"Kita adalah kepingan Puzzle, Indonesia adalah bingkainya"
Kalimat itu yang terus terngiang dalam benak saya. Ya, mungkin sangat sederhana, tapi makna di balik kalimat tersebut menurut saya sangat luar biasa. Ini juga yang mengawali keluarbiasaan yang ditampilkan sebuah karya minim persiapan, tapi maksimal dalam makna.
Puzzle menceritakan Damar, yang di waktu kecil mndapatkan sebuah Puzzle Indonesia dari kakeknya. Bukan hanya puzzle saja, melainkan rangkaian makna dari puzzle tersebut. Ya, namanya anak kecil, ketika beranjak SD, SMP bahkan SMA pun DAmar belum mengerti apa yang diceritakan kakeknya tersebut mengenai "Bhinneka Tunggal Ika".
Damar SD diceritakan sangat tidak tolerir, bahkan cenderung nggentho. Damar SD terlibat perkelahian dengan seorang anak dari Ambon. Suatu kali mereka berebut Peta yang dipinjamkan ibu guru, dan akhirnya sobek. Mereka akhirnya mengisolasi bersama-sama.
Damar SMP, tak jauh beda. Bukan lagi isu rasisme yang diangkat, tapi kepedulian terhadap orang kecil. Damar SMP sama sekali tidak menghormati tukang kebun di rumahnya. Hingga suatu kali, Damar bertemu perempuan cantik (yang tidak diceritakan siapa) yang membuka matanya bahwa sekaya apapun dirinya, ternyata ketergantungan terhadap mereka yang kecil ssangat besar. Ya, saya setuju, mereka yang kaya adalah mereka yang sebenarnya mengambil kenyamanan dari orang-orang kecil di sekitar mereka.
Damar SMA, tak lagi bersinggungan dengan masalah rasisme atau pun kepedulian. Tapi dengan menggunakan Nasinalisme yang sedang jadi trend. Damar yang diceritakan mencinati bola terlibat perselisihan kecil terkait siapa yang akan menang saat Timnas Indonesia bertanding. Dan sekali lagi saya sepakat, di tengah carut marut dunia persepakbolaan Indonesia (yang saya kurang mengerti), dukungan seluruh elemen merupakan sebuah langkah memajukan Indoensia. Dan saya harap, bukan hanya untuk bola, tapi dukungan untuk segala pengalaman Damar tadi.
Ramuan pengalaman Damar dari kecil-SMA diselingi dengan Damar Kuliah yang mencoba merangkai kembali "kita" sebagai puzzle, dalam bingkai ke-Indonesiaa-an yang tunggal. Bhinneka Tunggal Ika.
Ya, berbeda, tapi sekali lagi ketika perbedaan itu tak bisa dilengkapi, maka akan ada bagian yang kosong. Kekosongan itu harus diisi dengan persatuan. Persatuan yang emmbutuhkan semua elemen ke-Indonesia-an untuk melengkapi sebuah bingkai besar, Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Analogi yang tak main-main. Walaupun minim persiapan (hanya 1 minggu), tapi film yang diproduksi selama 3 minggu ini benar-benar manis untuk menjawab segala tantangan Indonesia di masa kini. BUkan saja mengenai pluralisme, tapi juga berbica penghargaan pada mereka yang kadang tidsk pernah kita sentuh. Bukan saja mengenai bagaimana belajar tentang Indonesia, tapi juga bagimana kita mengajarkan pada semua orang yang kita kenal mengenai indahnya Indonesia yang sesungguhnya.
Kalah jadi abu, menang jadi arang. Sebuah ungkapan yang juga muncul sebagai pemanis. Pertikaian sebenarnya bukanlah sebuah solusi. Kepingan Puzzle hanya bisa disusun dengan landasan logika dan juga kesabaran. Ketika semua itu luntur, maka emosi yang berlebihan selanjutnya akan merusak bingkai persatuan yang telah dibangun dengan perjuangan besar jauh-jauh hari.
Bukan lagi tugas para pahlawan untuk menyatukan kepingan-kepingan tersebut, tapi sekarang sudah menjadi tugas kita untuk merekatkan diri satu sama lain. Memberikan sebuah kehangatan tentang bagiaman bingkai Indoensia bisa distukan. Bukan lagi berpikir tentang say, tapi tentang kita. Bukan lagi berpikir bagiamana caranya menjadi kaya, tapi bagaimana caranya menjadi berharga. Bukan lagi berseru "Ini Tuhanku", tapi berpikir "Cara Tuhan untuk menyayangi mereka". Ya, hanya sebuah ulasan kecil, menanggapinya dengan opini. Dan menurut saya, walupun film ini sangat minimalis dari segi peran, tapi menjadi sangat manis untuk menggugah ke-Indonesia-an. Sukses Satu Atap. Sukses terus FSMR ISI. Saya tunggu screening karya selanjutnya.
Kamis, 24 November 2011
Selasa, 22 November 2011
Bersyukur dan Kurang Mensyukuri
Judul yang hanya berupa formulasi kata jika ya maka lawannya adalah tidak. Tapi sebenarnya yang ingin saya bahas bukanlah apa itu bersyukur apa itu kurang mensyukuri. Saya hanya ingin menulis berbagai pengalaman saya terkait bersyukur dan tidak mensyukuri.
Bersyukur. Benarkah setiap orang, setiap hari bersyukur. Saya tidak mau munafik, saya sendiri masih belum bisa bersyukur setiap harinya. Hal ini memang bukan menjadi sebuah kebiasaan. Okelah, sesekali saya mensyukuri sesuatu tanpa ada sebabnya, berdoa dengan syukur karena mengingat kalau kita harus bersyukur atas segala sesuatu.
Pengalaman lebih dalam lagi, saya diajak bersyukur melihat segala keindahan yang ada. Ironisnya, bersyukur semacam menjadi sebuah alat untuk menakut-nakuti anak kecil. “Kalau kamu gak bersyukur, nanti Tuhan marah. Kamu nanti dapat sial” hal itupun seringkali direpresentasikan dalam produk-produk audiovisual. Akan tetapi, harusnya ada sebuah pendidikan yang lebih dalam untuk menjelaskan kenapa kita musti bersyukur.
Pengalaman saja, saya cenderung bersyukur ketika sudah mepet sekali. Kalau sudah tidak ada uang, dapet uang seribu saja sudah sangat alhamdullilah. Bahkan lebih dari itu, ketika sudah mepet, rasa syukur yang mendalam akan dirasakan dengan sangat menjaga uang tersebut. Ya, sebenarnya terlalu kontras juga ketika menghubungkan syukur dengan uang, akan tetapi ini adalah sebuah contoh yang nyata. oRang bersyukur ketika mendapatkan uang. Ya, uang memang adalah sebuah alat pembayaran, tapi harusnya yang disyukuri adalah kehidupan, fasilitas untuk berbagi yang ada di balik uang itu. Bukan sebuah kemewahan, bukan lagi penderitaan yang bisa ditimbulkan dari uang.
Sebenarnya dari hal-hal tersebutlah kemudian kita bisa mensyukuri sesuatu. Lebih lagi, kita akan mensyukuri dengan menghargai sesuatu itu. Saat sudah mepet. Benarkah semua orang bersyukur setiap hari, atau HARUS bersyukur setiap hari? Menurut saya manut saja pada ego masing-masing. Sekali lagi syukur itu harusnya timbul dari pengalaman yang sudah terarah dengan baik, bukan lagi atas dasar paksaan dan ketakutan akan Tuhan. Hahaha..sekali lagi saya masih percaya Tuhan adalah konstruksi masing-masing manusia dalam bahasa ke-Tuhanan mereka.
Nah, sekarang, ketika kita sedang tidak kepepet atau sedang berlimpah, apakah kita tidak bersyukur? Bukan, saya tidak mengatakan seperti itu. Akan tetapi kecenderungannya adalah kita menghilangkan rasa syukur tersebut setelah menerima berkah. Boleh lhah setelah sekian lama kepepet, kita akan mengahrgai sesuatu yang datang sebagai jawaban atas situasi mepet. Akan tetapi, ketika berkah tersebut terus-menerus datang, ya rasa syukur itu sebnarnya sedag diuji.
Saya punya pengalaman. Ketika habis memenangkan sebuah event, saya cenderung takut. Saya merasa saya berada di sana hanya atas dasar luck bukan kemampuan yang saya punya. Selanjutnya saya terus berada pada titik ketakutan, apakah karya-karya saya kemudian juga bisa diapresiasi. Saya kemudian takut, apakah saya akan terus dibanding-bandingkan. Haha..ya, rasa takut ini kemudian membuat saya jauh dari rasa syukur. Sangaattt jauuuhh..
Hal yang kontras, tapi senada juga pernah saya alami. Kontras dalam rasa takut, senada dalam ketidakbersyukuran. Saat saya mempunyai banyak sekali uang hasil pekerjaan, uang menjadi begitu gampang dibuang. Ah, saya sangat tidak mensyukuri sepeser uang. Saya menjadi lupa makna-makna di balik uang tersebut. Saya membuangnya dengan mudah.
Hahaha..ya hanya share saja tentang bersyukur dan tidak bersyukur. Saya merasa sebenarnya syukur itu tidak perlu ditunjukkan pad orang lain. Syukur yang harusnya dimenegerti pun harusnya lebih dari Terimakasih saya mendapat uang. Tapi mensyukuri pula apa yang ada di balik uang, di balik berkat dengan memahami dan melakukan aksi. Kalua uang ya, boleh lho berbagi rasa syukur dengan memberi sedekah pada yang membutuhkan (teman yang bokek mungkin). Tapi yang lebih penting lagi, syukur seharusnya lahir dari refleksi atas situasi lupa bersyukur. Ya, ini snagat penting karena akan ada makna yang lebih di balik rasa syukur tersebut dibanding ketika kita bersyukur hanya karena ingat paksaan saja.
Selamat menikmati hari, berefleksi dan menemukan begitu banyak berkah yang bisa disyukuri )
Bersyukur. Benarkah setiap orang, setiap hari bersyukur. Saya tidak mau munafik, saya sendiri masih belum bisa bersyukur setiap harinya. Hal ini memang bukan menjadi sebuah kebiasaan. Okelah, sesekali saya mensyukuri sesuatu tanpa ada sebabnya, berdoa dengan syukur karena mengingat kalau kita harus bersyukur atas segala sesuatu.
Pengalaman lebih dalam lagi, saya diajak bersyukur melihat segala keindahan yang ada. Ironisnya, bersyukur semacam menjadi sebuah alat untuk menakut-nakuti anak kecil. “Kalau kamu gak bersyukur, nanti Tuhan marah. Kamu nanti dapat sial” hal itupun seringkali direpresentasikan dalam produk-produk audiovisual. Akan tetapi, harusnya ada sebuah pendidikan yang lebih dalam untuk menjelaskan kenapa kita musti bersyukur.
Pengalaman saja, saya cenderung bersyukur ketika sudah mepet sekali. Kalau sudah tidak ada uang, dapet uang seribu saja sudah sangat alhamdullilah. Bahkan lebih dari itu, ketika sudah mepet, rasa syukur yang mendalam akan dirasakan dengan sangat menjaga uang tersebut. Ya, sebenarnya terlalu kontras juga ketika menghubungkan syukur dengan uang, akan tetapi ini adalah sebuah contoh yang nyata. oRang bersyukur ketika mendapatkan uang. Ya, uang memang adalah sebuah alat pembayaran, tapi harusnya yang disyukuri adalah kehidupan, fasilitas untuk berbagi yang ada di balik uang itu. Bukan sebuah kemewahan, bukan lagi penderitaan yang bisa ditimbulkan dari uang.
Sebenarnya dari hal-hal tersebutlah kemudian kita bisa mensyukuri sesuatu. Lebih lagi, kita akan mensyukuri dengan menghargai sesuatu itu. Saat sudah mepet. Benarkah semua orang bersyukur setiap hari, atau HARUS bersyukur setiap hari? Menurut saya manut saja pada ego masing-masing. Sekali lagi syukur itu harusnya timbul dari pengalaman yang sudah terarah dengan baik, bukan lagi atas dasar paksaan dan ketakutan akan Tuhan. Hahaha..sekali lagi saya masih percaya Tuhan adalah konstruksi masing-masing manusia dalam bahasa ke-Tuhanan mereka.
Nah, sekarang, ketika kita sedang tidak kepepet atau sedang berlimpah, apakah kita tidak bersyukur? Bukan, saya tidak mengatakan seperti itu. Akan tetapi kecenderungannya adalah kita menghilangkan rasa syukur tersebut setelah menerima berkah. Boleh lhah setelah sekian lama kepepet, kita akan mengahrgai sesuatu yang datang sebagai jawaban atas situasi mepet. Akan tetapi, ketika berkah tersebut terus-menerus datang, ya rasa syukur itu sebnarnya sedag diuji.
Saya punya pengalaman. Ketika habis memenangkan sebuah event, saya cenderung takut. Saya merasa saya berada di sana hanya atas dasar luck bukan kemampuan yang saya punya. Selanjutnya saya terus berada pada titik ketakutan, apakah karya-karya saya kemudian juga bisa diapresiasi. Saya kemudian takut, apakah saya akan terus dibanding-bandingkan. Haha..ya, rasa takut ini kemudian membuat saya jauh dari rasa syukur. Sangaattt jauuuhh..
Hal yang kontras, tapi senada juga pernah saya alami. Kontras dalam rasa takut, senada dalam ketidakbersyukuran. Saat saya mempunyai banyak sekali uang hasil pekerjaan, uang menjadi begitu gampang dibuang. Ah, saya sangat tidak mensyukuri sepeser uang. Saya menjadi lupa makna-makna di balik uang tersebut. Saya membuangnya dengan mudah.
Hahaha..ya hanya share saja tentang bersyukur dan tidak bersyukur. Saya merasa sebenarnya syukur itu tidak perlu ditunjukkan pad orang lain. Syukur yang harusnya dimenegerti pun harusnya lebih dari Terimakasih saya mendapat uang. Tapi mensyukuri pula apa yang ada di balik uang, di balik berkat dengan memahami dan melakukan aksi. Kalua uang ya, boleh lho berbagi rasa syukur dengan memberi sedekah pada yang membutuhkan (teman yang bokek mungkin). Tapi yang lebih penting lagi, syukur seharusnya lahir dari refleksi atas situasi lupa bersyukur. Ya, ini snagat penting karena akan ada makna yang lebih di balik rasa syukur tersebut dibanding ketika kita bersyukur hanya karena ingat paksaan saja.
Selamat menikmati hari, berefleksi dan menemukan begitu banyak berkah yang bisa disyukuri )
Nadia
"aku lebih suka dikerjai, daripada harus membantu ibu membereskan gerobak yang kami tinggal"
Pagi ini aku sedang membantu ibu membereskan gerobak jualan kami. Rutinitas seperti ini kami lakukan setiap hari, untuk mencari sesuap nasi. O ya, namaku Nadia, perempuan 15 tahun yang sudah tak gadis lagi. Heran kan? Tapi memang aku sudah tak gadis lagi di umurku yang masih sangat hijau. Aku sudah datang di pinggiran jalan Suramadu ini dari jam 8 pagi dan sudah sejam lamanya kami beres-beres. Beginilah nasib kami, uang datang seperti keberuntungan. Dan benar, ternyata tak lama setelah kami beres-beres datang orang-orang beseragam lagi.
Tanganku digenggam Ibu, kami mencoba lari. Ibu menggeretku keluar dari jembatan untuk menghindari pria-pria berseragam itu. Tapi, aku melepaskan tangan ibu. Aku sudah kecewa dengan ibu yang berulang kali meninggalkanku. Aku memang tak bisa bicara dan mendengar, tapi sakit rasanya ketika ibu berulangkali tak pernah mengucap namaku ketika aku pergi. Kini ibu mengenggam tanganku pun hanya karna takut, ketika para seragam itu bercerita aku bertemu ayahku di penjara.
Aku menyerahkan diri lagi pada pria-pria berseragam yang berulangkali mengerjaiku itu. Aku lebih suka dikerjai dan setelahnya melepas rindu dengan ayah yang katanya merekayasa penculikan, daripada harus tinggal ketakutan di rumah dan disuruh-suruh ibu memberesi gerobak yang kami tinggal.
Pria-pria berseragam itu membawaku dengan mobil bertempat duduk yang mereka miliki. Heran, sesampainya di kantor yang jadi satu dengan bui, mereka mendiamkanku. Mereka seakan tak melihat mataku yang minta dikerjai, mereka juga tak lihat tetesan air dari mataku yang rindu ayahku. Satu hari lebih mereka mencoba menggeretku keluar dari tempat itu, tapi aku tak mau sebelum bertemu ayahku. Mereka kemudian bercerita dengan nada yang tak kedengaran, tapi mimik muka mereka marah, dan saya tahu maksudnya. Ayah sudah keluar dari bui, mereka tak tahu dia pergi entah kemana.
Ah, aku seketika keluar dari tempat itu. Aku berjalan tak tahu entah kemana. Aku ingin jauh-jauh dari rumah, aku ingin jauh-jauh dari pria-pria berseragam. Aku ingin bertemu ayah. Aku teringat cerita ibu. Ketika sedang mencuci, aku membuka buku-buku catatannya. “Lebih baik dikerjai perampok, daripada main biasa sama suami sendiri.” Aku tak tahu maksudnya, tapi aku membaca bagian lain. Luka ibu ketika diperkosa oleh perampok. Ibu akhirnya kesampaian punya anak, walaupun cacat seperti saya. Ibu menuliskan kalau ayah seperti bajingan yang tidak pernah mencari nafkah, tidak bisa memberi kepuasan, tidak pernah menanamkan benih anak. Luka tersebut semakin dalam, ketika ayah tak bisa berbuat apa-apa saat ibu diperkosa oleh perampok. Hingga akhirnya ibu menjadi setengah gila. Ibu kemudian minggat dari rumah ayah, dan mencari si perampok dengan membawaku dalam kandungannya.
Ibu hidup di jalan dan terus mendambakan raut wajah si perampok. Tapi dalam perjalanannya dia tak sadar kalau aku sudah hampir lahir. Ibu hanya singgah di emperan toko, dan tidur, mengerang-erang kesakitan di situ ketika aku akan lahir. Untung ada orang Cina baik yang mendengar erangan Ibu. Koh Liang membawa ibu ke rumah sakit, membayar semua biaya pengobatan dan memberi kami sebuah rumah singgah. Koh Liang yang kemudian memperistri ibu saya, mengajari ibu untuk mandiri dan bekerja lagi.
Aku telah jauh, entah berjalan kemana. Dalam ingatan tentang cerita ibu, aku selalu teringat tentang perasaan ibu yang hingga kini masih disimpan kepada perampok yang memperkosanya. Entah perasaan benci, atau rasa terimakasih. Hal yang sudah pasti adalah, ibu gembira ketika aku lahir dan membenciku seumur hidup saat dia tahu aku bisu dan tuli.
Aku berjalan terus, hingga melewati sebuah rumah berperawakan China. Rumah dengan dekorasi serba merah itu mengingatkanku pada kematian ayah tiriku, Koh Liang. Waktu itu ibu masuk ke warung Koh Liang, hendak mengambil beberapa uang. Koh Liang mengetahuinya, dia sudah lama menyimpan benci pada ibu yang masih menyimpan hasrat pada si perampok sejak Koh Liang menikahinya. Melihat peluang menjebloskan ibu ke penjara, Koh Liang membekap ibu di depan mataku. Koh Liang mencoba menyeret ibu ke luar warung. Akan tetapi ibu keburu mengambil pisau dan menghujamkan pisau itu ke perut Koh Liang. Ditendangnya kemaluan koh Liang dan dicabik-cabiknya tubuh Koh Liang dengan mata dendam.
Ahhhhhhhhhhhhhhhhh.. aku berteriak kencang ketika mengingat kejadian itu. Aku diinterogasi oleh banyak polisi. Ibu dengan muka tanpa dosa melimpahkan kesalahannya padaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu aku berumur 10 tahun. Aku dikerjai oleh pria-pria berseragam untuk pertama kalinya. Setelah dua hari dikerjai, aku dilepas begitu saja, karna menurut mereka aku punya gangguan jiwa. Ahhhhhhh, aku berteriak sekali lagi. Aku benci pulang, aku benci ibu. Tapi hasratku dengan ibu untuk dikerjai sama. Kami ingin bertemu dengan orang yang pertama kali mengerjai kami.
Lama sekali aku hanya diam di depan rumah serba merah itu untuk merenungi nasib. Tiba-tiba pintunya terbuka, aku lagi-lagi sudah salah arah. Ibu muncul dari balik pintu, dengan senyum sinis menjewerku masuk ke dalam rumah. Ah, bangunan ini bangunan dari Koh Liang. Aku sudah menuju rumah. Aku tak tahu kenapa, aku rindu penyiksaan-penyiksaan di dalam rumah ini.
Pagi ini aku sedang membantu ibu membereskan gerobak jualan kami. Rutinitas seperti ini kami lakukan setiap hari, untuk mencari sesuap nasi. O ya, namaku Nadia, perempuan 15 tahun yang sudah tak gadis lagi. Heran kan? Tapi memang aku sudah tak gadis lagi di umurku yang masih sangat hijau. Aku sudah datang di pinggiran jalan Suramadu ini dari jam 8 pagi dan sudah sejam lamanya kami beres-beres. Beginilah nasib kami, uang datang seperti keberuntungan. Dan benar, ternyata tak lama setelah kami beres-beres datang orang-orang beseragam lagi.
Tanganku digenggam Ibu, kami mencoba lari. Ibu menggeretku keluar dari jembatan untuk menghindari pria-pria berseragam itu. Tapi, aku melepaskan tangan ibu. Aku sudah kecewa dengan ibu yang berulang kali meninggalkanku. Aku memang tak bisa bicara dan mendengar, tapi sakit rasanya ketika ibu berulangkali tak pernah mengucap namaku ketika aku pergi. Kini ibu mengenggam tanganku pun hanya karna takut, ketika para seragam itu bercerita aku bertemu ayahku di penjara.
Aku menyerahkan diri lagi pada pria-pria berseragam yang berulangkali mengerjaiku itu. Aku lebih suka dikerjai dan setelahnya melepas rindu dengan ayah yang katanya merekayasa penculikan, daripada harus tinggal ketakutan di rumah dan disuruh-suruh ibu memberesi gerobak yang kami tinggal.
Pria-pria berseragam itu membawaku dengan mobil bertempat duduk yang mereka miliki. Heran, sesampainya di kantor yang jadi satu dengan bui, mereka mendiamkanku. Mereka seakan tak melihat mataku yang minta dikerjai, mereka juga tak lihat tetesan air dari mataku yang rindu ayahku. Satu hari lebih mereka mencoba menggeretku keluar dari tempat itu, tapi aku tak mau sebelum bertemu ayahku. Mereka kemudian bercerita dengan nada yang tak kedengaran, tapi mimik muka mereka marah, dan saya tahu maksudnya. Ayah sudah keluar dari bui, mereka tak tahu dia pergi entah kemana.
Ah, aku seketika keluar dari tempat itu. Aku berjalan tak tahu entah kemana. Aku ingin jauh-jauh dari rumah, aku ingin jauh-jauh dari pria-pria berseragam. Aku ingin bertemu ayah. Aku teringat cerita ibu. Ketika sedang mencuci, aku membuka buku-buku catatannya. “Lebih baik dikerjai perampok, daripada main biasa sama suami sendiri.” Aku tak tahu maksudnya, tapi aku membaca bagian lain. Luka ibu ketika diperkosa oleh perampok. Ibu akhirnya kesampaian punya anak, walaupun cacat seperti saya. Ibu menuliskan kalau ayah seperti bajingan yang tidak pernah mencari nafkah, tidak bisa memberi kepuasan, tidak pernah menanamkan benih anak. Luka tersebut semakin dalam, ketika ayah tak bisa berbuat apa-apa saat ibu diperkosa oleh perampok. Hingga akhirnya ibu menjadi setengah gila. Ibu kemudian minggat dari rumah ayah, dan mencari si perampok dengan membawaku dalam kandungannya.
Ibu hidup di jalan dan terus mendambakan raut wajah si perampok. Tapi dalam perjalanannya dia tak sadar kalau aku sudah hampir lahir. Ibu hanya singgah di emperan toko, dan tidur, mengerang-erang kesakitan di situ ketika aku akan lahir. Untung ada orang Cina baik yang mendengar erangan Ibu. Koh Liang membawa ibu ke rumah sakit, membayar semua biaya pengobatan dan memberi kami sebuah rumah singgah. Koh Liang yang kemudian memperistri ibu saya, mengajari ibu untuk mandiri dan bekerja lagi.
Aku telah jauh, entah berjalan kemana. Dalam ingatan tentang cerita ibu, aku selalu teringat tentang perasaan ibu yang hingga kini masih disimpan kepada perampok yang memperkosanya. Entah perasaan benci, atau rasa terimakasih. Hal yang sudah pasti adalah, ibu gembira ketika aku lahir dan membenciku seumur hidup saat dia tahu aku bisu dan tuli.
Aku berjalan terus, hingga melewati sebuah rumah berperawakan China. Rumah dengan dekorasi serba merah itu mengingatkanku pada kematian ayah tiriku, Koh Liang. Waktu itu ibu masuk ke warung Koh Liang, hendak mengambil beberapa uang. Koh Liang mengetahuinya, dia sudah lama menyimpan benci pada ibu yang masih menyimpan hasrat pada si perampok sejak Koh Liang menikahinya. Melihat peluang menjebloskan ibu ke penjara, Koh Liang membekap ibu di depan mataku. Koh Liang mencoba menyeret ibu ke luar warung. Akan tetapi ibu keburu mengambil pisau dan menghujamkan pisau itu ke perut Koh Liang. Ditendangnya kemaluan koh Liang dan dicabik-cabiknya tubuh Koh Liang dengan mata dendam.
Ahhhhhhhhhhhhhhhhh.. aku berteriak kencang ketika mengingat kejadian itu. Aku diinterogasi oleh banyak polisi. Ibu dengan muka tanpa dosa melimpahkan kesalahannya padaku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu aku berumur 10 tahun. Aku dikerjai oleh pria-pria berseragam untuk pertama kalinya. Setelah dua hari dikerjai, aku dilepas begitu saja, karna menurut mereka aku punya gangguan jiwa. Ahhhhhhh, aku berteriak sekali lagi. Aku benci pulang, aku benci ibu. Tapi hasratku dengan ibu untuk dikerjai sama. Kami ingin bertemu dengan orang yang pertama kali mengerjai kami.
Lama sekali aku hanya diam di depan rumah serba merah itu untuk merenungi nasib. Tiba-tiba pintunya terbuka, aku lagi-lagi sudah salah arah. Ibu muncul dari balik pintu, dengan senyum sinis menjewerku masuk ke dalam rumah. Ah, bangunan ini bangunan dari Koh Liang. Aku sudah menuju rumah. Aku tak tahu kenapa, aku rindu penyiksaan-penyiksaan di dalam rumah ini.
Rabu, 09 November 2011
Tuhan
Bukan untuk menambanh definisi tentang Tuhan, tapi hanya ingin mengungkapkan kembali definisi-definisi yang telah ada tentang Tuhan. Berbicara tentang Tuhan dalam kelas PNI, membuat saya terinspirasi untuk menyindir mereka yang berdoa dengan nama baik Allah, memuji dengan lantang dan keras nama Allah. Tapi, menurut pemikiran saya, pemahaman Allah dalam kuasa kebaikan adalah sesuatu yang sempit. Akan saya jelaskan hal ini dalam paragraf selanjutnya, tapi sebelumnya ijinkan saya share ayat ini:
“ Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. ”
See....walaupun mungkin penafsiran saya tidak 100% benar,,tapi saya melihat sebuah pencerahan untuk menilai orang lain. Ya, tidak usah banyak bicara tentang ini..tak ada kaitannya sedikitpun dengan apa yang saya tuliskan dalam kelas PNI tentang Tuhan. Aneh ya, bicara iklan, tapi bicara Tuhan, kontras terasa..tapi ya sudah lah...ini tulisan saya...
Tuhan.
Tuhan selama ini digambarkan duduk di sebelah kanan. Hal itu yang kemudian membuat "kanan" identik dengan kebaikan surgawi. Ya, surgawi, ketika semua orang percaya bahwa Tuhan tinggal di surga. Tuhan, menghalau setan yang bermuram di neraka, yang selama ini selalu di-"kiri"-kan. Seperti analogi tentang malaikat dan bidadari, mengalahkan setan berarti sebuah berkah. Karena berkah melimpah itulah, kemudian Tuhan menjadi muara segala doa. Tapi, menurut saya Tuhan itu juga hadir dalam sifat ke-"kiri"an manusia. Tuhan yang dianggap Agung, pasti punya kuasa atas segala kejahatan yang bebas dari jeratan. Ya, Tuhan itu kuasa, oleh karenanya masing-masing manusia punya peranan juga untuk menggunakan kuasa itu. Berarti Tuhan dikendalikan manusia? Sekali lagi, bukan bermaksud menjadi Agnostik, tapi manusia punya kuasa untuk menciptakan imaji tentang Tuhan dalam bahasa ke-Tuhan-n mereka masing-masing.
See, Tuhan dan manusia adalah hubungan imaji yang pribadi. Jadi buat apa saya berteriak-teriak memuji Tuhan untuk didengar? sepertinya tidak berguna ketika imaji pribadi tersebut tak muncul dalam kuasa yang lebih hakiki dan esensial, yaitu sikap. Silahkan berimaji, silahkan memuji, tapi jangan lupa sinkronisasi dengan sikap, pikiran dan perbuatan :))
“ Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. ”
See....walaupun mungkin penafsiran saya tidak 100% benar,,tapi saya melihat sebuah pencerahan untuk menilai orang lain. Ya, tidak usah banyak bicara tentang ini..tak ada kaitannya sedikitpun dengan apa yang saya tuliskan dalam kelas PNI tentang Tuhan. Aneh ya, bicara iklan, tapi bicara Tuhan, kontras terasa..tapi ya sudah lah...ini tulisan saya...
Tuhan.
Tuhan selama ini digambarkan duduk di sebelah kanan. Hal itu yang kemudian membuat "kanan" identik dengan kebaikan surgawi. Ya, surgawi, ketika semua orang percaya bahwa Tuhan tinggal di surga. Tuhan, menghalau setan yang bermuram di neraka, yang selama ini selalu di-"kiri"-kan. Seperti analogi tentang malaikat dan bidadari, mengalahkan setan berarti sebuah berkah. Karena berkah melimpah itulah, kemudian Tuhan menjadi muara segala doa. Tapi, menurut saya Tuhan itu juga hadir dalam sifat ke-"kiri"an manusia. Tuhan yang dianggap Agung, pasti punya kuasa atas segala kejahatan yang bebas dari jeratan. Ya, Tuhan itu kuasa, oleh karenanya masing-masing manusia punya peranan juga untuk menggunakan kuasa itu. Berarti Tuhan dikendalikan manusia? Sekali lagi, bukan bermaksud menjadi Agnostik, tapi manusia punya kuasa untuk menciptakan imaji tentang Tuhan dalam bahasa ke-Tuhan-n mereka masing-masing.
See, Tuhan dan manusia adalah hubungan imaji yang pribadi. Jadi buat apa saya berteriak-teriak memuji Tuhan untuk didengar? sepertinya tidak berguna ketika imaji pribadi tersebut tak muncul dalam kuasa yang lebih hakiki dan esensial, yaitu sikap. Silahkan berimaji, silahkan memuji, tapi jangan lupa sinkronisasi dengan sikap, pikiran dan perbuatan :))
Penghiburan Diri
ketika kamu terlarut dalam imaji,
yang kamu rasakan hanyalah bayangan mimpi..
kadang tak mengandung esensi,,
hingga akhirnya kamu berdiskusi dalam diri..
kalau kamu sebenarnya adalah orang yang berambisi....
hanya sebatas ambisi..tanpa eksekusi pasti,,
bukan eksekusi untuk mebayar kebutuhan diri,,
tapi untuk menggali...
atas apa saja dirimu berdiri..
hingga kini..kau melupakan kembali Ilahi,
hanya untuk meretas panggilan diri...
Sidhi....
ayo kembali,,pada siapa yang hendak kau kasihi :))
yang kamu rasakan hanyalah bayangan mimpi..
kadang tak mengandung esensi,,
hingga akhirnya kamu berdiskusi dalam diri..
kalau kamu sebenarnya adalah orang yang berambisi....
hanya sebatas ambisi..tanpa eksekusi pasti,,
bukan eksekusi untuk mebayar kebutuhan diri,,
tapi untuk menggali...
atas apa saja dirimu berdiri..
hingga kini..kau melupakan kembali Ilahi,
hanya untuk meretas panggilan diri...
Sidhi....
ayo kembali,,pada siapa yang hendak kau kasihi :))
Kamis, 03 November 2011
Mau Puisi

http://news-todayz.blogspot.com/2011/09/pantun-cinta.html
Kalau basa bisa jadi busa
kalau asam bisa jadi garam
keduanya bisa jadi netral
tapi...
kalau cinta jadi buta
dan benci jadi risih
bisa gak keduanya menjadi netral?
kontras terasa,
walaupun banyak yang tidak merasa...
banyak problema...
teman, saya butuh kata netral...
teman, ayo kita berdamai dengan semua hal...
jangan jadikan hal-hal tersebut semakin bebal...
awet....teredam dalam kalbu masing-masing...
Little Terrorist
Coba sebelum Anda, pengunjung membaca ulasan saya, tonton hingga lengkap film yang sangat menginspirasi saya ini.
Sudah??
Baik, Anda bisa membaca ulasan saya jika tidak paham.
Sebelum mengulas, saya ingin bercerita terlbih dahulu bahwa saya mendapatkan referensi film ini dari dosen Penulisan Skenario, Bapak Tri Giovanni. Sekali lagi saya adalah anak iklan yang setengah jurnalis. Saya memang tertarik dengan film-film yang mengedepankan isu-isu perang dan sensitivitas warga masyarakat terhadap isu-isu tersebut. Kenapa? Karna film-film tersebut memberikan alur yang rapih menurut saya. Tengok saja Life Is Beautiful, atau Boy in the Stripped Pyjamas. Dua film favorit saya yang mengedepankan sisi humanitas dilihat dari korban, dan benar-benar membuat penonton akan trenyuh dan masuk dalam cerita. Film-film semacam itu bukanlah sebuah film yang mahal dibandingkan dengan Twilight, Harry Potter, Transformer ataupun Avatar, tapi nilai lebih dari film itu ada pada penggalian cerita yang riil. Penggalian makna yang ingin disampaikan juga menjadi satu sisi yang membutuhkan perjuangan. Tidak bisa dibandingkan memang antara genre fantasi dengan genre drama perang, tapi cukup memberi saya pemahaman bahwa Anda harus menonton film-film drama perang!
Kembali pada Little Terrorist, sebuah film pendek, singkat yang menyabet penghargaan Oscar. Kami mengulas film ini dalam kelas. Satu hal yang paling kentara dari film ini adalah sisi budaya. Ya, budaya yang sebenarnya hampir sama anatara orang Pakistan dan Indisa, cuma agama saja yang membedakan, menjadi unsur yang kental terasa dari awal hingga akhir scene. Pakaian, simbol-simbol budaya lewat tempat tinggal hingga makanan. Walaupun ditampilkan oleh dua tokoh yang sangat kontras, antara India dan Pakistan, tapi sekali lagi unsur budaya menjadi pemersatu kedua pihak ini. Beda dengan film Indonesia yang kadang kebarat-baratan, bahkan jarang yang ke-Indonesia-ke-Indonesiaan, mungkin realitas ke-Indonesiaan juga sudah mulai luntur berganti seiring perkembangan jaman, mungkin.
Kembali ke film pendek ini. Bayangkan ketika Anda harus melewati ladang ranjau, berlari dari bahaya militer yang terkadang sangat otoriter dan ganas hanya untuk sekedar mengetahui siapa yang mereka kejar. Guys, saya yakin, sikap militan ini juga terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Banyak stigma-stigma kita munculkan bersama, hal ini yang kemudian menghapus toleransi kita bahkan sekedar untuk mengetahui siapa yang berebda dari kita. Ahmadiyah menjadi contoh kasus yang paling nyata untuk direfleksikan dalam kehidupan beragama yang sebenarnya sangat militan. Kadang saya teringat perkataan Sakti Makki dalam seminar Pinasthika, Agama adalah brand terlama dan kita tidak tahu produknya apa. Ya, ketika kita membela agama dengan fantisme, lalu banyak yang mengartikan produk Agama adalah sebuah pencerahan yang dilakukan dengan militansi mental yang berujung pada kekerasan fisik. Hal ini nyata terjadi dan tergambar jelas dalam Little Terrorist berdurasi 16 menit ini.
Anda tahu? kepala botak menjadi identitas utama yang wajib dipatuhi. Nama Islam menjadi sangat tabu untuk diucapkan. Begitu pula dengan berbagi piring, menjadi haram ketika dilihat dari sudut pandang Agama. Tapi ketika pergulatan-pergulatan keagaamaan digambarkan secara manusiawi, Anda lihat sendiri hasil penggambarannya. Anaka menjadi lebih memahami apa itu Hindu, bagaiaman mereka menyelamatkan nyawa tanpa pamrih. Tapi si Hindu juga kemudian dapat berbicara secara manusiawi bahwa Islam ternyata lugu.
Ya, dalam tataran manusiawi sekali lagi kita bisa melihat keseimbangan kehidupan. Tidak ada yang salah tidak ada yang benar, yang ada hanyalah selalu berubah. Kehidupna harusnya dimaknai dengan sikap mental yang menghamba. Ketika manusia merasa superior dengan kedekatan mereka yang sungguh eksklusif dengan Tuhan, maka komunikasi antar manusia tidak akan dapat terjalin dengan harmonis. Akan tetapi, ketika manusia menjadi hamba yang sama dalam dunia, niscaya kehidupan akan menjadi lebih bermakna. Teman, Anda mehat senyuman di akhir scene? senyuman yang saya tidak tahu, apakah senyuman gembira atas pembebasan si Anak dari kematian atau senyuman sinis akan keadaan yang sebenarnya tidak perlu menuphak darah. Saya tidak tahu, tapi senyuman bahkan suara tawa si Anak PAkistan mampu membuka mata saya, bahwa dalam penderitaan akan perbedaan, ternyata ada secercah harapan untuk menyatukan. Teman, lihat sekitarmu, jangan lagi meninggikan dirimu atas Tuhan, biar saja Tuhan yang meninggikan kodrat Anda ketika Anda menemuinya, dan pasti Anda akan menemuinya. Hukum terutama yang harus dijunjung sekarang adalah cinta kasih. Katakan I LOVE YOU pada orang yang selama ini Anda benci, berikan salam, senyuman dan semangat untuk mereka. Jabat tangan dan mulailah berdiskusi santai. SAya yakin, Anda, mereka dan kita lantas akan menemukan satu titik dimana berbagai warna dapat berbaur. Guys, adakah yang memiliki kerinduan yang sama dengan saya? dengan penulis naskah ataupun orang-orang di balik film pendek ini? dengan mereka yang gencar berbicara tentang perdamaaian? Saya yakin Anda semua punya kerinduan yang sama. Yeah, saya punya banyak teman.. :))
Langganan:
Postingan (Atom)