Langit Jingga tampak di barat atas, langit biru berhamburan dari Timur ditemani cahaya bulan yang mulai meninggi. Suasana sore ini seperti perang Mahabharata yang dimenangi oleh kubu Timur. Semburat jingga mulai berubah ungu. Merah dan kuning berpencar, merah direnggut biru menjadi kelam, kuning menghilang ditelan malam. Lampu-lampu dinyalakan diatas genting, menyoroti anak-anak manusia yang berjalan kaki mengindari kelam. Gelandangan membereskan plastik-plastik mereka, menyusun kardus dan mulai tergolak dalam sepi. Sunyi, hanya sesekali kilau lampu kendaraan menyilaukan mata.
Adzan Maghrib menggema di kelamnya mega. Menjadi syair wajib mengiringi suara-suara jangkrik yang lelah diam. Kunang-kunang mulai terbang, hinggap di antara dedaunan yang sudah enggap terlelap. Daun-daun itu berayun-ayun diiringi desir angin. Suara-suara bambu bergesekan membuat pilu menjadi syahdu.
Suasana yang begitu lengang ditemani remang rembulan. Ucapan doa mengalun syahdu setelah adzan selesai beradu. Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Tangan-tangan menurunkan gerak mereka dari atas dan menyamping melewati dada. Penuh keyakinan sang pemimpin menentang isak tangis. Sore ini, tak lagi sunyi. Remang rembulan menyergap hati setiap orang yang datang ke rumah. Samar-samar suara alam tergantikan gesekan ingus pada hidung, menimbulkan suara parau yang tidak ingin kudengar. Sendu.
Sore itu nenek telah berpulang, mencoba mencari kembali Tuhan yang selama ini dia idam-idamkan. Aku, masih tergolak di rumah, belum berani menyambangi jasad nenek. Belum juga tergerak untuk mengucap doa buat nenek. Semuanya masih terasa kaku, hati, bibir bahkan kantong dalam mata. Semuanya kaku, seola-olah tertunduk mendengar amarah seseorang. Semuanya kaku dan mulai kejang gemetaran. Tak ada yang tumpah, tak bisa merasakan apapun, semuanya terpaksa terjadi. Nenek pergi seolah hanya melampiaskan kebosanannya dalam hidup, tak pernah memikirkan rasa enggan berpisah dari aku, satu-satunya cucu.
Aku masih memegang syal baru nenek. Khas Sukawati, warnanya hijau. Belum sempat disentuhnya, bahkan belum ada baunya yang menempel. Warnanya hijau, kesukaan nenek. Bahkan dia pernah berandai-andai jika warna langit sehijau warna semua syalnya, pasti banyak mata yang tak pernah menangkap kelam. Tidak juga terlalu mencolok. Hijaunya, agak kebiruan, kuningnya berkurang. Perpaduan jingga tanpa merah di pergantian sore juga biru terang dari pagi menjelang matahari menyengat.
Nenek selalu bercerita tentang langit, hanya itu satu-satunya yang ingin kuingat. Langit yang hijau, langit yang tak pernah kelam. Tapi dia mungkin tidak sedang berpikir bahwa tiap-tiap orang punya langitnya masing-masing. Dan kini, langit dalam diriku warnanya hitam. Duka.
Masih belum bisa menangis, hanya sedikit terisak ketika orang-orang rumah mulai menerima komuni. Roti tanpa ragi, tidak berasa dan berwarna putih bundar dibagikan. Langit dalam diri mereka seolah memutih, memancarkan gerak kepasrahan. Hati mereka bergoyang, terobati oleh rasa hambar. Kepedihan pun seolah pudar, sebelum senyum terpendar.
Aku masih diam, tidak bergerak. Pemimpin doa yang memakai jubah putih berikat tali sintetis yang juga putih menghampiriku. Dia mengangkat roti bundar, aku menengadahkan tangan. Tangan kiri di atas, tangan kanan di bawah. Roti itu tergeletak, aku mengucapkan amin. Kupandangi roti itu sejenak, berharap dia tidak memudarkan langit suram dalam hatiku. Kuambil dengan tangan kanan yang tadi dibawah, mengangkatnya menjadi pemberi kesucian dan memasukkannya dalam lubang kenistaan. Tanpa mengunyah, dia telah lumer dalam cairan-cairan duniawi. Tertelan, habis dan aku beruntung tidak merasakan apa-apa. Saking merasa beruntungnya aku terharu, menitikkan air mata. Aku masih berduka, duka untuk kematian nenek.
Semuanya tidak lagi kaku, air dalam mataku pun menyerah ketika semua rasa kaku hilang oleh pengertian. Gemetarku hilang oleh nyanyian. Ndherek Dewi Maria, mengikuti Bunda Maria. Aku berdiri, menyalami satu per satu tamu. Langit mereka berbeda-beda, bahkan aku benci ada yang menyunggingkan senyum kemenangan.
Usai. Doa mereka telah usai. Kini aku menatap langit malam. Gagak-gagak masih muncul di atas pohon jengkol depan rumah. Warnanya hitam, tapi langit mereka begitu terang. Mereka senang bisa memanggil malaikat kematian menghampiri jiwa nenekku. Mernggutnya dari raga yang sering kuraba.
Langit saat itu mendung. Kata nenek itu hanya sebagai amarah akan ego manusia. Mungkin saja ego nenek yang tidak mau berpamitan padaku lebih dahulu. Tapi kini dia bukan lagi manusia, tak punya raga. Jiwanya melesat jauh ke angkasa. Mungkin nenek mengingatkanku, mengirim hujan itu aku aku masuk ke dalam rumah dan memaafkan raganya. Satu per satu air menyalahi ubun-ubunku, menyamarkan gerak air di wajahku. Dinginnya merembes ke dalam merah darah yang mewarnai otakku, membuat egoku tenang sejenak. Sejuk.
Nenek mungkin mengingatkanku, egoku yang sedang melesat jauh memperingatkan jiwa yang telah melayang. Mungkin salah alamat hingga menggesek langit dan membuatnya menangis. Atau mungkin saja nenekku sudah menerima egoku dan membuangnya ke bumi, menodai garis-garis langit dan lagi-lagi membuatnya menangis. Tapi langit itu adil, dia sama-sama kelam. Kadang aku bersyukur langit tidak sehijau yangdiinginkan nenek.
Aku memasuki rumahku, langit-langit rumahku terpendar cahaya terang. Kuning. Warna yang dibenci nenek ketika seharusnya bulan sudah bersinar dan membuang segala yang menyilaukan mata. Langitku pun ikut terpendar. Kau menatap wajah nenek, dari tangannya muncul langit hijau, dia mengembalikan egoku yang telah melesat jauh. Aku menangis, dalam tangisku aku tersenyum. Selamat jalan nenek.
Untuk Mbah Putriku tersayang, sudah lebih dari 100 hari. Mbah, mbah belum mengembalikan egoku. Kalau egoku kembali, semoga rindu tak pernah lagi berkunjung. Tapi biarkan egoku kau bawa mbah, sebagai persembahan untuk ketekunanmu di hadapan Tuhanmu. Sidhi sayang mbah Putri. Yogyakarta, 5 Februari 2012, 21:55.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar