Rabu, 29 Juli 2015

Di Dalam Buku-Bukuku Terselip A




Bagi beberapa orang, menenggelamkan diri dalam buku adalah cara yang paling tepat. Paling berhasil untuk menutup sejarah pahit dan tidak merinduinya. Tapi bagiku, sekarang hal itu tampak sama laknatnya dengan menghabiskan waktu bersama piring-piring penghabisan. Memang tidak membuat gendut, atau sebaliknya makin kurus. Memang sempat termanipulasi untuk lupa, tapi kemudian muncul.

Buku adalah jurang kita. Aku suka membelinya, mungkin hal paling ekstrim yang bisa kamu lakukan adalah membakarnya. Aku suka membuka-buka, mungkin akan kau diamkan berjamur di plastic sebelum kau sempat membuka. Tapi di situlah letaknya kerinduan, A. Aku merindukanmu apa adanya. Aku berbicara, kamu mengelak karena pening. Menjadi segar, kau siram dengan gelak tawa dan bibir yang kamu manyun-manyunkan. Hidungmu jadi terlihat lebih mbangir kalau kamu sudah begitu. Siapa yang tidak jatuh?

A, Pernahkah kamu sadar? Dalam tumpukan buku-bukuku, hanya ada satu hal yang konsisten. Wajahmu. Selalu berhasil menjadi penghias. Membuat buku apapun akan aku jaga, takut kamu buang karena judulnya menurutmu terlalu berat. Selain karena memang bobot kita tidak berat-berat amat, tapi juga karena kamu tidak suka aku ganggu dengan pikiran-pikiran yang menurutmu aneh. Buku seserius apapun akan membuatku tersenyum, karena selalu terbayang wajahmu yang manyun. Karena alasan-alasan yang seperti itu, aku menganggapmu aneh. Aku mulai suka hal-hal yang aneh.

Entah. Kamu adalah makhluk pemarah pertama yang tidak membuat aku gampang marah. Boleh lah sekali-sekali aku menggodamu dengan nada yang ngambeg juga. Ngambegmu bikin aku sadar. Yang orang bilang sebagai berisi, justru bisa jadi kosong. Sekosong aku beberapa hari kemarin. Sengaja aku tidak menghubungimu. Takut, sesuatu yang apa adanya itu justru tidak ada. Dan aku sudah merasa kamu memang tidak bisa menerima aku apa adanya.

Sialnya, A. Kenapa waktu itu aku ketemu kamu. Kita saling bertukar nomor. Argh. Kesalahan. Sejak itu kamu selalu muncul lagi di tiap halaman buku. Kali ini aku membayangkan nada penolakan. Cerita sejarah jadi sebuah kisah merindu. Definisi-definisi baru selalu dengan mudah aku lupakan dengan bayangan senyummu. Ah kamu membuat aku kacau. Belum satu buku pun aku selesaikan. Harus kubaca berulang-ulang karena tingkahmu.

Kamu boleh mengindar, kamu boleh beralasan apapun. Tapi aku tetap menganggapmu sebagai pohon teh (tea tree) yang bekerja di toko tubuh. Kamu pernah bilang kalau pohon teh akan sangat bermanfaat untuk menghilangkan jerawat. Jerawatku adalah kerinduan akan dirimu, dan kamu adalah obatnya. Kamu menjual tubuh-tubuh tumbuhan, dan aku setia pada satu tubuh. Tubuhmu, A.
Tubuh yang selalu segar. Menjadi wangi di tiap halaman buku, saat wajahmu mulai muncul.
A.

Kamu tahu? Setiap aku ke toko buku, yang letaknya di lantai 3,
aku rela memutar balik demi mengetahui kabarmu dari jauh.
Syukur-syukur bertemu kamu sebelum aku menuruni escalator satu lantai di bawah .
Dan anehnya, di toko buku aku selalu semangat membaca—bahkan hingga halaman terakhir.
Setelah melewati tempatmu bekerja, saat aku memaksakan diri untuk memutar, aku selalu terpaku pada satu-dua halaman buku. Itupun tak dapat kuingat isinya apa.
Kecuali kerinduan untuk kembali melihat wajahmu, A.
Dan pertanyaan, kapan kamu mau menemuiku, bukan lagi lewat bayangan di buku.


A, tampaknya kamu memang tidak suka dengan hubungan. Entah, pernyataanku itu berlaku khusus atau memang untuk semua yang kamu anggap sebagai hubungan. Tapi A, aku menyediakan diri menjadi orang paling sabar buat kamu. Kalau kamu memang sudah siap, silakan datang. Aku akan menyambutmu dengan buku-bukuku. Kamu boleh pilih salah satu. Yang paling tebal atau yang paling tipis. Sekali saja. Setelah kamu ambil, pakailah buat jitak kepalaku. Biar kamu tahu untuk mencintaimu, aku bahkan rela dikhianati buku-bukuku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar