Minggu, 19 April 2015

Mbah Wujil Kembali, Sudrun Nyuguh Cerita Kematian

"Mbah, kita ketemu lagi"

"Sudah lama ya, Le?"

"La-le-la-le, emang aku Lele, Mbah?"

"Mana ceritamu yang katanya mau nerusin Mencari Cermin The Series? Omong Kosong kamu." manggut-manggut bentar, benerin jenggot sama monyong yang basah. "Katanya mau ngaku kalau kamu egosi terus kesasar waktu naik Merbabu? Kamu yang insaf waktu naik Merapi sama pemula?. Omong kosong. Siliti Pitikih kamu!"

"Lupa Mbah, gak ada waktu buat cerita. Lha wong Mbah aja udah bertahun-tahun menghilang. Kita juga baru ditemuin ini sama yang punya blog."

"Lha memang. Emang pengelola yang guoblog."

"MBAH, AKU DENGAR LHO! MASIH MIKIR REVISI MBAH! GAK SEMPAT!"

"Oh, koe krungu to Le?"

"LHA MBOK PIKIR? YANG NYEMPLUNGKE KAMU KE BLOG INI AKU JE MBAH. BAIDEWEI, ENAKNYA NAMA ANAK SOK TAHU YANG CERMINNYA MASIH HILANG ITU SIAPA MBAH? AKU BEUM NEMU."

"Sudrun ja! Dia itu ncen Sudrun. Cermin hati og bisa sampai hilang. Mbingungi wong sakdonya. Bikin uang terus keluar! Nyusahke wong. Wuu."

"Jinguk! Sudrun kan gabungan ceroboh dan sedikit bodoh, Mbah!"

"Lha manut pemilik blog yang guobog ini. Setuju?"

"YA WIS MBAH. DI CERITAKU YANG TERAKHIR KAN WUJIL KINASIH UDAH KEMBALI BIJAKSANA DAN WELAS ASIH. AKU SENDHIKA DHAWUH. SUDRUN JUGA BAGUS, BIAR SI LANANGAN IKI ORA TAMBAH SOK TAHU." bentar, aku mikir bentar mau nulis apa, "OYA, AKU PENGIN MENIKMATI OBROLAN NAIF KALIAN. JANGAN TERLALU BANYAK MENGENALKAN DIRI. ESTABLISH BERLEBIHAN GAK ENAK DIBACA. BIAR ORANG BACA Mencari Cermin I DAN II AJA."

"Lha kamu yang guoblog, tulisanmu gak diteruske. Aku kan kangen sama Sudrun. Waktumu terbuang buat mikir thok. rarampung-rampung!." diam sebentar, kemudian kembali ke Sudrun. "Eh, ada apa, Drun? Pertemuan kita gak mungkin sesia-sia usahamu ndeketin si N kan?"

"Gini, Mbah. Aku mau tanya."

"Apa?"

"Kemarin Mbahku meninggal. Budheku ngabarinnya agak aneh: Ibu ra ana!"

"Terus?"

"Lha aku ya njawab: Ilang kemana Budhe?" cekikikan bentar, "Jebul Budhe njawab:Lha dalah gemblung, Mbahmu seda, Le!"

"Tas-tes ke pertanyaanmu to!"

"Kenapa di Jawa, meninggal itu disamakan dengan ra ana (gak ada)? Padahal secara raga dia masih ada, belum dikubur. Masih bisa tak jiwit pipinya seperti biasa, walaupun cuma diam saja."

"Wah, kalau pikirannya Mbah panjang, Jadi gini..

Eksistensi manusia itu tidak dilihat sebatas raga. Ada dan tidak ada mengacu ke sesuatu yang lebih dalam, Le. Jiwa. Orang meninggal berarti jiwanya pergi dari raga. Nah, orang mengatakan ra ana atau tidak ada untuk menyebut orang meninggal itu sesuai dengan standar mereka.

Orang terbiasa menilai ada dan tidak ada sebagai raga dan jiwa yang melekat. Jadi kalau raga masih terlihat, tapi jiwanya kosong, orang bilang gak ada. Sama, kalau jiwanya-semangatnya masih melayang-layang,tapi secara ragawi dia tidak tampak, kita bilang itu sebagai tidak ada.

Secara filsafat ala petani yang direbut tanahnya sama negara kayak Mbahmu ini, ada makna yang lebih dalam, Drun. Percuma kamu memoles raga seindah mungkin kalau Jiwamu ternyata sudah kosong dan mati terhadap keadaan sekitar. Bahkan orang yang sudah meninggal itu dirias bukan tanpa alasan, tapi ada keyakinan bagi kita kalau selama beberapa hari Jiwa yang tidak lagi melekat di raga (dan kita menganggap itu sebagai hilangnya eksistensi ragawi seseorang) masih tetap bersemayam di dekat rumah hingga 40 hari. Raganya dirias, dimandikan biar bersih dan siap menghadapi eksistensi yang baru-tanpa kemelekatan pada raga. Ini ngawur sih, Drun.

Ingat, walaupun ragamu seindah Chelsea Islan atau Nicholas Saputra, tapi jiwamu sudah mati dan kosong terhadap keadaan sekitar. Ya, kamu mati. Eksistensimu sebagai manusia di sekitarmu akan hilang. Kalau hanya berfokus pada diri-kamu dan cara-kamu-menjadi-bahagia, yaudah, aku siapin kuburan aja buat kamu, Drun. Lumayan, kamu bisa mengubur sekalian kenangan-kenangan asmara yang pahit to?

Aku cuma bisa menjelaskan sengawuritu, Drun."

"Kalau gitu, Mbah. Ini kaca mata mboismu mending tak jual. Baju bunga-bungamu juga ini tak copote. Iki wig warna ungu, njijik i banget to!Aplikasi Picsart sama Photoshop-mu tak uninstall sini. Udah tuwek kok ya masih berfokus-pada-kebahagiaan-diri-sendiri sampai-sampai melupakan aku. Kita udah berapa tahun gak ketemu? Kamu tambah norak, Mbah!"

"Eits, eits aja! Tua-tua gini kan boleh ganteng juga!"

"Luweh, sini!"

"Ini kan ciptaan pemilik blog to, Drun. Biar Mbahmu ki necis."

"Pemilik blog yang goblog ok dipatuhi serta merta, Mbah! Kamu kayak percaya seratus pesen sama kesejahteraan semu dari BUMN pelat merah, Mbah!" mulai jengkel, sambil membawa kaca mata, wig, baju bunga-bunga dan android embah kemudian pergi, "Mbah bisa jadi Wujil inasih yang bijaksana tanpa jadi lelucon dan dianggap primitif, Mbah. Salam buat pemilik blog yang guooobloogggnya gitu banget!"

"MENENGA, DRUN!"

Yaudah. Tulisan ini harus selesai. Wujil dan Sudrun terpisah lagi oleh waktu. Eksistensi mereka tidak melekat pada raga dan jiwa, tapi pada keinginan pemilik blog. Tenang, mereka belum mati kok. :* :* :*

Kamis, 16 April 2015

Bu

“Mengapa Ibu Pertiwi menangis?”

“Ibu sedang bersusah hati.”

“Mengapa harus seperti itu, sedangkan Ibu punya hutan, sawah, gunung dan lautan sebagai simpanan kekayaan?”

“Kekayaan apa yang kau maksud?”

“Mereka bisa kau olah. Hutan kau ambil batangnya, kau buru hewannya. Sawah kau panen padi, palawija atau cabai. Gunung pula bisa kau tambang pasir dan kau suburkan tanahmu dengan abu. Lautan, kau ambil seluruh penghuni di dalamnya.”

“Sudah tak bersisa.”

“Sebegitu keringnya kah?”

“Sangat.” Dia diam sejenak, “ Kalaupun bersisa sedikit, sudah enggan orang-orag mengolahnya. Mereka terlalu nyaman di dalam gedung. Terbuai oleh semilir angin karbon. Mereka enggan berpanas-panasan, hanya ingin berpapasan dengan kenikmatan.” Diam lagi, “Mereka punya definisi baru tentang kenikmatan.”

“Bagaimana bisa? Bukankah mereka terdidik? Sampai-sampai di rahim ibumu muncul gerakan mengajar massal yang mereka namai Indonesia Mengajar?”

“Iya. Mereka belajar untuk menjadi sangat Metropolis. Duduk nyaman dalam ingus yang mereka harap berbuah kekayaan.” Diam, menghela nafas kemudian diam lagi. “Orang tua mereka berkata, kalau bisa, tak perlulah jadi petani seperti kami. Kau harus hidup lebih makmur. Kau harus hidup lebih nyaman, seperti hidup para Tuan Tanah. Seperti hidup kaum priyayi yang ikut menindas pribumi. Seperti hidup para penjajah yang asalnya dari negeri sendiri. Tentu mereka tak serta merta berkata seperti itu, hanya kira-kira pikiran mereka seperti itu.”

“Sudah lama terjadi?”

“Sangat lama, sejak mental priyayi meraja lela. Sejak kumpeni menganggap kami primitif. Sejak kami terlampau kompetitif. Sejak itulah ibu pertiwi menangis.”

“Kalian bahagia?”

“Aku tidak, beberapa orang lain tidak. Tapi kami tak punya daya. Sebagian besar lainnya bahagia. Bahkan sangat bahagia walaupun harus memprimitifkan yang lain. Mereka tertawa bahagia. Tangis ibu pertiwi seperti lelucon bagi pikiran mereka yang selalu tentang pembangunan. Materi ada tapi nurani lenyap dalam cita.”

“Negara?”

“Jangan berharap banyak. Negara adalah tempat tidur nyaman para borjuis. Ajudan-ajudan dikerahkan untuk mewujudkan mimpi, jangan sampai ada kejutan tak mengenakan waktu mereka bangun. Semakin mereka lelap, tak ada indera digunakan, hati semakin keras, kami semakin tak punya suara. Kami bilang keadilan, mereka bilang pemberontakan. Kami bilang perjuangan, mereka bilang kami kriminal. Kalau kami mulai turun ke jalan, mereka bilang kami banal-tidak mendukung rencana nasional. Begitu juga borjuis lain, yang juga lelap. Mereka bicara dalam senyap, jari-jari bergerak untuk menggoreskan satu per satu luka pada tubuh Ibu Pertiwi.”

Begitulah, percakapan itu terus berlanjut. Mereka berdua saling menggenggam, sesekali menyentuhkan bibir ke kelopak saat air mata mulai jatuh pada tokoh yang satu. Tak perlu disebut apakah mereka perempuan atau laki-laki. Perjuangan tidak mengenal perempuan atau laki-laki, kesedihan pun begitu. Kepedulian bertahan dalam keyakinan keduanya. Dan kini, Ibu mereka sedang menangis.

Ibu pertiwi yang mengandung dari bumi. Aku tak pernah melihat kelaminnya, aku tak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan. Dia yang sedang mereka grundeli, sesekali dengan sesenggukan, mungkin perempuan tulen yang tercipta lengkap dengan rahim atau perempuan yang menjelma laki-laki dengan tetap mempertahankan rahim. Tidak perlu aku ketahui. Dia adalah cermin ketegaran, disakiti begitu hebat, bertahan begitu kuat. Menopang manusia-manusia yang lahir dari rahimnya, hidup dari air susu yang bening dan segar, makan dari rimbun-rimbun yang membuahkan, bertahan di dalam pijakan yang menghangatkan.

Lubang digali dalam dagingnya. Darah mengucur deras. Air mata berlinang. Tubuhnya semakin kering. Ronanya sendu. Tapi dia masih bertahan hidup, demi kehidupan anak-anak durhaka yang juga lahir dari rahimnya, besar oleh kelimpahannya. Hai, manusia!