“Jangan tinggalin aku, ya”
Sengaja tidak tertulis tanda baca penutup dalam
kalimat itu. Aku sendiri bingung mendefinisikan kata-katamu itu sebagai perintah,
permintaan, komitmen, pernyataan atau sekedar basa-basi. Kita sama-sama sendiri
waktu itu, sama-sama pernah merasakan pahit.
Aku bukan orang yang suka kopi, aku juga bukan orang yang
dengan sekali teguk akan menghabiskan obat, aku orang yang sangat takut dengan
kegetiran-kegetiran. Aku takut dengan ramuan gelap yang dibuat para pecinta
saat tiba waktunya untuk mengucapkan kata pisah. Aku takut dengan aroma kopi yang
tercium saat disangrai, lalu ditumbuk lembut dan diseduh dengan gaya Vietnam drip,
atau gaya apapun itu. Aku meneguk liur sejenak, membayangkan betapa pahit kopi
yang orang-orang seduh tanpa sedikit pun gula.
Kita sama-sama sendiri waktu itu, sama-sama pernah merasakan
pahit. Dan kecupanmu adalah susu dan gula, penawar rasa pahit kopi. Saat
mengunjungi teman di kedai kopi, aku akan menambahkan banyak gula dan meminta
lebih banyak susu. Perutku akan menggeliat perih jika semuanya terlupa. Seagala sesuatu yang sudah terpesan harus habis, begitu prinsipku. Termasuk jika aku ceroboh memesan segelas
kopi tanpa susu dan gula. Aku
menderita setelahnya.
Kita sama-sama sendiri waktu itu, sama-sama pernah merasakan pahit. Kecupanmu tidak membuatku menderita, terasa sangat manis. Aku rasa, sebanyak apapun takaran kopi yang harus kuhabiskan, perutku tidak akan punya masalah apapun. Kecupanmu membuatku selalu bersemangat dan, mungkin, terlalu serius. Kita sama-sama pernah merasakan pahit, caramu memelukku dari belakang adalah getar hangat dan pembawa terang dalam adukan-adukan yang suram.
Kita sama-sama sendiri waktu itu, sama-sama pernah merasakan pahit. Kecupanmu tidak membuatku menderita, terasa sangat manis. Aku rasa, sebanyak apapun takaran kopi yang harus kuhabiskan, perutku tidak akan punya masalah apapun. Kecupanmu membuatku selalu bersemangat dan, mungkin, terlalu serius. Kita sama-sama pernah merasakan pahit, caramu memelukku dari belakang adalah getar hangat dan pembawa terang dalam adukan-adukan yang suram.
Aku sedang sendiri waktu itu, aku merasakan pahit yang
begitu dalam. Menanggapimu dengan begitu bersemangat dan begitu serius mungkin
sebuah kesalahan. Memasukkan semua ajakan, kecupan, pelukan dan lirik-lirik
syahdu ke dalam imaji rasa mungkin sebuah kenaifan. Belum selesai aku membayangkan manisnya hidup,
kamu menyingkirkan sedikit demi sedikit gula dari bibirmu. Belum selesai
kurasakan gurihnya susu, kau melumuri seluruh bagian tubuhmu dengan kopi
terpahit di bumi ini. Kamu perlahan-lahan mundur, dan aku yakin untuk tetap
maju. Aku mengejarmu tapi aku merasa bahwa kamu selalu menemukan tempat bersembunyi dan
berbisik-bisik dalam hati sudahlah,
hentikan!
Kamu sedang sendiri waktu itu, dan kamu bercerita pendek
bahwa kamu pernah merasakan pahitnya ditinggalkan. Dengan enteng kamu bercerita
bahwa tidak berguna mengejar orang yang tidak menginginimu lagi. Tapi semudah
itukah antusiasmemu hilang untuk berbalik menjadi tidak menginginiku lagi? Jadi
semua hanya basa-basi? Pertanyaanku mengandung kesimpulan, yang menyakitkan.
Aku membutuhkan pernyataan, yang paling menyakitkan sekali pun. Aku lelah
menerka-nerka, karena terkaanku tidak akan pernah valid selama masih ada bias
rasa. Aku tahu, tidak pernah surutnya pertanyaanku adalah sebuah pertanda bahwa aku bebal. Maaf.
“Jangan tinggalin aku, ya”
Setelah berkata begitu, kita tautkan kelingking satu sama
lain. Kata-kata itu menjelma menjadi permohonan. Kini, aku yang memohon padamu.
Aku meramu kopi-kopi pahitku sendiri. Aku mengaduknya menjadi satu dengan
pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah usai. Aku belum mendapatkan
jawaban. Apakah kamu masih mau menjadi orang yang semanis waktu itu? Katakan ya
jika memang ya, dan aku akan berusaha sekeras mungkin untuk mencintaimu.
Katakan tidak jika memang tidak, dan aku akan berhenti memuntahkan ramuan kopi
pahit dan pertanyaan-pertanyaan itu dari ruang obrolan kita. Diam bukan sebuah
jawaban. Kesunyianmu menjelma menjadi pikiran-pikiran buruk, ruang obrol kita
sunyi, dan aku selalu mengutuk diri.
“Jangan tinggalin aku, ya”
Sesulit apa buatmu menghilangkan kata jangan dan membubuhkan tanda seru di belakang kalimat itu? Boleh
aku meminta sesuatu darimu, untuk yang terakhir kali? Kalau memang sudah tak
sanggup lagi dengan serangan pertanyaanku (sejujurnya aku sudah tidak sanggup
lagi merasakan isi pertanyaan-pertanyaan itu), berpamitan lah. Kata-kata
perpisahan akan membuatku berdamai dengan keinginan-keinginan untuk
mencintaimu.
Di depanku kini ada secangkir kopi, tanpa gula dan susu. Dia
tidak terasa pahit. Lebih pahit hari ini, saat kamu berkata akan memberikanku
kesempatan untuk bertemu, tapi ternyata hanya ajakan semu.
Denpasar,
24 Oktober 2015