneka Tunggal Ika".
Damar SD diceritakan sangat tidak tolerir, bahkan cenderung nggentho. Damar SD terlibat perkelahian dengan seorang anak dari Ambon. Suatu kali mereka berebut Peta yang dipinjamkan ibu guru, dan akhirnya sobek. Mereka akhirnya mengisolasi bersama-sama.
Damar SMP, tak jauh beda. Bukan lagi isu rasisme yang diangkat, tapi kepedulian terhadap orang kecil. Damar SMP sama sekali tidak menghormati tukang kebun di rumahnya. Hingga suatu kali, Damar bertemu perempuan cantik (yang tidak diceritakan siapa) yang membuka matanya bahwa sekaya apapun dirinya, ternyata ketergantungan terhadap mereka yang kecil ssangat besar. Ya, saya setuju, mereka yang kaya adalah mereka yang sebenarnya mengambil kenyamanan dari orang-orang kecil di sekitar mereka.
Damar SMA, tak lagi bersinggungan dengan masalah rasisme atau pun kepedulian. Tapi dengan menggunakan Nasinalisme yang sedang jadi trend. Damar yang diceritakan mencinati bola terlibat perselisihan kecil terkait siapa yang akan menang saat Timnas Indonesia bertanding. Dan sekali lagi saya sepakat, di tengah carut marut dunia persepakbolaan Indonesia (yang saya kurang mengerti), dukungan seluruh elemen merupakan sebuah langkah memajukan Indoensia. Dan saya harap, bukan hanya untuk bola, tapi dukungan untuk segala pengalaman Damar tadi.
Ramuan pengalaman Damar dari kecil-SMA diselingi dengan Damar Kuliah yang mencoba merangkai kembali "kita" sebagai puzzle, dalam bingkai ke-Indonesiaa-an yang tunggal. Bhinneka Tunggal Ika.
Ya, berbeda, tapi sekali lagi ketika perbedaan itu tak bisa dilengkapi, maka akan ada bagian yang kosong. Kekosongan itu harus diisi dengan persatuan. Persatuan yang emmbutuhkan semua elemen ke-Indonesia-an untuk melengkapi sebuah bingkai besar, Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Analogi yang tak main-main. Walaupun minim persiapan (hanya 1 minggu), tapi film yang diproduksi selama 3 minggu ini benar-benar manis untuk menjawab segala tantangan Indonesia di masa kini. BUkan saja mengenai pluralisme, tapi juga berbica penghargaan pada mereka yang kadang tidsk pernah kita sentuh. Bukan saja mengenai bagaimana belajar tentang Indonesia, tapi juga bagimana kita mengajarkan pada semua orang yang kita kenal mengenai indahnya Indonesia yang sesungguhnya.
Kalah jadi abu, menang jadi arang. Sebuah ungkapan yang juga muncul sebagai pemanis. Pertikaian sebenarnya bukanlah sebuah solusi. Kepingan Puzzle hanya bisa disusun dengan landasan logika dan juga kesabaran. Ketika semua itu luntur, maka emosi yang berlebihan selanjutnya akan merusak bingkai persatuan yang telah dibangun dengan perjuangan besar jauh-jauh hari.
Bukan lagi tugas para pahlawan untuk menyatukan kepingan-kepingan tersebut, tapi sekarang sudah menjadi tugas kita untuk merekatkan diri satu sama lain. Memberikan sebuah kehangatan tentang bagiaman bingkai Indoensia bisa distukan. Bukan lagi berpikir tentang say, tapi tentang kita. Bukan lagi berpikir bagiamana caranya menjadi kaya, tapi bagaimana caranya menjadi berharga. Bukan lagi berseru "Ini Tuhanku", tapi berpikir "Cara Tuhan untuk menyayangi mereka". Ya, hanya sebuah ulasan kecil, menanggapinya dengan opini. Dan menurut saya, walupun film ini sangat minimalis dari segi peran, tapi menjadi sangat manis untuk menggugah ke-Indonesia-an. Sukses Satu Atap. Sukses terus FSMR ISI. Saya tunggu screening karya selanjutnya.
Selasa, 22 November 2011
Bersyukur dan Kurang Mensyukuri
Judul yang hanya berupa formulasi kata jika ya maka lawannya adalah tidak. Tapi sebenarnya yang ingin saya bahas bukanlah apa itu bersyukur apa itu kurang mensyukuri. Saya hanya ingin menulis berbagai pengalaman saya terkait bersyukur dan tidak mensyukuri.
Bersyukur. Benarkah setiap orang, setiap hari bersyukur. Saya tidak mau munafik, saya sendiri masih belum bisa bersyukur setiap harinya. Hal ini memang bukan menjadi sebuah kebiasaan. Okelah, sesekali saya mensyukuri sesuatu tanpa ada sebabnya, berdoa dengan syukur karena mengingat kalau kita harus bersyukur atas segala sesuatu.
Pengalaman lebih dalam lagi, saya diajak bersyukur melihat segala keindahan yang ada. Ironisnya, bersyukur semacam menjadi sebuah alat untuk menakut-nakuti anak kecil. “Kalau kamu gak bersyukur, nanti Tuhan marah. Kamu nanti dapat sial” hal itupun seringkali direpresentasikan dalam produk-produk audiovisual. Akan tetapi, harusnya ada sebuah pendidikan yang lebih dalam untuk menjelaskan kenapa kita musti bersyukur.
Pengalaman saja, saya cenderung bersyukur ketika sudah mepet sekali. Kalau sudah tidak ada uang, dapet uang seribu saja sudah sangat alhamdullilah. Bahkan lebih dari itu, ketika sudah mepet, rasa syukur yang mendalam akan dirasakan dengan sangat menjaga uang tersebut. Ya, sebenarnya terlalu kontras juga ketika menghubungkan syukur dengan uang, akan tetapi ini adalah sebuah contoh yang nyata. oRang bersyukur ketika mendapatkan uang. Ya, uang memang adalah sebuah alat pembayaran, tapi harusnya yang disyukuri adalah kehidupan, fasilitas untuk berbagi yang ada di balik uang itu. Bukan sebuah kemewahan, bukan lagi penderitaan yang bisa ditimbulkan dari uang.
Sebenarnya dari hal-hal tersebutlah kemudian kita bisa mensyukuri sesuatu. Lebih lagi, kita akan mensyukuri dengan menghargai sesuatu itu. Saat sudah mepet. Benarkah semua orang bersyukur setiap hari, atau HARUS bersyukur setiap hari? Menurut saya manut saja pada ego masing-masing. Sekali lagi syukur itu harusnya timbul dari pengalaman yang sudah terarah dengan baik, bukan lagi atas dasar paksaan dan ketakutan akan Tuhan. Hahaha..sekali lagi saya masih percaya Tuhan adalah konstruksi masing-masing manusia dalam bahasa ke-Tuhanan mereka.
Nah, sekarang, ketika kita sedang tidak kepepet atau sedang berlimpah, apakah kita tidak bersyukur? Bukan, saya tidak mengatakan seperti itu. Akan tetapi kecenderungannya adalah kita menghilangkan rasa syukur tersebut setelah menerima berkah. Boleh lhah setelah sekian lama kepepet, kita akan mengahrgai sesuatu yang datang sebagai jawaban atas situasi mepet. Akan tetapi, ketika berkah tersebut terus-menerus datang, ya rasa syukur itu sebnarnya sedag diuji.
Saya punya pengalaman. Ketika habis memenangkan sebuah event, saya cenderung takut. Saya merasa saya berada di sana hanya atas dasar luck bukan kemampuan yang saya punya. Selanjutnya saya terus berada pada titik ketakutan, apakah karya-karya saya kemudian juga bisa diapresiasi. Saya kemudian takut, apakah saya akan terus dibanding-bandingkan. Haha..ya, rasa takut ini kemudian membuat saya jauh dari rasa syukur. Sangaattt jauuuhh..
Hal yang kontras, tapi senada juga pernah saya alami. Kontras dalam rasa takut, senada dalam ketidakbersyukuran. Saat saya mempunyai banyak sekali uang hasil pekerjaan, uang menjadi begitu gampang dibuang. Ah, saya sangat tidak mensyukuri sepeser uang. Saya menjadi lupa makna-makna di balik uang tersebut. Saya membuangnya dengan mudah.
Hahaha..ya hanya share saja tentang bersyukur dan tidak bersyukur. Saya merasa sebenarnya syukur itu tidak perlu ditunjukkan pad orang lain. Syukur yang harusnya dimenegerti pun harusnya lebih dari Terimakasih saya mendapat uang. Tapi mensyukuri pula apa yang ada di balik uang, di balik berkat dengan memahami dan melakukan aksi. Kalua uang ya, boleh lho berbagi rasa syukur dengan memberi sedekah pada yang membutuhkan (teman yang bokek mungkin). Tapi yang lebih penting lagi, syukur seharusnya lahir dari refleksi atas situasi lupa bersyukur. Ya, ini snagat penting karena akan ada makna yang lebih di balik rasa syukur tersebut dibanding ketika kita bersyukur hanya karena ingat paksaan saja.
Selamat menikmati hari, berefleksi dan menemukan begitu banyak berkah yang bisa disyukuri )
Bersyukur. Benarkah setiap orang, setiap hari bersyukur. Saya tidak mau munafik, saya sendiri masih belum bisa bersyukur setiap harinya. Hal ini memang bukan menjadi sebuah kebiasaan. Okelah, sesekali saya mensyukuri sesuatu tanpa ada sebabnya, berdoa dengan syukur karena mengingat kalau kita harus bersyukur atas segala sesuatu.
Pengalaman lebih dalam lagi, saya diajak bersyukur melihat segala keindahan yang ada. Ironisnya, bersyukur semacam menjadi sebuah alat untuk menakut-nakuti anak kecil. “Kalau kamu gak bersyukur, nanti Tuhan marah. Kamu nanti dapat sial” hal itupun seringkali direpresentasikan dalam produk-produk audiovisual. Akan tetapi, harusnya ada sebuah pendidikan yang lebih dalam untuk menjelaskan kenapa kita musti bersyukur.
Pengalaman saja, saya cenderung bersyukur ketika sudah mepet sekali. Kalau sudah tidak ada uang, dapet uang seribu saja sudah sangat alhamdullilah. Bahkan lebih dari itu, ketika sudah mepet, rasa syukur yang mendalam akan dirasakan dengan sangat menjaga uang tersebut. Ya, sebenarnya terlalu kontras juga ketika menghubungkan syukur dengan uang, akan tetapi ini adalah sebuah contoh yang nyata. oRang bersyukur ketika mendapatkan uang. Ya, uang memang adalah sebuah alat pembayaran, tapi harusnya yang disyukuri adalah kehidupan, fasilitas untuk berbagi yang ada di balik uang itu. Bukan sebuah kemewahan, bukan lagi penderitaan yang bisa ditimbulkan dari uang.
Sebenarnya dari hal-hal tersebutlah kemudian kita bisa mensyukuri sesuatu. Lebih lagi, kita akan mensyukuri dengan menghargai sesuatu itu. Saat sudah mepet. Benarkah semua orang bersyukur setiap hari, atau HARUS bersyukur setiap hari? Menurut saya manut saja pada ego masing-masing. Sekali lagi syukur itu harusnya timbul dari pengalaman yang sudah terarah dengan baik, bukan lagi atas dasar paksaan dan ketakutan akan Tuhan. Hahaha..sekali lagi saya masih percaya Tuhan adalah konstruksi masing-masing manusia dalam bahasa ke-Tuhanan mereka.
Nah, sekarang, ketika kita sedang tidak kepepet atau sedang berlimpah, apakah kita tidak bersyukur? Bukan, saya tidak mengatakan seperti itu. Akan tetapi kecenderungannya adalah kita menghilangkan rasa syukur tersebut setelah menerima berkah. Boleh lhah setelah sekian lama kepepet, kita akan mengahrgai sesuatu yang datang sebagai jawaban atas situasi mepet. Akan tetapi, ketika berkah tersebut terus-menerus datang, ya rasa syukur itu sebnarnya sedag diuji.
Saya punya pengalaman. Ketika habis memenangkan sebuah event, saya cenderung takut. Saya merasa saya berada di sana hanya atas dasar luck bukan kemampuan yang saya punya. Selanjutnya saya terus berada pada titik ketakutan, apakah karya-karya saya kemudian juga bisa diapresiasi. Saya kemudian takut, apakah saya akan terus dibanding-bandingkan. Haha..ya, rasa takut ini kemudian membuat saya jauh dari rasa syukur. Sangaattt jauuuhh..
Hal yang kontras, tapi senada juga pernah saya alami. Kontras dalam rasa takut, senada dalam ketidakbersyukuran. Saat saya mempunyai banyak sekali uang hasil pekerjaan, uang menjadi begitu gampang dibuang. Ah, saya sangat tidak mensyukuri sepeser uang. Saya menjadi lupa makna-makna di balik uang tersebut. Saya membuangnya dengan mudah.
Hahaha..ya hanya share saja tentang bersyukur dan tidak bersyukur. Saya merasa sebenarnya syukur itu tidak perlu ditunjukkan pad orang lain. Syukur yang harusnya dimenegerti pun harusnya lebih dari Terimakasih saya mendapat uang. Tapi mensyukuri pula apa yang ada di balik uang, di balik berkat dengan memahami dan melakukan aksi. Kalua uang ya, boleh lho berbagi rasa syukur dengan memberi sedekah pada yang membutuhkan (teman yang bokek mungkin). Tapi yang lebih penting lagi, syukur seharusnya lahir dari refleksi atas situasi lupa bersyukur. Ya, ini snagat penting karena akan ada makna yang lebih di balik rasa syukur tersebut dibanding ketika kita bersyukur hanya karena ingat paksaan saja.
Selamat menikmati hari, berefleksi dan menemukan begitu banyak berkah yang bisa disyukuri )
Nadia
"aku lebih suka dikerjai, daripada harus membantu ibu membereskan gerobak yang kami tinggal"
Pagi ini aku sedang membantu ibu membereskan gerobak jualan kami. Rutinitas seperti ini kami lakukan setiap hari, untuk mencari sesuap nasi. O ya, namaku Nadia, perempuan 15 tahun yang sudah tak gadis lagi. Heran kan? Tapi memang aku sudah tak gadis lagi di umurku yang masih sangat hijau. Aku sudah datang di pinggiran jalan Suramadu ini dari jam 8 pagi dan sudah sejam lamanya kami beres-beres. Beginilah nasib kami, uang datang seperti keberuntungan. Dan benar, ternyata tak lama setelah kami beres-beres datang orang-orang beseragam lagi.
Tanganku digenggam Ibu, kami mencoba lari. Ibu menggeretku keluar dari jembatan untuk menghindari pria-pria berseragam itu. Tapi, aku melepaskan tangan ibu. Aku sudah kecewa dengan ibu yang berulang kali meninggalkanku. Aku memang tak bisa bicara dan mendengar, tapi sakit rasanya ketika ibu berulangkali tak pernah mengucap namaku ketika aku pergi. Kini ibu mengenggam tanganku pun hanya karna takut, ketika para seragam itu bercerita aku bertemu ayahku di penjara.
Aku menyerahkan diri lagi pada pria-pria berseragam yang berulangkali mengerjaiku itu. Aku lebih suka dikerjai dan setelahnya melepas rindu dengan ayah yang katanya merekayasa penculikan, daripada harus tinggal ketakutan di rumah dan disuruh-suruh ibu memberesi gerobak yang kami tinggal.
Pria-pria berseragam itu membawaku dengan mobil bertempat duduk yang mereka miliki. Heran, sesampainya di kantor yang jadi satu dengan bui, mereka mendiamkanku. Mereka seakan tak melihat mataku yang minta dikerjai, mereka juga tak lihat tetesan air dari mataku yang rindu ayahku. Satu hari lebih mereka mencoba menggeretku keluar dari tempat itu, tapi aku tak mau sebelum bertemu ayahku. Mereka kemudian bercerita dengan nada yang tak kedengaran, tapi mimik muka mereka marah, dan saya tahu maksudnya. Ayah sudah keluar dari bui, mereka tak tahu dia pergi entah kemana.
Ah, aku seketika keluar dari tempat itu. Aku berjalan tak tahu entah kemana. Aku ingin jauh-jauh dari rumah, aku ingin jauh-jauh dari pria-pria berseragam. Aku ingin bertemu ayah. Aku teringat cerita ibu. Ketika sedang mencuci, aku membuka buku-buku catatannya. “Lebih baik dikerjai perampok, daripada main biasa sama suami sendiri.” Aku tak tahu maksudnya, tapi aku membaca bagian lain. Luka ibu ketika diperkosa oleh perampok. Ibu akhirnya kesampaian punya anak, walaupun cacat seperti saya. Ibu menuliskan kalau ayah seperti bajingan yang tidak pernah mencari nafkah, tidak bisa memberi kepuasan, tidak pernah menanamkan benih anak. Luka tersebut semakin dalam, ketika ayah tak bisa berbuat apa-apa saat ibu diperkosa oleh perampok. Hingga akhirnya ibu menjadi setengah gila. Ibu kemudian minggat dari rumah ayah, dan mencari si perampok dengan membawaku dalam kandungannya.
Ibu hidup di jalan dan terus mendambakan raut wajah si perampok. Tapi dalam perjalanannya dia tak sadar kalau aku sudah hampir lahir. Ibu hanya singgah di emperan toko, dan tidur, mengerang-erang kesakitan di situ ketika aku akan lahir. Untung ada orang Cina baik yang mendengar erangan Ibu. Koh Liang membawa ibu ke rumah sakit, membayar semua biaya pengobatan dan memberi kami sebuah rumah singgah. Koh Liang yang kemudian memperistri ibu saya, mengajari ibu untuk mandiri dan bekerja lagi.
Aku telah jauh, entah berjalan kemana. Dalam ingatan tentang cerita ibu, aku selalu teringat tentang perasaan ibu yang hingga kini masih disimpan kepada perampok yang memperkosanya. Entah perasaan benci, atau rasa terimakasih. Hal yang sudah pasti adalah, ibu gembira ketika aku lahir dan membenciku seumur hidup saat dia tahu aku bisu dan tuli.
Aku berjalan terus, hingga melewati sebuah rumah berperawakan China. Rumah dengan dekorasi serba merah itu mengingatkanku pada kematian ayah tiriku, Koh Liang. Waktu itu ibu masuk ke warung Koh Liang, hendak mengambil beberapa uang. Koh Liang mengetahuinya, dia sudah lama menyimpan benci pada ibu yang masih menyimpan hasrat pada si perampok sejak Koh Liang menikahinya. Melihat peluang menjebloskan ibu ke penjara, Koh Liang membekap ibu di depan mataku. Koh Liang mencoba menyeret ibu ke luar warung. Akan tetapi ibu keburu mengambil pisau dan menghujamkan pisau itu ke perut Koh Liang. Ditendangnya kemaluan koh Liang dan dicabik-cabiknya tubuh Koh Liang dengan mata dendam.
Ahhhhhhhhhhhhhhhhh.. aku berteriak kencang ketika mengingat kejadian itu. Aku diinterogasi oleh banyak polisi. Ibu dengan muka tanpa dosa melimpahkan kesalahannya padaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu aku berumur 10 tahun. Aku dikerjai oleh pria-pria berseragam untuk pertama kalinya. Setelah dua hari dikerjai, aku dilepas begitu saja, karna menurut mereka aku punya gangguan jiwa. Ahhhhhhh, aku berteriak sekali lagi. Aku benci pulang, aku benci ibu. Tapi hasratku dengan ibu untuk dikerjai sama. Kami ingin bertemu dengan orang yang pertama kali mengerjai kami.
Lama sekali aku hanya diam di depan rumah serba merah itu untuk merenungi nasib. Tiba-tiba pintunya terbuka, aku lagi-lagi sudah salah arah. Ibu muncul dari balik pintu, dengan senyum sinis menjewerku masuk ke dalam rumah. Ah, bangunan ini bangunan dari Koh Liang. Aku sudah menuju rumah. Aku tak tahu kenapa, aku rindu penyiksaan-penyiksaan di dalam rumah ini.
Pagi ini aku sedang membantu ibu membereskan gerobak jualan kami. Rutinitas seperti ini kami lakukan setiap hari, untuk mencari sesuap nasi. O ya, namaku Nadia, perempuan 15 tahun yang sudah tak gadis lagi. Heran kan? Tapi memang aku sudah tak gadis lagi di umurku yang masih sangat hijau. Aku sudah datang di pinggiran jalan Suramadu ini dari jam 8 pagi dan sudah sejam lamanya kami beres-beres. Beginilah nasib kami, uang datang seperti keberuntungan. Dan benar, ternyata tak lama setelah kami beres-beres datang orang-orang beseragam lagi.
Tanganku digenggam Ibu, kami mencoba lari. Ibu menggeretku keluar dari jembatan untuk menghindari pria-pria berseragam itu. Tapi, aku melepaskan tangan ibu. Aku sudah kecewa dengan ibu yang berulang kali meninggalkanku. Aku memang tak bisa bicara dan mendengar, tapi sakit rasanya ketika ibu berulangkali tak pernah mengucap namaku ketika aku pergi. Kini ibu mengenggam tanganku pun hanya karna takut, ketika para seragam itu bercerita aku bertemu ayahku di penjara.
Aku menyerahkan diri lagi pada pria-pria berseragam yang berulangkali mengerjaiku itu. Aku lebih suka dikerjai dan setelahnya melepas rindu dengan ayah yang katanya merekayasa penculikan, daripada harus tinggal ketakutan di rumah dan disuruh-suruh ibu memberesi gerobak yang kami tinggal.
Pria-pria berseragam itu membawaku dengan mobil bertempat duduk yang mereka miliki. Heran, sesampainya di kantor yang jadi satu dengan bui, mereka mendiamkanku. Mereka seakan tak melihat mataku yang minta dikerjai, mereka juga tak lihat tetesan air dari mataku yang rindu ayahku. Satu hari lebih mereka mencoba menggeretku keluar dari tempat itu, tapi aku tak mau sebelum bertemu ayahku. Mereka kemudian bercerita dengan nada yang tak kedengaran, tapi mimik muka mereka marah, dan saya tahu maksudnya. Ayah sudah keluar dari bui, mereka tak tahu dia pergi entah kemana.
Ah, aku seketika keluar dari tempat itu. Aku berjalan tak tahu entah kemana. Aku ingin jauh-jauh dari rumah, aku ingin jauh-jauh dari pria-pria berseragam. Aku ingin bertemu ayah. Aku teringat cerita ibu. Ketika sedang mencuci, aku membuka buku-buku catatannya. “Lebih baik dikerjai perampok, daripada main biasa sama suami sendiri.” Aku tak tahu maksudnya, tapi aku membaca bagian lain. Luka ibu ketika diperkosa oleh perampok. Ibu akhirnya kesampaian punya anak, walaupun cacat seperti saya. Ibu menuliskan kalau ayah seperti bajingan yang tidak pernah mencari nafkah, tidak bisa memberi kepuasan, tidak pernah menanamkan benih anak. Luka tersebut semakin dalam, ketika ayah tak bisa berbuat apa-apa saat ibu diperkosa oleh perampok. Hingga akhirnya ibu menjadi setengah gila. Ibu kemudian minggat dari rumah ayah, dan mencari si perampok dengan membawaku dalam kandungannya.
Ibu hidup di jalan dan terus mendambakan raut wajah si perampok. Tapi dalam perjalanannya dia tak sadar kalau aku sudah hampir lahir. Ibu hanya singgah di emperan toko, dan tidur, mengerang-erang kesakitan di situ ketika aku akan lahir. Untung ada orang Cina baik yang mendengar erangan Ibu. Koh Liang membawa ibu ke rumah sakit, membayar semua biaya pengobatan dan memberi kami sebuah rumah singgah. Koh Liang yang kemudian memperistri ibu saya, mengajari ibu untuk mandiri dan bekerja lagi.
Aku telah jauh, entah berjalan kemana. Dalam ingatan tentang cerita ibu, aku selalu teringat tentang perasaan ibu yang hingga kini masih disimpan kepada perampok yang memperkosanya. Entah perasaan benci, atau rasa terimakasih. Hal yang sudah pasti adalah, ibu gembira ketika aku lahir dan membenciku seumur hidup saat dia tahu aku bisu dan tuli.
Aku berjalan terus, hingga melewati sebuah rumah berperawakan China. Rumah dengan dekorasi serba merah itu mengingatkanku pada kematian ayah tiriku, Koh Liang. Waktu itu ibu masuk ke warung Koh Liang, hendak mengambil beberapa uang. Koh Liang mengetahuinya, dia sudah lama menyimpan benci pada ibu yang masih menyimpan hasrat pada si perampok sejak Koh Liang menikahinya. Melihat peluang menjebloskan ibu ke penjara, Koh Liang membekap ibu di depan mataku. Koh Liang mencoba menyeret ibu ke luar warung. Akan tetapi ibu keburu mengambil pisau dan menghujamkan pisau itu ke perut Koh Liang. Ditendangnya kemaluan koh Liang dan dicabik-cabiknya tubuh Koh Liang dengan mata dendam.
Ahhhhhhhhhhhhhhhhh.. aku berteriak kencang ketika mengingat kejadian itu. Aku diinterogasi oleh banyak polisi. Ibu dengan muka tanpa dosa melimpahkan kesalahannya padaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu aku berumur 10 tahun. Aku dikerjai oleh pria-pria berseragam untuk pertama kalinya. Setelah dua hari dikerjai, aku dilepas begitu saja, karna menurut mereka aku punya gangguan jiwa. Ahhhhhhh, aku berteriak sekali lagi. Aku benci pulang, aku benci ibu. Tapi hasratku dengan ibu untuk dikerjai sama. Kami ingin bertemu dengan orang yang pertama kali mengerjai kami.
Lama sekali aku hanya diam di depan rumah serba merah itu untuk merenungi nasib. Tiba-tiba pintunya terbuka, aku lagi-lagi sudah salah arah. Ibu muncul dari balik pintu, dengan senyum sinis menjewerku masuk ke dalam rumah. Ah, bangunan ini bangunan dari Koh Liang. Aku sudah menuju rumah. Aku tak tahu kenapa, aku rindu penyiksaan-penyiksaan di dalam rumah ini.
Rabu, 09 November 2011
Tuhan
Bukan untuk menambanh definisi tentang Tuhan, tapi hanya ingin mengungkapkan kembali definisi-definisi yang telah ada tentang Tuhan. Berbicara tentang Tuhan dalam kelas PNI, membuat saya terinspirasi untuk menyindir mereka yang berdoa dengan nama baik Allah, memuji dengan lantang dan keras nama Allah. Tapi, menurut pemikiran saya, pemahaman Allah dalam kuasa kebaikan adalah sesuatu yang sempit. Akan saya jelaskan hal ini dalam paragraf selanjutnya, tapi sebelumnya ijinkan saya share ayat ini:
“ Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. ”
See....walaupun mungkin penafsiran saya tidak 100% benar,,tapi saya melihat sebuah pencerahan untuk menilai orang lain. Ya, tidak usah banyak bicara tentang ini..tak ada kaitannya sedikitpun dengan apa yang saya tuliskan dalam kelas PNI tentang Tuhan. Aneh ya, bicara iklan, tapi bicara Tuhan, kontras terasa..tapi ya sudah lah...ini tulisan saya...
Tuhan.
Tuhan selama ini digambarkan duduk di sebelah kanan. Hal itu yang kemudian membuat "kanan" identik dengan kebaikan surgawi. Ya, surgawi, ketika semua orang percaya bahwa Tuhan tinggal di surga. Tuhan, menghalau setan yang bermuram di neraka, yang selama ini selalu di-"kiri"-kan. Seperti analogi tentang malaikat dan bidadari, mengalahkan setan berarti sebuah berkah. Karena berkah melimpah itulah, kemudian Tuhan menjadi muara segala doa. Tapi, menurut saya Tuhan itu juga hadir dalam sifat ke-"kiri"an manusia. Tuhan yang dianggap Agung, pasti punya kuasa atas segala kejahatan yang bebas dari jeratan. Ya, Tuhan itu kuasa, oleh karenanya masing-masing manusia punya peranan juga untuk menggunakan kuasa itu. Berarti Tuhan dikendalikan manusia? Sekali lagi, bukan bermaksud menjadi Agnostik, tapi manusia punya kuasa untuk menciptakan imaji tentang Tuhan dalam bahasa ke-Tuhan-n mereka masing-masing.
See, Tuhan dan manusia adalah hubungan imaji yang pribadi. Jadi buat apa saya berteriak-teriak memuji Tuhan untuk didengar? sepertinya tidak berguna ketika imaji pribadi tersebut tak muncul dalam kuasa yang lebih hakiki dan esensial, yaitu sikap. Silahkan berimaji, silahkan memuji, tapi jangan lupa sinkronisasi dengan sikap, pikiran dan perbuatan :))
“ Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. ”
See....walaupun mungkin penafsiran saya tidak 100% benar,,tapi saya melihat sebuah pencerahan untuk menilai orang lain. Ya, tidak usah banyak bicara tentang ini..tak ada kaitannya sedikitpun dengan apa yang saya tuliskan dalam kelas PNI tentang Tuhan. Aneh ya, bicara iklan, tapi bicara Tuhan, kontras terasa..tapi ya sudah lah...ini tulisan saya...
Tuhan.
Tuhan selama ini digambarkan duduk di sebelah kanan. Hal itu yang kemudian membuat "kanan" identik dengan kebaikan surgawi. Ya, surgawi, ketika semua orang percaya bahwa Tuhan tinggal di surga. Tuhan, menghalau setan yang bermuram di neraka, yang selama ini selalu di-"kiri"-kan. Seperti analogi tentang malaikat dan bidadari, mengalahkan setan berarti sebuah berkah. Karena berkah melimpah itulah, kemudian Tuhan menjadi muara segala doa. Tapi, menurut saya Tuhan itu juga hadir dalam sifat ke-"kiri"an manusia. Tuhan yang dianggap Agung, pasti punya kuasa atas segala kejahatan yang bebas dari jeratan. Ya, Tuhan itu kuasa, oleh karenanya masing-masing manusia punya peranan juga untuk menggunakan kuasa itu. Berarti Tuhan dikendalikan manusia? Sekali lagi, bukan bermaksud menjadi Agnostik, tapi manusia punya kuasa untuk menciptakan imaji tentang Tuhan dalam bahasa ke-Tuhan-n mereka masing-masing.
See, Tuhan dan manusia adalah hubungan imaji yang pribadi. Jadi buat apa saya berteriak-teriak memuji Tuhan untuk didengar? sepertinya tidak berguna ketika imaji pribadi tersebut tak muncul dalam kuasa yang lebih hakiki dan esensial, yaitu sikap. Silahkan berimaji, silahkan memuji, tapi jangan lupa sinkronisasi dengan sikap, pikiran dan perbuatan :))
Penghiburan Diri
ketika kamu terlarut dalam imaji,
yang kamu rasakan hanyalah bayangan mimpi..
kadang tak mengandung esensi,,
hingga akhirnya kamu berdiskusi dalam diri..
kalau kamu sebenarnya adalah orang yang berambisi....
hanya sebatas ambisi..tanpa eksekusi pasti,,
bukan eksekusi untuk mebayar kebutuhan diri,,
tapi untuk menggali...
atas apa saja dirimu berdiri..
hingga kini..kau melupakan kembali Ilahi,
hanya untuk meretas panggilan diri...
Sidhi....
ayo kembali,,pada siapa yang hendak kau kasihi :))
yang kamu rasakan hanyalah bayangan mimpi..
kadang tak mengandung esensi,,
hingga akhirnya kamu berdiskusi dalam diri..
kalau kamu sebenarnya adalah orang yang berambisi....
hanya sebatas ambisi..tanpa eksekusi pasti,,
bukan eksekusi untuk mebayar kebutuhan diri,,
tapi untuk menggali...
atas apa saja dirimu berdiri..
hingga kini..kau melupakan kembali Ilahi,
hanya untuk meretas panggilan diri...
Sidhi....
ayo kembali,,pada siapa yang hendak kau kasihi :))
Kamis, 03 November 2011
Mau Puisi

http://news-todayz.blogspot.com/2011/09/pantun-cinta.html
Kalau basa bisa jadi busa
kalau asam bisa jadi garam
keduanya bisa jadi netral
tapi...
kalau cinta jadi buta
dan benci jadi risih
bisa gak keduanya menjadi netral?
kontras terasa,
walaupun banyak yang tidak merasa...
banyak problema...
teman, saya butuh kata netral...
teman, ayo kita berdamai dengan semua hal...
jangan jadikan hal-hal tersebut semakin bebal...
awet....teredam dalam kalbu masing-masing...
Little Terrorist
Coba sebelum Anda, pengunjung membaca ulasan saya, tonton hingga lengkap film yang sangat menginspirasi saya ini.
Sudah??
Baik, Anda bisa membaca ulasan saya jika tidak paham.
Sebelum mengulas, saya ingin bercerita terlbih dahulu bahwa saya mendapatkan referensi film ini dari dosen Penulisan Skenario, Bapak Tri Giovanni. Sekali lagi saya adalah anak iklan yang setengah jurnalis. Saya memang tertarik dengan film-film yang mengedepankan isu-isu perang dan sensitivitas warga masyarakat terhadap isu-isu tersebut. Kenapa? Karna film-film tersebut memberikan alur yang rapih menurut saya. Tengok saja Life Is Beautiful, atau Boy in the Stripped Pyjamas. Dua film favorit saya yang mengedepankan sisi humanitas dilihat dari korban, dan benar-benar membuat penonton akan trenyuh dan masuk dalam cerita. Film-film semacam itu bukanlah sebuah film yang mahal dibandingkan dengan Twilight, Harry Potter, Transformer ataupun Avatar, tapi nilai lebih dari film itu ada pada penggalian cerita yang riil. Penggalian makna yang ingin disampaikan juga menjadi satu sisi yang membutuhkan perjuangan. Tidak bisa dibandingkan memang antara genre fantasi dengan genre drama perang, tapi cukup memberi saya pemahaman bahwa Anda harus menonton film-film drama perang!
Kembali pada Little Terrorist, sebuah film pendek, singkat yang menyabet penghargaan Oscar. Kami mengulas film ini dalam kelas. Satu hal yang paling kentara dari film ini adalah sisi budaya. Ya, budaya yang sebenarnya hampir sama anatara orang Pakistan dan Indisa, cuma agama saja yang membedakan, menjadi unsur yang kental terasa dari awal hingga akhir scene. Pakaian, simbol-simbol budaya lewat tempat tinggal hingga makanan. Walaupun ditampilkan oleh dua tokoh yang sangat kontras, antara India dan Pakistan, tapi sekali lagi unsur budaya menjadi pemersatu kedua pihak ini. Beda dengan film Indonesia yang kadang kebarat-baratan, bahkan jarang yang ke-Indonesia-ke-Indonesiaan, mungkin realitas ke-Indonesiaan juga sudah mulai luntur berganti seiring perkembangan jaman, mungkin.
Kembali ke film pendek ini. Bayangkan ketika Anda harus melewati ladang ranjau, berlari dari bahaya militer yang terkadang sangat otoriter dan ganas hanya untuk sekedar mengetahui siapa yang mereka kejar. Guys, saya yakin, sikap militan ini juga terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Banyak stigma-stigma kita munculkan bersama, hal ini yang kemudian menghapus toleransi kita bahkan sekedar untuk mengetahui siapa yang berebda dari kita. Ahmadiyah menjadi contoh kasus yang paling nyata untuk direfleksikan dalam kehidupan beragama yang sebenarnya sangat militan. Kadang saya teringat perkataan Sakti Makki dalam seminar Pinasthika, Agama adalah brand terlama dan kita tidak tahu produknya apa. Ya, ketika kita membela agama dengan fantisme, lalu banyak yang mengartikan produk Agama adalah sebuah pencerahan yang dilakukan dengan militansi mental yang berujung pada kekerasan fisik. Hal ini nyata terjadi dan tergambar jelas dalam Little Terrorist berdurasi 16 menit ini.
Anda tahu? kepala botak menjadi identitas utama yang wajib dipatuhi. Nama Islam menjadi sangat tabu untuk diucapkan. Begitu pula dengan berbagi piring, menjadi haram ketika dilihat dari sudut pandang Agama. Tapi ketika pergulatan-pergulatan keagaamaan digambarkan secara manusiawi, Anda lihat sendiri hasil penggambarannya. Anaka menjadi lebih memahami apa itu Hindu, bagaiaman mereka menyelamatkan nyawa tanpa pamrih. Tapi si Hindu juga kemudian dapat berbicara secara manusiawi bahwa Islam ternyata lugu.
Ya, dalam tataran manusiawi sekali lagi kita bisa melihat keseimbangan kehidupan. Tidak ada yang salah tidak ada yang benar, yang ada hanyalah selalu berubah. Kehidupna harusnya dimaknai dengan sikap mental yang menghamba. Ketika manusia merasa superior dengan kedekatan mereka yang sungguh eksklusif dengan Tuhan, maka komunikasi antar manusia tidak akan dapat terjalin dengan harmonis. Akan tetapi, ketika manusia menjadi hamba yang sama dalam dunia, niscaya kehidupan akan menjadi lebih bermakna. Teman, Anda mehat senyuman di akhir scene? senyuman yang saya tidak tahu, apakah senyuman gembira atas pembebasan si Anak dari kematian atau senyuman sinis akan keadaan yang sebenarnya tidak perlu menuphak darah. Saya tidak tahu, tapi senyuman bahkan suara tawa si Anak PAkistan mampu membuka mata saya, bahwa dalam penderitaan akan perbedaan, ternyata ada secercah harapan untuk menyatukan. Teman, lihat sekitarmu, jangan lagi meninggikan dirimu atas Tuhan, biar saja Tuhan yang meninggikan kodrat Anda ketika Anda menemuinya, dan pasti Anda akan menemuinya. Hukum terutama yang harus dijunjung sekarang adalah cinta kasih. Katakan I LOVE YOU pada orang yang selama ini Anda benci, berikan salam, senyuman dan semangat untuk mereka. Jabat tangan dan mulailah berdiskusi santai. SAya yakin, Anda, mereka dan kita lantas akan menemukan satu titik dimana berbagai warna dapat berbaur. Guys, adakah yang memiliki kerinduan yang sama dengan saya? dengan penulis naskah ataupun orang-orang di balik film pendek ini? dengan mereka yang gencar berbicara tentang perdamaaian? Saya yakin Anda semua punya kerinduan yang sama. Yeah, saya punya banyak teman.. :))
Rabu, 02 November 2011
Kuda Hitam

ini adalah karya anak bangsa. Hahah..ya, iyalah walaupun saya Jawa dan Zendy Cina..tapi kita tetep satu bangsa. Ah, gak penting, yang penting kami tahunya kami adalah anak Indonesia. Ini adalah sebuah karya yang tidak disangka ternyata mampu meluluhkan hati para juri: Mas A'at Mas Andhika dan Mas Arif. Sebenarnya kami tidak yakin dengan karya ini, tapi ternyata karya yang dipilih sebagai amunisi terakhir ini yang membawa pada hadiah karantina selama 5 hari. Perlu diceritakan bagaimana isi dari iklan ini? sepertinya tidak. Yang perlu kami ceritakan adalah karya ini adalah kuda hitam. Tak banyak direspon, bahkan oleh kami sendiri. Tapi, dengan tetap rendah hati..karya-karya ini mendapatkan tanggapan yang diluar keinginan kami. Semangat berkarya, tetap menjadi inspirasi...semoga tetap diam dalam benak kami..dan juga 113 pengentry lain...SEMANGAT :))
Script yang Gagal Dieksekusi, Ada yang Berminat?
CATATAN DUNIAWI
Manusia, Belahan Jiwa dan Tuhan: Menerawang Dalam Lembaran, Seakan Kehidupan Terbayang
SCENE I:
“Cinta itu seakan rasa yang terlalu abstrak, ingin menelan dalam, apa daya....lidah tak mampu mengecap pahit....ingin memuntahkannya dalam bak sampah, tetap mulut tak mau berhenti mengunyah..mengharapkan manis itu datang dengan sendirinya...”
Mata Nuel tak henti-hentinya membaca dan memahami status facebook Aisyah itu. Tak lama kemudian tangannya mulai cekatan berpadu dengan suara ketikan
Kasihan ya si Cinta, bergabung terus dengan liur....diaduk hancur hingga lebur oleh gertakan gigi....
Hahaha....kok kamu tiba-tiba muncul mas Nuel? Apa kabar? Lama tidak berjumpa, padahal kita sama-sama di Yogyakarta....
Lho?? Kok mengalihkan pembicaraan? Kita kan sedang berbicara tentang Cinta dalam mulut, kunyahan duniawi....Hahaha, Baik Aisyah...iya sudah dua bulan kita gak ketemu....
Dua bulan ternyata tidak cukup membuat saya lupa tentang cinta lho....hehe,, kunyahan kita tidak hanya dipelajari dalam keduniawian,, cinta dikunyah dalam iman..Nuel...
Kalau begitu mengapa cinta tidak dibiarkan masuk dalam perut dan menjadi lebih bermakna untuk iman,, dari sekedar rasa yang seringkali ditolak oleh pengecap??
Karna cinta dan iman seringkali seperti lidah yang ingin mengecap manis, tapi mendapat pahit....padahal si empunya lapar berat...haha...seperti kamu tu, tiap jam lapar!!
Ahahaha,, kalau begitu cinta bukan bagian dari iman tu, atau imannya yang sama sekali gak kuat....?? Haha....
Nyindir ni?? Eh, aku Shalat Maghrib dulu ya....sudah dijemput Bapak...
Selamat beribadah Aisyah....
Nuel mematikan koneksi internetnya, berjalan ke arah rak bukunya..mengambil sebuah buku tentang Cinta dan Agama. Membalik halaman demi halaman bukan untuk dibaca, melainkan untuk mencari kalimat yang kemudian akan ditulisnya dalam sebuah catatan. Catatan Duniawi begitu dia memberi judul catatan kecilnya. Banyak kalimat-kalimat singkat, bahkan beberapa adalah tulisan tentang dilema cinta sahabatnya. Nuel menambahkan beberapa kalimat dalam catatannya.
Sudah dua buku dia bolak-balik demi kalimat-kalimat yang berbicara tentang cinta. Buku sudah menjadi belahan jiwanya dua bulan ini. Tidak kurang dari enam kalimat dia tambahkan dalam catatannya. Teng, teng, teng alarm pukul 21.00 menyambut keseriusannya dalam menggoreskan tinta di catatannya. Nuel beranjak dari meja belajarnya menuju ke kamar mandi, membersihkan kaki dan tangannya. Selesai membasuh dirinya sendiri, dia kembali menuju kamar, mengambil secarik kertas bertuliskan SKRIPSI dan menempelkan pada stereofoam di depan meja belajarnya. Nuel mengambil lilin, menyalakannya dan mengambil secarik kertas doa dan mulailah dia berdoa dengan rosario di tangannya.
SCENE II:
Perpustakaan, tempat yang tidak asing lagi untuk Nuel. Dia meletakkan Laptopnya di atas meja, bergegas menuju rak-rak buku keagamaan dan mengambil beberapa buku dari dalamnya. Nuel kembali ke mejanya, bertegur sapa dengan beberapa orang yang memanggilnya dan menanyakan Kapan mau lulus?? Nuel hanya tersenyum kelu sambil kembali ke mejanya. Dia menyalakan Laptopnya, sambil membaca buku-buku yang tadi diambilnya, dia kemudian mengetik beberapa kalimat dengan serius.
“Boy, serius bener lu ngetiknya? Ngebet lulus apa ngebet kawin?” Sapa David temannya.
“Anjrit, diem lu, gw lagi serius ni!!”
“Ahahaha, lu gak lagi ngebet kawin kan?”
“Nyet, gw udah janji sama Aisyah 3 bulan gw udah selesai Skripsi”
“Ah, mengada-ada aja tu babenya, masa’ pacaran aje harus nunggu lu lulus!”
“Iya lhah, Aisyah aja udah kerja.” Jawab Nuel sambil membereskan mejanya dan bergegas keluar.
“Emang Aisyah beneran gak boleh ketemu sama lu?”
“Kalo boleh sih kaga mungkin gw serajin dua bulan ini, Nyet!!”
Mereka berdua melanjutkan obrolan hingga keluar dari peRpustakaan.
SCENE III:
Nuel kembali ke kosnya dengan motornya. Dia mampir sejenak ke Masjid, menemui seorang Bapak dan tergopoh-gopoh bertanya, “Pak, pindah Agama ke Islam kalau karena Cinta kira-kira bertahan berapa lama ya?”
“Nuel, nuel...kamu sudah tanya tentang ini berapa kali? Sekali lagi jawabannya ada di hatimu.” Ujar Bapak itu sambil memegang dada kiri Nuel.
“Tapi, kalau misalnya menikah beda Agama itu dosa tidak menurut Islam?”
“Kamu kan sudah baca bukunya yang saya beri, kamu tahu jawabannya kan?”
“Tapi Pak, kalau menurut Bapak bagaimana saya harus mendekati bapaknya Aisyah?”
“Pakai hatimu, Nak. Dekati dulu anaknya, agar dia percaya iman tidak bermasalah untuk cinta.”
“Ehm, oke Pak. Makasih, Maaf Pak kalau pertanyaan yang sama saya tanyakan berkali-kali.” Nuel pergi berlalu dengan wajah yang agak murung.
“Ikuti hatimu Nu, catatan dalam buku-bukumu berkata hal yang duniawi”
SCENE IV:
Sore menjelang malam, kembali Nuel melahap buku-buku yang tadi dia pinjam di Perpustakaan. Kemudian dia terlihat agak sedikit murung, tampak memikirkan hal lain diluar isi buku tersebut. Kemudian membuka Laptopnya, menyalakannya dan mulai online.
“Eh, Aisyah komen apa ni?”
Nuel: Sudah dua bulan tidak bertemu, saya akhirnya beranikan diri menyapa maya dirinya.
Aisyah: Gimana Skripsinya Mas?
Nuel mulai tenggelam dalam bunyi gemertak jarinya.
Masih stug, tinggal satu minggu lagi ya batasnya? Hahaha
Hahaha, santai aja....Aisyah tunggu kok
Tapi Bapak sepertinya sudah memburu....
Hahahaha....
Kok ketawa?
Abisnya, kayaknya mas Nuel yang sudah memburu lulus *diceritain frater David tadi
Ahahaha, sialan tu anak cerita ke kamu!! Kamu tadi ke perpus juga ya??
Iya,, Cuma bentar....Mas, ada Bapak..bentar yaa...
SCENE V:
Nuel sangat rajin mengejar skripsinya. Bimbingan skripsi dengan seorang Romo Pembimbing. Berdoa dengan lilin dan rosario. Buku yang dipinjam sekarang lebih banyak tentang panggilan.
SCENE VI:
Nuel membuka-buka kembali catatan duniawinya, dia seakan terlena oleh skripsi hingga lupa dengan catatan itu. Dia membaca kembali tulisan Aisyah saat itu
Radikal dan moderat, mencampurkan air dengan minyak....semoga ada sabun basa yang menyatukan keduanya.
Dia kemudian membuka laptop, menuliskan hal tersebut di facebook dengan harapan Aisyah membacanya.
Mas, masih ingat to? Pasti baru buka catatan duniawi ya? Hahaha
Iya, kamu masih ingat buku yang dulu kamu baca sebelum menuliskan kalimat itu?
Masih Mas....saya tidak bisa jalani hubungan beda Agama, apalagi Bapak saya...nunggu janji mas Nuel setelah selesai Skripsi
Bukannya cinta itu biar kita yang berbeda disatukan sehingga ada damai, dek?
Tapi pandangan kami berbeda, saya masih percaya sama bapak..cinta yang dijalani berbeda bikin dosa,, gak di ridhoi..nanti bikin kisruh di antara keluarga....
Aisyah....
Iya...
Tapi....
Mas kan udah janji dulu??
Tapi kayaknya aku gak mau pindah....aku gak yakin,,
Mas... TT
Nuel menghentikan jemarinya sejenak. Dia menutup laptopnya dan berdoa, masih dengan menggantungkan tulisan skripsi di depannya. Tapi kini tulisannya tidak lagi dengan tinta hitam, melainkan tinta merah.
SCENE VII:
2 bulan kemudian
Nuel sudah berada di depan laptop dengan berbagai ucapan selamat yang dia dapatkan atas kelulusannya.
Aisyah: Selamat ya Mas....
Nuel: Makasih....Masih ingat janji kita empat setengah bulan lalu? Saya telat satu setengah bulan nih....hahahaha
Aisyah: Gapapa Mas..hehe..saya tadi ke kampus Mas, tapi mas sudah terlanjur pulang..terus tadi ketemu frater David pas ke Perpustakaan....aku nitip surat untuk Mas ke dia....hahaha...Aisyah tunggu janji Mas...
Nuel: hahaha...aku nanti ke tempat David dulu aja ya....aku baca dulu suratnya, baru nanti kita bahas lagii...
Nuel segera membereskan laptopnya, berganti baju dan bergegas menuju Perpustakaan Kolose Santo Ignatius.
“David ada Mas?”
“Bentar ya saya panggilkan mas Nuel”
“Nu, ini surat dari Aisyah” tiba-tiba David muncul di hadapan Nuel.
Nuel dengan segera membuka surat itu dan membacanya.
Mas, radikal vs moderat....sudah ada sabun basa yang menyatukan..kesabaran Mas!! Hahahaha....Aisyah mau ambil resiko,, Mas gak harus pindah Agama gapapa....nanti Aisyah yang ngomong ke Bapak.
Mas, Aisyah teringat kata-kata Mas. Benar, kata-kata di buku Cuma sesuatu yang semu....idealisme sebagian orang,, bukan kenyataan yang sebenarnya...semu....Aisyah salah menganggap buku-buku keagamaan itu Kehidupan, padahal Aisyah gak dapat kedamaian karena menolak perasaan Aisyah. Maafin Aisyah Mas.
“Vid, lu ada nomer Aisyah yang baru kan? Gw pinjem donk hape lu!” Paksa Nuel sembari merogoh kantong David.
Aisyah, ini Nuel....ketemuan yuk besok jam 2 di Perpustakaan.
“Thanks Vid....”
“Ah, elu mah...maksa jadi orang....Gimana? Besok ketemu Aisyah?”
“Iya....hehehe...” Lalu Nuel membisiki David, sembari keluar dari ruangan.
David melambaikan tangan sambil tersenyum lebar, “Sukses Boy! Gw tunggu!!”
SCENE VIII:
Esoknya Nuel menunggu di Perpustakaan. Sejenak kemudian Aisyah datang dengan jilbab dan rok panjangnya.
“Eh, Aisyah....lama gak ketemu, kangen gak??”
“Hahaha...gak usah ditanya Mas.” Mereka kemudian duduk di tangga masuk Perpustakaan.
“Jadi ingat dulu kita pertama kali ketemu disini juga kan Mas.”
“Hahaha..iyaaa....Kamu ingat ini juga gak?” Jawab Nuel sambil mengeluarkan catatan duniawi-nya.
“Masih lhah Mas.”
Nuel dan Aisyah berbincang-bincang lebih lanjut beberapa saat. Di akhir pertemuan sekitar 15 menit itu, Aisyah kemudian berdiri tersenyum, sedang Nuel merasa sedikit bersalah. Nuel memeluk Aisyah sambil memberikan catatan duniawinya. Aisyah dan Nuel pergi ke depan, Aisyah menghentikan becak yang lewat dan mulai melaju. Tampak Aisyah mulai menangis, sedang Nuel dengan muka bersalahnya menaiki motornya kembali ke kos.
SCENE IX:
Nuel memulai ritual doa malamnya di Kos. Kali ini dia mengambil Tulisan Skripsi berwarna hitam, di balik tulisan itu terdapat nama Aisyah. Nuel membakar kertas itu. Kemudian Nuel merapikan buku-buku panggilannya, menuju sterofoam dan membalik kertas bertuliskan SKRIPSI tinta merah. Ketika di balik muncul tulisan ROMO dengan tinta merah pula....Nuel mulai berdoa.
SCENE X:
DI Mobil menuju Seminari, Nuel melamun. Menerawang kembali malam sebelum dia memberikan catatan duniawinya ke Aisyah, saat dia menuliskan
Maaf Aisyah, saat kamu tersadar dari kesemuan sebuah buku...aku justru terseret masuk dalam kebenaran tiap lembar buku panggilan. Saat kamu dulu aku kecam karena menganggap kebenaran radikal yang tertulis dalam buku harus menjadi nyata, sekarang justru aku yang harus kamu kecam karena masuk dalam persuasui kehidupan. Aku terjerumus dalam kenyataan semu, yang saya yakin ada!! Maaf Aisyah, aku ingin jadi Romo.
Tak sadar, ternyata Nuel sudah tiba di gerbang Seminarai. Dia heran melihat Aisyah sudah hadir di sana bersama David.
Nuel turun, dan Aisyah membisikkan sesuatu kepadanya.
“Untuk kedamaian hatimu, aku tidak akan mengecam Mas terseret dalam bayangan semu buku-buku yang Mas baca. Aku senang, Mas berpikir untuk kedamaian..juga bukan untuk mebohongi perasaan Mas. Salam untuk Tuhan, doakan Aisyah ya Mas.” Aisyah menitikkan air matanya masuk ke dalam mobil.
David ganti menghampiri Nuel, “Saya salut Bos sama Anda..Saya tunggu kita ditahbiskan bersama Bos.” Katanya sambil naik mobil.
Nuel hanya bisa diam, dia tersenyum..melambaikan tangan kanannya ke arah David dan Aisyah yang melaju pergi. Tangan kirinya menggenggam catatan duniawi yang tadi dikembalikan Aisyah. Dia lemparkan catatan duniawi itu ke bak sampah dan melaju pergi, masuk ke rumahnya yang baru.
Manusia, Belahan Jiwa dan Tuhan: Menerawang Dalam Lembaran, Seakan Kehidupan Terbayang
SCENE I:
“Cinta itu seakan rasa yang terlalu abstrak, ingin menelan dalam, apa daya....lidah tak mampu mengecap pahit....ingin memuntahkannya dalam bak sampah, tetap mulut tak mau berhenti mengunyah..mengharapkan manis itu datang dengan sendirinya...”
Mata Nuel tak henti-hentinya membaca dan memahami status facebook Aisyah itu. Tak lama kemudian tangannya mulai cekatan berpadu dengan suara ketikan
Kasihan ya si Cinta, bergabung terus dengan liur....diaduk hancur hingga lebur oleh gertakan gigi....
Hahaha....kok kamu tiba-tiba muncul mas Nuel? Apa kabar? Lama tidak berjumpa, padahal kita sama-sama di Yogyakarta....
Lho?? Kok mengalihkan pembicaraan? Kita kan sedang berbicara tentang Cinta dalam mulut, kunyahan duniawi....Hahaha, Baik Aisyah...iya sudah dua bulan kita gak ketemu....
Dua bulan ternyata tidak cukup membuat saya lupa tentang cinta lho....hehe,, kunyahan kita tidak hanya dipelajari dalam keduniawian,, cinta dikunyah dalam iman..Nuel...
Kalau begitu mengapa cinta tidak dibiarkan masuk dalam perut dan menjadi lebih bermakna untuk iman,, dari sekedar rasa yang seringkali ditolak oleh pengecap??
Karna cinta dan iman seringkali seperti lidah yang ingin mengecap manis, tapi mendapat pahit....padahal si empunya lapar berat...haha...seperti kamu tu, tiap jam lapar!!
Ahahaha,, kalau begitu cinta bukan bagian dari iman tu, atau imannya yang sama sekali gak kuat....?? Haha....
Nyindir ni?? Eh, aku Shalat Maghrib dulu ya....sudah dijemput Bapak...
Selamat beribadah Aisyah....
Nuel mematikan koneksi internetnya, berjalan ke arah rak bukunya..mengambil sebuah buku tentang Cinta dan Agama. Membalik halaman demi halaman bukan untuk dibaca, melainkan untuk mencari kalimat yang kemudian akan ditulisnya dalam sebuah catatan. Catatan Duniawi begitu dia memberi judul catatan kecilnya. Banyak kalimat-kalimat singkat, bahkan beberapa adalah tulisan tentang dilema cinta sahabatnya. Nuel menambahkan beberapa kalimat dalam catatannya.
Sudah dua buku dia bolak-balik demi kalimat-kalimat yang berbicara tentang cinta. Buku sudah menjadi belahan jiwanya dua bulan ini. Tidak kurang dari enam kalimat dia tambahkan dalam catatannya. Teng, teng, teng alarm pukul 21.00 menyambut keseriusannya dalam menggoreskan tinta di catatannya. Nuel beranjak dari meja belajarnya menuju ke kamar mandi, membersihkan kaki dan tangannya. Selesai membasuh dirinya sendiri, dia kembali menuju kamar, mengambil secarik kertas bertuliskan SKRIPSI dan menempelkan pada stereofoam di depan meja belajarnya. Nuel mengambil lilin, menyalakannya dan mengambil secarik kertas doa dan mulailah dia berdoa dengan rosario di tangannya.
SCENE II:
Perpustakaan, tempat yang tidak asing lagi untuk Nuel. Dia meletakkan Laptopnya di atas meja, bergegas menuju rak-rak buku keagamaan dan mengambil beberapa buku dari dalamnya. Nuel kembali ke mejanya, bertegur sapa dengan beberapa orang yang memanggilnya dan menanyakan Kapan mau lulus?? Nuel hanya tersenyum kelu sambil kembali ke mejanya. Dia menyalakan Laptopnya, sambil membaca buku-buku yang tadi diambilnya, dia kemudian mengetik beberapa kalimat dengan serius.
“Boy, serius bener lu ngetiknya? Ngebet lulus apa ngebet kawin?” Sapa David temannya.
“Anjrit, diem lu, gw lagi serius ni!!”
“Ahahaha, lu gak lagi ngebet kawin kan?”
“Nyet, gw udah janji sama Aisyah 3 bulan gw udah selesai Skripsi”
“Ah, mengada-ada aja tu babenya, masa’ pacaran aje harus nunggu lu lulus!”
“Iya lhah, Aisyah aja udah kerja.” Jawab Nuel sambil membereskan mejanya dan bergegas keluar.
“Emang Aisyah beneran gak boleh ketemu sama lu?”
“Kalo boleh sih kaga mungkin gw serajin dua bulan ini, Nyet!!”
Mereka berdua melanjutkan obrolan hingga keluar dari peRpustakaan.
SCENE III:
Nuel kembali ke kosnya dengan motornya. Dia mampir sejenak ke Masjid, menemui seorang Bapak dan tergopoh-gopoh bertanya, “Pak, pindah Agama ke Islam kalau karena Cinta kira-kira bertahan berapa lama ya?”
“Nuel, nuel...kamu sudah tanya tentang ini berapa kali? Sekali lagi jawabannya ada di hatimu.” Ujar Bapak itu sambil memegang dada kiri Nuel.
“Tapi, kalau misalnya menikah beda Agama itu dosa tidak menurut Islam?”
“Kamu kan sudah baca bukunya yang saya beri, kamu tahu jawabannya kan?”
“Tapi Pak, kalau menurut Bapak bagaimana saya harus mendekati bapaknya Aisyah?”
“Pakai hatimu, Nak. Dekati dulu anaknya, agar dia percaya iman tidak bermasalah untuk cinta.”
“Ehm, oke Pak. Makasih, Maaf Pak kalau pertanyaan yang sama saya tanyakan berkali-kali.” Nuel pergi berlalu dengan wajah yang agak murung.
“Ikuti hatimu Nu, catatan dalam buku-bukumu berkata hal yang duniawi”
SCENE IV:
Sore menjelang malam, kembali Nuel melahap buku-buku yang tadi dia pinjam di Perpustakaan. Kemudian dia terlihat agak sedikit murung, tampak memikirkan hal lain diluar isi buku tersebut. Kemudian membuka Laptopnya, menyalakannya dan mulai online.
“Eh, Aisyah komen apa ni?”
Nuel: Sudah dua bulan tidak bertemu, saya akhirnya beranikan diri menyapa maya dirinya.
Aisyah: Gimana Skripsinya Mas?
Nuel mulai tenggelam dalam bunyi gemertak jarinya.
Masih stug, tinggal satu minggu lagi ya batasnya? Hahaha
Hahaha, santai aja....Aisyah tunggu kok
Tapi Bapak sepertinya sudah memburu....
Hahahaha....
Kok ketawa?
Abisnya, kayaknya mas Nuel yang sudah memburu lulus *diceritain frater David tadi
Ahahaha, sialan tu anak cerita ke kamu!! Kamu tadi ke perpus juga ya??
Iya,, Cuma bentar....Mas, ada Bapak..bentar yaa...
SCENE V:
Nuel sangat rajin mengejar skripsinya. Bimbingan skripsi dengan seorang Romo Pembimbing. Berdoa dengan lilin dan rosario. Buku yang dipinjam sekarang lebih banyak tentang panggilan.
SCENE VI:
Nuel membuka-buka kembali catatan duniawinya, dia seakan terlena oleh skripsi hingga lupa dengan catatan itu. Dia membaca kembali tulisan Aisyah saat itu
Radikal dan moderat, mencampurkan air dengan minyak....semoga ada sabun basa yang menyatukan keduanya.
Dia kemudian membuka laptop, menuliskan hal tersebut di facebook dengan harapan Aisyah membacanya.
Mas, masih ingat to? Pasti baru buka catatan duniawi ya? Hahaha
Iya, kamu masih ingat buku yang dulu kamu baca sebelum menuliskan kalimat itu?
Masih Mas....saya tidak bisa jalani hubungan beda Agama, apalagi Bapak saya...nunggu janji mas Nuel setelah selesai Skripsi
Bukannya cinta itu biar kita yang berbeda disatukan sehingga ada damai, dek?
Tapi pandangan kami berbeda, saya masih percaya sama bapak..cinta yang dijalani berbeda bikin dosa,, gak di ridhoi..nanti bikin kisruh di antara keluarga....
Aisyah....
Iya...
Tapi....
Mas kan udah janji dulu??
Tapi kayaknya aku gak mau pindah....aku gak yakin,,
Mas... TT
Nuel menghentikan jemarinya sejenak. Dia menutup laptopnya dan berdoa, masih dengan menggantungkan tulisan skripsi di depannya. Tapi kini tulisannya tidak lagi dengan tinta hitam, melainkan tinta merah.
SCENE VII:
2 bulan kemudian
Nuel sudah berada di depan laptop dengan berbagai ucapan selamat yang dia dapatkan atas kelulusannya.
Aisyah: Selamat ya Mas....
Nuel: Makasih....Masih ingat janji kita empat setengah bulan lalu? Saya telat satu setengah bulan nih....hahahaha
Aisyah: Gapapa Mas..hehe..saya tadi ke kampus Mas, tapi mas sudah terlanjur pulang..terus tadi ketemu frater David pas ke Perpustakaan....aku nitip surat untuk Mas ke dia....hahaha...Aisyah tunggu janji Mas...
Nuel: hahaha...aku nanti ke tempat David dulu aja ya....aku baca dulu suratnya, baru nanti kita bahas lagii...
Nuel segera membereskan laptopnya, berganti baju dan bergegas menuju Perpustakaan Kolose Santo Ignatius.
“David ada Mas?”
“Bentar ya saya panggilkan mas Nuel”
“Nu, ini surat dari Aisyah” tiba-tiba David muncul di hadapan Nuel.
Nuel dengan segera membuka surat itu dan membacanya.
Mas, radikal vs moderat....sudah ada sabun basa yang menyatukan..kesabaran Mas!! Hahahaha....Aisyah mau ambil resiko,, Mas gak harus pindah Agama gapapa....nanti Aisyah yang ngomong ke Bapak.
Mas, Aisyah teringat kata-kata Mas. Benar, kata-kata di buku Cuma sesuatu yang semu....idealisme sebagian orang,, bukan kenyataan yang sebenarnya...semu....Aisyah salah menganggap buku-buku keagamaan itu Kehidupan, padahal Aisyah gak dapat kedamaian karena menolak perasaan Aisyah. Maafin Aisyah Mas.
“Vid, lu ada nomer Aisyah yang baru kan? Gw pinjem donk hape lu!” Paksa Nuel sembari merogoh kantong David.
Aisyah, ini Nuel....ketemuan yuk besok jam 2 di Perpustakaan.
“Thanks Vid....”
“Ah, elu mah...maksa jadi orang....Gimana? Besok ketemu Aisyah?”
“Iya....hehehe...” Lalu Nuel membisiki David, sembari keluar dari ruangan.
David melambaikan tangan sambil tersenyum lebar, “Sukses Boy! Gw tunggu!!”
SCENE VIII:
Esoknya Nuel menunggu di Perpustakaan. Sejenak kemudian Aisyah datang dengan jilbab dan rok panjangnya.
“Eh, Aisyah....lama gak ketemu, kangen gak??”
“Hahaha...gak usah ditanya Mas.” Mereka kemudian duduk di tangga masuk Perpustakaan.
“Jadi ingat dulu kita pertama kali ketemu disini juga kan Mas.”
“Hahaha..iyaaa....Kamu ingat ini juga gak?” Jawab Nuel sambil mengeluarkan catatan duniawi-nya.
“Masih lhah Mas.”
Nuel dan Aisyah berbincang-bincang lebih lanjut beberapa saat. Di akhir pertemuan sekitar 15 menit itu, Aisyah kemudian berdiri tersenyum, sedang Nuel merasa sedikit bersalah. Nuel memeluk Aisyah sambil memberikan catatan duniawinya. Aisyah dan Nuel pergi ke depan, Aisyah menghentikan becak yang lewat dan mulai melaju. Tampak Aisyah mulai menangis, sedang Nuel dengan muka bersalahnya menaiki motornya kembali ke kos.
SCENE IX:
Nuel memulai ritual doa malamnya di Kos. Kali ini dia mengambil Tulisan Skripsi berwarna hitam, di balik tulisan itu terdapat nama Aisyah. Nuel membakar kertas itu. Kemudian Nuel merapikan buku-buku panggilannya, menuju sterofoam dan membalik kertas bertuliskan SKRIPSI tinta merah. Ketika di balik muncul tulisan ROMO dengan tinta merah pula....Nuel mulai berdoa.
SCENE X:
DI Mobil menuju Seminari, Nuel melamun. Menerawang kembali malam sebelum dia memberikan catatan duniawinya ke Aisyah, saat dia menuliskan
Maaf Aisyah, saat kamu tersadar dari kesemuan sebuah buku...aku justru terseret masuk dalam kebenaran tiap lembar buku panggilan. Saat kamu dulu aku kecam karena menganggap kebenaran radikal yang tertulis dalam buku harus menjadi nyata, sekarang justru aku yang harus kamu kecam karena masuk dalam persuasui kehidupan. Aku terjerumus dalam kenyataan semu, yang saya yakin ada!! Maaf Aisyah, aku ingin jadi Romo.
Tak sadar, ternyata Nuel sudah tiba di gerbang Seminarai. Dia heran melihat Aisyah sudah hadir di sana bersama David.
Nuel turun, dan Aisyah membisikkan sesuatu kepadanya.
“Untuk kedamaian hatimu, aku tidak akan mengecam Mas terseret dalam bayangan semu buku-buku yang Mas baca. Aku senang, Mas berpikir untuk kedamaian..juga bukan untuk mebohongi perasaan Mas. Salam untuk Tuhan, doakan Aisyah ya Mas.” Aisyah menitikkan air matanya masuk ke dalam mobil.
David ganti menghampiri Nuel, “Saya salut Bos sama Anda..Saya tunggu kita ditahbiskan bersama Bos.” Katanya sambil naik mobil.
Nuel hanya bisa diam, dia tersenyum..melambaikan tangan kanannya ke arah David dan Aisyah yang melaju pergi. Tangan kirinya menggenggam catatan duniawi yang tadi dikembalikan Aisyah. Dia lemparkan catatan duniawi itu ke bak sampah dan melaju pergi, masuk ke rumahnya yang baru.
Senyum Masa Depan

Senyum Masa Depan, sebuah judul yang sangat menarik untuk merefleksikan Indonesia ke depan. Saya terinspirasi dengan para pengajar muda, entah mereka yang secara kolektif mengajar di suatu tempat (misalnya Indonesia Mengajar) ataupun mereka yang secara mandiri berinisiatif untuk belajar bersama teman-teman yang kurang beruntung dalam pendidikan.
Indonesia ke depan, sebenarnya tidak membutuhkan hujatan-hujatan akan masalah-masalah sosial yang ada. Biar saja itu menjadi urusan mereka yang berkompetensi dalam dunia ekonomi, politik, dlll. Ignorance terhadap hal ini bukan tanpa alasan. Saat orang gegap gempita mengkritisi hal-hal yang besar, banayk kemudian melupakan langkah-langkah kecil untuk memberikan senyuman kepada mereka yang belum beruntung. Ya, saya adalah orang yang sebenarnya pesimis dengan keadaan Indonesia yang sekarang ini mencoba keras memperbaiki diri. Saya pesimis ketika mental semua elemen bukan menjadi prioritas utama yang harus diubah.
Ya, hanya sekedar pemikiran yang mungkin sangat-sangat sederhana. Sekali lagi saya sok kritis padahal penuh dengan nada pesimistis. Saya menilai senyuman untuk mereka yang belum mampu adalahs ebuah hal yang harus diwujudkan. Mereka yang kini belum bisa tersenyum mempunyai mental baja, diterpa segala angin kerinduan. Kerinduan akan kasih sayang, kerinduan akan pendidikan, kerinduan akan kepedulian. Untuk meraih kerinduan itu, mereka telah berproses panjang. Mental itu yang harusnya didampingi agar berguna untuk memberikan senyman masa depan bagi Indonesia.
Teman, sepertinya sudah bukan waktunya ketika kalian menanyakan lembaga sosial mana yang cocok untuk penelitian. Bukan lagi kalian sekedar menganalisis dan mencoba mencibir pemerintah yang keras hati untuk memperbaiki keadaan. Sekarang waktunya bangkit, Teman. Ayo wujudkan senyuman kecil dalam wajah mereka. Sebuah senyuman untuk masa depan. Bukan saatnya ahnya berdoa dan beroptimis, banyak wadah yang bisa kalian gunakan untuk mencurahkan kata-kata optimis itu dalam hidup nyata. Enggage it into real world.
Saya mengajak bukan berarti saya sudah punya kontribusi besar, saya pun sedang berprose. Saya sedang mencoba untuk memberikan senyuman kecil. Dan kalian akan tahu rasanya betapa senyuman yang berbalas itu menimbulkan ketegaran hati yang luar biasa. Ketegaran hati untuk terus berdiri tegar dalam pendirian, melihat mereka yang ternyata bisa lebih tegar daripada kita.
Saya punya cerita untuk hal ini. Salah seorang anak bernama Ganis suatu hari mengatakan "Aku wis ra duwe Ibu", padahal ibunya nyata ada dan dalam keadaan yang gila..sekarang entah kemana perginya ibunya itu. Tapi satu hal yang membuat saya tersentuh adalah ketika Ganis suatu kali berbicara banyak ke saya tentang bagaimana dia sebenarnya hidup dalam bayang-banyang kerinduan. Tapi, dia selalu mencoba untuk bangkit dan dengan bantuan teman-temannya dia tetap bisa tegar menganggap bahwa dia harus hidup, walaupun kadang iri dengan teman-teman lain. Begitu juga Sita yang selalu tersenyum menyambut tangan saya untuk bermain, walaupun kadang dia menangis karna banyak temannya yang tidak suka dengan penampilan dia yang kumal.
Teman, saya belajar banyak hal tentang hidup dari mereka. Saya merasa belum mengalami apapun ketika banyak cerita mereka yang benar-benar sangat menginspirasi hidup saya. Teman, satu hal yang saya yakin adalah senyuman mereka yang selama ini menegarkan hati saya.
Zendy: Mbencekno Rek







Hai Zendy Tedja Wijaya. Terimakasih telah menjadi partner saya selama beberapa hari ini. Hahahaha.....Sebelumnya,,maaf kalau saya jadi partner yang kurang perhatian. Saya lupa tanggal ulang tahunmu bahkan,,eh,,bukan lupa..tepatnya belum pernah tahu. Hahaha. Semalam, saya kumpulkan beberapa ucapan dari para finalis, ya gak lengkap sih, tapi nanti coba dilengkapi ya kalau sudah ada yang bales lagi.
Kalau dari saya sih sebenernya bingung juga mau mengucapkan apa dan bagaimana. Kalau temen-temen bohlam mungkin sudah memberi surprise, sekarang saya cuma ngasih seperti ini saja..maaf ya kalau cuma sederhana. Hahahaha...maturnuwun sudah menjadi partner baru, sudah menyeret saya ke dalam festival yang penuh dengan intrik ini. Saya selalu ingat kata-kata medhok "Mbencekn" that was your brand. Hahaha..kamu membenci semua hal yang ribett..tapi di lain sisi kata mbencekno itu juga menjadi satu bahan kami untuk menertawakan tingkahmu sing kadang-kadang yo mbencekno -_-" Terimakasih sudah mau nemenin tidur 3 malam, hahaha. Selamat ulang tahun Zendy, semoga dilancarkan jodohmu. Hahahaha...semoga semua yang didoakan jadi kenyataan..semoga tahun depan kita bisa melaju lagi di festival serupa. Selamat ulang tahun, selamat menjadi pribadi yang dewasa, selamat memiliki harapan baru yang lebih mulia dan selamat menempuh hari-hari yang selalu penuh dengan ide-ide yang kreatif. Ingat Acer, ingat inspiration to be yourself and inspiration to be a part of the world. You're one of the world best, you have to sure of that. THen you'll be someone Great like Steve Job had been. Congratulation Zend..semoga selalu menginspirasi banyak orang :))Don't be a mbencekno person..tapi tetap jadi orang yang selalu "mbencekno" hal-hal yang ribet dan rumit. (3 November 2011, telat 2 hari)
Mendaki Lagi, Naik Hingga di Pos 3

Mendaki Gunung kembali. Ya, walaupun saya berikhtiar untuk berhenti mendaki gunung Lawu, Merapi ataupun Merbabu..sekali lagi bukan berarti saya menghindari pendakian saya dalam hidup ini. Pendakian yang begitu luas,,bahkan yang paling menguras tenaga. Banyak waktu yang mungkin terlewatkan untuk sekedar berbasa basi dalam pendakian ini. Saya berterimakasih sekali lagi untuk nenek saya, yang walaupun masih selalu menyisipkan rindu dalam setiap bekalnya, tetapi ternyata mampu memberikan bekal terbaik untuk saya. Kalau dikatakan terbaik, saya yakin ini terbaik dari kemampuan saya saat ini dan tidak ada yang bisa memaksa kami untuk mencapai puncak tertinggi ketika saya baru pertama kali terjun dalam festival periklanan ini. Kami telah berusaha, sejatinya usaha kami pun diiringi dengan restu dan bantuan semua rekan yang bekerjasama dengan kami, baik Temankecil, Bohlam maupun sahabat-sahabat kami diluar itu.
Kami hadir dalam ajang ini murni untuk mencoba masuk dan terjun, bukan untuk menang. Jujur, kami masih sedikit buta dengan dunia festival. Jujur kami akui banyak pengentry yang lebih punya banyak kreativitas daripada yang kami miliki. Tapi satu hal yang pasti, kami sudah melaju, walaupun dianggap sebagai kuda hitam tapi kami harus berani bertanggungjawab karena kami telah berani melaju. Bukan sebuah perutusan yang ringan ketika ternyata kami tiba di lokasi karantina, tapi sekali lagi kami harus tetap melaju. Melihat mereka yang berumur lebih matang, pengalaman festival yang sudah banyak diikuti, kami merasa gagap untuk mencoba menyaingi. Tapi, saya ya tetap saya, bercanda tanpa batas, mencoba bergalau bersama dan menyelami kebiasaan bersama ya tetap kami lakoni. Kami hadir bukan untuk bersaing, kami hadir bukan untuk membesarkan diri di tengah teman-teman yang belum lolos. Kami hadir awalnya hanya untuk menjadi pemanis optimisme teman-teman UAJY yang selalu mempertahankan gelar juara. Hal itu yang membuat kami, khususnya saya terbebani sebenarnya.
Setelah melihat medan tempur, jujur kembali, saya merasa tak punya kendali untuk memenangkan kompetisi ini. Saya merasa kami hanya anak muda, yang jauh dari pengalaman, kami hanya berbekal teori dan mencoba untuk melaju di dunia yang penuh praktisi. Sekali lagi, sudah maju, tak boleh mundur. Di hari pertama mendapat kabar bahwa kami harus mengerjakan Acer, kami tak punya nyali untuk sekedar berbicara kami punya optimisme. Kami garap brief dengan tekanan yang saya yakin asalnya dari pesimisme dan ketakutan kami. Hahaha, dan bukan Sidhi namanya ketika tidak berani merubah konsep 12 jam sebelum presentasi. Dengan bantuan perangkat problematika dan insights yang kami dapatkan, kami menyusun dalam sebuah presentasi yang kami sepakati, sekali bukan untuk menang..lebih pada sharing apa yang kami dapatkan.
Tak disangka kami menang. Tapi kalian tahukah? Medali Bronze hanyalah sebuah pemanis untuk semua perjalanan kami. Hadiah dari tim Pinasthika yang sebenarnya adalah beribu-ribu pengalaman tak ternilai, disamping kasur empuk, makanan enak dan juga hadiah tambahan tidur bersama partner perempuan saya :)). Hadiah sebnarnya bukanlah sorakan bangga dari Universitas, bukan juga dari kerabat, bukan juga ucapan selamat dari semuanya. Hadiah sebenarnya adalah sebuah karya yang dihasilkan selama tiga hari, dan hal itu lah yang seharusnya membuat mereka bangga. Kami berproses bersama dengan mereka, entah yang kami temui setiap hari maupun yang hanya kami temui dalam waktu 5 hari karantina.
Ya, kami datang awalnya bukan untuk menang. Kami datang untuk belajar. Kami datang sebagai seorang yang masih polos dan mencoba terjun ke dalam lautan pengalaman. Kami beruntung bertemu Babe Djito (maaf ya Be, saya punya pengalaman yang tidak enak dengan kata "Ayah"..jadinya saya merasa lebih akrab dengan kata Babe), beruntung bertemu Mbak Nisa, Ipeh, Rendra, Matahari, Angga, Reisha, Moe, Putu, Fian, Ruru, Vicky, para pembicara, para volunteer dan segenap panitia. Kami juga beruntung mengenal teman-teman ultrainspirasi dari Bohlam, Temankecil maupun sahabat-sahabat lain. Kami juga berterimakash untuk bung Gan, Ko Yul, mbak Tit, Natal, Mas Dikol. Unlimited inspiration yang sempat juga membuat kami takut untuk pulang Babe Agus Putranto.
Sebenarnya inilah penghargaan untuk proses. Sekali lagi hanya simbolisasi yang akan cepat dilupakan. Hadiah utama yang kami miliki adalah kalian semua yang selalu menginspirasi kami. Saya berterimakasih khusus untuk teman-teman saya dalam penadkian gunung. Saya tidak berhenti di pos dua pertama, saya mencoba meraih puncak bersama kalian. Kalian yang mendorong saya maju ke atas, hingga akhirnya saya bisa menarik kalian naik dan mencapai puncak yang lebih tinggi. Begitu seterusnya, kalian dan saya saling mengangkat. Terimakasih semuanya. Maaf jika terlalu lebay. Kadang saya merasa periklanan adalah dunia yang terlalu praktis ditengah keinginan saya yang terlalu sosialis. Tapi saya sudah terjun di dalamnya, semoga saya bisa menggabungkan idealisme saya dengan keinginan saya untuk terus melangkah.
Sekali lagi treimakasih semuanya. :)) You're the Champion, You're one of the best that the world had.
Rabu, 24 Agustus 2011
Selamat Menanti Lebaran
Ini adalah gawean yang sangat mendadak, terpikir lalu langsung eksekusi..seperti tagline biasanya, elek yo luweh sing penting gawe..hahaha..saya bikin ini untuk teman2 yang berpuasa. Katanya ketika berpuasa maka disarankan untuk berbuka dengan yang manis terlebih dahulu, nah kadang kata "manis" hanya diartikan secara fisik dan biologis untuk kepentingan lambung dan kesehatan saja, tapi jarang dimaknai sebagai sesuatu yang harusnya bisa lebih psikis..yaitu manis secara psikologis yang digambarkan lewat senyuman. Oleh karenanya saya menggabungkan berbuka dengan manis (senyuman dan berbuka dengan yang manis (harafiah/makanan dan minuman).
Overall..selamat menanti lebaran ya teman2....
Coba Stop Motion: BELAJAR??
Hayoo..yang sering belajar cuman untuk formalitas,,malah dolanan waktu belajar biar gak dimarahin ortu atau penjaga asrama #curhat..
Senin, 08 Agustus 2011
Nasionalisme Penjaga Budaya
Ini adalah Video saya, Arya dan Bobi yang berhasil menyabet juara 2 dari 5 finalis (yang kami yakin merupakan jumlah peserta juga)di Pekom UI 2011. Bercerita tentang kehidupan Titah, orang yang mungkin tak terlalu tampak dalam kehidupan akademis, tapi berhasil memukau kami dengan tariannya. Video ini sudah diupload di kanal ABNNews di Youtube, saya hanya ingin share kembali
selamat menikmati
selamat menikmati
Semester Pendek
Ikut SP, jadi SC FIAT ternyata cukup menyenangkan, saya bisa ikut belajar dan membuat karya..hehe..saya share saja ya karya yang baru dalam tahap belajar ini...keterangannya ada di kanal Youtube saya...
selamat menikmati..hehe
selamat menikmati..hehe
Sabtu, 16 Juli 2011
Lawu, Pendaki Gunung
Yang ini berbeda dari postingan sebelumnya. Saya ingin menceritakan bagaimana ada beberapa hal kontras yang kami temukan di Lawu, sebuah Gunung yang indah (sama dengan gunung-gunung lain). Tapi di Lawu, kami berhenti dan menginap di tempat yang penuh sampah, bahkan burung Paruh Gading pun makan dari sampah-sampah yang ada. Tidak indah untuk dilihat, sangat kontras dengan pemandangan hijau di depan kami. Padahal sudah ada tertulis di berbagai tempat 3 prinsip pendakian gunung:
1. tidak mengambil apapun selain foto
2. tidak meninggalkan apapun selain jejak
3. tidak membunuh apapun selain waktu
Dari prinsip nomor dua kita tahu bahwa meninggalkan sampah adalah sesuatu yang tidak benar. Lawu, dengan keindahan di depan mata kami ternyata tercemar, sama halnya dengan beberapa gunung yang pernah saya daki (merbabu dan Merapi).
Hal lain adalah ketika dalam perjalanan, entah mengapa setiap bertemu kelompok lain yang mendaki akan selalu ada interaksi walaupun tidak mengenal satu sama lain. Hal ini yang berbeda dengan keadaan sehari-hari kami.
Hal yang pasti adalah Lawu, Merbabu maupun Merapi hendaknya menjadi refleksi cinta terhadap dunia, bukan lagi keegoisan untuk melihat dan menuntut keindahan dari Tuhan, Pemerintah dan orang lain tanpa melakukan aksi apa-apa. Rada gak nyambung sih antara poin satu, dua dan kesimpilan...tapi intinya menjadi pendaki Gunung bukan berarti menjadi pengamat, pelihat..tapi menjadi reaktor atas isu-isu bersama, terlebih kelestarian alam. Selamat mendaki para pendaki Gunung, saya sudah pensiun....haha
1. tidak mengambil apapun selain foto
2. tidak meninggalkan apapun selain jejak
3. tidak membunuh apapun selain waktu
Dari prinsip nomor dua kita tahu bahwa meninggalkan sampah adalah sesuatu yang tidak benar. Lawu, dengan keindahan di depan mata kami ternyata tercemar, sama halnya dengan beberapa gunung yang pernah saya daki (merbabu dan Merapi).
Hal lain adalah ketika dalam perjalanan, entah mengapa setiap bertemu kelompok lain yang mendaki akan selalu ada interaksi walaupun tidak mengenal satu sama lain. Hal ini yang berbeda dengan keadaan sehari-hari kami.
Hal yang pasti adalah Lawu, Merbabu maupun Merapi hendaknya menjadi refleksi cinta terhadap dunia, bukan lagi keegoisan untuk melihat dan menuntut keindahan dari Tuhan, Pemerintah dan orang lain tanpa melakukan aksi apa-apa. Rada gak nyambung sih antara poin satu, dua dan kesimpilan...tapi intinya menjadi pendaki Gunung bukan berarti menjadi pengamat, pelihat..tapi menjadi reaktor atas isu-isu bersama, terlebih kelestarian alam. Selamat mendaki para pendaki Gunung, saya sudah pensiun....haha
Belum Tiba di Golgota
Tanggal 15-16 Juli lalu saya dan 8 orang lainnya mendaki gunung Lawu, dengan ekspektasi dan keyakinan akan mencapai puncaknya. Saya dan 7 teman laki-laki berangkat dari Jogja ke Solo dengan kereta Prameks, selanjutnya di Terminal Tirta, Solo kami disusul oleh Yulia. Dari terminal menuju Cemara Sewu kami naik mobil carteran. Untuk perjalanan Jogja-Solo hitung saja kami menghabiskan 31ribu rupiah (prameks 9rb dan carter mobil 22rb)/orang. Tiba di Cemara Sewu kami klekeran dari jam 3 hingga jam 6. Tak usah banyak kata, dengan semangat kami mendaki gunung diawali dengan pemanasan badan. Berat memang ketika memikirkan mana pos 1, kok belum kelihatan?, ditambah lagi ketika kami sudah tiba di pos satu dan melanjutkan perjalanan mana pos dua? kok jauh banget rasanya?. Hal itu mungkin yang terus menerus ditanyakan oleh teman-teman dalam perjalanan, ya hanya sebuah perkiraan saja. Tapi overall saya menikmati perjalanan menuju Golgota itu, ditemani cahaya bulan purnama. Perjalanan yang mendaki, berbatu, dengan beban masing-masing entah mental ataupun fisik. Di tengah jalan teman-teman mulai sakit satu per satu, dengan beranggapan bahwa kami belum menemukan pos 2 (lebih tepatnya belum melihat) dan melihat persiapan fisik yang belum cukup untuk mendaki hingga puncak maka kami putuskan untuk menghentikan perjalanan dan mulai nge-camp di pos sebelumnya, yang baru kami ketahui esok paginya bahwa itu adalah pos 2, 2,6km dari Cemara Sewu dan 1,8 km dari puncak. Ya, intinya di malam itu kami menjalin keakraban dengan dua panci mie dan minum seadanya.
Esok paginya, kami *setidaknya saya* berharap melihat sunrise, dan kami baru sadar di timur kami adalah tebing yang tinggi yang berarti pandangan kami untuk melihat sunrise tertutup. Dalam hati kami juga bersyukur tebing ini pula yang menghalangi angin menerpa kami. Dengan penasaran akhirnya saya, Otonk, Warih dan Lai mencoba untuk mendaki selama 15 menit, merekan beberapa keindahan yang sekiranya dapat kami tangkap sedikit lebih ke atas dari tempat camp kami. Cukup indah, tapi cukup membuat kami penasaran untuk menengok Karya Agung yang ada di puncak.
Jam 9 kami persiapan turun, menikmati pemandangan yang belum sempat kami nikmati di malam yang terang (tapi tidak cukup terang untuk mengukir pemandangan di tiap mata kami). Tiba di basecamp saya sangat bersyukur melihat dan merekam keindahan yang tidak ada lagi baik di rumah saya di desa ataupun domisili di Jogja. Dan akhirnya, saya belum sampai di Golgota. Golgota masih jauh, memikul beban yang jauh lebih berat dari apa yang kami bebankan kemarin. Lawu, angan untuk mencoba perjalanan menuju ke Golgota yang bisa dibilang sukses hingga di pertengahan jalan. Haha..di tengah perjalanan saya ingat janji saya Merapi adalah pendakian terakhir. Mungkin mencoba perjalanan ke Golgota tidak harius selalu mendaki Gunung. Selamat berekspedisi kembali teman-teman. Saya mencari ekspedisi lain untuk memikul beban ke Golgota. Terimakasih untuk Ndhul, hehe..dua kali kita tidak sampai puncak..saya belum menemukan ini tanda apa, Haha..
NB: Video di atas adalah gambaran keindahan dari lebih dari setengah Lawu. Bayangkan indahnya. Jika dibandingkan dengan Golgota, bayangkan indahnya ketika di Golgota manusia diampuni....haha....
Rabu, 29 Juni 2011
Plang Penangkal Uang
Tulisan ini sebenarnya muncul dari keprihatinan saya melihat plang-plang yang menurut saya tidak sesuai bertuliskan "Peduli tidak sama dengan memberi", berawal dari situ, saya mencoba melihat alternatif yang lebih soluutif dan konkrit daripada sekedar persuasi dalam bentuk plang tersebut, selamat menikmati tugas Filetkom saya ini.
LATAR BELAKANG
Yogyakarta dalam berbagai artikel (krjogja.com 13 April 2010) diberitakan sebagai kota dengan sampah visual yang besar. Sampah-sampah visual ini, dalam salah satu artikel berjudul Reklame Semrawut 3: Kucing-kucingan dengan Satpol PP, didapatkan bukan hanya dari reklame-reklame yang sifatnya legal. Sampah-sampah visual yang ada di Yogyakarta ternyata juga berasal dari akumulasi reklame-reklame baik yang berukuran kecil (hanya ditegakkan oleh banbu), sedang hingga besar yang dipasang dengan ijin maupun tidak dengan ijin dari pemerintah daerah. Masalah reklame baik dalam segi penataan maupun dalam segi kuantitasnya yang terus bertambah merpakan hal rumit yang dihadapi oleh pemerintah daerah di Provinsi DI Yogyakarta. Dalam rangkaian artikel tentang kesemrawutan reklame di Yogyakarta berjudul Antara Estetika dan Penerimaan Pajak juga Abaikan Estetika demi Bisnis, Krjogja.com mencoba mengungkapkan masalah pelik yang menimpa Yogyakarta terkait penerimaan pajak dari reklame yang tidak tertata sekaligus juga protes disana sini yang banyak bermunculan sebagai akibat penempatan papan reklame yang semrawut dan tidak memperhatikan ruang-ruang bagi kemanusiaan (seni sebagai sesuatu yang humanis).
Hal-hal tersebut di atas merupakan salah satu masalah yang dihadapi kota juga Provinsi Yogyakarta terkait dengan keberadaan banyaknya reklame sekaligus penataan reklame itu sendiri. Reklame sebagai sebuah media komunikasi ternyata menimbulkan masalah terhadap tata ruang, jarak pandang sekaligus ketimpangan antara pengiklan yang berbisnis dan juga pengguna jalan sebagai audiens reklame tersebut. Akan tetapi, di Yogyakarta ternyata muncul beberapa reklame kecil yang berasal dari pemerintah kota yang bertuliskan “Peduli tidak sama dengan Memberi Uang”. Reklame ini sering kita lihat di persimpangan-persimpangan jalan Kota Yogyakarta dengan tujuan untuk membuka mata para pengguna jalan untuk menyalurkan bantuan bukan dengan memberi receh langsung pada pengemis jalanan, melainkan melalui lembaga-lembaga kemasyarakatan atau keagamaan. Hal ini seringkali menjadi kontradiksi tersendiri dimana pilihan yang ditawarkan oleh pemerintah melalui reklame tersebut ternyata tidak dihirauikan oleh setidaknya 12 dari 20 pemilik kendaraan roda empat yang kebetulan saya temui di pertigaan UKDW, perempatan tugu, pertigaan UIN Sunan Kalijaga tanggal 12 Mei 2011. Hal tersebut mengindikasikan bahwa salah satu bentuk reklame yaitu reklame Iklan Layanan Masyarakat ternyata tidak memberi banyak pengaruh terhadap keberlangsungan aktivitas para pengemis di daerah Yogyakarta.
Munculnya papan reklame ini sendiri juga mengindikasikan bahwa pemerintah daerah mulai meminta kontribusi masyarakat Yogyakarta atau orang-orang kebetulan sedang melintas Kota Yogyakarta untuk mengurangi jumlah pengemis dengan mengurangi pula zona nyaman yang mereka dapat dari pemberian uang tersebut. Mengapa pemerintah sampai mengeluarkan plang (reklame) tersebut? Jawabannya adalah memang masalah kemiskinan dan gelandangan di berbagai sudut jalanan kota Yogyakarta adalah hal yang sudah sangat sulit diantisipasi, sehingga penggunaan reklame (yang bagi 3 dari 5 pengguna jalan di pertigaan UKDW, 12 Mei 2011 merupakan usaha yang tidak efektif) merupakkan solusi untuk memotong rantai kenyamanan yang diberikan pengguna jalan terhadap para pengemis tersebut.
Dalam berbagai kesempatan saya mencoba mencari tanggapan pengguna sosial media, mendukung, menolak atau bahkan acuh terhadap keberadaan reklame ini. Akan tetapi ternyata tidak saya temui satupun pengguna twitter atau facebook yang share masalah ini. Hal ini membuat saya kemudian browsing beberapa blog dan juga situs-situs citizen journalism seperti kompasiana untuk menemukan tanggapan beberapa blogger terhadap fenomena ini. Kemudian dari 3 blog yang saya temukan dengan kata kunci “Peduli tidak sama dengan memberi uang”, yaitu blog.umy.ac.id/choirul, blog.umy.ac.id/nangim, dan purwatining.multiply.com, berpendapat bahwa keberadaan papan reklame tersebut sangatlah penting untuk memangkas kelestarian para pengemis jalanan di Kota maupun Provinsi Yogyakarta. Dengan menggunakan asumsi bahwa dengan plang itu para pengendara sadar untuk memberikan sebagian uangnya kepada lembaga-lembaga pendidikan atau sosial dan keagamaan guna membantu pengemis jalanan, mereka mengiyakan tulisan yang terpampang dalam plang tersebut. Choirul dalam blognya menuliskan pula bahwa memberikan langsung uang kepada para pengemis bisa jadi merupakan sebuah cara melestarikan pemerasan oleh para penadah yang berada di balik pengemis-pengemis tersebut.
Untuk memberi gambaran saja terhadap pentingnya plang ini sebagai pemangkas kelestarian pengemis jalanan, maka kita membutuhkan data mengenai angka kemiskinan di Yogyakarta dan juga posisi strategis Kota Yogyakarta sebagai sumber keuangan bagi para pengemis jalanan yang menjadi faktor utama penyebab tumbuh suburnya pengemis di Yogyakarta. Krjogja.com menuliskan artikel berjudul Angka Kemiskinan DIY Masih Tinggi. Artikel ini sebagian besar mengungkapkan bahwa penduduk miskin DIY mencapai 400-500 ribu jiwa. Jumlah tersebut sama dengan 16 persen total penduduk Indonesia, dimana jumlah rumah tangga sasaran (RTS) mencapai 215.032 kepala keluarga. Dari kumham-jogja.info dalam abstrak penelitian oleh Septyarto Priyandono, SH berjudul Perlukah Perda Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis dituliskan bahwa citra Yogyakarta sebagai daerah yang mengedepankan pariwisata bisa tercoreng dengan masih banyaknya gelandangan atau pengemis yang berada di jalanan-jalanan Yogyakarta. Dituliskan lebih lanjut tentang regulasi yang membenarkan razia oleh Satpol PP bagi para pengemis jalanan sebagai salah satu upaya untuk mengembalikan citra Yogyakarta sebagai kota wisata tersebut. Hal ini semakin diperumit dengan citra Yogyakarta sebagai kota berkah oleh pengemis-pengemis yang berasal dari Magelang dan Klaten, yang dibuktikan dengan artikel dari jurnas.com berjudul Pengemis Akan Serbu Yogyakarta. Dituliskan dalam artikel ini bahwa Yogyakarta merupakan kota berkah bagi pngemis menyambut hari raya, sehingga kemungkinan penumpukkan pengemis bisa saja terjadi setiap saat, bahkan Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta pun dikatakan kewalahan menghadapi fenomena sosial yang terjadi di Yogyakrta ini.
Hal-hal tersebut memberi gambaran lebih tentang reklame bertuliskan “Peduli tidak sama dengan memberi uang” baik dari fungsionalitasnya sebagai media persuasi juga sebagai media untuk mengatasi masalah sosial yang sangat pelik yang dialami oleh Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh karena itu, penulis ingin meneliti lebih lanjut fungsi-fungsi sosial yang sebenarnya bisa dijalankan oleh sebuah reklame sebagai media persuasi, sekaligus melihat lebih lanjut tentang etika yang seharusnya menjadi perhatian lebih para pengiklan (dalam hal ini Iklan Layanan Masyarakat) dalam komunikasi yang mereka jalankan melalui reklame yang terpampang di jalanan. Karya tulis ini juga akan membahas hubungan reklame iklan layanan masyarakat dengan kepentingan-kepentingan pembentukan citra seperti yang menjadi perhatian dalam beberapa paragraf sebelumnya, masalah keadilan yang menjadi tanggung jawab pula pengiklan serta membahas kemungkinan-kemungkinan komunikasi yang lebih efektif dan adil untuk mengatasi masalah sosial yang telah diungkapkan sebelumnya.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa makna Plang “Peduli tidak sama dengan memberi uang”?
2. Bagaimana pengaruh plang tersebut sebagai media persuasi (ditinjau dari teori Elaboration Likelihood Models)?
3. Bagaimana etika komunikasi diwujudkan dalam plang tersebut, terkait dengan pengentasan masalah sosial di Yogyakarta?
TUJUAN
1. Mengetahui makna Plang “Peduli tidak sama dengan memberi uang”.
2. Mengetahui pengaruh plang tersebut sebagai media persuasi (ditinjau dari teori Elaboration Likelihood Models).
3. Mengetahui penerapan etika komunikasi oleh (pembuat) Plang tersebut, terkait dengan pengentasan masalah sosial (pengemis) di Yogyakarta.
MANFAAT
Karya tulis ini diharapkan mampu member pandangan lain tentang bagaimana seharusnya penggunaan reklame sebagai media persuasi ditinjau dari etika komunikasi dalam pengentasan masalah sosial (pengemis) di Yogyakarta, sehingga mampu memunculkan solusi komunikasi yang lebih efektif di kemudian hari.
KERANGKA KONSEP
Reklame dan Fungsinya:
Untuk menjelaskan tentang reklame dan fungsinya, saya akan menggunakan konsep-konsep komunikasi melalui iklan. Iklan sendiri menurut Belch dan Belch (2009: 18) merupakan komunikasi berbayar kepada banyak orang melalui media-media iklan. Belch dalam bukunya tidak hanya menyoroti penggunaan media untuk beriklan, tapi lebih dari itu sebagai media promosi yang menyokong kegiatan periklanan itu secara terus menerus. Iklan sendiri dikatakan Belch (2009:19) memiliki daya persuasi untuk mengubah kognisi audiensnya sehingga diharapkan dapat berlanjut hingga tingkat perilaku audiensnya. Definisi iklan ini sangat penting dalam karya tulis ilmiah ini untuk menjelaskan fungsi sebenarnya kata-kata “Peduli tidak sama dengan memberi uang” yang menjadi body text dari iklan layanan masyarakat yang dikeluarkan oleh Dinas Sosial.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Belch bahwa terdapat berbagai macam jenis iklan, yaitu iklan produk (komersil) maupun iklan layanan masyarakat. Keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu mempersuasi. Perbedaan yang ada antara dua jenis iklan ini adalah isi dari iklan dan juga keberadaan pesan iklan. Isi dari iklan produk tentu saja adalah produk itu sendiri dan pesan iklan yang ada juga menghimbau agar audiens mulai memerhatikan produk, walaupun terkadang ada pula iklan produk yang menggunakan iklan layanan masyarakat sebagai bagian dari program company social responsibility. Sedangkan iklan layanan masyarakat merupakan iklan yang berusaha mempersuasi audiensnya untuk melakukan hal yang baik (suatu hal yang relatif, tergantung pada pengiklan) bagi kehidupan bersama ataupun kesejahteraan masing-masing individu.
Lalu, dalam beriklan terdapat berbagai macam media yang dapat digunakan untuk menyebarkan pesan iklan tersebut. Salah satu media yang bisa digunakan adalah outdoor media (Belch dan Belch, 2009: 427). Salah satu bagian dari media luar ruang ini adalah billboards yang bisa berupa buletin, display besar, mural dinding, poster keras, poster yang disusun dalam satu tempat. Reklame merupakan bagian dari poster keras. Sehingga dari pengetahuan ini, penulis dapat mengoperasionalisasikan reklame bertuliskan “Peduli tidak sama dengan memberi” sebagai salah satu komunikasi yang ditampilkan dalam media luar ruang, menyampaikan pesan yang merupakan bagian dari proses komunikasi.
Etika Komunikasi:
Etika Komunikasi adalah bagian dari etika global, sehingga untuk menjelaskan etika komunkasi perlu juga ditambahkan tentang etika global yang menjadi acuan dalam setiap etika. Etika global (catatan pribadi dari penjelasan Joseph J. Darmawan di kelas Filsafat dan Etika Komunikasi) merupakan sebuah konsensus fundamental tentang nilai-nilai yang mengikat standar-standar yang tidak dapat diganggu gugat dan dilakukan melalui sikap moral personal. Etika global adalah sebuah etika yang sifatnya luas yang kemudian diturunkan dalam etika-etika yang kemudian menjadi bagian hidup seorang individu. Etika global dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: etika yang sifatnya mikro, meso dan makro.
Etika mikro merupakan etika yang berada pada tataran individual. Etika ini merupakan implementasi dari kode etik profesional ataupun nilai-nilai yang dianut individu baik yang didapat dari keluarga, agama, etnik, maupun komunitas. Sedangkan etika tingkat meso mencakup kelompok yang lebih luas. Etika ini meliputi tingkatan bisnis atau negara. Sedangkan etika tingkat makro adalah etika yang dianut secara kolektif. Etika ini dikaitkan dengan masalah-maslah global yang masih membutuhkan perhatian lebih dari masyarakat global pula. Contoh dari etika global adalah etika mengenai biodiversitas, pertumbuhan sosial, polusi udara, dll.
Melihat tingkatan etika tersebut sebagai sesuatu yang masih abstrak, maka muncul konsep moralitas yang mengacu pada etika. Moralitas dilihat sebagai usaha untuk membimbing tindakan seseorang dengan akal budi mereka. Moralitas menuntun manusia pada pilihan untuk melihat sesuatu sebagai yang benar atau yang salah. Dengan demikian, moralitas sebagai onsep yang saling berhubungan dengan etika mampu menyeimbangkan kepentingan setiap orang dalam perbuatannya. Hal tersebut penting karena moralitas bukan merupakan konsep individualis, tapi lebih merupakan konsep kolektif yang diimplmentasikan dalam kehidupan bersama. Hal ini berimplikasi pada tuntutan fundamental yang seharusnya dipenuhi etika global, yaitu memperlakukan manusia secara manusiawi. Hal ini selaras dengan pembentukan moral yang menuntut pengembalian mnusia pada dasarnya sebagai manusia yang memiliki akal.
Untuk memenuhi kebutuhan fundamental dalam pembentukan moralitas dan etika global, maka disepakati empat prinsip yang mendukung teraplikasinya etika global dalam dunia kehidupan. Empat prinsip dasar etika global tersebut adalah:
1. Komitmen pada budaya non kekerasan dan hormat pada kehidupan.
2. Komitmen pada budaya solidaritas dan tata ekonomi yang adil.
3. Komitmen pada budaya toleransi dan hidup yang tulus.
4. Komitmen pada budaya kesejahteraan hak dan kerjasama antara perempuan dan laki-laki.
Dalam operasionalisasi terhadap fenomena reklame “Peduli tidak sama dengan memberi uang”, maka etika yang digunakan tentu saja pada tataran meso. Hal ini digunakan untuk mengkaji peraturan-peraturan pemerintah daerah terkait dengan keberadaan pengemis dan gelandangan yang coba dikomunikasikan dalam bentuk yang lebih halus dalam papan reklame tersebut. Prinsip dasar etika global yang tampak pada papan reklame ini adalah komitmen pada budaya solidaritas dan tata ekonomi yang adil. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh bagaimana komunikasi yang disampaikan melalui reklame tersebut berpengaruh pada keadilan tata ekonomi para pengemis.
Haryatmoko dalam bukunya (2007:45) menambahkan tiga dimensi dalam etika komunikasi. Dimensi yang pertama adalah aksi komunkasi. Aspek etis yang ditunjukkan dalam dimensi ini ialah pada kehendak baik untuk bertanggung jawab sesuai dengan etika tingkat mikro yang dianut aktor komunikasi. Dalam hal papan reklame tentu saja aksi komunikasi ini menjadi sangat penting untuk melihat lebih jauh tanggung jawab yang seharusnya diemban oleh pemerintah (Dinas Sosial) terkait munculnya reklame-reklame yang mempersuasi seseorang untuk tidak memberikan uang pada pengemis di jalanan.
Dimensi yang kedua adalah sarana (Haryatmoko, 2007:47) yang diwujudkan melalui undang-undang ataupun hukum. Dimensi ini, dijelaskan lebih lanjut, meliputi semua bentuk regulasi oleh penguasa publik dan struktur sosial (hubungan kekuasan yang mempengaruhi produksi informasi). Sedangkan dimensi etika komunikasi ketiga yang diungkapakn oleh Haryatmoko (50) adalah jaminan terhadap kebebasan informasi. Dimensi-dimensi ini secara garis besar diungkapkan dalam praktek-praktek jurnalisme, akan tetapi dalam hal iklan (reklame) dapat diambil prinsip-prinsip struktur sosial dan juga aksi sosial yang memuat tanggung jawab pemerintah sebagai komunikator dalam reklame tersebut, sekaligustanggung jawab pemerintah dalam penyatuan aspek-aspek sosial dalam pembuatan regulasi sehingga regulasi yang dibuat merupakan proses komunikasi yang didapat bukan dari salah satu pihak saja.
Untuk mengidentifikasi lebih lanjut mengenai pilihan yang ditawarkan melalui reklame ini, maka penting untuk memahami pencitraan yang diungkapkan oleh Haryatmoko (2007: 32). Haryatmoko mengutip pendapat S. Charles mengenai pengaruh media logika. Media yang semakin menyebar membentuk masyarakat ringan yang tidak lagi memaksakan norma lewat perintah, tetapi melalui pilihan dan rayuan. Hal ini juga penulis dapatkan lewat mata kuliah Komunikasi Persuasi yang menekankan pada pilihan, bukan pada paksaan. Dijelaskan pula oleh haryatmoko tentang keprihatinan utama media adalah keuntungan dengan hiasan pernik idealisme manusia. Dalam kasus reklame ini, tentu saja banyak kepentingan yang diemban oleh dinas sosial sebagai komunikator. Haryatmoko mengutip empat fase pencitraan J. Baudrillard:
1. Representasi citra sebagai suatu realitas.
2. Ideologi di mana citramenyembunyikan dan memberi gambar yang salah akan realitas.
3. Citra menyembunyikan bahwa tidak ada realitas.
4. Citra tidak ada hubungan sama sekali dengan realitas apapun.
Dengan mengetahui konsep-konsep citra tersebut, nantinya tulisan ini akan menganalisis apakah reklame “Peduli tidak sama dengan memberi uang” merupakan salah satu bentuk pencitraan atau menuju pencitraan. Hal ini akan ditinjau lagi dari segi tangggung jawab yang menjadi bagian dari dua dimensi etika komunikasi.
Dalam tindakan komunikatif (Hardiman, 2009:32), Habermas mengungkapkan dua rasionalitas, yaitu komunikatif dan instrumental. Untuk menelaah lebih jauh tentang konsep-konsep etika yang dapat digunakan dalam analisis reklame ini, tindakan komunikatif diperlukan untuk melihat pembuatan keputusan yang benar dalam sebuah etika komunikasi. Dua rasionalitas yang disebutkan di atas adalah sekaligus dua konsep yang bersinggungan langsung dengan sistem dan juga dunia kehidupan. Atas dasar dua rasionalitas, hubungannya dengan negara dan pasar sebagai sistem juga hukum sebagai kontrol, Habermas (Ibid:47) juga mengungkapkan tentang prosedur komunikasi. Prosedur komunikasi yang diungkapkan ini merupakan sebuah perangkat untuk menyatukan pandangan melalui sebuah komunikasi untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan sosial antara sistem dan masyarakat.Habermas juga menjelaskan bahwa dalam masalaha-masalah problematis berikut norma-norma yang harus disepakati, perlu adanya prasyarat-prasyarat komunikasi. Prasyarat tersebut dijelaskan Habermas sebagai idealisasi komunikatif. Hal ini mengacu bukan saja pada proses komunkasi yang ideal, melainkan pada aturan-aturan komunikasi yang ideal pula yang diformalisasikan dari proses komunikasi yang ideal tersebut. Padatnya, diskursus praktis sebagai perwujudan idealisasi komunkatif ini seharusnya bersifat inklusif, egaliter dan bebas dominasi.
Dengan menggunakan konsp etika komunikasi, reklame “Peduli tidak sama dengan memberi uang” akan bisa ditelaah bukan hanya sebagai persuasi dari pemerintah. Analisis reklame ini tidak hanya terbatas pada tingkat kesuksesan komunikasi yang coba dijalankan oleh pemerintah (Dinas Sosial) Daerah Istimewa Yogyakarta, melainkan menilik lebih lanjut bagaimana komunikasi tersebut memuat tanggung jawab dan juga kepentingan sebagai hasil kesepakatan bersama antara sistem dan masyarakat untuk membentuk dunia kehidupan.
PEMBAHASAN
Seperti yang telah diungkapkan dalam latar belakang masalah tentang hasil pengamatan kecil-kecilan yang penulis lakukan terkait reklame “Peduli tidak sama dengan memberi uang”. 12 dari 20 pengendara kendaraan roda empat yang kebetulan melintasi daerah UIN Sunan Kalijaga, Kampus UKDW dan juga perempatan Tugu Jogja12 Mei 2011 tempat reklame ini berada, ternyata masih memberikan receh pada para pengemis. Bahkan 3 dari 5 orang pengendara sepeda motor yang sedang melintas di daerah UKDW di tanggal yang sama mengatakan bahwa usaha ini merupakan usaha yang kurang efektif.
Melihat fenomena komunikasi tersebut, penulis tergelitik untuk menganalisis lebih lanjut pesan, indikasi alasan kemunculan papan reklame tersebut sekaligus solusi-solusi alternatif yang bisa diberikan. Hal ini sangat penting untuk melihat kembali fungsi komunikasi yang seharusnya dijalankan sebagai kesepakatan bersama untuk menanggulangi masalah sosial di Yogyakarta ini.
Pertama, dari segi pesan yang ingin disampaikan. Papan berlatar hijau tersebut di pasang di setiap persimpangan jalan yang memiliki rambu-rambu lalu lintas. Dalam keadaan seperti itu, waran hijau tentu saja diharapkan menarik mata pengguna jalan yang kebetulan sedang berhenti dan menjadi target utama pengemis yang ngetem di eprsimpangan jalan tersebut. Warna hijau di tengah kota mempnyaindikasi tanda keteduhan (pohon-pohon yang hijau). Secara tidak langsung, ketika memainkan ekspresi warna, reklame tersebut berusaha menciptakan pesan bahwa jika pilihan audiens jatuh pada sikap yang dianjurkan dalam reklame, maka akan ada keteduhan di Yogyakarta. Hal ini selaras dengan yang disampaikan oleh Septyarto Priyandono, SH dalam abstrak penelitian berjudul Perlukah Perda Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis, bahwa kota Yogyakarta yang notabene dikenal sebagai kota wisata hendaknya mengatasi masalah pengemis itu dengan segera untuk mengembalikan kota Yogyakarta sebagai kota yang nyaman kembali (kumham-jogja.info).
Reklame yang diletakkan dekat dengan lampu merah tersebut juga menggunakan waran merah pada tulisan “Peduli tidak sama dengan memberi uang” ditambah dengan simbol STOP! Pada gambar orang yang sedang memberi receh pada pengemis. Hal ini tentu menimbulkan interpretasi di benak orang-orang yang melihat bahwa peringatan yang dihaluskan (dalam bahasa Haryatmoko merupakan bagian dari pencitraan) ini berpesan bahwa jangan sekali-kali audiens memberikan uang jika ingin mencapai keteduhan (diisyaratkan dengan latar belakang hijau). Tanda merah berarti peringatan keras, akan tetapi bahasa yang dihaluskan seolah-olah memberikan pilihan bagi audiens yang melihatnya untuk memberi atau membiarkan. Di bawah tulisan tersebut terdapat tulisan kecil berwarna putih “salurkan uang receh anda pada lembaga sosial dan keagamaan” yang mengisyaratkan bahwa menyalrkan receh adalah tindakan yang mulia.
Jika ditinjau dari teori Elaboration Likelihood Models maka reklame ini (dengan tanda-tanda dan isi pesannya) termasuk dalam sebuah pesan persuasi yang ingin membentuk sikap audiens secara permanen. Reklame ini menggunakan argumentasi halus disertai solusi yang ditawarkan dan berada di tempat strategis yang bisa saja dibaca oleh audiens setiap harinya.
Dari segi makna dan persuasi, jelas reklame ini akan punya pengaruh terhadap kehidupan para pengemis di Yogyakarta. Setidaknya, reklame ini juga didukung oleh 3 blog: blog.umy.ac.id/choirul, blog.umy.ac.id/nangim, dan purwatining.multiply.com. Akan tetapi melihat indikasi alasan pengadaan reklame tersebut, terkait gelandangan dan pengemis yang menjadikan kota Yogyakarta sebagai Kota berkah di hari raya (jurnas.com) ataupun alasan ketidakmampuan Dinas Sosial untuk membendung laju pengemis yang mengarah ke jalanan Yogyakarta, maka kita juga harus melihat implikasi lebih lanjut jika reklame itu berhasil.
Septyarto Priyandono, SH menuliskan jika terjadi razia besar-besaran maka satu hal yang perlu dipersiapkan adalah koordinasi antar instansi sosial kemasyarakatan untuk menampung para pengemis. Hal ini menjadi indikasi juga bilamana reklame ini sukses mempersuasi, maka siapkah instansi-instansi sosial mengkomunikasikan dirinya agar mendapatkan bantuan seperti himbauan dalam reklame, atau setidaknya mengkomunikasikan idirinya agar dana yang diperoleh benar-benar efektif untuk mengayomi masalah sosial di Yogyakarta ini. Bu Sumini (dalam wawancara yang saya lakukan 9 Mei 2011 di Kolese Santo Ignatius, Kotabaru) selaku pengurus Yayasan Sosial Sugijopranata yang mempunyai program Perkampungan Sosial Pingit (PSP) mengatakan bahwa keadaan pengemis dan gelandangan di Yogyakarta ini tidak semudah yang dibayangkan. Bu Sumini yang sudah mengabdikan diri sejak 1984 di PSP ini mengatakan bahwa ada pola-pola masyarakat yang terus berubah, dulu para pengemis dan gelandangan di Yogyakarta adalah benar-benar orang yang tidak mampu, tetapi semakin kemari, banyak pengemis dan gelandangan yang hanya menetap sementara saja di jalan, atau bahkan lebih betah hidup di jalanan dari pada hidup di penampungan-penampungan sosial.
Bu Sumini menambahkan bahwa komunikasi yang seharusnya digencarkan bukanlah komunikasi pada pemberi bantuan, melainkan komunikasi yang intensif terhadap pengemis dan gelandangan untuk memberikan mereka pengertian. Pandangan ini muncul karena Bu Sumini merasa bahwa ancaman siksaan dari Satpol PP, seperti yang pernah dialami oleh salah seorang warga PSP, masih menjadi momok bagi para pengemis dan gelandangan. Ancaman tersebut akhirnya membentuk resistensi pengemis dan gelandangan terhadap Dinas Sosial, bahkan para pekerja sosial yang berusaha mendekati mereka.
Dari wawancara tersebut, dapat ditarik makna bahwa keberadaan institusi sosial sekarang ini pun tak lagi mampu memberikan solusi terbaik bagi para pengemis dan gelandangan di Yogyakarta. Satpol PP masih digunakan sebagai alat utama pemerintah daerah untuk menggiring para tunawisma tersebut, tanpa menyediakan akomodasi bagi keberlanjutan hidup yang memadai bagi mereka. Hal ini tentu saja sangat kontradiktif dengan usaha komunikasi persuasi yang dilakukan Dinas Sosial.
Komunikasi persuasi tersebut ternyata tidak didukung dengan sistem kerjasama institusi yang baik. Selain itu, ketika orang terpersuasi untuk tidak memberikan receh mereka, apakah lalu orang tersebut mencari informasi tentang lembaga sosial mana yang patut diberikan bantuan. Hal ini tentu saja menjadi pertanyaan besar karena persinggungan mereka seringkali hanya di jalanan, kemudian orang disibukkan dengan berbagai kegiatan bisnis, sedangkan reklame yang dipasang sendiri tidak menyediakan informasi akses cepat untuk membantu para tunawisma tanpa memberi mereka uang receh langsung. Dalam hal ini tentu saja komunikasi ini gagal untuk mempertanggungjawabkan dirinya sebagai media pemberdayaan masyarakat. Informasi yang berat sebelah, cenderung menyalahkan keberadaan para pengemis, tidak memberikan alternatif terbaik bagaimana bantuan bisa disalurkan.
Dalam tindakan komunikatifnya, Dinas Sosial sekaligus sebagai tangan pemerintah ternyata masih mengalami dilema untuk mengatasi masalah sosial ini. Akan tetapi kemudian, komunikasi yang sifatnya persuatif ini kemudian muncul sebagai salah satu solusi tanpa memperhatikan tingkat kesiapan penanganan dari institusi-institusi terkait, hal ini tentu saja hanya mendasarkan pemikirannya pada rasionalitas instrumental (dengan keinginan memutus rantai kenyamanan) tanpa rasionalitas komunikastif dimana segalanya disiapkan dengan baik.
Komitmen pada budaya soldaritas dan tata ekonomi yang adil juga merupakan salah satu prinsip yang kurang mendapat tempat. Bila saja ada link internet yang ditambahkan atau sosialisasi berkala Dinas Sosial mengenai institusi sosial dan perannya untuk meningkatkan kesejahteraan para tuna wisma tersebut, tentu saja ada keadilan yang dilakukan. Akan tetapi ketika reklame tersebut masih berupa persuasi, tanpa mempertimbangkan kembali faktor komunikasi terhadap para tuna wisma juga komunikasi solutif bagi semua elemen masyarakat, bisa saja reklame tersebut menjadi sebuah ajang pencitraan Dinas Sosial bahwa mereka peduli terhadap keberadaan para tuna wisma. Padahal sebaliknya, setidaknya 3 dari 5 orang yang ditemui di daerah UKDW masih mengatakan bahwa reklame itu hanya sekedar untuk mengusir tunawisma secara perlahan untuk mengosongkan kota Yogyakarta dari orang-orang yang dianggap “sampah masyarakat”.
Oleh karenanya solusi komunikatif yang di dapat dari hasil kerjasama antara LSM atau institusi sosial dengan sistem pemerintahan dan segenap perwakilan tunawiama sebagai bagian dari masyarakat perlu dilakukan. Aturan yang ditetapkan bersama perlu dilakukan, juga komunikasi yang lebih intensif bagi semua elemen masyarakat juga sangat urgen untuk dilakukan. Hal ini tentu saja penting untuk mendukung etika komunikasi yang tidak berat sebelah, tidak cenderung memihak salah satu pihak dengan memperhatikan prinsip tata ekonomi yang adil, juga pada penciptaan kelanjutan hidup yang lebih terencana. Dengan begitu, komunikasi yang terjadi kemudian akan menunjukkan etikanya sekaligus memberikan solusi yang komunikatif bagi kelanjutan hidup para tunawisma.
Melihat dari fungsi reklame iklan layanan masyarakat ini sekaligus melihat keberadaan reklame-reklame lainnya, maka seharusnya reklame “Peduli tidak sama dengan memberi uang” menjadi lebih komunikastif. Hal ini diperlukan karena reklame ini bukan lah reklame bisnis, yang di banyak tempat di Yogyakarta menhabiskan ruang pandang, tapi merupakan reklame sosial yang benar-benar memberi solusi. Melihat penyebarannya yang masif di beberapa persimpangan jalan, reklame ini tentu saja mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi pembentukan pikiran (oleh persuasi) para audiens.
SIKAP PENULIS
Melihat keberadaan pengemis dan kontradiksi yang terjadi dalam komunikasi yang disampaikan Dinas Sosial melalui reklame “Peduli tidak sama dengan memberi”, maka ada beberapa hal yang akan dilakukan penulis:
1. Tidak serta merta menolak memberikan uang pada pengemis, tetapi secara perlahan mengurangi intensitas pemberian receh. Hal ini dilakukan bukan serta merta untuk memutus rantai kenyamanan mereka, tapi memberikan alternatif lain berupa pemberian snack untuk mengganjal perut para tuna wisma.
2. Mengkomunikasikan melalui media jejaring sosial tempat-tempat sosial yang bisa dijadikan penampungan untuk para tunawisma dan juga memantapkan pilihan bagi audiens reklame tersebut untuk menjalankan himbauan “salurkan uang receh anda pada lembaga sosial dan keagamaan”. Hal ini dilakukan karena kebetulan penulis sekarang aktif dalam pendampingan masyarakat binaan di Perkampungan Sosial Pingit, YSS, pingit, Yogyakarta.
KESIMPULAN
Tindakan komunikatif yang dijalankan melalui reklame “peduli tidak sama dengan memberi uang” masih belum mencukupi etika komunikasi. Pertimbangan memutus rantai kenyamanan para tunawisma ternyata menjadi tidak seimbang ketika melihat lebih jauh solusi yang ditawarkan ketika reklame tersebut berhasil. Salah satu point penting yang belum dijalankan adalah masalah menjamin keberlangsungan hidup para tunawisma sebagai tanggung jawab komunikasi melalui reklame ini. Oleh karenanya, sistem yang ada kemudian disarankan untuk mencapai keputusan bersama guna memproduksi aturan hukum yang adil sekaligus menciptakan intensitas komunikasi yang adil pula bagi masyarakat secara luas, para tuna wisma secara spesifik.
http://www.jurnas.com/news/4675/Pengemis_akan_Serbu_Yogyakarta/30/Nusantara
http://www.kumham-jogja.info/karya-ilmiah/37-karya-ilmiah-lainnya/182-perlukah-perda-penanggulangan-gelandangan-a-pengemis
http://blog.umy.ac.id/nangim/2011/05/07/pengemis-vs-karikatif/
http://purwatining.multiply.com/journal/item/102/Peduli_tidak_sama_dengan_memberi_uang
http://blog.umy.ac.id/choirul/category/kritik/
http://www.krjogja.com/news/detail/28271/Reklame.Semrawut..5..-.Antara.Estetika.dan.Penerimaan.Pajak.html
http://www.krjogja.com/news/detail/28244/Reklame.Semrawut..3..-.Kucing-kucingan.Dengan.Satpol.PP.html
http://www.krjogja.com/news/detail/28231/Reklame.Semrawut..2..-.Abaikan.Estetika.Demi.Bisnis.html
LATAR BELAKANG
Yogyakarta dalam berbagai artikel (krjogja.com 13 April 2010) diberitakan sebagai kota dengan sampah visual yang besar. Sampah-sampah visual ini, dalam salah satu artikel berjudul Reklame Semrawut 3: Kucing-kucingan dengan Satpol PP, didapatkan bukan hanya dari reklame-reklame yang sifatnya legal. Sampah-sampah visual yang ada di Yogyakarta ternyata juga berasal dari akumulasi reklame-reklame baik yang berukuran kecil (hanya ditegakkan oleh banbu), sedang hingga besar yang dipasang dengan ijin maupun tidak dengan ijin dari pemerintah daerah. Masalah reklame baik dalam segi penataan maupun dalam segi kuantitasnya yang terus bertambah merpakan hal rumit yang dihadapi oleh pemerintah daerah di Provinsi DI Yogyakarta. Dalam rangkaian artikel tentang kesemrawutan reklame di Yogyakarta berjudul Antara Estetika dan Penerimaan Pajak juga Abaikan Estetika demi Bisnis, Krjogja.com mencoba mengungkapkan masalah pelik yang menimpa Yogyakarta terkait penerimaan pajak dari reklame yang tidak tertata sekaligus juga protes disana sini yang banyak bermunculan sebagai akibat penempatan papan reklame yang semrawut dan tidak memperhatikan ruang-ruang bagi kemanusiaan (seni sebagai sesuatu yang humanis).
Hal-hal tersebut di atas merupakan salah satu masalah yang dihadapi kota juga Provinsi Yogyakarta terkait dengan keberadaan banyaknya reklame sekaligus penataan reklame itu sendiri. Reklame sebagai sebuah media komunikasi ternyata menimbulkan masalah terhadap tata ruang, jarak pandang sekaligus ketimpangan antara pengiklan yang berbisnis dan juga pengguna jalan sebagai audiens reklame tersebut. Akan tetapi, di Yogyakarta ternyata muncul beberapa reklame kecil yang berasal dari pemerintah kota yang bertuliskan “Peduli tidak sama dengan Memberi Uang”. Reklame ini sering kita lihat di persimpangan-persimpangan jalan Kota Yogyakarta dengan tujuan untuk membuka mata para pengguna jalan untuk menyalurkan bantuan bukan dengan memberi receh langsung pada pengemis jalanan, melainkan melalui lembaga-lembaga kemasyarakatan atau keagamaan. Hal ini seringkali menjadi kontradiksi tersendiri dimana pilihan yang ditawarkan oleh pemerintah melalui reklame tersebut ternyata tidak dihirauikan oleh setidaknya 12 dari 20 pemilik kendaraan roda empat yang kebetulan saya temui di pertigaan UKDW, perempatan tugu, pertigaan UIN Sunan Kalijaga tanggal 12 Mei 2011. Hal tersebut mengindikasikan bahwa salah satu bentuk reklame yaitu reklame Iklan Layanan Masyarakat ternyata tidak memberi banyak pengaruh terhadap keberlangsungan aktivitas para pengemis di daerah Yogyakarta.
Munculnya papan reklame ini sendiri juga mengindikasikan bahwa pemerintah daerah mulai meminta kontribusi masyarakat Yogyakarta atau orang-orang kebetulan sedang melintas Kota Yogyakarta untuk mengurangi jumlah pengemis dengan mengurangi pula zona nyaman yang mereka dapat dari pemberian uang tersebut. Mengapa pemerintah sampai mengeluarkan plang (reklame) tersebut? Jawabannya adalah memang masalah kemiskinan dan gelandangan di berbagai sudut jalanan kota Yogyakarta adalah hal yang sudah sangat sulit diantisipasi, sehingga penggunaan reklame (yang bagi 3 dari 5 pengguna jalan di pertigaan UKDW, 12 Mei 2011 merupakan usaha yang tidak efektif) merupakkan solusi untuk memotong rantai kenyamanan yang diberikan pengguna jalan terhadap para pengemis tersebut.
Dalam berbagai kesempatan saya mencoba mencari tanggapan pengguna sosial media, mendukung, menolak atau bahkan acuh terhadap keberadaan reklame ini. Akan tetapi ternyata tidak saya temui satupun pengguna twitter atau facebook yang share masalah ini. Hal ini membuat saya kemudian browsing beberapa blog dan juga situs-situs citizen journalism seperti kompasiana untuk menemukan tanggapan beberapa blogger terhadap fenomena ini. Kemudian dari 3 blog yang saya temukan dengan kata kunci “Peduli tidak sama dengan memberi uang”, yaitu blog.umy.ac.id/choirul, blog.umy.ac.id/nangim, dan purwatining.multiply.com, berpendapat bahwa keberadaan papan reklame tersebut sangatlah penting untuk memangkas kelestarian para pengemis jalanan di Kota maupun Provinsi Yogyakarta. Dengan menggunakan asumsi bahwa dengan plang itu para pengendara sadar untuk memberikan sebagian uangnya kepada lembaga-lembaga pendidikan atau sosial dan keagamaan guna membantu pengemis jalanan, mereka mengiyakan tulisan yang terpampang dalam plang tersebut. Choirul dalam blognya menuliskan pula bahwa memberikan langsung uang kepada para pengemis bisa jadi merupakan sebuah cara melestarikan pemerasan oleh para penadah yang berada di balik pengemis-pengemis tersebut.
Untuk memberi gambaran saja terhadap pentingnya plang ini sebagai pemangkas kelestarian pengemis jalanan, maka kita membutuhkan data mengenai angka kemiskinan di Yogyakarta dan juga posisi strategis Kota Yogyakarta sebagai sumber keuangan bagi para pengemis jalanan yang menjadi faktor utama penyebab tumbuh suburnya pengemis di Yogyakarta. Krjogja.com menuliskan artikel berjudul Angka Kemiskinan DIY Masih Tinggi. Artikel ini sebagian besar mengungkapkan bahwa penduduk miskin DIY mencapai 400-500 ribu jiwa. Jumlah tersebut sama dengan 16 persen total penduduk Indonesia, dimana jumlah rumah tangga sasaran (RTS) mencapai 215.032 kepala keluarga. Dari kumham-jogja.info dalam abstrak penelitian oleh Septyarto Priyandono, SH berjudul Perlukah Perda Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis dituliskan bahwa citra Yogyakarta sebagai daerah yang mengedepankan pariwisata bisa tercoreng dengan masih banyaknya gelandangan atau pengemis yang berada di jalanan-jalanan Yogyakarta. Dituliskan lebih lanjut tentang regulasi yang membenarkan razia oleh Satpol PP bagi para pengemis jalanan sebagai salah satu upaya untuk mengembalikan citra Yogyakarta sebagai kota wisata tersebut. Hal ini semakin diperumit dengan citra Yogyakarta sebagai kota berkah oleh pengemis-pengemis yang berasal dari Magelang dan Klaten, yang dibuktikan dengan artikel dari jurnas.com berjudul Pengemis Akan Serbu Yogyakarta. Dituliskan dalam artikel ini bahwa Yogyakarta merupakan kota berkah bagi pngemis menyambut hari raya, sehingga kemungkinan penumpukkan pengemis bisa saja terjadi setiap saat, bahkan Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta pun dikatakan kewalahan menghadapi fenomena sosial yang terjadi di Yogyakrta ini.
Hal-hal tersebut memberi gambaran lebih tentang reklame bertuliskan “Peduli tidak sama dengan memberi uang” baik dari fungsionalitasnya sebagai media persuasi juga sebagai media untuk mengatasi masalah sosial yang sangat pelik yang dialami oleh Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh karena itu, penulis ingin meneliti lebih lanjut fungsi-fungsi sosial yang sebenarnya bisa dijalankan oleh sebuah reklame sebagai media persuasi, sekaligus melihat lebih lanjut tentang etika yang seharusnya menjadi perhatian lebih para pengiklan (dalam hal ini Iklan Layanan Masyarakat) dalam komunikasi yang mereka jalankan melalui reklame yang terpampang di jalanan. Karya tulis ini juga akan membahas hubungan reklame iklan layanan masyarakat dengan kepentingan-kepentingan pembentukan citra seperti yang menjadi perhatian dalam beberapa paragraf sebelumnya, masalah keadilan yang menjadi tanggung jawab pula pengiklan serta membahas kemungkinan-kemungkinan komunikasi yang lebih efektif dan adil untuk mengatasi masalah sosial yang telah diungkapkan sebelumnya.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa makna Plang “Peduli tidak sama dengan memberi uang”?
2. Bagaimana pengaruh plang tersebut sebagai media persuasi (ditinjau dari teori Elaboration Likelihood Models)?
3. Bagaimana etika komunikasi diwujudkan dalam plang tersebut, terkait dengan pengentasan masalah sosial di Yogyakarta?
TUJUAN
1. Mengetahui makna Plang “Peduli tidak sama dengan memberi uang”.
2. Mengetahui pengaruh plang tersebut sebagai media persuasi (ditinjau dari teori Elaboration Likelihood Models).
3. Mengetahui penerapan etika komunikasi oleh (pembuat) Plang tersebut, terkait dengan pengentasan masalah sosial (pengemis) di Yogyakarta.
MANFAAT
Karya tulis ini diharapkan mampu member pandangan lain tentang bagaimana seharusnya penggunaan reklame sebagai media persuasi ditinjau dari etika komunikasi dalam pengentasan masalah sosial (pengemis) di Yogyakarta, sehingga mampu memunculkan solusi komunikasi yang lebih efektif di kemudian hari.
KERANGKA KONSEP
Reklame dan Fungsinya:
Untuk menjelaskan tentang reklame dan fungsinya, saya akan menggunakan konsep-konsep komunikasi melalui iklan. Iklan sendiri menurut Belch dan Belch (2009: 18) merupakan komunikasi berbayar kepada banyak orang melalui media-media iklan. Belch dalam bukunya tidak hanya menyoroti penggunaan media untuk beriklan, tapi lebih dari itu sebagai media promosi yang menyokong kegiatan periklanan itu secara terus menerus. Iklan sendiri dikatakan Belch (2009:19) memiliki daya persuasi untuk mengubah kognisi audiensnya sehingga diharapkan dapat berlanjut hingga tingkat perilaku audiensnya. Definisi iklan ini sangat penting dalam karya tulis ilmiah ini untuk menjelaskan fungsi sebenarnya kata-kata “Peduli tidak sama dengan memberi uang” yang menjadi body text dari iklan layanan masyarakat yang dikeluarkan oleh Dinas Sosial.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Belch bahwa terdapat berbagai macam jenis iklan, yaitu iklan produk (komersil) maupun iklan layanan masyarakat. Keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu mempersuasi. Perbedaan yang ada antara dua jenis iklan ini adalah isi dari iklan dan juga keberadaan pesan iklan. Isi dari iklan produk tentu saja adalah produk itu sendiri dan pesan iklan yang ada juga menghimbau agar audiens mulai memerhatikan produk, walaupun terkadang ada pula iklan produk yang menggunakan iklan layanan masyarakat sebagai bagian dari program company social responsibility. Sedangkan iklan layanan masyarakat merupakan iklan yang berusaha mempersuasi audiensnya untuk melakukan hal yang baik (suatu hal yang relatif, tergantung pada pengiklan) bagi kehidupan bersama ataupun kesejahteraan masing-masing individu.
Lalu, dalam beriklan terdapat berbagai macam media yang dapat digunakan untuk menyebarkan pesan iklan tersebut. Salah satu media yang bisa digunakan adalah outdoor media (Belch dan Belch, 2009: 427). Salah satu bagian dari media luar ruang ini adalah billboards yang bisa berupa buletin, display besar, mural dinding, poster keras, poster yang disusun dalam satu tempat. Reklame merupakan bagian dari poster keras. Sehingga dari pengetahuan ini, penulis dapat mengoperasionalisasikan reklame bertuliskan “Peduli tidak sama dengan memberi” sebagai salah satu komunikasi yang ditampilkan dalam media luar ruang, menyampaikan pesan yang merupakan bagian dari proses komunikasi.
Etika Komunikasi:
Etika Komunikasi adalah bagian dari etika global, sehingga untuk menjelaskan etika komunkasi perlu juga ditambahkan tentang etika global yang menjadi acuan dalam setiap etika. Etika global (catatan pribadi dari penjelasan Joseph J. Darmawan di kelas Filsafat dan Etika Komunikasi) merupakan sebuah konsensus fundamental tentang nilai-nilai yang mengikat standar-standar yang tidak dapat diganggu gugat dan dilakukan melalui sikap moral personal. Etika global adalah sebuah etika yang sifatnya luas yang kemudian diturunkan dalam etika-etika yang kemudian menjadi bagian hidup seorang individu. Etika global dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: etika yang sifatnya mikro, meso dan makro.
Etika mikro merupakan etika yang berada pada tataran individual. Etika ini merupakan implementasi dari kode etik profesional ataupun nilai-nilai yang dianut individu baik yang didapat dari keluarga, agama, etnik, maupun komunitas. Sedangkan etika tingkat meso mencakup kelompok yang lebih luas. Etika ini meliputi tingkatan bisnis atau negara. Sedangkan etika tingkat makro adalah etika yang dianut secara kolektif. Etika ini dikaitkan dengan masalah-maslah global yang masih membutuhkan perhatian lebih dari masyarakat global pula. Contoh dari etika global adalah etika mengenai biodiversitas, pertumbuhan sosial, polusi udara, dll.
Melihat tingkatan etika tersebut sebagai sesuatu yang masih abstrak, maka muncul konsep moralitas yang mengacu pada etika. Moralitas dilihat sebagai usaha untuk membimbing tindakan seseorang dengan akal budi mereka. Moralitas menuntun manusia pada pilihan untuk melihat sesuatu sebagai yang benar atau yang salah. Dengan demikian, moralitas sebagai onsep yang saling berhubungan dengan etika mampu menyeimbangkan kepentingan setiap orang dalam perbuatannya. Hal tersebut penting karena moralitas bukan merupakan konsep individualis, tapi lebih merupakan konsep kolektif yang diimplmentasikan dalam kehidupan bersama. Hal ini berimplikasi pada tuntutan fundamental yang seharusnya dipenuhi etika global, yaitu memperlakukan manusia secara manusiawi. Hal ini selaras dengan pembentukan moral yang menuntut pengembalian mnusia pada dasarnya sebagai manusia yang memiliki akal.
Untuk memenuhi kebutuhan fundamental dalam pembentukan moralitas dan etika global, maka disepakati empat prinsip yang mendukung teraplikasinya etika global dalam dunia kehidupan. Empat prinsip dasar etika global tersebut adalah:
1. Komitmen pada budaya non kekerasan dan hormat pada kehidupan.
2. Komitmen pada budaya solidaritas dan tata ekonomi yang adil.
3. Komitmen pada budaya toleransi dan hidup yang tulus.
4. Komitmen pada budaya kesejahteraan hak dan kerjasama antara perempuan dan laki-laki.
Dalam operasionalisasi terhadap fenomena reklame “Peduli tidak sama dengan memberi uang”, maka etika yang digunakan tentu saja pada tataran meso. Hal ini digunakan untuk mengkaji peraturan-peraturan pemerintah daerah terkait dengan keberadaan pengemis dan gelandangan yang coba dikomunikasikan dalam bentuk yang lebih halus dalam papan reklame tersebut. Prinsip dasar etika global yang tampak pada papan reklame ini adalah komitmen pada budaya solidaritas dan tata ekonomi yang adil. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh bagaimana komunikasi yang disampaikan melalui reklame tersebut berpengaruh pada keadilan tata ekonomi para pengemis.
Haryatmoko dalam bukunya (2007:45) menambahkan tiga dimensi dalam etika komunikasi. Dimensi yang pertama adalah aksi komunkasi. Aspek etis yang ditunjukkan dalam dimensi ini ialah pada kehendak baik untuk bertanggung jawab sesuai dengan etika tingkat mikro yang dianut aktor komunikasi. Dalam hal papan reklame tentu saja aksi komunikasi ini menjadi sangat penting untuk melihat lebih jauh tanggung jawab yang seharusnya diemban oleh pemerintah (Dinas Sosial) terkait munculnya reklame-reklame yang mempersuasi seseorang untuk tidak memberikan uang pada pengemis di jalanan.
Dimensi yang kedua adalah sarana (Haryatmoko, 2007:47) yang diwujudkan melalui undang-undang ataupun hukum. Dimensi ini, dijelaskan lebih lanjut, meliputi semua bentuk regulasi oleh penguasa publik dan struktur sosial (hubungan kekuasan yang mempengaruhi produksi informasi). Sedangkan dimensi etika komunikasi ketiga yang diungkapakn oleh Haryatmoko (50) adalah jaminan terhadap kebebasan informasi. Dimensi-dimensi ini secara garis besar diungkapkan dalam praktek-praktek jurnalisme, akan tetapi dalam hal iklan (reklame) dapat diambil prinsip-prinsip struktur sosial dan juga aksi sosial yang memuat tanggung jawab pemerintah sebagai komunikator dalam reklame tersebut, sekaligustanggung jawab pemerintah dalam penyatuan aspek-aspek sosial dalam pembuatan regulasi sehingga regulasi yang dibuat merupakan proses komunikasi yang didapat bukan dari salah satu pihak saja.
Untuk mengidentifikasi lebih lanjut mengenai pilihan yang ditawarkan melalui reklame ini, maka penting untuk memahami pencitraan yang diungkapkan oleh Haryatmoko (2007: 32). Haryatmoko mengutip pendapat S. Charles mengenai pengaruh media logika. Media yang semakin menyebar membentuk masyarakat ringan yang tidak lagi memaksakan norma lewat perintah, tetapi melalui pilihan dan rayuan. Hal ini juga penulis dapatkan lewat mata kuliah Komunikasi Persuasi yang menekankan pada pilihan, bukan pada paksaan. Dijelaskan pula oleh haryatmoko tentang keprihatinan utama media adalah keuntungan dengan hiasan pernik idealisme manusia. Dalam kasus reklame ini, tentu saja banyak kepentingan yang diemban oleh dinas sosial sebagai komunikator. Haryatmoko mengutip empat fase pencitraan J. Baudrillard:
1. Representasi citra sebagai suatu realitas.
2. Ideologi di mana citramenyembunyikan dan memberi gambar yang salah akan realitas.
3. Citra menyembunyikan bahwa tidak ada realitas.
4. Citra tidak ada hubungan sama sekali dengan realitas apapun.
Dengan mengetahui konsep-konsep citra tersebut, nantinya tulisan ini akan menganalisis apakah reklame “Peduli tidak sama dengan memberi uang” merupakan salah satu bentuk pencitraan atau menuju pencitraan. Hal ini akan ditinjau lagi dari segi tangggung jawab yang menjadi bagian dari dua dimensi etika komunikasi.
Dalam tindakan komunikatif (Hardiman, 2009:32), Habermas mengungkapkan dua rasionalitas, yaitu komunikatif dan instrumental. Untuk menelaah lebih jauh tentang konsep-konsep etika yang dapat digunakan dalam analisis reklame ini, tindakan komunikatif diperlukan untuk melihat pembuatan keputusan yang benar dalam sebuah etika komunikasi. Dua rasionalitas yang disebutkan di atas adalah sekaligus dua konsep yang bersinggungan langsung dengan sistem dan juga dunia kehidupan. Atas dasar dua rasionalitas, hubungannya dengan negara dan pasar sebagai sistem juga hukum sebagai kontrol, Habermas (Ibid:47) juga mengungkapkan tentang prosedur komunikasi. Prosedur komunikasi yang diungkapkan ini merupakan sebuah perangkat untuk menyatukan pandangan melalui sebuah komunikasi untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan sosial antara sistem dan masyarakat.Habermas juga menjelaskan bahwa dalam masalaha-masalah problematis berikut norma-norma yang harus disepakati, perlu adanya prasyarat-prasyarat komunikasi. Prasyarat tersebut dijelaskan Habermas sebagai idealisasi komunikatif. Hal ini mengacu bukan saja pada proses komunkasi yang ideal, melainkan pada aturan-aturan komunikasi yang ideal pula yang diformalisasikan dari proses komunikasi yang ideal tersebut. Padatnya, diskursus praktis sebagai perwujudan idealisasi komunkatif ini seharusnya bersifat inklusif, egaliter dan bebas dominasi.
Dengan menggunakan konsp etika komunikasi, reklame “Peduli tidak sama dengan memberi uang” akan bisa ditelaah bukan hanya sebagai persuasi dari pemerintah. Analisis reklame ini tidak hanya terbatas pada tingkat kesuksesan komunikasi yang coba dijalankan oleh pemerintah (Dinas Sosial) Daerah Istimewa Yogyakarta, melainkan menilik lebih lanjut bagaimana komunikasi tersebut memuat tanggung jawab dan juga kepentingan sebagai hasil kesepakatan bersama antara sistem dan masyarakat untuk membentuk dunia kehidupan.
PEMBAHASAN
Seperti yang telah diungkapkan dalam latar belakang masalah tentang hasil pengamatan kecil-kecilan yang penulis lakukan terkait reklame “Peduli tidak sama dengan memberi uang”. 12 dari 20 pengendara kendaraan roda empat yang kebetulan melintasi daerah UIN Sunan Kalijaga, Kampus UKDW dan juga perempatan Tugu Jogja12 Mei 2011 tempat reklame ini berada, ternyata masih memberikan receh pada para pengemis. Bahkan 3 dari 5 orang pengendara sepeda motor yang sedang melintas di daerah UKDW di tanggal yang sama mengatakan bahwa usaha ini merupakan usaha yang kurang efektif.
Melihat fenomena komunikasi tersebut, penulis tergelitik untuk menganalisis lebih lanjut pesan, indikasi alasan kemunculan papan reklame tersebut sekaligus solusi-solusi alternatif yang bisa diberikan. Hal ini sangat penting untuk melihat kembali fungsi komunikasi yang seharusnya dijalankan sebagai kesepakatan bersama untuk menanggulangi masalah sosial di Yogyakarta ini.
Pertama, dari segi pesan yang ingin disampaikan. Papan berlatar hijau tersebut di pasang di setiap persimpangan jalan yang memiliki rambu-rambu lalu lintas. Dalam keadaan seperti itu, waran hijau tentu saja diharapkan menarik mata pengguna jalan yang kebetulan sedang berhenti dan menjadi target utama pengemis yang ngetem di eprsimpangan jalan tersebut. Warna hijau di tengah kota mempnyaindikasi tanda keteduhan (pohon-pohon yang hijau). Secara tidak langsung, ketika memainkan ekspresi warna, reklame tersebut berusaha menciptakan pesan bahwa jika pilihan audiens jatuh pada sikap yang dianjurkan dalam reklame, maka akan ada keteduhan di Yogyakarta. Hal ini selaras dengan yang disampaikan oleh Septyarto Priyandono, SH dalam abstrak penelitian berjudul Perlukah Perda Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis, bahwa kota Yogyakarta yang notabene dikenal sebagai kota wisata hendaknya mengatasi masalah pengemis itu dengan segera untuk mengembalikan kota Yogyakarta sebagai kota yang nyaman kembali (kumham-jogja.info).
Reklame yang diletakkan dekat dengan lampu merah tersebut juga menggunakan waran merah pada tulisan “Peduli tidak sama dengan memberi uang” ditambah dengan simbol STOP! Pada gambar orang yang sedang memberi receh pada pengemis. Hal ini tentu menimbulkan interpretasi di benak orang-orang yang melihat bahwa peringatan yang dihaluskan (dalam bahasa Haryatmoko merupakan bagian dari pencitraan) ini berpesan bahwa jangan sekali-kali audiens memberikan uang jika ingin mencapai keteduhan (diisyaratkan dengan latar belakang hijau). Tanda merah berarti peringatan keras, akan tetapi bahasa yang dihaluskan seolah-olah memberikan pilihan bagi audiens yang melihatnya untuk memberi atau membiarkan. Di bawah tulisan tersebut terdapat tulisan kecil berwarna putih “salurkan uang receh anda pada lembaga sosial dan keagamaan” yang mengisyaratkan bahwa menyalrkan receh adalah tindakan yang mulia.
Jika ditinjau dari teori Elaboration Likelihood Models maka reklame ini (dengan tanda-tanda dan isi pesannya) termasuk dalam sebuah pesan persuasi yang ingin membentuk sikap audiens secara permanen. Reklame ini menggunakan argumentasi halus disertai solusi yang ditawarkan dan berada di tempat strategis yang bisa saja dibaca oleh audiens setiap harinya.
Dari segi makna dan persuasi, jelas reklame ini akan punya pengaruh terhadap kehidupan para pengemis di Yogyakarta. Setidaknya, reklame ini juga didukung oleh 3 blog: blog.umy.ac.id/choirul, blog.umy.ac.id/nangim, dan purwatining.multiply.com. Akan tetapi melihat indikasi alasan pengadaan reklame tersebut, terkait gelandangan dan pengemis yang menjadikan kota Yogyakarta sebagai Kota berkah di hari raya (jurnas.com) ataupun alasan ketidakmampuan Dinas Sosial untuk membendung laju pengemis yang mengarah ke jalanan Yogyakarta, maka kita juga harus melihat implikasi lebih lanjut jika reklame itu berhasil.
Septyarto Priyandono, SH menuliskan jika terjadi razia besar-besaran maka satu hal yang perlu dipersiapkan adalah koordinasi antar instansi sosial kemasyarakatan untuk menampung para pengemis. Hal ini menjadi indikasi juga bilamana reklame ini sukses mempersuasi, maka siapkah instansi-instansi sosial mengkomunikasikan dirinya agar mendapatkan bantuan seperti himbauan dalam reklame, atau setidaknya mengkomunikasikan idirinya agar dana yang diperoleh benar-benar efektif untuk mengayomi masalah sosial di Yogyakarta ini. Bu Sumini (dalam wawancara yang saya lakukan 9 Mei 2011 di Kolese Santo Ignatius, Kotabaru) selaku pengurus Yayasan Sosial Sugijopranata yang mempunyai program Perkampungan Sosial Pingit (PSP) mengatakan bahwa keadaan pengemis dan gelandangan di Yogyakarta ini tidak semudah yang dibayangkan. Bu Sumini yang sudah mengabdikan diri sejak 1984 di PSP ini mengatakan bahwa ada pola-pola masyarakat yang terus berubah, dulu para pengemis dan gelandangan di Yogyakarta adalah benar-benar orang yang tidak mampu, tetapi semakin kemari, banyak pengemis dan gelandangan yang hanya menetap sementara saja di jalan, atau bahkan lebih betah hidup di jalanan dari pada hidup di penampungan-penampungan sosial.
Bu Sumini menambahkan bahwa komunikasi yang seharusnya digencarkan bukanlah komunikasi pada pemberi bantuan, melainkan komunikasi yang intensif terhadap pengemis dan gelandangan untuk memberikan mereka pengertian. Pandangan ini muncul karena Bu Sumini merasa bahwa ancaman siksaan dari Satpol PP, seperti yang pernah dialami oleh salah seorang warga PSP, masih menjadi momok bagi para pengemis dan gelandangan. Ancaman tersebut akhirnya membentuk resistensi pengemis dan gelandangan terhadap Dinas Sosial, bahkan para pekerja sosial yang berusaha mendekati mereka.
Dari wawancara tersebut, dapat ditarik makna bahwa keberadaan institusi sosial sekarang ini pun tak lagi mampu memberikan solusi terbaik bagi para pengemis dan gelandangan di Yogyakarta. Satpol PP masih digunakan sebagai alat utama pemerintah daerah untuk menggiring para tunawisma tersebut, tanpa menyediakan akomodasi bagi keberlanjutan hidup yang memadai bagi mereka. Hal ini tentu saja sangat kontradiktif dengan usaha komunikasi persuasi yang dilakukan Dinas Sosial.
Komunikasi persuasi tersebut ternyata tidak didukung dengan sistem kerjasama institusi yang baik. Selain itu, ketika orang terpersuasi untuk tidak memberikan receh mereka, apakah lalu orang tersebut mencari informasi tentang lembaga sosial mana yang patut diberikan bantuan. Hal ini tentu saja menjadi pertanyaan besar karena persinggungan mereka seringkali hanya di jalanan, kemudian orang disibukkan dengan berbagai kegiatan bisnis, sedangkan reklame yang dipasang sendiri tidak menyediakan informasi akses cepat untuk membantu para tunawisma tanpa memberi mereka uang receh langsung. Dalam hal ini tentu saja komunikasi ini gagal untuk mempertanggungjawabkan dirinya sebagai media pemberdayaan masyarakat. Informasi yang berat sebelah, cenderung menyalahkan keberadaan para pengemis, tidak memberikan alternatif terbaik bagaimana bantuan bisa disalurkan.
Dalam tindakan komunikatifnya, Dinas Sosial sekaligus sebagai tangan pemerintah ternyata masih mengalami dilema untuk mengatasi masalah sosial ini. Akan tetapi kemudian, komunikasi yang sifatnya persuatif ini kemudian muncul sebagai salah satu solusi tanpa memperhatikan tingkat kesiapan penanganan dari institusi-institusi terkait, hal ini tentu saja hanya mendasarkan pemikirannya pada rasionalitas instrumental (dengan keinginan memutus rantai kenyamanan) tanpa rasionalitas komunikastif dimana segalanya disiapkan dengan baik.
Komitmen pada budaya soldaritas dan tata ekonomi yang adil juga merupakan salah satu prinsip yang kurang mendapat tempat. Bila saja ada link internet yang ditambahkan atau sosialisasi berkala Dinas Sosial mengenai institusi sosial dan perannya untuk meningkatkan kesejahteraan para tuna wisma tersebut, tentu saja ada keadilan yang dilakukan. Akan tetapi ketika reklame tersebut masih berupa persuasi, tanpa mempertimbangkan kembali faktor komunikasi terhadap para tuna wisma juga komunikasi solutif bagi semua elemen masyarakat, bisa saja reklame tersebut menjadi sebuah ajang pencitraan Dinas Sosial bahwa mereka peduli terhadap keberadaan para tuna wisma. Padahal sebaliknya, setidaknya 3 dari 5 orang yang ditemui di daerah UKDW masih mengatakan bahwa reklame itu hanya sekedar untuk mengusir tunawisma secara perlahan untuk mengosongkan kota Yogyakarta dari orang-orang yang dianggap “sampah masyarakat”.
Oleh karenanya solusi komunikatif yang di dapat dari hasil kerjasama antara LSM atau institusi sosial dengan sistem pemerintahan dan segenap perwakilan tunawiama sebagai bagian dari masyarakat perlu dilakukan. Aturan yang ditetapkan bersama perlu dilakukan, juga komunikasi yang lebih intensif bagi semua elemen masyarakat juga sangat urgen untuk dilakukan. Hal ini tentu saja penting untuk mendukung etika komunikasi yang tidak berat sebelah, tidak cenderung memihak salah satu pihak dengan memperhatikan prinsip tata ekonomi yang adil, juga pada penciptaan kelanjutan hidup yang lebih terencana. Dengan begitu, komunikasi yang terjadi kemudian akan menunjukkan etikanya sekaligus memberikan solusi yang komunikatif bagi kelanjutan hidup para tunawisma.
Melihat dari fungsi reklame iklan layanan masyarakat ini sekaligus melihat keberadaan reklame-reklame lainnya, maka seharusnya reklame “Peduli tidak sama dengan memberi uang” menjadi lebih komunikastif. Hal ini diperlukan karena reklame ini bukan lah reklame bisnis, yang di banyak tempat di Yogyakarta menhabiskan ruang pandang, tapi merupakan reklame sosial yang benar-benar memberi solusi. Melihat penyebarannya yang masif di beberapa persimpangan jalan, reklame ini tentu saja mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi pembentukan pikiran (oleh persuasi) para audiens.
SIKAP PENULIS
Melihat keberadaan pengemis dan kontradiksi yang terjadi dalam komunikasi yang disampaikan Dinas Sosial melalui reklame “Peduli tidak sama dengan memberi”, maka ada beberapa hal yang akan dilakukan penulis:
1. Tidak serta merta menolak memberikan uang pada pengemis, tetapi secara perlahan mengurangi intensitas pemberian receh. Hal ini dilakukan bukan serta merta untuk memutus rantai kenyamanan mereka, tapi memberikan alternatif lain berupa pemberian snack untuk mengganjal perut para tuna wisma.
2. Mengkomunikasikan melalui media jejaring sosial tempat-tempat sosial yang bisa dijadikan penampungan untuk para tunawisma dan juga memantapkan pilihan bagi audiens reklame tersebut untuk menjalankan himbauan “salurkan uang receh anda pada lembaga sosial dan keagamaan”. Hal ini dilakukan karena kebetulan penulis sekarang aktif dalam pendampingan masyarakat binaan di Perkampungan Sosial Pingit, YSS, pingit, Yogyakarta.
KESIMPULAN
Tindakan komunikatif yang dijalankan melalui reklame “peduli tidak sama dengan memberi uang” masih belum mencukupi etika komunikasi. Pertimbangan memutus rantai kenyamanan para tunawisma ternyata menjadi tidak seimbang ketika melihat lebih jauh solusi yang ditawarkan ketika reklame tersebut berhasil. Salah satu point penting yang belum dijalankan adalah masalah menjamin keberlangsungan hidup para tunawisma sebagai tanggung jawab komunikasi melalui reklame ini. Oleh karenanya, sistem yang ada kemudian disarankan untuk mencapai keputusan bersama guna memproduksi aturan hukum yang adil sekaligus menciptakan intensitas komunikasi yang adil pula bagi masyarakat secara luas, para tuna wisma secara spesifik.
http://www.jurnas.com/news/4675/Pengemis_akan_Serbu_Yogyakarta/30/Nusantara
http://www.kumham-jogja.info/karya-ilmiah/37-karya-ilmiah-lainnya/182-perlukah-perda-penanggulangan-gelandangan-a-pengemis
http://blog.umy.ac.id/nangim/2011/05/07/pengemis-vs-karikatif/
http://purwatining.multiply.com/journal/item/102/Peduli_tidak_sama_dengan_memberi_uang
http://blog.umy.ac.id/choirul/category/kritik/
http://www.krjogja.com/news/detail/28271/Reklame.Semrawut..5..-.Antara.Estetika.dan.Penerimaan.Pajak.html
http://www.krjogja.com/news/detail/28244/Reklame.Semrawut..3..-.Kucing-kucingan.Dengan.Satpol.PP.html
http://www.krjogja.com/news/detail/28231/Reklame.Semrawut..2..-.Abaikan.Estetika.Demi.Bisnis.html
Langganan:
Komentar (Atom)