Kamis, 16 April 2015

Bu

“Mengapa Ibu Pertiwi menangis?”

“Ibu sedang bersusah hati.”

“Mengapa harus seperti itu, sedangkan Ibu punya hutan, sawah, gunung dan lautan sebagai simpanan kekayaan?”

“Kekayaan apa yang kau maksud?”

“Mereka bisa kau olah. Hutan kau ambil batangnya, kau buru hewannya. Sawah kau panen padi, palawija atau cabai. Gunung pula bisa kau tambang pasir dan kau suburkan tanahmu dengan abu. Lautan, kau ambil seluruh penghuni di dalamnya.”

“Sudah tak bersisa.”

“Sebegitu keringnya kah?”

“Sangat.” Dia diam sejenak, “ Kalaupun bersisa sedikit, sudah enggan orang-orag mengolahnya. Mereka terlalu nyaman di dalam gedung. Terbuai oleh semilir angin karbon. Mereka enggan berpanas-panasan, hanya ingin berpapasan dengan kenikmatan.” Diam lagi, “Mereka punya definisi baru tentang kenikmatan.”

“Bagaimana bisa? Bukankah mereka terdidik? Sampai-sampai di rahim ibumu muncul gerakan mengajar massal yang mereka namai Indonesia Mengajar?”

“Iya. Mereka belajar untuk menjadi sangat Metropolis. Duduk nyaman dalam ingus yang mereka harap berbuah kekayaan.” Diam, menghela nafas kemudian diam lagi. “Orang tua mereka berkata, kalau bisa, tak perlulah jadi petani seperti kami. Kau harus hidup lebih makmur. Kau harus hidup lebih nyaman, seperti hidup para Tuan Tanah. Seperti hidup kaum priyayi yang ikut menindas pribumi. Seperti hidup para penjajah yang asalnya dari negeri sendiri. Tentu mereka tak serta merta berkata seperti itu, hanya kira-kira pikiran mereka seperti itu.”

“Sudah lama terjadi?”

“Sangat lama, sejak mental priyayi meraja lela. Sejak kumpeni menganggap kami primitif. Sejak kami terlampau kompetitif. Sejak itulah ibu pertiwi menangis.”

“Kalian bahagia?”

“Aku tidak, beberapa orang lain tidak. Tapi kami tak punya daya. Sebagian besar lainnya bahagia. Bahkan sangat bahagia walaupun harus memprimitifkan yang lain. Mereka tertawa bahagia. Tangis ibu pertiwi seperti lelucon bagi pikiran mereka yang selalu tentang pembangunan. Materi ada tapi nurani lenyap dalam cita.”

“Negara?”

“Jangan berharap banyak. Negara adalah tempat tidur nyaman para borjuis. Ajudan-ajudan dikerahkan untuk mewujudkan mimpi, jangan sampai ada kejutan tak mengenakan waktu mereka bangun. Semakin mereka lelap, tak ada indera digunakan, hati semakin keras, kami semakin tak punya suara. Kami bilang keadilan, mereka bilang pemberontakan. Kami bilang perjuangan, mereka bilang kami kriminal. Kalau kami mulai turun ke jalan, mereka bilang kami banal-tidak mendukung rencana nasional. Begitu juga borjuis lain, yang juga lelap. Mereka bicara dalam senyap, jari-jari bergerak untuk menggoreskan satu per satu luka pada tubuh Ibu Pertiwi.”

Begitulah, percakapan itu terus berlanjut. Mereka berdua saling menggenggam, sesekali menyentuhkan bibir ke kelopak saat air mata mulai jatuh pada tokoh yang satu. Tak perlu disebut apakah mereka perempuan atau laki-laki. Perjuangan tidak mengenal perempuan atau laki-laki, kesedihan pun begitu. Kepedulian bertahan dalam keyakinan keduanya. Dan kini, Ibu mereka sedang menangis.

Ibu pertiwi yang mengandung dari bumi. Aku tak pernah melihat kelaminnya, aku tak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan. Dia yang sedang mereka grundeli, sesekali dengan sesenggukan, mungkin perempuan tulen yang tercipta lengkap dengan rahim atau perempuan yang menjelma laki-laki dengan tetap mempertahankan rahim. Tidak perlu aku ketahui. Dia adalah cermin ketegaran, disakiti begitu hebat, bertahan begitu kuat. Menopang manusia-manusia yang lahir dari rahimnya, hidup dari air susu yang bening dan segar, makan dari rimbun-rimbun yang membuahkan, bertahan di dalam pijakan yang menghangatkan.

Lubang digali dalam dagingnya. Darah mengucur deras. Air mata berlinang. Tubuhnya semakin kering. Ronanya sendu. Tapi dia masih bertahan hidup, demi kehidupan anak-anak durhaka yang juga lahir dari rahimnya, besar oleh kelimpahannya. Hai, manusia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar