Senin, 05 Mei 2014

Someone to Watch Over Me



Ella Fitzgerald dengan syahdu, setengah serak, dan penuh kekuatan melantunkn lagu penantian ini. There’s a saying old, that the love is blind. Still we’re often told, seek and ye shall find. Nada-nada minor, biasa dianggap sebagai nada yang agak miring, membuat suaranya yang garang itu menyeyat-nyayat.
                
Cinta itu buta, katanya pada pembuka. Boleh percaya atau tidak, karena nyatanya kita juga masih sering berkata bahwa ketika mencari, kita akan menemukan. Mencari, kemudian menemukan adalah kata kerja yang mengandung unsure kesengajaan, berbeda dengan “buta”, yang sama sekali tidak menyengaja kerja. Kerja yang dilakukan oleh hati, maksudnya. Dialektika ini muncul terus menerus. Saat berhadapan dengan seseorang, saya mencoba membutakan diri, agar merasakan apa itu cinta. Tapi, di lain sisi, saya mencari-cari cinta di dalamnya, dan ternyata hampa. Nir hasil. Sia-sia.
               
Looking everywhere, haven’t found him yet, lanjutnya. Dalam liriknya, dengan liris, seolah mengaduh, dia menyanyikan bahwa ada peristiwa emosional paling besar, yang pernah dia rasakan. Hanya sekali, sekali saja dengan penyesalan.
                
“Jangan pakai rasa ya,” begitu dia berkata sesaat setelah selesai berjumpa.
                
Saat euphoria masih besar-besarnya, dan endorphin masih berlebih-lebihan, kata-kata itu saya anggap hanya sebagai bualan. Tidak saya acuhkan, tetap saja tersenyum bahagia. That the love is blind. Tapi terlalu mudah untuk menyimpulkan dari perjumpaan pertama, bahwa inilah kebutaan. Syarat orang sedang jatuh cinta. Rasa-rasa yang ini mirip dengan alunan I’d like to add his initial to my monogram. Tell me, where is the shepherd for this lost lamb? Seakan menegaskan bahwa kebutaan adalah penyebab hilangnya segala kemampuan untuk menentukan arah. Karena terlalu bergembira, saya berjalan tanpa tahu arah. Hanya nama dia, dia, dan dia lagi yang berdengung. Sayang , dengungnya tak menentu, berasal dari semua penjuru. Semua penjuru yang saya coba jajaki satu per satu.
                
Masih teringat satu per satu yang kami lakukan. Dia menceritakan pada saya tentang kehidupan, dan aku hanya diam saja, karena merasa tak pernah berpengelaman. Dia membimbing, manifestasi dari sikap-sikap keibuan. Tenang, seperti air yang mengalir, membasahi kerongkongan-kerongkongan yang dahaga dan akhirnya menghidupkan. Sebelumnya saya merasa perasaan saya sudah mati, dengan dia organ-organ mengirim sinyal ke jaringan dan jaringan meneruskan ke setiap selnya, mereka benar-benar terasa hidup, bergejolak, mungkin seperti kuncup bunga yang mekar dengan cepat. Jutaan sel yang ada dalam tubuh menyinergikan pikiran dan hati, berpikir dan merasakan, bahwa saya hidup. Baru.
                
Mungkin bukan yang pertama. Banyak kejadian serupa, dengan orang yang berbeda-beda pula. Semuanya singgah tanpa meninggalkan jejak penasaran. Tapi dia yang ini, adalah yang pertama bermakna. Karena dia membawa sebuah cawan berisi pengampunan yang membuat saya mengampuni kesalahan-kesalahan masa lalu, serta sepotong roti kehidupan. Pada akhirnya, dialah yang menyimpan misteri. Bukan tentang yang pertama, tapi tentang yang pertama bermakna. Dan lagi, dia bukan milik dan tidak bisa dimiliki oleh seseorang. Banyak orang berteduh di bawah kerindangan daunnya. Itulah sebab dia berkata, “Jangan pakai rasa ya.” Sekalipun rasa itu sudah benar-benar ada, sebelum dia sempat memperingatkan.
                
Although he may not be the man, some girls think of as handsome. To my heart, he carries the key. Sesingkat-singkatnya perjumpaan, saya merasa bahwa dialah yang membawa kunci. Dia yang sudah membukakan hati. Atau saya salah, bahwa justru karena terlalu singkat, saya masih yakin bahwa dialah pembawa kunci? Tapi saya yakin, dia yang telah membukanya, membuatku berani memeluknya. Dia, hanya dia yang mampu menutupnya lagi dengan kunci yang dia pegang.
                
I need someone to watch over me. Someone to watch over me. Dia sudah membukakan hati, dan saya berpasrah dalam proses itu. “Jangan pakai rasa ya,” bukanlah sebuah perintah untuk mencegah perasaan ini mengambil alih, tapi terlanjur menjadi obat untuk hati yang menganga. Ada lubang di dalamnya dan itu membuat sakit, pada permulaan. Rasa itu sudah tumbuh, membagi kepasrahan, kerelaan. Bahwa dia, sewaktu-waktu dan tanpa pemberitahuan, akan pergi. Kepergiannya akan menyisakan misteri. Sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dalam waktu singkat: siapa yang akan menutup hati ini? Atau mungkin, dia membiarkannya terbuka, agar tidak ada lagi ketakutan akan rasa sakit yang berkali-kali singgah.
                
Someone to watch over me. Walaupun kami akan berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Pada akhir desahan tebal Ella, aku menambahkan And I promise to be someone to watch over you. Dan pencarian itu sudah berakhir.


Catatan: Terinspirasi dari cerita-cerita di 30 April 2014. Pertama, dengan kawan dekat. Seorang perempuan hebat dan kisahnya dengan laki-laki yang hebat juga. Kedua, dengan R. Ketiga, Someone to Watch Over Me – Ella Fitzgerald.

Minggu, 05 Januari 2014

Untuk MN

Catatan: Tulisan ini dibuat tanpa nalar, sehingga harap maklum jika banyak hal tidak konsisten. Tak perlu dicari juga pentingnya, karena ini hanyalah tulisan tak bernalar. 


Tulisan ini mungkin lebih tepat berjudul Tahu Diri, tapi Tahu Diri itu semacam memberi ruang unuk nalar. Seakan adalah hasil berpikir yang begitu panjang dan logis, kemudian diwujudkan dalam sikap. Padahal yang saya maksud tahu diri lebih ke sesuatu yang emosional, mirip dengan jargon tenggang rasa (tapi terlalu berbeda jika disamakan dengan tenggang rasa). 

Jadi ceritanya begini, ada satu ruang dalam tubuh manusia. Kalau kata Leila S. Chudori ruang itu kosong dan ada di dada sebelah kiri. Ada juga yang mengatakan bahwa jika kamu merobek dada kiri, ruang kosong itu seolah-olah berisi. Pada kenyataannya tetap kosong, karena dia menunggu untuk saat yang tepat. Saat untuk saling mengisi. Letaknya di dada kiri, tak terlalu jauh dengan kepala, tapi sepertinya ada penghalang tegas. Kepala dengan nalarnya sama sekali tak diberi ruang dalam sirkulasi di ruang kosong. Setiap keputusan yang diambil dalam siklus indrawi-merasakan-menentukan tak pernah melibatkan, bahkan dengan tegas mengeliminasi kemungkinan terlibat, nalar. 

Sudah dua paragraph saya terlalu basa-basi. Maaf, sekali lagi, ini tulisan yang tak melibatkan nalar sama sekali. Jika Anda adalah penggemar Marx, Engel ataupun Anda yang membaca blog saya oleh cerpen-cerpen yang sedikit bernalar, Anda bisa mulai memutuskan untuk memilih tanda silang dalam tab browser Anda sekarang. Saya tidak ingin menjadikan Anda gila dengan ketidakbernalaran tulisan ini. Ah, saya tahu. Anda yang adalah salah satu teman dekat saya sedang tertawa terpingkal-pingkal hingga menangis. Tai kucing! 

Lanjut tentang ruang kosong dan siklus indrawi-merasakan-menentukan. Apakah Anda pernah merasakan bahwa anda pernah jatuh hati pada seseorang begitu lamanya? Sampai, ketika Anda berpisah dari dia, Anda tetap mencari-cari kehadiran dia, atau setidaknya beberapa sifatnya, pada orang lain? Yang membuat Anda kemudian melakukan tindakan permisif untuk melupakan rasa jatuh hati yang pertama, demi orang yang kedua, ketiga, dst. Tapi Anda akan selalu kembali pada hal yang mengawalinya, mencari tumpukan sifat/sikap/karakter orang pertama yang ada dalam orang kedua, ketiga, dst. 

Ah, Anda tak akan pernah merasakannya kecuali Anda pernah merasakan beberapa hal ini. Bahwa Anda begitu takut untuk bertemu kembali. Ketakutan yang menjadi-jadi berbuah kekalutan sehingga Anda akan berpikir untuk tidak bertemu saja daripada harus menanggung beban jatuh-hati-yang-pertama-untuk-kesekian-kalinya. Sakit dan berat rasanya. Semakin berat bahwa Anda belum ikhlas sama sekali dengan apa yang terjadi di masa lalu, ketika banyak hal belum selesai. Juga bahwa kisah pertama Anda ternyata lebih mencintai kisah pertama yang terjadi dalam hidupnya, sayangnya kisah itu dirajut dengan orang partama yang bukanlah Anda. Pedas. Seperti memakan campuran lada, cabai dan jahe. Membuat sayap kupu-kupu yang menari di perut Anda lemas kehilangan tenaga, bibir Anda kaku, keringat basah, kuping panas dan air mata bisa keluar kapan saja. Anda kemudian menyadari bahwa kehadiran orang kedua, ketiga, dst hanyalah numpang lewat untuk kisah pertama yang belum selesai. 

Pada titik ini, ruang kosong itu rasanya semakin berat. Padahal ruang itu kosong. Sepertinya membesar dan diremat-remat dengan keras. Sampai pada titik Anda bertemu kembali dengan yang pertama. 

Anda, dengan segala muslihat indrawi, akan melihat yang pertama jauh lebih memesona. Walaupun tingkah kalian sangat canggung. Kupu-kupu yang mati tadi seolah mendapatkan energinya kembali. Kupu-kupu itu abadi, hingga saat yang tepat menunggu untuk mati. Melihat yang pertama di hadapan Anda dengan segala senyum, suara dan pancaran sinar matanya (untung jenongnya sudah tertutup poni rapi) adalah satu anugerah tersendiri. Anugerah yang tidak bisa dan tidak boleh jadi milik orang lain, pun oleh perasaan ingin memiliki yang diam-diam sedang menyelimuti ruang kosong di dada kiri. Banyak riset membuktikan (data ini bukanlah mencoba menalar, tapi pembenaran yang emosional atas sensasi yang begitu sensational) hormone endorphin akan meningkat tajam di saat-saat seperti ini. Anda akan menjadi lebih bahagia, sangat jelas terlihat di senyum bibir dan mata yang bersinar. Rasanya berkaca-kaca, meledak tak bisa menahan segala rasa bahagia. 

Pertemuan saya dengan yang pertama, yang akhirnya saya sanggupi segala konsekuensi, seperempatnya memiliki tujuan egois. Menghambur-hamburkan hormone endorphin dalam tubuh. Tapi setengahnya adalah sebuah misi menuntaskan yang belum tuntas, sisanya adalah keterpaksaan. 

Misi menuntaskan yang belum tuntas itu sulit. Apalagi dalam beberapa pertemuan Anda akan merasakan sensai ketidakkonsistenan ruang kosong: Dada kiri Anda memberat, serasa diremas kuat tapi kupu-kupu dengan tenaga-tenaga sisanya masih menari keras. Perpaduan tai kucing! Canggung. Apalagi saat ini. Bayangkan bahwa Anda ingin menuntaskan yang belum tuntas, padahal yang pertama masih belum tuntas dengan urusan yang pertamanya. Tahu diri lah saat itu! Anda tak boleh sangat egois dengan mengungkapkan segala unek-unek yang berputar dalam proses indrawi-merasakan-menentukan. Anda harus bisa menghargai siklus serupa dalam ruang kosong si yang pertama. 

Ruang kosog ini semakin berat, diremas makin hebat, ditambah dengan jarum-jarum kecil yang dikirim nalar. Nalar berkata: Cepat selesaikan, atau tidak pernah selesai. Tapi sekali lagi, ada batas tegas yang dimiliki ruang kosong, sesakit apapun dia mempertahankannya. Semakin berat saat Anda menemukan bahwa teman-teman si yang pertama sangat mendukung kisah yang pertama dengan yang pertama miliknya. Bahwa mereka penuh dengan kecocokan. Anda lalu berpikir bahwa Anda hanyalah butiran debu yang seenaknya diinjak, dicaci dan dibiarkan terbang sendiri tanpa tujuan. Goncangannya terlihat kuat dari sinar yang hilang dari mata, walaupun Anda mencoba tersenyum. 

Anda bahkan tidak tahu, apa yang harus Anda katakan untuk membuat segala sesuatunya selesai. Anda bahkan (ini “bahkan” yang kedua, artinya sangat parah, sangat tidak bisa dinalar) tidak punya patokan jelas dengan kata “selesai”. Karena Anda yakin bahwa ini sangatlah susah untuk selesai bagi Anda. Semakin kuatlah goncangan dalam ruang kosong. 

Oleh karenanya, saya hanya ingin menuliskan tulisan ini sebagai penyelesaian. Bahwa biarlah saya merasakan remasan kuat ini. Untuk yang pertama yang menuliskan “Kamu selalu bikin rame ^^”. Untuk dia yang sudah saling mengisi kekosongan, bahkan dengan sangat setia, sangat antusias. Sekali lagi dengan orang pertama, yang bukanlah saya. Semoga yang pertama membaca ini, saya tidak akan memaksa yang pertama untuk membaca ini, apalagi mengirimkan link-nya. Saya percaya bahwa tulisan penyelesaian ini akan dibaca oleh yang pertama tepat pada waktunya, tepat saat semua sudah harus selesai. Saya tak tahu kapan, saya sendiri tak punya patokan “selesai”, tidak bernalar. 

Beruntung sekali Anda yang bisa saling mengisi kekosongan dengan yang pertama. Saya tak punya hak untuk memastikan yang pertama juga harus beruntung dalam proses saling mengisi kekosongan tersebut. Saya hanya bisa berdoa bahwa yang pertama akan bahagia. Klise. Tapi bahagia tidak memiliki pola, masing-masing orang punya standar sendiri sehingga saya tak bisa berdoa dengan lebih spesifik. Yang pertama harus hidup bahagia! 

Akhirnya, mengutip Bang Tulus. Saya tidak ingin lagi larut dalam angan yang tanpa tujuan. Saya berkata dan menuntut ruang kosong saya untuk perlahan menerima nalar. Saya sudah harus selesai dengan semua ini, sewindu sudahlah sangat menyiksa. Kalau kata teman dekat (yang pasti sedang tertawa terpingkal-pingkal), ruang kosong saya harus bisa mengambil hikmah. Agar tidak ada lagi kata canggung atau enggan. Bahkan bisa menghilangkan keterpaksaan dan menjadikan ruang kosong saya lebih lentur. Tak lagi sebegitunya sakit saat diremas dalam pertemuan berikutnya. Terima kasih untuk kamu yang pertama, semoga kamu menerima cokelat yang saya titipkan. Itulah tanda saya sudah selesai. Ketika kamu membaca tulisan ini, tandanya saya dan kamu sudah selesai, semuanya selesai. Saya cukup tahu diri untuk tidak lagi menyiksa ruang kosong saya atau mengganggu ruang kosongmu. Terima kasih. I Love You ^^.

Selasa, 17 September 2013

Perpustakaan Ideal yang Kuinginkan

Judul ini saya ambil dari judul lomba yang diadakan oleh Perpustakaan UAJY beberapa bulan lalu (saya lupa tepatnya). Seandainya mahasiswa boleh mengikuti lomba ini, saya akan menuliskan banyak keluh kesah tentang kondisi perpustakaan UAJY saat ini, saying lomba ini hanya terbuka bagi siswa SMA.

                Saya menulis tulisan (bisa disebut surat, curhatan, sekedar keluh kesah atau kritik) ini karena saya merasa sudah tidak nyaman lagi dengan suasana perpustakaan UAJY. Walaupun tugas utama perpustakaan adalah sebagai bank buku, perpustakaan harusnya juga berfungsi sebagai tempat kondusif untuk membaca buku-buku tersebut. Suasana perpustakaan UAJY saat ini sangat tidak kondusif dan tidak mendukung salah satu tujuan perpustakaan (saya kutip dari http://www.karyawan perpustakaan.com/pengertian-tujuan-dan-peran-perpustaan) yaitu “dapat menggunakan waktu senggang dengan baik yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan social”. Saya rasa cara terbaik memanfaatkan waktu senggang yang dimaksudkan dalam tujuan perpustakaan adalah dengan membaca, dalam situasi yang tenang, kondusif. Hal ini mulai hilang dari perpustakaan UAJY.

            Saya kemudian membandingkan situasi perpustakaan UAJY dengan beberapa perpustakaan di Jogyakarta: Perpus Kota, JLC, Perpus Kolsani, Perpus UGM, Perpusda. Situasi Perpustakaan UAJY sedikit banyak mirip dengan situasi perpus kota, yang hiruk pikuk.Berikut beberapa alasan yang kemungkinan besar menjadi penyebab hiruk pikuk perpustakaan:

1.    Desain ruang, yang menurut saya tidak memadai: kantor pegawai perpustakaan dan ruang perpustakaan diletakkan di gedung dengan ruang yang terbuka. Pada beberapa gedung perpustakaan lain, letak kantor karyawan perpustakaan akan terpisah dengan ruang baca dan dibatasi oleh sekat untuk meminimalisir suara dari luar terdengar di ruang baca. Hal ini diperparah oleh karyawan perpustakaan yang sering ngobrol dengan suara keras sehingga terdengar hingga ruang baca. Ini sudah tidak sesuai dengan semangat Librarian Serve People, not Books yang dipasang di web perpustakaan J

2.    Belum ada sosialisasi atau kesepahaman tentang fungsi perpustakaan. Saya bisa contohkan di Perpus Kolsani, misalnya, ada perjanjian untuk pengunjung: tidak ngobrol, mematikan/silent handphone, tidak boleh menerima telepon di dalam ruangan, tidak boleh melipat buku, tidak boleh mencoret buku dan tidak boleh menghilangkan buku. Semua pelanggaran atas poin-poin tersebut akan diberi teguran atau sanksi langsung dari karyawan perpustakaan. Sosialisasi aturan perpustakaan UAJY kurang (atau mungkin belum ada) dan kerja karyawan Perpustakaan UAJY masih cenderung pasif dalam memberikan teguran sehingga semakin membuat suasana perustakaan tidak kondusif.

3.    Poin kedua dipicu juga oleh kesadaran pemustaka yang kurang, misal: melakukan diskusi di ruang baca, mengobrol di ruang baca, padahal sudah disediakan ruang diskusi. Hal ini secara tidak langsung terjadi karena memang tidak ada sosialisasi tentang aturan di ruang baca, ruang skripsi, ruang referensi dan lab kom, artinya poin dua sangat berperan dalam mengurangi keramaian yang diakibatkan oleh pemustaka.

4.    Mesin fotocopy yang tidak berfungsi baik, lama dan hasilnya mengecewakan. Poin ini tidak berpengaruh langsung pada suasana kondusif, tapi menjadi poin tambahan yang harus menjadi perhatian.

Saya menuliskan tulisan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap perpustakaan UAJY dan kenyamanan menggunakan fasilitas perpustakaan UAJY (baik warga internal atau eksternal-non UAJY). Saya juga pernah posting kicauan terkait tidak kondusifnya perpustakaan ini dalam 140 karakter di twitter, yang langsung saya mention ke @uajy, ternyata tidak ada tanggapan. Kicauan saya ternyata di-retweet dan di-reply sebanyak 12 kali, berarti ada dua belas orang yang memiliki harapan sama dengan saya. KIcauan kecil saya mungkin tidak terdengar, keluh kesah saya pada beberapa SS Perpus juga mungkin tidak tersampaikan pada orang yang berwenang sehingga suasana perpustakaan ya begini-begini saja, tidak berubah. Maaf kalau tulisan ini menyinggung perasaan atau diterima secara negative. Saya kadang juga masih ngobrol singkat di perpustakaan, tapi bukan berarti saya tidak mau perpustakaan menjadi tempat yang lebih baik, bahkan mungkin bia menjadi perpustakaan ternyaman untuk mengerjakan tugas atau sekedar membaca mengisi waktu luang. Semoga perpustakaan ideal segera tercipta di UAJY.


Oya, maaf kalau saya posting tulisan ini lewat blog yang bisa dibaca siapa saja, karena saya tidak menemukan kolom kritik dan saran di website perpustakaan.uajy.ac.id.

Rabu, 31 Juli 2013

Mencari Cermin 2: Catatan Perjalanan Dieng (Di Hyang)

   Esoknya aku memikirkan tempat-tempat mana saja yang membuat aku damai. Akhirnya aku datang ke tempat-tempat ramai, dengan alunan musik, gedung dengan gambar yang bergerak-gerak atau gedung dengan instalasi estetis yang membuat Sang Rasa berdecak kagum. Tapi aku belum merasakan kedamaian, tidak lagi seperti syarat Wujil Kinasih: Sunyi.

   Esoknya, ada seorang kawan yang mengajak untuk pergi ke gunung. Ah, aku pernah gagal mencapai puncak gunung. Apa aku harus mengulang kegagalan kembali? Tapi toh aku belum pernah mencapai puncaknya, siapa tahu puncak itu yang empunya kedamaian? Tak masalah selama masih ada kawan, sendiri pun sebenarnya aku masih bisa berkawan: dengan rumput, pohon dan serangga. Tapi apalah artinya aku tanpa kawan yang bisa kuajak mengobrol tentang misteri cermin itu. 

   Esoknya, anggap saja begitu, tanpa persiapan yang matang—karena memang tidak ada yang harus dipersiapkan secara matang—aku dan kawanku itu berangkat. Kami naik sepeda motor menuju Di Hyang, yang konon katanya adalah tempat bersemayam para Dewa, moksa. Sepeda motorku pasti bangga, karena dia pernah mencicipi mokas.

   Kami saba wana (melewati hutan). Di kanan dan kiri banyak penjual carica, kami tahu kemudian bahwa betuk aseli carica adalah seperti papaya. Bedanya, dalamnya membentuk bintang secara sempurna. Aku sadar, ini tempat para Dewa singgah, carica yang menjadi oleh-oleh utama adalah bintang-bintang yang dianugerahkan para Dewa. Pantas, mereka terjaga dan dengan baik tersimpan di sudut-sudut jalan. 

  Tiba di sana, hujan mengguyur, paling tidak nyaman karena masuk di sela-sela sepatu dan kaos kaki. Baunya pasti menyengat saat dibuka. Ah, bau itu alamiah, tak masalah. Kami beristirahat sebentar, mencoba mengisi perut agar omongan tidak melantur saat sowan para Dewa. 

   Lepas maghrib, kami bawa bawaan dan tenda. Kami parkirkan motor di salah satu rumah warga, kami tanjaki punggung bukit Sikunir, salah satu tempat persemayaman Dewa, konon katanya. Dalam perjalanan aku hanya berpikir bahwa tempat Dewa adalah tempat yang cocok untuk bertanya tentang kemana hilangnya cermin. 

  Tiba di Sikunir, dengan harapan mampu melihat lukisan Sang Dewa berupa Surya yang bulat dan berwarna bagai emas, kami mendirikan tenda. Was-was, karena setelah kami selesai mebangun tenda, hujan mengguyur. Kami lupa membuat parit—sejujurnya aku memang tak pernah tahu syarat tenda yang benar adalah dikelilingi parit pengalih aliran air—hingga tenda tergenang air. Belum lagi bayu yang terus berhembus ke sana ke sini. Kami melepas beban dengan bercakap-cakap seadanya, tentang cermin yang dia bawa dan cermin yang belum ketemu. Semuanya adalah tentang misteri. Banyak hal yang kami definisikan sebagai misteri: rasa, karya dan karsa. 

   Misteri adalah sesuatu yang setia untuk masa depan. Tapi kesetiaan, rasa syukur adalah sebuah msteri yang mempu memecahkan misteri lain. Kita punya pedoman untuk berkarya. Semoga kawanku ini selalu paham bahwa dalam dalam berkarya dia harus menjaga kesetiaan. Begitu pula aku, semoga aku selalu tahu dan tak gagal lagi seperti urusan menjaga cermin. 

  Hujan sedikit reda. Seusai membenahi letak jas hujan penutup tenda, kami membuat parit mengelilingi tenda. Takut kalau-kalau air terlalu nyaman dengan alirannya tadi, kami alihkan agar mereka mau menyuburkan pohon-pohon kering di sekeliling kami. Temanku tiba-tiba mengambil sikap doa, dan aku menjadi tersindir dengan sendirinya. Aku pun ikut berdoa, bukan ikut-ikutan, aku merasakan dinginnya bayu yang berhembus, meminta kehangatan pada Sang Dewa. Aku mencoba merasakan kehadiran mereka, menjaga satu-satunya tenda yang berdiri di atas awan berarak-arak. Selesai, aku kembli malu. Ternyata hujan reda hingga pagi, dan aku sempat tak ingin mendekat dengan para Dewa. Kawanku yang memulainya. Terima kasih. 

  Sudah berdoa, aku terlelap dan kawanku terjaga. Saat ragaku sudah puas berstirahat, aku terjaga dan dia terlelap. Tapi karena dingin terlalu beresonansi dengan keadaan hatiku yang terpisah dengan cermin, aku pun ikut terlelap kemudian. 

  Esok paginya, ternyata Surya sedang tidak enak badan. Dia harus diselimuti kabut tebal dan awan yang sedikit kehitaman. Tak apa, saya masih bisa merasakan kehangatannya. Matanya berbicara dan memelukku. Surya mengajakku bercakap tentang misteri. Kawanku juga ikut terlbat dalam percakapan tanpa suara itu.



  Kami bereskan tenda dan semua peralatan, kami lambaikan tangan pada Surya yang masih berselimut tebal. Kami berkeliling sejenak menikmati rumah-rumah Dewa yang lain. Di Hyang, begitu katanya. Kami ucapkan terima kasih satu per satu pada mereka yang menjaga kami semalam: Telaga Warna, Pangeran Kidang dengan semburan lumpurnya, juga candi-candi kokoh tempat manusia menyembah Dewa. Kamipun pulang.






   Dalam perjalanan aku mencoba menyimpulkan petunjuk apa yang kudapat dari perjalanan ini. Ternyata aku belajar dari kawanku ini bahwa menjadi dekat dengan alam adalah kunci mendekati para Dewa. Sang Hyang tahu dimana letak cermin. Doa. Akan kuberitahukan satu petunjuk ini pada Wujil Kinasih. Sekali lagi, terima kasih. 

 *** 

   Esoknya aku mengadu pada Wujil Kinasih tentang semua perjalanan ke Di Hyang. Dia menjawab, “Kawan kau itu akan jadi orang yang hebat.” 

  Aku protes, “Mbah, ini tentang aku dan cerminku, kau malah bicara tentang kawanku?” 

  “Di situlah kesalahanmu. Kau selalu berpikir tentang dirimu sendiri. Kau tidak merasakan bahwa kawanmu mungkin akan sangat berjasa dalam hidupmu seminggu ke depan, dia menyindirmu dengan perbuatan kan? Bukan lagi perkataan? Sindiran yang hebat.” 

  “Baiklah, Mbah. Satu petunjuk yang akan kuamalkan seminggu ke depan, Doa. Lalu dimana aku bisa mencari petunjuk lain?” 

   “Masih di tempat hening, tempat kamu merasakan kedamaian, carilah dengan doa. Kau kini toh sudah tahu caranya hening dalam doa.” 

  Aku hanya bergeming. Tidak berdoa, tapi mencoba mencari-cari alasan untukku mau berdoa. Kata kawanku: rasanya tidak adil bagi Tuhan kalau aku hanya berdiam diri, tidak berdoa. Padahal Dia selalu jadi kawan. Berdoa sejatinya bercakap-cakap dengan Kawan, merawat percakapan. Itu adil untuk kawan yang selalu ada. (edited). Inilah saatnya berlaku adil sejak dari pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Lebih-lebih berlaku adil sejak dalam keyakinan, orang sering lupa hal ini. 

 *** 

  Wujil Kinasih memang welas asih, tapi kata-katanya memang menyebalkan. Penuh wacana, tidak bisa dimengerti serta-merta, harus dipahami dengan bahasa-bahasa Dewa. Wujil Kinasih juga pernah bilang bahwa bahasa Dewa itu tidaklah sulit, hanya tinggal memahami diri sendiri, berkaca pada diri sendiri. Tapi, cerminku kan masih hilang. Keadaan ini sangat rumit. 

  Esoknya, ada sekelompok temanku mengajak untuk berlibur dan menginap ke suatu tempat. Menginap tidak di balik tembok, tapi menyatu dengan alam. Lagi. Aku iyakan, rencana mendirikan tenda di pantai berubah menjadi menyelinap di balik dingin Merbabu. Aku suka, tapi di sinilah kata-kata Wujil Kinasih tentang diriku menjadi terbukti. 
  
   Perjalanan dimulai akhir minggu. Tepat tujuh hari setelah aku mengunjungi Di Hyang. (bersambung)

Mencari Cermin 1: Percakapan dengan Wujil Kinasih

   Wujil Kinasih, hamba Majapahit yang sedang sowan pada Panembahan Wahdat, menantang halus gurunya itu. Dia sudah melakukan pembacaan terhadap karya-karya Kitab suci yang hendak diajarkan gurunya, dia sudah melakukan semua yang ada di Kitab Suci. Makin dia membaca, makin dia tak mengerti. Makin dia membaca, makin dia merasa seperti boneka, digerakkan oleh pikiran-pikirannya sendiri: harus begini lah, harus begitulah. Hidupnya tak lagi luwes. Dengan halus dia meminta gurunya itu menjelaskan mengapa dia mulai terbebani. 

   “Kamu membaca tanpa memahami,” kata Panembahan Wahdat, “ Kamu dalami dulu siapa dirimu. Tanpa membaca, dengan mengenal siapa dirimu kamu akan menjadi lebih agung dari pada pembaca-pembaca Kitab Suci yang sekedar mencari tutorial kehidupan.” Wahdat meneruskan lagi bahwa siapa yang mematikan jiwa dalam dirinya, tindakannya akan terus mengekang. Siapa yang mulai mengekang tubuhnya, tak henti-henti memaki kekurangan, terjebak dan patuh pada sabda tanpa menghadirkan kembali Sang Ada. 

   Mendengar itulah Sang Wujil Kinasih akhirnya menyadari betapa buruk pembacaan sabdanya. Bahwa sabda bukanlah tutorial belaka. Sabda adalah memahami dengan sungguh-sungguh dalam pengalaman yang hening. Dia teringat kta Wahdat di awal dia berguru, “Kalau perlu, kau harus membaca Kitab Suci di tempat yang sunyi.” Sayang, dia terlalu riuh membaca Kitab Suci bersama para koloni. Tak hening, sehingga Sang Rasa pun mati dalam kata-kata yang jarang berhenti. 

 *** 

  Aku menemui Sang Wujil Kinasih karena aku tahu dia sudah tersenyum bahagia. Tubuhnya tidak lagi bergerak seperti robot, pun pikirannya sudah bebas. 

  “Mbah, Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanyaku heran. Sebelumnya dia selalu murung. 

  “Aku ini mbahmu to le. Mbah juga punya banyak cucu di desa ini. Mbah sudah kembali seperti sedia kala, tidak lagi akan marah-marah pada cucu-cucu mbah. Mbah kembali kepada sejatinya Kinasih, welas asih,” dia berhenti berbicara sebentar, “Kamu kenapa ke sini le? Tumben sekali? Biasanya kamu yang sok-sokan mau mengajari Mbah tentang kehidupan.” 

  “Aku semakin tidak kenal kehidupan Mbah. Bayangkan saja, aku sudah belajar selama tiga tahun, membaca, sama seperti Mbah membaca Kitab Suci. Aku sudah turun dari gunung di selatan dan hidup bersama penduduk di sana, aku juga sudah mencoba bekerja. Uang Mbah, uang yang terkumpul. 

   Satu yang belum aku lewati Mbah, aku harus mengulangi semua pembacaan atas pengetahuan selama tiga tahun. Personal, Mbah. Walaupun dari sekian banyaknya pengetahuan yang kudapat, aku boleh memilih beberapa di antaranya, tapi justru itu yang membuat aku bingung. Memilih dari sekian banyak yang diajarkan. Memilih pengetahuan pekerja yang bekerja demi keinginan orang lain, atau memilih pengetahuan yang sejatinya cermin atas diri sendiri. Aku memilih yang kedua, sayangnya cermin itu hilang, Mbah. Entah pecah, entah dicuri oleh siapa, tinggal bingkainya saja. Aku harus mencari kemana, Mbah? Tanpa cermin itu aku tidak bisa apa-apa kan?” 

   “Memang kau apakan cermin itu hingga hilang dari bingkainya? Pasti tak pernah kau ajak bicara cermin itu, kan? Jarang sekali kau ajak bercakap-cakap dengan abab? Dia menggigil kedinginan di tengah keras hatimu yang merasa penuh oleh pengetahuan, mungkin.” 

  “lalu, aku harus bagaimana, Mbah? Ibu dan mbakku sudah selalu bertanya kapan pembacaanku yang sudah hampir empat tahun ini akan berakhir.” 

  “Kau cari saja di tempat-tempat yang sunyi. Kau ajak lagi hatimu keluar dan bercakap-cakap. Mungkin kau sudah lupa caranya, tapi dengan memaksanya kau akan terbiasa. Toh, hatimu yang paling tahu kemana perginya cermin itu. Kalau kau saja tak pernah mengajaknya bercakap, jangan harap dia memercayaimu untuk sekedar memberikan petunjuk.” 

  “Mana itu tempat sunyi, Mbah?” 

  “Tempat pertama kali kamu merasakan kedamaian. Kamu yang bisa menentukan, aku tak akan pernah tahu karena tempat yang damai itu ada Sang Rasa, ketika Sang ada berada. Carilah dengan doa.” “Baik, Mbah.” 

  Aku terhuyung-huyung pamitan. Dalam hatiku aku memaki, percakapan macam apa barusan? Aku tidak juga mengerti. (bersambung)

Minggu, 05 Februari 2012

Langit

Langit Jingga tampak di barat atas, langit biru berhamburan dari Timur ditemani cahaya bulan yang mulai meninggi. Suasana sore ini seperti perang Mahabharata yang dimenangi oleh kubu Timur. Semburat jingga mulai berubah ungu. Merah dan kuning berpencar, merah direnggut biru menjadi kelam, kuning menghilang ditelan malam. Lampu-lampu dinyalakan diatas genting, menyoroti anak-anak manusia yang berjalan kaki mengindari kelam. Gelandangan membereskan plastik-plastik mereka, menyusun kardus dan mulai tergolak dalam sepi. Sunyi, hanya sesekali kilau lampu kendaraan menyilaukan mata.

Adzan Maghrib menggema di kelamnya mega. Menjadi syair wajib mengiringi suara-suara jangkrik yang lelah diam. Kunang-kunang mulai terbang, hinggap di antara dedaunan yang sudah enggap terlelap. Daun-daun itu berayun-ayun diiringi desir angin. Suara-suara bambu bergesekan membuat pilu menjadi syahdu.

Suasana yang begitu lengang ditemani remang rembulan. Ucapan doa mengalun syahdu setelah adzan selesai beradu. Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Tangan-tangan menurunkan gerak mereka dari atas dan menyamping melewati dada. Penuh keyakinan sang pemimpin menentang isak tangis. Sore ini, tak lagi sunyi. Remang rembulan menyergap hati setiap orang yang datang ke rumah. Samar-samar suara alam tergantikan gesekan ingus pada hidung, menimbulkan suara parau yang tidak ingin kudengar. Sendu.

Sore itu nenek telah berpulang, mencoba mencari kembali Tuhan yang selama ini dia idam-idamkan. Aku, masih tergolak di rumah, belum berani menyambangi jasad nenek. Belum juga tergerak untuk mengucap doa buat nenek. Semuanya masih terasa kaku, hati, bibir bahkan kantong dalam mata. Semuanya kaku, seola-olah tertunduk mendengar amarah seseorang. Semuanya kaku dan mulai kejang gemetaran. Tak ada yang tumpah, tak bisa merasakan apapun, semuanya terpaksa terjadi. Nenek pergi seolah hanya melampiaskan kebosanannya dalam hidup, tak pernah memikirkan rasa enggan berpisah dari aku, satu-satunya cucu.

Aku masih memegang syal baru nenek. Khas Sukawati, warnanya hijau. Belum sempat disentuhnya, bahkan belum ada baunya yang menempel. Warnanya hijau, kesukaan nenek. Bahkan dia pernah berandai-andai jika warna langit sehijau warna semua syalnya, pasti banyak mata yang tak pernah menangkap kelam. Tidak juga terlalu mencolok. Hijaunya, agak kebiruan, kuningnya berkurang. Perpaduan jingga tanpa merah di pergantian sore juga biru terang dari pagi menjelang matahari menyengat.

Nenek selalu bercerita tentang langit, hanya itu satu-satunya yang ingin kuingat. Langit yang hijau, langit yang tak pernah kelam. Tapi dia mungkin tidak sedang berpikir bahwa tiap-tiap orang punya langitnya masing-masing. Dan kini, langit dalam diriku warnanya hitam. Duka.

Masih belum bisa menangis, hanya sedikit terisak ketika orang-orang rumah mulai menerima komuni. Roti tanpa ragi, tidak berasa dan berwarna putih bundar dibagikan. Langit dalam diri mereka seolah memutih, memancarkan gerak kepasrahan. Hati mereka bergoyang, terobati oleh rasa hambar. Kepedihan pun seolah pudar, sebelum senyum terpendar.

Aku masih diam, tidak bergerak. Pemimpin doa yang memakai jubah putih berikat tali sintetis yang juga putih menghampiriku. Dia mengangkat roti bundar, aku menengadahkan tangan. Tangan kiri di atas, tangan kanan di bawah. Roti itu tergeletak, aku mengucapkan amin. Kupandangi roti itu sejenak, berharap dia tidak memudarkan langit suram dalam hatiku. Kuambil dengan tangan kanan yang tadi dibawah, mengangkatnya menjadi pemberi kesucian dan memasukkannya dalam lubang kenistaan. Tanpa mengunyah, dia telah lumer dalam cairan-cairan duniawi. Tertelan, habis dan aku beruntung tidak merasakan apa-apa. Saking merasa beruntungnya aku terharu, menitikkan air mata. Aku masih berduka, duka untuk kematian nenek.

Semuanya tidak lagi kaku, air dalam mataku pun menyerah ketika semua rasa kaku hilang oleh pengertian. Gemetarku hilang oleh nyanyian. Ndherek Dewi Maria, mengikuti Bunda Maria. Aku berdiri, menyalami satu per satu tamu. Langit mereka berbeda-beda, bahkan aku benci ada yang menyunggingkan senyum kemenangan.

Usai. Doa mereka telah usai. Kini aku menatap langit malam. Gagak-gagak masih muncul di atas pohon jengkol depan rumah. Warnanya hitam, tapi langit mereka begitu terang. Mereka senang bisa memanggil malaikat kematian menghampiri jiwa nenekku. Mernggutnya dari raga yang sering kuraba.

Langit saat itu mendung. Kata nenek itu hanya sebagai amarah akan ego manusia. Mungkin saja ego nenek yang tidak mau berpamitan padaku lebih dahulu. Tapi kini dia bukan lagi manusia, tak punya raga. Jiwanya melesat jauh ke angkasa. Mungkin nenek mengingatkanku, mengirim hujan itu aku aku masuk ke dalam rumah dan memaafkan raganya. Satu per satu air menyalahi ubun-ubunku, menyamarkan gerak air di wajahku. Dinginnya merembes ke dalam merah darah yang mewarnai otakku, membuat egoku tenang sejenak. Sejuk.

Nenek mungkin mengingatkanku, egoku yang sedang melesat jauh memperingatkan jiwa yang telah melayang. Mungkin salah alamat hingga menggesek langit dan membuatnya menangis. Atau mungkin saja nenekku sudah menerima egoku dan membuangnya ke bumi, menodai garis-garis langit dan lagi-lagi membuatnya menangis. Tapi langit itu adil, dia sama-sama kelam. Kadang aku bersyukur langit tidak sehijau yangdiinginkan nenek.

Aku memasuki rumahku, langit-langit rumahku terpendar cahaya terang. Kuning. Warna yang dibenci nenek ketika seharusnya bulan sudah bersinar dan membuang segala yang menyilaukan mata. Langitku pun ikut terpendar. Kau menatap wajah nenek, dari tangannya muncul langit hijau, dia mengembalikan egoku yang telah melesat jauh. Aku menangis, dalam tangisku aku tersenyum. Selamat jalan nenek.



Untuk Mbah Putriku tersayang, sudah lebih dari 100 hari. Mbah, mbah belum mengembalikan egoku. Kalau egoku kembali, semoga rindu tak pernah lagi berkunjung. Tapi biarkan egoku kau bawa mbah, sebagai persembahan untuk ketekunanmu di hadapan Tuhanmu. Sidhi sayang mbah Putri. Yogyakarta, 5 Februari 2012, 21:55.

Rabu, 01 Februari 2012

Kembar

“Ibu menyesal, ra isa nyembadani—tidak bisa menghidupi—anak-anakku,” mendengarnya saja sudah cukup meyakinkan hatiku, bahwa aku tidak pernah menyesal memiliki ibu seperti dia. Hanya saja penyesalan datang, ketika kalimat itulah yang terakhir diucapkan ibu dalam hidupnya. Kalimat itulah sepenggal kisah yang membuatku terluka, dan yang semakin membuat kakak kembarku terluka. Aku tahu, dia mulai lelah, dengan hidupnya. Lelah dengan semua rahasianya. Juga mulai terbebas dari beban, sebelas tahun atau mungkin lebih, dia memikulnya.

***

“Ron,” saudara kembarku memanggilku, hanya berbisik. Dia mendekatkan bibir mungilnya di kupingku, menyandarkan tubuhnya pada tangan kanannya yang menyangga tubuhnya sendiri, “Aku takut,” ujarnya lagi di luar ruangan itu. Badannya kurus, gertak giginya selalu terdengar tiap kali dia merasa gugup. Matanya muali berkaca-kaca, dia tidak pernah merasa tenang.

“Tenang Rob, ini hanya wawancara saja, mereka tidak akan menginterogasimu. Jangan pernah takut, Robi,” aku menenangkannya. Tangan kanannya berangsur melemas, tak lagi bergetar hebat seperti saat dia menyangga tubuh Roni. Dia kakakku, kakak kembar lebih tepatnya, tapi dia sekaligus adikku.

“Roni dan Robi,” senior kami memanggil. Robi menarik lengan kiriku, dia menunjukkan wajah enggan, air matanya seolah ingin keluar. Aku meletakkan telapak tangan kananku ke atas telapak tangan yang menarik lenganku itu. Aku menenangkannya, memberikannya isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.

“Kita gak boleh takut, kita berdua,” ucapku menenangkannya. Menatap matanya yang sayu dan basah. Matanya seolah kaca yang pecah oleh getaran hebat di jiwanya, “Aku selalu berjanji kan? Aku gak akan pergi jauh dari kamu!”

Dia hanya mengangguk, memberanikan diri untuk berdiri. Aku menariknya, membantunya, badannya masih kedinginan. Aku memahami ketakutannya. Aku memahami guncangan hebat dalam jiwanya, tapi aku tak pernah mau memahami ketidakmauannya. Dia selalu menguntitku, dan aku pun punya hak untuk mendorongnya maju, mandiri dan mulai berhadapan dengan semua orang. Halus, aku memperlakukannya dengan halus, dia rapuh. Aku memotivasinya, menuntunnya berjalan, menepuk bahunya dan memperlihatkan gigiku. Dia selalu tersenyum, dia sayang padaku, begitu pun aku.

Hari itu aku mengajarinya untuk mulai terbiasa dengan wawancara. 16 tahun sudah dia hidup, sebelas tahun dia selalu terkungkung oleh gertak jiwanya. Dia sudah dewasa, setidaknya umurnya mengharuskan hal itu, tapi langkahnya masih penuh ketakutan. Mata hitam kecoklatannya masih sama seperti cerita ibu tentang kami yang takut berjalan di usia hampir dua tahun. Bukan aku mau melepasnya mengarungi hidup, hanya saja aku tak tahu apakah aku akan bertahan di sampingnya, seumur hidupnya, setidaknya dia bukanlah istri atau suamiku, bukan pasanganku.

Aku sengaja menjelaskan pada seniorku, aku ingin Robi berlatih diwawancarai. Aku mengatakan pada mereka pada masa-masa awal memasuki tahun kedua kami di SMA, aku ingin dia mengikuti salah satu kegiatan ekstrakulikuler. Tapi, aku belum tega meninggalkannya di ruangan bersama beberapa orang, aku ingin mereka mengerti, Robi adalah saudara kembarku yang spesial.

Kami sudah di dalam. Aku sudah terbiasa, tapi lagi-lagi keringat dingin muncul dari wajah Robi. Mau tak mau tangannya pun ku genggam, kasian dia, tangannya seperti beruang kutub kehilangan rambut putih. Gertak giginya sangat terdengar di telingaku, entah di telinga empat orang di hadapan kami. Jarak mereka 6 meter. Mereka duduk di kursi bawah, kami ada di kursi yang diletakkan di atas tangga, belakang kami adalah Salib besar. Ya, sekolah kami tak punya cukup ruangan untuk melakukan aktivitas, wawancara untuk pers sekolah saat itu diadakan di kapel yang bisa direkayasa tatanan kursinya, orang yang belum terbiasa pasti akan takut menghadapinya.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul, Robi menjawabnya, tapi mereka tidak pernah bisa mendengarnya. Aku sudah jelaskan pada mereka jangan membentak, dan mereka pun melakukannnya, mereka tidak pernah membentak Robi sedikit pun. Aku mencoba memotivasi Robi, mengucapkan jawaban di pikirannya dengan lebih lantang, selalu gagal. Ini kali pertama, aku tak berharap dia di terima, lain kali masih bisa mencoba lagi.

Wajahnya membiru, bibirnya menegang, dia berdiri. Duduk lagi, gemetaran. Mata hitam kecoklatannya tidak lagi menunjukkan rasa takut, matanya kosong seolah menatap sesuatu yang jauh di lubuk hatinya. Tangannya menggenggam tanganku erat. Dia telah usai berlatih wawancara, usai. Tapi gertaknya pun tak pernah bisa dilatih, keraguan, bukan, tapi sinar ketakutan bahkan semakin menjadi-jadi.

Aku membantunya berdiri, “Tenang Robi, semua sudah selesai. Kita keluar ya,” saya ucapkan rasa terimakasih pada senior-senior yang mewawancarai kami sambil memapah Robi keluar. Tak sampai depan pintu, Teriakannya meledak dan dia mulai lunglai, aku kesal. Aku lelah menghadapinya, tapi dia lunglai, tak mungkin aku meninggalkannya sendiri.

Kugendong dia menuju UKS, kubaringkan tubuhnya. Wajahnya hampir seputih sprei di ruangan itu. Rambutnya yang sedikit ikal basah oleh keringat. Aku tak pernah bisa menggenggam erat telapak tangannya, selalu licin oleh rasa gugupnya. Kupingnya yang kecil, menggantung pucat. Hanya bibirnya yang menegang, mengucapkan doa-doa yang sama sekali tidak terdengar. Matanya pun sayu, menitikkan air, diiringi isakan dari hidungnya.

***

Roni, dia kembaranku. Adik kembarku lebih tepatnya. Kata ayah dia lahir hampir 30 menit setelah aku, kakinya keluar duluan. Dia hampir tidak tertolong, menyakiti ibuku dengan hebatnya. Alat kedokteran yang seperti sumpit dimasukkan ke rahim ibu agar dia selamat. Aku membayangkan betapa ibuku akan menjerit kesakitan. Walaupun begitu, dia menyayangiku, aku tak tahu mengapa dia berlebih-lebihan dalam menyayangiku. Aku tidak tahu dosa apa yang dia coba tebus kepadaku. Mungkin dosa, dosa saat dia tidak melihat kejadian itu, sebelas tahun yang lalu.

Roni, hari ini dia mengajariku caranya wawancara. Dia tidak pernah tahu perasaanku. Mereka yang di depanku, di hadapanku serasa pria-pria berseragam, mereka yang menuntutku mengatakan sesuatu sebelas tahun lalu. Ini sebuah luka, dia mengajariku untuk membuka luka itu. Dia menggoreskan luka itu lagi. Aku tak tahu, katanya dia menyayangiku, mungkin dia hanya bosan menemaniku. Mungkin dia sudah muak denganku, akhirnya dia menjerumuskanku.

“Hai Rob, mau ikut main?” dia menghampiriku, kami selalu melakukan tos. Kepalan, salam, dan jempol disatukan. Dia selalu mengajakku berman futsal, berbasa-basi, suatu saat aku mau menerima ajakannya, “Ayolah, sekali saja,” aku selalu menggelengkan kepala dan mulai beranjak dari dudukku. Sekali lagi, dia tidak pernah mengerti.

Bermain futsal, mereka seolah terbebas dari aturan-aturan lapangan besar, walaupun tetap ada aturan. Kadang-kadang mereka juga bermain tanpa aturan, walaupun selama ini belum pernah terjadi tawuran. Kalau Roni yang bermain, aturannya hanya satu, jangan pernah menggangguku, Robi, kakak sepupunya. Ah, aku seperti anak kecil saja, tapi memang kenyataanya aku terlalu lemah, bayi pun tidak selemah aku.

“Yuk pulang, Rob,” ucapnya setelah menyelesaikan sepiring nasi goreng. What? Pulang pun harus dia yang menuntunku? Menurutku itulah dosanya, tidak mebiarkanku sendiri. Tapi aku bisa apa? Aku hanya orang yang penuh ketakutan, aku telah banyak menyusahkannya, ini saatnya aku balas budi. Mengikuti semua kemauannya.

Dia memboncengku di motor merahnya, aku pernah diajari untuk naik motor sendiri, tapi begitu melihat ada motor lain di depanku lajuku mulai goyah dan kakiku jadi korbannya. “Kenyang, Rob?” tanyanya. Ah, bukan urusanmu, aku bahkan tidak pernah suka makan nasi goreng, kamu tahu itu sejak kecil!, ujarku dalam hati, “Lumayan,” aku tak tahu apa dia mendengarnya.

Kami memasuki rumah nenek, sejak ayah meninggal dan ibu dibui, kami tinggal di rumah ini. Rumah nenek, yang sudah meninggal lima tahun lalu, tapi suaranya selalu menggema di hatiku. Kami hidup sehari-hari dari pemberian kakak yang sudah bekerja dan sukses di Amerika. Dia sering mengirimiku buku-buku.

Aku berharap Roni suka membaca, jadi pembicaraan di rumah ini tidak hanya sekedar tentang bola, tentang motor, tentang kegiatan kampusnya, tapi juga soal Afghanistan, tentang Down Syndrom, tentang Kepercayaan Diri. Pembicaraan selalu didominasi olehnya, oleh bibirnya yang sedikit lebih tebal dari bibirku. Dia mengharapkan banyak dariku, menuntut lebih tepatnya, untuk jadi seorang laki-laki sejati menurut dia. Dia merasa dia lah kakakku, bukn, dia merasa dialah ayahku sekarang.

***

“Rob, aku tidur dulu ya!” pamitku padanya yang sedang menonton televisi, wajahnya belum cukup lelah, hanya sayu seperti biasa, “Jangan tidur malam-malam, ingat besok pagi kita ada Try Out ujian akhir.” Aku mulai memasuki kamarku di dekat ruang televisi itu.

“Iya, Ron. Tenang aja,” sahutnya, aku hampir tidak mendengarnya. Kami tidak pernah bermain di lingkungan rumah. Nenek menghalangi kami untuk bermain dengan mereka, katanya mereka brutal. Tiap malam, kami hanya akan melihat lingkungan sekitar di balik jendela ketika hujan, tidur atau sekedar menonton TV untuk menghilangkan kebosanan.

Aku memasukki kamarku, mengambil foto kami. Aku, Robi, ayah dan ibu, kakakku sudah pergi ke Amerika saat itu.Robi dan aku punya wajah yang hampir sama, dahulu kami hampir tidak bisa dibedakan. Sejak sebelas tahun lalu, berat badannya tak pernah ideal. Dia selalu memikirkannya, itulah mengapa dia selalu kurus, mungkin.

Hidung kami sama, tidak sebesar hidung bekantan, tapi cukup mancung untuk meletakkan kaca mata hitam saat kami berkunjung ke pantai Sanur. Rambut kami ikal, kuping kecil menggelantung. Bibirku agak sedikit lebih tebal dari bibirnya. Yang paling indah adalah mata kami, hitam kecoklatan dengan bulu melengkung. Kini yang memebadakan kami cukup banyak, wajahnya yang tirus juga ketakutan yang selalu dibawanya. Ketakutan itu selalu tampak, bahkan ketika aku hanya melihat bayangannya saja.

Sebelas tahun yang lalu, itu juga yang membedakan kami. Aku tidur nyenyak di kamar dan terbangun ketika para polisi menyeruak masuk dan Robi mulai menjerit. Aku hanya bisa melihat bayangan samar saat ibu di seret polisi, dan ayah menggelepar mati. Aku melihat dia, Robi, kakak kembarku terduduk di lantai sebelum akhirnya di gendong polisi. Aku hanya sendiri, bersama nenek saat semua kejadian itu selesai. Berbeda dengan Robi, dia mengetahui segalanya, tapi dia bungkam Aku yakin, dia menceritakan semuanya pada polisi, membuat ibu dipenjara. Aku yakin Robi mulai membenci Ibu, dia yang sering diceritakan dongeng oleh ayah, dan aku sama sekali tidak bisa membenci siapa-siapa. Aku pernah menyebabkan ibu hampir mati, begitu teriak ayah saat memarahiku, itu sebabnya aku tak akan pernah membenci ibuku.

Robi tak pernah jujur, nenek tak pernah tahu, ibu tak pernah berhenti menangis saat aku dan nenek, tanpa Robi, menemuinya di sel. Polisi pun selalu berbelit-belit menceritakan kejadian malam itu, hanya ibu yang menembak ayah dengan pistol, selesai. Tanpa embel-embel. Robi menurunkan volumenya sejak saat itu.

Ah, lelah aku memikirkan semua itu. Sekali lagi aku juga lelah menjadi ayah bagi Robi. Aku tak mungkin menggantikan ayah yang dikaguminya. Tidak sekali pun. Kumatikan lampu kamarku, mencoba tidur. Semuanya masih terbayang, aku mereka-reka dan akan semkain buruk ketika semuanya muncul dalam mimpi.

***

Aku tidak tahu mau nonton apa. Aku hanya tidak ingin tidur. Aku bosan dengan sikap kebapakkan Roni. Dia terlalu menjagaku, aku bahkan seperti hewan peliharaannya. Disayang, diberi makan, diingatkan jam istirahat. Yah, ayah. Aku rindu ayah.

Robi mungkin menyimpan banyak pertanyaan, sebelas tahun lalu. Saat dia tertidur lelap, dan hanya bunyi sirene polisi yang membangunkannya. Aku menyimpannya sendiri, semua orang memaksaku bercerita, seolah aku yang salah. Salah karena menjadi saksi kejadian itu.

Malam itu, saat Roni masih tertidur. Malam itu ulang tahun ayah. Sejak siang ayah sudah pergi, aku ingin memberinya kejutan yang Roni tak pernah pedulikan. Ibu sudah biasa pergi siang pulang pagi. Ayah biasanya pulang lebih awal, tapi hari itu tidak. Mungkin dia sedang merayakan hari jadinya itu bersama teman-temannya.

Aku tidak bisa tidur, ingin memberikan hadiah yang kubuat untuk ayah, sebuah lukisan selamat ulang tahun. Aku menunggunya, hingga jam 12 malam, tengah hari suara mobil ayah trdengar di depan rumahku. Aku menunggunya dari balik tembok, aku mendengar ada suara perempuan. Ibu? Tidak biasanya ibu pulang tengah hari seperti ini, mungkin dia ingin merayakan ulang tahun ayah.

“Tapi dhuitmu dari siapa?” ibu kelihatannya sedang marah. Dia membentak ayah saat membuka pintu rumah.

“Sssst, gak enak kalau didengar anak-anak,” ayah memang selalu membela anak-anaknya, dia takut pertengkaran itu kami dengar.

“Mas, aku pengin mereka tahu, aku ingin jujur sama mereka, “ Ibu mulai menangis, tapi tetap menggertak ayah.

“Sssstt..tidak usah macam-macam, aku bapak mereka,” ujar ayah, dia terdengar sedang lemas. Bicaranya tidak jelas. Mungkn karena takut dengan suara ibu.

“Mas!” ibu berteriak, seketika itu juga ada suara tamparan. Aku melihat dari balik tembok, ibu mengambil pistol yang selalu dibawa ayah di kakinya untuk berjaga-jaga—dia pernah bercerita kalau pistol itu harus dibawa, polisi juga sudah mulai jahat, dunia tidak aman, katanya—mengarahkannya ke dada kiri ayah. Suara pistol menyeruak di seluruh ruangan. Aku menutup telinga, hanya berteriak. Banyak tetangga kemudian masuk, nenek menelepon seseorag setelah menyadari yang terjadi di ruang tamu. Aku melihat dari balik tembok, Ibu melihatku, dia menangis. Aku memalingkan muka, menjerit melihat ayah berlumuran darah.

Polisi masuk ke dalam rumah, ya aku salah. Aku salah telah melihat semua kejadian itu. Aku ditanyai oleh mereka, bertubi-tubiu, aku bosan, kadang aku dibentak dan nenek kemudian menenangkan mereka. Aku hanya bisa menangis, dan aku terdiam, tunduk, aku benci ibuku. Benci. Benci! Dia telah merenggut nyawa orang yang selalu membacakan cerita untukku, bahkan ibu sendiri tidak pernah melakukannya. Dia hanya tertarik dengan Roni, dia yang membantu ibu memasak setiap harinya. Kami belum sekolah saat itu, dan aku enggan untuk mengingatnya lagi.

14 Februari, ayahku berulangtahun. Aku rindu. Roni tak pernah ingat ulang tahun ayah. Aku benci dia bersikap seperti ingin menggantikan ayah. Aku mengingat kejadian itu setiap bosan melandaku, aku tak pernah lagi menjerit, semua itu hanya akan membuat keadaan semakin kacau.

Aku mengingat kembali kejadian itu, aku mulai menangis.
“Mas, aku pengin mereka tahu, aku ingin jujur sama mereka, “ Ibu mulai menangis, tapi tetap menggertak ayah.

Bayanganku kembali ke sebelas tahun silam, mengingat kata-kata ibu. Bodoh, ibu ingin menceritakan rahasianya? Apa? Dia benci ayah? Dia ingin membunuh ayah kemudian kedua anak kembarnya? Tidak, Roni tidak mungkin ditembaknya, mungkin hanya aku yang akan dibunuhnya.

Roni, semua hanya tentang Roni. Ibu pasti tidak mau menemuiku lagi. Aku sedih, tapi sekaligus berterimakasih. Roni sudah menjagaku selama sebelas tahun. sebelas tahun yang penuh dengan ketakutan, kegentaran, gemertak gigi, wajah pucat pasi.
14 Februari, selamat ulang tahun ayah. Aku yakin kau bahagia disana, setidaknya karena pernah menjadi orang terbaik dalam hidupku. Aku mohon Tuhan, aku tak tahu apa dosanya, tapi demi orang selemah aku, beri dia tempat terbaik. Tempat terbaik yang akan kutemui di sana.

***

Pagi itu tidak seperti biasanya, Robi mengajakku membolos. Dia kulihat masih ertidur di depan televisi yang masih menyala. Pulas, tapi tampak beas air turun dari matanya. Sungai yang meninggalkan jejak. Robi seakan enggan untuk masuk sekolah, aku tak tahu mengapa. Saat kubangunkan dia, dia langsung berkata, “Bolos dulu ya, Ron.”

“Kenapa?”

“Aku pengin jenguk Ibu,” baru pertama kalinya dia punya keinginan seperti ini. Dulu waktu nenek masih hidup pun, dia selalu enggan ikut menjenguk ibu.

“Kenapa?” aku heran, sekali lagi heran. Apakah dia mau menceritakan sesuatu padaku? Ya, dia menceritakan sesuatu padaku.

Dia akhirnya menceritakan semua kejadian malam itu. Ayah yang tak kunjung pulang, aku yang tertidur lelap, juga ibu yang mengambil pistolnya. Semua kekakacauan dalam benaknya, semua ketakutan yang ada di pikirannya. Dia menangis, aku memeluknya, sudah terbiasa.

“Ibu pasti benci aku, Ron” katanya terisak. Aku tak pernah menjawabnya, takut dia berubah pikiran. Aku mengelus punggungnya.

Kami berangkat pukul 9 pagi, kami benar-benar membolos. Aku ingin melihat Robi menyapa ibu. Aku sudah lama juga tak menjenguknya, takut meninggalkan Robi. Jarak rumah nenek dengan penjara ibu tidak jauh, sekitar 30 menit lamanya.

Sipir di penjara itu masih belum ganti, “Ini kembarannya, mas? Lama tidak kesini ya mas Roni,” ujarnya kepadaku. Dia mengenalku, tidak saudaraku. Dahulu seringkali nenekku membawakannya makanan, pelicin untuk bertemu ibuku.

“Iya, mas. Sibuk sekolah. Boleh bertemu ibu?” dia ternyata tetap licin, tanpa masakan nenek. Dia mempersilahkan aku masuk. Robi muram, aku tahu dia takut dengan seragam-seragam yang mereka gunakan.

***

Roni akhirnya benar-benar membuatku bertemu ibu. Dia memeluk ibu saat ibu keluar dari pagar kayu. Sel penjara tidak seseram yang kubayangkan. Sipir-sipir perempuan memberikan 30 menit untuk kami. Aku hanya tersenyum, bingung mau mengatakan apa untuk menyapa ibu.

“Robi, kamu masih marah sama Ibu?” ucapnya kemudian. Aku baru berani menatap wajahnya. Suaranya getir, ibu tak seseram yang kubayangkan. Sebelas tahun lalu bibirnya memakai lipstik, sekarang yang ada hanyalah kering. Hidungnya tak lagi bersih, penuh dengan noda hitam. Kantong matanya membesar, dan ada sedikit keriput hingga atas hidung. Aku yakin, dia memikirkan maafku.

Aku hanya diam, memandangi setiap lekuk wajah iu. Aku rindu ibu, walaupun aku sering menghujatnya. Aku menangis. Ibu juga begitu, menangis, tapi dia tegar, mengusap telapak tangannya di bawah mataku, menghapus getir yang kurasakan, “Robi jangan menangis. Ibu rindu sama Robi,” terdengar isakan, “Ibu senang Robi menjenguk Ibu.”

Roni mengusap punggungku. Dia seakan batu, terlalu kokoh untuk membuatnya menangis. “kalau aku dan nenek kemari, Ibu selalu menangis menanyakanmu, kami jadi mengurungkan niat untuk bertanya tentang kejadian itu,” Roni menambahkan. Sial! Ibu menungguku setiap saat.

“Bu,” aku bersuara, getir. Sakit. Sesak, “Ibu menyimpan rahasia apa?” tanyaku sambil sesekali terisak.

Wajah ibu terlihat bingung, wajah Roni pun terlihat bingung. Aku menghentikan tangisku sejenak, menghirup udara dalam-dalam dan tetap menangis setelahnya. Hening, semua hening aku sadar harus akulah yang memulai. Kamu jangan jadi cengeng, nak. Apalagi di depan ibumu. Ayahku pernah berkata seperti itu.

“Ibu, malam itu ingin mengatakan sesuatu,” aku memegang erat tangan Roni. Dia kesakitan, aku tahu itu, tapi dia membiarkaku, menungguku hingga aku selesai berbicara, “Sebelum ibu menembak ayah, dan mungkin akan menambakku.”

Ibu tersentak. Wajahnya menyiratkan sesuatu, amarah karena aku memberikan kemungkinan yang mungkin tak akan dilakukannya. Tapi wajah tegangnya mengendur dengan cepat, dia kembali menangis. Mencoba mengonfirmasi pertanyaanku, dia bertanya, “Rahasia yang kuributkan dengan ayahmu? Kamu mendengar aku berjanji mengatakannya?”

“Ya,” aku mengiyakan, sebelum membuka semua yang kuketahui di malam itu.

***

Robi menceritakan semuanya, di depan ibuku. Bagian-bagian yang tidak diceritakannya padaku, dibukanya di depan ibuku. Dia membuka lukanya, aku tahu dia pasti kesakitan. Miris. Aku mendengarnya. Tapi aku yakin, ketika luka itu dibuka, maka akan semakin mudah untuk menyembuhkannya daripada ketika disimpan.

Robi, dia tidak pernah jujur padaku, orang yang selalu di dekatnya. Aku mengerti, kejujuran itu egois, kadang hanya milik orang tertentu saja, tapi kenyataannya menjadi seseorang yang jujur itu menyakitkan. Jujur di saat yang tidak tepat, Robi mencoba menghindarinya. Sekarang, sebelas tahun kemudian, aku yakin inilah saat yang tepat.

“Ibu,” suara Robi tertahan, “Ibu jahat! Tapi apa ibu mau jujur, apa yang ibu rahasiakan dari kami?” suaranya bergetar, bergetar tapi lantang. Robi didorong oleh kemauannya. Kemauan memperbaiki jiwanya, meredam getar hatinya, membuka rahasia masa lalu kami.

“Ayahmu, bukan. Dia bukan ayah kalian,” ibu setengah berteriak, aku menghampirinya, memeluknya. Aku merasakan luka itu dalam. Sangat dalam. Kepalanya disandarkan dibahuku, tangannya memeluk tanganku, Robi hanya diam. Dia masih terguncang, lukanya belum selesai, “Dia bukan ayah kalian,” aku mencoba mencerna kata-katanya, hanya mencerna kemudian menitikkan air mata.

Dalam pelukanku, dalam ancaman mata Robi yang mulai menajam dan penuh tanya, ibu menceritakan semuanya. Semua. Ayahku, bukan ayahku. Ibu tidak tahu siapa ayahku. Ayahku penadah, ibuku yang ditodong. Ayah yang membesarkanku adalah germo, ibuku yang menerima lendir dari berbagai pria. Mereka menikah, untuk menutupi rasa malu keluarga saat kelahiran kakakku. Dia, dia dibawa ke Amerika oleh ayahnya. Sedangkan kami? Kami tidak pernah dicari oleh ayah kami, ayah yang membuahi rahim ibu kami. Ayah yang selama ini kami kenal hanyalah numpang lewat, numpang membesarkan kami.

Luka itu dalam, dan bertubi-tubi. Ayah yang kami kenal menginginkan kami, istri pertamanya meninggal dan tak pernah punya anak. Sekalipun wanitanya banyak, tapi mereka tak pernah mau dengannya, tak bisa memberi kepuasan. Kasar, walupun tidak begitu saat berhadapan dengan Robi. Dia sangat menginginkan Robi, seolah Robi adalah anak dari darahnya. Sedangkan aku? Aku hampir membunuh ibuku, artinya aku hampir membunuh rejekinya. Aku dibencinya, dan aku membencinya. Mata Robi seolah tak percaya, tapi dia menyesal.

Malam itu, setelah sekian lama perundingan untuk membangun rumah di tempat yang jauh, ayah yang membesarkan kami tak juga memberikan uang untuk ibu. Ibu sudah muak dibicarakan tetangga, ibu malu pada nenek. Malu. Ibu ingin pindah, tapi kenyataannya tak pernah pindah. Satu lagi rahasia terungkap, nenek tidak pernah mengijinkan kami bermain dengan anak-anak di lingkungan rumah karena takut akan membuka luka baru bagi Robi. Robi, dan Robi, semuanya tentang Robi!

Malam itu, ibuku sudah tidak tahan lagi. Ayah mabuk, dia menampar ibuku. Ibuku selalu tahu dimana ayah yang membesarkan kami menyimpan pistol ilegalnya, menariknya dan menekan pelatuknya. Matilah ayah di malam itu, membawa misteri dan teka-teki yang lama, sebelas tahun, baru terungkap.

Ibu menunggu saat ini, saat Robi hadir di depannya. Ibu tidak ingin mereka mendengar dari nenek yang terlalu sensitif membicarakan hal-hal seperti ini. Ibu menunggu kami berdua bersama, menjelaskan dengan detail setiap kejadian seperti saat dia menjelaskannya pada kakak kami, pada umur yang masih sangat belia.

Kami menghapus tangis yang mengalir, memeluk satu sama lain. “Aku sayang ibu, maafkan Robi, Bu” Robi menitikkan air mata, matanya tak lagi sendu. Wajahnya penuh kebahagiaan. Dia tersenyum, hal paling langka yang kudapatkan. Dia egois memang, mebagi senyum itu pada ibu. Aku berharap dia tidak lagi egois padaku, soal rahasia, soal senyum. Aku menyayanginya. Robi, kakak kembarku.

Aku berharap aku tidak lagi punya banyak dosa yang menyebabkan ibu hampir mati juga dosa tidak melindungi kakakku saat hatinya rapuh melihat kejadian malam itu. Aku sudah bosan, aku sudah lelah. Robi, semoga kau mengerti, aku tak mau berpura-pura jadi ayahmu lagi.

***

Aku baru yakin, ketika bosan itu sudah melanda, maka luka akan terbuka. Mau tidak mau aku harus membuka semua luka, dengan begitu orang-orang di sekitarku akan tahu cara yang tepat untuk menyembuhkannya. Aku salah sebelas tahun ini, aku tak pernah berpikir apakah ini saat yang tepat, tapi aku hanya ingin meminta penjelasan pada ibuku.

Roni, adikku. Aku tak lagi akan pelit memberinya senyum. Dia bukan adik yang ingin membunuh ibuku, bukan seperti kata ayahku. Dia adik yang menyayangiku. Semuanya sudah terbuka dua bulan lalu. Saat ini, saat ini aku di pemakaman ibuku. Dia menyesal tidak bisa menghidupi kami, tapi aku tidak pernah menyesal punya ibu sepertinya. Aku sadar, aku tidak boleh menyesal mempunyai ibu sepertinya.

Rahasia-rahasia itu terungkap seperti energi terakhir untuk ibu. Ibu menderita sakit jantung, mungkin selama ini ditahannya. Aku yakin dia pasti kuat, tapi ternyata sudah terlambat. Kini dia disemayamkan.

“Rob, ada surat ini dari Ibu,” Roni menyapaku, aku sambut dengan senyum. Ketakutanku masih tersisa, banyak. Tapi keceriaanku mulai muncul, masih sedikit. Aku baru bisa tersenyum, belum berbicara lantang. Tidak seperti saat aku emosional meminta penjelasan kepada ibu.


Untuk Robi dan Roni, kembarku tercinta
Maaf, Ibu menyembunyikan kenyataan dari kalian,
Membuat kalian, lebih-lebih Robi, membenciku
Kenyataan tidak harus diungkap dalam segala suasana,
Aku butuh keberanian, juga keberanian Robi, untuk mengungkapkannya
Aku tahu ini terlambat, Tapi aku yakin kalian menyayangiku, lebih dari yang kutahu.

Sebelas tahun dalam penjara memendam rasa sayangku untuk kalian. Aku tersiksa tidak bisa menyayangi kalian, batinku tercabik setiap mengingat kalian. Kalian yang aku cintai.
Sebelas tahun, rasanya seperti tiga puluh tahun setelah Robi datang dengan keberanian.
Roni, aku berterimaksih padamu telah menjaga kakakmu.
Semuanya hanya soal waktu, ya hanya waktu sampai kenyataan terungkap. Menyakitkan.
Lebih sakit lagi, ketika kita menyembunyikannya.

Kalian, jangan lupa memberitahu semua ini ke kakakmu di Amerika, Lina. Sampaikan salamku, aku menyayangnya juga.
Ibu sudah tidak suci, demi sesuap nasi untuk nenek kalian. 
Semuanya terungkap, luka, cinta, dan kini yang tersisa adalah bahagia.
Jangan lupakan ibu ya, nak. Robi, Roni.


Cinta itu penuh kebohongan, tapi kenyataan yang akan menjawabnya. Cinta itu tergesa-gesa, hingga ibu pun tergesa-gesa meninggalkan kami saat cinta kami mulai tumbuh. Kami berjanji akan membingkai surat ibu ini. Kami berjanji akan membingkainya dalam hidup kami. Ibu yang kami cintai.

***

Senang rasanya melihat Robi mulai banyak tersenyum, dia tidak lagi egois. Robi, aku tahu dia akan menjadi tegar setelah banyak terluka, aku tahu dia akan berubah setelah mengobati luka itu.

Kami kembar, walaupun berbeda tapi kami punya hati yang sama-sama unggul. Aku berani berbicara, Robi berani mengungkapkan perasaannya. Aku kadang terlihat terlalu angkuh, Robi mulai dikenal sebagai orang yang ceria. Dia masih tetap spesial seperti dulu, mampu memberi kebahagiaan. Robi, aku Roni, adik kembarmu. Aku menyayangimu.