Lelah
Setiap hari bergulat dengan interpretasi
Busuk, selalu ada bagian tempatmu menusuk
Tidak cukup kau berperang dengan kemacetan?
Setiap pikiran yang mandeg
Muara kekosongan,
Berujung pada kekuasaan
Bicara selalu tentang modal
Kawan kau juga jual
Keluarga biar saja terlantar
Mereka di belakang, mimpimu jauh lebih di depan
Kau tak sempat, tak punya waktu
Sepertinya lehermu sakit
Terlalu lelap tidur, banyak mendengkur
Lupa kalau posisi kepalamu semakin salah
Gurat pada atas dahimu? Apa itu?
Seperti bekas api pada pantat tungku liat yang terbakar
terus-terusan
Sebentar lagi retak
Kau terlalu panas, nak
Berhenti sejenak sebelum kaki berontak, matanya lepas
kelelahan
Gosok dengan kawat, sepertinya sudah terlalu berkarat
Anakku.
Ini Ibumu.
Bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar