Rabu, 31 Juli 2013

Mencari Cermin 1: Percakapan dengan Wujil Kinasih

   Wujil Kinasih, hamba Majapahit yang sedang sowan pada Panembahan Wahdat, menantang halus gurunya itu. Dia sudah melakukan pembacaan terhadap karya-karya Kitab suci yang hendak diajarkan gurunya, dia sudah melakukan semua yang ada di Kitab Suci. Makin dia membaca, makin dia tak mengerti. Makin dia membaca, makin dia merasa seperti boneka, digerakkan oleh pikiran-pikirannya sendiri: harus begini lah, harus begitulah. Hidupnya tak lagi luwes. Dengan halus dia meminta gurunya itu menjelaskan mengapa dia mulai terbebani. 

   “Kamu membaca tanpa memahami,” kata Panembahan Wahdat, “ Kamu dalami dulu siapa dirimu. Tanpa membaca, dengan mengenal siapa dirimu kamu akan menjadi lebih agung dari pada pembaca-pembaca Kitab Suci yang sekedar mencari tutorial kehidupan.” Wahdat meneruskan lagi bahwa siapa yang mematikan jiwa dalam dirinya, tindakannya akan terus mengekang. Siapa yang mulai mengekang tubuhnya, tak henti-henti memaki kekurangan, terjebak dan patuh pada sabda tanpa menghadirkan kembali Sang Ada. 

   Mendengar itulah Sang Wujil Kinasih akhirnya menyadari betapa buruk pembacaan sabdanya. Bahwa sabda bukanlah tutorial belaka. Sabda adalah memahami dengan sungguh-sungguh dalam pengalaman yang hening. Dia teringat kta Wahdat di awal dia berguru, “Kalau perlu, kau harus membaca Kitab Suci di tempat yang sunyi.” Sayang, dia terlalu riuh membaca Kitab Suci bersama para koloni. Tak hening, sehingga Sang Rasa pun mati dalam kata-kata yang jarang berhenti. 

 *** 

  Aku menemui Sang Wujil Kinasih karena aku tahu dia sudah tersenyum bahagia. Tubuhnya tidak lagi bergerak seperti robot, pun pikirannya sudah bebas. 

  “Mbah, Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanyaku heran. Sebelumnya dia selalu murung. 

  “Aku ini mbahmu to le. Mbah juga punya banyak cucu di desa ini. Mbah sudah kembali seperti sedia kala, tidak lagi akan marah-marah pada cucu-cucu mbah. Mbah kembali kepada sejatinya Kinasih, welas asih,” dia berhenti berbicara sebentar, “Kamu kenapa ke sini le? Tumben sekali? Biasanya kamu yang sok-sokan mau mengajari Mbah tentang kehidupan.” 

  “Aku semakin tidak kenal kehidupan Mbah. Bayangkan saja, aku sudah belajar selama tiga tahun, membaca, sama seperti Mbah membaca Kitab Suci. Aku sudah turun dari gunung di selatan dan hidup bersama penduduk di sana, aku juga sudah mencoba bekerja. Uang Mbah, uang yang terkumpul. 

   Satu yang belum aku lewati Mbah, aku harus mengulangi semua pembacaan atas pengetahuan selama tiga tahun. Personal, Mbah. Walaupun dari sekian banyaknya pengetahuan yang kudapat, aku boleh memilih beberapa di antaranya, tapi justru itu yang membuat aku bingung. Memilih dari sekian banyak yang diajarkan. Memilih pengetahuan pekerja yang bekerja demi keinginan orang lain, atau memilih pengetahuan yang sejatinya cermin atas diri sendiri. Aku memilih yang kedua, sayangnya cermin itu hilang, Mbah. Entah pecah, entah dicuri oleh siapa, tinggal bingkainya saja. Aku harus mencari kemana, Mbah? Tanpa cermin itu aku tidak bisa apa-apa kan?” 

   “Memang kau apakan cermin itu hingga hilang dari bingkainya? Pasti tak pernah kau ajak bicara cermin itu, kan? Jarang sekali kau ajak bercakap-cakap dengan abab? Dia menggigil kedinginan di tengah keras hatimu yang merasa penuh oleh pengetahuan, mungkin.” 

  “lalu, aku harus bagaimana, Mbah? Ibu dan mbakku sudah selalu bertanya kapan pembacaanku yang sudah hampir empat tahun ini akan berakhir.” 

  “Kau cari saja di tempat-tempat yang sunyi. Kau ajak lagi hatimu keluar dan bercakap-cakap. Mungkin kau sudah lupa caranya, tapi dengan memaksanya kau akan terbiasa. Toh, hatimu yang paling tahu kemana perginya cermin itu. Kalau kau saja tak pernah mengajaknya bercakap, jangan harap dia memercayaimu untuk sekedar memberikan petunjuk.” 

  “Mana itu tempat sunyi, Mbah?” 

  “Tempat pertama kali kamu merasakan kedamaian. Kamu yang bisa menentukan, aku tak akan pernah tahu karena tempat yang damai itu ada Sang Rasa, ketika Sang ada berada. Carilah dengan doa.” “Baik, Mbah.” 

  Aku terhuyung-huyung pamitan. Dalam hatiku aku memaki, percakapan macam apa barusan? Aku tidak juga mengerti. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar