Senin, 31 Agustus 2015

September dan Gloria





Pertemuan kita mungkin sejenak
Kita sama-sama tidak tahu apa yang ada di depan
Aku ingin menutup mata
Membiarkan ujung kemarau mengeringkan air di pelupuk
Hai, Gloria
Entah kemarau ini akan berakhir,
Atau terus meradang setelahnya
Tapi kita sudah siap dengan September
Aku siap dengan September

Pelukan memang tidak akan menjawab apapun
Kamu terus bilang ada satu misteri
Mengapa kita dipertemukan
Aku tidak percaya misteri
Aku percaya bahwa kita tidak sedang bermain-main
Walaupun kita sebelumnya sering bermain-main

Suatu kali hujan mungkin akan turun di bulan ini
Mendung sudah sering menjadi selimut,
Tak selamanya kelabu
Membuat tangan-tangan kita hangat,
Di sela-sela jari yang akan terus menggenggam,
Saat malam menuju pagi membuat kita terlalu menggigil
Gemetar membayangkan,
Perpisahan adalah jalan,
Untuk kita kembali dipertemukan

Aku tidak ingin berkata aku ingin dimengerti
Aku takut perpisahan dan kisah setelahnya menjadi tidak alami
Aku sedang serius,
Maaf, kalau aku selalu berkata tentang aku,

Kita sedang serius,
Kita sedang melantunkan irama percintaan,
Kita terpaksa melawan dunia

September dan Gloria,
Kita akan mengecup kehidupan
Sedikit bernegosiasi dengan empunya ruang dan waktu
Menetapkan pendirian satu sama lain,
Bercinta dalam dimensi yang berbeda

Aku mencintaimu. September dan Gloria.

Kamis, 30 Juli 2015

F


Faisal, sudah kau mandikan adikmu?
Apa? Lubang di selangkang?
Itu namanya vagina, kenapa?
Kau pegang? Jangan!
Kenapa adik menangis?
Kau pegang?
Bagus! Jangan kau pegang!
Sudah, biarkan dia menyabun dirinya sendiri!
Kau cukup menyiram, jangan sentuh macam-macam!

Kau sudah besar sekarang, Faisal.
Ibu mau tanya, mau jadi apa?
Apa? Mau jadi seperti adikmu?

Faisal, kamu yakin?
Lubangmu akan lebih sakit.
Kau siap?
Ibu selalu menyiapkan telinga kalau kau sudah tak kuat mendengar.
Bahu Ibu selalu sedia kalau kau mulai lemah.
Kalau kau yakin, Ibu yakin.

Siapa? Fani?
Ibu suka nama barumu.

Salah Tidur


Lelah
Setiap hari bergulat dengan interpretasi
Busuk, selalu ada bagian tempatmu menusuk
Tidak cukup kau berperang dengan kemacetan?
Setiap pikiran yang mandeg
Muara kekosongan,
Berujung pada kekuasaan

Bicara selalu tentang modal
Kawan kau juga jual
Keluarga biar saja terlantar
Mereka di belakang, mimpimu jauh lebih di depan
Kau tak sempat, tak punya waktu
Sepertinya lehermu sakit
Terlalu lelap tidur, banyak mendengkur
Lupa kalau posisi kepalamu semakin salah

Gurat pada atas dahimu? Apa itu?
Seperti bekas api pada pantat tungku liat yang terbakar terus-terusan
Sebentar lagi retak
Kau terlalu panas, nak
Berhenti sejenak sebelum kaki berontak, matanya lepas kelelahan
Gosok dengan kawat, sepertinya sudah terlalu berkarat

Anakku.
Ini Ibumu.

Bumi.

Hahaha



Hahahahaha.
Bisa melakukannya sekaligus?
Pernah?
Bagaimana bisa buka buku, tutup buku
Buka telinga, tutup telinga
Buka mata, tutup mata
Buka hidung, tutup hidung
Buka mulut, tutup mulut
Mencecap, memuntahkan
Buka pikiran.
Tutup pikiran.
Tutup pikiran.
Tutup.
Masih hidup?
Oh iya.
Hahahaha
Belajar untuk hidup.
Belajar untuk mati.
Tahu siapa aku.
Lupa siapa aku.
Duduk bersama yang kau bilang tak mampu.
Buang muka dengan yang kau bilang tak mampu.
Kenal semua profesi.
Fokus pada profesi.
Mengejar profesi.
Dasar profesional awam.
Kader profesi.
Lalu mati.
Oh belum?
Hahahahaha
Hidup bebas.
Hidup terbatas.
Pergi untuk menang.
Kembali dianggap kalah.
Hidup kok untuk sendiri.
Hidup itu untuk dinikmati.
Eh, ya dinikmati sendiri.
Keluar saja harus ada jam bebas.
Bergaul saja harus jam bebas.
Mengkritik saja lalu dipaksa bebas.
Ah.
Hidupmu serba berbatas.
Sebenarnya diajak tuli. Buta. Bisu. Engap. Lalu Mati, pada saatnya.
Sebelum tersadar.
Atau sebaiknya tidak ada yang sadar.
Sebentar lagi.
Ah, tak pernah benar-benar mati.

Takut tulisan ini berhenti.

Rabu, 29 Juli 2015

Di Dalam Buku-Bukuku Terselip A




Bagi beberapa orang, menenggelamkan diri dalam buku adalah cara yang paling tepat. Paling berhasil untuk menutup sejarah pahit dan tidak merinduinya. Tapi bagiku, sekarang hal itu tampak sama laknatnya dengan menghabiskan waktu bersama piring-piring penghabisan. Memang tidak membuat gendut, atau sebaliknya makin kurus. Memang sempat termanipulasi untuk lupa, tapi kemudian muncul.

Buku adalah jurang kita. Aku suka membelinya, mungkin hal paling ekstrim yang bisa kamu lakukan adalah membakarnya. Aku suka membuka-buka, mungkin akan kau diamkan berjamur di plastic sebelum kau sempat membuka. Tapi di situlah letaknya kerinduan, A. Aku merindukanmu apa adanya. Aku berbicara, kamu mengelak karena pening. Menjadi segar, kau siram dengan gelak tawa dan bibir yang kamu manyun-manyunkan. Hidungmu jadi terlihat lebih mbangir kalau kamu sudah begitu. Siapa yang tidak jatuh?

A, Pernahkah kamu sadar? Dalam tumpukan buku-bukuku, hanya ada satu hal yang konsisten. Wajahmu. Selalu berhasil menjadi penghias. Membuat buku apapun akan aku jaga, takut kamu buang karena judulnya menurutmu terlalu berat. Selain karena memang bobot kita tidak berat-berat amat, tapi juga karena kamu tidak suka aku ganggu dengan pikiran-pikiran yang menurutmu aneh. Buku seserius apapun akan membuatku tersenyum, karena selalu terbayang wajahmu yang manyun. Karena alasan-alasan yang seperti itu, aku menganggapmu aneh. Aku mulai suka hal-hal yang aneh.

Entah. Kamu adalah makhluk pemarah pertama yang tidak membuat aku gampang marah. Boleh lah sekali-sekali aku menggodamu dengan nada yang ngambeg juga. Ngambegmu bikin aku sadar. Yang orang bilang sebagai berisi, justru bisa jadi kosong. Sekosong aku beberapa hari kemarin. Sengaja aku tidak menghubungimu. Takut, sesuatu yang apa adanya itu justru tidak ada. Dan aku sudah merasa kamu memang tidak bisa menerima aku apa adanya.

Sialnya, A. Kenapa waktu itu aku ketemu kamu. Kita saling bertukar nomor. Argh. Kesalahan. Sejak itu kamu selalu muncul lagi di tiap halaman buku. Kali ini aku membayangkan nada penolakan. Cerita sejarah jadi sebuah kisah merindu. Definisi-definisi baru selalu dengan mudah aku lupakan dengan bayangan senyummu. Ah kamu membuat aku kacau. Belum satu buku pun aku selesaikan. Harus kubaca berulang-ulang karena tingkahmu.

Kamu boleh mengindar, kamu boleh beralasan apapun. Tapi aku tetap menganggapmu sebagai pohon teh (tea tree) yang bekerja di toko tubuh. Kamu pernah bilang kalau pohon teh akan sangat bermanfaat untuk menghilangkan jerawat. Jerawatku adalah kerinduan akan dirimu, dan kamu adalah obatnya. Kamu menjual tubuh-tubuh tumbuhan, dan aku setia pada satu tubuh. Tubuhmu, A.
Tubuh yang selalu segar. Menjadi wangi di tiap halaman buku, saat wajahmu mulai muncul.
A.

Kamu tahu? Setiap aku ke toko buku, yang letaknya di lantai 3,
aku rela memutar balik demi mengetahui kabarmu dari jauh.
Syukur-syukur bertemu kamu sebelum aku menuruni escalator satu lantai di bawah .
Dan anehnya, di toko buku aku selalu semangat membaca—bahkan hingga halaman terakhir.
Setelah melewati tempatmu bekerja, saat aku memaksakan diri untuk memutar, aku selalu terpaku pada satu-dua halaman buku. Itupun tak dapat kuingat isinya apa.
Kecuali kerinduan untuk kembali melihat wajahmu, A.
Dan pertanyaan, kapan kamu mau menemuiku, bukan lagi lewat bayangan di buku.


A, tampaknya kamu memang tidak suka dengan hubungan. Entah, pernyataanku itu berlaku khusus atau memang untuk semua yang kamu anggap sebagai hubungan. Tapi A, aku menyediakan diri menjadi orang paling sabar buat kamu. Kalau kamu memang sudah siap, silakan datang. Aku akan menyambutmu dengan buku-bukuku. Kamu boleh pilih salah satu. Yang paling tebal atau yang paling tipis. Sekali saja. Setelah kamu ambil, pakailah buat jitak kepalaku. Biar kamu tahu untuk mencintaimu, aku bahkan rela dikhianati buku-bukuku.

Ucapan Terima Kasih

- mengingat umur tidak membuatmu menjadi lebih dewasa dan bijaksana.

Terima kasih buat teman-teman yang sudah atau tetap berusaha mengingat, baik di memori atau di reminder handphone. Saya sayang kalian semua.

Minggu, 19 April 2015

Mbah Wujil Kembali, Sudrun Nyuguh Cerita Kematian

"Mbah, kita ketemu lagi"

"Sudah lama ya, Le?"

"La-le-la-le, emang aku Lele, Mbah?"

"Mana ceritamu yang katanya mau nerusin Mencari Cermin The Series? Omong Kosong kamu." manggut-manggut bentar, benerin jenggot sama monyong yang basah. "Katanya mau ngaku kalau kamu egosi terus kesasar waktu naik Merbabu? Kamu yang insaf waktu naik Merapi sama pemula?. Omong kosong. Siliti Pitikih kamu!"

"Lupa Mbah, gak ada waktu buat cerita. Lha wong Mbah aja udah bertahun-tahun menghilang. Kita juga baru ditemuin ini sama yang punya blog."

"Lha memang. Emang pengelola yang guoblog."

"MBAH, AKU DENGAR LHO! MASIH MIKIR REVISI MBAH! GAK SEMPAT!"

"Oh, koe krungu to Le?"

"LHA MBOK PIKIR? YANG NYEMPLUNGKE KAMU KE BLOG INI AKU JE MBAH. BAIDEWEI, ENAKNYA NAMA ANAK SOK TAHU YANG CERMINNYA MASIH HILANG ITU SIAPA MBAH? AKU BEUM NEMU."

"Sudrun ja! Dia itu ncen Sudrun. Cermin hati og bisa sampai hilang. Mbingungi wong sakdonya. Bikin uang terus keluar! Nyusahke wong. Wuu."

"Jinguk! Sudrun kan gabungan ceroboh dan sedikit bodoh, Mbah!"

"Lha manut pemilik blog yang guobog ini. Setuju?"

"YA WIS MBAH. DI CERITAKU YANG TERAKHIR KAN WUJIL KINASIH UDAH KEMBALI BIJAKSANA DAN WELAS ASIH. AKU SENDHIKA DHAWUH. SUDRUN JUGA BAGUS, BIAR SI LANANGAN IKI ORA TAMBAH SOK TAHU." bentar, aku mikir bentar mau nulis apa, "OYA, AKU PENGIN MENIKMATI OBROLAN NAIF KALIAN. JANGAN TERLALU BANYAK MENGENALKAN DIRI. ESTABLISH BERLEBIHAN GAK ENAK DIBACA. BIAR ORANG BACA Mencari Cermin I DAN II AJA."

"Lha kamu yang guoblog, tulisanmu gak diteruske. Aku kan kangen sama Sudrun. Waktumu terbuang buat mikir thok. rarampung-rampung!." diam sebentar, kemudian kembali ke Sudrun. "Eh, ada apa, Drun? Pertemuan kita gak mungkin sesia-sia usahamu ndeketin si N kan?"

"Gini, Mbah. Aku mau tanya."

"Apa?"

"Kemarin Mbahku meninggal. Budheku ngabarinnya agak aneh: Ibu ra ana!"

"Terus?"

"Lha aku ya njawab: Ilang kemana Budhe?" cekikikan bentar, "Jebul Budhe njawab:Lha dalah gemblung, Mbahmu seda, Le!"

"Tas-tes ke pertanyaanmu to!"

"Kenapa di Jawa, meninggal itu disamakan dengan ra ana (gak ada)? Padahal secara raga dia masih ada, belum dikubur. Masih bisa tak jiwit pipinya seperti biasa, walaupun cuma diam saja."

"Wah, kalau pikirannya Mbah panjang, Jadi gini..

Eksistensi manusia itu tidak dilihat sebatas raga. Ada dan tidak ada mengacu ke sesuatu yang lebih dalam, Le. Jiwa. Orang meninggal berarti jiwanya pergi dari raga. Nah, orang mengatakan ra ana atau tidak ada untuk menyebut orang meninggal itu sesuai dengan standar mereka.

Orang terbiasa menilai ada dan tidak ada sebagai raga dan jiwa yang melekat. Jadi kalau raga masih terlihat, tapi jiwanya kosong, orang bilang gak ada. Sama, kalau jiwanya-semangatnya masih melayang-layang,tapi secara ragawi dia tidak tampak, kita bilang itu sebagai tidak ada.

Secara filsafat ala petani yang direbut tanahnya sama negara kayak Mbahmu ini, ada makna yang lebih dalam, Drun. Percuma kamu memoles raga seindah mungkin kalau Jiwamu ternyata sudah kosong dan mati terhadap keadaan sekitar. Bahkan orang yang sudah meninggal itu dirias bukan tanpa alasan, tapi ada keyakinan bagi kita kalau selama beberapa hari Jiwa yang tidak lagi melekat di raga (dan kita menganggap itu sebagai hilangnya eksistensi ragawi seseorang) masih tetap bersemayam di dekat rumah hingga 40 hari. Raganya dirias, dimandikan biar bersih dan siap menghadapi eksistensi yang baru-tanpa kemelekatan pada raga. Ini ngawur sih, Drun.

Ingat, walaupun ragamu seindah Chelsea Islan atau Nicholas Saputra, tapi jiwamu sudah mati dan kosong terhadap keadaan sekitar. Ya, kamu mati. Eksistensimu sebagai manusia di sekitarmu akan hilang. Kalau hanya berfokus pada diri-kamu dan cara-kamu-menjadi-bahagia, yaudah, aku siapin kuburan aja buat kamu, Drun. Lumayan, kamu bisa mengubur sekalian kenangan-kenangan asmara yang pahit to?

Aku cuma bisa menjelaskan sengawuritu, Drun."

"Kalau gitu, Mbah. Ini kaca mata mboismu mending tak jual. Baju bunga-bungamu juga ini tak copote. Iki wig warna ungu, njijik i banget to!Aplikasi Picsart sama Photoshop-mu tak uninstall sini. Udah tuwek kok ya masih berfokus-pada-kebahagiaan-diri-sendiri sampai-sampai melupakan aku. Kita udah berapa tahun gak ketemu? Kamu tambah norak, Mbah!"

"Eits, eits aja! Tua-tua gini kan boleh ganteng juga!"

"Luweh, sini!"

"Ini kan ciptaan pemilik blog to, Drun. Biar Mbahmu ki necis."

"Pemilik blog yang goblog ok dipatuhi serta merta, Mbah! Kamu kayak percaya seratus pesen sama kesejahteraan semu dari BUMN pelat merah, Mbah!" mulai jengkel, sambil membawa kaca mata, wig, baju bunga-bunga dan android embah kemudian pergi, "Mbah bisa jadi Wujil inasih yang bijaksana tanpa jadi lelucon dan dianggap primitif, Mbah. Salam buat pemilik blog yang guooobloogggnya gitu banget!"

"MENENGA, DRUN!"

Yaudah. Tulisan ini harus selesai. Wujil dan Sudrun terpisah lagi oleh waktu. Eksistensi mereka tidak melekat pada raga dan jiwa, tapi pada keinginan pemilik blog. Tenang, mereka belum mati kok. :* :* :*