“Besok kalau mau menikah, cari yang seiman Katolik ya dek” begitu kira-kira nasehat Ibu, Bapak, Mbak, Kakek, nenek, Bulek dll. Bahkan keluarga saya sempat menyayangkan ketika sepupu saya mendekati perempuan berjilbab. Karena seringnya saya didoktrin seperti itu, pada awal mencari pasangan hidup saya juga mengutamakan perempuan yang seagama. Saya cenderung menghindari perempuan-perempuan beda agama ketika memilih (walaupun mereka mungkin juga enggan untuk saya pilih, haha).
Hal ini terus saya camkan hingga pada pernikahan Kakak saya dengan seorang Hindu. Kakak saya yang notabene adalah perempuan harus mengikuti tradisi pernikahan Hindu di Bali, menurut adat Bali pula. Akan tetapi baru ada pemberkatan di gereja selang 3 bulan pernikahan, yang artinya dalam akta perikahan, akak ipar saya beragama Katolik walaupun pada akhirnya keduanya tetap menjalankan ajaran mereka masing-masing. Dari hal ini kemudian saya bertanya-tanya, Katolik-Hindu kadang tidak dipermasalahkan, lalu mengapa kebanyakan orang mempermasalahkan hubungan Katolik-Islam?
Doktrinasi sejak kecil baik dari orangtua teman-teman saya yang Muslim ataupun Kristiani untuk mencari pasangan hidup yang seiman membuat saya bertanya apakah iman akan goyah karena cinta? Bukannya dengan memaknai cinta pada keberagaman kita justru mendapatkan iman yang jauh lebih kuat? Memang pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul 100% karena asumsi saya bahwa toleransi dan memahami satu sama lain adalah bagian utama sebuah iman. Lalu saya juga mulai bertanya-tanya apakah dengan segala doktrinasi untuk mendapatkan pasangan seiman itu tidak akan menimbulkan perpecahan? Setidaknya secara tidak sadar bukannya akan muncul keyakinan bahwa pasangan yang seiman adalah pasangan yang terbaik? Dengan memunculkan pandangan bahwa pasangan yang seiman adalah pasangan yang terbaik, bukannya manusia juga menciptakan pandangan bahwa agamanya adalah yang terbaik dan harus terus menerus diturunkan pada anak cucunya?
Dari pandangan sederhana (yang mungkin terlalu sederhana) ini kemudian saya mulai tidak yakin bahwa saya diajarkan untuk beriman untuk kelangsungan kedamaian di dunia, saya justru berprasangka bahwa saya diajarkan beriman hanya untuk menjaga kelestarian agama saya di dunia. Prasangka saya kemudian berlanjut pada penolakan saya terhadap segala bentuk Muhammad, Yesus, Buddha, Syiwa atau apapun nama Nabi atau anutan yang selalu dielu-elukan utnuk mengajarkan hidup pada para pemeluknya. Bukankah mereka diciptakan sebagai anutan, bukan untuk memecahbelah pandangan manusia tentang manusia lain dan juga kedamaian yang seharusnya diciptakan oleh manusia? Tapi penolakan tersebut hanyalah penolakan sementara, karena saya tetap mengimani Yesus sebagai bagian dari anutan saya dan sekali bukan untuk memecahbelah pandangan saya tentang manusia yang baik dan buruk berdasarkan siapa yang mereka anut.
Kembali pada asumsi saya tentang agama sebagai sebuah aliran untuk mengajarkan bagaiamana manusia bersikap terhadap manusia lain untuk menciptakan kedamaian (bukan menciptakan surga atas nama agama masing-masing), maka tidak adil ketika sebuah pernikahan yang didasarkan pada cinta (sumber kedamaian)tidak direstui hanya karena masalah perbedaan agama. Ketika orang kemudian memunculkan argumen bahwa pernikahan seagamalah yang akan menciptakan kedamaian, maka saya akan memunculkan argumen bahwa tidak selamanya pergaulan seagama selalu menciptakan kedamaian. Pergaulan seagama hanya akan menutup mata teman-teman sepergaualan tentang ajaran-ajaran lain yang beragam dan secara tidak langsung membentuk sebuah pertahanan diri terhadap agama lain karena mereka benar-benar tidak paham. Begitu pula dengan sebuah hubungan pernikahan atau setidaknya hubungan percintaan, bukankah dengan berpasangan atas dasar persamaan agama tanpa pernah merasakan cinta yang sesungguhnya merupakan sebuah penghianatan tersebesar terhadap hati masing-masing orang yang merasakan. Bukankah dengan melarang mereka mencintai yang berebda gama, maka juga melarang mereka untuk mencintai manusia sebagaiamana kepercayaan mereka?
Itu merupakan pernyataan dan keyakinan saya, mungkin akan sangat salah ketika dipandang dari sudut pandang ketaatan beragama, atau akan sangat salah jika dipandang lebih jauh tentang makana pernikahan. Tapi setidaknya sebelum saya mengetahui ajaran agama yang melarang saya menikah dengan pasangan yang berbeda agama ataupun terhalang aturan yang membuat saya harus menikah dengan menjalani agama yang sama, saya punya pandangan tersendiri tentang pernikahan dan agama sebagai sebuah sarana penciptaan kedamaian yang universal. Sekian, maaf jika ada yang tersinggung atau tulisan ini berat sebelah, tapi saya berpikir saya beragama karena iman, saya memilih pasangan karena cinta dan saya bertingkahlaku karena saya ingin terjalin kedamaian di dunia setidaknya hal itulah yang melandasi saya untuk menuliskan tulisan ini. Pemikiran sangat sederhana yang mungkin susah dipahami, susah diterima dan minim argumentasi. Sekian, mohon koreksinya.
Kamis, 21 April 2011
Posisioning Telkomsel di Jumoyo
Sekilas saya akan membahas sedikit tentang persepsi saya tentang Telkonsel, Simnpati khususnya. Simpati jika dibandinmgkan dengan 3 memang punya tarif yang sedikit lebih mahal, akan tetapi dari pengalaman saya meminta pelayanan langsung di masing-masing Gerai di Jalan Jenderal Sudirman, Simpati memang tampak jauh lebih siap menghadapi pelanggan. Mulai dari jumlah Satpam yang memadai dan selalu tersenyum, para Front liner dengan Style rambut yang seragam (Cowok di atur ke tengah dan ke atas, cewek digelung ke atas [kecuali yang berambut pendek]) hingga pelayanan eksklusif dan ramah yang didapatkan tiap-tiap konsumen membuat saya berpikir bahwa Telkomsel merupakan provider Telekomunikasi yang mengedepankan layanan yang eksklusif dan baik.
Hal tersebut adalah posisioning awal yang ada di benak saya ketika menerima direct service di Gerai graPari. Lalu, suatu hari sekitar 2 bulan lalu saya pulang ke Magelang. Keadaan saat itu adalah masih labilnya kondisi Merapi dan juga jalan Jumoyo yang hampir selalu dibuka tutup untuk menghindari efek dari banjir lahar. Ketika saya melewati jalur alternatif, di ujung jalan alternatif saya melihat cat merah di toko yang biasanya berwarna abu-abu itu. Saya membaca sekilas, ternyata adalah ambience Telkomsel. Sekilas memang tidak menarik karena strategi serupa juga sering dipakai oleh Walls, 3, XL dan bermacam-macam brand lainnya. Akan tetapi setelah saya memikirkan lebih lanjut, saya merasa Simpati Telkomsel punya kecerdasan dengan memanfaatkan jalur alternatif sebagai tempat pembuatan ambience tersebut.
Seakan-akan Simpati yang sudah mulai digusur oleh provider-provider murah lain menjadi alternatif yang aman, merupakan jalur cepat jika ingin sampai dengan selamat daripada menunggu dan juga penyelamat ditengah keramaian yang terjadi jika tidak ada jalur alternatif. Saya coba membandingkan hal ini dengan persaingan ketat industri Telekomunikasi di Indonesia, seolah tergusur oleh provider lain, Simpati Telkomsel menelurkan Simpati Freedom dengan paket Murahnya. Penempatan di jalur alternatif ini juga mengisyaratkan bahwa Simpati merupakan jalur aman ketika jalur utama (provider utama yang dipakai) sudah tidak lagi berfungsi. Tidak sampai di situ saja, ketika jalur utama dibuka kita juga akan melihat dengan jelas Ambience Simpati ini yang menandakan bahwa Simpati “dari alternatif jadi yang utama”. Ini mungkin hal sederhana dari pemikiran sederhana saya merespon ambience Simpati di Jalur Alternatif Jumoyo. Jika ada yang salah mohon dikoreksi.
Hal tersebut adalah posisioning awal yang ada di benak saya ketika menerima direct service di Gerai graPari. Lalu, suatu hari sekitar 2 bulan lalu saya pulang ke Magelang. Keadaan saat itu adalah masih labilnya kondisi Merapi dan juga jalan Jumoyo yang hampir selalu dibuka tutup untuk menghindari efek dari banjir lahar. Ketika saya melewati jalur alternatif, di ujung jalan alternatif saya melihat cat merah di toko yang biasanya berwarna abu-abu itu. Saya membaca sekilas, ternyata adalah ambience Telkomsel. Sekilas memang tidak menarik karena strategi serupa juga sering dipakai oleh Walls, 3, XL dan bermacam-macam brand lainnya. Akan tetapi setelah saya memikirkan lebih lanjut, saya merasa Simpati Telkomsel punya kecerdasan dengan memanfaatkan jalur alternatif sebagai tempat pembuatan ambience tersebut.
Seakan-akan Simpati yang sudah mulai digusur oleh provider-provider murah lain menjadi alternatif yang aman, merupakan jalur cepat jika ingin sampai dengan selamat daripada menunggu dan juga penyelamat ditengah keramaian yang terjadi jika tidak ada jalur alternatif. Saya coba membandingkan hal ini dengan persaingan ketat industri Telekomunikasi di Indonesia, seolah tergusur oleh provider lain, Simpati Telkomsel menelurkan Simpati Freedom dengan paket Murahnya. Penempatan di jalur alternatif ini juga mengisyaratkan bahwa Simpati merupakan jalur aman ketika jalur utama (provider utama yang dipakai) sudah tidak lagi berfungsi. Tidak sampai di situ saja, ketika jalur utama dibuka kita juga akan melihat dengan jelas Ambience Simpati ini yang menandakan bahwa Simpati “dari alternatif jadi yang utama”. Ini mungkin hal sederhana dari pemikiran sederhana saya merespon ambience Simpati di Jalur Alternatif Jumoyo. Jika ada yang salah mohon dikoreksi.
Sabtu, 02 April 2011
Random #AsramaFever
saya ingin menuliskan kesan (sedikit saja) yang sebenarnya harus saya sampaikan, kawan....
Dulu pernah kita menjadi satu dalam kehidupan berbelenggu dan sarat akan aturan (yang kita sendiri belum mau memaknai aturan tersebut)....Dulu, bahkan, kita disatukan karena rasa ingin bebas yang selalu memberontak setiap kita melihat sedikit peluang yang diberikan..
Dulu....ketika kita mendapat suatu cobaan,,kita dengan cepat melintas ruang dan saling mendinginkan pikiran....Dulu,,ada cerita tentang saya dan anda, juga kita yang jauh dari orang tua,,mencoba memaknai kembali keluarga kecil dalam sebuah asrama....
Dulu (mungkin) saya akan sangat menyebalkan bagi anda, hingga kita kadang membagi diri dalam beberapa kelompok yang berbeda....anda tahu saya, saya tahu anda, ketika kita mengangkat piala itu bersama, mengabadikan setiap momen bersama, mengenakan jas bersama, berjalan di atas rumput upacara dan kita menerima sorakan bangga atas prestasi bersama, sharing tentang impianmu dan impianku di atas kayu berlapis busa tipis, berbagi kisah tentang Nawang, Niken, Yulia dan perempuan-perempuan hebat juga tentang Tuhan yang sempat membuat kehidupan kita pun semakin berwarna, belajar menghitung setiap angka yang entah mengapa harus dikalikan, dikurangi kemudian ditambah kembali, atau untuk bahasa yang entah kenapa semakin sulit ketika membaca banyak referensi, mendendangkan lagu dengan suara kita yang kadang sangat parau dan jauh dari sempurna, tapi kita lantas tertawa untuk semua keparauan itu. Memang semua entitas kecil itu bukan lah kesempurnaan yang ingin kita capai dalam hidup. Titik-titik yang pernah kita alami hanyalah sebagian kecil landasan untuk meraih masa depan, hingga kita bisa menatapnya bersama, walaupun kita sempat tidak bersama selama beberapa waktu yang lewat oleh amarah (yang bahkan terjadi bersamaan).
Teman, pernahkah terlintas dengan jelas....impianku kini bahkan berbeda dari apa yang pernah kita bayangkan....pernahkah terlintas dengan jelas apa yang akan terjadi dengan ikatan ini ketika kita sudah jauh berada dalam bidang-bidang tenaga yang berbeda..pernahkah terlintas dengan jelas kapan kita akan bertemu lagi dalam jangka waktu yang mau tidak mau harus kita lewatkan?? Atau kita justru berpikir sama....kita mau selalu bersama,,memberikan tenaga dalam ruang yang hampir sama,,sehingga kekuatan yang kita bangun dari awal pun akan tetap terjaga hingga ia lenyap....
Kini kita menghadapi pencerahan besar-besaran di maha bangku,,menuntut kita tak lagi hanya berpikir tentang ikatan,,tapi tentang perbuatan....membuka mata kita akan dunia yang semakin luas,,yang membutuhkan ulurang tangan dari masing-masing kita....tapi saya belum bisa membayangkan,,apakah tangan ini cukup kuat ketika mengayunkan tenaganya hanya sendiri.....walaupun saya yakin,,saya pasti kuat....
Kita pernah bermimpi untuk membantu edukasi,,setidaknya berdoa bersama bagi orang-orang yang bahkan mengalami kehidupan yang lebih buruk daripada saya....tapi kadang kita lupa untuk berdoa bagi ikatan kita,,bukan karena kita melupakan....tapi karena ikatan itu seperti sudah sangat melekat dan tak akan ada yang menggoyahkan....
Sobat,,dunia kita kini semakin luas....pengetahuan kita semakin bertambah....ayuhkan tanganmu bukan lagi karena KITA, tapi demi KITA untuk MEREKA....
Tertanda....
Teman kalian....
Dulu pernah kita menjadi satu dalam kehidupan berbelenggu dan sarat akan aturan (yang kita sendiri belum mau memaknai aturan tersebut)....Dulu, bahkan, kita disatukan karena rasa ingin bebas yang selalu memberontak setiap kita melihat sedikit peluang yang diberikan..
Dulu....ketika kita mendapat suatu cobaan,,kita dengan cepat melintas ruang dan saling mendinginkan pikiran....Dulu,,ada cerita tentang saya dan anda, juga kita yang jauh dari orang tua,,mencoba memaknai kembali keluarga kecil dalam sebuah asrama....
Dulu (mungkin) saya akan sangat menyebalkan bagi anda, hingga kita kadang membagi diri dalam beberapa kelompok yang berbeda....anda tahu saya, saya tahu anda, ketika kita mengangkat piala itu bersama, mengabadikan setiap momen bersama, mengenakan jas bersama, berjalan di atas rumput upacara dan kita menerima sorakan bangga atas prestasi bersama, sharing tentang impianmu dan impianku di atas kayu berlapis busa tipis, berbagi kisah tentang Nawang, Niken, Yulia dan perempuan-perempuan hebat juga tentang Tuhan yang sempat membuat kehidupan kita pun semakin berwarna, belajar menghitung setiap angka yang entah mengapa harus dikalikan, dikurangi kemudian ditambah kembali, atau untuk bahasa yang entah kenapa semakin sulit ketika membaca banyak referensi, mendendangkan lagu dengan suara kita yang kadang sangat parau dan jauh dari sempurna, tapi kita lantas tertawa untuk semua keparauan itu. Memang semua entitas kecil itu bukan lah kesempurnaan yang ingin kita capai dalam hidup. Titik-titik yang pernah kita alami hanyalah sebagian kecil landasan untuk meraih masa depan, hingga kita bisa menatapnya bersama, walaupun kita sempat tidak bersama selama beberapa waktu yang lewat oleh amarah (yang bahkan terjadi bersamaan).
Teman, pernahkah terlintas dengan jelas....impianku kini bahkan berbeda dari apa yang pernah kita bayangkan....pernahkah terlintas dengan jelas apa yang akan terjadi dengan ikatan ini ketika kita sudah jauh berada dalam bidang-bidang tenaga yang berbeda..pernahkah terlintas dengan jelas kapan kita akan bertemu lagi dalam jangka waktu yang mau tidak mau harus kita lewatkan?? Atau kita justru berpikir sama....kita mau selalu bersama,,memberikan tenaga dalam ruang yang hampir sama,,sehingga kekuatan yang kita bangun dari awal pun akan tetap terjaga hingga ia lenyap....
Kini kita menghadapi pencerahan besar-besaran di maha bangku,,menuntut kita tak lagi hanya berpikir tentang ikatan,,tapi tentang perbuatan....membuka mata kita akan dunia yang semakin luas,,yang membutuhkan ulurang tangan dari masing-masing kita....tapi saya belum bisa membayangkan,,apakah tangan ini cukup kuat ketika mengayunkan tenaganya hanya sendiri.....walaupun saya yakin,,saya pasti kuat....
Kita pernah bermimpi untuk membantu edukasi,,setidaknya berdoa bersama bagi orang-orang yang bahkan mengalami kehidupan yang lebih buruk daripada saya....tapi kadang kita lupa untuk berdoa bagi ikatan kita,,bukan karena kita melupakan....tapi karena ikatan itu seperti sudah sangat melekat dan tak akan ada yang menggoyahkan....
Sobat,,dunia kita kini semakin luas....pengetahuan kita semakin bertambah....ayuhkan tanganmu bukan lagi karena KITA, tapi demi KITA untuk MEREKA....
Tertanda....
Teman kalian....
Jumat, 11 Februari 2011
Blogging Sebagai Kegiatan Penyalur Pikiran
Ketika memutuskan untuk menuliskan bagian ini, saya sebenarnya mengalami beberapa disonansi terkait ketidaklengkapan tulisan-tulisan saya. Satu hal yang sangat kurang dari setiap tulisan-tulisan saya adalah kehadiran ilustrasi baik yang berupa foto ataupun video. Disonansi itu sangat saya rasakan, terlebih ketika saya mengetetahui kekuatan ilustrasi sebagai bukti juga sebagai penguat sebuah tulisan. Akan tetapi, keterbatasan saya dalam hal peralatan tidak lantas membuat saya melunturkan niat untuk mengunggah tulisan saya ke dalam blog. Blog menurut saya bukan sebagai ajang untuk memperlihatkan bagaimana karya "sebagai sebuah media self-esteem", tapi lebih merupakan media sosialisasi dimana segala buah pikir yang ada di dalam sebuah blog (walaupun kadang saya pesimis akan ada orang yang membaca tulisan-tulisan saya) mempunyai makna yang berarti bagi kehidupan masyarakat. Buah pemikiran kecil akan menjadi bahan referensi alternatif bagi pemikiran-pemikiran besar, apalagi dengan meningkatnya aksesibilitas manusia terhadap pikiran-pikiran tersebut. Blog bagi saya bukan lagi berbicara tentang kelengkapan ilustrasi di dalamnya, akan tetapi bagaimana elaborasi pemikiran-pemikiran kecil dalam benak penulis dengan rangkaian kata-kata yang pada akhirnya menambah satu lagi alternatif pemikiran dari sekian banyak opini-opini yang ada di dalam dunia online, broadcast dan juga cetak.
Jadi untuk kalian yang takut untuk nge-blog karena keterbatasan kelengkapan pikiran-pikiran kalian, coba tuangkan pikiran-pikiran kecil dalam dua, tiga atau lebih rangkaian kalimat agar orang tahu apa yang menjadi pikiran kalian sehingga pemikiran sekecil apapun pada akhirnya akan memberi alternatif bagi pikiran-pikiran lainnya.
Jadi untuk kalian yang takut untuk nge-blog karena keterbatasan kelengkapan pikiran-pikiran kalian, coba tuangkan pikiran-pikiran kecil dalam dua, tiga atau lebih rangkaian kalimat agar orang tahu apa yang menjadi pikiran kalian sehingga pemikiran sekecil apapun pada akhirnya akan memberi alternatif bagi pikiran-pikiran lainnya.
Minggu, 06 Februari 2011
Majalah dalam Era Konglomerasi
Majalah merupakan salah satu media massa yang sudah dikenal sejak lama. Ketika berbicara tentang majalah, maka kita juga harus mengetahui proses ataupun struktur industri majalah sebagai produsen majalah itu sendiri. Definisi majalah sendiri menurut Dominick (2007: 117) adalah media publikasi periodikal yang menggunakan cover, berisi bermacam-macam artikel dan seringkali menggunakan ilustrasi atau foto-foto.
Dominick (2007: 117) membagi majalah di bagi ke dalam dua klasifikasi, yaitu: menurut isi dan fungsi. Pengklasifikasian majalah menurut isinya dibagi ke dalam enam kategori, yaitu: majalah konsumen umum, majalah publikasi bisnis, majalah custom, review literatur dan jurnal akademis, newsletter, majalah public relation. Pengklasifikasian kedua adalah pengklasifikasian industri majalah berdasarkan fungsinya, yang terbagi dalam tiga kategori: fungsi produksi, fungsi distribusi, fungsi penjualan/eceran.
Dalam pengklasifikasian majalah dan industri majalah berdasarkan isi dan fungsi tersebut kita mengetahui bahwa perkembangan majalah bergantung pada kinerja fungsi-fungsi yang ada dalam industri majalah untuk memproduksi majalah dengan isi yang telah ditentukan.
Industri Majalah dalam Era Konglomerasi
Berbicara mengenai konglomerasi suatu majalah, kita akan berbicara pula tentang kepemilikan suatu industri majalah. Dominick dalam bukunya The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age (2007: 122) mengatakan bahwa merjer dan akuisisi industri majalah yang ada menimbulkan industri majalah didominasi oleh korporasi yang besar.
Hal tersebut juga terjadi di Indonesia, bahkan konglomerasi media massa juga menyentuh industri majalah Tanah Air. Sebut saja Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang merupakan salah satu industri multimedia. Dalam praktek perindustrian-medianya, KKG memiliki media koran, tabloid, radio, televisi dan majalah. Industri majalah yang dimiliki oleh korporasi besar ini juga tidak hanya bergerak pada satu segmentasi saja. Intisari, Hai, Otomotif, Bobo, Trubus, National Geographic Indonesia, Hot Game, Motor Plus dan Kawanku adalah beberapa industri majalah yang dimiliki oleh KKG. Lalu, hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah KKG sebagai korporasi yang secara kuantitas telah menunjukkan supremasinya dalam industri majalah juga memiliki kualitas yang sebanding dengan jumlah yang ditawarkannya?
Hai adalah majalah yang berada dalam naungan KKG yang akan saya coba analisis dalam esai ini. Hai sendiri merupakan sebuah majalah yang menargetkan remaja (SMA pada khususnya) sebagai pembacanya dengan menawarkan berbagai artikel yang menarik dan menyentuh berbagai aspek kehidupan yang sedang hangat dialami oleh remaja SMA. Edisi-edisi Hai dikemas dengan sampul dan judul yang sangat menarik. Sebut saja edisi “Cupu Awards” yang diterbitkan satu tahun sekali. Edisi ini mencoba mengkritisi fenomena-fenomena dengan tanggapan-tanggapan negatif yang seringkali bahkan subjektif dan profokatif. Salah satu artikel yang saya ingat adalah artikel tentang Kangen Band pada awal kemunculannya dalam Hai “Cupu Awards” tahun 2006 silam. Dalam artikel tersebut tampak sekali subjektifitas penulis yang secara radikal dan kasar menjelek-jelekkan band asal Lampung tersebut baik dari segi musikalitas hingga yang paling parah adalah fisik para pemainnya. Dampak yang diberikan berikutnya adalah banyaknya anak-anak SMA yang mulai menjelek-jelekkan band-band semacam Kangen Band.
Edisi-edisi lain yang juga kadang menimbulkan sebuah keambiguan adalah edisi “Cewek Hai” yang menampilkan foto-foto seksi perempuan-perempuan yang dipilih oleh pembaca Hai. Edisi “Cewek Hai” ini mengandung unsur eksploitasi tubuh wanita. Meskipun dalam artikel-artikel yang ada adalam edisi tersebut dibahas profil dan ketertarikan cewek yang diulas, akan tetapi saya melihat motivasi utama pembaca (terutama pria) yang berbondong-bondong mengeluarkan gocek sebesar Rp 25.000,00 untuk majalah ini adalah keseksian model tersebut.
Bagian lain yang perlu dikritisi dari majalah milik KKG ini adalah bagian fashion. Fashion yang ditawarkan dalam majalah ini mengandung pesan bahwa siapa yang gak ngikutin gue, gak gaul. Hal ini muncul dalam benak saya ketika Hai lagi-lagi mempopulerkan istilah “Alay”. Alay yang ingin ditampilkan oleh majalah Hai merujuk pada orang-orang yang ingin mengikuti trend yang ada akan tetapi justru kelihatan ndeso dalam pandangan kaum Hai. Istilah yang dipopulerkan oleh majalah Hai ini seakan mengindikasikan bahwa Hai adalah satu-satunya trendsetter yang harus diikuti, hebatnya lagi adalah banyak remaja yang sekarang ini mulai mendiskriminasikan kaum yang dianggap alay.
Pengaruh besar tidak hanya disebarkan oleh majalah Hai sebagai bagian dari KKG, Khairinnisa dalam blognya (studimedia2010.blogspot.com) majalah franchise yang berasal dari Amerika, Cosmogirl, mempersepsikan konsep kecantikan yang berasal dari negara asalnya. Irin berpendapat bahwa dalam Cosmogirl cantik dipersepsikan sebagai tinggi, langsing, berkulit putih, hidung mancung layaknya ‘bule’ serta memakai pakaian-pakaian bermerk yang berasal dari negara Barat yang secara kontras jelas berbeda dengan karakteristik asli Indonesia. Hal ini yang menurut Irin membuat remaja-remaja perempuan saat ini berlomba-lomba membuat dirinya tampak lebih putih tanpa memedulikan bahwa wanita Indonesia memiliki gen kulit sawo matang.
Penanaman pendapat atau pengkonsepan pikiran yang terjadi oleh majalah Hai sebagai bagian dari KKG ataupun Cosmogirl sebagai bagian dari sayap perusahaan asing ternyata juga terjadi pada beberapa majalah lain yang bernaung pada korporasi besar baik berskala nasional maupun internasional. Pengkonsepan pikiran pembaca yang terjadi pun kadang bersifat negatif (walaupun tidak melulu negatif) dan yang terjadi adalah bahwa remaja atau wanita atau target-target lain yang dituju oleh sebuah industri majalah ternyata tidak mempunyai pilihan lain selain membaca majalah tersebut.
Stuart Hall (Griffin, 2003: 367) dalam teori Cultural Studies-nya menyatakan bahwa media (dalam hal ini berupa majalah) adalah alat ideologi yang kuat dalam mempengaruhi pembacanya. Hal tersebut sesuai dengan sebab-sebab dan akibat-akibat yang saya coba jabarkan di atas. Majalah Hai dan Cosmogirl merupakan alat ideologi sederhana yang mempengaruhi pikiran pembaca untuk selalu mengikuti hal yang sedang hangat dibicarakan oleh majalah-majalah tersebut.
Ideologi yang ada dengan akibat yang ditimbulkan oleh media sebagai alat peng-ideologi-an tidak bisa lepas dengan kalangan elite sebagai pemilik modal yang bekerja dibalik sebuah proses produksi majalah. Hal ini ditegaskan pula dalam wikipedia.org (Khairinnisa, studimedia2010.blogspot.com) yang menegaskan bahwa franchise adalah hak untuk menjual suatu produk dalam bentuk barang maupun jasa. Hal tersebut sesuai dengan tujuan korporasi yaitu mencari keuntungan.
Hall (Griffin, 2003: 370) menyatakan bahwa korporat sebuah korporasi media akan mengontrol komunikasi massa sebuah media massa. Hal tersebut terjadi juga pada majalah Hai dan Cosmopolitan yang mencoba mengkonsepsikan kepada pembacanya bahwa trend yang mereka bawa adalah trend yang harus diikuti agar tidak ketinggalan jaman. Ketika majalah-majalah tersebut membawa trend baru, maka pembacanya pun akan mengikuti trend yang ada tersebut. Sesuai dengan pernyataan Hall (Griffin, 2003 : 369) bahwa media merupakan pembentuk makna, begitupula majalah-majalah yang ada di Indonesia. Hal ini nampak jelas pada pengkonsepsian makna alay oleh para kaum Hai.
Hal yang memprihatinkan adalah bahwa ketika sebuah industri majalah yang beragam dipegang oleh satu korporasi, maka akibat yang timbul adalah terjebaknya pembaca ke dalam konten yang mirip sehingga tidak lagi punya pilihan. Hal ini juga muncul ketika remaja pembaca Hai juga membaca Kawank, maka makna (khususnya tentang trend yang ada) tidaklah jauh berbeda.
Referensi:
Dominick, Joseph R. 2007. The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age. New York: McGraw Hill.
Griffin, Em. 2003. A First Look at Communication Theory. New York: McGraw Hill
studimedia2010.blogspot.com. Pengaruh Majalah Franchise Asing Di Indonesia. Diakses tanggal 20 Mei 2010 pukul 18.35.
Acuan analisis adalah majalah Hai edisi “Cupu Awards” dan “Cewek Hai” tahun 2006 dan 2010.
Dominick (2007: 117) membagi majalah di bagi ke dalam dua klasifikasi, yaitu: menurut isi dan fungsi. Pengklasifikasian majalah menurut isinya dibagi ke dalam enam kategori, yaitu: majalah konsumen umum, majalah publikasi bisnis, majalah custom, review literatur dan jurnal akademis, newsletter, majalah public relation. Pengklasifikasian kedua adalah pengklasifikasian industri majalah berdasarkan fungsinya, yang terbagi dalam tiga kategori: fungsi produksi, fungsi distribusi, fungsi penjualan/eceran.
Dalam pengklasifikasian majalah dan industri majalah berdasarkan isi dan fungsi tersebut kita mengetahui bahwa perkembangan majalah bergantung pada kinerja fungsi-fungsi yang ada dalam industri majalah untuk memproduksi majalah dengan isi yang telah ditentukan.
Industri Majalah dalam Era Konglomerasi
Berbicara mengenai konglomerasi suatu majalah, kita akan berbicara pula tentang kepemilikan suatu industri majalah. Dominick dalam bukunya The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age (2007: 122) mengatakan bahwa merjer dan akuisisi industri majalah yang ada menimbulkan industri majalah didominasi oleh korporasi yang besar.
Hal tersebut juga terjadi di Indonesia, bahkan konglomerasi media massa juga menyentuh industri majalah Tanah Air. Sebut saja Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang merupakan salah satu industri multimedia. Dalam praktek perindustrian-medianya, KKG memiliki media koran, tabloid, radio, televisi dan majalah. Industri majalah yang dimiliki oleh korporasi besar ini juga tidak hanya bergerak pada satu segmentasi saja. Intisari, Hai, Otomotif, Bobo, Trubus, National Geographic Indonesia, Hot Game, Motor Plus dan Kawanku adalah beberapa industri majalah yang dimiliki oleh KKG. Lalu, hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah KKG sebagai korporasi yang secara kuantitas telah menunjukkan supremasinya dalam industri majalah juga memiliki kualitas yang sebanding dengan jumlah yang ditawarkannya?
Hai adalah majalah yang berada dalam naungan KKG yang akan saya coba analisis dalam esai ini. Hai sendiri merupakan sebuah majalah yang menargetkan remaja (SMA pada khususnya) sebagai pembacanya dengan menawarkan berbagai artikel yang menarik dan menyentuh berbagai aspek kehidupan yang sedang hangat dialami oleh remaja SMA. Edisi-edisi Hai dikemas dengan sampul dan judul yang sangat menarik. Sebut saja edisi “Cupu Awards” yang diterbitkan satu tahun sekali. Edisi ini mencoba mengkritisi fenomena-fenomena dengan tanggapan-tanggapan negatif yang seringkali bahkan subjektif dan profokatif. Salah satu artikel yang saya ingat adalah artikel tentang Kangen Band pada awal kemunculannya dalam Hai “Cupu Awards” tahun 2006 silam. Dalam artikel tersebut tampak sekali subjektifitas penulis yang secara radikal dan kasar menjelek-jelekkan band asal Lampung tersebut baik dari segi musikalitas hingga yang paling parah adalah fisik para pemainnya. Dampak yang diberikan berikutnya adalah banyaknya anak-anak SMA yang mulai menjelek-jelekkan band-band semacam Kangen Band.
Edisi-edisi lain yang juga kadang menimbulkan sebuah keambiguan adalah edisi “Cewek Hai” yang menampilkan foto-foto seksi perempuan-perempuan yang dipilih oleh pembaca Hai. Edisi “Cewek Hai” ini mengandung unsur eksploitasi tubuh wanita. Meskipun dalam artikel-artikel yang ada adalam edisi tersebut dibahas profil dan ketertarikan cewek yang diulas, akan tetapi saya melihat motivasi utama pembaca (terutama pria) yang berbondong-bondong mengeluarkan gocek sebesar Rp 25.000,00 untuk majalah ini adalah keseksian model tersebut.
Bagian lain yang perlu dikritisi dari majalah milik KKG ini adalah bagian fashion. Fashion yang ditawarkan dalam majalah ini mengandung pesan bahwa siapa yang gak ngikutin gue, gak gaul. Hal ini muncul dalam benak saya ketika Hai lagi-lagi mempopulerkan istilah “Alay”. Alay yang ingin ditampilkan oleh majalah Hai merujuk pada orang-orang yang ingin mengikuti trend yang ada akan tetapi justru kelihatan ndeso dalam pandangan kaum Hai. Istilah yang dipopulerkan oleh majalah Hai ini seakan mengindikasikan bahwa Hai adalah satu-satunya trendsetter yang harus diikuti, hebatnya lagi adalah banyak remaja yang sekarang ini mulai mendiskriminasikan kaum yang dianggap alay.
Pengaruh besar tidak hanya disebarkan oleh majalah Hai sebagai bagian dari KKG, Khairinnisa dalam blognya (studimedia2010.blogspot.com) majalah franchise yang berasal dari Amerika, Cosmogirl, mempersepsikan konsep kecantikan yang berasal dari negara asalnya. Irin berpendapat bahwa dalam Cosmogirl cantik dipersepsikan sebagai tinggi, langsing, berkulit putih, hidung mancung layaknya ‘bule’ serta memakai pakaian-pakaian bermerk yang berasal dari negara Barat yang secara kontras jelas berbeda dengan karakteristik asli Indonesia. Hal ini yang menurut Irin membuat remaja-remaja perempuan saat ini berlomba-lomba membuat dirinya tampak lebih putih tanpa memedulikan bahwa wanita Indonesia memiliki gen kulit sawo matang.
Penanaman pendapat atau pengkonsepan pikiran yang terjadi oleh majalah Hai sebagai bagian dari KKG ataupun Cosmogirl sebagai bagian dari sayap perusahaan asing ternyata juga terjadi pada beberapa majalah lain yang bernaung pada korporasi besar baik berskala nasional maupun internasional. Pengkonsepan pikiran pembaca yang terjadi pun kadang bersifat negatif (walaupun tidak melulu negatif) dan yang terjadi adalah bahwa remaja atau wanita atau target-target lain yang dituju oleh sebuah industri majalah ternyata tidak mempunyai pilihan lain selain membaca majalah tersebut.
Stuart Hall (Griffin, 2003: 367) dalam teori Cultural Studies-nya menyatakan bahwa media (dalam hal ini berupa majalah) adalah alat ideologi yang kuat dalam mempengaruhi pembacanya. Hal tersebut sesuai dengan sebab-sebab dan akibat-akibat yang saya coba jabarkan di atas. Majalah Hai dan Cosmogirl merupakan alat ideologi sederhana yang mempengaruhi pikiran pembaca untuk selalu mengikuti hal yang sedang hangat dibicarakan oleh majalah-majalah tersebut.
Ideologi yang ada dengan akibat yang ditimbulkan oleh media sebagai alat peng-ideologi-an tidak bisa lepas dengan kalangan elite sebagai pemilik modal yang bekerja dibalik sebuah proses produksi majalah. Hal ini ditegaskan pula dalam wikipedia.org (Khairinnisa, studimedia2010.blogspot.com) yang menegaskan bahwa franchise adalah hak untuk menjual suatu produk dalam bentuk barang maupun jasa. Hal tersebut sesuai dengan tujuan korporasi yaitu mencari keuntungan.
Hall (Griffin, 2003: 370) menyatakan bahwa korporat sebuah korporasi media akan mengontrol komunikasi massa sebuah media massa. Hal tersebut terjadi juga pada majalah Hai dan Cosmopolitan yang mencoba mengkonsepsikan kepada pembacanya bahwa trend yang mereka bawa adalah trend yang harus diikuti agar tidak ketinggalan jaman. Ketika majalah-majalah tersebut membawa trend baru, maka pembacanya pun akan mengikuti trend yang ada tersebut. Sesuai dengan pernyataan Hall (Griffin, 2003 : 369) bahwa media merupakan pembentuk makna, begitupula majalah-majalah yang ada di Indonesia. Hal ini nampak jelas pada pengkonsepsian makna alay oleh para kaum Hai.
Hal yang memprihatinkan adalah bahwa ketika sebuah industri majalah yang beragam dipegang oleh satu korporasi, maka akibat yang timbul adalah terjebaknya pembaca ke dalam konten yang mirip sehingga tidak lagi punya pilihan. Hal ini juga muncul ketika remaja pembaca Hai juga membaca Kawank, maka makna (khususnya tentang trend yang ada) tidaklah jauh berbeda.
Referensi:
Dominick, Joseph R. 2007. The Dynamics of Mass Communication: Media in the Digital Age. New York: McGraw Hill.
Griffin, Em. 2003. A First Look at Communication Theory. New York: McGraw Hill
studimedia2010.blogspot.com. Pengaruh Majalah Franchise Asing Di Indonesia. Diakses tanggal 20 Mei 2010 pukul 18.35.
Acuan analisis adalah majalah Hai edisi “Cupu Awards” dan “Cewek Hai” tahun 2006 dan 2010.
Be Aware (Tugas Inggris Semester 1)
Global warming is one of global issues that we always heard. Many definition have issued by some scientist that give us understanding about global warming. Global warming is the increasing process of the average temperature of atmosphere, sea, and the earth (id.wikipedia.org, accessed at 8th December, 2009). Then, the same source also explained that the earth temperature have been increasing 0.74±0.18 ºC since a hundred years ago.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) conclude that the increasing of average global temperature is caused by the increasing amount of green house gas as the result of human activities. This conclusion had been said by 30 expert in the world. But, some expert disagree with them. Some expert said that altough the amount of green house gas will have been decreased, but the global temperature will not be changed. They have another reason why global warming cannot be stopped by decreasing the amount of green effect. The reason is the high temperature of sea that can give significant impact to the human surface (id.wikipedia.org).
Green house gas (like almost all expert said) is one of the global warming causes. Green house (H2O, carbondioxide, fluor and methane) gas is actually good and needed in normal amount. Green house gas can keep the earth warm in normal amount. Green house effect keep the warmth that is issued by the sun’s light and explore it to the earth surface. If there isn’t green house gas in earth, the earth temperature is just -18 ºC. But, in large amount, it will cause global warming (id.wikipedia.org). It’s predicted by IPCC that global warming will increase 1,5 –4,5 ºC earth temperature (www.stradasembilantujuh.net, accessed at 3rd December, 2009).
The green house gas is the first reason thought by the expert as the reason why global waming happened. There are a lot of human activities that unrealized can increase the green house gas and make the green house effect. The first activity that can increase the releasing CO2 to the atmosphere is the over use of electricity. The electricity making need the dynamo or generator as the first source. Dynamo or generator need some fuel or other energy sources to give power to produce the electricity. Mind it, the use of electricity in the world is very big and you can imagine how much energy sources that is used to produce all of electricity in the world. From the one of electricity industry in Indonesia, 1 KWh can produce 0,72 kg CO2 (www.globalindoprima.com, accessed at 2008)
From the BUMN research, the industrial electricity is 60-70% used to run the AC. The use of AC can give double impact to the earth. First, AC spend almost 400 Watt per hour, it means that in 24 hours AC can spend 9600 Watt. In one day, the use of one AC can released 9.6 x 0.72 = 6.912 kgs CO2. In other side, we knew that in one office there are more than one AC. If we count the world use of AC, you can imagine how much CO2 that released by the using of AC per day. Second, AC use freon to produce the air. Freon contain of Chlor and Fluor. Chlor is gas that can damage the Ozone so UV can reach your skin withou any filtrating processes. Freon is one of green house gas that can make greean house effect. Global Warming Potential (GWP) of fluor is 510, it means that fluor 510 times more dangerous than CO2. Than, Atmosphere Life Time (ALT) of freon is in 15th index, it means that freon will be exist in atmosphere for 15 years (www.globalindoprima.com).
Many people do the over use of electricity and also AC. There are some others activities like using parfume spray, releasing gas emision and many more. The activities is done without any thinking because it’s a habit and it will be difficult to invite people to save the earth. There are so many people scream loudly to cut the global warming effect, but they also do what the others do. It means that difficult to change the habit and reduce our addiction to the technologies. In some case we want to reduce the global warming effect, but in some others case, we are the technology addicted.
Global warming give significant effect to the earth. The ecological and physical effect are thawing of permafost, lengthening of the growing season in middle and high latitudes, polewardand upward shift of plant and animal ranges, decline of some plant andanimal species, earlier flowering of trees, earlier emergence of insects and earlieregg-laying in birds (NN, 2008:21).
Global warming impact to the season is lengthening of the growing season in middle and high latitudes. This effect gives many impact to the human life, especially in Indonesia. The lengthening of hot season in Indonesia have made a difficulty for the farmer. The weather changing made the plant growth more slow. It made the increasing price of the main food because of the deficit in a certain period (www.alpensteel.com, accessed at 3rd December, 2009). The rainy season intensity in Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, had been decrease for 20 years, and bothering the farmer, fisher and the other society (who has profession that based on season) activities (rullysyumanda.org, accessed at 3rd December, 2009).
In climate side, global warming increase the global average surface temperature, decrease of snow cover and sea ice extent and the retreat of mountain glaciers, rise in global average sea level and the increase in ocean water temperatures (NN, 2008:21). The global climate changing will give many impact to the world. First, the increasing of global surface temperature will melt the polar ice and increase the sea level. Second, the climate changing will damage the balance of earth then give us many geological disaster. It can be happened because as we all know that climate condition is related to the moving of earth surface (kerak bumi). Earth surface is sensitif to the air, ice and water changing (Kompas.com, 8th Oktober 2009).
In South Asia, flood kill 2000 people. In UK, there is a worst flood that was happened contradictive with the forest burn in Europe that happened because of hot wave. Than, in south side of earth (Argentina and South Africa) there are unordinary ice forming. beside that, in the Middle East area, there are some rare storm that kill 50 people. Based on IPCC, the chaos is happened because of the global warming. The chaos is happened as the natural reaction to the effect of the global warming (www.jawapos.com, accessed at 3rd December, 2009).
Because of that, we must reduce the global warming effect. Don’t think about great idea, but think the simple thing. Cut the use of electricity! If it’s not important to use it, just don’t use it. Especially for the mobile charger and the lamp, if don’t use it, plug the cable out and you help us to save the earth. Simple thing that will save the earth. It will better if you cut the electricity use from 22.00pm to 05.00am. Because that time is the time for rest. Turn every lamp off and plug every unused cble out. But, it’s just a choice. You do that and you help world people to save the Earth, or you don’t do that and the world will end quickly. Be wise in electricity use!
Bibliography
N.N, English For Foundation Course, Jogyakarta: Pusat Bahasa UAJY, 2008.
id.wikipedia.com
rullysyumanda.org
www.alpensteel.com
www.globalindoprima.com
www.jawapos.com
www.Kompas.com
www.stradasembilantujuh.net
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) conclude that the increasing of average global temperature is caused by the increasing amount of green house gas as the result of human activities. This conclusion had been said by 30 expert in the world. But, some expert disagree with them. Some expert said that altough the amount of green house gas will have been decreased, but the global temperature will not be changed. They have another reason why global warming cannot be stopped by decreasing the amount of green effect. The reason is the high temperature of sea that can give significant impact to the human surface (id.wikipedia.org).
Green house gas (like almost all expert said) is one of the global warming causes. Green house (H2O, carbondioxide, fluor and methane) gas is actually good and needed in normal amount. Green house gas can keep the earth warm in normal amount. Green house effect keep the warmth that is issued by the sun’s light and explore it to the earth surface. If there isn’t green house gas in earth, the earth temperature is just -18 ºC. But, in large amount, it will cause global warming (id.wikipedia.org). It’s predicted by IPCC that global warming will increase 1,5 –4,5 ºC earth temperature (www.stradasembilantujuh.net, accessed at 3rd December, 2009).
The green house gas is the first reason thought by the expert as the reason why global waming happened. There are a lot of human activities that unrealized can increase the green house gas and make the green house effect. The first activity that can increase the releasing CO2 to the atmosphere is the over use of electricity. The electricity making need the dynamo or generator as the first source. Dynamo or generator need some fuel or other energy sources to give power to produce the electricity. Mind it, the use of electricity in the world is very big and you can imagine how much energy sources that is used to produce all of electricity in the world. From the one of electricity industry in Indonesia, 1 KWh can produce 0,72 kg CO2 (www.globalindoprima.com, accessed at 2008)
From the BUMN research, the industrial electricity is 60-70% used to run the AC. The use of AC can give double impact to the earth. First, AC spend almost 400 Watt per hour, it means that in 24 hours AC can spend 9600 Watt. In one day, the use of one AC can released 9.6 x 0.72 = 6.912 kgs CO2. In other side, we knew that in one office there are more than one AC. If we count the world use of AC, you can imagine how much CO2 that released by the using of AC per day. Second, AC use freon to produce the air. Freon contain of Chlor and Fluor. Chlor is gas that can damage the Ozone so UV can reach your skin withou any filtrating processes. Freon is one of green house gas that can make greean house effect. Global Warming Potential (GWP) of fluor is 510, it means that fluor 510 times more dangerous than CO2. Than, Atmosphere Life Time (ALT) of freon is in 15th index, it means that freon will be exist in atmosphere for 15 years (www.globalindoprima.com).
Many people do the over use of electricity and also AC. There are some others activities like using parfume spray, releasing gas emision and many more. The activities is done without any thinking because it’s a habit and it will be difficult to invite people to save the earth. There are so many people scream loudly to cut the global warming effect, but they also do what the others do. It means that difficult to change the habit and reduce our addiction to the technologies. In some case we want to reduce the global warming effect, but in some others case, we are the technology addicted.
Global warming give significant effect to the earth. The ecological and physical effect are thawing of permafost, lengthening of the growing season in middle and high latitudes, polewardand upward shift of plant and animal ranges, decline of some plant andanimal species, earlier flowering of trees, earlier emergence of insects and earlieregg-laying in birds (NN, 2008:21).
Global warming impact to the season is lengthening of the growing season in middle and high latitudes. This effect gives many impact to the human life, especially in Indonesia. The lengthening of hot season in Indonesia have made a difficulty for the farmer. The weather changing made the plant growth more slow. It made the increasing price of the main food because of the deficit in a certain period (www.alpensteel.com, accessed at 3rd December, 2009). The rainy season intensity in Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, had been decrease for 20 years, and bothering the farmer, fisher and the other society (who has profession that based on season) activities (rullysyumanda.org, accessed at 3rd December, 2009).
In climate side, global warming increase the global average surface temperature, decrease of snow cover and sea ice extent and the retreat of mountain glaciers, rise in global average sea level and the increase in ocean water temperatures (NN, 2008:21). The global climate changing will give many impact to the world. First, the increasing of global surface temperature will melt the polar ice and increase the sea level. Second, the climate changing will damage the balance of earth then give us many geological disaster. It can be happened because as we all know that climate condition is related to the moving of earth surface (kerak bumi). Earth surface is sensitif to the air, ice and water changing (Kompas.com, 8th Oktober 2009).
In South Asia, flood kill 2000 people. In UK, there is a worst flood that was happened contradictive with the forest burn in Europe that happened because of hot wave. Than, in south side of earth (Argentina and South Africa) there are unordinary ice forming. beside that, in the Middle East area, there are some rare storm that kill 50 people. Based on IPCC, the chaos is happened because of the global warming. The chaos is happened as the natural reaction to the effect of the global warming (www.jawapos.com, accessed at 3rd December, 2009).
Because of that, we must reduce the global warming effect. Don’t think about great idea, but think the simple thing. Cut the use of electricity! If it’s not important to use it, just don’t use it. Especially for the mobile charger and the lamp, if don’t use it, plug the cable out and you help us to save the earth. Simple thing that will save the earth. It will better if you cut the electricity use from 22.00pm to 05.00am. Because that time is the time for rest. Turn every lamp off and plug every unused cble out. But, it’s just a choice. You do that and you help world people to save the Earth, or you don’t do that and the world will end quickly. Be wise in electricity use!
Bibliography
N.N, English For Foundation Course, Jogyakarta: Pusat Bahasa UAJY, 2008.
id.wikipedia.com
rullysyumanda.org
www.alpensteel.com
www.globalindoprima.com
www.jawapos.com
www.Kompas.com
www.stradasembilantujuh.net
Kasus Yang Terakhir, Please!!!
Kehidupan berbangsa dan bernegara dengan segala pluralitas yang ada merupakan satu ciri khas Indonesia, yang bahkan terkenal di dunia. Toleransi yang dibangun Gus Dur pun tampaknya merupakan sebuah solusi yang tepat bagi perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik. Akan tetapi, entah apa yang merasuki beberapa kelompok fanatis sempit tertentu, yang kini mulai memunculkan kembali keberingasan mereka terhadap sesama manusia. Baru-baru ini banyak kita dengar kasus tanpa toleransidi media-media pemberitaan. Sebut saja kasus penusukkan salah seorang jemaat HKBP di daerah Ibu Kota, pemblokiran Gereja di Ciledug yang hingga saat ini belum juga dibuka, hingga muncul berita baru lagi yaitu kematian 4 orang penganut Ahmadiyah karena penyerbuan sekelompok orang fanatis sempit.
Hal yang menjadi pertanyaan besar dalam beberapa kasus penganiayaan pluralitas, yang dibuka gerbangnya oleh Gus Dur, adalah tentang pemaknaan HAM tiap-tiap orang juga peran pemerintah dalam setiap kasusnya. Penusukkan, pemblokiran hingga pembunuhan anggota-anggota suatu aliran kepercayaan tertentu adalah sebuah pelanggaran HAM pastinya. Bahkan Undang Undang Dasar kita secara tegas mengatur tentang kebebasan beragama, ditambah pula dengan keyakinan besar masyarakat dunia bahwa hidup merupakan hak yang paling hakiki yang dimiliki manusia sehingga pembunuhan merupakan pelanggaran yang paling besar jika dilakukan tanpa sebuah putusan hukum.
Untuk melihat lebih lanjut tentang pemaknaan HAM ini, mari kita lebih dulu melihat pula bagaimana peran Presiden dan Lembaga keagamaan dalam jajaran pemerintahan. Dalam kontroversi Ahmadiyah, kita dapat melihat bagaimana Pemerintah tidak punya sikap tegas dalam menentukan apakah aliran ini benar sehingga harus didukung ataukah tidak benar sehingga keberadaannya harus segera dimurnikan berdasarkan ajaran agama Islam. Pemerintah selama ini hanya berada pada batas abu-abu antara iya dan tidak. Hal ini juga yang menimbulkan sebuah masalah bahkan pertikaian serius di kalangan kelompok fanatis sempit dalam kasus lain. Presiden bahkan selalu menanggapi pelanggaran HAM tersebut sebatas “ Saya Prihatin”. Kata-kata yang dilontarkan tersebut pun semakin ramai dikicaukan oleh orang-orang yang peduli ancaman-anacaman terhadap pluralitas dan peningkatan kualitas penegakkan HAM di Indonesia.
Presiden beserta jajaran pemerintah yang berwenang dalam hal tersebut harusnya memilih pilihan-pilihan tegas untuk melindungi hidup para penganut kepercayaan yang berbeda dengan kelompok-kelompok fanatis sempit. Pilihan pertama adalah penolakan terhadap adanya aliran-aliran kepercayaan. Penolakan ini bukan berarti kemudian membiarkan para penganut kepercayaan itu hidup dalam kekerasan yang dengan mudah dilakukan oleh kelompok fanatis sempit, akan tetapi mengandung konsekuensi lebih lanjut berupa kewenangan terhadap proses hukum atau pun pendampingan dalam proses pemurnian kepercayaan dengan cara yang manusiawi. Pilihan tersebut toh dapat dilakukan Pemerintah jika ingin menjaga kuantitas 6 Agama utama yang diakui oleh Negara atau pun jika mereka takut keragaman kepercayaan tersebut dapat memecah belah bangsa. Akan tetapi tampaknya ketakutan tersebut akan sangat berlebihan terlebih dengan adanya nilai-nilai toleransi dalam pluralitas yang ditanamkan Gus Dur. Ketakutan tersebut tampaknya justru akan menjadi penghalang mengingat dalam suatu Agama akan terdapat akuluturasi sehingga aliran-aliran di dalamnya pun akan semakin beragam. Hal ini menjadi sangat diragukan mengingat aliran Ahmadiyah bukanlah sebuah aliran sesat yang menodai Kemanusiaan.
Pilihan lain yang dapat dilakukan adalah penerimaan terhadap aliran kepercayaan tersebut. Hal ini mengandung konsekuensi berupa perlindungan penuh hak para penganut kepercayaan untuk beribadah. Akan tetapi, kembali lagi pada lunturnya toleransi antar umat beragama, beberapa kepercayaan yang tidak menjadi kontroversi di dalam agamanya dan sudah mendapat pengakuan dari agamanya pun kadang masih mendapatkan kecaman dan perlakuan yang menyakiti HAM. Ini lah salah satu ironi yang terjadi di negeri ini.
Lalu, siapa yang salah? Sekali lagi Presiden dan Pemerintah punya peran yang besar dalam menjaga toleransi yang dibangun beberapa kelompok masyarakat non fanatis sempit. Bukan ingin menyalahkan sistem, aturan yang ada, akan tetapi coba dikritisi saja reaksi pihak-pihak berwenang bahkan setelah terulangnya kejadian pelanggaran HAM dalam kehidupan plural. Tanggapan yang datar, cenderung ragu-ragu dan sekali lagi berada dalam sikap abu-abu (tidak menolak tapi tidak menerima) baik dalam kasus keberadaan suatu kepercayaan maupun dalam penindakan oknum-oknum yang terlibat. Hal ini tentu saja menimbulkan kesan kuat di benak korban bahwa pemerintah sama sekali tidak peduli terhadap keselamatan hidup para penganut kepercayaan tersebut. Pemilihan sikap yang tegas menjadi sesuatu yang penting, karena penolakan maupun penerimaan mensyaratkan sebuah perlindungan dari penindasan pihak fanatis sempit yang otomatis akan lebih manusiawi.
Itu baru sekedar pembahasan tentang peran serta pemerintah yang seharusnya dalam menjaga dan menumbuhkan kembali toleransi antar manusia. Ketika kita melihat masalh ini secara lebih luas, maka peran pemerintah bukanlah satu-satunya hal yang dapat menyelamatkan toleransi yang ada di Indonesia. Kita harus ingat bahwa bangsa Indonesia juga mempunyai andil yang cukup kuat dalam mempertahankan keberadaan toleransi sebagai syarat bagi kehidupan yang lebih harmonis.
Satu hal lagi yang perlu dibahas sebelum kembali pada peran manusia-manusia Indonesia dalam menjada toleransi adalah tujuan dari para pemikir fanatis sempit yang ada di Indonesia. Indikasi yang tampak dari beberapa kasus, tujuan mereka adalah pemurnian agama dan juga pengembalian moralitas pada hal yang lebih mendasar. Tapi kemudian banyak orang bertanya lebih jauh, apakah benar pemurnian agama dan moralitas harus mengorbankan HAM sebagai landasan hidup yang paling hakiki. Lebih lanjut lagi harus disadari bahwa kehidupan beragama dan moralitas berada pada wilayah yang lebih personal sehingga tidak harus dipaksakan, apalagi dengan adanya kekerasan. Hal ini terkait dengan usulan pluralitas yang dicanangkan oleh Gus Dur, bahwa bangsa Indonesia harus memulai toleransi dengan beragamnya manusia di dalamnya baik dari segi etnis, budaya maupun agama sebagai sesuatu hal yang paling sensitif. Bangsa Indonesia bukan lagi hidup di jaman asimiliasi Soeharto yang bisa memaksakan kehendak mayoritas terhadap kelompok masyarakat yang dianggap minoritas.
Kehidupan berbangsa dan bernegara hendaklah dimaknai sebagai sebuah perjuangan pengukuhan HAM. Indonesia memiliki semboyan yang harum “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai salah satu pendukung penegakkan HAM dalam pluralitas yang ada. Akan tetapi, manusia di dalamnya agaknya kurang bisa mengimplementasikan keberagaman dan toleransi yang harusnya menjadi landasan utama dalam penciptaan keharmonisan hidup bersama. Baiklah kasus penyerangan Ahmadiyah 6 Februari ini menjadi kasus terakhir, mari kita wujudkan kehidupan harmonis bagi kepentingan dan kesejahteraan kita bersama.
Hal yang menjadi pertanyaan besar dalam beberapa kasus penganiayaan pluralitas, yang dibuka gerbangnya oleh Gus Dur, adalah tentang pemaknaan HAM tiap-tiap orang juga peran pemerintah dalam setiap kasusnya. Penusukkan, pemblokiran hingga pembunuhan anggota-anggota suatu aliran kepercayaan tertentu adalah sebuah pelanggaran HAM pastinya. Bahkan Undang Undang Dasar kita secara tegas mengatur tentang kebebasan beragama, ditambah pula dengan keyakinan besar masyarakat dunia bahwa hidup merupakan hak yang paling hakiki yang dimiliki manusia sehingga pembunuhan merupakan pelanggaran yang paling besar jika dilakukan tanpa sebuah putusan hukum.
Untuk melihat lebih lanjut tentang pemaknaan HAM ini, mari kita lebih dulu melihat pula bagaimana peran Presiden dan Lembaga keagamaan dalam jajaran pemerintahan. Dalam kontroversi Ahmadiyah, kita dapat melihat bagaimana Pemerintah tidak punya sikap tegas dalam menentukan apakah aliran ini benar sehingga harus didukung ataukah tidak benar sehingga keberadaannya harus segera dimurnikan berdasarkan ajaran agama Islam. Pemerintah selama ini hanya berada pada batas abu-abu antara iya dan tidak. Hal ini juga yang menimbulkan sebuah masalah bahkan pertikaian serius di kalangan kelompok fanatis sempit dalam kasus lain. Presiden bahkan selalu menanggapi pelanggaran HAM tersebut sebatas “ Saya Prihatin”. Kata-kata yang dilontarkan tersebut pun semakin ramai dikicaukan oleh orang-orang yang peduli ancaman-anacaman terhadap pluralitas dan peningkatan kualitas penegakkan HAM di Indonesia.
Presiden beserta jajaran pemerintah yang berwenang dalam hal tersebut harusnya memilih pilihan-pilihan tegas untuk melindungi hidup para penganut kepercayaan yang berbeda dengan kelompok-kelompok fanatis sempit. Pilihan pertama adalah penolakan terhadap adanya aliran-aliran kepercayaan. Penolakan ini bukan berarti kemudian membiarkan para penganut kepercayaan itu hidup dalam kekerasan yang dengan mudah dilakukan oleh kelompok fanatis sempit, akan tetapi mengandung konsekuensi lebih lanjut berupa kewenangan terhadap proses hukum atau pun pendampingan dalam proses pemurnian kepercayaan dengan cara yang manusiawi. Pilihan tersebut toh dapat dilakukan Pemerintah jika ingin menjaga kuantitas 6 Agama utama yang diakui oleh Negara atau pun jika mereka takut keragaman kepercayaan tersebut dapat memecah belah bangsa. Akan tetapi tampaknya ketakutan tersebut akan sangat berlebihan terlebih dengan adanya nilai-nilai toleransi dalam pluralitas yang ditanamkan Gus Dur. Ketakutan tersebut tampaknya justru akan menjadi penghalang mengingat dalam suatu Agama akan terdapat akuluturasi sehingga aliran-aliran di dalamnya pun akan semakin beragam. Hal ini menjadi sangat diragukan mengingat aliran Ahmadiyah bukanlah sebuah aliran sesat yang menodai Kemanusiaan.
Pilihan lain yang dapat dilakukan adalah penerimaan terhadap aliran kepercayaan tersebut. Hal ini mengandung konsekuensi berupa perlindungan penuh hak para penganut kepercayaan untuk beribadah. Akan tetapi, kembali lagi pada lunturnya toleransi antar umat beragama, beberapa kepercayaan yang tidak menjadi kontroversi di dalam agamanya dan sudah mendapat pengakuan dari agamanya pun kadang masih mendapatkan kecaman dan perlakuan yang menyakiti HAM. Ini lah salah satu ironi yang terjadi di negeri ini.
Lalu, siapa yang salah? Sekali lagi Presiden dan Pemerintah punya peran yang besar dalam menjaga toleransi yang dibangun beberapa kelompok masyarakat non fanatis sempit. Bukan ingin menyalahkan sistem, aturan yang ada, akan tetapi coba dikritisi saja reaksi pihak-pihak berwenang bahkan setelah terulangnya kejadian pelanggaran HAM dalam kehidupan plural. Tanggapan yang datar, cenderung ragu-ragu dan sekali lagi berada dalam sikap abu-abu (tidak menolak tapi tidak menerima) baik dalam kasus keberadaan suatu kepercayaan maupun dalam penindakan oknum-oknum yang terlibat. Hal ini tentu saja menimbulkan kesan kuat di benak korban bahwa pemerintah sama sekali tidak peduli terhadap keselamatan hidup para penganut kepercayaan tersebut. Pemilihan sikap yang tegas menjadi sesuatu yang penting, karena penolakan maupun penerimaan mensyaratkan sebuah perlindungan dari penindasan pihak fanatis sempit yang otomatis akan lebih manusiawi.
Itu baru sekedar pembahasan tentang peran serta pemerintah yang seharusnya dalam menjaga dan menumbuhkan kembali toleransi antar manusia. Ketika kita melihat masalh ini secara lebih luas, maka peran pemerintah bukanlah satu-satunya hal yang dapat menyelamatkan toleransi yang ada di Indonesia. Kita harus ingat bahwa bangsa Indonesia juga mempunyai andil yang cukup kuat dalam mempertahankan keberadaan toleransi sebagai syarat bagi kehidupan yang lebih harmonis.
Satu hal lagi yang perlu dibahas sebelum kembali pada peran manusia-manusia Indonesia dalam menjada toleransi adalah tujuan dari para pemikir fanatis sempit yang ada di Indonesia. Indikasi yang tampak dari beberapa kasus, tujuan mereka adalah pemurnian agama dan juga pengembalian moralitas pada hal yang lebih mendasar. Tapi kemudian banyak orang bertanya lebih jauh, apakah benar pemurnian agama dan moralitas harus mengorbankan HAM sebagai landasan hidup yang paling hakiki. Lebih lanjut lagi harus disadari bahwa kehidupan beragama dan moralitas berada pada wilayah yang lebih personal sehingga tidak harus dipaksakan, apalagi dengan adanya kekerasan. Hal ini terkait dengan usulan pluralitas yang dicanangkan oleh Gus Dur, bahwa bangsa Indonesia harus memulai toleransi dengan beragamnya manusia di dalamnya baik dari segi etnis, budaya maupun agama sebagai sesuatu hal yang paling sensitif. Bangsa Indonesia bukan lagi hidup di jaman asimiliasi Soeharto yang bisa memaksakan kehendak mayoritas terhadap kelompok masyarakat yang dianggap minoritas.
Kehidupan berbangsa dan bernegara hendaklah dimaknai sebagai sebuah perjuangan pengukuhan HAM. Indonesia memiliki semboyan yang harum “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai salah satu pendukung penegakkan HAM dalam pluralitas yang ada. Akan tetapi, manusia di dalamnya agaknya kurang bisa mengimplementasikan keberagaman dan toleransi yang harusnya menjadi landasan utama dalam penciptaan keharmonisan hidup bersama. Baiklah kasus penyerangan Ahmadiyah 6 Februari ini menjadi kasus terakhir, mari kita wujudkan kehidupan harmonis bagi kepentingan dan kesejahteraan kita bersama.
Langganan:
Postingan (Atom)