Selasa, 29 November 2011

Senyum Masa Depan versi Video 1 menit


deskripsinya ada di tulisan Senyum Masa Depan :)) selamat menikmati

Senin, 28 November 2011

Satu Lidi Sudah Kuat, Apalagi Kalau Banyak

Frater Jhony, SCJ (Weekend dan Pelantikan Lektor, 26-27 November 2011 - Omah Petruk, Kaliurang) bilang "Selama ini banyak yang mengumpamakan kelompok sebagai sekumpulan lidi, jika sendiri akan mudah dipatahkan, kalau bersama akan sulit dipatahkan. Tapi, Saya tidak setuju. Komunitas kalian itu sudah kuat walaupun hanya berdiri sendiri-sendiri, bayangkan ketika sudah disatukan!"

Sebuah footage yang saya ambil dari weekend menyenangkan selama dua hari. Dalam kesempatan ini saya juga resmi dilantik menjadi salah satu anggota Lektor Pringwulung. Tapi bukan ini yang ingin saya ceritakan. Saya ingin menceritakan sebuah pengalaman berharga tentang TIM.

Ya, ketika mendengar pernyataan tidak setuju Frater (baca: Kapten) terhadap perumpamaan yang telah lama ada itu, saya kemudian teringat tentang banyak orang yang berusaha mendefinisikan tim dan kelompok. Ya, berbekal pernyataan tidak setuju dari Frater Jhony saya akan mencoba share pengalaman tentang beda tim dan kelompok.

Tim dan kelompok, kadang dipahami sebagai dua hal yang sama. Berbekal dari ketertarikan di bidang yang sama, terbentuklah entah itu tim ataupun kelompok. Kelompok, dengan semakin berkembangnya teknologi, juga mulai banyak menjamur. Grup-grup terbentuk di dunia maya. Tapi apakah grup itu bisa disebut tim?

Sekali lagi, berbekal pernyataan tidak setuju Frater Jhony, saya akan mencoba mendedinisikan apa itu kelompok dan tim. Saat orang berkata, satu anggota rapuh dan ketika digabungkan akan jauh lebih kokoh, menurut saya inilah yang dinamakan kelompok. Tapi, ketika satu anggota saja sudah kuat, dan ketika disatukan akan menjadi semakin kuat, itulah yang kemudian saya sebut sebagai tim.

Latar belakang terbentuknya kelompok dan tim mungkin bisa sama, yaitu ketertarikan pada hal yang sama. Tapi, dalam prosesnya, akan ada perbedaan jelas antara kelompok dan tim. Dalam proses kerjanya, sebuah grup atau kelompok akan cenderung memanfaatkan kemampuan masing-masing. Kemampuan itu bukan kemudian disatukan, tapi hanya sebagai sebuah pendapat untuk kemudian menyepakati satu cara general untuk mencapai sebuah tujuan. Nah dari sini kita tahu, bahwa satu orang akan cenderung mempertahankan pendapat atau opininya. Ketika opini itu disatukan, barulah muncul kekuatan yang nyata.

Hal ini berbeda dengan kerja dalam tim. Ketika menyebut kumpulan orang sebagai sebuah tim, maka akan ada spesifikasi kemampuan pada tiap-tiap anggota. Hal inilah yang membedakan tim dengan kelompok. Dengan tujuan yang sudah disepakati, masing-masing anggota tim akan bekerja dalam satu tujuan dengan kemampuan masing-masing yang kuat. Perbedaan kemampuan itu bukannya untuk memisahkan satu anggota dengan anggota lain dalam proses, tapi lebih pada pembagian tugas.

Kompleksitas kerja mungkin akan lebih banyak dijumpai dalam sebuah tim, yang masing-masing anggotanya sudah membawa kemampuan masing-masing yang saling melengkapi. Hal ini jugalah yang membuat sebuah tim memerlukan ketua yang sangat kuat agar kemampuan yang berebda-beda tersebut dapat disinkronisasikan dalam pencapaian tujuan. Akan tetapi, dalam proses dan hasil, dinamika sebuah tim akan semakin berwarna karena akan ada perbedaan pendapat yang rasional sesuai dengan pengalaman dan kemampuan masing-masing.

Tim juga akan sangat kokoh ketika satu sama lain saling menjaga, tingkat kejenuhan akan mengecil karena satu sama lain dapat belajar. Ya, tim adalah sebuah kelomok pembelajaran yang lebih kompleks daripada kelompok. Tujuan yang ingin dicapai juga direncanakan jauh ke depan.

Ya, tidak ada salahnya membentuk kelompok. Karena dalam dinamika kelompom tersebut, suatau saat dalam satu atau banyak event pasti akan dibentuk tim. Dan sekali lagi, dengan koordinasi yang baik, sebuah tim yang terdiri dari anggota yang sudah kuat akan mampu memberikan dinamika dan hasil yang sangat kokoh.

Selamat berproses bagi kalian yang sedang berorganisasi :)) semoga tulisan kecil gak jelas ini bisa menjadi inspirasi :)) Maaf, sangat gak jelas.

Kamis, 24 November 2011

Ibu Guru




“Ibu kan ingin mengabdi, dek”

Judul di atas bukan untuk menyiratkan peranan perempuan yang besar dalam pendidikan. Saya hanya ingin menjelaskan pengabdian seorang Ibu, Margaretha Endang Iriani Lestari Pujiastuti, yang merupakan guru. Quotes awal itu juga saya ambil dari pengalaman Bu Endang, Ibu saya.

Sudah lebih dari 20 tahun ibu menjadi guru. Berbekal ijazah SPG Sedes Ambarawa, Ibu pernah menjadi guru TK di Recis Bogor (saya lupa tahunnya), guru TK Santa Maria, Sidorajo (1993-1998) dan TK Mardisiwi Gantang (2001-sekarang). Ibu, sebagai seorang Guru tidak sama dengan guru-guru lainnya.

Saya tidak tahu kapan mulanya Ibu tertarik menjadi Guru, yang saya tahu Ibu selalu senang mengajari anak kecil walaupun berada di luar sekolah. Ya, menurut saya Ibu adalah guru yang sangat berbeda.

Saya melihat guru-guru masa kini yang sudah menggunakan motor, HP yang canggih, gaya yang sangat mewah. Tapi, Ibu adalah seorang guru yang tetap sederhana dan sangat rendah hati. Bahkan, Ibu tidak pernah menuntut banyak gaji sebagai pemenuhan kebutuhan yang mewah. Ibu hanya menuntut hak yang sudah disepakati sebelumnya. Dulu, gaji Ibu saya hanya 300.000 per bulan.

Dalam kejamnya dunia sekarang ini, dimana yang punya uang selalu menang, Ibu mengajarkan pada saya pengabdian adalah hal yang sangat mendesak untuk dilatih. Ibu mengajarkan pada saya bagaimana caranya berprestasi meski tak punya uang. Haha, saya ingat masa kecil saya yang dekil. Dulu, tas dan sepatu pun bukan ibu yang membelikan, tapi guru-guru SD saya. Dari dulu hingga sekarang, bahkan, sekolah siapa yang membayar? Sedikit dari orang tua, kebanyakan dari beassiswa. Semua itu saya dapatkan dari perjuangan Ibu, yang memandang uang bukanlah hal utama untuk mencapai kesuksesan.

Saat seperti itu, kala Ibu mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah institusi yang lebih banyak gajinya, Ibu tetap memilih bertahan di Mardisiwi. Saat Ibu mendaftar sebagai PNS (walupun tidak diterima), Ibu tetap berjanji akan berkarya di Gantang. Ibu bukan hanya sekedar Guru yang mengajar saat kelas, tapi memiliki kedekatan batin yang kuat dengan masyarakat Gantang.

Ya, pengalaman Ibu mengajar di Gantang adalah pengalaman yang menurut saya mengesankan. Dulu Gantang bukanlah daerah beraspal seperti sekarang. Gantang adalah daerah yang jalannya terjal, tidak rata dan menanjak. Ibu berangkat mengajar ya dengan berjalan kaki, walaupun kini sudah bisa menikmati mudahnya kendaraan. Semua dilakoni Ibu, bahkan Ibu pernah beberapa kali cerita kalau Ibu pingsan saat mengajar karena lelah saat berjalan. Tapi Ibu menyerah? Tidak pernah.

Dulu Gantang adalah sebuah daerah yang hanya memiliki satu SD Negeri. Bukan keberadaan SD nya yang memilukan, tapi belum ada kesadaran kuat tentang pentingnya pendidikan di daerah itu. Dan benar, pertama kali Ibu mengajar di sana, menumpang rumah dari kayu yang masih kecil, muridnya bisa dihitung dengan jari. Tapi, pendekatan kepada masyarakat terus dijalani. Ibu membimbing dengan sepenuh hati murid-muridnya sehingga bisa menularkan pada teman-temannya kalau bersekolah itu bukan sebuah beban, tapi menjadi pembelajaran yang asik.

Dulu masyarakat sana menganggap, mending ceat kawin daripada kelamaan sekolah. Tapi sekarang, generasi 12 tahun lalu yang dibimbing ibu di masa TK mulai tumbuh menjadi pribadi yang peduli pendidikan. Walupun bukan semuanya, tapi Ibu tetap berusaha menanamkan pentingnya pendidikan utnuk masa depan.

Dengan misi itu, Ibu tidak hanya bersentuhan dengan anak. Ibu juga rajin bersosialisasi dengan warga sekitar. Hahaha, kalau ada hajatan kecil saja, rumah bisa sangat ramai dipenuhi dengan warga Gantang yang berkunjung bebarengan. Saya kurang tahu pasti, tapi mereka pernah berbisik pada saya “Jangan kaget ya, Ibumu sudah dianggap seperti keluarga kami”. Sedekat itukah Ibu? Tapi menurut saya kedekatan itu juga sebuah isyarat kalau Ibu juga terus berjuang dalam pendidikan ank-anaknya. Anak Ibu bukan hanya saya, Mbak Mita, atau Ian. Bahkan Nando, anak kecil (murid ibu) yang sekarang sudah di surga, anak-anak gimbal di Ganang juag semua anak yang pernah bersentuhan dengan Ibu.

Saya bangga dengan Ibu, saya trenyuh dengan perjuangan Ibu. Suatu kali teman-teman saya berkesempatan bertemu Ibu, salah seorang di antaranya mengatakan “Ibumu mencerminkan seorang Guru”. Ya, Ibu adalah Guru yang sejati di mata saya. Ibu, lanjutkan pengabdianmu.

Puzzle: Film Nasionalis Karya Satu Atap (FSMR ISI) yang Minimalis tapi Manis

"Kita adalah kepingan Puzzle, Indonesia adalah bingkainya"

Kalimat itu yang terus terngiang dalam benak saya. Ya, mungkin sangat sederhana, tapi makna di balik kalimat tersebut menurut saya sangat luar biasa. Ini juga yang mengawali keluarbiasaan yang ditampilkan sebuah karya minim persiapan, tapi maksimal dalam makna.

Puzzle menceritakan Damar, yang di waktu kecil mndapatkan sebuah Puzzle Indonesia dari kakeknya. Bukan hanya puzzle saja, melainkan rangkaian makna dari puzzle tersebut. Ya, namanya anak kecil, ketika beranjak SD, SMP bahkan SMA pun DAmar belum mengerti apa yang diceritakan kakeknya tersebut mengenai "Bhinneka Tunggal Ika".

Damar SD diceritakan sangat tidak tolerir, bahkan cenderung nggentho. Damar SD terlibat perkelahian dengan seorang anak dari Ambon. Suatu kali mereka berebut Peta yang dipinjamkan ibu guru, dan akhirnya sobek. Mereka akhirnya mengisolasi bersama-sama.

Damar SMP, tak jauh beda. Bukan lagi isu rasisme yang diangkat, tapi kepedulian terhadap orang kecil. Damar SMP sama sekali tidak menghormati tukang kebun di rumahnya. Hingga suatu kali, Damar bertemu perempuan cantik (yang tidak diceritakan siapa) yang membuka matanya bahwa sekaya apapun dirinya, ternyata ketergantungan terhadap mereka yang kecil ssangat besar. Ya, saya setuju, mereka yang kaya adalah mereka yang sebenarnya mengambil kenyamanan dari orang-orang kecil di sekitar mereka.

Damar SMA, tak lagi bersinggungan dengan masalah rasisme atau pun kepedulian. Tapi dengan menggunakan Nasinalisme yang sedang jadi trend. Damar yang diceritakan mencinati bola terlibat perselisihan kecil terkait siapa yang akan menang saat Timnas Indonesia bertanding. Dan sekali lagi saya sepakat, di tengah carut marut dunia persepakbolaan Indonesia (yang saya kurang mengerti), dukungan seluruh elemen merupakan sebuah langkah memajukan Indoensia. Dan saya harap, bukan hanya untuk bola, tapi dukungan untuk segala pengalaman Damar tadi.

Ramuan pengalaman Damar dari kecil-SMA diselingi dengan Damar Kuliah yang mencoba merangkai kembali "kita" sebagai puzzle, dalam bingkai ke-Indonesiaa-an yang tunggal. Bhinneka Tunggal Ika.

Ya, berbeda, tapi sekali lagi ketika perbedaan itu tak bisa dilengkapi, maka akan ada bagian yang kosong. Kekosongan itu harus diisi dengan persatuan. Persatuan yang emmbutuhkan semua elemen ke-Indonesia-an untuk melengkapi sebuah bingkai besar, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Analogi yang tak main-main. Walaupun minim persiapan (hanya 1 minggu), tapi film yang diproduksi selama 3 minggu ini benar-benar manis untuk menjawab segala tantangan Indonesia di masa kini. BUkan saja mengenai pluralisme, tapi juga berbica penghargaan pada mereka yang kadang tidsk pernah kita sentuh. Bukan saja mengenai bagaimana belajar tentang Indonesia, tapi juga bagimana kita mengajarkan pada semua orang yang kita kenal mengenai indahnya Indonesia yang sesungguhnya.

Kalah jadi abu, menang jadi arang. Sebuah ungkapan yang juga muncul sebagai pemanis. Pertikaian sebenarnya bukanlah sebuah solusi. Kepingan Puzzle hanya bisa disusun dengan landasan logika dan juga kesabaran. Ketika semua itu luntur, maka emosi yang berlebihan selanjutnya akan merusak bingkai persatuan yang telah dibangun dengan perjuangan besar jauh-jauh hari.

Bukan lagi tugas para pahlawan untuk menyatukan kepingan-kepingan tersebut, tapi sekarang sudah menjadi tugas kita untuk merekatkan diri satu sama lain. Memberikan sebuah kehangatan tentang bagiaman bingkai Indoensia bisa distukan. Bukan lagi berpikir tentang say, tapi tentang kita. Bukan lagi berpikir bagiamana caranya menjadi kaya, tapi bagaimana caranya menjadi berharga. Bukan lagi berseru "Ini Tuhanku", tapi berpikir "Cara Tuhan untuk menyayangi mereka". Ya, hanya sebuah ulasan kecil, menanggapinya dengan opini. Dan menurut saya, walupun film ini sangat minimalis dari segi peran, tapi menjadi sangat manis untuk menggugah ke-Indonesia-an. Sukses Satu Atap. Sukses terus FSMR ISI. Saya tunggu screening karya selanjutnya.

Selasa, 22 November 2011

Bersyukur dan Kurang Mensyukuri

Judul yang hanya berupa formulasi kata jika ya maka lawannya adalah tidak. Tapi sebenarnya yang ingin saya bahas bukanlah apa itu bersyukur apa itu kurang mensyukuri. Saya hanya ingin menulis berbagai pengalaman saya terkait bersyukur dan tidak mensyukuri.

Bersyukur. Benarkah setiap orang, setiap hari bersyukur. Saya tidak mau munafik, saya sendiri masih belum bisa bersyukur setiap harinya. Hal ini memang bukan menjadi sebuah kebiasaan. Okelah, sesekali saya mensyukuri sesuatu tanpa ada sebabnya, berdoa dengan syukur karena mengingat kalau kita harus bersyukur atas segala sesuatu.
Pengalaman lebih dalam lagi, saya diajak bersyukur melihat segala keindahan yang ada. Ironisnya, bersyukur semacam menjadi sebuah alat untuk menakut-nakuti anak kecil. “Kalau kamu gak bersyukur, nanti Tuhan marah. Kamu nanti dapat sial” hal itupun seringkali direpresentasikan dalam produk-produk audiovisual. Akan tetapi, harusnya ada sebuah pendidikan yang lebih dalam untuk menjelaskan kenapa kita musti bersyukur.

Pengalaman saja, saya cenderung bersyukur ketika sudah mepet sekali. Kalau sudah tidak ada uang, dapet uang seribu saja sudah sangat alhamdullilah. Bahkan lebih dari itu, ketika sudah mepet, rasa syukur yang mendalam akan dirasakan dengan sangat menjaga uang tersebut. Ya, sebenarnya terlalu kontras juga ketika menghubungkan syukur dengan uang, akan tetapi ini adalah sebuah contoh yang nyata. oRang bersyukur ketika mendapatkan uang. Ya, uang memang adalah sebuah alat pembayaran, tapi harusnya yang disyukuri adalah kehidupan, fasilitas untuk berbagi yang ada di balik uang itu. Bukan sebuah kemewahan, bukan lagi penderitaan yang bisa ditimbulkan dari uang.

Sebenarnya dari hal-hal tersebutlah kemudian kita bisa mensyukuri sesuatu. Lebih lagi, kita akan mensyukuri dengan menghargai sesuatu itu. Saat sudah mepet. Benarkah semua orang bersyukur setiap hari, atau HARUS bersyukur setiap hari? Menurut saya manut saja pada ego masing-masing. Sekali lagi syukur itu harusnya timbul dari pengalaman yang sudah terarah dengan baik, bukan lagi atas dasar paksaan dan ketakutan akan Tuhan. Hahaha..sekali lagi saya masih percaya Tuhan adalah konstruksi masing-masing manusia dalam bahasa ke-Tuhanan mereka.

Nah, sekarang, ketika kita sedang tidak kepepet atau sedang berlimpah, apakah kita tidak bersyukur? Bukan, saya tidak mengatakan seperti itu. Akan tetapi kecenderungannya adalah kita menghilangkan rasa syukur tersebut setelah menerima berkah. Boleh lhah setelah sekian lama kepepet, kita akan mengahrgai sesuatu yang datang sebagai jawaban atas situasi mepet. Akan tetapi, ketika berkah tersebut terus-menerus datang, ya rasa syukur itu sebnarnya sedag diuji.

Saya punya pengalaman. Ketika habis memenangkan sebuah event, saya cenderung takut. Saya merasa saya berada di sana hanya atas dasar luck bukan kemampuan yang saya punya. Selanjutnya saya terus berada pada titik ketakutan, apakah karya-karya saya kemudian juga bisa diapresiasi. Saya kemudian takut, apakah saya akan terus dibanding-bandingkan. Haha..ya, rasa takut ini kemudian membuat saya jauh dari rasa syukur. Sangaattt jauuuhh..

Hal yang kontras, tapi senada juga pernah saya alami. Kontras dalam rasa takut, senada dalam ketidakbersyukuran. Saat saya mempunyai banyak sekali uang hasil pekerjaan, uang menjadi begitu gampang dibuang. Ah, saya sangat tidak mensyukuri sepeser uang. Saya menjadi lupa makna-makna di balik uang tersebut. Saya membuangnya dengan mudah.

Hahaha..ya hanya share saja tentang bersyukur dan tidak bersyukur. Saya merasa sebenarnya syukur itu tidak perlu ditunjukkan pad orang lain. Syukur yang harusnya dimenegerti pun harusnya lebih dari Terimakasih saya mendapat uang. Tapi mensyukuri pula apa yang ada di balik uang, di balik berkat dengan memahami dan melakukan aksi. Kalua uang ya, boleh lho berbagi rasa syukur dengan memberi sedekah pada yang membutuhkan (teman yang bokek mungkin). Tapi yang lebih penting lagi, syukur seharusnya lahir dari refleksi atas situasi lupa bersyukur. Ya, ini snagat penting karena akan ada makna yang lebih di balik rasa syukur tersebut dibanding ketika kita bersyukur hanya karena ingat paksaan saja.
Selamat menikmati hari, berefleksi dan menemukan begitu banyak berkah yang bisa disyukuri )

Nadia

"aku lebih suka dikerjai, daripada harus membantu ibu membereskan gerobak yang kami tinggal"

Pagi ini aku sedang membantu ibu membereskan gerobak jualan kami. Rutinitas seperti ini kami lakukan setiap hari, untuk mencari sesuap nasi. O ya, namaku Nadia, perempuan 15 tahun yang sudah tak gadis lagi. Heran kan? Tapi memang aku sudah tak gadis lagi di umurku yang masih sangat hijau. Aku sudah datang di pinggiran jalan Suramadu ini dari jam 8 pagi dan sudah sejam lamanya kami beres-beres. Beginilah nasib kami, uang datang seperti keberuntungan. Dan benar, ternyata tak lama setelah kami beres-beres datang orang-orang beseragam lagi.

Tanganku digenggam Ibu, kami mencoba lari. Ibu menggeretku keluar dari jembatan untuk menghindari pria-pria berseragam itu. Tapi, aku melepaskan tangan ibu. Aku sudah kecewa dengan ibu yang berulang kali meninggalkanku. Aku memang tak bisa bicara dan mendengar, tapi sakit rasanya ketika ibu berulangkali tak pernah mengucap namaku ketika aku pergi. Kini ibu mengenggam tanganku pun hanya karna takut, ketika para seragam itu bercerita aku bertemu ayahku di penjara.

Aku menyerahkan diri lagi pada pria-pria berseragam yang berulangkali mengerjaiku itu. Aku lebih suka dikerjai dan setelahnya melepas rindu dengan ayah yang katanya merekayasa penculikan, daripada harus tinggal ketakutan di rumah dan disuruh-suruh ibu memberesi gerobak yang kami tinggal.

Pria-pria berseragam itu membawaku dengan mobil bertempat duduk yang mereka miliki. Heran, sesampainya di kantor yang jadi satu dengan bui, mereka mendiamkanku. Mereka seakan tak melihat mataku yang minta dikerjai, mereka juga tak lihat tetesan air dari mataku yang rindu ayahku. Satu hari lebih mereka mencoba menggeretku keluar dari tempat itu, tapi aku tak mau sebelum bertemu ayahku. Mereka kemudian bercerita dengan nada yang tak kedengaran, tapi mimik muka mereka marah, dan saya tahu maksudnya. Ayah sudah keluar dari bui, mereka tak tahu dia pergi entah kemana.
Ah, aku seketika keluar dari tempat itu. Aku berjalan tak tahu entah kemana. Aku ingin jauh-jauh dari rumah, aku ingin jauh-jauh dari pria-pria berseragam. Aku ingin bertemu ayah. Aku teringat cerita ibu. Ketika sedang mencuci, aku membuka buku-buku catatannya. “Lebih baik dikerjai perampok, daripada main biasa sama suami sendiri.” Aku tak tahu maksudnya, tapi aku membaca bagian lain. Luka ibu ketika diperkosa oleh perampok. Ibu akhirnya kesampaian punya anak, walaupun cacat seperti saya. Ibu menuliskan kalau ayah seperti bajingan yang tidak pernah mencari nafkah, tidak bisa memberi kepuasan, tidak pernah menanamkan benih anak. Luka tersebut semakin dalam, ketika ayah tak bisa berbuat apa-apa saat ibu diperkosa oleh perampok. Hingga akhirnya ibu menjadi setengah gila. Ibu kemudian minggat dari rumah ayah, dan mencari si perampok dengan membawaku dalam kandungannya.

Ibu hidup di jalan dan terus mendambakan raut wajah si perampok. Tapi dalam perjalanannya dia tak sadar kalau aku sudah hampir lahir. Ibu hanya singgah di emperan toko, dan tidur, mengerang-erang kesakitan di situ ketika aku akan lahir. Untung ada orang Cina baik yang mendengar erangan Ibu. Koh Liang membawa ibu ke rumah sakit, membayar semua biaya pengobatan dan memberi kami sebuah rumah singgah. Koh Liang yang kemudian memperistri ibu saya, mengajari ibu untuk mandiri dan bekerja lagi.

Aku telah jauh, entah berjalan kemana. Dalam ingatan tentang cerita ibu, aku selalu teringat tentang perasaan ibu yang hingga kini masih disimpan kepada perampok yang memperkosanya. Entah perasaan benci, atau rasa terimakasih. Hal yang sudah pasti adalah, ibu gembira ketika aku lahir dan membenciku seumur hidup saat dia tahu aku bisu dan tuli.

Aku berjalan terus, hingga melewati sebuah rumah berperawakan China. Rumah dengan dekorasi serba merah itu mengingatkanku pada kematian ayah tiriku, Koh Liang. Waktu itu ibu masuk ke warung Koh Liang, hendak mengambil beberapa uang. Koh Liang mengetahuinya, dia sudah lama menyimpan benci pada ibu yang masih menyimpan hasrat pada si perampok sejak Koh Liang menikahinya. Melihat peluang menjebloskan ibu ke penjara, Koh Liang membekap ibu di depan mataku. Koh Liang mencoba menyeret ibu ke luar warung. Akan tetapi ibu keburu mengambil pisau dan menghujamkan pisau itu ke perut Koh Liang. Ditendangnya kemaluan koh Liang dan dicabik-cabiknya tubuh Koh Liang dengan mata dendam.

Ahhhhhhhhhhhhhhhhh.. aku berteriak kencang ketika mengingat kejadian itu. Aku diinterogasi oleh banyak polisi. Ibu dengan muka tanpa dosa melimpahkan kesalahannya padaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu aku berumur 10 tahun. Aku dikerjai oleh pria-pria berseragam untuk pertama kalinya. Setelah dua hari dikerjai, aku dilepas begitu saja, karna menurut mereka aku punya gangguan jiwa. Ahhhhhhh, aku berteriak sekali lagi. Aku benci pulang, aku benci ibu. Tapi hasratku dengan ibu untuk dikerjai sama. Kami ingin bertemu dengan orang yang pertama kali mengerjai kami.

Lama sekali aku hanya diam di depan rumah serba merah itu untuk merenungi nasib. Tiba-tiba pintunya terbuka, aku lagi-lagi sudah salah arah. Ibu muncul dari balik pintu, dengan senyum sinis menjewerku masuk ke dalam rumah. Ah, bangunan ini bangunan dari Koh Liang. Aku sudah menuju rumah. Aku tak tahu kenapa, aku rindu penyiksaan-penyiksaan di dalam rumah ini.

Rabu, 09 November 2011

Tuhan

Bukan untuk menambanh definisi tentang Tuhan, tapi hanya ingin mengungkapkan kembali definisi-definisi yang telah ada tentang Tuhan. Berbicara tentang Tuhan dalam kelas PNI, membuat saya terinspirasi untuk menyindir mereka yang berdoa dengan nama baik Allah, memuji dengan lantang dan keras nama Allah. Tapi, menurut pemikiran saya, pemahaman Allah dalam kuasa kebaikan adalah sesuatu yang sempit. Akan saya jelaskan hal ini dalam paragraf selanjutnya, tapi sebelumnya ijinkan saya share ayat ini:

“ Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. ”

See....walaupun mungkin penafsiran saya tidak 100% benar,,tapi saya melihat sebuah pencerahan untuk menilai orang lain. Ya, tidak usah banyak bicara tentang ini..tak ada kaitannya sedikitpun dengan apa yang saya tuliskan dalam kelas PNI tentang Tuhan. Aneh ya, bicara iklan, tapi bicara Tuhan, kontras terasa..tapi ya sudah lah...ini tulisan saya...

Tuhan.
Tuhan selama ini digambarkan duduk di sebelah kanan. Hal itu yang kemudian membuat "kanan" identik dengan kebaikan surgawi. Ya, surgawi, ketika semua orang percaya bahwa Tuhan tinggal di surga. Tuhan, menghalau setan yang bermuram di neraka, yang selama ini selalu di-"kiri"-kan. Seperti analogi tentang malaikat dan bidadari, mengalahkan setan berarti sebuah berkah. Karena berkah melimpah itulah, kemudian Tuhan menjadi muara segala doa. Tapi, menurut saya Tuhan itu juga hadir dalam sifat ke-"kiri"an manusia. Tuhan yang dianggap Agung, pasti punya kuasa atas segala kejahatan yang bebas dari jeratan. Ya, Tuhan itu kuasa, oleh karenanya masing-masing manusia punya peranan juga untuk menggunakan kuasa itu. Berarti Tuhan dikendalikan manusia? Sekali lagi, bukan bermaksud menjadi Agnostik, tapi manusia punya kuasa untuk menciptakan imaji tentang Tuhan dalam bahasa ke-Tuhan-n mereka masing-masing.

See, Tuhan dan manusia adalah hubungan imaji yang pribadi. Jadi buat apa saya berteriak-teriak memuji Tuhan untuk didengar? sepertinya tidak berguna ketika imaji pribadi tersebut tak muncul dalam kuasa yang lebih hakiki dan esensial, yaitu sikap. Silahkan berimaji, silahkan memuji, tapi jangan lupa sinkronisasi dengan sikap, pikiran dan perbuatan :))