Ella
Fitzgerald dengan syahdu, setengah serak, dan penuh kekuatan melantunkn lagu
penantian ini. There’s a saying old, that
the love is blind. Still we’re often told, seek and ye shall find.
Nada-nada minor, biasa dianggap sebagai nada yang agak miring, membuat suaranya
yang garang itu menyeyat-nyayat.
Cinta
itu buta, katanya pada pembuka. Boleh percaya atau tidak, karena nyatanya kita
juga masih sering berkata bahwa ketika mencari, kita akan menemukan. Mencari,
kemudian menemukan adalah kata kerja yang mengandung unsure kesengajaan,
berbeda dengan “buta”, yang sama sekali tidak menyengaja kerja. Kerja yang
dilakukan oleh hati, maksudnya. Dialektika ini muncul terus menerus. Saat
berhadapan dengan seseorang, saya mencoba membutakan diri, agar merasakan apa
itu cinta. Tapi, di lain sisi, saya mencari-cari cinta di dalamnya, dan
ternyata hampa. Nir hasil. Sia-sia.
Looking everywhere, haven’t found him yet,
lanjutnya. Dalam liriknya, dengan liris, seolah mengaduh, dia menyanyikan bahwa
ada peristiwa emosional paling besar, yang pernah dia rasakan. Hanya sekali,
sekali saja dengan penyesalan.
“Jangan
pakai rasa ya,” begitu dia berkata sesaat setelah selesai berjumpa.
Saat
euphoria masih besar-besarnya, dan endorphin masih berlebih-lebihan, kata-kata
itu saya anggap hanya sebagai bualan. Tidak saya acuhkan, tetap saja tersenyum
bahagia. That the love is blind. Tapi
terlalu mudah untuk menyimpulkan dari perjumpaan pertama, bahwa inilah
kebutaan. Syarat orang sedang jatuh cinta. Rasa-rasa yang ini mirip dengan
alunan I’d like to add his initial to my
monogram. Tell me, where is the shepherd for this lost lamb? Seakan
menegaskan bahwa kebutaan adalah penyebab hilangnya segala kemampuan untuk
menentukan arah. Karena terlalu bergembira, saya berjalan tanpa tahu arah.
Hanya nama dia, dia, dan dia lagi yang berdengung. Sayang , dengungnya tak
menentu, berasal dari semua penjuru. Semua penjuru yang saya coba jajaki satu
per satu.
Masih
teringat satu per satu yang kami lakukan. Dia menceritakan pada saya tentang
kehidupan, dan aku hanya diam saja, karena merasa tak pernah berpengelaman. Dia
membimbing, manifestasi dari sikap-sikap keibuan. Tenang, seperti air yang
mengalir, membasahi kerongkongan-kerongkongan yang dahaga dan akhirnya
menghidupkan. Sebelumnya saya merasa perasaan saya sudah mati, dengan dia organ-organ mengirim sinyal ke jaringan dan jaringan meneruskan
ke setiap selnya, mereka benar-benar terasa hidup, bergejolak, mungkin seperti
kuncup bunga yang mekar dengan cepat. Jutaan sel yang ada dalam tubuh menyinergikan pikiran dan hati, berpikir dan merasakan, bahwa saya hidup. Baru.
Mungkin
bukan yang pertama. Banyak kejadian serupa, dengan orang yang berbeda-beda
pula. Semuanya singgah tanpa meninggalkan jejak penasaran. Tapi dia yang ini,
adalah yang pertama bermakna. Karena dia membawa sebuah cawan berisi pengampunan yang membuat saya mengampuni kesalahan-kesalahan masa lalu, serta sepotong roti kehidupan. Pada akhirnya, dialah yang menyimpan misteri.
Bukan tentang yang pertama, tapi tentang yang pertama bermakna. Dan lagi, dia
bukan milik dan tidak bisa dimiliki oleh seseorang. Banyak orang berteduh di bawah kerindangan daunnya.
Itulah sebab dia berkata, “Jangan pakai rasa ya.” Sekalipun rasa itu sudah benar-benar ada, sebelum dia sempat memperingatkan.
Although he may not be the man, some girls
think of as handsome. To my heart, he carries the key. Sesingkat-singkatnya
perjumpaan, saya merasa bahwa dialah yang membawa kunci. Dia yang sudah
membukakan hati. Atau saya salah, bahwa justru karena terlalu singkat, saya
masih yakin bahwa dialah pembawa kunci? Tapi saya yakin, dia yang telah
membukanya, membuatku berani memeluknya. Dia, hanya dia yang mampu menutupnya
lagi dengan kunci yang dia pegang.
I need someone to watch over me. Someone to watch over me. Dia sudah
membukakan hati, dan saya berpasrah dalam proses itu. “Jangan pakai rasa ya,”
bukanlah sebuah perintah untuk mencegah perasaan ini mengambil alih, tapi
terlanjur menjadi obat untuk hati yang menganga. Ada lubang di dalamnya dan itu
membuat sakit, pada permulaan. Rasa itu sudah tumbuh, membagi kepasrahan,
kerelaan. Bahwa dia, sewaktu-waktu dan tanpa pemberitahuan, akan pergi.
Kepergiannya akan menyisakan misteri. Sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab
dalam waktu singkat: siapa yang akan menutup hati ini? Atau mungkin, dia
membiarkannya terbuka, agar tidak ada lagi ketakutan akan rasa sakit yang
berkali-kali singgah.
Someone to watch over me. Walaupun kami
akan berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Pada akhir desahan tebal Ella,
aku menambahkan And I promise to be
someone to watch over you. Dan pencarian itu sudah berakhir.
Catatan: Terinspirasi dari
cerita-cerita di 30 April 2014. Pertama, dengan kawan dekat. Seorang perempuan
hebat dan kisahnya dengan laki-laki yang hebat juga. Kedua, dengan R. Ketiga, Someone to Watch Over Me – Ella Fitzgerald.