Rabu, 29 Juli 2015

Di Dalam Buku-Bukuku Terselip A




Bagi beberapa orang, menenggelamkan diri dalam buku adalah cara yang paling tepat. Paling berhasil untuk menutup sejarah pahit dan tidak merinduinya. Tapi bagiku, sekarang hal itu tampak sama laknatnya dengan menghabiskan waktu bersama piring-piring penghabisan. Memang tidak membuat gendut, atau sebaliknya makin kurus. Memang sempat termanipulasi untuk lupa, tapi kemudian muncul.

Buku adalah jurang kita. Aku suka membelinya, mungkin hal paling ekstrim yang bisa kamu lakukan adalah membakarnya. Aku suka membuka-buka, mungkin akan kau diamkan berjamur di plastic sebelum kau sempat membuka. Tapi di situlah letaknya kerinduan, A. Aku merindukanmu apa adanya. Aku berbicara, kamu mengelak karena pening. Menjadi segar, kau siram dengan gelak tawa dan bibir yang kamu manyun-manyunkan. Hidungmu jadi terlihat lebih mbangir kalau kamu sudah begitu. Siapa yang tidak jatuh?

A, Pernahkah kamu sadar? Dalam tumpukan buku-bukuku, hanya ada satu hal yang konsisten. Wajahmu. Selalu berhasil menjadi penghias. Membuat buku apapun akan aku jaga, takut kamu buang karena judulnya menurutmu terlalu berat. Selain karena memang bobot kita tidak berat-berat amat, tapi juga karena kamu tidak suka aku ganggu dengan pikiran-pikiran yang menurutmu aneh. Buku seserius apapun akan membuatku tersenyum, karena selalu terbayang wajahmu yang manyun. Karena alasan-alasan yang seperti itu, aku menganggapmu aneh. Aku mulai suka hal-hal yang aneh.

Entah. Kamu adalah makhluk pemarah pertama yang tidak membuat aku gampang marah. Boleh lah sekali-sekali aku menggodamu dengan nada yang ngambeg juga. Ngambegmu bikin aku sadar. Yang orang bilang sebagai berisi, justru bisa jadi kosong. Sekosong aku beberapa hari kemarin. Sengaja aku tidak menghubungimu. Takut, sesuatu yang apa adanya itu justru tidak ada. Dan aku sudah merasa kamu memang tidak bisa menerima aku apa adanya.

Sialnya, A. Kenapa waktu itu aku ketemu kamu. Kita saling bertukar nomor. Argh. Kesalahan. Sejak itu kamu selalu muncul lagi di tiap halaman buku. Kali ini aku membayangkan nada penolakan. Cerita sejarah jadi sebuah kisah merindu. Definisi-definisi baru selalu dengan mudah aku lupakan dengan bayangan senyummu. Ah kamu membuat aku kacau. Belum satu buku pun aku selesaikan. Harus kubaca berulang-ulang karena tingkahmu.

Kamu boleh mengindar, kamu boleh beralasan apapun. Tapi aku tetap menganggapmu sebagai pohon teh (tea tree) yang bekerja di toko tubuh. Kamu pernah bilang kalau pohon teh akan sangat bermanfaat untuk menghilangkan jerawat. Jerawatku adalah kerinduan akan dirimu, dan kamu adalah obatnya. Kamu menjual tubuh-tubuh tumbuhan, dan aku setia pada satu tubuh. Tubuhmu, A.
Tubuh yang selalu segar. Menjadi wangi di tiap halaman buku, saat wajahmu mulai muncul.
A.

Kamu tahu? Setiap aku ke toko buku, yang letaknya di lantai 3,
aku rela memutar balik demi mengetahui kabarmu dari jauh.
Syukur-syukur bertemu kamu sebelum aku menuruni escalator satu lantai di bawah .
Dan anehnya, di toko buku aku selalu semangat membaca—bahkan hingga halaman terakhir.
Setelah melewati tempatmu bekerja, saat aku memaksakan diri untuk memutar, aku selalu terpaku pada satu-dua halaman buku. Itupun tak dapat kuingat isinya apa.
Kecuali kerinduan untuk kembali melihat wajahmu, A.
Dan pertanyaan, kapan kamu mau menemuiku, bukan lagi lewat bayangan di buku.


A, tampaknya kamu memang tidak suka dengan hubungan. Entah, pernyataanku itu berlaku khusus atau memang untuk semua yang kamu anggap sebagai hubungan. Tapi A, aku menyediakan diri menjadi orang paling sabar buat kamu. Kalau kamu memang sudah siap, silakan datang. Aku akan menyambutmu dengan buku-bukuku. Kamu boleh pilih salah satu. Yang paling tebal atau yang paling tipis. Sekali saja. Setelah kamu ambil, pakailah buat jitak kepalaku. Biar kamu tahu untuk mencintaimu, aku bahkan rela dikhianati buku-bukuku.

Ucapan Terima Kasih

- mengingat umur tidak membuatmu menjadi lebih dewasa dan bijaksana.

Terima kasih buat teman-teman yang sudah atau tetap berusaha mengingat, baik di memori atau di reminder handphone. Saya sayang kalian semua.

Minggu, 19 April 2015

Mbah Wujil Kembali, Sudrun Nyuguh Cerita Kematian

"Mbah, kita ketemu lagi"

"Sudah lama ya, Le?"

"La-le-la-le, emang aku Lele, Mbah?"

"Mana ceritamu yang katanya mau nerusin Mencari Cermin The Series? Omong Kosong kamu." manggut-manggut bentar, benerin jenggot sama monyong yang basah. "Katanya mau ngaku kalau kamu egosi terus kesasar waktu naik Merbabu? Kamu yang insaf waktu naik Merapi sama pemula?. Omong kosong. Siliti Pitikih kamu!"

"Lupa Mbah, gak ada waktu buat cerita. Lha wong Mbah aja udah bertahun-tahun menghilang. Kita juga baru ditemuin ini sama yang punya blog."

"Lha memang. Emang pengelola yang guoblog."

"MBAH, AKU DENGAR LHO! MASIH MIKIR REVISI MBAH! GAK SEMPAT!"

"Oh, koe krungu to Le?"

"LHA MBOK PIKIR? YANG NYEMPLUNGKE KAMU KE BLOG INI AKU JE MBAH. BAIDEWEI, ENAKNYA NAMA ANAK SOK TAHU YANG CERMINNYA MASIH HILANG ITU SIAPA MBAH? AKU BEUM NEMU."

"Sudrun ja! Dia itu ncen Sudrun. Cermin hati og bisa sampai hilang. Mbingungi wong sakdonya. Bikin uang terus keluar! Nyusahke wong. Wuu."

"Jinguk! Sudrun kan gabungan ceroboh dan sedikit bodoh, Mbah!"

"Lha manut pemilik blog yang guobog ini. Setuju?"

"YA WIS MBAH. DI CERITAKU YANG TERAKHIR KAN WUJIL KINASIH UDAH KEMBALI BIJAKSANA DAN WELAS ASIH. AKU SENDHIKA DHAWUH. SUDRUN JUGA BAGUS, BIAR SI LANANGAN IKI ORA TAMBAH SOK TAHU." bentar, aku mikir bentar mau nulis apa, "OYA, AKU PENGIN MENIKMATI OBROLAN NAIF KALIAN. JANGAN TERLALU BANYAK MENGENALKAN DIRI. ESTABLISH BERLEBIHAN GAK ENAK DIBACA. BIAR ORANG BACA Mencari Cermin I DAN II AJA."

"Lha kamu yang guoblog, tulisanmu gak diteruske. Aku kan kangen sama Sudrun. Waktumu terbuang buat mikir thok. rarampung-rampung!." diam sebentar, kemudian kembali ke Sudrun. "Eh, ada apa, Drun? Pertemuan kita gak mungkin sesia-sia usahamu ndeketin si N kan?"

"Gini, Mbah. Aku mau tanya."

"Apa?"

"Kemarin Mbahku meninggal. Budheku ngabarinnya agak aneh: Ibu ra ana!"

"Terus?"

"Lha aku ya njawab: Ilang kemana Budhe?" cekikikan bentar, "Jebul Budhe njawab:Lha dalah gemblung, Mbahmu seda, Le!"

"Tas-tes ke pertanyaanmu to!"

"Kenapa di Jawa, meninggal itu disamakan dengan ra ana (gak ada)? Padahal secara raga dia masih ada, belum dikubur. Masih bisa tak jiwit pipinya seperti biasa, walaupun cuma diam saja."

"Wah, kalau pikirannya Mbah panjang, Jadi gini..

Eksistensi manusia itu tidak dilihat sebatas raga. Ada dan tidak ada mengacu ke sesuatu yang lebih dalam, Le. Jiwa. Orang meninggal berarti jiwanya pergi dari raga. Nah, orang mengatakan ra ana atau tidak ada untuk menyebut orang meninggal itu sesuai dengan standar mereka.

Orang terbiasa menilai ada dan tidak ada sebagai raga dan jiwa yang melekat. Jadi kalau raga masih terlihat, tapi jiwanya kosong, orang bilang gak ada. Sama, kalau jiwanya-semangatnya masih melayang-layang,tapi secara ragawi dia tidak tampak, kita bilang itu sebagai tidak ada.

Secara filsafat ala petani yang direbut tanahnya sama negara kayak Mbahmu ini, ada makna yang lebih dalam, Drun. Percuma kamu memoles raga seindah mungkin kalau Jiwamu ternyata sudah kosong dan mati terhadap keadaan sekitar. Bahkan orang yang sudah meninggal itu dirias bukan tanpa alasan, tapi ada keyakinan bagi kita kalau selama beberapa hari Jiwa yang tidak lagi melekat di raga (dan kita menganggap itu sebagai hilangnya eksistensi ragawi seseorang) masih tetap bersemayam di dekat rumah hingga 40 hari. Raganya dirias, dimandikan biar bersih dan siap menghadapi eksistensi yang baru-tanpa kemelekatan pada raga. Ini ngawur sih, Drun.

Ingat, walaupun ragamu seindah Chelsea Islan atau Nicholas Saputra, tapi jiwamu sudah mati dan kosong terhadap keadaan sekitar. Ya, kamu mati. Eksistensimu sebagai manusia di sekitarmu akan hilang. Kalau hanya berfokus pada diri-kamu dan cara-kamu-menjadi-bahagia, yaudah, aku siapin kuburan aja buat kamu, Drun. Lumayan, kamu bisa mengubur sekalian kenangan-kenangan asmara yang pahit to?

Aku cuma bisa menjelaskan sengawuritu, Drun."

"Kalau gitu, Mbah. Ini kaca mata mboismu mending tak jual. Baju bunga-bungamu juga ini tak copote. Iki wig warna ungu, njijik i banget to!Aplikasi Picsart sama Photoshop-mu tak uninstall sini. Udah tuwek kok ya masih berfokus-pada-kebahagiaan-diri-sendiri sampai-sampai melupakan aku. Kita udah berapa tahun gak ketemu? Kamu tambah norak, Mbah!"

"Eits, eits aja! Tua-tua gini kan boleh ganteng juga!"

"Luweh, sini!"

"Ini kan ciptaan pemilik blog to, Drun. Biar Mbahmu ki necis."

"Pemilik blog yang goblog ok dipatuhi serta merta, Mbah! Kamu kayak percaya seratus pesen sama kesejahteraan semu dari BUMN pelat merah, Mbah!" mulai jengkel, sambil membawa kaca mata, wig, baju bunga-bunga dan android embah kemudian pergi, "Mbah bisa jadi Wujil inasih yang bijaksana tanpa jadi lelucon dan dianggap primitif, Mbah. Salam buat pemilik blog yang guooobloogggnya gitu banget!"

"MENENGA, DRUN!"

Yaudah. Tulisan ini harus selesai. Wujil dan Sudrun terpisah lagi oleh waktu. Eksistensi mereka tidak melekat pada raga dan jiwa, tapi pada keinginan pemilik blog. Tenang, mereka belum mati kok. :* :* :*

Kamis, 16 April 2015

Bu

“Mengapa Ibu Pertiwi menangis?”

“Ibu sedang bersusah hati.”

“Mengapa harus seperti itu, sedangkan Ibu punya hutan, sawah, gunung dan lautan sebagai simpanan kekayaan?”

“Kekayaan apa yang kau maksud?”

“Mereka bisa kau olah. Hutan kau ambil batangnya, kau buru hewannya. Sawah kau panen padi, palawija atau cabai. Gunung pula bisa kau tambang pasir dan kau suburkan tanahmu dengan abu. Lautan, kau ambil seluruh penghuni di dalamnya.”

“Sudah tak bersisa.”

“Sebegitu keringnya kah?”

“Sangat.” Dia diam sejenak, “ Kalaupun bersisa sedikit, sudah enggan orang-orag mengolahnya. Mereka terlalu nyaman di dalam gedung. Terbuai oleh semilir angin karbon. Mereka enggan berpanas-panasan, hanya ingin berpapasan dengan kenikmatan.” Diam lagi, “Mereka punya definisi baru tentang kenikmatan.”

“Bagaimana bisa? Bukankah mereka terdidik? Sampai-sampai di rahim ibumu muncul gerakan mengajar massal yang mereka namai Indonesia Mengajar?”

“Iya. Mereka belajar untuk menjadi sangat Metropolis. Duduk nyaman dalam ingus yang mereka harap berbuah kekayaan.” Diam, menghela nafas kemudian diam lagi. “Orang tua mereka berkata, kalau bisa, tak perlulah jadi petani seperti kami. Kau harus hidup lebih makmur. Kau harus hidup lebih nyaman, seperti hidup para Tuan Tanah. Seperti hidup kaum priyayi yang ikut menindas pribumi. Seperti hidup para penjajah yang asalnya dari negeri sendiri. Tentu mereka tak serta merta berkata seperti itu, hanya kira-kira pikiran mereka seperti itu.”

“Sudah lama terjadi?”

“Sangat lama, sejak mental priyayi meraja lela. Sejak kumpeni menganggap kami primitif. Sejak kami terlampau kompetitif. Sejak itulah ibu pertiwi menangis.”

“Kalian bahagia?”

“Aku tidak, beberapa orang lain tidak. Tapi kami tak punya daya. Sebagian besar lainnya bahagia. Bahkan sangat bahagia walaupun harus memprimitifkan yang lain. Mereka tertawa bahagia. Tangis ibu pertiwi seperti lelucon bagi pikiran mereka yang selalu tentang pembangunan. Materi ada tapi nurani lenyap dalam cita.”

“Negara?”

“Jangan berharap banyak. Negara adalah tempat tidur nyaman para borjuis. Ajudan-ajudan dikerahkan untuk mewujudkan mimpi, jangan sampai ada kejutan tak mengenakan waktu mereka bangun. Semakin mereka lelap, tak ada indera digunakan, hati semakin keras, kami semakin tak punya suara. Kami bilang keadilan, mereka bilang pemberontakan. Kami bilang perjuangan, mereka bilang kami kriminal. Kalau kami mulai turun ke jalan, mereka bilang kami banal-tidak mendukung rencana nasional. Begitu juga borjuis lain, yang juga lelap. Mereka bicara dalam senyap, jari-jari bergerak untuk menggoreskan satu per satu luka pada tubuh Ibu Pertiwi.”

Begitulah, percakapan itu terus berlanjut. Mereka berdua saling menggenggam, sesekali menyentuhkan bibir ke kelopak saat air mata mulai jatuh pada tokoh yang satu. Tak perlu disebut apakah mereka perempuan atau laki-laki. Perjuangan tidak mengenal perempuan atau laki-laki, kesedihan pun begitu. Kepedulian bertahan dalam keyakinan keduanya. Dan kini, Ibu mereka sedang menangis.

Ibu pertiwi yang mengandung dari bumi. Aku tak pernah melihat kelaminnya, aku tak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan. Dia yang sedang mereka grundeli, sesekali dengan sesenggukan, mungkin perempuan tulen yang tercipta lengkap dengan rahim atau perempuan yang menjelma laki-laki dengan tetap mempertahankan rahim. Tidak perlu aku ketahui. Dia adalah cermin ketegaran, disakiti begitu hebat, bertahan begitu kuat. Menopang manusia-manusia yang lahir dari rahimnya, hidup dari air susu yang bening dan segar, makan dari rimbun-rimbun yang membuahkan, bertahan di dalam pijakan yang menghangatkan.

Lubang digali dalam dagingnya. Darah mengucur deras. Air mata berlinang. Tubuhnya semakin kering. Ronanya sendu. Tapi dia masih bertahan hidup, demi kehidupan anak-anak durhaka yang juga lahir dari rahimnya, besar oleh kelimpahannya. Hai, manusia!

Kamis, 07 Agustus 2014

TELINGAKU HARUS MERDEKA


                Ibu memegang teko, dituangkan air putih ke cangkir kecil punyaku, lalu ke gelas besar punya mbak dan Bapak berturut-turut. AKu setengah cemberut. Gelasku memang paling kecil, tapi minuman yang harus kuhabiskan bahkan jauh lebih banyak dari gabungan dua gelas besar mbak dan Bapak. Aku harus menghabiskan satu gelas sangat besar susu kedelai, mungkin dua setengah kali gelas yang dipakai minum air putih mbak dan Bapak. Aku sakit-sakitan waktu itu, dan susu kedelai katanya bisa menyembuhkan penyakitku.
                Itu baru pagi hari, ditambah sarapan nasi stu piring tidak boleh bersisa. Kalau bersisa, aku harus bersiap menutup kuping agar tidak mendengar omelan Ibu dan tidak merasakan jewera dari Bapak. Satu lagi, tidak perlu sebal dengan cekikikan mbakku. Sial! Subuh sebelum sarapan, jam empat pagi, aku harus bangun pagi-pagi lalu minum tiga macam obat. Sebelum makan, sebelum minum susu kedelai.
Siang sama, nasi sepiring tak boleh bersisa, bahkan kadang-kadang harus dipaksakan tersimpan penuh di mulut sebelum dikunyah, tmbah air putih seukuran gelas mbak dan Bapak dan lima macam obat. Antibiotik, harus habis. Mati pikirku setiap makan siang, setelah membau puyer yang menyengat hidung. Aku tidak boleh terlalu lama bermain, hanya dari jam empat sampai setengah lima, setengah jam saat matahari tidak lagi terik dan anak-anak belum ramai. Watu setengah jam bermain pun sering hilang kalau saya tidak bisa merem di jam tidur siang. Padahal, tidur siang membuat aku seringkali bangun dengan perasaan kagol, merasa bersalah. Tanpa alasan. Dan sekalinya bangun, sudah ada berbagai perintah, nasihat, petuah, nyanyanayanyanyanayanaynyanya, malas aku mendengarnya.
Sore, harus mandi dengan sabun khusus yang baunya membuatku rasanya ingin muntah. Menyengat, belerang murni, agak panas. Kalau tidak mau menuruti gerak tangan ibu, maka punggungku makin panas karena berulang kali ditampar. Setelah itu, waktu adzan maghrib, anak-anak di luar cekikian sehabis maghrib, aku harus duduk manis di bawah lampu belajar. Sekali terlihat mataku kosong, seprti tak mengerjakan apa-apa, aka nada soal-soal yang diberikan Ibu dan Bapak, kalau sedang rese kakak juga ikut-ikutan. Semuanya diberi waktu maksimal. Boleh bertanya kalau tidak bisa, tapi lebih baik tidak. Daripada jantung copot dan mata kering karena dibentak-bentak. Gendang telinga juga bisa-bisa pecah, Bapak sering menempatkan mulut ganasnya tepat di daun telinga. Semakin dibentak, aku tahu bahwa mereka memang tidak sungguh-sungguh tahu jawaban dari soal-soal yang mereka buat. Sial! Jeda jam tujuh malam sampai maksimal jam delapan, maka malam. Menu kali ini adalah nasi sepiring penuh tak boleh bersisa dan dua macam obat. Dua-duanya puyer.
Sudah dua tahun berturut-turut, setiap hari, aku kesal seperti ini. Kebebasan masa kecil direnggut oleh penyakit. Penyakit yang ada di dalam tubuhku dan penyakit kasar dari keluargaku. Satu lagi, penyakit harapan berlebihan bahwa aku harus selalu jadi nomor satu. Lalu, mereka bisa mengoceh bangga ke tetangga, walaupun kami hanya keluarga miskin. Tai kucing! Pernah, saking bosannya dengan obat-obatan berbau sengak, diam-diam aku membuang semua obat yang baru dibeli ke selokan. Telingaku rasanya harus dilindungi dengan baja yang didalamnya didesain seperti thermos air, ada ruangan kedap suara sehingga suara dari luar tidak mungkin masuk, siapapun yang akan menjewer akan kesulitan dan yang mulai cekikikan akan kulempar dengan penyumbatnya yang agak lunak tapi kompak. Orang tuaku marah sejadi-jadinya, mbakku senang sejadi-jadinya.
Rutinitas pagi harus makan, siang setelah makan harus tidur, sore tak boleh pulang terlambat, malam belajar dan diberi soal, malam harus tidur awal tak boleh nonton televise berlebihan terus-terusan terjadi sampai aku kuliah. Melepaskan diri dari paksaan dan menghilangkan salah satu hiburan mbakku. Membantu orang tua pun kewajiban, paksaan tepatnya. Kalau ada pekerjaan yang kurang sedikit saja, maka telingaku dikerjai lagi dengan suara, jeweran dan masih sering terdengar cekikikan. Padahal mbakku sudah besar! Setan!
Kalau banyak program tivi yang membuat seolah-olah membesarkan anak tidak boleh menggunakan kekerasan, kenyataannya beda. Beban ekonomi membuat orang tuaku membesarkan anak, khususnya aku, laki-laki pertama, dengan sangat emosional! Seakan semua yang mereka kerjakan, yang pasti sangat menyiksa, adalah sumber kebahagiaan yang membuat mereka lupa akan hutang-hutang. Tak jarang aku berpikir, pelajaran keluarga yang seperti militer tai kucing ini pasti dipengaruhi Mbah Kung yang memang veteran ABRI, Mbah Putri yang galaknya melebihi nenek lampir. Dua-duanya menurun ke Ibu yang sebenarnya kalem dan penyabar. Tapi, suasana akan keruh kalau Bapak sudah ikut-ikutan, berlagak sok tentara, sok disiplin, memanas-manasi keadaan dan seolah tidak ada hal yang bisa diselesaikan dengan santai dan baik-baik. Telingaku lagi-lagi selalu jadi sasaran. Pantas, komposisinya agak tidak proporsional, terlihat sedikit lebih besar di kepala yang kecil. Ah, kepala yang kecil ini membuat mukaku terlihat culun dan memang aku tidak berani membantah sedikitpun.
Kukira setelah kuliah, kekebasan sepenuhnya sudah ada. Tapi nyatanya, aku memang bebas dari rutinitas pagi-siang-sore-malam yang ditetapkan oleh orang tua. Aku sudah bebas mengatur jam makanku, yang bahkan seringkali tidak kumanfaatkan untuk makan. Aku sudah bebas mengatur jam belajar, yang kebanyakan malah diisi pergi ke kafe, ngobrol, nyanyi-nyanyi. Jam tidur siang, yang sialnya tetap. Tidur siang di kelas, bersama dosen yang, serius, bikin ngantuk. AKu sepertinya bebas, tapi telingaku tidak. Teknologi sekarang sudah makin maju, kami sekeluarga pun sudah menggenggam telepon. Setiap pagi ada telepon, siang juga, malam apalagi. Pagi tidak terangkat karena masih belum bangun, siang sengaja tidak diangkat karena aku masih tidur di kelas, malam. Malam, tidak ada alasan untuk tidak mengangkat telepon atau orang tuaku akan datang keesokan harinya untuk menjewer telingaku. Dikiranya aku masih anak kecil yang harus dapat IPK terbaik di seluruh kampus, lulus tepat waktu, tidak memperpanjang masa studi yang artinya harus memperbanyak uang yang dikeluarkan untuk segala biaya studi. Telingaku belum merdeka.
Belum lagi kalau liburan datang, dengan jarak kota perantauan yang hanya 40an km, aku tidak boleh tidak pulang. Apalagi kalau kumpul keluarga besar, kebiasaan militer, terutama pakdhe yang mirip Mbah Kung, akan melakukan pengecekan kelengkapan anggota keluarga dengan 12 orang saudara, 27 anak dan keponakan, dan cucu yang tidak bisa dihitung. Satu anggota keluarga belum hadir, bisa jadi cibiran di pertemuan-pertemuan berikutnya. Cibiran yang mengatasnamakan keluarga. Orang tua mana yang mau keluarganya dicibir? Ah, kuno sekali keluarga ini.

Saat berkumpul itulah, mereka saling membagakan profesi dan studi anaknya. Dulu, aku jadi garda depan di keluargaku. Saat itulah mbakku tidak akan cekikikan. Tapi setelah kuliah, malas aku membahasnya. Telingaku panas, ditanya sampai mana? Bab berapa? Kemarin katanya janji tanggal segini? Pakdhe tagih janjimu ya! Kenapa Ibumu harus bayar lagi? Belum puas belajar lima tahun? Kapan kerja? Uang dari mana? Sekali lagi, telingaku belum merdeka.

Senin, 05 Mei 2014

Someone to Watch Over Me



Ella Fitzgerald dengan syahdu, setengah serak, dan penuh kekuatan melantunkn lagu penantian ini. There’s a saying old, that the love is blind. Still we’re often told, seek and ye shall find. Nada-nada minor, biasa dianggap sebagai nada yang agak miring, membuat suaranya yang garang itu menyeyat-nyayat.
                
Cinta itu buta, katanya pada pembuka. Boleh percaya atau tidak, karena nyatanya kita juga masih sering berkata bahwa ketika mencari, kita akan menemukan. Mencari, kemudian menemukan adalah kata kerja yang mengandung unsure kesengajaan, berbeda dengan “buta”, yang sama sekali tidak menyengaja kerja. Kerja yang dilakukan oleh hati, maksudnya. Dialektika ini muncul terus menerus. Saat berhadapan dengan seseorang, saya mencoba membutakan diri, agar merasakan apa itu cinta. Tapi, di lain sisi, saya mencari-cari cinta di dalamnya, dan ternyata hampa. Nir hasil. Sia-sia.
               
Looking everywhere, haven’t found him yet, lanjutnya. Dalam liriknya, dengan liris, seolah mengaduh, dia menyanyikan bahwa ada peristiwa emosional paling besar, yang pernah dia rasakan. Hanya sekali, sekali saja dengan penyesalan.
                
“Jangan pakai rasa ya,” begitu dia berkata sesaat setelah selesai berjumpa.
                
Saat euphoria masih besar-besarnya, dan endorphin masih berlebih-lebihan, kata-kata itu saya anggap hanya sebagai bualan. Tidak saya acuhkan, tetap saja tersenyum bahagia. That the love is blind. Tapi terlalu mudah untuk menyimpulkan dari perjumpaan pertama, bahwa inilah kebutaan. Syarat orang sedang jatuh cinta. Rasa-rasa yang ini mirip dengan alunan I’d like to add his initial to my monogram. Tell me, where is the shepherd for this lost lamb? Seakan menegaskan bahwa kebutaan adalah penyebab hilangnya segala kemampuan untuk menentukan arah. Karena terlalu bergembira, saya berjalan tanpa tahu arah. Hanya nama dia, dia, dan dia lagi yang berdengung. Sayang , dengungnya tak menentu, berasal dari semua penjuru. Semua penjuru yang saya coba jajaki satu per satu.
                
Masih teringat satu per satu yang kami lakukan. Dia menceritakan pada saya tentang kehidupan, dan aku hanya diam saja, karena merasa tak pernah berpengelaman. Dia membimbing, manifestasi dari sikap-sikap keibuan. Tenang, seperti air yang mengalir, membasahi kerongkongan-kerongkongan yang dahaga dan akhirnya menghidupkan. Sebelumnya saya merasa perasaan saya sudah mati, dengan dia organ-organ mengirim sinyal ke jaringan dan jaringan meneruskan ke setiap selnya, mereka benar-benar terasa hidup, bergejolak, mungkin seperti kuncup bunga yang mekar dengan cepat. Jutaan sel yang ada dalam tubuh menyinergikan pikiran dan hati, berpikir dan merasakan, bahwa saya hidup. Baru.
                
Mungkin bukan yang pertama. Banyak kejadian serupa, dengan orang yang berbeda-beda pula. Semuanya singgah tanpa meninggalkan jejak penasaran. Tapi dia yang ini, adalah yang pertama bermakna. Karena dia membawa sebuah cawan berisi pengampunan yang membuat saya mengampuni kesalahan-kesalahan masa lalu, serta sepotong roti kehidupan. Pada akhirnya, dialah yang menyimpan misteri. Bukan tentang yang pertama, tapi tentang yang pertama bermakna. Dan lagi, dia bukan milik dan tidak bisa dimiliki oleh seseorang. Banyak orang berteduh di bawah kerindangan daunnya. Itulah sebab dia berkata, “Jangan pakai rasa ya.” Sekalipun rasa itu sudah benar-benar ada, sebelum dia sempat memperingatkan.
                
Although he may not be the man, some girls think of as handsome. To my heart, he carries the key. Sesingkat-singkatnya perjumpaan, saya merasa bahwa dialah yang membawa kunci. Dia yang sudah membukakan hati. Atau saya salah, bahwa justru karena terlalu singkat, saya masih yakin bahwa dialah pembawa kunci? Tapi saya yakin, dia yang telah membukanya, membuatku berani memeluknya. Dia, hanya dia yang mampu menutupnya lagi dengan kunci yang dia pegang.
                
I need someone to watch over me. Someone to watch over me. Dia sudah membukakan hati, dan saya berpasrah dalam proses itu. “Jangan pakai rasa ya,” bukanlah sebuah perintah untuk mencegah perasaan ini mengambil alih, tapi terlanjur menjadi obat untuk hati yang menganga. Ada lubang di dalamnya dan itu membuat sakit, pada permulaan. Rasa itu sudah tumbuh, membagi kepasrahan, kerelaan. Bahwa dia, sewaktu-waktu dan tanpa pemberitahuan, akan pergi. Kepergiannya akan menyisakan misteri. Sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dalam waktu singkat: siapa yang akan menutup hati ini? Atau mungkin, dia membiarkannya terbuka, agar tidak ada lagi ketakutan akan rasa sakit yang berkali-kali singgah.
                
Someone to watch over me. Walaupun kami akan berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Pada akhir desahan tebal Ella, aku menambahkan And I promise to be someone to watch over you. Dan pencarian itu sudah berakhir.


Catatan: Terinspirasi dari cerita-cerita di 30 April 2014. Pertama, dengan kawan dekat. Seorang perempuan hebat dan kisahnya dengan laki-laki yang hebat juga. Kedua, dengan R. Ketiga, Someone to Watch Over Me – Ella Fitzgerald.

Minggu, 05 Januari 2014

Untuk MN

Catatan: Tulisan ini dibuat tanpa nalar, sehingga harap maklum jika banyak hal tidak konsisten. Tak perlu dicari juga pentingnya, karena ini hanyalah tulisan tak bernalar. 


Tulisan ini mungkin lebih tepat berjudul Tahu Diri, tapi Tahu Diri itu semacam memberi ruang unuk nalar. Seakan adalah hasil berpikir yang begitu panjang dan logis, kemudian diwujudkan dalam sikap. Padahal yang saya maksud tahu diri lebih ke sesuatu yang emosional, mirip dengan jargon tenggang rasa (tapi terlalu berbeda jika disamakan dengan tenggang rasa). 

Jadi ceritanya begini, ada satu ruang dalam tubuh manusia. Kalau kata Leila S. Chudori ruang itu kosong dan ada di dada sebelah kiri. Ada juga yang mengatakan bahwa jika kamu merobek dada kiri, ruang kosong itu seolah-olah berisi. Pada kenyataannya tetap kosong, karena dia menunggu untuk saat yang tepat. Saat untuk saling mengisi. Letaknya di dada kiri, tak terlalu jauh dengan kepala, tapi sepertinya ada penghalang tegas. Kepala dengan nalarnya sama sekali tak diberi ruang dalam sirkulasi di ruang kosong. Setiap keputusan yang diambil dalam siklus indrawi-merasakan-menentukan tak pernah melibatkan, bahkan dengan tegas mengeliminasi kemungkinan terlibat, nalar. 

Sudah dua paragraph saya terlalu basa-basi. Maaf, sekali lagi, ini tulisan yang tak melibatkan nalar sama sekali. Jika Anda adalah penggemar Marx, Engel ataupun Anda yang membaca blog saya oleh cerpen-cerpen yang sedikit bernalar, Anda bisa mulai memutuskan untuk memilih tanda silang dalam tab browser Anda sekarang. Saya tidak ingin menjadikan Anda gila dengan ketidakbernalaran tulisan ini. Ah, saya tahu. Anda yang adalah salah satu teman dekat saya sedang tertawa terpingkal-pingkal hingga menangis. Tai kucing! 

Lanjut tentang ruang kosong dan siklus indrawi-merasakan-menentukan. Apakah Anda pernah merasakan bahwa anda pernah jatuh hati pada seseorang begitu lamanya? Sampai, ketika Anda berpisah dari dia, Anda tetap mencari-cari kehadiran dia, atau setidaknya beberapa sifatnya, pada orang lain? Yang membuat Anda kemudian melakukan tindakan permisif untuk melupakan rasa jatuh hati yang pertama, demi orang yang kedua, ketiga, dst. Tapi Anda akan selalu kembali pada hal yang mengawalinya, mencari tumpukan sifat/sikap/karakter orang pertama yang ada dalam orang kedua, ketiga, dst. 

Ah, Anda tak akan pernah merasakannya kecuali Anda pernah merasakan beberapa hal ini. Bahwa Anda begitu takut untuk bertemu kembali. Ketakutan yang menjadi-jadi berbuah kekalutan sehingga Anda akan berpikir untuk tidak bertemu saja daripada harus menanggung beban jatuh-hati-yang-pertama-untuk-kesekian-kalinya. Sakit dan berat rasanya. Semakin berat bahwa Anda belum ikhlas sama sekali dengan apa yang terjadi di masa lalu, ketika banyak hal belum selesai. Juga bahwa kisah pertama Anda ternyata lebih mencintai kisah pertama yang terjadi dalam hidupnya, sayangnya kisah itu dirajut dengan orang partama yang bukanlah Anda. Pedas. Seperti memakan campuran lada, cabai dan jahe. Membuat sayap kupu-kupu yang menari di perut Anda lemas kehilangan tenaga, bibir Anda kaku, keringat basah, kuping panas dan air mata bisa keluar kapan saja. Anda kemudian menyadari bahwa kehadiran orang kedua, ketiga, dst hanyalah numpang lewat untuk kisah pertama yang belum selesai. 

Pada titik ini, ruang kosong itu rasanya semakin berat. Padahal ruang itu kosong. Sepertinya membesar dan diremat-remat dengan keras. Sampai pada titik Anda bertemu kembali dengan yang pertama. 

Anda, dengan segala muslihat indrawi, akan melihat yang pertama jauh lebih memesona. Walaupun tingkah kalian sangat canggung. Kupu-kupu yang mati tadi seolah mendapatkan energinya kembali. Kupu-kupu itu abadi, hingga saat yang tepat menunggu untuk mati. Melihat yang pertama di hadapan Anda dengan segala senyum, suara dan pancaran sinar matanya (untung jenongnya sudah tertutup poni rapi) adalah satu anugerah tersendiri. Anugerah yang tidak bisa dan tidak boleh jadi milik orang lain, pun oleh perasaan ingin memiliki yang diam-diam sedang menyelimuti ruang kosong di dada kiri. Banyak riset membuktikan (data ini bukanlah mencoba menalar, tapi pembenaran yang emosional atas sensasi yang begitu sensational) hormone endorphin akan meningkat tajam di saat-saat seperti ini. Anda akan menjadi lebih bahagia, sangat jelas terlihat di senyum bibir dan mata yang bersinar. Rasanya berkaca-kaca, meledak tak bisa menahan segala rasa bahagia. 

Pertemuan saya dengan yang pertama, yang akhirnya saya sanggupi segala konsekuensi, seperempatnya memiliki tujuan egois. Menghambur-hamburkan hormone endorphin dalam tubuh. Tapi setengahnya adalah sebuah misi menuntaskan yang belum tuntas, sisanya adalah keterpaksaan. 

Misi menuntaskan yang belum tuntas itu sulit. Apalagi dalam beberapa pertemuan Anda akan merasakan sensai ketidakkonsistenan ruang kosong: Dada kiri Anda memberat, serasa diremas kuat tapi kupu-kupu dengan tenaga-tenaga sisanya masih menari keras. Perpaduan tai kucing! Canggung. Apalagi saat ini. Bayangkan bahwa Anda ingin menuntaskan yang belum tuntas, padahal yang pertama masih belum tuntas dengan urusan yang pertamanya. Tahu diri lah saat itu! Anda tak boleh sangat egois dengan mengungkapkan segala unek-unek yang berputar dalam proses indrawi-merasakan-menentukan. Anda harus bisa menghargai siklus serupa dalam ruang kosong si yang pertama. 

Ruang kosog ini semakin berat, diremas makin hebat, ditambah dengan jarum-jarum kecil yang dikirim nalar. Nalar berkata: Cepat selesaikan, atau tidak pernah selesai. Tapi sekali lagi, ada batas tegas yang dimiliki ruang kosong, sesakit apapun dia mempertahankannya. Semakin berat saat Anda menemukan bahwa teman-teman si yang pertama sangat mendukung kisah yang pertama dengan yang pertama miliknya. Bahwa mereka penuh dengan kecocokan. Anda lalu berpikir bahwa Anda hanyalah butiran debu yang seenaknya diinjak, dicaci dan dibiarkan terbang sendiri tanpa tujuan. Goncangannya terlihat kuat dari sinar yang hilang dari mata, walaupun Anda mencoba tersenyum. 

Anda bahkan tidak tahu, apa yang harus Anda katakan untuk membuat segala sesuatunya selesai. Anda bahkan (ini “bahkan” yang kedua, artinya sangat parah, sangat tidak bisa dinalar) tidak punya patokan jelas dengan kata “selesai”. Karena Anda yakin bahwa ini sangatlah susah untuk selesai bagi Anda. Semakin kuatlah goncangan dalam ruang kosong. 

Oleh karenanya, saya hanya ingin menuliskan tulisan ini sebagai penyelesaian. Bahwa biarlah saya merasakan remasan kuat ini. Untuk yang pertama yang menuliskan “Kamu selalu bikin rame ^^”. Untuk dia yang sudah saling mengisi kekosongan, bahkan dengan sangat setia, sangat antusias. Sekali lagi dengan orang pertama, yang bukanlah saya. Semoga yang pertama membaca ini, saya tidak akan memaksa yang pertama untuk membaca ini, apalagi mengirimkan link-nya. Saya percaya bahwa tulisan penyelesaian ini akan dibaca oleh yang pertama tepat pada waktunya, tepat saat semua sudah harus selesai. Saya tak tahu kapan, saya sendiri tak punya patokan “selesai”, tidak bernalar. 

Beruntung sekali Anda yang bisa saling mengisi kekosongan dengan yang pertama. Saya tak punya hak untuk memastikan yang pertama juga harus beruntung dalam proses saling mengisi kekosongan tersebut. Saya hanya bisa berdoa bahwa yang pertama akan bahagia. Klise. Tapi bahagia tidak memiliki pola, masing-masing orang punya standar sendiri sehingga saya tak bisa berdoa dengan lebih spesifik. Yang pertama harus hidup bahagia! 

Akhirnya, mengutip Bang Tulus. Saya tidak ingin lagi larut dalam angan yang tanpa tujuan. Saya berkata dan menuntut ruang kosong saya untuk perlahan menerima nalar. Saya sudah harus selesai dengan semua ini, sewindu sudahlah sangat menyiksa. Kalau kata teman dekat (yang pasti sedang tertawa terpingkal-pingkal), ruang kosong saya harus bisa mengambil hikmah. Agar tidak ada lagi kata canggung atau enggan. Bahkan bisa menghilangkan keterpaksaan dan menjadikan ruang kosong saya lebih lentur. Tak lagi sebegitunya sakit saat diremas dalam pertemuan berikutnya. Terima kasih untuk kamu yang pertama, semoga kamu menerima cokelat yang saya titipkan. Itulah tanda saya sudah selesai. Ketika kamu membaca tulisan ini, tandanya saya dan kamu sudah selesai, semuanya selesai. Saya cukup tahu diri untuk tidak lagi menyiksa ruang kosong saya atau mengganggu ruang kosongmu. Terima kasih. I Love You ^^.