Rabu, 02 November 2011

Kuda Hitam


ini adalah karya anak bangsa. Hahah..ya, iyalah walaupun saya Jawa dan Zendy Cina..tapi kita tetep satu bangsa. Ah, gak penting, yang penting kami tahunya kami adalah anak Indonesia. Ini adalah sebuah karya yang tidak disangka ternyata mampu meluluhkan hati para juri: Mas A'at Mas Andhika dan Mas Arif. Sebenarnya kami tidak yakin dengan karya ini, tapi ternyata karya yang dipilih sebagai amunisi terakhir ini yang membawa pada hadiah karantina selama 5 hari. Perlu diceritakan bagaimana isi dari iklan ini? sepertinya tidak. Yang perlu kami ceritakan adalah karya ini adalah kuda hitam. Tak banyak direspon, bahkan oleh kami sendiri. Tapi, dengan tetap rendah hati..karya-karya ini mendapatkan tanggapan yang diluar keinginan kami. Semangat berkarya, tetap menjadi inspirasi...semoga tetap diam dalam benak kami..dan juga 113 pengentry lain...SEMANGAT :))

Script yang Gagal Dieksekusi, Ada yang Berminat?

CATATAN DUNIAWI
Manusia, Belahan Jiwa dan Tuhan: Menerawang Dalam Lembaran, Seakan Kehidupan Terbayang

SCENE I:
“Cinta itu seakan rasa yang terlalu abstrak, ingin menelan dalam, apa daya....lidah tak mampu mengecap pahit....ingin memuntahkannya dalam bak sampah, tetap mulut tak mau berhenti mengunyah..mengharapkan manis itu datang dengan sendirinya...”
Mata Nuel tak henti-hentinya membaca dan memahami status facebook Aisyah itu. Tak lama kemudian tangannya mulai cekatan berpadu dengan suara ketikan
Kasihan ya si Cinta, bergabung terus dengan liur....diaduk hancur hingga lebur oleh gertakan gigi....
Hahaha....kok kamu tiba-tiba muncul mas Nuel? Apa kabar? Lama tidak berjumpa, padahal kita sama-sama di Yogyakarta....
Lho?? Kok mengalihkan pembicaraan? Kita kan sedang berbicara tentang Cinta dalam mulut, kunyahan duniawi....Hahaha, Baik Aisyah...iya sudah dua bulan kita gak ketemu....
Dua bulan ternyata tidak cukup membuat saya lupa tentang cinta lho....hehe,, kunyahan kita tidak hanya dipelajari dalam keduniawian,, cinta dikunyah dalam iman..Nuel...
Kalau begitu mengapa cinta tidak dibiarkan masuk dalam perut dan menjadi lebih bermakna untuk iman,, dari sekedar rasa yang seringkali ditolak oleh pengecap??
Karna cinta dan iman seringkali seperti lidah yang ingin mengecap manis, tapi mendapat pahit....padahal si empunya lapar berat...haha...seperti kamu tu, tiap jam lapar!!
Ahahaha,, kalau begitu cinta bukan bagian dari iman tu, atau imannya yang sama sekali gak kuat....?? Haha....
Nyindir ni?? Eh, aku Shalat Maghrib dulu ya....sudah dijemput Bapak...
Selamat beribadah Aisyah....
Nuel mematikan koneksi internetnya, berjalan ke arah rak bukunya..mengambil sebuah buku tentang Cinta dan Agama. Membalik halaman demi halaman bukan untuk dibaca, melainkan untuk mencari kalimat yang kemudian akan ditulisnya dalam sebuah catatan. Catatan Duniawi begitu dia memberi judul catatan kecilnya. Banyak kalimat-kalimat singkat, bahkan beberapa adalah tulisan tentang dilema cinta sahabatnya. Nuel menambahkan beberapa kalimat dalam catatannya.
Sudah dua buku dia bolak-balik demi kalimat-kalimat yang berbicara tentang cinta. Buku sudah menjadi belahan jiwanya dua bulan ini. Tidak kurang dari enam kalimat dia tambahkan dalam catatannya. Teng, teng, teng alarm pukul 21.00 menyambut keseriusannya dalam menggoreskan tinta di catatannya. Nuel beranjak dari meja belajarnya menuju ke kamar mandi, membersihkan kaki dan tangannya. Selesai membasuh dirinya sendiri, dia kembali menuju kamar, mengambil secarik kertas bertuliskan SKRIPSI dan menempelkan pada stereofoam di depan meja belajarnya. Nuel mengambil lilin, menyalakannya dan mengambil secarik kertas doa dan mulailah dia berdoa dengan rosario di tangannya.

SCENE II:
Perpustakaan, tempat yang tidak asing lagi untuk Nuel. Dia meletakkan Laptopnya di atas meja, bergegas menuju rak-rak buku keagamaan dan mengambil beberapa buku dari dalamnya. Nuel kembali ke mejanya, bertegur sapa dengan beberapa orang yang memanggilnya dan menanyakan Kapan mau lulus?? Nuel hanya tersenyum kelu sambil kembali ke mejanya. Dia menyalakan Laptopnya, sambil membaca buku-buku yang tadi diambilnya, dia kemudian mengetik beberapa kalimat dengan serius.
“Boy, serius bener lu ngetiknya? Ngebet lulus apa ngebet kawin?” Sapa David temannya.
“Anjrit, diem lu, gw lagi serius ni!!”
“Ahahaha, lu gak lagi ngebet kawin kan?”
“Nyet, gw udah janji sama Aisyah 3 bulan gw udah selesai Skripsi”
“Ah, mengada-ada aja tu babenya, masa’ pacaran aje harus nunggu lu lulus!”
“Iya lhah, Aisyah aja udah kerja.” Jawab Nuel sambil membereskan mejanya dan bergegas keluar.
“Emang Aisyah beneran gak boleh ketemu sama lu?”
“Kalo boleh sih kaga mungkin gw serajin dua bulan ini, Nyet!!”
Mereka berdua melanjutkan obrolan hingga keluar dari peRpustakaan.


SCENE III:
Nuel kembali ke kosnya dengan motornya. Dia mampir sejenak ke Masjid, menemui seorang Bapak dan tergopoh-gopoh bertanya, “Pak, pindah Agama ke Islam kalau karena Cinta kira-kira bertahan berapa lama ya?”
“Nuel, nuel...kamu sudah tanya tentang ini berapa kali? Sekali lagi jawabannya ada di hatimu.” Ujar Bapak itu sambil memegang dada kiri Nuel.
“Tapi, kalau misalnya menikah beda Agama itu dosa tidak menurut Islam?”
“Kamu kan sudah baca bukunya yang saya beri, kamu tahu jawabannya kan?”
“Tapi Pak, kalau menurut Bapak bagaimana saya harus mendekati bapaknya Aisyah?”
“Pakai hatimu, Nak. Dekati dulu anaknya, agar dia percaya iman tidak bermasalah untuk cinta.”
“Ehm, oke Pak. Makasih, Maaf Pak kalau pertanyaan yang sama saya tanyakan berkali-kali.” Nuel pergi berlalu dengan wajah yang agak murung.
“Ikuti hatimu Nu, catatan dalam buku-bukumu berkata hal yang duniawi”

SCENE IV:
Sore menjelang malam, kembali Nuel melahap buku-buku yang tadi dia pinjam di Perpustakaan. Kemudian dia terlihat agak sedikit murung, tampak memikirkan hal lain diluar isi buku tersebut. Kemudian membuka Laptopnya, menyalakannya dan mulai online.
“Eh, Aisyah komen apa ni?”
Nuel: Sudah dua bulan tidak bertemu, saya akhirnya beranikan diri menyapa maya dirinya.
Aisyah: Gimana Skripsinya Mas?
Nuel mulai tenggelam dalam bunyi gemertak jarinya.
Masih stug, tinggal satu minggu lagi ya batasnya? Hahaha
Hahaha, santai aja....Aisyah tunggu kok
Tapi Bapak sepertinya sudah memburu....
Hahahaha....
Kok ketawa?
Abisnya, kayaknya mas Nuel yang sudah memburu lulus *diceritain frater David tadi
Ahahaha, sialan tu anak cerita ke kamu!! Kamu tadi ke perpus juga ya??
Iya,, Cuma bentar....Mas, ada Bapak..bentar yaa...

SCENE V:
Nuel sangat rajin mengejar skripsinya. Bimbingan skripsi dengan seorang Romo Pembimbing. Berdoa dengan lilin dan rosario. Buku yang dipinjam sekarang lebih banyak tentang panggilan.

SCENE VI:
Nuel membuka-buka kembali catatan duniawinya, dia seakan terlena oleh skripsi hingga lupa dengan catatan itu. Dia membaca kembali tulisan Aisyah saat itu
Radikal dan moderat, mencampurkan air dengan minyak....semoga ada sabun basa yang menyatukan keduanya.
Dia kemudian membuka laptop, menuliskan hal tersebut di facebook dengan harapan Aisyah membacanya.
Mas, masih ingat to? Pasti baru buka catatan duniawi ya? Hahaha
Iya, kamu masih ingat buku yang dulu kamu baca sebelum menuliskan kalimat itu?
Masih Mas....saya tidak bisa jalani hubungan beda Agama, apalagi Bapak saya...nunggu janji mas Nuel setelah selesai Skripsi
Bukannya cinta itu biar kita yang berbeda disatukan sehingga ada damai, dek?
Tapi pandangan kami berbeda, saya masih percaya sama bapak..cinta yang dijalani berbeda bikin dosa,, gak di ridhoi..nanti bikin kisruh di antara keluarga....
Aisyah....
Iya...
Tapi....
Mas kan udah janji dulu??
Tapi kayaknya aku gak mau pindah....aku gak yakin,,
Mas... TT
Nuel menghentikan jemarinya sejenak. Dia menutup laptopnya dan berdoa, masih dengan menggantungkan tulisan skripsi di depannya. Tapi kini tulisannya tidak lagi dengan tinta hitam, melainkan tinta merah.

SCENE VII:
2 bulan kemudian
Nuel sudah berada di depan laptop dengan berbagai ucapan selamat yang dia dapatkan atas kelulusannya.
Aisyah: Selamat ya Mas....
Nuel: Makasih....Masih ingat janji kita empat setengah bulan lalu? Saya telat satu setengah bulan nih....hahahaha
Aisyah: Gapapa Mas..hehe..saya tadi ke kampus Mas, tapi mas sudah terlanjur pulang..terus tadi ketemu frater David pas ke Perpustakaan....aku nitip surat untuk Mas ke dia....hahaha...Aisyah tunggu janji Mas...
Nuel: hahaha...aku nanti ke tempat David dulu aja ya....aku baca dulu suratnya, baru nanti kita bahas lagii...
Nuel segera membereskan laptopnya, berganti baju dan bergegas menuju Perpustakaan Kolose Santo Ignatius.
“David ada Mas?”
“Bentar ya saya panggilkan mas Nuel”
“Nu, ini surat dari Aisyah” tiba-tiba David muncul di hadapan Nuel.
Nuel dengan segera membuka surat itu dan membacanya.
Mas, radikal vs moderat....sudah ada sabun basa yang menyatukan..kesabaran Mas!! Hahahaha....Aisyah mau ambil resiko,, Mas gak harus pindah Agama gapapa....nanti Aisyah yang ngomong ke Bapak.
Mas, Aisyah teringat kata-kata Mas. Benar, kata-kata di buku Cuma sesuatu yang semu....idealisme sebagian orang,, bukan kenyataan yang sebenarnya...semu....Aisyah salah menganggap buku-buku keagamaan itu Kehidupan, padahal Aisyah gak dapat kedamaian karena menolak perasaan Aisyah. Maafin Aisyah Mas.
“Vid, lu ada nomer Aisyah yang baru kan? Gw pinjem donk hape lu!” Paksa Nuel sembari merogoh kantong David.
Aisyah, ini Nuel....ketemuan yuk besok jam 2 di Perpustakaan.
“Thanks Vid....”
“Ah, elu mah...maksa jadi orang....Gimana? Besok ketemu Aisyah?”
“Iya....hehehe...” Lalu Nuel membisiki David, sembari keluar dari ruangan.
David melambaikan tangan sambil tersenyum lebar, “Sukses Boy! Gw tunggu!!”

SCENE VIII:
Esoknya Nuel menunggu di Perpustakaan. Sejenak kemudian Aisyah datang dengan jilbab dan rok panjangnya.
“Eh, Aisyah....lama gak ketemu, kangen gak??”
“Hahaha...gak usah ditanya Mas.” Mereka kemudian duduk di tangga masuk Perpustakaan.
“Jadi ingat dulu kita pertama kali ketemu disini juga kan Mas.”
“Hahaha..iyaaa....Kamu ingat ini juga gak?” Jawab Nuel sambil mengeluarkan catatan duniawi-nya.
“Masih lhah Mas.”
Nuel dan Aisyah berbincang-bincang lebih lanjut beberapa saat. Di akhir pertemuan sekitar 15 menit itu, Aisyah kemudian berdiri tersenyum, sedang Nuel merasa sedikit bersalah. Nuel memeluk Aisyah sambil memberikan catatan duniawinya. Aisyah dan Nuel pergi ke depan, Aisyah menghentikan becak yang lewat dan mulai melaju. Tampak Aisyah mulai menangis, sedang Nuel dengan muka bersalahnya menaiki motornya kembali ke kos.

SCENE IX:
Nuel memulai ritual doa malamnya di Kos. Kali ini dia mengambil Tulisan Skripsi berwarna hitam, di balik tulisan itu terdapat nama Aisyah. Nuel membakar kertas itu. Kemudian Nuel merapikan buku-buku panggilannya, menuju sterofoam dan membalik kertas bertuliskan SKRIPSI tinta merah. Ketika di balik muncul tulisan ROMO dengan tinta merah pula....Nuel mulai berdoa.

SCENE X:
DI Mobil menuju Seminari, Nuel melamun. Menerawang kembali malam sebelum dia memberikan catatan duniawinya ke Aisyah, saat dia menuliskan
Maaf Aisyah, saat kamu tersadar dari kesemuan sebuah buku...aku justru terseret masuk dalam kebenaran tiap lembar buku panggilan. Saat kamu dulu aku kecam karena menganggap kebenaran radikal yang tertulis dalam buku harus menjadi nyata, sekarang justru aku yang harus kamu kecam karena masuk dalam persuasui kehidupan. Aku terjerumus dalam kenyataan semu, yang saya yakin ada!! Maaf Aisyah, aku ingin jadi Romo.
Tak sadar, ternyata Nuel sudah tiba di gerbang Seminarai. Dia heran melihat Aisyah sudah hadir di sana bersama David.
Nuel turun, dan Aisyah membisikkan sesuatu kepadanya.
“Untuk kedamaian hatimu, aku tidak akan mengecam Mas terseret dalam bayangan semu buku-buku yang Mas baca. Aku senang, Mas berpikir untuk kedamaian..juga bukan untuk mebohongi perasaan Mas. Salam untuk Tuhan, doakan Aisyah ya Mas.” Aisyah menitikkan air matanya masuk ke dalam mobil.
David ganti menghampiri Nuel, “Saya salut Bos sama Anda..Saya tunggu kita ditahbiskan bersama Bos.” Katanya sambil naik mobil.
Nuel hanya bisa diam, dia tersenyum..melambaikan tangan kanannya ke arah David dan Aisyah yang melaju pergi. Tangan kirinya menggenggam catatan duniawi yang tadi dikembalikan Aisyah. Dia lemparkan catatan duniawi itu ke bak sampah dan melaju pergi, masuk ke rumahnya yang baru.

Senyum Masa Depan


Senyum Masa Depan, sebuah judul yang sangat menarik untuk merefleksikan Indonesia ke depan. Saya terinspirasi dengan para pengajar muda, entah mereka yang secara kolektif mengajar di suatu tempat (misalnya Indonesia Mengajar) ataupun mereka yang secara mandiri berinisiatif untuk belajar bersama teman-teman yang kurang beruntung dalam pendidikan.
Indonesia ke depan, sebenarnya tidak membutuhkan hujatan-hujatan akan masalah-masalah sosial yang ada. Biar saja itu menjadi urusan mereka yang berkompetensi dalam dunia ekonomi, politik, dlll. Ignorance terhadap hal ini bukan tanpa alasan. Saat orang gegap gempita mengkritisi hal-hal yang besar, banayk kemudian melupakan langkah-langkah kecil untuk memberikan senyuman kepada mereka yang belum beruntung. Ya, saya adalah orang yang sebenarnya pesimis dengan keadaan Indonesia yang sekarang ini mencoba keras memperbaiki diri. Saya pesimis ketika mental semua elemen bukan menjadi prioritas utama yang harus diubah.
Ya, hanya sekedar pemikiran yang mungkin sangat-sangat sederhana. Sekali lagi saya sok kritis padahal penuh dengan nada pesimistis. Saya menilai senyuman untuk mereka yang belum mampu adalahs ebuah hal yang harus diwujudkan. Mereka yang kini belum bisa tersenyum mempunyai mental baja, diterpa segala angin kerinduan. Kerinduan akan kasih sayang, kerinduan akan pendidikan, kerinduan akan kepedulian. Untuk meraih kerinduan itu, mereka telah berproses panjang. Mental itu yang harusnya didampingi agar berguna untuk memberikan senyman masa depan bagi Indonesia.
Teman, sepertinya sudah bukan waktunya ketika kalian menanyakan lembaga sosial mana yang cocok untuk penelitian. Bukan lagi kalian sekedar menganalisis dan mencoba mencibir pemerintah yang keras hati untuk memperbaiki keadaan. Sekarang waktunya bangkit, Teman. Ayo wujudkan senyuman kecil dalam wajah mereka. Sebuah senyuman untuk masa depan. Bukan saatnya ahnya berdoa dan beroptimis, banyak wadah yang bisa kalian gunakan untuk mencurahkan kata-kata optimis itu dalam hidup nyata. Enggage it into real world.
Saya mengajak bukan berarti saya sudah punya kontribusi besar, saya pun sedang berprose. Saya sedang mencoba untuk memberikan senyuman kecil. Dan kalian akan tahu rasanya betapa senyuman yang berbalas itu menimbulkan ketegaran hati yang luar biasa. Ketegaran hati untuk terus berdiri tegar dalam pendirian, melihat mereka yang ternyata bisa lebih tegar daripada kita.
Saya punya cerita untuk hal ini. Salah seorang anak bernama Ganis suatu hari mengatakan "Aku wis ra duwe Ibu", padahal ibunya nyata ada dan dalam keadaan yang gila..sekarang entah kemana perginya ibunya itu. Tapi satu hal yang membuat saya tersentuh adalah ketika Ganis suatu kali berbicara banyak ke saya tentang bagaimana dia sebenarnya hidup dalam bayang-banyang kerinduan. Tapi, dia selalu mencoba untuk bangkit dan dengan bantuan teman-temannya dia tetap bisa tegar menganggap bahwa dia harus hidup, walaupun kadang iri dengan teman-teman lain. Begitu juga Sita yang selalu tersenyum menyambut tangan saya untuk bermain, walaupun kadang dia menangis karna banyak temannya yang tidak suka dengan penampilan dia yang kumal.
Teman, saya belajar banyak hal tentang hidup dari mereka. Saya merasa belum mengalami apapun ketika banyak cerita mereka yang benar-benar sangat menginspirasi hidup saya. Teman, satu hal yang saya yakin adalah senyuman mereka yang selama ini menegarkan hati saya.

Zendy: Mbencekno Rek








Hai Zendy Tedja Wijaya. Terimakasih telah menjadi partner saya selama beberapa hari ini. Hahahaha.....Sebelumnya,,maaf kalau saya jadi partner yang kurang perhatian. Saya lupa tanggal ulang tahunmu bahkan,,eh,,bukan lupa..tepatnya belum pernah tahu. Hahaha. Semalam, saya kumpulkan beberapa ucapan dari para finalis, ya gak lengkap sih, tapi nanti coba dilengkapi ya kalau sudah ada yang bales lagi.
Kalau dari saya sih sebenernya bingung juga mau mengucapkan apa dan bagaimana. Kalau temen-temen bohlam mungkin sudah memberi surprise, sekarang saya cuma ngasih seperti ini saja..maaf ya kalau cuma sederhana. Hahahaha...maturnuwun sudah menjadi partner baru, sudah menyeret saya ke dalam festival yang penuh dengan intrik ini. Saya selalu ingat kata-kata medhok "Mbencekn" that was your brand. Hahaha..kamu membenci semua hal yang ribett..tapi di lain sisi kata mbencekno itu juga menjadi satu bahan kami untuk menertawakan tingkahmu sing kadang-kadang yo mbencekno -_-" Terimakasih sudah mau nemenin tidur 3 malam, hahaha. Selamat ulang tahun Zendy, semoga dilancarkan jodohmu. Hahahaha...semoga semua yang didoakan jadi kenyataan..semoga tahun depan kita bisa melaju lagi di festival serupa. Selamat ulang tahun, selamat menjadi pribadi yang dewasa, selamat memiliki harapan baru yang lebih mulia dan selamat menempuh hari-hari yang selalu penuh dengan ide-ide yang kreatif. Ingat Acer, ingat inspiration to be yourself and inspiration to be a part of the world. You're one of the world best, you have to sure of that. THen you'll be someone Great like Steve Job had been. Congratulation Zend..semoga selalu menginspirasi banyak orang :))Don't be a mbencekno person..tapi tetap jadi orang yang selalu "mbencekno" hal-hal yang ribet dan rumit. (3 November 2011, telat 2 hari)

Mendaki Lagi, Naik Hingga di Pos 3


Mendaki Gunung kembali. Ya, walaupun saya berikhtiar untuk berhenti mendaki gunung Lawu, Merapi ataupun Merbabu..sekali lagi bukan berarti saya menghindari pendakian saya dalam hidup ini. Pendakian yang begitu luas,,bahkan yang paling menguras tenaga. Banyak waktu yang mungkin terlewatkan untuk sekedar berbasa basi dalam pendakian ini. Saya berterimakasih sekali lagi untuk nenek saya, yang walaupun masih selalu menyisipkan rindu dalam setiap bekalnya, tetapi ternyata mampu memberikan bekal terbaik untuk saya. Kalau dikatakan terbaik, saya yakin ini terbaik dari kemampuan saya saat ini dan tidak ada yang bisa memaksa kami untuk mencapai puncak tertinggi ketika saya baru pertama kali terjun dalam festival periklanan ini. Kami telah berusaha, sejatinya usaha kami pun diiringi dengan restu dan bantuan semua rekan yang bekerjasama dengan kami, baik Temankecil, Bohlam maupun sahabat-sahabat kami diluar itu.
Kami hadir dalam ajang ini murni untuk mencoba masuk dan terjun, bukan untuk menang. Jujur, kami masih sedikit buta dengan dunia festival. Jujur kami akui banyak pengentry yang lebih punya banyak kreativitas daripada yang kami miliki. Tapi satu hal yang pasti, kami sudah melaju, walaupun dianggap sebagai kuda hitam tapi kami harus berani bertanggungjawab karena kami telah berani melaju. Bukan sebuah perutusan yang ringan ketika ternyata kami tiba di lokasi karantina, tapi sekali lagi kami harus tetap melaju. Melihat mereka yang berumur lebih matang, pengalaman festival yang sudah banyak diikuti, kami merasa gagap untuk mencoba menyaingi. Tapi, saya ya tetap saya, bercanda tanpa batas, mencoba bergalau bersama dan menyelami kebiasaan bersama ya tetap kami lakoni. Kami hadir bukan untuk bersaing, kami hadir bukan untuk membesarkan diri di tengah teman-teman yang belum lolos. Kami hadir awalnya hanya untuk menjadi pemanis optimisme teman-teman UAJY yang selalu mempertahankan gelar juara. Hal itu yang membuat kami, khususnya saya terbebani sebenarnya.
Setelah melihat medan tempur, jujur kembali, saya merasa tak punya kendali untuk memenangkan kompetisi ini. Saya merasa kami hanya anak muda, yang jauh dari pengalaman, kami hanya berbekal teori dan mencoba untuk melaju di dunia yang penuh praktisi. Sekali lagi, sudah maju, tak boleh mundur. Di hari pertama mendapat kabar bahwa kami harus mengerjakan Acer, kami tak punya nyali untuk sekedar berbicara kami punya optimisme. Kami garap brief dengan tekanan yang saya yakin asalnya dari pesimisme dan ketakutan kami. Hahaha, dan bukan Sidhi namanya ketika tidak berani merubah konsep 12 jam sebelum presentasi. Dengan bantuan perangkat problematika dan insights yang kami dapatkan, kami menyusun dalam sebuah presentasi yang kami sepakati, sekali bukan untuk menang..lebih pada sharing apa yang kami dapatkan.
Tak disangka kami menang. Tapi kalian tahukah? Medali Bronze hanyalah sebuah pemanis untuk semua perjalanan kami. Hadiah dari tim Pinasthika yang sebenarnya adalah beribu-ribu pengalaman tak ternilai, disamping kasur empuk, makanan enak dan juga hadiah tambahan tidur bersama partner perempuan saya :)). Hadiah sebnarnya bukanlah sorakan bangga dari Universitas, bukan juga dari kerabat, bukan juga ucapan selamat dari semuanya. Hadiah sebenarnya adalah sebuah karya yang dihasilkan selama tiga hari, dan hal itu lah yang seharusnya membuat mereka bangga. Kami berproses bersama dengan mereka, entah yang kami temui setiap hari maupun yang hanya kami temui dalam waktu 5 hari karantina.
Ya, kami datang awalnya bukan untuk menang. Kami datang untuk belajar. Kami datang sebagai seorang yang masih polos dan mencoba terjun ke dalam lautan pengalaman. Kami beruntung bertemu Babe Djito (maaf ya Be, saya punya pengalaman yang tidak enak dengan kata "Ayah"..jadinya saya merasa lebih akrab dengan kata Babe), beruntung bertemu Mbak Nisa, Ipeh, Rendra, Matahari, Angga, Reisha, Moe, Putu, Fian, Ruru, Vicky, para pembicara, para volunteer dan segenap panitia. Kami juga beruntung mengenal teman-teman ultrainspirasi dari Bohlam, Temankecil maupun sahabat-sahabat lain. Kami juga berterimakash untuk bung Gan, Ko Yul, mbak Tit, Natal, Mas Dikol. Unlimited inspiration yang sempat juga membuat kami takut untuk pulang Babe Agus Putranto.
Sebenarnya inilah penghargaan untuk proses. Sekali lagi hanya simbolisasi yang akan cepat dilupakan. Hadiah utama yang kami miliki adalah kalian semua yang selalu menginspirasi kami. Saya berterimakasih khusus untuk teman-teman saya dalam penadkian gunung. Saya tidak berhenti di pos dua pertama, saya mencoba meraih puncak bersama kalian. Kalian yang mendorong saya maju ke atas, hingga akhirnya saya bisa menarik kalian naik dan mencapai puncak yang lebih tinggi. Begitu seterusnya, kalian dan saya saling mengangkat. Terimakasih semuanya. Maaf jika terlalu lebay. Kadang saya merasa periklanan adalah dunia yang terlalu praktis ditengah keinginan saya yang terlalu sosialis. Tapi saya sudah terjun di dalamnya, semoga saya bisa menggabungkan idealisme saya dengan keinginan saya untuk terus melangkah.
Sekali lagi treimakasih semuanya. :)) You're the Champion, You're one of the best that the world had.

Rabu, 24 Agustus 2011

Selamat Menanti Lebaran



Ini adalah gawean yang sangat mendadak, terpikir lalu langsung eksekusi..seperti tagline biasanya, elek yo luweh sing penting gawe..hahaha..saya bikin ini untuk teman2 yang berpuasa. Katanya ketika berpuasa maka disarankan untuk berbuka dengan yang manis terlebih dahulu, nah kadang kata "manis" hanya diartikan secara fisik dan biologis untuk kepentingan lambung dan kesehatan saja, tapi jarang dimaknai sebagai sesuatu yang harusnya bisa lebih psikis..yaitu manis secara psikologis yang digambarkan lewat senyuman. Oleh karenanya saya menggabungkan berbuka dengan manis (senyuman dan berbuka dengan yang manis (harafiah/makanan dan minuman).
Overall..selamat menanti lebaran ya teman2....

Coba Stop Motion: BELAJAR??

Hayoo..yang sering belajar cuman untuk formalitas,,malah dolanan waktu belajar biar gak dimarahin ortu atau penjaga asrama #curhat..