“Besok kalau mau menikah, cari yang seiman Katolik ya dek” begitu kira-kira nasehat Ibu, Bapak, Mbak, Kakek, nenek, Bulek dll. Bahkan keluarga saya sempat menyayangkan ketika sepupu saya mendekati perempuan berjilbab. Karena seringnya saya didoktrin seperti itu, pada awal mencari pasangan hidup saya juga mengutamakan perempuan yang seagama. Saya cenderung menghindari perempuan-perempuan beda agama ketika memilih (walaupun mereka mungkin juga enggan untuk saya pilih, haha).
Hal ini terus saya camkan hingga pada pernikahan Kakak saya dengan seorang Hindu. Kakak saya yang notabene adalah perempuan harus mengikuti tradisi pernikahan Hindu di Bali, menurut adat Bali pula. Akan tetapi baru ada pemberkatan di gereja selang 3 bulan pernikahan, yang artinya dalam akta perikahan, akak ipar saya beragama Katolik walaupun pada akhirnya keduanya tetap menjalankan ajaran mereka masing-masing. Dari hal ini kemudian saya bertanya-tanya, Katolik-Hindu kadang tidak dipermasalahkan, lalu mengapa kebanyakan orang mempermasalahkan hubungan Katolik-Islam?
Doktrinasi sejak kecil baik dari orangtua teman-teman saya yang Muslim ataupun Kristiani untuk mencari pasangan hidup yang seiman membuat saya bertanya apakah iman akan goyah karena cinta? Bukannya dengan memaknai cinta pada keberagaman kita justru mendapatkan iman yang jauh lebih kuat? Memang pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul 100% karena asumsi saya bahwa toleransi dan memahami satu sama lain adalah bagian utama sebuah iman. Lalu saya juga mulai bertanya-tanya apakah dengan segala doktrinasi untuk mendapatkan pasangan seiman itu tidak akan menimbulkan perpecahan? Setidaknya secara tidak sadar bukannya akan muncul keyakinan bahwa pasangan yang seiman adalah pasangan yang terbaik? Dengan memunculkan pandangan bahwa pasangan yang seiman adalah pasangan yang terbaik, bukannya manusia juga menciptakan pandangan bahwa agamanya adalah yang terbaik dan harus terus menerus diturunkan pada anak cucunya?
Dari pandangan sederhana (yang mungkin terlalu sederhana) ini kemudian saya mulai tidak yakin bahwa saya diajarkan untuk beriman untuk kelangsungan kedamaian di dunia, saya justru berprasangka bahwa saya diajarkan beriman hanya untuk menjaga kelestarian agama saya di dunia. Prasangka saya kemudian berlanjut pada penolakan saya terhadap segala bentuk Muhammad, Yesus, Buddha, Syiwa atau apapun nama Nabi atau anutan yang selalu dielu-elukan utnuk mengajarkan hidup pada para pemeluknya. Bukankah mereka diciptakan sebagai anutan, bukan untuk memecahbelah pandangan manusia tentang manusia lain dan juga kedamaian yang seharusnya diciptakan oleh manusia? Tapi penolakan tersebut hanyalah penolakan sementara, karena saya tetap mengimani Yesus sebagai bagian dari anutan saya dan sekali bukan untuk memecahbelah pandangan saya tentang manusia yang baik dan buruk berdasarkan siapa yang mereka anut.
Kembali pada asumsi saya tentang agama sebagai sebuah aliran untuk mengajarkan bagaiamana manusia bersikap terhadap manusia lain untuk menciptakan kedamaian (bukan menciptakan surga atas nama agama masing-masing), maka tidak adil ketika sebuah pernikahan yang didasarkan pada cinta (sumber kedamaian)tidak direstui hanya karena masalah perbedaan agama. Ketika orang kemudian memunculkan argumen bahwa pernikahan seagamalah yang akan menciptakan kedamaian, maka saya akan memunculkan argumen bahwa tidak selamanya pergaulan seagama selalu menciptakan kedamaian. Pergaulan seagama hanya akan menutup mata teman-teman sepergaualan tentang ajaran-ajaran lain yang beragam dan secara tidak langsung membentuk sebuah pertahanan diri terhadap agama lain karena mereka benar-benar tidak paham. Begitu pula dengan sebuah hubungan pernikahan atau setidaknya hubungan percintaan, bukankah dengan berpasangan atas dasar persamaan agama tanpa pernah merasakan cinta yang sesungguhnya merupakan sebuah penghianatan tersebesar terhadap hati masing-masing orang yang merasakan. Bukankah dengan melarang mereka mencintai yang berebda gama, maka juga melarang mereka untuk mencintai manusia sebagaiamana kepercayaan mereka?
Itu merupakan pernyataan dan keyakinan saya, mungkin akan sangat salah ketika dipandang dari sudut pandang ketaatan beragama, atau akan sangat salah jika dipandang lebih jauh tentang makana pernikahan. Tapi setidaknya sebelum saya mengetahui ajaran agama yang melarang saya menikah dengan pasangan yang berbeda agama ataupun terhalang aturan yang membuat saya harus menikah dengan menjalani agama yang sama, saya punya pandangan tersendiri tentang pernikahan dan agama sebagai sebuah sarana penciptaan kedamaian yang universal. Sekian, maaf jika ada yang tersinggung atau tulisan ini berat sebelah, tapi saya berpikir saya beragama karena iman, saya memilih pasangan karena cinta dan saya bertingkahlaku karena saya ingin terjalin kedamaian di dunia setidaknya hal itulah yang melandasi saya untuk menuliskan tulisan ini. Pemikiran sangat sederhana yang mungkin susah dipahami, susah diterima dan minim argumentasi. Sekian, mohon koreksinya.
Dear Sidhi Vhisatya...
BalasHapusPerkenalkan nama saya Agnes, saya sangat tertarik membaca blog ini karena saat ini saya memiliki masalah terkait beda agama. Saya seorang beragama Katolik, tetapi pasangan saya beragama Katolik.
Sesuai dengan isi cerita Sidhi di atas, kakak Anda menikah dengan seorang Hindu juga. Bolehkah cerita kepada saya bagaimana prosesi pernikahan tersebut pada akhirnya? Jika berkenan, mohon dapat menginformasikan hal tersebut supaya dapat menjadi gambaran bagi saya ke email agnes.hermin@gmail.com .
Terima kasih
-agnes-
hai sidhi vhisatya saya juga mau tau donk gimana prosesi pernikahan kakak anda, karena saya seorang katolik dan pasangan saya adalah laki-laki hindu ... jadi saya perlu referensi.. kira2 kalau saya menikah itu saya dan pasangan harus bagaimana?
BalasHapusboleh nggak dikirim ke vanneshaclara20@hotmail.com
makasi banyak sebelumnya atas bantuannya
hai sidhi vhisatya saya juga mau tau donk gimana prosesi pernikahan kakak anda, karena saya seorang katolik dan pasangan saya adalah laki-laki hindu ... jadi saya perlu referensi.. kira2 kalau saya menikah itu saya dan pasangan harus bagaimana?
BalasHapusboleh nggak dikirim ke vanneshaclara20@hotmail.com
makasi banyak sebelumnya atas bantuannya
hi, nama saya Priscilla Cassandra dan saya juga tertarik dengan blog kamu terutama ttg pernikahan katolik-hindu. pacar saya agamanya hindu dan saya beragama katolik. kalau boleh berbagi, kamu bisa email ke priscilla.cassandra@gmail.com. thx yab
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusHi, namaku Viana. Sama dengan yg lainnya. Pasanganku beragama Hindu. Sedangkan aku beragama Katolik. Indah sekali kalau bisa masing2 tanpa harus memaksakan satu sama lain :)
BalasHapusKalau boleh, mohon di share cerita tentang pengalamn kaka kamu ya dan prosesi pernikahannya Ke aurelianerissa@gmail.com. thank you :)
Hi, nama aku Ratih, terima kasih sudah mau share pandangan mengenai pasangan berbeda agama. Aku sendiri Hindu dan Pasanganku Katolik. Kalau boleh mohon di share pengalaman kakak kamu ya dan proses pernikahannya ke gekratih21@gmail.com Terima kasih sudah mau berbagi
BalasHapusHi, nama aku Ratih, terima kasih sudah mau share pandangan mengenai pasangan berbeda agama. Aku sendiri Hindu dan Pasanganku Katolik. Kalau boleh mohon di share pengalaman kakak kamu ya dan proses pernikahannya ke gekratih21@gmail.com Terima kasih sudah mau berbagi
BalasHapusHi, nama aku desy, terima kasih sudah mau share pandangan mengenai pasangan berbeda agama. Kalau boleh mohon di share pengalaman kakak kamu ya dan proses pernikahannya ke sweet_eccy@yahoo.com Terima kasih sudah mau berbagi
BalasHapusHi, nama aku desy, terima kasih sudah mau share pandangan mengenai pasangan berbeda agama. Kalau boleh mohon di share pengalaman kakak kamu ya dan proses pernikahannya ke sweet_eccy@yahoo.com Terima kasih sudah mau berbagi
BalasHapusHi, inisial nama saya RM, terima kasih atas share pandangan pasangan beda agama. Seperti kebanyakan komen sebelum saya, bolehkah berbagi proses pernikahan dan kehidupan kakak kamu yang katolik-hindu? Kebetulan saya katolik, dan pasangan saya hindu (laki-laki). Tolong share ke ranggi.maharani@gmail.com
BalasHapusHi.. saya Dpy, juga tertarik bagaimana detailnya kakak yang Katolik dan Hindu? Seperti komen sebelum saya ini di atas, kebetulan sy Katolik dan pacar saya Hindu (laki²)... minta tolong di share atau di foreward ke email deppyamristas@gmail.com
BalasHapusTerima kasih...
Halo, selamat malam, saya juga mau tahu, bagaimana prosesi pernikahan kakak anda? karena saya seorang Katolik dan pasangan saya adalah Hindu dan saya perlu referensi
BalasHapusBoleh tidak berbagi cerita ke alamat email saya di : ylatumaone@gmail.com
Terimakasi banyak sebelumnya atas bantuannya.
Salam hormat
Halo.. Kira kira bagaimana kelanjutan antara pernikahan kakak kamu (Hindu-katolik) ? Boleh kah tolong ceritakan bagaimana prosesinya, serta bagaimana respon kedua keluarga? Terimakasih banyak...
BalasHapusHalo... bolehkah saya lebih tau mengenai proses pernikahannya? Kebetulan saya katolik dan pacar saya hindu. Bisakah share pengalamannya melalui email saya astarocomic@gmail.com terima kasih.
BalasHapusnama saya kadhek Widhi, minta tolong kk sarannya, mengenai pernikahan Hindu- katholik.. saya laki laki hindu, dan pacar saya Khatolik... Langkah tahapan yang ditempuh oleh kakk anda.. makasih
BalasHapussaran Kirim ke : seecs.eee.iub92@gmail.com
Hai kak Sidhi Vhisatya, kenalin q eka. Aku merasa sangat tertarik dgn pandangan yg kakak tulis, karna AQ skg mmng sedang menjalani hubungan beda agama, AQ wanita Hindu dan pasangan q pria Katholik. Seperti yg lain boleh AQ kakak bagi pengalaman kakaknya kakak yg menikah beda agama mulai dari respon keluarga sampai dengan tahapan pernikahannya. Kalau boleh tlong share ke ekabudiastriani@gmail.com. terimakasih
BalasHapus