Minggu, 06 Februari 2011

Majalah dalam Era Konglomerasi

Majalah merupakan salah satu media massa yang sudah dikenal sejak lama. Ketika berbicara tentang majalah, maka kita juga harus mengetahui proses ataupun struktur industri majalah sebagai produsen majalah itu sendiri. Definisi majalah sendiri menurut Dominick (2007: 117) adalah media publikasi periodikal yang menggunakan cover, berisi bermacam-macam artikel dan seringkali menggunakan ilustrasi atau foto-foto.
Dominick (2007: 117) membagi majalah di bagi ke dalam dua klasifikasi, yaitu: menurut isi dan fungsi. Pengklasifikasian majalah menurut isinya dibagi ke dalam enam kategori, yaitu: majalah konsumen umum, majalah publikasi bisnis, majalah custom, review literatur dan jurnal akademis, newsletter, majalah public relation. Pengklasifikasian kedua adalah pengklasifikasian industri majalah berdasarkan fungsinya, yang terbagi dalam tiga kategori: fungsi produksi, fungsi distribusi, fungsi penjualan/eceran.
Dalam pengklasifikasian majalah dan industri majalah berdasarkan isi dan fungsi tersebut kita mengetahui bahwa perkembangan majalah bergantung pada kinerja fungsi-fungsi yang ada dalam industri majalah untuk memproduksi majalah dengan isi yang telah ditentukan.
Industri Majalah dalam Era Konglomerasi
Berbicara mengenai konglomerasi suatu majalah, kita akan berbicara pula tentang kepemilikan suatu industri majalah. Dominick dalam bukunya The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age (2007: 122) mengatakan bahwa merjer dan akuisisi industri majalah yang ada menimbulkan industri majalah didominasi oleh korporasi yang besar.
Hal tersebut juga terjadi di Indonesia, bahkan konglomerasi media massa juga menyentuh industri majalah Tanah Air. Sebut saja Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang merupakan salah satu industri multimedia. Dalam praktek perindustrian-medianya, KKG memiliki media koran, tabloid, radio, televisi dan majalah. Industri majalah yang dimiliki oleh korporasi besar ini juga tidak hanya bergerak pada satu segmentasi saja. Intisari, Hai, Otomotif, Bobo, Trubus, National Geographic Indonesia, Hot Game, Motor Plus dan Kawanku adalah beberapa industri majalah yang dimiliki oleh KKG. Lalu, hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah KKG sebagai korporasi yang secara kuantitas telah menunjukkan supremasinya dalam industri majalah juga memiliki kualitas yang sebanding dengan jumlah yang ditawarkannya?
Hai adalah majalah yang berada dalam naungan KKG yang akan saya coba analisis dalam esai ini. Hai sendiri merupakan sebuah majalah yang menargetkan remaja (SMA pada khususnya) sebagai pembacanya dengan menawarkan berbagai artikel yang menarik dan menyentuh berbagai aspek kehidupan yang sedang hangat dialami oleh remaja SMA. Edisi-edisi Hai dikemas dengan sampul dan judul yang sangat menarik. Sebut saja edisi “Cupu Awards” yang diterbitkan satu tahun sekali. Edisi ini mencoba mengkritisi fenomena-fenomena dengan tanggapan-tanggapan negatif yang seringkali bahkan subjektif dan profokatif. Salah satu artikel yang saya ingat adalah artikel tentang Kangen Band pada awal kemunculannya dalam Hai “Cupu Awards” tahun 2006 silam. Dalam artikel tersebut tampak sekali subjektifitas penulis yang secara radikal dan kasar menjelek-jelekkan band asal Lampung tersebut baik dari segi musikalitas hingga yang paling parah adalah fisik para pemainnya. Dampak yang diberikan berikutnya adalah banyaknya anak-anak SMA yang mulai menjelek-jelekkan band-band semacam Kangen Band.
Edisi-edisi lain yang juga kadang menimbulkan sebuah keambiguan adalah edisi “Cewek Hai” yang menampilkan foto-foto seksi perempuan-perempuan yang dipilih oleh pembaca Hai. Edisi “Cewek Hai” ini mengandung unsur eksploitasi tubuh wanita. Meskipun dalam artikel-artikel yang ada adalam edisi tersebut dibahas profil dan ketertarikan cewek yang diulas, akan tetapi saya melihat motivasi utama pembaca (terutama pria) yang berbondong-bondong mengeluarkan gocek sebesar Rp 25.000,00 untuk majalah ini adalah keseksian model tersebut.
Bagian lain yang perlu dikritisi dari majalah milik KKG ini adalah bagian fashion. Fashion yang ditawarkan dalam majalah ini mengandung pesan bahwa siapa yang gak ngikutin gue, gak gaul. Hal ini muncul dalam benak saya ketika Hai lagi-lagi mempopulerkan istilah “Alay”. Alay yang ingin ditampilkan oleh majalah Hai merujuk pada orang-orang yang ingin mengikuti trend yang ada akan tetapi justru kelihatan ndeso dalam pandangan kaum Hai. Istilah yang dipopulerkan oleh majalah Hai ini seakan mengindikasikan bahwa Hai adalah satu-satunya trendsetter yang harus diikuti, hebatnya lagi adalah banyak remaja yang sekarang ini mulai mendiskriminasikan kaum yang dianggap alay.
Pengaruh besar tidak hanya disebarkan oleh majalah Hai sebagai bagian dari KKG, Khairinnisa dalam blognya (studimedia2010.blogspot.com) majalah franchise yang berasal dari Amerika, Cosmogirl, mempersepsikan konsep kecantikan yang berasal dari negara asalnya. Irin berpendapat bahwa dalam Cosmogirl cantik dipersepsikan sebagai tinggi, langsing, berkulit putih, hidung mancung layaknya ‘bule’ serta memakai pakaian-pakaian bermerk yang berasal dari negara Barat yang secara kontras jelas berbeda dengan karakteristik asli Indonesia. Hal ini yang menurut Irin membuat remaja-remaja perempuan saat ini berlomba-lomba membuat dirinya tampak lebih putih tanpa memedulikan bahwa wanita Indonesia memiliki gen kulit sawo matang.
Penanaman pendapat atau pengkonsepan pikiran yang terjadi oleh majalah Hai sebagai bagian dari KKG ataupun Cosmogirl sebagai bagian dari sayap perusahaan asing ternyata juga terjadi pada beberapa majalah lain yang bernaung pada korporasi besar baik berskala nasional maupun internasional. Pengkonsepan pikiran pembaca yang terjadi pun kadang bersifat negatif (walaupun tidak melulu negatif) dan yang terjadi adalah bahwa remaja atau wanita atau target-target lain yang dituju oleh sebuah industri majalah ternyata tidak mempunyai pilihan lain selain membaca majalah tersebut.
Stuart Hall (Griffin, 2003: 367) dalam teori Cultural Studies-nya menyatakan bahwa media (dalam hal ini berupa majalah) adalah alat ideologi yang kuat dalam mempengaruhi pembacanya. Hal tersebut sesuai dengan sebab-sebab dan akibat-akibat yang saya coba jabarkan di atas. Majalah Hai dan Cosmogirl merupakan alat ideologi sederhana yang mempengaruhi pikiran pembaca untuk selalu mengikuti hal yang sedang hangat dibicarakan oleh majalah-majalah tersebut.
Ideologi yang ada dengan akibat yang ditimbulkan oleh media sebagai alat peng-ideologi-an tidak bisa lepas dengan kalangan elite sebagai pemilik modal yang bekerja dibalik sebuah proses produksi majalah. Hal ini ditegaskan pula dalam wikipedia.org (Khairinnisa, studimedia2010.blogspot.com) yang menegaskan bahwa franchise adalah hak untuk menjual suatu produk dalam bentuk barang maupun jasa. Hal tersebut sesuai dengan tujuan korporasi yaitu mencari keuntungan.
Hall (Griffin, 2003: 370) menyatakan bahwa korporat sebuah korporasi media akan mengontrol komunikasi massa sebuah media massa. Hal tersebut terjadi juga pada majalah Hai dan Cosmopolitan yang mencoba mengkonsepsikan kepada pembacanya bahwa trend yang mereka bawa adalah trend yang harus diikuti agar tidak ketinggalan jaman. Ketika majalah-majalah tersebut membawa trend baru, maka pembacanya pun akan mengikuti trend yang ada tersebut. Sesuai dengan pernyataan Hall (Griffin, 2003 : 369) bahwa media merupakan pembentuk makna, begitupula majalah-majalah yang ada di Indonesia. Hal ini nampak jelas pada pengkonsepsian makna alay oleh para kaum Hai.
Hal yang memprihatinkan adalah bahwa ketika sebuah industri majalah yang beragam dipegang oleh satu korporasi, maka akibat yang timbul adalah terjebaknya pembaca ke dalam konten yang mirip sehingga tidak lagi punya pilihan. Hal ini juga muncul ketika remaja pembaca Hai juga membaca Kawank, maka makna (khususnya tentang trend yang ada) tidaklah jauh berbeda.


Referensi:

Dominick, Joseph R. 2007. The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age. New York: McGraw Hill.
Griffin, Em. 2003. A First Look at Communication Theory. New York: McGraw Hill
studimedia2010.blogspot.com. Pengaruh Majalah Franchise Asing Di Indonesia. Diakses tanggal 20 Mei 2010 pukul 18.35.

Acuan analisis adalah majalah Hai edisi “Cupu Awards” dan “Cewek Hai” tahun 2006 dan 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar