Kamis, 16 April 2015

Bu

“Mengapa Ibu Pertiwi menangis?”

“Ibu sedang bersusah hati.”

“Mengapa harus seperti itu, sedangkan Ibu punya hutan, sawah, gunung dan lautan sebagai simpanan kekayaan?”

“Kekayaan apa yang kau maksud?”

“Mereka bisa kau olah. Hutan kau ambil batangnya, kau buru hewannya. Sawah kau panen padi, palawija atau cabai. Gunung pula bisa kau tambang pasir dan kau suburkan tanahmu dengan abu. Lautan, kau ambil seluruh penghuni di dalamnya.”

“Sudah tak bersisa.”

“Sebegitu keringnya kah?”

“Sangat.” Dia diam sejenak, “ Kalaupun bersisa sedikit, sudah enggan orang-orag mengolahnya. Mereka terlalu nyaman di dalam gedung. Terbuai oleh semilir angin karbon. Mereka enggan berpanas-panasan, hanya ingin berpapasan dengan kenikmatan.” Diam lagi, “Mereka punya definisi baru tentang kenikmatan.”

“Bagaimana bisa? Bukankah mereka terdidik? Sampai-sampai di rahim ibumu muncul gerakan mengajar massal yang mereka namai Indonesia Mengajar?”

“Iya. Mereka belajar untuk menjadi sangat Metropolis. Duduk nyaman dalam ingus yang mereka harap berbuah kekayaan.” Diam, menghela nafas kemudian diam lagi. “Orang tua mereka berkata, kalau bisa, tak perlulah jadi petani seperti kami. Kau harus hidup lebih makmur. Kau harus hidup lebih nyaman, seperti hidup para Tuan Tanah. Seperti hidup kaum priyayi yang ikut menindas pribumi. Seperti hidup para penjajah yang asalnya dari negeri sendiri. Tentu mereka tak serta merta berkata seperti itu, hanya kira-kira pikiran mereka seperti itu.”

“Sudah lama terjadi?”

“Sangat lama, sejak mental priyayi meraja lela. Sejak kumpeni menganggap kami primitif. Sejak kami terlampau kompetitif. Sejak itulah ibu pertiwi menangis.”

“Kalian bahagia?”

“Aku tidak, beberapa orang lain tidak. Tapi kami tak punya daya. Sebagian besar lainnya bahagia. Bahkan sangat bahagia walaupun harus memprimitifkan yang lain. Mereka tertawa bahagia. Tangis ibu pertiwi seperti lelucon bagi pikiran mereka yang selalu tentang pembangunan. Materi ada tapi nurani lenyap dalam cita.”

“Negara?”

“Jangan berharap banyak. Negara adalah tempat tidur nyaman para borjuis. Ajudan-ajudan dikerahkan untuk mewujudkan mimpi, jangan sampai ada kejutan tak mengenakan waktu mereka bangun. Semakin mereka lelap, tak ada indera digunakan, hati semakin keras, kami semakin tak punya suara. Kami bilang keadilan, mereka bilang pemberontakan. Kami bilang perjuangan, mereka bilang kami kriminal. Kalau kami mulai turun ke jalan, mereka bilang kami banal-tidak mendukung rencana nasional. Begitu juga borjuis lain, yang juga lelap. Mereka bicara dalam senyap, jari-jari bergerak untuk menggoreskan satu per satu luka pada tubuh Ibu Pertiwi.”

Begitulah, percakapan itu terus berlanjut. Mereka berdua saling menggenggam, sesekali menyentuhkan bibir ke kelopak saat air mata mulai jatuh pada tokoh yang satu. Tak perlu disebut apakah mereka perempuan atau laki-laki. Perjuangan tidak mengenal perempuan atau laki-laki, kesedihan pun begitu. Kepedulian bertahan dalam keyakinan keduanya. Dan kini, Ibu mereka sedang menangis.

Ibu pertiwi yang mengandung dari bumi. Aku tak pernah melihat kelaminnya, aku tak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan. Dia yang sedang mereka grundeli, sesekali dengan sesenggukan, mungkin perempuan tulen yang tercipta lengkap dengan rahim atau perempuan yang menjelma laki-laki dengan tetap mempertahankan rahim. Tidak perlu aku ketahui. Dia adalah cermin ketegaran, disakiti begitu hebat, bertahan begitu kuat. Menopang manusia-manusia yang lahir dari rahimnya, hidup dari air susu yang bening dan segar, makan dari rimbun-rimbun yang membuahkan, bertahan di dalam pijakan yang menghangatkan.

Lubang digali dalam dagingnya. Darah mengucur deras. Air mata berlinang. Tubuhnya semakin kering. Ronanya sendu. Tapi dia masih bertahan hidup, demi kehidupan anak-anak durhaka yang juga lahir dari rahimnya, besar oleh kelimpahannya. Hai, manusia!

Kamis, 07 Agustus 2014

TELINGAKU HARUS MERDEKA


                Ibu memegang teko, dituangkan air putih ke cangkir kecil punyaku, lalu ke gelas besar punya mbak dan Bapak berturut-turut. AKu setengah cemberut. Gelasku memang paling kecil, tapi minuman yang harus kuhabiskan bahkan jauh lebih banyak dari gabungan dua gelas besar mbak dan Bapak. Aku harus menghabiskan satu gelas sangat besar susu kedelai, mungkin dua setengah kali gelas yang dipakai minum air putih mbak dan Bapak. Aku sakit-sakitan waktu itu, dan susu kedelai katanya bisa menyembuhkan penyakitku.
                Itu baru pagi hari, ditambah sarapan nasi stu piring tidak boleh bersisa. Kalau bersisa, aku harus bersiap menutup kuping agar tidak mendengar omelan Ibu dan tidak merasakan jewera dari Bapak. Satu lagi, tidak perlu sebal dengan cekikikan mbakku. Sial! Subuh sebelum sarapan, jam empat pagi, aku harus bangun pagi-pagi lalu minum tiga macam obat. Sebelum makan, sebelum minum susu kedelai.
Siang sama, nasi sepiring tak boleh bersisa, bahkan kadang-kadang harus dipaksakan tersimpan penuh di mulut sebelum dikunyah, tmbah air putih seukuran gelas mbak dan Bapak dan lima macam obat. Antibiotik, harus habis. Mati pikirku setiap makan siang, setelah membau puyer yang menyengat hidung. Aku tidak boleh terlalu lama bermain, hanya dari jam empat sampai setengah lima, setengah jam saat matahari tidak lagi terik dan anak-anak belum ramai. Watu setengah jam bermain pun sering hilang kalau saya tidak bisa merem di jam tidur siang. Padahal, tidur siang membuat aku seringkali bangun dengan perasaan kagol, merasa bersalah. Tanpa alasan. Dan sekalinya bangun, sudah ada berbagai perintah, nasihat, petuah, nyanyanayanyanyanayanaynyanya, malas aku mendengarnya.
Sore, harus mandi dengan sabun khusus yang baunya membuatku rasanya ingin muntah. Menyengat, belerang murni, agak panas. Kalau tidak mau menuruti gerak tangan ibu, maka punggungku makin panas karena berulang kali ditampar. Setelah itu, waktu adzan maghrib, anak-anak di luar cekikian sehabis maghrib, aku harus duduk manis di bawah lampu belajar. Sekali terlihat mataku kosong, seprti tak mengerjakan apa-apa, aka nada soal-soal yang diberikan Ibu dan Bapak, kalau sedang rese kakak juga ikut-ikutan. Semuanya diberi waktu maksimal. Boleh bertanya kalau tidak bisa, tapi lebih baik tidak. Daripada jantung copot dan mata kering karena dibentak-bentak. Gendang telinga juga bisa-bisa pecah, Bapak sering menempatkan mulut ganasnya tepat di daun telinga. Semakin dibentak, aku tahu bahwa mereka memang tidak sungguh-sungguh tahu jawaban dari soal-soal yang mereka buat. Sial! Jeda jam tujuh malam sampai maksimal jam delapan, maka malam. Menu kali ini adalah nasi sepiring penuh tak boleh bersisa dan dua macam obat. Dua-duanya puyer.
Sudah dua tahun berturut-turut, setiap hari, aku kesal seperti ini. Kebebasan masa kecil direnggut oleh penyakit. Penyakit yang ada di dalam tubuhku dan penyakit kasar dari keluargaku. Satu lagi, penyakit harapan berlebihan bahwa aku harus selalu jadi nomor satu. Lalu, mereka bisa mengoceh bangga ke tetangga, walaupun kami hanya keluarga miskin. Tai kucing! Pernah, saking bosannya dengan obat-obatan berbau sengak, diam-diam aku membuang semua obat yang baru dibeli ke selokan. Telingaku rasanya harus dilindungi dengan baja yang didalamnya didesain seperti thermos air, ada ruangan kedap suara sehingga suara dari luar tidak mungkin masuk, siapapun yang akan menjewer akan kesulitan dan yang mulai cekikikan akan kulempar dengan penyumbatnya yang agak lunak tapi kompak. Orang tuaku marah sejadi-jadinya, mbakku senang sejadi-jadinya.
Rutinitas pagi harus makan, siang setelah makan harus tidur, sore tak boleh pulang terlambat, malam belajar dan diberi soal, malam harus tidur awal tak boleh nonton televise berlebihan terus-terusan terjadi sampai aku kuliah. Melepaskan diri dari paksaan dan menghilangkan salah satu hiburan mbakku. Membantu orang tua pun kewajiban, paksaan tepatnya. Kalau ada pekerjaan yang kurang sedikit saja, maka telingaku dikerjai lagi dengan suara, jeweran dan masih sering terdengar cekikikan. Padahal mbakku sudah besar! Setan!
Kalau banyak program tivi yang membuat seolah-olah membesarkan anak tidak boleh menggunakan kekerasan, kenyataannya beda. Beban ekonomi membuat orang tuaku membesarkan anak, khususnya aku, laki-laki pertama, dengan sangat emosional! Seakan semua yang mereka kerjakan, yang pasti sangat menyiksa, adalah sumber kebahagiaan yang membuat mereka lupa akan hutang-hutang. Tak jarang aku berpikir, pelajaran keluarga yang seperti militer tai kucing ini pasti dipengaruhi Mbah Kung yang memang veteran ABRI, Mbah Putri yang galaknya melebihi nenek lampir. Dua-duanya menurun ke Ibu yang sebenarnya kalem dan penyabar. Tapi, suasana akan keruh kalau Bapak sudah ikut-ikutan, berlagak sok tentara, sok disiplin, memanas-manasi keadaan dan seolah tidak ada hal yang bisa diselesaikan dengan santai dan baik-baik. Telingaku lagi-lagi selalu jadi sasaran. Pantas, komposisinya agak tidak proporsional, terlihat sedikit lebih besar di kepala yang kecil. Ah, kepala yang kecil ini membuat mukaku terlihat culun dan memang aku tidak berani membantah sedikitpun.
Kukira setelah kuliah, kekebasan sepenuhnya sudah ada. Tapi nyatanya, aku memang bebas dari rutinitas pagi-siang-sore-malam yang ditetapkan oleh orang tua. Aku sudah bebas mengatur jam makanku, yang bahkan seringkali tidak kumanfaatkan untuk makan. Aku sudah bebas mengatur jam belajar, yang kebanyakan malah diisi pergi ke kafe, ngobrol, nyanyi-nyanyi. Jam tidur siang, yang sialnya tetap. Tidur siang di kelas, bersama dosen yang, serius, bikin ngantuk. AKu sepertinya bebas, tapi telingaku tidak. Teknologi sekarang sudah makin maju, kami sekeluarga pun sudah menggenggam telepon. Setiap pagi ada telepon, siang juga, malam apalagi. Pagi tidak terangkat karena masih belum bangun, siang sengaja tidak diangkat karena aku masih tidur di kelas, malam. Malam, tidak ada alasan untuk tidak mengangkat telepon atau orang tuaku akan datang keesokan harinya untuk menjewer telingaku. Dikiranya aku masih anak kecil yang harus dapat IPK terbaik di seluruh kampus, lulus tepat waktu, tidak memperpanjang masa studi yang artinya harus memperbanyak uang yang dikeluarkan untuk segala biaya studi. Telingaku belum merdeka.
Belum lagi kalau liburan datang, dengan jarak kota perantauan yang hanya 40an km, aku tidak boleh tidak pulang. Apalagi kalau kumpul keluarga besar, kebiasaan militer, terutama pakdhe yang mirip Mbah Kung, akan melakukan pengecekan kelengkapan anggota keluarga dengan 12 orang saudara, 27 anak dan keponakan, dan cucu yang tidak bisa dihitung. Satu anggota keluarga belum hadir, bisa jadi cibiran di pertemuan-pertemuan berikutnya. Cibiran yang mengatasnamakan keluarga. Orang tua mana yang mau keluarganya dicibir? Ah, kuno sekali keluarga ini.

Saat berkumpul itulah, mereka saling membagakan profesi dan studi anaknya. Dulu, aku jadi garda depan di keluargaku. Saat itulah mbakku tidak akan cekikikan. Tapi setelah kuliah, malas aku membahasnya. Telingaku panas, ditanya sampai mana? Bab berapa? Kemarin katanya janji tanggal segini? Pakdhe tagih janjimu ya! Kenapa Ibumu harus bayar lagi? Belum puas belajar lima tahun? Kapan kerja? Uang dari mana? Sekali lagi, telingaku belum merdeka.

Senin, 05 Mei 2014

Someone to Watch Over Me



Ella Fitzgerald dengan syahdu, setengah serak, dan penuh kekuatan melantunkn lagu penantian ini. There’s a saying old, that the love is blind. Still we’re often told, seek and ye shall find. Nada-nada minor, biasa dianggap sebagai nada yang agak miring, membuat suaranya yang garang itu menyeyat-nyayat.
                
Cinta itu buta, katanya pada pembuka. Boleh percaya atau tidak, karena nyatanya kita juga masih sering berkata bahwa ketika mencari, kita akan menemukan. Mencari, kemudian menemukan adalah kata kerja yang mengandung unsure kesengajaan, berbeda dengan “buta”, yang sama sekali tidak menyengaja kerja. Kerja yang dilakukan oleh hati, maksudnya. Dialektika ini muncul terus menerus. Saat berhadapan dengan seseorang, saya mencoba membutakan diri, agar merasakan apa itu cinta. Tapi, di lain sisi, saya mencari-cari cinta di dalamnya, dan ternyata hampa. Nir hasil. Sia-sia.
               
Looking everywhere, haven’t found him yet, lanjutnya. Dalam liriknya, dengan liris, seolah mengaduh, dia menyanyikan bahwa ada peristiwa emosional paling besar, yang pernah dia rasakan. Hanya sekali, sekali saja dengan penyesalan.
                
“Jangan pakai rasa ya,” begitu dia berkata sesaat setelah selesai berjumpa.
                
Saat euphoria masih besar-besarnya, dan endorphin masih berlebih-lebihan, kata-kata itu saya anggap hanya sebagai bualan. Tidak saya acuhkan, tetap saja tersenyum bahagia. That the love is blind. Tapi terlalu mudah untuk menyimpulkan dari perjumpaan pertama, bahwa inilah kebutaan. Syarat orang sedang jatuh cinta. Rasa-rasa yang ini mirip dengan alunan I’d like to add his initial to my monogram. Tell me, where is the shepherd for this lost lamb? Seakan menegaskan bahwa kebutaan adalah penyebab hilangnya segala kemampuan untuk menentukan arah. Karena terlalu bergembira, saya berjalan tanpa tahu arah. Hanya nama dia, dia, dan dia lagi yang berdengung. Sayang , dengungnya tak menentu, berasal dari semua penjuru. Semua penjuru yang saya coba jajaki satu per satu.
                
Masih teringat satu per satu yang kami lakukan. Dia menceritakan pada saya tentang kehidupan, dan aku hanya diam saja, karena merasa tak pernah berpengelaman. Dia membimbing, manifestasi dari sikap-sikap keibuan. Tenang, seperti air yang mengalir, membasahi kerongkongan-kerongkongan yang dahaga dan akhirnya menghidupkan. Sebelumnya saya merasa perasaan saya sudah mati, dengan dia organ-organ mengirim sinyal ke jaringan dan jaringan meneruskan ke setiap selnya, mereka benar-benar terasa hidup, bergejolak, mungkin seperti kuncup bunga yang mekar dengan cepat. Jutaan sel yang ada dalam tubuh menyinergikan pikiran dan hati, berpikir dan merasakan, bahwa saya hidup. Baru.
                
Mungkin bukan yang pertama. Banyak kejadian serupa, dengan orang yang berbeda-beda pula. Semuanya singgah tanpa meninggalkan jejak penasaran. Tapi dia yang ini, adalah yang pertama bermakna. Karena dia membawa sebuah cawan berisi pengampunan yang membuat saya mengampuni kesalahan-kesalahan masa lalu, serta sepotong roti kehidupan. Pada akhirnya, dialah yang menyimpan misteri. Bukan tentang yang pertama, tapi tentang yang pertama bermakna. Dan lagi, dia bukan milik dan tidak bisa dimiliki oleh seseorang. Banyak orang berteduh di bawah kerindangan daunnya. Itulah sebab dia berkata, “Jangan pakai rasa ya.” Sekalipun rasa itu sudah benar-benar ada, sebelum dia sempat memperingatkan.
                
Although he may not be the man, some girls think of as handsome. To my heart, he carries the key. Sesingkat-singkatnya perjumpaan, saya merasa bahwa dialah yang membawa kunci. Dia yang sudah membukakan hati. Atau saya salah, bahwa justru karena terlalu singkat, saya masih yakin bahwa dialah pembawa kunci? Tapi saya yakin, dia yang telah membukanya, membuatku berani memeluknya. Dia, hanya dia yang mampu menutupnya lagi dengan kunci yang dia pegang.
                
I need someone to watch over me. Someone to watch over me. Dia sudah membukakan hati, dan saya berpasrah dalam proses itu. “Jangan pakai rasa ya,” bukanlah sebuah perintah untuk mencegah perasaan ini mengambil alih, tapi terlanjur menjadi obat untuk hati yang menganga. Ada lubang di dalamnya dan itu membuat sakit, pada permulaan. Rasa itu sudah tumbuh, membagi kepasrahan, kerelaan. Bahwa dia, sewaktu-waktu dan tanpa pemberitahuan, akan pergi. Kepergiannya akan menyisakan misteri. Sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dalam waktu singkat: siapa yang akan menutup hati ini? Atau mungkin, dia membiarkannya terbuka, agar tidak ada lagi ketakutan akan rasa sakit yang berkali-kali singgah.
                
Someone to watch over me. Walaupun kami akan berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Pada akhir desahan tebal Ella, aku menambahkan And I promise to be someone to watch over you. Dan pencarian itu sudah berakhir.


Catatan: Terinspirasi dari cerita-cerita di 30 April 2014. Pertama, dengan kawan dekat. Seorang perempuan hebat dan kisahnya dengan laki-laki yang hebat juga. Kedua, dengan R. Ketiga, Someone to Watch Over Me – Ella Fitzgerald.

Minggu, 05 Januari 2014

Untuk MN

Catatan: Tulisan ini dibuat tanpa nalar, sehingga harap maklum jika banyak hal tidak konsisten. Tak perlu dicari juga pentingnya, karena ini hanyalah tulisan tak bernalar. 


Tulisan ini mungkin lebih tepat berjudul Tahu Diri, tapi Tahu Diri itu semacam memberi ruang unuk nalar. Seakan adalah hasil berpikir yang begitu panjang dan logis, kemudian diwujudkan dalam sikap. Padahal yang saya maksud tahu diri lebih ke sesuatu yang emosional, mirip dengan jargon tenggang rasa (tapi terlalu berbeda jika disamakan dengan tenggang rasa). 

Jadi ceritanya begini, ada satu ruang dalam tubuh manusia. Kalau kata Leila S. Chudori ruang itu kosong dan ada di dada sebelah kiri. Ada juga yang mengatakan bahwa jika kamu merobek dada kiri, ruang kosong itu seolah-olah berisi. Pada kenyataannya tetap kosong, karena dia menunggu untuk saat yang tepat. Saat untuk saling mengisi. Letaknya di dada kiri, tak terlalu jauh dengan kepala, tapi sepertinya ada penghalang tegas. Kepala dengan nalarnya sama sekali tak diberi ruang dalam sirkulasi di ruang kosong. Setiap keputusan yang diambil dalam siklus indrawi-merasakan-menentukan tak pernah melibatkan, bahkan dengan tegas mengeliminasi kemungkinan terlibat, nalar. 

Sudah dua paragraph saya terlalu basa-basi. Maaf, sekali lagi, ini tulisan yang tak melibatkan nalar sama sekali. Jika Anda adalah penggemar Marx, Engel ataupun Anda yang membaca blog saya oleh cerpen-cerpen yang sedikit bernalar, Anda bisa mulai memutuskan untuk memilih tanda silang dalam tab browser Anda sekarang. Saya tidak ingin menjadikan Anda gila dengan ketidakbernalaran tulisan ini. Ah, saya tahu. Anda yang adalah salah satu teman dekat saya sedang tertawa terpingkal-pingkal hingga menangis. Tai kucing! 

Lanjut tentang ruang kosong dan siklus indrawi-merasakan-menentukan. Apakah Anda pernah merasakan bahwa anda pernah jatuh hati pada seseorang begitu lamanya? Sampai, ketika Anda berpisah dari dia, Anda tetap mencari-cari kehadiran dia, atau setidaknya beberapa sifatnya, pada orang lain? Yang membuat Anda kemudian melakukan tindakan permisif untuk melupakan rasa jatuh hati yang pertama, demi orang yang kedua, ketiga, dst. Tapi Anda akan selalu kembali pada hal yang mengawalinya, mencari tumpukan sifat/sikap/karakter orang pertama yang ada dalam orang kedua, ketiga, dst. 

Ah, Anda tak akan pernah merasakannya kecuali Anda pernah merasakan beberapa hal ini. Bahwa Anda begitu takut untuk bertemu kembali. Ketakutan yang menjadi-jadi berbuah kekalutan sehingga Anda akan berpikir untuk tidak bertemu saja daripada harus menanggung beban jatuh-hati-yang-pertama-untuk-kesekian-kalinya. Sakit dan berat rasanya. Semakin berat bahwa Anda belum ikhlas sama sekali dengan apa yang terjadi di masa lalu, ketika banyak hal belum selesai. Juga bahwa kisah pertama Anda ternyata lebih mencintai kisah pertama yang terjadi dalam hidupnya, sayangnya kisah itu dirajut dengan orang partama yang bukanlah Anda. Pedas. Seperti memakan campuran lada, cabai dan jahe. Membuat sayap kupu-kupu yang menari di perut Anda lemas kehilangan tenaga, bibir Anda kaku, keringat basah, kuping panas dan air mata bisa keluar kapan saja. Anda kemudian menyadari bahwa kehadiran orang kedua, ketiga, dst hanyalah numpang lewat untuk kisah pertama yang belum selesai. 

Pada titik ini, ruang kosong itu rasanya semakin berat. Padahal ruang itu kosong. Sepertinya membesar dan diremat-remat dengan keras. Sampai pada titik Anda bertemu kembali dengan yang pertama. 

Anda, dengan segala muslihat indrawi, akan melihat yang pertama jauh lebih memesona. Walaupun tingkah kalian sangat canggung. Kupu-kupu yang mati tadi seolah mendapatkan energinya kembali. Kupu-kupu itu abadi, hingga saat yang tepat menunggu untuk mati. Melihat yang pertama di hadapan Anda dengan segala senyum, suara dan pancaran sinar matanya (untung jenongnya sudah tertutup poni rapi) adalah satu anugerah tersendiri. Anugerah yang tidak bisa dan tidak boleh jadi milik orang lain, pun oleh perasaan ingin memiliki yang diam-diam sedang menyelimuti ruang kosong di dada kiri. Banyak riset membuktikan (data ini bukanlah mencoba menalar, tapi pembenaran yang emosional atas sensasi yang begitu sensational) hormone endorphin akan meningkat tajam di saat-saat seperti ini. Anda akan menjadi lebih bahagia, sangat jelas terlihat di senyum bibir dan mata yang bersinar. Rasanya berkaca-kaca, meledak tak bisa menahan segala rasa bahagia. 

Pertemuan saya dengan yang pertama, yang akhirnya saya sanggupi segala konsekuensi, seperempatnya memiliki tujuan egois. Menghambur-hamburkan hormone endorphin dalam tubuh. Tapi setengahnya adalah sebuah misi menuntaskan yang belum tuntas, sisanya adalah keterpaksaan. 

Misi menuntaskan yang belum tuntas itu sulit. Apalagi dalam beberapa pertemuan Anda akan merasakan sensai ketidakkonsistenan ruang kosong: Dada kiri Anda memberat, serasa diremas kuat tapi kupu-kupu dengan tenaga-tenaga sisanya masih menari keras. Perpaduan tai kucing! Canggung. Apalagi saat ini. Bayangkan bahwa Anda ingin menuntaskan yang belum tuntas, padahal yang pertama masih belum tuntas dengan urusan yang pertamanya. Tahu diri lah saat itu! Anda tak boleh sangat egois dengan mengungkapkan segala unek-unek yang berputar dalam proses indrawi-merasakan-menentukan. Anda harus bisa menghargai siklus serupa dalam ruang kosong si yang pertama. 

Ruang kosog ini semakin berat, diremas makin hebat, ditambah dengan jarum-jarum kecil yang dikirim nalar. Nalar berkata: Cepat selesaikan, atau tidak pernah selesai. Tapi sekali lagi, ada batas tegas yang dimiliki ruang kosong, sesakit apapun dia mempertahankannya. Semakin berat saat Anda menemukan bahwa teman-teman si yang pertama sangat mendukung kisah yang pertama dengan yang pertama miliknya. Bahwa mereka penuh dengan kecocokan. Anda lalu berpikir bahwa Anda hanyalah butiran debu yang seenaknya diinjak, dicaci dan dibiarkan terbang sendiri tanpa tujuan. Goncangannya terlihat kuat dari sinar yang hilang dari mata, walaupun Anda mencoba tersenyum. 

Anda bahkan tidak tahu, apa yang harus Anda katakan untuk membuat segala sesuatunya selesai. Anda bahkan (ini “bahkan” yang kedua, artinya sangat parah, sangat tidak bisa dinalar) tidak punya patokan jelas dengan kata “selesai”. Karena Anda yakin bahwa ini sangatlah susah untuk selesai bagi Anda. Semakin kuatlah goncangan dalam ruang kosong. 

Oleh karenanya, saya hanya ingin menuliskan tulisan ini sebagai penyelesaian. Bahwa biarlah saya merasakan remasan kuat ini. Untuk yang pertama yang menuliskan “Kamu selalu bikin rame ^^”. Untuk dia yang sudah saling mengisi kekosongan, bahkan dengan sangat setia, sangat antusias. Sekali lagi dengan orang pertama, yang bukanlah saya. Semoga yang pertama membaca ini, saya tidak akan memaksa yang pertama untuk membaca ini, apalagi mengirimkan link-nya. Saya percaya bahwa tulisan penyelesaian ini akan dibaca oleh yang pertama tepat pada waktunya, tepat saat semua sudah harus selesai. Saya tak tahu kapan, saya sendiri tak punya patokan “selesai”, tidak bernalar. 

Beruntung sekali Anda yang bisa saling mengisi kekosongan dengan yang pertama. Saya tak punya hak untuk memastikan yang pertama juga harus beruntung dalam proses saling mengisi kekosongan tersebut. Saya hanya bisa berdoa bahwa yang pertama akan bahagia. Klise. Tapi bahagia tidak memiliki pola, masing-masing orang punya standar sendiri sehingga saya tak bisa berdoa dengan lebih spesifik. Yang pertama harus hidup bahagia! 

Akhirnya, mengutip Bang Tulus. Saya tidak ingin lagi larut dalam angan yang tanpa tujuan. Saya berkata dan menuntut ruang kosong saya untuk perlahan menerima nalar. Saya sudah harus selesai dengan semua ini, sewindu sudahlah sangat menyiksa. Kalau kata teman dekat (yang pasti sedang tertawa terpingkal-pingkal), ruang kosong saya harus bisa mengambil hikmah. Agar tidak ada lagi kata canggung atau enggan. Bahkan bisa menghilangkan keterpaksaan dan menjadikan ruang kosong saya lebih lentur. Tak lagi sebegitunya sakit saat diremas dalam pertemuan berikutnya. Terima kasih untuk kamu yang pertama, semoga kamu menerima cokelat yang saya titipkan. Itulah tanda saya sudah selesai. Ketika kamu membaca tulisan ini, tandanya saya dan kamu sudah selesai, semuanya selesai. Saya cukup tahu diri untuk tidak lagi menyiksa ruang kosong saya atau mengganggu ruang kosongmu. Terima kasih. I Love You ^^.

Selasa, 17 September 2013

Perpustakaan Ideal yang Kuinginkan

Judul ini saya ambil dari judul lomba yang diadakan oleh Perpustakaan UAJY beberapa bulan lalu (saya lupa tepatnya). Seandainya mahasiswa boleh mengikuti lomba ini, saya akan menuliskan banyak keluh kesah tentang kondisi perpustakaan UAJY saat ini, saying lomba ini hanya terbuka bagi siswa SMA.

                Saya menulis tulisan (bisa disebut surat, curhatan, sekedar keluh kesah atau kritik) ini karena saya merasa sudah tidak nyaman lagi dengan suasana perpustakaan UAJY. Walaupun tugas utama perpustakaan adalah sebagai bank buku, perpustakaan harusnya juga berfungsi sebagai tempat kondusif untuk membaca buku-buku tersebut. Suasana perpustakaan UAJY saat ini sangat tidak kondusif dan tidak mendukung salah satu tujuan perpustakaan (saya kutip dari http://www.karyawan perpustakaan.com/pengertian-tujuan-dan-peran-perpustaan) yaitu “dapat menggunakan waktu senggang dengan baik yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan social”. Saya rasa cara terbaik memanfaatkan waktu senggang yang dimaksudkan dalam tujuan perpustakaan adalah dengan membaca, dalam situasi yang tenang, kondusif. Hal ini mulai hilang dari perpustakaan UAJY.

            Saya kemudian membandingkan situasi perpustakaan UAJY dengan beberapa perpustakaan di Jogyakarta: Perpus Kota, JLC, Perpus Kolsani, Perpus UGM, Perpusda. Situasi Perpustakaan UAJY sedikit banyak mirip dengan situasi perpus kota, yang hiruk pikuk.Berikut beberapa alasan yang kemungkinan besar menjadi penyebab hiruk pikuk perpustakaan:

1.    Desain ruang, yang menurut saya tidak memadai: kantor pegawai perpustakaan dan ruang perpustakaan diletakkan di gedung dengan ruang yang terbuka. Pada beberapa gedung perpustakaan lain, letak kantor karyawan perpustakaan akan terpisah dengan ruang baca dan dibatasi oleh sekat untuk meminimalisir suara dari luar terdengar di ruang baca. Hal ini diperparah oleh karyawan perpustakaan yang sering ngobrol dengan suara keras sehingga terdengar hingga ruang baca. Ini sudah tidak sesuai dengan semangat Librarian Serve People, not Books yang dipasang di web perpustakaan J

2.    Belum ada sosialisasi atau kesepahaman tentang fungsi perpustakaan. Saya bisa contohkan di Perpus Kolsani, misalnya, ada perjanjian untuk pengunjung: tidak ngobrol, mematikan/silent handphone, tidak boleh menerima telepon di dalam ruangan, tidak boleh melipat buku, tidak boleh mencoret buku dan tidak boleh menghilangkan buku. Semua pelanggaran atas poin-poin tersebut akan diberi teguran atau sanksi langsung dari karyawan perpustakaan. Sosialisasi aturan perpustakaan UAJY kurang (atau mungkin belum ada) dan kerja karyawan Perpustakaan UAJY masih cenderung pasif dalam memberikan teguran sehingga semakin membuat suasana perustakaan tidak kondusif.

3.    Poin kedua dipicu juga oleh kesadaran pemustaka yang kurang, misal: melakukan diskusi di ruang baca, mengobrol di ruang baca, padahal sudah disediakan ruang diskusi. Hal ini secara tidak langsung terjadi karena memang tidak ada sosialisasi tentang aturan di ruang baca, ruang skripsi, ruang referensi dan lab kom, artinya poin dua sangat berperan dalam mengurangi keramaian yang diakibatkan oleh pemustaka.

4.    Mesin fotocopy yang tidak berfungsi baik, lama dan hasilnya mengecewakan. Poin ini tidak berpengaruh langsung pada suasana kondusif, tapi menjadi poin tambahan yang harus menjadi perhatian.

Saya menuliskan tulisan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap perpustakaan UAJY dan kenyamanan menggunakan fasilitas perpustakaan UAJY (baik warga internal atau eksternal-non UAJY). Saya juga pernah posting kicauan terkait tidak kondusifnya perpustakaan ini dalam 140 karakter di twitter, yang langsung saya mention ke @uajy, ternyata tidak ada tanggapan. Kicauan saya ternyata di-retweet dan di-reply sebanyak 12 kali, berarti ada dua belas orang yang memiliki harapan sama dengan saya. KIcauan kecil saya mungkin tidak terdengar, keluh kesah saya pada beberapa SS Perpus juga mungkin tidak tersampaikan pada orang yang berwenang sehingga suasana perpustakaan ya begini-begini saja, tidak berubah. Maaf kalau tulisan ini menyinggung perasaan atau diterima secara negative. Saya kadang juga masih ngobrol singkat di perpustakaan, tapi bukan berarti saya tidak mau perpustakaan menjadi tempat yang lebih baik, bahkan mungkin bia menjadi perpustakaan ternyaman untuk mengerjakan tugas atau sekedar membaca mengisi waktu luang. Semoga perpustakaan ideal segera tercipta di UAJY.


Oya, maaf kalau saya posting tulisan ini lewat blog yang bisa dibaca siapa saja, karena saya tidak menemukan kolom kritik dan saran di website perpustakaan.uajy.ac.id.

Rabu, 31 Juli 2013

Mencari Cermin 2: Catatan Perjalanan Dieng (Di Hyang)

   Esoknya aku memikirkan tempat-tempat mana saja yang membuat aku damai. Akhirnya aku datang ke tempat-tempat ramai, dengan alunan musik, gedung dengan gambar yang bergerak-gerak atau gedung dengan instalasi estetis yang membuat Sang Rasa berdecak kagum. Tapi aku belum merasakan kedamaian, tidak lagi seperti syarat Wujil Kinasih: Sunyi.

   Esoknya, ada seorang kawan yang mengajak untuk pergi ke gunung. Ah, aku pernah gagal mencapai puncak gunung. Apa aku harus mengulang kegagalan kembali? Tapi toh aku belum pernah mencapai puncaknya, siapa tahu puncak itu yang empunya kedamaian? Tak masalah selama masih ada kawan, sendiri pun sebenarnya aku masih bisa berkawan: dengan rumput, pohon dan serangga. Tapi apalah artinya aku tanpa kawan yang bisa kuajak mengobrol tentang misteri cermin itu. 

   Esoknya, anggap saja begitu, tanpa persiapan yang matang—karena memang tidak ada yang harus dipersiapkan secara matang—aku dan kawanku itu berangkat. Kami naik sepeda motor menuju Di Hyang, yang konon katanya adalah tempat bersemayam para Dewa, moksa. Sepeda motorku pasti bangga, karena dia pernah mencicipi mokas.

   Kami saba wana (melewati hutan). Di kanan dan kiri banyak penjual carica, kami tahu kemudian bahwa betuk aseli carica adalah seperti papaya. Bedanya, dalamnya membentuk bintang secara sempurna. Aku sadar, ini tempat para Dewa singgah, carica yang menjadi oleh-oleh utama adalah bintang-bintang yang dianugerahkan para Dewa. Pantas, mereka terjaga dan dengan baik tersimpan di sudut-sudut jalan. 

  Tiba di sana, hujan mengguyur, paling tidak nyaman karena masuk di sela-sela sepatu dan kaos kaki. Baunya pasti menyengat saat dibuka. Ah, bau itu alamiah, tak masalah. Kami beristirahat sebentar, mencoba mengisi perut agar omongan tidak melantur saat sowan para Dewa. 

   Lepas maghrib, kami bawa bawaan dan tenda. Kami parkirkan motor di salah satu rumah warga, kami tanjaki punggung bukit Sikunir, salah satu tempat persemayaman Dewa, konon katanya. Dalam perjalanan aku hanya berpikir bahwa tempat Dewa adalah tempat yang cocok untuk bertanya tentang kemana hilangnya cermin. 

  Tiba di Sikunir, dengan harapan mampu melihat lukisan Sang Dewa berupa Surya yang bulat dan berwarna bagai emas, kami mendirikan tenda. Was-was, karena setelah kami selesai mebangun tenda, hujan mengguyur. Kami lupa membuat parit—sejujurnya aku memang tak pernah tahu syarat tenda yang benar adalah dikelilingi parit pengalih aliran air—hingga tenda tergenang air. Belum lagi bayu yang terus berhembus ke sana ke sini. Kami melepas beban dengan bercakap-cakap seadanya, tentang cermin yang dia bawa dan cermin yang belum ketemu. Semuanya adalah tentang misteri. Banyak hal yang kami definisikan sebagai misteri: rasa, karya dan karsa. 

   Misteri adalah sesuatu yang setia untuk masa depan. Tapi kesetiaan, rasa syukur adalah sebuah msteri yang mempu memecahkan misteri lain. Kita punya pedoman untuk berkarya. Semoga kawanku ini selalu paham bahwa dalam dalam berkarya dia harus menjaga kesetiaan. Begitu pula aku, semoga aku selalu tahu dan tak gagal lagi seperti urusan menjaga cermin. 

  Hujan sedikit reda. Seusai membenahi letak jas hujan penutup tenda, kami membuat parit mengelilingi tenda. Takut kalau-kalau air terlalu nyaman dengan alirannya tadi, kami alihkan agar mereka mau menyuburkan pohon-pohon kering di sekeliling kami. Temanku tiba-tiba mengambil sikap doa, dan aku menjadi tersindir dengan sendirinya. Aku pun ikut berdoa, bukan ikut-ikutan, aku merasakan dinginnya bayu yang berhembus, meminta kehangatan pada Sang Dewa. Aku mencoba merasakan kehadiran mereka, menjaga satu-satunya tenda yang berdiri di atas awan berarak-arak. Selesai, aku kembli malu. Ternyata hujan reda hingga pagi, dan aku sempat tak ingin mendekat dengan para Dewa. Kawanku yang memulainya. Terima kasih. 

  Sudah berdoa, aku terlelap dan kawanku terjaga. Saat ragaku sudah puas berstirahat, aku terjaga dan dia terlelap. Tapi karena dingin terlalu beresonansi dengan keadaan hatiku yang terpisah dengan cermin, aku pun ikut terlelap kemudian. 

  Esok paginya, ternyata Surya sedang tidak enak badan. Dia harus diselimuti kabut tebal dan awan yang sedikit kehitaman. Tak apa, saya masih bisa merasakan kehangatannya. Matanya berbicara dan memelukku. Surya mengajakku bercakap tentang misteri. Kawanku juga ikut terlbat dalam percakapan tanpa suara itu.



  Kami bereskan tenda dan semua peralatan, kami lambaikan tangan pada Surya yang masih berselimut tebal. Kami berkeliling sejenak menikmati rumah-rumah Dewa yang lain. Di Hyang, begitu katanya. Kami ucapkan terima kasih satu per satu pada mereka yang menjaga kami semalam: Telaga Warna, Pangeran Kidang dengan semburan lumpurnya, juga candi-candi kokoh tempat manusia menyembah Dewa. Kamipun pulang.






   Dalam perjalanan aku mencoba menyimpulkan petunjuk apa yang kudapat dari perjalanan ini. Ternyata aku belajar dari kawanku ini bahwa menjadi dekat dengan alam adalah kunci mendekati para Dewa. Sang Hyang tahu dimana letak cermin. Doa. Akan kuberitahukan satu petunjuk ini pada Wujil Kinasih. Sekali lagi, terima kasih. 

 *** 

   Esoknya aku mengadu pada Wujil Kinasih tentang semua perjalanan ke Di Hyang. Dia menjawab, “Kawan kau itu akan jadi orang yang hebat.” 

  Aku protes, “Mbah, ini tentang aku dan cerminku, kau malah bicara tentang kawanku?” 

  “Di situlah kesalahanmu. Kau selalu berpikir tentang dirimu sendiri. Kau tidak merasakan bahwa kawanmu mungkin akan sangat berjasa dalam hidupmu seminggu ke depan, dia menyindirmu dengan perbuatan kan? Bukan lagi perkataan? Sindiran yang hebat.” 

  “Baiklah, Mbah. Satu petunjuk yang akan kuamalkan seminggu ke depan, Doa. Lalu dimana aku bisa mencari petunjuk lain?” 

   “Masih di tempat hening, tempat kamu merasakan kedamaian, carilah dengan doa. Kau kini toh sudah tahu caranya hening dalam doa.” 

  Aku hanya bergeming. Tidak berdoa, tapi mencoba mencari-cari alasan untukku mau berdoa. Kata kawanku: rasanya tidak adil bagi Tuhan kalau aku hanya berdiam diri, tidak berdoa. Padahal Dia selalu jadi kawan. Berdoa sejatinya bercakap-cakap dengan Kawan, merawat percakapan. Itu adil untuk kawan yang selalu ada. (edited). Inilah saatnya berlaku adil sejak dari pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Lebih-lebih berlaku adil sejak dalam keyakinan, orang sering lupa hal ini. 

 *** 

  Wujil Kinasih memang welas asih, tapi kata-katanya memang menyebalkan. Penuh wacana, tidak bisa dimengerti serta-merta, harus dipahami dengan bahasa-bahasa Dewa. Wujil Kinasih juga pernah bilang bahwa bahasa Dewa itu tidaklah sulit, hanya tinggal memahami diri sendiri, berkaca pada diri sendiri. Tapi, cerminku kan masih hilang. Keadaan ini sangat rumit. 

  Esoknya, ada sekelompok temanku mengajak untuk berlibur dan menginap ke suatu tempat. Menginap tidak di balik tembok, tapi menyatu dengan alam. Lagi. Aku iyakan, rencana mendirikan tenda di pantai berubah menjadi menyelinap di balik dingin Merbabu. Aku suka, tapi di sinilah kata-kata Wujil Kinasih tentang diriku menjadi terbukti. 
  
   Perjalanan dimulai akhir minggu. Tepat tujuh hari setelah aku mengunjungi Di Hyang. (bersambung)

Mencari Cermin 1: Percakapan dengan Wujil Kinasih

   Wujil Kinasih, hamba Majapahit yang sedang sowan pada Panembahan Wahdat, menantang halus gurunya itu. Dia sudah melakukan pembacaan terhadap karya-karya Kitab suci yang hendak diajarkan gurunya, dia sudah melakukan semua yang ada di Kitab Suci. Makin dia membaca, makin dia tak mengerti. Makin dia membaca, makin dia merasa seperti boneka, digerakkan oleh pikiran-pikirannya sendiri: harus begini lah, harus begitulah. Hidupnya tak lagi luwes. Dengan halus dia meminta gurunya itu menjelaskan mengapa dia mulai terbebani. 

   “Kamu membaca tanpa memahami,” kata Panembahan Wahdat, “ Kamu dalami dulu siapa dirimu. Tanpa membaca, dengan mengenal siapa dirimu kamu akan menjadi lebih agung dari pada pembaca-pembaca Kitab Suci yang sekedar mencari tutorial kehidupan.” Wahdat meneruskan lagi bahwa siapa yang mematikan jiwa dalam dirinya, tindakannya akan terus mengekang. Siapa yang mulai mengekang tubuhnya, tak henti-henti memaki kekurangan, terjebak dan patuh pada sabda tanpa menghadirkan kembali Sang Ada. 

   Mendengar itulah Sang Wujil Kinasih akhirnya menyadari betapa buruk pembacaan sabdanya. Bahwa sabda bukanlah tutorial belaka. Sabda adalah memahami dengan sungguh-sungguh dalam pengalaman yang hening. Dia teringat kta Wahdat di awal dia berguru, “Kalau perlu, kau harus membaca Kitab Suci di tempat yang sunyi.” Sayang, dia terlalu riuh membaca Kitab Suci bersama para koloni. Tak hening, sehingga Sang Rasa pun mati dalam kata-kata yang jarang berhenti. 

 *** 

  Aku menemui Sang Wujil Kinasih karena aku tahu dia sudah tersenyum bahagia. Tubuhnya tidak lagi bergerak seperti robot, pun pikirannya sudah bebas. 

  “Mbah, Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanyaku heran. Sebelumnya dia selalu murung. 

  “Aku ini mbahmu to le. Mbah juga punya banyak cucu di desa ini. Mbah sudah kembali seperti sedia kala, tidak lagi akan marah-marah pada cucu-cucu mbah. Mbah kembali kepada sejatinya Kinasih, welas asih,” dia berhenti berbicara sebentar, “Kamu kenapa ke sini le? Tumben sekali? Biasanya kamu yang sok-sokan mau mengajari Mbah tentang kehidupan.” 

  “Aku semakin tidak kenal kehidupan Mbah. Bayangkan saja, aku sudah belajar selama tiga tahun, membaca, sama seperti Mbah membaca Kitab Suci. Aku sudah turun dari gunung di selatan dan hidup bersama penduduk di sana, aku juga sudah mencoba bekerja. Uang Mbah, uang yang terkumpul. 

   Satu yang belum aku lewati Mbah, aku harus mengulangi semua pembacaan atas pengetahuan selama tiga tahun. Personal, Mbah. Walaupun dari sekian banyaknya pengetahuan yang kudapat, aku boleh memilih beberapa di antaranya, tapi justru itu yang membuat aku bingung. Memilih dari sekian banyak yang diajarkan. Memilih pengetahuan pekerja yang bekerja demi keinginan orang lain, atau memilih pengetahuan yang sejatinya cermin atas diri sendiri. Aku memilih yang kedua, sayangnya cermin itu hilang, Mbah. Entah pecah, entah dicuri oleh siapa, tinggal bingkainya saja. Aku harus mencari kemana, Mbah? Tanpa cermin itu aku tidak bisa apa-apa kan?” 

   “Memang kau apakan cermin itu hingga hilang dari bingkainya? Pasti tak pernah kau ajak bicara cermin itu, kan? Jarang sekali kau ajak bercakap-cakap dengan abab? Dia menggigil kedinginan di tengah keras hatimu yang merasa penuh oleh pengetahuan, mungkin.” 

  “lalu, aku harus bagaimana, Mbah? Ibu dan mbakku sudah selalu bertanya kapan pembacaanku yang sudah hampir empat tahun ini akan berakhir.” 

  “Kau cari saja di tempat-tempat yang sunyi. Kau ajak lagi hatimu keluar dan bercakap-cakap. Mungkin kau sudah lupa caranya, tapi dengan memaksanya kau akan terbiasa. Toh, hatimu yang paling tahu kemana perginya cermin itu. Kalau kau saja tak pernah mengajaknya bercakap, jangan harap dia memercayaimu untuk sekedar memberikan petunjuk.” 

  “Mana itu tempat sunyi, Mbah?” 

  “Tempat pertama kali kamu merasakan kedamaian. Kamu yang bisa menentukan, aku tak akan pernah tahu karena tempat yang damai itu ada Sang Rasa, ketika Sang ada berada. Carilah dengan doa.” “Baik, Mbah.” 

  Aku terhuyung-huyung pamitan. Dalam hatiku aku memaki, percakapan macam apa barusan? Aku tidak juga mengerti. (bersambung)