Bagi beberapa orang, menenggelamkan diri dalam buku adalah cara yang paling tepat. Paling berhasil untuk menutup sejarah pahit dan tidak merinduinya. Tapi bagiku, sekarang hal itu tampak sama laknatnya dengan menghabiskan waktu bersama piring-piring penghabisan. Memang tidak membuat gendut, atau sebaliknya makin kurus. Memang sempat termanipulasi untuk lupa, tapi kemudian muncul.
Buku adalah jurang
kita. Aku suka membelinya, mungkin hal paling ekstrim yang bisa kamu lakukan
adalah membakarnya. Aku suka membuka-buka, mungkin akan kau diamkan berjamur di
plastic sebelum kau sempat membuka. Tapi di situlah letaknya kerinduan, A. Aku
merindukanmu apa adanya. Aku berbicara, kamu mengelak karena pening. Menjadi
segar, kau siram dengan gelak tawa dan bibir yang kamu manyun-manyunkan.
Hidungmu jadi terlihat lebih mbangir
kalau kamu sudah begitu. Siapa yang tidak jatuh?
A, Pernahkah kamu sadar? Dalam tumpukan
buku-bukuku, hanya ada satu hal yang konsisten. Wajahmu. Selalu berhasil
menjadi penghias. Membuat buku apapun akan aku jaga, takut kamu buang karena
judulnya menurutmu terlalu berat. Selain karena memang bobot kita tidak
berat-berat amat, tapi juga karena kamu tidak suka aku ganggu dengan
pikiran-pikiran yang menurutmu aneh. Buku seserius apapun akan membuatku
tersenyum, karena selalu terbayang wajahmu yang manyun. Karena alasan-alasan
yang seperti itu, aku menganggapmu aneh. Aku mulai suka hal-hal yang aneh.
Entah. Kamu adalah makhluk pemarah
pertama yang tidak membuat aku gampang marah. Boleh lah sekali-sekali aku
menggodamu dengan nada yang ngambeg
juga. Ngambegmu bikin aku sadar. Yang
orang bilang sebagai berisi, justru bisa jadi kosong. Sekosong aku beberapa
hari kemarin. Sengaja aku tidak menghubungimu. Takut, sesuatu yang apa adanya
itu justru tidak ada. Dan aku sudah merasa kamu memang tidak bisa menerima aku
apa adanya.
Sialnya, A. Kenapa waktu itu aku ketemu
kamu. Kita saling bertukar nomor. Argh. Kesalahan. Sejak itu kamu selalu muncul
lagi di tiap halaman buku. Kali ini aku membayangkan nada penolakan. Cerita
sejarah jadi sebuah kisah merindu. Definisi-definisi baru selalu dengan mudah
aku lupakan dengan bayangan senyummu. Ah kamu membuat aku kacau. Belum satu
buku pun aku selesaikan. Harus kubaca berulang-ulang karena tingkahmu.
Kamu boleh mengindar, kamu boleh
beralasan apapun. Tapi aku tetap menganggapmu sebagai pohon teh (tea tree) yang
bekerja di toko tubuh. Kamu pernah bilang kalau pohon teh akan sangat
bermanfaat untuk menghilangkan jerawat. Jerawatku adalah kerinduan akan dirimu,
dan kamu adalah obatnya. Kamu menjual tubuh-tubuh tumbuhan, dan aku setia pada
satu tubuh. Tubuhmu, A.
Tubuh yang selalu segar. Menjadi wangi di
tiap halaman buku, saat wajahmu mulai muncul.
A.
Kamu tahu? Setiap aku ke toko buku, yang
letaknya di lantai 3,
aku rela memutar balik demi mengetahui
kabarmu dari jauh.
Syukur-syukur bertemu kamu sebelum aku
menuruni escalator satu lantai di bawah .
Dan anehnya, di toko buku aku selalu
semangat membaca—bahkan hingga halaman terakhir.
Setelah melewati tempatmu bekerja, saat
aku memaksakan diri untuk memutar, aku selalu terpaku pada satu-dua halaman
buku. Itupun tak dapat kuingat isinya apa.
Kecuali kerinduan untuk kembali melihat
wajahmu, A.
Dan pertanyaan, kapan kamu mau menemuiku,
bukan lagi lewat bayangan di buku.
A, tampaknya kamu memang tidak suka
dengan hubungan. Entah, pernyataanku itu berlaku khusus atau memang untuk semua
yang kamu anggap sebagai hubungan. Tapi A, aku menyediakan diri menjadi orang
paling sabar buat kamu. Kalau kamu memang sudah siap, silakan datang. Aku akan
menyambutmu dengan buku-bukuku. Kamu boleh pilih salah satu. Yang paling tebal
atau yang paling tipis. Sekali saja. Setelah kamu ambil, pakailah buat jitak kepalaku. Biar kamu tahu untuk
mencintaimu, aku bahkan rela dikhianati buku-bukuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar