Senin, 05 Mei 2014

Someone to Watch Over Me



Ella Fitzgerald dengan syahdu, setengah serak, dan penuh kekuatan melantunkn lagu penantian ini. There’s a saying old, that the love is blind. Still we’re often told, seek and ye shall find. Nada-nada minor, biasa dianggap sebagai nada yang agak miring, membuat suaranya yang garang itu menyeyat-nyayat.
                
Cinta itu buta, katanya pada pembuka. Boleh percaya atau tidak, karena nyatanya kita juga masih sering berkata bahwa ketika mencari, kita akan menemukan. Mencari, kemudian menemukan adalah kata kerja yang mengandung unsure kesengajaan, berbeda dengan “buta”, yang sama sekali tidak menyengaja kerja. Kerja yang dilakukan oleh hati, maksudnya. Dialektika ini muncul terus menerus. Saat berhadapan dengan seseorang, saya mencoba membutakan diri, agar merasakan apa itu cinta. Tapi, di lain sisi, saya mencari-cari cinta di dalamnya, dan ternyata hampa. Nir hasil. Sia-sia.
               
Looking everywhere, haven’t found him yet, lanjutnya. Dalam liriknya, dengan liris, seolah mengaduh, dia menyanyikan bahwa ada peristiwa emosional paling besar, yang pernah dia rasakan. Hanya sekali, sekali saja dengan penyesalan.
                
“Jangan pakai rasa ya,” begitu dia berkata sesaat setelah selesai berjumpa.
                
Saat euphoria masih besar-besarnya, dan endorphin masih berlebih-lebihan, kata-kata itu saya anggap hanya sebagai bualan. Tidak saya acuhkan, tetap saja tersenyum bahagia. That the love is blind. Tapi terlalu mudah untuk menyimpulkan dari perjumpaan pertama, bahwa inilah kebutaan. Syarat orang sedang jatuh cinta. Rasa-rasa yang ini mirip dengan alunan I’d like to add his initial to my monogram. Tell me, where is the shepherd for this lost lamb? Seakan menegaskan bahwa kebutaan adalah penyebab hilangnya segala kemampuan untuk menentukan arah. Karena terlalu bergembira, saya berjalan tanpa tahu arah. Hanya nama dia, dia, dan dia lagi yang berdengung. Sayang , dengungnya tak menentu, berasal dari semua penjuru. Semua penjuru yang saya coba jajaki satu per satu.
                
Masih teringat satu per satu yang kami lakukan. Dia menceritakan pada saya tentang kehidupan, dan aku hanya diam saja, karena merasa tak pernah berpengelaman. Dia membimbing, manifestasi dari sikap-sikap keibuan. Tenang, seperti air yang mengalir, membasahi kerongkongan-kerongkongan yang dahaga dan akhirnya menghidupkan. Sebelumnya saya merasa perasaan saya sudah mati, dengan dia organ-organ mengirim sinyal ke jaringan dan jaringan meneruskan ke setiap selnya, mereka benar-benar terasa hidup, bergejolak, mungkin seperti kuncup bunga yang mekar dengan cepat. Jutaan sel yang ada dalam tubuh menyinergikan pikiran dan hati, berpikir dan merasakan, bahwa saya hidup. Baru.
                
Mungkin bukan yang pertama. Banyak kejadian serupa, dengan orang yang berbeda-beda pula. Semuanya singgah tanpa meninggalkan jejak penasaran. Tapi dia yang ini, adalah yang pertama bermakna. Karena dia membawa sebuah cawan berisi pengampunan yang membuat saya mengampuni kesalahan-kesalahan masa lalu, serta sepotong roti kehidupan. Pada akhirnya, dialah yang menyimpan misteri. Bukan tentang yang pertama, tapi tentang yang pertama bermakna. Dan lagi, dia bukan milik dan tidak bisa dimiliki oleh seseorang. Banyak orang berteduh di bawah kerindangan daunnya. Itulah sebab dia berkata, “Jangan pakai rasa ya.” Sekalipun rasa itu sudah benar-benar ada, sebelum dia sempat memperingatkan.
                
Although he may not be the man, some girls think of as handsome. To my heart, he carries the key. Sesingkat-singkatnya perjumpaan, saya merasa bahwa dialah yang membawa kunci. Dia yang sudah membukakan hati. Atau saya salah, bahwa justru karena terlalu singkat, saya masih yakin bahwa dialah pembawa kunci? Tapi saya yakin, dia yang telah membukanya, membuatku berani memeluknya. Dia, hanya dia yang mampu menutupnya lagi dengan kunci yang dia pegang.
                
I need someone to watch over me. Someone to watch over me. Dia sudah membukakan hati, dan saya berpasrah dalam proses itu. “Jangan pakai rasa ya,” bukanlah sebuah perintah untuk mencegah perasaan ini mengambil alih, tapi terlanjur menjadi obat untuk hati yang menganga. Ada lubang di dalamnya dan itu membuat sakit, pada permulaan. Rasa itu sudah tumbuh, membagi kepasrahan, kerelaan. Bahwa dia, sewaktu-waktu dan tanpa pemberitahuan, akan pergi. Kepergiannya akan menyisakan misteri. Sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dalam waktu singkat: siapa yang akan menutup hati ini? Atau mungkin, dia membiarkannya terbuka, agar tidak ada lagi ketakutan akan rasa sakit yang berkali-kali singgah.
                
Someone to watch over me. Walaupun kami akan berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Pada akhir desahan tebal Ella, aku menambahkan And I promise to be someone to watch over you. Dan pencarian itu sudah berakhir.


Catatan: Terinspirasi dari cerita-cerita di 30 April 2014. Pertama, dengan kawan dekat. Seorang perempuan hebat dan kisahnya dengan laki-laki yang hebat juga. Kedua, dengan R. Ketiga, Someone to Watch Over Me – Ella Fitzgerald.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar