Yang ini berbeda dari postingan sebelumnya. Saya ingin menceritakan bagaimana ada beberapa hal kontras yang kami temukan di Lawu, sebuah Gunung yang indah (sama dengan gunung-gunung lain). Tapi di Lawu, kami berhenti dan menginap di tempat yang penuh sampah, bahkan burung Paruh Gading pun makan dari sampah-sampah yang ada. Tidak indah untuk dilihat, sangat kontras dengan pemandangan hijau di depan kami. Padahal sudah ada tertulis di berbagai tempat 3 prinsip pendakian gunung:
1. tidak mengambil apapun selain foto
2. tidak meninggalkan apapun selain jejak
3. tidak membunuh apapun selain waktu
Dari prinsip nomor dua kita tahu bahwa meninggalkan sampah adalah sesuatu yang tidak benar. Lawu, dengan keindahan di depan mata kami ternyata tercemar, sama halnya dengan beberapa gunung yang pernah saya daki (merbabu dan Merapi).
Hal lain adalah ketika dalam perjalanan, entah mengapa setiap bertemu kelompok lain yang mendaki akan selalu ada interaksi walaupun tidak mengenal satu sama lain. Hal ini yang berbeda dengan keadaan sehari-hari kami.
Hal yang pasti adalah Lawu, Merbabu maupun Merapi hendaknya menjadi refleksi cinta terhadap dunia, bukan lagi keegoisan untuk melihat dan menuntut keindahan dari Tuhan, Pemerintah dan orang lain tanpa melakukan aksi apa-apa. Rada gak nyambung sih antara poin satu, dua dan kesimpilan...tapi intinya menjadi pendaki Gunung bukan berarti menjadi pengamat, pelihat..tapi menjadi reaktor atas isu-isu bersama, terlebih kelestarian alam. Selamat mendaki para pendaki Gunung, saya sudah pensiun....haha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar