Esoknya aku memikirkan tempat-tempat mana saja yang membuat aku damai. Akhirnya aku datang ke tempat-tempat ramai, dengan alunan musik, gedung dengan gambar yang bergerak-gerak atau gedung dengan instalasi estetis yang membuat Sang Rasa berdecak kagum. Tapi aku belum merasakan kedamaian, tidak lagi seperti syarat Wujil Kinasih: Sunyi.
Esoknya, ada seorang kawan yang mengajak untuk pergi ke gunung. Ah, aku pernah gagal mencapai puncak gunung. Apa aku harus mengulang kegagalan kembali? Tapi toh aku belum pernah mencapai puncaknya, siapa tahu puncak itu yang empunya kedamaian? Tak masalah selama masih ada kawan, sendiri pun sebenarnya aku masih bisa berkawan: dengan rumput, pohon dan serangga. Tapi apalah artinya aku tanpa kawan yang bisa kuajak mengobrol tentang misteri cermin itu.
Esoknya, anggap saja begitu, tanpa persiapan yang matang—karena memang tidak ada yang harus dipersiapkan secara matang—aku dan kawanku itu berangkat. Kami naik sepeda motor menuju Di Hyang, yang konon katanya adalah tempat bersemayam para Dewa, moksa. Sepeda motorku pasti bangga, karena dia pernah mencicipi mokas.
Kami saba wana (melewati hutan). Di kanan dan kiri banyak penjual carica, kami tahu kemudian bahwa betuk aseli carica adalah seperti papaya. Bedanya, dalamnya membentuk bintang secara sempurna. Aku sadar, ini tempat para Dewa singgah, carica yang menjadi oleh-oleh utama adalah bintang-bintang yang dianugerahkan para Dewa. Pantas, mereka terjaga dan dengan baik tersimpan di sudut-sudut jalan.
Tiba di sana, hujan mengguyur, paling tidak nyaman karena masuk di sela-sela sepatu dan kaos kaki. Baunya pasti menyengat saat dibuka. Ah, bau itu alamiah, tak masalah. Kami beristirahat sebentar, mencoba mengisi perut agar omongan tidak melantur saat sowan para Dewa.
Lepas maghrib, kami bawa bawaan dan tenda. Kami parkirkan motor di salah satu rumah warga, kami tanjaki punggung bukit Sikunir, salah satu tempat persemayaman Dewa, konon katanya. Dalam perjalanan aku hanya berpikir bahwa tempat Dewa adalah tempat yang cocok untuk bertanya tentang kemana hilangnya cermin.
Tiba di Sikunir, dengan harapan mampu melihat lukisan Sang Dewa berupa Surya yang bulat dan berwarna bagai emas, kami mendirikan tenda. Was-was, karena setelah kami selesai mebangun tenda, hujan mengguyur. Kami lupa membuat parit—sejujurnya aku memang tak pernah tahu syarat tenda yang benar adalah dikelilingi parit pengalih aliran air—hingga tenda tergenang air. Belum lagi bayu yang terus berhembus ke sana ke sini. Kami melepas beban dengan bercakap-cakap seadanya, tentang cermin yang dia bawa dan cermin yang belum ketemu. Semuanya adalah tentang misteri. Banyak hal yang kami definisikan sebagai misteri: rasa, karya dan karsa.
Misteri adalah sesuatu yang setia untuk masa depan. Tapi kesetiaan, rasa syukur adalah sebuah msteri yang mempu memecahkan misteri lain. Kita punya pedoman untuk berkarya. Semoga kawanku ini selalu paham bahwa dalam dalam berkarya dia harus menjaga kesetiaan. Begitu pula aku, semoga aku selalu tahu dan tak gagal lagi seperti urusan menjaga cermin.
Hujan sedikit reda. Seusai membenahi letak jas hujan penutup tenda, kami membuat parit mengelilingi tenda. Takut kalau-kalau air terlalu nyaman dengan alirannya tadi, kami alihkan agar mereka mau menyuburkan pohon-pohon kering di sekeliling kami. Temanku tiba-tiba mengambil sikap doa, dan aku menjadi tersindir dengan sendirinya. Aku pun ikut berdoa, bukan ikut-ikutan, aku merasakan dinginnya bayu yang berhembus, meminta kehangatan pada Sang Dewa. Aku mencoba merasakan kehadiran mereka, menjaga satu-satunya tenda yang berdiri di atas awan berarak-arak. Selesai, aku kembli malu. Ternyata hujan reda hingga pagi, dan aku sempat tak ingin mendekat dengan para Dewa. Kawanku yang memulainya. Terima kasih.
Sudah berdoa, aku terlelap dan kawanku terjaga. Saat ragaku sudah puas berstirahat, aku terjaga dan dia terlelap. Tapi karena dingin terlalu beresonansi dengan keadaan hatiku yang terpisah dengan cermin, aku pun ikut terlelap kemudian.
Esok paginya, ternyata Surya sedang tidak enak badan. Dia harus diselimuti kabut tebal dan awan yang sedikit kehitaman. Tak apa, saya masih bisa merasakan kehangatannya. Matanya berbicara dan memelukku. Surya mengajakku bercakap tentang misteri. Kawanku juga ikut terlbat dalam percakapan tanpa suara itu.
Kami bereskan tenda dan semua peralatan, kami lambaikan tangan pada Surya yang masih berselimut tebal. Kami berkeliling sejenak menikmati rumah-rumah Dewa yang lain. Di Hyang, begitu katanya. Kami ucapkan terima kasih satu per satu pada mereka yang menjaga kami semalam: Telaga Warna, Pangeran Kidang dengan semburan lumpurnya, juga candi-candi kokoh tempat manusia menyembah Dewa. Kamipun pulang.
Dalam perjalanan aku mencoba menyimpulkan petunjuk apa yang kudapat dari perjalanan ini. Ternyata aku belajar dari kawanku ini bahwa menjadi dekat dengan alam adalah kunci mendekati para Dewa. Sang Hyang tahu dimana letak cermin. Doa. Akan kuberitahukan satu petunjuk ini pada Wujil Kinasih. Sekali lagi, terima kasih.
***
Esoknya aku mengadu pada Wujil Kinasih tentang semua perjalanan ke Di Hyang. Dia menjawab, “Kawan kau itu akan jadi orang yang hebat.”
Aku protes, “Mbah, ini tentang aku dan cerminku, kau malah bicara tentang kawanku?”
“Di situlah kesalahanmu. Kau selalu berpikir tentang dirimu sendiri. Kau tidak merasakan bahwa kawanmu mungkin akan sangat berjasa dalam hidupmu seminggu ke depan, dia menyindirmu dengan perbuatan kan? Bukan lagi perkataan? Sindiran yang hebat.”
“Baiklah, Mbah. Satu petunjuk yang akan kuamalkan seminggu ke depan, Doa. Lalu dimana aku bisa mencari petunjuk lain?”
“Masih di tempat hening, tempat kamu merasakan kedamaian, carilah dengan doa. Kau kini toh sudah tahu caranya hening dalam doa.”
Aku hanya bergeming. Tidak berdoa, tapi mencoba mencari-cari alasan untukku mau berdoa. Kata kawanku: rasanya tidak adil bagi Tuhan kalau aku hanya berdiam diri, tidak berdoa. Padahal Dia selalu jadi kawan. Berdoa sejatinya bercakap-cakap dengan Kawan, merawat percakapan. Itu adil untuk kawan yang selalu ada. (edited). Inilah saatnya berlaku adil sejak dari pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Lebih-lebih berlaku adil sejak dalam keyakinan, orang sering lupa hal ini.
***
Wujil Kinasih memang welas asih, tapi kata-katanya memang menyebalkan. Penuh wacana, tidak bisa dimengerti serta-merta, harus dipahami dengan bahasa-bahasa Dewa. Wujil Kinasih juga pernah bilang bahwa bahasa Dewa itu tidaklah sulit, hanya tinggal memahami diri sendiri, berkaca pada diri sendiri. Tapi, cerminku kan masih hilang. Keadaan ini sangat rumit.
Esoknya, ada sekelompok temanku mengajak untuk berlibur dan menginap ke suatu tempat. Menginap tidak di balik tembok, tapi menyatu dengan alam. Lagi. Aku iyakan, rencana mendirikan tenda di pantai berubah menjadi menyelinap di balik dingin Merbabu. Aku suka, tapi di sinilah kata-kata Wujil Kinasih tentang diriku menjadi terbukti.
Perjalanan dimulai akhir minggu. Tepat tujuh hari setelah aku mengunjungi Di Hyang. (bersambung)
