Kamis, 07 Agustus 2014

TELINGAKU HARUS MERDEKA


                Ibu memegang teko, dituangkan air putih ke cangkir kecil punyaku, lalu ke gelas besar punya mbak dan Bapak berturut-turut. AKu setengah cemberut. Gelasku memang paling kecil, tapi minuman yang harus kuhabiskan bahkan jauh lebih banyak dari gabungan dua gelas besar mbak dan Bapak. Aku harus menghabiskan satu gelas sangat besar susu kedelai, mungkin dua setengah kali gelas yang dipakai minum air putih mbak dan Bapak. Aku sakit-sakitan waktu itu, dan susu kedelai katanya bisa menyembuhkan penyakitku.
                Itu baru pagi hari, ditambah sarapan nasi stu piring tidak boleh bersisa. Kalau bersisa, aku harus bersiap menutup kuping agar tidak mendengar omelan Ibu dan tidak merasakan jewera dari Bapak. Satu lagi, tidak perlu sebal dengan cekikikan mbakku. Sial! Subuh sebelum sarapan, jam empat pagi, aku harus bangun pagi-pagi lalu minum tiga macam obat. Sebelum makan, sebelum minum susu kedelai.
Siang sama, nasi sepiring tak boleh bersisa, bahkan kadang-kadang harus dipaksakan tersimpan penuh di mulut sebelum dikunyah, tmbah air putih seukuran gelas mbak dan Bapak dan lima macam obat. Antibiotik, harus habis. Mati pikirku setiap makan siang, setelah membau puyer yang menyengat hidung. Aku tidak boleh terlalu lama bermain, hanya dari jam empat sampai setengah lima, setengah jam saat matahari tidak lagi terik dan anak-anak belum ramai. Watu setengah jam bermain pun sering hilang kalau saya tidak bisa merem di jam tidur siang. Padahal, tidur siang membuat aku seringkali bangun dengan perasaan kagol, merasa bersalah. Tanpa alasan. Dan sekalinya bangun, sudah ada berbagai perintah, nasihat, petuah, nyanyanayanyanyanayanaynyanya, malas aku mendengarnya.
Sore, harus mandi dengan sabun khusus yang baunya membuatku rasanya ingin muntah. Menyengat, belerang murni, agak panas. Kalau tidak mau menuruti gerak tangan ibu, maka punggungku makin panas karena berulang kali ditampar. Setelah itu, waktu adzan maghrib, anak-anak di luar cekikian sehabis maghrib, aku harus duduk manis di bawah lampu belajar. Sekali terlihat mataku kosong, seprti tak mengerjakan apa-apa, aka nada soal-soal yang diberikan Ibu dan Bapak, kalau sedang rese kakak juga ikut-ikutan. Semuanya diberi waktu maksimal. Boleh bertanya kalau tidak bisa, tapi lebih baik tidak. Daripada jantung copot dan mata kering karena dibentak-bentak. Gendang telinga juga bisa-bisa pecah, Bapak sering menempatkan mulut ganasnya tepat di daun telinga. Semakin dibentak, aku tahu bahwa mereka memang tidak sungguh-sungguh tahu jawaban dari soal-soal yang mereka buat. Sial! Jeda jam tujuh malam sampai maksimal jam delapan, maka malam. Menu kali ini adalah nasi sepiring penuh tak boleh bersisa dan dua macam obat. Dua-duanya puyer.
Sudah dua tahun berturut-turut, setiap hari, aku kesal seperti ini. Kebebasan masa kecil direnggut oleh penyakit. Penyakit yang ada di dalam tubuhku dan penyakit kasar dari keluargaku. Satu lagi, penyakit harapan berlebihan bahwa aku harus selalu jadi nomor satu. Lalu, mereka bisa mengoceh bangga ke tetangga, walaupun kami hanya keluarga miskin. Tai kucing! Pernah, saking bosannya dengan obat-obatan berbau sengak, diam-diam aku membuang semua obat yang baru dibeli ke selokan. Telingaku rasanya harus dilindungi dengan baja yang didalamnya didesain seperti thermos air, ada ruangan kedap suara sehingga suara dari luar tidak mungkin masuk, siapapun yang akan menjewer akan kesulitan dan yang mulai cekikikan akan kulempar dengan penyumbatnya yang agak lunak tapi kompak. Orang tuaku marah sejadi-jadinya, mbakku senang sejadi-jadinya.
Rutinitas pagi harus makan, siang setelah makan harus tidur, sore tak boleh pulang terlambat, malam belajar dan diberi soal, malam harus tidur awal tak boleh nonton televise berlebihan terus-terusan terjadi sampai aku kuliah. Melepaskan diri dari paksaan dan menghilangkan salah satu hiburan mbakku. Membantu orang tua pun kewajiban, paksaan tepatnya. Kalau ada pekerjaan yang kurang sedikit saja, maka telingaku dikerjai lagi dengan suara, jeweran dan masih sering terdengar cekikikan. Padahal mbakku sudah besar! Setan!
Kalau banyak program tivi yang membuat seolah-olah membesarkan anak tidak boleh menggunakan kekerasan, kenyataannya beda. Beban ekonomi membuat orang tuaku membesarkan anak, khususnya aku, laki-laki pertama, dengan sangat emosional! Seakan semua yang mereka kerjakan, yang pasti sangat menyiksa, adalah sumber kebahagiaan yang membuat mereka lupa akan hutang-hutang. Tak jarang aku berpikir, pelajaran keluarga yang seperti militer tai kucing ini pasti dipengaruhi Mbah Kung yang memang veteran ABRI, Mbah Putri yang galaknya melebihi nenek lampir. Dua-duanya menurun ke Ibu yang sebenarnya kalem dan penyabar. Tapi, suasana akan keruh kalau Bapak sudah ikut-ikutan, berlagak sok tentara, sok disiplin, memanas-manasi keadaan dan seolah tidak ada hal yang bisa diselesaikan dengan santai dan baik-baik. Telingaku lagi-lagi selalu jadi sasaran. Pantas, komposisinya agak tidak proporsional, terlihat sedikit lebih besar di kepala yang kecil. Ah, kepala yang kecil ini membuat mukaku terlihat culun dan memang aku tidak berani membantah sedikitpun.
Kukira setelah kuliah, kekebasan sepenuhnya sudah ada. Tapi nyatanya, aku memang bebas dari rutinitas pagi-siang-sore-malam yang ditetapkan oleh orang tua. Aku sudah bebas mengatur jam makanku, yang bahkan seringkali tidak kumanfaatkan untuk makan. Aku sudah bebas mengatur jam belajar, yang kebanyakan malah diisi pergi ke kafe, ngobrol, nyanyi-nyanyi. Jam tidur siang, yang sialnya tetap. Tidur siang di kelas, bersama dosen yang, serius, bikin ngantuk. AKu sepertinya bebas, tapi telingaku tidak. Teknologi sekarang sudah makin maju, kami sekeluarga pun sudah menggenggam telepon. Setiap pagi ada telepon, siang juga, malam apalagi. Pagi tidak terangkat karena masih belum bangun, siang sengaja tidak diangkat karena aku masih tidur di kelas, malam. Malam, tidak ada alasan untuk tidak mengangkat telepon atau orang tuaku akan datang keesokan harinya untuk menjewer telingaku. Dikiranya aku masih anak kecil yang harus dapat IPK terbaik di seluruh kampus, lulus tepat waktu, tidak memperpanjang masa studi yang artinya harus memperbanyak uang yang dikeluarkan untuk segala biaya studi. Telingaku belum merdeka.
Belum lagi kalau liburan datang, dengan jarak kota perantauan yang hanya 40an km, aku tidak boleh tidak pulang. Apalagi kalau kumpul keluarga besar, kebiasaan militer, terutama pakdhe yang mirip Mbah Kung, akan melakukan pengecekan kelengkapan anggota keluarga dengan 12 orang saudara, 27 anak dan keponakan, dan cucu yang tidak bisa dihitung. Satu anggota keluarga belum hadir, bisa jadi cibiran di pertemuan-pertemuan berikutnya. Cibiran yang mengatasnamakan keluarga. Orang tua mana yang mau keluarganya dicibir? Ah, kuno sekali keluarga ini.

Saat berkumpul itulah, mereka saling membagakan profesi dan studi anaknya. Dulu, aku jadi garda depan di keluargaku. Saat itulah mbakku tidak akan cekikikan. Tapi setelah kuliah, malas aku membahasnya. Telingaku panas, ditanya sampai mana? Bab berapa? Kemarin katanya janji tanggal segini? Pakdhe tagih janjimu ya! Kenapa Ibumu harus bayar lagi? Belum puas belajar lima tahun? Kapan kerja? Uang dari mana? Sekali lagi, telingaku belum merdeka.

Senin, 05 Mei 2014

Someone to Watch Over Me



Ella Fitzgerald dengan syahdu, setengah serak, dan penuh kekuatan melantunkn lagu penantian ini. There’s a saying old, that the love is blind. Still we’re often told, seek and ye shall find. Nada-nada minor, biasa dianggap sebagai nada yang agak miring, membuat suaranya yang garang itu menyeyat-nyayat.
                
Cinta itu buta, katanya pada pembuka. Boleh percaya atau tidak, karena nyatanya kita juga masih sering berkata bahwa ketika mencari, kita akan menemukan. Mencari, kemudian menemukan adalah kata kerja yang mengandung unsure kesengajaan, berbeda dengan “buta”, yang sama sekali tidak menyengaja kerja. Kerja yang dilakukan oleh hati, maksudnya. Dialektika ini muncul terus menerus. Saat berhadapan dengan seseorang, saya mencoba membutakan diri, agar merasakan apa itu cinta. Tapi, di lain sisi, saya mencari-cari cinta di dalamnya, dan ternyata hampa. Nir hasil. Sia-sia.
               
Looking everywhere, haven’t found him yet, lanjutnya. Dalam liriknya, dengan liris, seolah mengaduh, dia menyanyikan bahwa ada peristiwa emosional paling besar, yang pernah dia rasakan. Hanya sekali, sekali saja dengan penyesalan.
                
“Jangan pakai rasa ya,” begitu dia berkata sesaat setelah selesai berjumpa.
                
Saat euphoria masih besar-besarnya, dan endorphin masih berlebih-lebihan, kata-kata itu saya anggap hanya sebagai bualan. Tidak saya acuhkan, tetap saja tersenyum bahagia. That the love is blind. Tapi terlalu mudah untuk menyimpulkan dari perjumpaan pertama, bahwa inilah kebutaan. Syarat orang sedang jatuh cinta. Rasa-rasa yang ini mirip dengan alunan I’d like to add his initial to my monogram. Tell me, where is the shepherd for this lost lamb? Seakan menegaskan bahwa kebutaan adalah penyebab hilangnya segala kemampuan untuk menentukan arah. Karena terlalu bergembira, saya berjalan tanpa tahu arah. Hanya nama dia, dia, dan dia lagi yang berdengung. Sayang , dengungnya tak menentu, berasal dari semua penjuru. Semua penjuru yang saya coba jajaki satu per satu.
                
Masih teringat satu per satu yang kami lakukan. Dia menceritakan pada saya tentang kehidupan, dan aku hanya diam saja, karena merasa tak pernah berpengelaman. Dia membimbing, manifestasi dari sikap-sikap keibuan. Tenang, seperti air yang mengalir, membasahi kerongkongan-kerongkongan yang dahaga dan akhirnya menghidupkan. Sebelumnya saya merasa perasaan saya sudah mati, dengan dia organ-organ mengirim sinyal ke jaringan dan jaringan meneruskan ke setiap selnya, mereka benar-benar terasa hidup, bergejolak, mungkin seperti kuncup bunga yang mekar dengan cepat. Jutaan sel yang ada dalam tubuh menyinergikan pikiran dan hati, berpikir dan merasakan, bahwa saya hidup. Baru.
                
Mungkin bukan yang pertama. Banyak kejadian serupa, dengan orang yang berbeda-beda pula. Semuanya singgah tanpa meninggalkan jejak penasaran. Tapi dia yang ini, adalah yang pertama bermakna. Karena dia membawa sebuah cawan berisi pengampunan yang membuat saya mengampuni kesalahan-kesalahan masa lalu, serta sepotong roti kehidupan. Pada akhirnya, dialah yang menyimpan misteri. Bukan tentang yang pertama, tapi tentang yang pertama bermakna. Dan lagi, dia bukan milik dan tidak bisa dimiliki oleh seseorang. Banyak orang berteduh di bawah kerindangan daunnya. Itulah sebab dia berkata, “Jangan pakai rasa ya.” Sekalipun rasa itu sudah benar-benar ada, sebelum dia sempat memperingatkan.
                
Although he may not be the man, some girls think of as handsome. To my heart, he carries the key. Sesingkat-singkatnya perjumpaan, saya merasa bahwa dialah yang membawa kunci. Dia yang sudah membukakan hati. Atau saya salah, bahwa justru karena terlalu singkat, saya masih yakin bahwa dialah pembawa kunci? Tapi saya yakin, dia yang telah membukanya, membuatku berani memeluknya. Dia, hanya dia yang mampu menutupnya lagi dengan kunci yang dia pegang.
                
I need someone to watch over me. Someone to watch over me. Dia sudah membukakan hati, dan saya berpasrah dalam proses itu. “Jangan pakai rasa ya,” bukanlah sebuah perintah untuk mencegah perasaan ini mengambil alih, tapi terlanjur menjadi obat untuk hati yang menganga. Ada lubang di dalamnya dan itu membuat sakit, pada permulaan. Rasa itu sudah tumbuh, membagi kepasrahan, kerelaan. Bahwa dia, sewaktu-waktu dan tanpa pemberitahuan, akan pergi. Kepergiannya akan menyisakan misteri. Sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dalam waktu singkat: siapa yang akan menutup hati ini? Atau mungkin, dia membiarkannya terbuka, agar tidak ada lagi ketakutan akan rasa sakit yang berkali-kali singgah.
                
Someone to watch over me. Walaupun kami akan berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Pada akhir desahan tebal Ella, aku menambahkan And I promise to be someone to watch over you. Dan pencarian itu sudah berakhir.


Catatan: Terinspirasi dari cerita-cerita di 30 April 2014. Pertama, dengan kawan dekat. Seorang perempuan hebat dan kisahnya dengan laki-laki yang hebat juga. Kedua, dengan R. Ketiga, Someone to Watch Over Me – Ella Fitzgerald.

Minggu, 05 Januari 2014

Untuk MN

Catatan: Tulisan ini dibuat tanpa nalar, sehingga harap maklum jika banyak hal tidak konsisten. Tak perlu dicari juga pentingnya, karena ini hanyalah tulisan tak bernalar. 


Tulisan ini mungkin lebih tepat berjudul Tahu Diri, tapi Tahu Diri itu semacam memberi ruang unuk nalar. Seakan adalah hasil berpikir yang begitu panjang dan logis, kemudian diwujudkan dalam sikap. Padahal yang saya maksud tahu diri lebih ke sesuatu yang emosional, mirip dengan jargon tenggang rasa (tapi terlalu berbeda jika disamakan dengan tenggang rasa). 

Jadi ceritanya begini, ada satu ruang dalam tubuh manusia. Kalau kata Leila S. Chudori ruang itu kosong dan ada di dada sebelah kiri. Ada juga yang mengatakan bahwa jika kamu merobek dada kiri, ruang kosong itu seolah-olah berisi. Pada kenyataannya tetap kosong, karena dia menunggu untuk saat yang tepat. Saat untuk saling mengisi. Letaknya di dada kiri, tak terlalu jauh dengan kepala, tapi sepertinya ada penghalang tegas. Kepala dengan nalarnya sama sekali tak diberi ruang dalam sirkulasi di ruang kosong. Setiap keputusan yang diambil dalam siklus indrawi-merasakan-menentukan tak pernah melibatkan, bahkan dengan tegas mengeliminasi kemungkinan terlibat, nalar. 

Sudah dua paragraph saya terlalu basa-basi. Maaf, sekali lagi, ini tulisan yang tak melibatkan nalar sama sekali. Jika Anda adalah penggemar Marx, Engel ataupun Anda yang membaca blog saya oleh cerpen-cerpen yang sedikit bernalar, Anda bisa mulai memutuskan untuk memilih tanda silang dalam tab browser Anda sekarang. Saya tidak ingin menjadikan Anda gila dengan ketidakbernalaran tulisan ini. Ah, saya tahu. Anda yang adalah salah satu teman dekat saya sedang tertawa terpingkal-pingkal hingga menangis. Tai kucing! 

Lanjut tentang ruang kosong dan siklus indrawi-merasakan-menentukan. Apakah Anda pernah merasakan bahwa anda pernah jatuh hati pada seseorang begitu lamanya? Sampai, ketika Anda berpisah dari dia, Anda tetap mencari-cari kehadiran dia, atau setidaknya beberapa sifatnya, pada orang lain? Yang membuat Anda kemudian melakukan tindakan permisif untuk melupakan rasa jatuh hati yang pertama, demi orang yang kedua, ketiga, dst. Tapi Anda akan selalu kembali pada hal yang mengawalinya, mencari tumpukan sifat/sikap/karakter orang pertama yang ada dalam orang kedua, ketiga, dst. 

Ah, Anda tak akan pernah merasakannya kecuali Anda pernah merasakan beberapa hal ini. Bahwa Anda begitu takut untuk bertemu kembali. Ketakutan yang menjadi-jadi berbuah kekalutan sehingga Anda akan berpikir untuk tidak bertemu saja daripada harus menanggung beban jatuh-hati-yang-pertama-untuk-kesekian-kalinya. Sakit dan berat rasanya. Semakin berat bahwa Anda belum ikhlas sama sekali dengan apa yang terjadi di masa lalu, ketika banyak hal belum selesai. Juga bahwa kisah pertama Anda ternyata lebih mencintai kisah pertama yang terjadi dalam hidupnya, sayangnya kisah itu dirajut dengan orang partama yang bukanlah Anda. Pedas. Seperti memakan campuran lada, cabai dan jahe. Membuat sayap kupu-kupu yang menari di perut Anda lemas kehilangan tenaga, bibir Anda kaku, keringat basah, kuping panas dan air mata bisa keluar kapan saja. Anda kemudian menyadari bahwa kehadiran orang kedua, ketiga, dst hanyalah numpang lewat untuk kisah pertama yang belum selesai. 

Pada titik ini, ruang kosong itu rasanya semakin berat. Padahal ruang itu kosong. Sepertinya membesar dan diremat-remat dengan keras. Sampai pada titik Anda bertemu kembali dengan yang pertama. 

Anda, dengan segala muslihat indrawi, akan melihat yang pertama jauh lebih memesona. Walaupun tingkah kalian sangat canggung. Kupu-kupu yang mati tadi seolah mendapatkan energinya kembali. Kupu-kupu itu abadi, hingga saat yang tepat menunggu untuk mati. Melihat yang pertama di hadapan Anda dengan segala senyum, suara dan pancaran sinar matanya (untung jenongnya sudah tertutup poni rapi) adalah satu anugerah tersendiri. Anugerah yang tidak bisa dan tidak boleh jadi milik orang lain, pun oleh perasaan ingin memiliki yang diam-diam sedang menyelimuti ruang kosong di dada kiri. Banyak riset membuktikan (data ini bukanlah mencoba menalar, tapi pembenaran yang emosional atas sensasi yang begitu sensational) hormone endorphin akan meningkat tajam di saat-saat seperti ini. Anda akan menjadi lebih bahagia, sangat jelas terlihat di senyum bibir dan mata yang bersinar. Rasanya berkaca-kaca, meledak tak bisa menahan segala rasa bahagia. 

Pertemuan saya dengan yang pertama, yang akhirnya saya sanggupi segala konsekuensi, seperempatnya memiliki tujuan egois. Menghambur-hamburkan hormone endorphin dalam tubuh. Tapi setengahnya adalah sebuah misi menuntaskan yang belum tuntas, sisanya adalah keterpaksaan. 

Misi menuntaskan yang belum tuntas itu sulit. Apalagi dalam beberapa pertemuan Anda akan merasakan sensai ketidakkonsistenan ruang kosong: Dada kiri Anda memberat, serasa diremas kuat tapi kupu-kupu dengan tenaga-tenaga sisanya masih menari keras. Perpaduan tai kucing! Canggung. Apalagi saat ini. Bayangkan bahwa Anda ingin menuntaskan yang belum tuntas, padahal yang pertama masih belum tuntas dengan urusan yang pertamanya. Tahu diri lah saat itu! Anda tak boleh sangat egois dengan mengungkapkan segala unek-unek yang berputar dalam proses indrawi-merasakan-menentukan. Anda harus bisa menghargai siklus serupa dalam ruang kosong si yang pertama. 

Ruang kosog ini semakin berat, diremas makin hebat, ditambah dengan jarum-jarum kecil yang dikirim nalar. Nalar berkata: Cepat selesaikan, atau tidak pernah selesai. Tapi sekali lagi, ada batas tegas yang dimiliki ruang kosong, sesakit apapun dia mempertahankannya. Semakin berat saat Anda menemukan bahwa teman-teman si yang pertama sangat mendukung kisah yang pertama dengan yang pertama miliknya. Bahwa mereka penuh dengan kecocokan. Anda lalu berpikir bahwa Anda hanyalah butiran debu yang seenaknya diinjak, dicaci dan dibiarkan terbang sendiri tanpa tujuan. Goncangannya terlihat kuat dari sinar yang hilang dari mata, walaupun Anda mencoba tersenyum. 

Anda bahkan tidak tahu, apa yang harus Anda katakan untuk membuat segala sesuatunya selesai. Anda bahkan (ini “bahkan” yang kedua, artinya sangat parah, sangat tidak bisa dinalar) tidak punya patokan jelas dengan kata “selesai”. Karena Anda yakin bahwa ini sangatlah susah untuk selesai bagi Anda. Semakin kuatlah goncangan dalam ruang kosong. 

Oleh karenanya, saya hanya ingin menuliskan tulisan ini sebagai penyelesaian. Bahwa biarlah saya merasakan remasan kuat ini. Untuk yang pertama yang menuliskan “Kamu selalu bikin rame ^^”. Untuk dia yang sudah saling mengisi kekosongan, bahkan dengan sangat setia, sangat antusias. Sekali lagi dengan orang pertama, yang bukanlah saya. Semoga yang pertama membaca ini, saya tidak akan memaksa yang pertama untuk membaca ini, apalagi mengirimkan link-nya. Saya percaya bahwa tulisan penyelesaian ini akan dibaca oleh yang pertama tepat pada waktunya, tepat saat semua sudah harus selesai. Saya tak tahu kapan, saya sendiri tak punya patokan “selesai”, tidak bernalar. 

Beruntung sekali Anda yang bisa saling mengisi kekosongan dengan yang pertama. Saya tak punya hak untuk memastikan yang pertama juga harus beruntung dalam proses saling mengisi kekosongan tersebut. Saya hanya bisa berdoa bahwa yang pertama akan bahagia. Klise. Tapi bahagia tidak memiliki pola, masing-masing orang punya standar sendiri sehingga saya tak bisa berdoa dengan lebih spesifik. Yang pertama harus hidup bahagia! 

Akhirnya, mengutip Bang Tulus. Saya tidak ingin lagi larut dalam angan yang tanpa tujuan. Saya berkata dan menuntut ruang kosong saya untuk perlahan menerima nalar. Saya sudah harus selesai dengan semua ini, sewindu sudahlah sangat menyiksa. Kalau kata teman dekat (yang pasti sedang tertawa terpingkal-pingkal), ruang kosong saya harus bisa mengambil hikmah. Agar tidak ada lagi kata canggung atau enggan. Bahkan bisa menghilangkan keterpaksaan dan menjadikan ruang kosong saya lebih lentur. Tak lagi sebegitunya sakit saat diremas dalam pertemuan berikutnya. Terima kasih untuk kamu yang pertama, semoga kamu menerima cokelat yang saya titipkan. Itulah tanda saya sudah selesai. Ketika kamu membaca tulisan ini, tandanya saya dan kamu sudah selesai, semuanya selesai. Saya cukup tahu diri untuk tidak lagi menyiksa ruang kosong saya atau mengganggu ruang kosongmu. Terima kasih. I Love You ^^.