Catatan: Tulisan ini dibuat tanpa nalar, sehingga harap maklum jika banyak hal tidak konsisten. Tak perlu dicari juga pentingnya, karena ini hanyalah tulisan tak bernalar.
Tulisan ini mungkin lebih tepat berjudul Tahu Diri, tapi Tahu Diri itu semacam memberi ruang unuk nalar. Seakan adalah hasil berpikir yang begitu panjang dan logis, kemudian diwujudkan dalam sikap. Padahal yang saya maksud tahu diri lebih ke sesuatu yang emosional, mirip dengan jargon tenggang rasa (tapi terlalu berbeda jika disamakan dengan tenggang rasa).
Jadi ceritanya begini, ada satu ruang dalam tubuh manusia. Kalau kata Leila S. Chudori ruang itu kosong dan ada di dada sebelah kiri. Ada juga yang mengatakan bahwa jika kamu merobek dada kiri, ruang kosong itu seolah-olah berisi. Pada kenyataannya tetap kosong, karena dia menunggu untuk saat yang tepat. Saat untuk saling mengisi. Letaknya di dada kiri, tak terlalu jauh dengan kepala, tapi sepertinya ada penghalang tegas. Kepala dengan nalarnya sama sekali tak diberi ruang dalam sirkulasi di ruang kosong. Setiap keputusan yang diambil dalam siklus indrawi-merasakan-menentukan tak pernah melibatkan, bahkan dengan tegas mengeliminasi kemungkinan terlibat, nalar.
Sudah dua paragraph saya terlalu basa-basi. Maaf, sekali lagi, ini tulisan yang tak melibatkan nalar sama sekali. Jika Anda adalah penggemar Marx, Engel ataupun Anda yang membaca blog saya oleh cerpen-cerpen yang sedikit bernalar, Anda bisa mulai memutuskan untuk memilih tanda silang dalam tab browser Anda sekarang. Saya tidak ingin menjadikan Anda gila dengan ketidakbernalaran tulisan ini. Ah, saya tahu. Anda yang adalah salah satu teman dekat saya sedang tertawa terpingkal-pingkal hingga menangis. Tai kucing!
Lanjut tentang ruang kosong dan siklus indrawi-merasakan-menentukan. Apakah Anda pernah merasakan bahwa anda pernah jatuh hati pada seseorang begitu lamanya? Sampai, ketika Anda berpisah dari dia, Anda tetap mencari-cari kehadiran dia, atau setidaknya beberapa sifatnya, pada orang lain? Yang membuat Anda kemudian melakukan tindakan permisif untuk melupakan rasa jatuh hati yang pertama, demi orang yang kedua, ketiga, dst. Tapi Anda akan selalu kembali pada hal yang mengawalinya, mencari tumpukan sifat/sikap/karakter orang pertama yang ada dalam orang kedua, ketiga, dst.
Ah, Anda tak akan pernah merasakannya kecuali Anda pernah merasakan beberapa hal ini. Bahwa Anda begitu takut untuk bertemu kembali. Ketakutan yang menjadi-jadi berbuah kekalutan sehingga Anda akan berpikir untuk tidak bertemu saja daripada harus menanggung beban jatuh-hati-yang-pertama-untuk-kesekian-kalinya. Sakit dan berat rasanya. Semakin berat bahwa Anda belum ikhlas sama sekali dengan apa yang terjadi di masa lalu, ketika banyak hal belum selesai. Juga bahwa kisah pertama Anda ternyata lebih mencintai kisah pertama yang terjadi dalam hidupnya, sayangnya kisah itu dirajut dengan orang partama yang bukanlah Anda. Pedas. Seperti memakan campuran lada, cabai dan jahe. Membuat sayap kupu-kupu yang menari di perut Anda lemas kehilangan tenaga, bibir Anda kaku, keringat basah, kuping panas dan air mata bisa keluar kapan saja. Anda kemudian menyadari bahwa kehadiran orang kedua, ketiga, dst hanyalah numpang lewat untuk kisah pertama yang belum selesai.
Pada titik ini, ruang kosong itu rasanya semakin berat. Padahal ruang itu kosong. Sepertinya membesar dan diremat-remat dengan keras. Sampai pada titik Anda bertemu kembali dengan yang pertama.
Anda, dengan segala muslihat indrawi, akan melihat yang pertama jauh lebih memesona. Walaupun tingkah kalian sangat canggung. Kupu-kupu yang mati tadi seolah mendapatkan energinya kembali. Kupu-kupu itu abadi, hingga saat yang tepat menunggu untuk mati. Melihat yang pertama di hadapan Anda dengan segala senyum, suara dan pancaran sinar matanya (untung jenongnya sudah tertutup poni rapi) adalah satu anugerah tersendiri. Anugerah yang tidak bisa dan tidak boleh jadi milik orang lain, pun oleh perasaan ingin memiliki yang diam-diam sedang menyelimuti ruang kosong di dada kiri. Banyak riset membuktikan (data ini bukanlah mencoba menalar, tapi pembenaran yang emosional atas sensasi yang begitu sensational) hormone endorphin akan meningkat tajam di saat-saat seperti ini. Anda akan menjadi lebih bahagia, sangat jelas terlihat di senyum bibir dan mata yang bersinar. Rasanya berkaca-kaca, meledak tak bisa menahan segala rasa bahagia.
Pertemuan saya dengan yang pertama, yang akhirnya saya sanggupi segala konsekuensi, seperempatnya memiliki tujuan egois. Menghambur-hamburkan hormone endorphin dalam tubuh. Tapi setengahnya adalah sebuah misi menuntaskan yang belum tuntas, sisanya adalah keterpaksaan.
Misi menuntaskan yang belum tuntas itu sulit. Apalagi dalam beberapa pertemuan Anda akan merasakan sensai ketidakkonsistenan ruang kosong: Dada kiri Anda memberat, serasa diremas kuat tapi kupu-kupu dengan tenaga-tenaga sisanya masih menari keras. Perpaduan tai kucing! Canggung.
Apalagi saat ini. Bayangkan bahwa Anda ingin menuntaskan yang belum tuntas, padahal yang pertama masih belum tuntas dengan urusan yang pertamanya. Tahu diri lah saat itu! Anda tak boleh sangat egois dengan mengungkapkan segala unek-unek yang berputar dalam proses indrawi-merasakan-menentukan. Anda harus bisa menghargai siklus serupa dalam ruang kosong si yang pertama.
Ruang kosog ini semakin berat, diremas makin hebat, ditambah dengan jarum-jarum kecil yang dikirim nalar. Nalar berkata: Cepat selesaikan, atau tidak pernah selesai. Tapi sekali lagi, ada batas tegas yang dimiliki ruang kosong, sesakit apapun dia mempertahankannya. Semakin berat saat Anda menemukan bahwa teman-teman si yang pertama sangat mendukung kisah yang pertama dengan yang pertama miliknya. Bahwa mereka penuh dengan kecocokan. Anda lalu berpikir bahwa Anda hanyalah butiran debu yang seenaknya diinjak, dicaci dan dibiarkan terbang sendiri tanpa tujuan. Goncangannya terlihat kuat dari sinar yang hilang dari mata, walaupun Anda mencoba tersenyum.
Anda bahkan tidak tahu, apa yang harus Anda katakan untuk membuat segala sesuatunya selesai. Anda bahkan (ini “bahkan” yang kedua, artinya sangat parah, sangat tidak bisa dinalar) tidak punya patokan jelas dengan kata “selesai”. Karena Anda yakin bahwa ini sangatlah susah untuk selesai bagi Anda. Semakin kuatlah goncangan dalam ruang kosong.
Oleh karenanya, saya hanya ingin menuliskan tulisan ini sebagai penyelesaian. Bahwa biarlah saya merasakan remasan kuat ini. Untuk yang pertama yang menuliskan “Kamu selalu bikin rame ^^”. Untuk dia yang sudah saling mengisi kekosongan, bahkan dengan sangat setia, sangat antusias. Sekali lagi dengan orang pertama, yang bukanlah saya. Semoga yang pertama membaca ini, saya tidak akan memaksa yang pertama untuk membaca ini, apalagi mengirimkan link-nya. Saya percaya bahwa tulisan penyelesaian ini akan dibaca oleh yang pertama tepat pada waktunya, tepat saat semua sudah harus selesai. Saya tak tahu kapan, saya sendiri tak punya patokan “selesai”, tidak bernalar.
Beruntung sekali Anda yang bisa saling mengisi kekosongan dengan yang pertama. Saya tak punya hak untuk memastikan yang pertama juga harus beruntung dalam proses saling mengisi kekosongan tersebut. Saya hanya bisa berdoa bahwa yang pertama akan bahagia. Klise. Tapi bahagia tidak memiliki pola, masing-masing orang punya standar sendiri sehingga saya tak bisa berdoa dengan lebih spesifik. Yang pertama harus hidup bahagia!
Akhirnya, mengutip Bang Tulus. Saya tidak ingin lagi larut dalam angan yang tanpa tujuan. Saya berkata dan menuntut ruang kosong saya untuk perlahan menerima nalar. Saya sudah harus selesai dengan semua ini, sewindu sudahlah sangat menyiksa. Kalau kata teman dekat (yang pasti sedang tertawa terpingkal-pingkal), ruang kosong saya harus bisa mengambil hikmah. Agar tidak ada lagi kata canggung atau enggan. Bahkan bisa menghilangkan keterpaksaan dan menjadikan ruang kosong saya lebih lentur. Tak lagi sebegitunya sakit saat diremas dalam pertemuan berikutnya. Terima kasih untuk kamu yang pertama, semoga kamu menerima cokelat yang saya titipkan. Itulah tanda saya sudah selesai. Ketika kamu membaca tulisan ini, tandanya saya dan kamu sudah selesai, semuanya selesai. Saya cukup tahu diri untuk tidak lagi menyiksa ruang kosong saya atau mengganggu ruang kosongmu. Terima kasih. I Love You ^^.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar