(dari seorang sahabat..mengingatkan saya dengan sesuatu yang sempat tertunda..)
Salah seorang sahabat ketika SMA akhir-akhir ini bercerita tentang begitu banyak aktivitas kuliah non-akademis yang dia ikuti, aktivitas itu menyita hampir seluruh waktunya. Beruntung dia tergolong mahasiswa berotak banyak yang tidak perlu belajar berjam-jam untuk memahami materi kuliah di kampus kami. Semester pertama dia memiliki Indeks Prestasi 3.8, hasil yang bagus untuk mahasiswa baru. Terlepas dari tingginya hasil yang didapat olehnya di bangku kuliah, saya tahu bahwa dia merasakan sesuatu yang hilang dari dirinya, sesuatu yang dulu dimiliki tetapi kini menghilang atau sembunyi entah di mana.
Saya menduga-duga, berlagak sok tahu, dan berbicara ngawur bahwa sesuatu yang hilang dari dirinya adalah keheningan jiwa. Saya tahu apa tentang keheningan? Saya tahu apa tentang jiwa? Saya tidak tahu apa-apa tentang keduanya, tetapi saya yakin bahwa sahabat saya tadi memiliki keduanya dan dia sangat menyadarinya.
Saya akan mengutip beberapa bagian dari buku berjudul Antara Kabut dan Tanah Basah1 tentang keheningan jiwa.
Hening berarti kosong. Kosong berarti penuh makna. Kita merangkai jeruji dan menyebutnya roda, tetapi maknanya ditentukan di ruang kosong tempat dia bergerak. Kita membentuk tanah liat menjadi periuk, mangkok, dan gelas; akan tetapi maknanya ditemukan dalam kekosongan ruang yang tercipta. Kita melubang tembok dan menyebutnya pintu atau jendela. Dan di lubang itulah maknanya ditemukan. Jiwa menjadi hening ketika melepaskan egonya dan membiarkan hidupnya diarahkan oleh makna.
Kata-kata indah yang mudah dimengerti tetapi tidak mudah untuk dipahami, terutama memahami makna terdalam yang ditawarkan. So.. bagaimana, sahabat? Pilihan begitu banyak di depan mata, tidak ada yang salah dari pilihan-pilihan itu, yang salah adalah cara kita menjalani pilihan yang telah kita ambil.
1Buku ini ditulis oleh B. B. Triatmoko, SJ yang diterbitkan oleh Percetakan Kanisius di Yogyakarta pada tahun 2005. Dalam buku ini diceritakan tentang Perjalanan Tujuh Tingkat Kesadaran Jiwa, Keheningan Jiwa merupakan langkah keempat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar