TELEVISI INDONESIA
Televisi di Indonesia akhir-akhir semakin banyak mengadaptasi program-program Televisi dari luar negeri (Khususnya Amerika). Sebut saja Indonesia Mencari Bakat (IMB) yang merupakan program adaptasi British Got Talent yang tidak resmi, Indonesian Got Talent yang merupakan program adaptasi resmi dari program yang sama, Are You Smarther than a Fifth Grader yang merupakan program adaptasi dari program Amerika berjudul sama, Indonesian Idol dan masih banyak program-program lainnya.
Program-program adaptasi tersebut mendapatkan apresiasi bagus dari masyarakat Indonesia dengan tercatatnya hashtag #NontonBarengImb di twitter yang mencapai beberapa kali world trending topic (topik terhangat di twitter yang dihitung berdasarkan banyaknya tweet yang berisikan topik yang sama dari seluruh dunia dalam jangka waktu tertentu) selama babak final IMB pertama. Salah satu fenomena tersebut menyiratkan gambaran bahwa masyarakat Indonesia merupakan target audiens yang cukup loyal bagi program-program adaptasi.
Hal yang kemudian dipertanyakan adalah apakah Indonesia sendiri tidak cukup kreatif untuk membuat program-programnya sendiri? Bagaimana masyarakat Indonesia kemudian mengadaptasi nilai-nilai yang ada? Pertanyaan-pertanyaan ini tentunya muncul karena adanya pengalaman budaya Pop yang disebarkan MTV yang diadaptasi ke dalam MTV Indonesia sebagai bagian dari perluasan pasar. Nilai-nilai yang dikonduksikan melalui program-program tersebut perlu untuk diketahui sebagai bagian atas pembelajaran Komunikasi Internasional. Untuk itu, dalam makalah ini akan dijelaskan tentang konsep-konsep yang berkaitan dengan perluasan media sebagai akibat dari globalisasi ditambah dengan konsep-konsep tentang adaptasi nilai-nilai sebagai akibat dari maraknya adaptasi program-program tersebut sebagai penjelasan tentang fenomena tersebut dan pembelajaran yang bisa diambil sebagai pemahaman terhadap Komunikasi Internasional.
ARUS INFORMASI SEBAGAI PENYEBAB
Konsep dan Teori yang akan dipakai dalam pembahasan program-program adaptasi ini mengacu pada konsep-konsep dan teori tentang arah arus informasi, imperialisme barat atas media dan juga pertukaran nilai-nilai (khususnya dalam budaya). Konsep tentang arus informasi akan memberikan gambaran awal alasan adaptasi program-program televisi dari negara-negara dunia ketiga terhadap program-program dari negara besar. Teori tentang imperialisme barat atas media akan menjelaskan kemudian akibat-akibat dari arah arus informasi yang ada dengan kaitannya dengan teknologi, ekonomi dan kekuatan-kekuatan lain yang dimiliki oleh negara-negara core sedangkan konsep-konsep pertukaran nilai akan menjelaskan nilai-nilai yang dibawa khususnya oleh program-program adaptasi tersebut dan juga proses pertukaran nilai yang terjadi secara searah.
Indonesia seperti yang telah banyak orang ketahui merupakan bagian dari negara-negara yang sedang berkembang atau bisa disebut sebagai negara dunia ketiga. Louiza Patsis dalam Information Policy Spring 2005 menyatakan dalam presentasinya tentang laporan MacBride dalam penelitian tentang NWICO (diunduh dari www.scribd.com doc/31941343/UNESCO-and-Information-Policy) bahwa negara ketiga (Indonesia salah satunya) mendapatkan informasi-informasi yang tidak menguntungkan. Hal tersebut terjadi sebagai bagian dari penggunaan informasi sebagai komoditas perdagangan dan penggunaan kapitalis dari negara-negara maju. Adanya harapan dari negara-negara barat untuk mendominasi dengan penciptaan hegemony yang telah terjadi hingga saat ini menurut MacBride (dalam Louza Patsis) merupakan upaya dari negara-negara barat untuk menyamakan nilai dari semua negara yang ada di seluruh dunia. Hal tersebut kemudian menimbulkan propaganda melalui kendali atas media-media informasi dan juga periklanan yang berlawanan dengan evolusi sosial dan merupakan bentuk dominasi terhadap budaya.
Dalam laporan tersebut, dikatahuilah bahwa arus informasi yang terjadi adalah arus informasi searah yang tidak seimbang. Kesempatan yang dimiliki negara ketiga termasuk Indonesia masihlah sangat kecil untuk menyebarkan nilai-nilai kebudayaannya dikarenakan belum stabilnya keadaan ekonomi, politik dan juga penguasaan teknologi yang masih sangat terbatas (Mody, Gudykunst 2002:327). Kenyataan yang ada adalah adanya dominasi yang besar dari negara dunia pertama secara terus-menerus yang menyebabkan masyarakat dunia ketiga sebagai audiens informasi yang disebarkan kemudian menerima informasi-informasi yang mengandung nilai tersebut secara tidak sadar (konsep hegemony). Oleh karena itu, dalam kasus ini, hegemony yang disebarkan oleh media-media asing tampak jelas dalam penerimaan yang bahkan apresiatif terhadap program-program televisi adaptasi. Hal ini tampak dari data UNESCO tahun 1972 yang menemukan bahwa di beberapa negara-negara berkembang terjadi pengadaptasian program-program Amerika hingga melebihi 50%.
PROGRAM-PROGRAM ADAPTASI SEBAGAI IMPERIALISASI
Hal ini kemudian diasadari sebagai penjajahan atas media dan juga budaya. Straubhaar (dalam Anokwa, dkk, 2003:230) menyatakan bahwa imperialisme kultural terjadi pada program-program import dan adaptasi. Hal ini terjadi karena ternyata program-program televisi tersebut dikombinasikan dengan film-film, iklan-iklan dan media lain untuk meningkatkan konsumsi diantara para penonton. Straubhaar mengutip kritikan Tomlinson bahwa imperialisme kultural menyeragamkan tekanan budaya dan bahwa kapitalisme sebagai penyebab utama penyebaran media ini kemudian menghasilkan dan melahirkan kembali budaya konsumtif.
Dalam kasus ini tampak jelas bahwa program-program adaptasi kemudian membawa nilai-nilai utama liberalisme. Satu contoh yang jelas terlihat pada acara Are You Smarther than A Fifth Grader. Dalam acara versi Indonesia tersebut, rasa malu akibat kekalahan dari anak SD kelas 5 tidaklah nampak jelas. Bahkan, pengalaman saya menonton dan membandingkan versi asli dengan versi Indonesia, nampak jelas perbedaan rasa malu yang ditunjukkan para peserta yang tak mampu melampaui pengetahuan anak SD kelas 5. Program-program pencarian bakat pun tampaknya ingin menyeragamkan nilai bahwa semua orang bisa show-up kemampuannya yang menimbulkan harapan-harapan palsu pada benak audiensnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa terdapat pemaksaan penyeragaman nilai walaupun ada adaptasi bahasa dalam program-program tersebut.
Imperialisasi lain yang terjadi adalah imperialisasi media. Imperialisme media fokus pada ketidakseimbangan antara hubungan ekspor dan impor media dari negara-negara di dunia. Straubhhar (dalam Anokwa, dkk, 2003:230) menyatakan bahwa hal ini mengakibatkan kecenderungan besar bagi media-media komersial dari negara-negara maju dalam menyebarkan ideologinya secara global. Kemampuan lokal tidak bisa melawan kemampuan media global dengan tingkat kemampuan yang lebih tinggi.
Hal ini berhubungan pula dengan teori dependensi yang menyoroti tentang peran ideologi dalam media sebagai bagian dari hubungan ekonomi dalam ketergantungan (dalam Anokwa, dkk, 2003:227). Peran media dalam teori dependensi ini (dalam Anokwa, dkk, 2003:228) bisa dilihat sebagai bentuk yang lebih kecil dari teori Gramski tentang hegemoni yang menyatakan bahwa orang-orang (dalam hal ini pemilik media dari negara maju) mendominasi dan berkompetisi dalam penciptaan ideologi dominan di seluruh dunia.
Kasus adaptasi program-program televisi oleh media-media Indonesia juga mnyatakan hal ini. Dominasi yang besar yang terjadi terus-menerus sejak kelahiran media di Indonesia kemudian membentuk persepsi dan ideologi dalam masyarakat Indonesia bahwa program-program import yang diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia merupakan program-program yang bagus dan sesuai bagi perkembangan jaman.
Walaupun pada akhirnya program-program pencarian bakat tidak hanya mengedepankan budaya Pop, melainkan mulai masuk pada potensi daerah, akan tetapi nilai-nilai dalam acara-acara tersebut tetap sarat dengan pandangan instan. Program-program pencarian bakat tersebut mengharuskan adanya audisi dalam pemilihan bakat yang sesuai dengan ideologi juri. Tidak hanya berhenti pada tahap pemilihan, dalam pemberian komentar pun seringkali menisyaratkan bahwa ajang pencarian bakat yang mulai memasuki budaya asli Indonseia itu hanya menginginkan kesenian dengan tetap mengusung budaya pop yang sudah populer terlebih dahulu.
Pembelajaran Komunikasi Internasional membuat seseorang mengerti permasalahan-permasalahn tersebut. Program-program adaptasi yang sekarang sangat digandrungi merupakan salah satu bentuk imperialisasi yang kemudian diterima masyarakat sebagai sesuatu yang menarik. Tidak jarang komentar-komentar di twitter yang menunjukkan kekecewaan atas harapan berlebihan mereka dalam pemilihan talenta di program adaptasi, yang secara tersirat menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia sudah sangat apresiatif terhadap program-program tersebut.
Hal tersebut tentu saja sangat berbahaya bagi kelangsungan media indie dan lokal dengan dana terbatas sehingga tidak mampu mebeli lisensi untuk produksi program-program adaptasi seperti itu. Selain itu, ada indikasi juga tentang eksploitasi talenta yang dimanfaatkan oleh para pemilik dana dalam acara-acara pencarian bakat. Hal ini tentu saja perlu segera ditanggulangi. Program-program kreatif lokal, regional dan nasional harus bisa ditunjukkan untuk menyaingi program-program tersebut.
Harapan-harapan mengangkat budaya dan nilai-nilai lokal sebagai anti-penyeragaman nilai global tampaknya akan sulit berkaitan dengan ideologi yang telah ditanamkan sejak lama oleh para kapitalis. Harapan yang ada sekarang hanyalah menikmati produk-produk indie dengan festival kecil-kecilan yang mereka adakan.
DAFTAR PUSTAKA
Anokwa, dkk. 2003. International Communication: Concept and Case. Toronto: Thomson Wadsworth
Mody, B. & Gudykunst. 2002. Handbook of International and Intercultural Communication (2nd Edition). California: Sage Publications
Patsis, Louiza. Diakses 25 Agustus 2010. UNESCO and Information Policy: The US withdrawal, the IGOs IFAP and IPDC, and Other Information Programs. www.scribd.com/doc/31941343/UNESCO-and-Information-Policy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar