Kamis, 30 Juli 2015

F


Faisal, sudah kau mandikan adikmu?
Apa? Lubang di selangkang?
Itu namanya vagina, kenapa?
Kau pegang? Jangan!
Kenapa adik menangis?
Kau pegang?
Bagus! Jangan kau pegang!
Sudah, biarkan dia menyabun dirinya sendiri!
Kau cukup menyiram, jangan sentuh macam-macam!

Kau sudah besar sekarang, Faisal.
Ibu mau tanya, mau jadi apa?
Apa? Mau jadi seperti adikmu?

Faisal, kamu yakin?
Lubangmu akan lebih sakit.
Kau siap?
Ibu selalu menyiapkan telinga kalau kau sudah tak kuat mendengar.
Bahu Ibu selalu sedia kalau kau mulai lemah.
Kalau kau yakin, Ibu yakin.

Siapa? Fani?
Ibu suka nama barumu.

Salah Tidur


Lelah
Setiap hari bergulat dengan interpretasi
Busuk, selalu ada bagian tempatmu menusuk
Tidak cukup kau berperang dengan kemacetan?
Setiap pikiran yang mandeg
Muara kekosongan,
Berujung pada kekuasaan

Bicara selalu tentang modal
Kawan kau juga jual
Keluarga biar saja terlantar
Mereka di belakang, mimpimu jauh lebih di depan
Kau tak sempat, tak punya waktu
Sepertinya lehermu sakit
Terlalu lelap tidur, banyak mendengkur
Lupa kalau posisi kepalamu semakin salah

Gurat pada atas dahimu? Apa itu?
Seperti bekas api pada pantat tungku liat yang terbakar terus-terusan
Sebentar lagi retak
Kau terlalu panas, nak
Berhenti sejenak sebelum kaki berontak, matanya lepas kelelahan
Gosok dengan kawat, sepertinya sudah terlalu berkarat

Anakku.
Ini Ibumu.

Bumi.

Hahaha



Hahahahaha.
Bisa melakukannya sekaligus?
Pernah?
Bagaimana bisa buka buku, tutup buku
Buka telinga, tutup telinga
Buka mata, tutup mata
Buka hidung, tutup hidung
Buka mulut, tutup mulut
Mencecap, memuntahkan
Buka pikiran.
Tutup pikiran.
Tutup pikiran.
Tutup.
Masih hidup?
Oh iya.
Hahahaha
Belajar untuk hidup.
Belajar untuk mati.
Tahu siapa aku.
Lupa siapa aku.
Duduk bersama yang kau bilang tak mampu.
Buang muka dengan yang kau bilang tak mampu.
Kenal semua profesi.
Fokus pada profesi.
Mengejar profesi.
Dasar profesional awam.
Kader profesi.
Lalu mati.
Oh belum?
Hahahahaha
Hidup bebas.
Hidup terbatas.
Pergi untuk menang.
Kembali dianggap kalah.
Hidup kok untuk sendiri.
Hidup itu untuk dinikmati.
Eh, ya dinikmati sendiri.
Keluar saja harus ada jam bebas.
Bergaul saja harus jam bebas.
Mengkritik saja lalu dipaksa bebas.
Ah.
Hidupmu serba berbatas.
Sebenarnya diajak tuli. Buta. Bisu. Engap. Lalu Mati, pada saatnya.
Sebelum tersadar.
Atau sebaiknya tidak ada yang sadar.
Sebentar lagi.
Ah, tak pernah benar-benar mati.

Takut tulisan ini berhenti.

Rabu, 29 Juli 2015

Di Dalam Buku-Bukuku Terselip A




Bagi beberapa orang, menenggelamkan diri dalam buku adalah cara yang paling tepat. Paling berhasil untuk menutup sejarah pahit dan tidak merinduinya. Tapi bagiku, sekarang hal itu tampak sama laknatnya dengan menghabiskan waktu bersama piring-piring penghabisan. Memang tidak membuat gendut, atau sebaliknya makin kurus. Memang sempat termanipulasi untuk lupa, tapi kemudian muncul.

Buku adalah jurang kita. Aku suka membelinya, mungkin hal paling ekstrim yang bisa kamu lakukan adalah membakarnya. Aku suka membuka-buka, mungkin akan kau diamkan berjamur di plastic sebelum kau sempat membuka. Tapi di situlah letaknya kerinduan, A. Aku merindukanmu apa adanya. Aku berbicara, kamu mengelak karena pening. Menjadi segar, kau siram dengan gelak tawa dan bibir yang kamu manyun-manyunkan. Hidungmu jadi terlihat lebih mbangir kalau kamu sudah begitu. Siapa yang tidak jatuh?

A, Pernahkah kamu sadar? Dalam tumpukan buku-bukuku, hanya ada satu hal yang konsisten. Wajahmu. Selalu berhasil menjadi penghias. Membuat buku apapun akan aku jaga, takut kamu buang karena judulnya menurutmu terlalu berat. Selain karena memang bobot kita tidak berat-berat amat, tapi juga karena kamu tidak suka aku ganggu dengan pikiran-pikiran yang menurutmu aneh. Buku seserius apapun akan membuatku tersenyum, karena selalu terbayang wajahmu yang manyun. Karena alasan-alasan yang seperti itu, aku menganggapmu aneh. Aku mulai suka hal-hal yang aneh.

Entah. Kamu adalah makhluk pemarah pertama yang tidak membuat aku gampang marah. Boleh lah sekali-sekali aku menggodamu dengan nada yang ngambeg juga. Ngambegmu bikin aku sadar. Yang orang bilang sebagai berisi, justru bisa jadi kosong. Sekosong aku beberapa hari kemarin. Sengaja aku tidak menghubungimu. Takut, sesuatu yang apa adanya itu justru tidak ada. Dan aku sudah merasa kamu memang tidak bisa menerima aku apa adanya.

Sialnya, A. Kenapa waktu itu aku ketemu kamu. Kita saling bertukar nomor. Argh. Kesalahan. Sejak itu kamu selalu muncul lagi di tiap halaman buku. Kali ini aku membayangkan nada penolakan. Cerita sejarah jadi sebuah kisah merindu. Definisi-definisi baru selalu dengan mudah aku lupakan dengan bayangan senyummu. Ah kamu membuat aku kacau. Belum satu buku pun aku selesaikan. Harus kubaca berulang-ulang karena tingkahmu.

Kamu boleh mengindar, kamu boleh beralasan apapun. Tapi aku tetap menganggapmu sebagai pohon teh (tea tree) yang bekerja di toko tubuh. Kamu pernah bilang kalau pohon teh akan sangat bermanfaat untuk menghilangkan jerawat. Jerawatku adalah kerinduan akan dirimu, dan kamu adalah obatnya. Kamu menjual tubuh-tubuh tumbuhan, dan aku setia pada satu tubuh. Tubuhmu, A.
Tubuh yang selalu segar. Menjadi wangi di tiap halaman buku, saat wajahmu mulai muncul.
A.

Kamu tahu? Setiap aku ke toko buku, yang letaknya di lantai 3,
aku rela memutar balik demi mengetahui kabarmu dari jauh.
Syukur-syukur bertemu kamu sebelum aku menuruni escalator satu lantai di bawah .
Dan anehnya, di toko buku aku selalu semangat membaca—bahkan hingga halaman terakhir.
Setelah melewati tempatmu bekerja, saat aku memaksakan diri untuk memutar, aku selalu terpaku pada satu-dua halaman buku. Itupun tak dapat kuingat isinya apa.
Kecuali kerinduan untuk kembali melihat wajahmu, A.
Dan pertanyaan, kapan kamu mau menemuiku, bukan lagi lewat bayangan di buku.


A, tampaknya kamu memang tidak suka dengan hubungan. Entah, pernyataanku itu berlaku khusus atau memang untuk semua yang kamu anggap sebagai hubungan. Tapi A, aku menyediakan diri menjadi orang paling sabar buat kamu. Kalau kamu memang sudah siap, silakan datang. Aku akan menyambutmu dengan buku-bukuku. Kamu boleh pilih salah satu. Yang paling tebal atau yang paling tipis. Sekali saja. Setelah kamu ambil, pakailah buat jitak kepalaku. Biar kamu tahu untuk mencintaimu, aku bahkan rela dikhianati buku-bukuku.

Ucapan Terima Kasih

- mengingat umur tidak membuatmu menjadi lebih dewasa dan bijaksana.

Terima kasih buat teman-teman yang sudah atau tetap berusaha mengingat, baik di memori atau di reminder handphone. Saya sayang kalian semua.