Pagi hari ini saya mengikuti mata kuliah Kewarganegaraan. Pada awalnya saya tidak bisa membedakan antara Pancasila dan juga Pendidikan Kewarganegaraan, apa bedanya? Tapi kemudian saya baru tahu, konsep PKN merupakan konsep umum mengenai pengalaman kita tentang sejarah Pancasila dalam perjuangan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia ditambah dengan Keinginan, Cita-Cita dan bangsa yang diharapkan bagi kemajuan Negara Indonesia.
Singkat kata, Pendidikan Kewarganegaraan akan menelaah bagaimana manusia Indonesia bisa dikatakan Bangsa Indonesia dan syarat-syarat relatif (akan saya jelaskan nantinya) untuk menjadi bangsa yang besar. Konsep ini tentu saja sudah banyak kita pelajari dalam buku pelajaran sekolah baik SD, SMP maupun SMA, tapi konsep ini ternyata belum cukup khusus dan meresap dalam ingatan para pelajar (setidaknya sebagian besar pelajar) karena pendidikan yang begitu padat kurikulum ditambah kejar prestasi untuk sebuah nilai dan juga pemahaman sejarah Indonesia yang kurang kuat, menimbulkan efek pada ketertarikan seorang pelajar dalam menelaah atau mengetahui lebih lanjut mengenai Bangsa Indonesia termasuk di dalamnya adalah arti dan konsekuensi yang harus dipahami dan dijalani.
Dalam kuliah hari ini, saya mendapatkan satu frasa yang saya camkan dalam benak saya, Nasionalisme Etnis dan Budaya, yang sepengetahuan saya muncul sebagai dua dari berbagai macam bentuk nasionalisme. Kita, terutama sebagai bangsa Indonesia yang besar dan masih muda, tentunya harus memahami Nasionalisme bukan hanya sebagai bagian luas dari keinginan untuk membangun Indonesia. Pemahaman yang terlalu luas, saya anggap memiliki satu konsekuensi negatif berupa hilangnya detail-detail keberagaman yang dikatakan oleh Bu Lucinda sebagai ciri khas Bangsa Indonesia.
Nasionalisme yang coba saya tuliskan di sini (sebagai bagian dari refleksi kuliah hari ini) adalah Nasionalisme kedaerahan yang mencoba mengangkat kembali harkat bangsa Indonesia bukan hanya sebagai bagian dari agen perubahan teknologi, melainkan juga sebagai agen pengingat kebudayaan. Kearifan lokal sebagai bagian dari pluralitas Etnik dan budaya yang ada di Indonesia tentu saja memberikan nilai lebih dalam pembentukan Indonesia sebagai Bangsa yang Besar yang tidak kalah dengan Bangsa yang memiliki Teknologi yang maju.
Saya mencoba membandingkan kuliah hari ini dengan salah satu Dosen yang selalu mendorong kami melihat sesuatu yang dianggap besar, sebagai bagian dari kemajuan teknologi dan tingkat kerja para Sumber Daya Manusia yang dimiliki. Dosen Iklan ini memang memiliki kompetensi lebih dalam bidang teknologi (melihat pengalaman beliau mengelilingi Asia), akan tetapi saya melihat sesuatu yang hilang dalam setiap kata yang dimunculkan untuk menyindir "kami" pemuda dan Bangsa Indonesia. Semangat kedaerahan, kemampuan melihat kembali budaya yang terkait dengan rutinitas kerja atau pun hubungan sosial, merupakan sesuatu yang tidak muncul. Kritikan dengan menggunakan humor (yang kadang saya anggap tidak cukup lucu) merupakan ciri khas yang dimiliki untuk mengubah mindset para mahasiswa dalam etos kerja dan pemahaman terhadap persaingan kerja.
Saya kemudian membandingkan apa yang saya dapat dari kedua Dosen tersebut. Pluralitas merupakan sesuatu yang mutlak kita pahami sebagai bagian dari pencapaian Indonesia sebagai Negara dengan Bangsa yang berkualitas. Pluralitas yang ada juga memiliki konsekuensi tersendiri yaitu tuntutan pemahaman yang berbeda dalam setiap etnis dan kebudayaan (yang tidak bisa disamaratakan). Jelas terlihat ketika asimilasi dipaksakan ada oleh kaum-kaum tertentu, terjadi gejolak-gejolak dalam masyarakat sebagai akibat dari pemahaman yang dipaksakan beragam. Lalu, apa hubungannya dengan perkembangan teknologi dan kemajuan Indonesia, juga dengan Pak Dosen yang suka membandingkan Indonesia dengan Luar Negeri? Hubungannya terletak pada pencarian solusi dan motivasi bagi tiap-tiap Etnis, bukan penyeragaman pola pikir yang dipaksakan.
Setiap Etnis dan budaya memiliki mindset yang mereka bawa masing-masing. Proses penyatuan mindset tidak bisa terjadi dalam waktu bulanan, bahkan tahunan. Proses pencapaian solusi dan motivasi bagi mereka pun tidak bisa langsung berhenti pada perencanaan hingga pelaksanaan di awal, akan tetapi harus tetap dipantau secara mendalam hingga terjadi perubahan mindset yang tidak menghilangkan identitas mereka sebagai anak dari budaya tertentu. Jangan sampai perubahan mindset tersebut justru menimbulkan gejolak budaya yang mengakibatkan perubahan sikap ke arah yang cenderung negatif dan melupakan identitas awal mereka sebagai bagian sebuah kebudayaan dan agen penyubur kebudayaan tersebut.
Toleransi menjadi sangat penting untuk memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang seharusnya terjadi sebagai bagian dari penyeimbang keputusan antar kedua belah pihak, bukan lagi penyeragaman pikiran untuk menjadi satu. Toleransi sangat diperlukan untuk membentuk sebuah bangsa beragam yang tetap rukun dan mendukung perubahan ke arah yang lebih baik. Toleransi bukan berarti sebuah pemaafan terhadap tindakan-tindakan pelanggaran hukum (tentu saja hukum yang jelas), melainkan sebuah relativitas dalam memandang segala sesuatu terkait dengan budaya yang dibawa masing-masing orang.
Jadi, masihkah Anda memaksakan kehendak Anda? atau Anda akan mulai mengembangkan kearifan lokal sebagai bagian dari keberagaman dan mulai menapaki maju, melihat potensi yang Anda miliki dan maju sebagai Bangsa yang Besar?
Mohon dikoreksi jika ada yang salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar