"Mbah, kita ketemu lagi"
"Sudah lama ya, Le?"
"La-le-la-le, emang aku Lele, Mbah?"
"Mana ceritamu yang katanya mau nerusin Mencari Cermin The Series? Omong Kosong kamu." manggut-manggut bentar, benerin jenggot sama monyong yang basah. "Katanya mau ngaku kalau kamu egosi terus kesasar waktu naik Merbabu? Kamu yang insaf waktu naik Merapi sama pemula?. Omong kosong. Siliti Pitikih kamu!"
"Lupa Mbah, gak ada waktu buat cerita. Lha wong Mbah aja udah bertahun-tahun menghilang. Kita juga baru ditemuin ini sama yang punya blog."
"Lha memang. Emang pengelola yang guoblog."
"MBAH, AKU DENGAR LHO! MASIH MIKIR REVISI MBAH! GAK SEMPAT!"
"Oh, koe krungu to Le?"
"LHA MBOK PIKIR? YANG NYEMPLUNGKE KAMU KE BLOG INI AKU JE MBAH. BAIDEWEI, ENAKNYA NAMA ANAK SOK TAHU YANG CERMINNYA MASIH HILANG ITU SIAPA MBAH? AKU BEUM NEMU."
"Sudrun ja! Dia itu ncen Sudrun. Cermin hati og bisa sampai hilang. Mbingungi wong sakdonya. Bikin uang terus keluar! Nyusahke wong. Wuu."
"Jinguk! Sudrun kan gabungan ceroboh dan sedikit bodoh, Mbah!"
"Lha manut pemilik blog yang guobog ini. Setuju?"
"YA WIS MBAH. DI CERITAKU YANG TERAKHIR KAN WUJIL KINASIH UDAH KEMBALI BIJAKSANA DAN WELAS ASIH. AKU SENDHIKA DHAWUH. SUDRUN JUGA BAGUS, BIAR SI LANANGAN IKI ORA TAMBAH SOK TAHU." bentar, aku mikir bentar mau nulis apa, "OYA, AKU PENGIN MENIKMATI OBROLAN NAIF KALIAN. JANGAN TERLALU BANYAK MENGENALKAN DIRI. ESTABLISH BERLEBIHAN GAK ENAK DIBACA. BIAR ORANG BACA Mencari Cermin I DAN II AJA."
"Lha kamu yang guoblog, tulisanmu gak diteruske. Aku kan kangen sama Sudrun. Waktumu terbuang buat mikir thok. rarampung-rampung!." diam sebentar, kemudian kembali ke Sudrun. "Eh, ada apa, Drun? Pertemuan kita gak mungkin sesia-sia usahamu ndeketin si N kan?"
"Gini, Mbah. Aku mau tanya."
"Apa?"
"Kemarin Mbahku meninggal. Budheku ngabarinnya agak aneh: Ibu ra ana!"
"Terus?"
"Lha aku ya njawab: Ilang kemana Budhe?" cekikikan bentar, "Jebul Budhe njawab:Lha dalah gemblung, Mbahmu seda, Le!"
"Tas-tes ke pertanyaanmu to!"
"Kenapa di Jawa, meninggal itu disamakan dengan ra ana (gak ada)? Padahal secara raga dia masih ada, belum dikubur. Masih bisa tak jiwit pipinya seperti biasa, walaupun cuma diam saja."
"Wah, kalau pikirannya Mbah panjang, Jadi gini..
Eksistensi manusia itu tidak dilihat sebatas raga. Ada dan tidak ada mengacu ke sesuatu yang lebih dalam, Le. Jiwa. Orang meninggal berarti jiwanya pergi dari raga. Nah, orang mengatakan ra ana atau tidak ada untuk menyebut orang meninggal itu sesuai dengan standar mereka.
Orang terbiasa menilai ada dan tidak ada sebagai raga dan jiwa yang melekat. Jadi kalau raga masih terlihat, tapi jiwanya kosong, orang bilang gak ada. Sama, kalau jiwanya-semangatnya masih melayang-layang,tapi secara ragawi dia tidak tampak, kita bilang itu sebagai tidak ada.
Secara filsafat ala petani yang direbut tanahnya sama negara kayak Mbahmu ini, ada makna yang lebih dalam, Drun. Percuma kamu memoles raga seindah mungkin kalau Jiwamu ternyata sudah kosong dan mati terhadap keadaan sekitar. Bahkan orang yang sudah meninggal itu dirias bukan tanpa alasan, tapi ada keyakinan bagi kita kalau selama beberapa hari Jiwa yang tidak lagi melekat di raga (dan kita menganggap itu sebagai hilangnya eksistensi ragawi seseorang) masih tetap bersemayam di dekat rumah hingga 40 hari. Raganya dirias, dimandikan biar bersih dan siap menghadapi eksistensi yang baru-tanpa kemelekatan pada raga. Ini ngawur sih, Drun.
Ingat, walaupun ragamu seindah Chelsea Islan atau Nicholas Saputra, tapi jiwamu sudah mati dan kosong terhadap keadaan sekitar. Ya, kamu mati. Eksistensimu sebagai manusia di sekitarmu akan hilang. Kalau hanya berfokus pada diri-kamu dan cara-kamu-menjadi-bahagia, yaudah, aku siapin kuburan aja buat kamu, Drun. Lumayan, kamu bisa mengubur sekalian kenangan-kenangan asmara yang pahit to?
Aku cuma bisa menjelaskan sengawuritu, Drun."
"Kalau gitu, Mbah. Ini kaca mata mboismu mending tak jual. Baju bunga-bungamu juga ini tak copote. Iki wig warna ungu, njijik i banget to!Aplikasi Picsart sama Photoshop-mu tak uninstall sini. Udah tuwek kok ya masih berfokus-pada-kebahagiaan-diri-sendiri sampai-sampai melupakan aku. Kita udah berapa tahun gak ketemu? Kamu tambah norak, Mbah!"
"Eits, eits aja! Tua-tua gini kan boleh ganteng juga!"
"Luweh, sini!"
"Ini kan ciptaan pemilik blog to, Drun. Biar Mbahmu ki necis."
"Pemilik blog yang goblog ok dipatuhi serta merta, Mbah! Kamu kayak percaya seratus pesen sama kesejahteraan semu dari BUMN pelat merah, Mbah!" mulai jengkel, sambil membawa kaca mata, wig, baju bunga-bunga dan android embah kemudian pergi, "Mbah bisa jadi Wujil inasih yang bijaksana tanpa jadi lelucon dan dianggap primitif, Mbah. Salam buat pemilik blog yang guooobloogggnya gitu banget!"
"MENENGA, DRUN!"
Yaudah. Tulisan ini harus selesai. Wujil dan Sudrun terpisah lagi oleh waktu. Eksistensi mereka tidak melekat pada raga dan jiwa, tapi pada keinginan pemilik blog. Tenang, mereka belum mati kok. :* :* :*
"Sudah lama ya, Le?"
"La-le-la-le, emang aku Lele, Mbah?"
"Mana ceritamu yang katanya mau nerusin Mencari Cermin The Series? Omong Kosong kamu." manggut-manggut bentar, benerin jenggot sama monyong yang basah. "Katanya mau ngaku kalau kamu egosi terus kesasar waktu naik Merbabu? Kamu yang insaf waktu naik Merapi sama pemula?. Omong kosong. Siliti Pitikih kamu!"
"Lupa Mbah, gak ada waktu buat cerita. Lha wong Mbah aja udah bertahun-tahun menghilang. Kita juga baru ditemuin ini sama yang punya blog."
"Lha memang. Emang pengelola yang guoblog."
"MBAH, AKU DENGAR LHO! MASIH MIKIR REVISI MBAH! GAK SEMPAT!"
"Oh, koe krungu to Le?"
"LHA MBOK PIKIR? YANG NYEMPLUNGKE KAMU KE BLOG INI AKU JE MBAH. BAIDEWEI, ENAKNYA NAMA ANAK SOK TAHU YANG CERMINNYA MASIH HILANG ITU SIAPA MBAH? AKU BEUM NEMU."
"Sudrun ja! Dia itu ncen Sudrun. Cermin hati og bisa sampai hilang. Mbingungi wong sakdonya. Bikin uang terus keluar! Nyusahke wong. Wuu."
"Jinguk! Sudrun kan gabungan ceroboh dan sedikit bodoh, Mbah!"
"Lha manut pemilik blog yang guobog ini. Setuju?"
"YA WIS MBAH. DI CERITAKU YANG TERAKHIR KAN WUJIL KINASIH UDAH KEMBALI BIJAKSANA DAN WELAS ASIH. AKU SENDHIKA DHAWUH. SUDRUN JUGA BAGUS, BIAR SI LANANGAN IKI ORA TAMBAH SOK TAHU." bentar, aku mikir bentar mau nulis apa, "OYA, AKU PENGIN MENIKMATI OBROLAN NAIF KALIAN. JANGAN TERLALU BANYAK MENGENALKAN DIRI. ESTABLISH BERLEBIHAN GAK ENAK DIBACA. BIAR ORANG BACA Mencari Cermin I DAN II AJA."
"Lha kamu yang guoblog, tulisanmu gak diteruske. Aku kan kangen sama Sudrun. Waktumu terbuang buat mikir thok. rarampung-rampung!." diam sebentar, kemudian kembali ke Sudrun. "Eh, ada apa, Drun? Pertemuan kita gak mungkin sesia-sia usahamu ndeketin si N kan?"
"Gini, Mbah. Aku mau tanya."
"Apa?"
"Kemarin Mbahku meninggal. Budheku ngabarinnya agak aneh: Ibu ra ana!"
"Terus?"
"Lha aku ya njawab: Ilang kemana Budhe?" cekikikan bentar, "Jebul Budhe njawab:Lha dalah gemblung, Mbahmu seda, Le!"
"Tas-tes ke pertanyaanmu to!"
"Kenapa di Jawa, meninggal itu disamakan dengan ra ana (gak ada)? Padahal secara raga dia masih ada, belum dikubur. Masih bisa tak jiwit pipinya seperti biasa, walaupun cuma diam saja."
"Wah, kalau pikirannya Mbah panjang, Jadi gini..
Eksistensi manusia itu tidak dilihat sebatas raga. Ada dan tidak ada mengacu ke sesuatu yang lebih dalam, Le. Jiwa. Orang meninggal berarti jiwanya pergi dari raga. Nah, orang mengatakan ra ana atau tidak ada untuk menyebut orang meninggal itu sesuai dengan standar mereka.
Orang terbiasa menilai ada dan tidak ada sebagai raga dan jiwa yang melekat. Jadi kalau raga masih terlihat, tapi jiwanya kosong, orang bilang gak ada. Sama, kalau jiwanya-semangatnya masih melayang-layang,tapi secara ragawi dia tidak tampak, kita bilang itu sebagai tidak ada.
Secara filsafat ala petani yang direbut tanahnya sama negara kayak Mbahmu ini, ada makna yang lebih dalam, Drun. Percuma kamu memoles raga seindah mungkin kalau Jiwamu ternyata sudah kosong dan mati terhadap keadaan sekitar. Bahkan orang yang sudah meninggal itu dirias bukan tanpa alasan, tapi ada keyakinan bagi kita kalau selama beberapa hari Jiwa yang tidak lagi melekat di raga (dan kita menganggap itu sebagai hilangnya eksistensi ragawi seseorang) masih tetap bersemayam di dekat rumah hingga 40 hari. Raganya dirias, dimandikan biar bersih dan siap menghadapi eksistensi yang baru-tanpa kemelekatan pada raga. Ini ngawur sih, Drun.
Ingat, walaupun ragamu seindah Chelsea Islan atau Nicholas Saputra, tapi jiwamu sudah mati dan kosong terhadap keadaan sekitar. Ya, kamu mati. Eksistensimu sebagai manusia di sekitarmu akan hilang. Kalau hanya berfokus pada diri-kamu dan cara-kamu-menjadi-bahagia, yaudah, aku siapin kuburan aja buat kamu, Drun. Lumayan, kamu bisa mengubur sekalian kenangan-kenangan asmara yang pahit to?
Aku cuma bisa menjelaskan sengawuritu, Drun."
"Kalau gitu, Mbah. Ini kaca mata mboismu mending tak jual. Baju bunga-bungamu juga ini tak copote. Iki wig warna ungu, njijik i banget to!Aplikasi Picsart sama Photoshop-mu tak uninstall sini. Udah tuwek kok ya masih berfokus-pada-kebahagiaan-diri-sendiri sampai-sampai melupakan aku. Kita udah berapa tahun gak ketemu? Kamu tambah norak, Mbah!"
"Eits, eits aja! Tua-tua gini kan boleh ganteng juga!"
"Luweh, sini!"
"Ini kan ciptaan pemilik blog to, Drun. Biar Mbahmu ki necis."
"Pemilik blog yang goblog ok dipatuhi serta merta, Mbah! Kamu kayak percaya seratus pesen sama kesejahteraan semu dari BUMN pelat merah, Mbah!" mulai jengkel, sambil membawa kaca mata, wig, baju bunga-bunga dan android embah kemudian pergi, "Mbah bisa jadi Wujil inasih yang bijaksana tanpa jadi lelucon dan dianggap primitif, Mbah. Salam buat pemilik blog yang guooobloogggnya gitu banget!"
"MENENGA, DRUN!"
Yaudah. Tulisan ini harus selesai. Wujil dan Sudrun terpisah lagi oleh waktu. Eksistensi mereka tidak melekat pada raga dan jiwa, tapi pada keinginan pemilik blog. Tenang, mereka belum mati kok. :* :* :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar