Selasa, 17 September 2013

Perpustakaan Ideal yang Kuinginkan

Judul ini saya ambil dari judul lomba yang diadakan oleh Perpustakaan UAJY beberapa bulan lalu (saya lupa tepatnya). Seandainya mahasiswa boleh mengikuti lomba ini, saya akan menuliskan banyak keluh kesah tentang kondisi perpustakaan UAJY saat ini, saying lomba ini hanya terbuka bagi siswa SMA.

                Saya menulis tulisan (bisa disebut surat, curhatan, sekedar keluh kesah atau kritik) ini karena saya merasa sudah tidak nyaman lagi dengan suasana perpustakaan UAJY. Walaupun tugas utama perpustakaan adalah sebagai bank buku, perpustakaan harusnya juga berfungsi sebagai tempat kondusif untuk membaca buku-buku tersebut. Suasana perpustakaan UAJY saat ini sangat tidak kondusif dan tidak mendukung salah satu tujuan perpustakaan (saya kutip dari http://www.karyawan perpustakaan.com/pengertian-tujuan-dan-peran-perpustaan) yaitu “dapat menggunakan waktu senggang dengan baik yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan social”. Saya rasa cara terbaik memanfaatkan waktu senggang yang dimaksudkan dalam tujuan perpustakaan adalah dengan membaca, dalam situasi yang tenang, kondusif. Hal ini mulai hilang dari perpustakaan UAJY.

            Saya kemudian membandingkan situasi perpustakaan UAJY dengan beberapa perpustakaan di Jogyakarta: Perpus Kota, JLC, Perpus Kolsani, Perpus UGM, Perpusda. Situasi Perpustakaan UAJY sedikit banyak mirip dengan situasi perpus kota, yang hiruk pikuk.Berikut beberapa alasan yang kemungkinan besar menjadi penyebab hiruk pikuk perpustakaan:

1.    Desain ruang, yang menurut saya tidak memadai: kantor pegawai perpustakaan dan ruang perpustakaan diletakkan di gedung dengan ruang yang terbuka. Pada beberapa gedung perpustakaan lain, letak kantor karyawan perpustakaan akan terpisah dengan ruang baca dan dibatasi oleh sekat untuk meminimalisir suara dari luar terdengar di ruang baca. Hal ini diperparah oleh karyawan perpustakaan yang sering ngobrol dengan suara keras sehingga terdengar hingga ruang baca. Ini sudah tidak sesuai dengan semangat Librarian Serve People, not Books yang dipasang di web perpustakaan J

2.    Belum ada sosialisasi atau kesepahaman tentang fungsi perpustakaan. Saya bisa contohkan di Perpus Kolsani, misalnya, ada perjanjian untuk pengunjung: tidak ngobrol, mematikan/silent handphone, tidak boleh menerima telepon di dalam ruangan, tidak boleh melipat buku, tidak boleh mencoret buku dan tidak boleh menghilangkan buku. Semua pelanggaran atas poin-poin tersebut akan diberi teguran atau sanksi langsung dari karyawan perpustakaan. Sosialisasi aturan perpustakaan UAJY kurang (atau mungkin belum ada) dan kerja karyawan Perpustakaan UAJY masih cenderung pasif dalam memberikan teguran sehingga semakin membuat suasana perustakaan tidak kondusif.

3.    Poin kedua dipicu juga oleh kesadaran pemustaka yang kurang, misal: melakukan diskusi di ruang baca, mengobrol di ruang baca, padahal sudah disediakan ruang diskusi. Hal ini secara tidak langsung terjadi karena memang tidak ada sosialisasi tentang aturan di ruang baca, ruang skripsi, ruang referensi dan lab kom, artinya poin dua sangat berperan dalam mengurangi keramaian yang diakibatkan oleh pemustaka.

4.    Mesin fotocopy yang tidak berfungsi baik, lama dan hasilnya mengecewakan. Poin ini tidak berpengaruh langsung pada suasana kondusif, tapi menjadi poin tambahan yang harus menjadi perhatian.

Saya menuliskan tulisan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap perpustakaan UAJY dan kenyamanan menggunakan fasilitas perpustakaan UAJY (baik warga internal atau eksternal-non UAJY). Saya juga pernah posting kicauan terkait tidak kondusifnya perpustakaan ini dalam 140 karakter di twitter, yang langsung saya mention ke @uajy, ternyata tidak ada tanggapan. Kicauan saya ternyata di-retweet dan di-reply sebanyak 12 kali, berarti ada dua belas orang yang memiliki harapan sama dengan saya. KIcauan kecil saya mungkin tidak terdengar, keluh kesah saya pada beberapa SS Perpus juga mungkin tidak tersampaikan pada orang yang berwenang sehingga suasana perpustakaan ya begini-begini saja, tidak berubah. Maaf kalau tulisan ini menyinggung perasaan atau diterima secara negative. Saya kadang juga masih ngobrol singkat di perpustakaan, tapi bukan berarti saya tidak mau perpustakaan menjadi tempat yang lebih baik, bahkan mungkin bia menjadi perpustakaan ternyaman untuk mengerjakan tugas atau sekedar membaca mengisi waktu luang. Semoga perpustakaan ideal segera tercipta di UAJY.


Oya, maaf kalau saya posting tulisan ini lewat blog yang bisa dibaca siapa saja, karena saya tidak menemukan kolom kritik dan saran di website perpustakaan.uajy.ac.id.

Rabu, 31 Juli 2013

Mencari Cermin 2: Catatan Perjalanan Dieng (Di Hyang)

   Esoknya aku memikirkan tempat-tempat mana saja yang membuat aku damai. Akhirnya aku datang ke tempat-tempat ramai, dengan alunan musik, gedung dengan gambar yang bergerak-gerak atau gedung dengan instalasi estetis yang membuat Sang Rasa berdecak kagum. Tapi aku belum merasakan kedamaian, tidak lagi seperti syarat Wujil Kinasih: Sunyi.

   Esoknya, ada seorang kawan yang mengajak untuk pergi ke gunung. Ah, aku pernah gagal mencapai puncak gunung. Apa aku harus mengulang kegagalan kembali? Tapi toh aku belum pernah mencapai puncaknya, siapa tahu puncak itu yang empunya kedamaian? Tak masalah selama masih ada kawan, sendiri pun sebenarnya aku masih bisa berkawan: dengan rumput, pohon dan serangga. Tapi apalah artinya aku tanpa kawan yang bisa kuajak mengobrol tentang misteri cermin itu. 

   Esoknya, anggap saja begitu, tanpa persiapan yang matang—karena memang tidak ada yang harus dipersiapkan secara matang—aku dan kawanku itu berangkat. Kami naik sepeda motor menuju Di Hyang, yang konon katanya adalah tempat bersemayam para Dewa, moksa. Sepeda motorku pasti bangga, karena dia pernah mencicipi mokas.

   Kami saba wana (melewati hutan). Di kanan dan kiri banyak penjual carica, kami tahu kemudian bahwa betuk aseli carica adalah seperti papaya. Bedanya, dalamnya membentuk bintang secara sempurna. Aku sadar, ini tempat para Dewa singgah, carica yang menjadi oleh-oleh utama adalah bintang-bintang yang dianugerahkan para Dewa. Pantas, mereka terjaga dan dengan baik tersimpan di sudut-sudut jalan. 

  Tiba di sana, hujan mengguyur, paling tidak nyaman karena masuk di sela-sela sepatu dan kaos kaki. Baunya pasti menyengat saat dibuka. Ah, bau itu alamiah, tak masalah. Kami beristirahat sebentar, mencoba mengisi perut agar omongan tidak melantur saat sowan para Dewa. 

   Lepas maghrib, kami bawa bawaan dan tenda. Kami parkirkan motor di salah satu rumah warga, kami tanjaki punggung bukit Sikunir, salah satu tempat persemayaman Dewa, konon katanya. Dalam perjalanan aku hanya berpikir bahwa tempat Dewa adalah tempat yang cocok untuk bertanya tentang kemana hilangnya cermin. 

  Tiba di Sikunir, dengan harapan mampu melihat lukisan Sang Dewa berupa Surya yang bulat dan berwarna bagai emas, kami mendirikan tenda. Was-was, karena setelah kami selesai mebangun tenda, hujan mengguyur. Kami lupa membuat parit—sejujurnya aku memang tak pernah tahu syarat tenda yang benar adalah dikelilingi parit pengalih aliran air—hingga tenda tergenang air. Belum lagi bayu yang terus berhembus ke sana ke sini. Kami melepas beban dengan bercakap-cakap seadanya, tentang cermin yang dia bawa dan cermin yang belum ketemu. Semuanya adalah tentang misteri. Banyak hal yang kami definisikan sebagai misteri: rasa, karya dan karsa. 

   Misteri adalah sesuatu yang setia untuk masa depan. Tapi kesetiaan, rasa syukur adalah sebuah msteri yang mempu memecahkan misteri lain. Kita punya pedoman untuk berkarya. Semoga kawanku ini selalu paham bahwa dalam dalam berkarya dia harus menjaga kesetiaan. Begitu pula aku, semoga aku selalu tahu dan tak gagal lagi seperti urusan menjaga cermin. 

  Hujan sedikit reda. Seusai membenahi letak jas hujan penutup tenda, kami membuat parit mengelilingi tenda. Takut kalau-kalau air terlalu nyaman dengan alirannya tadi, kami alihkan agar mereka mau menyuburkan pohon-pohon kering di sekeliling kami. Temanku tiba-tiba mengambil sikap doa, dan aku menjadi tersindir dengan sendirinya. Aku pun ikut berdoa, bukan ikut-ikutan, aku merasakan dinginnya bayu yang berhembus, meminta kehangatan pada Sang Dewa. Aku mencoba merasakan kehadiran mereka, menjaga satu-satunya tenda yang berdiri di atas awan berarak-arak. Selesai, aku kembli malu. Ternyata hujan reda hingga pagi, dan aku sempat tak ingin mendekat dengan para Dewa. Kawanku yang memulainya. Terima kasih. 

  Sudah berdoa, aku terlelap dan kawanku terjaga. Saat ragaku sudah puas berstirahat, aku terjaga dan dia terlelap. Tapi karena dingin terlalu beresonansi dengan keadaan hatiku yang terpisah dengan cermin, aku pun ikut terlelap kemudian. 

  Esok paginya, ternyata Surya sedang tidak enak badan. Dia harus diselimuti kabut tebal dan awan yang sedikit kehitaman. Tak apa, saya masih bisa merasakan kehangatannya. Matanya berbicara dan memelukku. Surya mengajakku bercakap tentang misteri. Kawanku juga ikut terlbat dalam percakapan tanpa suara itu.



  Kami bereskan tenda dan semua peralatan, kami lambaikan tangan pada Surya yang masih berselimut tebal. Kami berkeliling sejenak menikmati rumah-rumah Dewa yang lain. Di Hyang, begitu katanya. Kami ucapkan terima kasih satu per satu pada mereka yang menjaga kami semalam: Telaga Warna, Pangeran Kidang dengan semburan lumpurnya, juga candi-candi kokoh tempat manusia menyembah Dewa. Kamipun pulang.






   Dalam perjalanan aku mencoba menyimpulkan petunjuk apa yang kudapat dari perjalanan ini. Ternyata aku belajar dari kawanku ini bahwa menjadi dekat dengan alam adalah kunci mendekati para Dewa. Sang Hyang tahu dimana letak cermin. Doa. Akan kuberitahukan satu petunjuk ini pada Wujil Kinasih. Sekali lagi, terima kasih. 

 *** 

   Esoknya aku mengadu pada Wujil Kinasih tentang semua perjalanan ke Di Hyang. Dia menjawab, “Kawan kau itu akan jadi orang yang hebat.” 

  Aku protes, “Mbah, ini tentang aku dan cerminku, kau malah bicara tentang kawanku?” 

  “Di situlah kesalahanmu. Kau selalu berpikir tentang dirimu sendiri. Kau tidak merasakan bahwa kawanmu mungkin akan sangat berjasa dalam hidupmu seminggu ke depan, dia menyindirmu dengan perbuatan kan? Bukan lagi perkataan? Sindiran yang hebat.” 

  “Baiklah, Mbah. Satu petunjuk yang akan kuamalkan seminggu ke depan, Doa. Lalu dimana aku bisa mencari petunjuk lain?” 

   “Masih di tempat hening, tempat kamu merasakan kedamaian, carilah dengan doa. Kau kini toh sudah tahu caranya hening dalam doa.” 

  Aku hanya bergeming. Tidak berdoa, tapi mencoba mencari-cari alasan untukku mau berdoa. Kata kawanku: rasanya tidak adil bagi Tuhan kalau aku hanya berdiam diri, tidak berdoa. Padahal Dia selalu jadi kawan. Berdoa sejatinya bercakap-cakap dengan Kawan, merawat percakapan. Itu adil untuk kawan yang selalu ada. (edited). Inilah saatnya berlaku adil sejak dari pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Lebih-lebih berlaku adil sejak dalam keyakinan, orang sering lupa hal ini. 

 *** 

  Wujil Kinasih memang welas asih, tapi kata-katanya memang menyebalkan. Penuh wacana, tidak bisa dimengerti serta-merta, harus dipahami dengan bahasa-bahasa Dewa. Wujil Kinasih juga pernah bilang bahwa bahasa Dewa itu tidaklah sulit, hanya tinggal memahami diri sendiri, berkaca pada diri sendiri. Tapi, cerminku kan masih hilang. Keadaan ini sangat rumit. 

  Esoknya, ada sekelompok temanku mengajak untuk berlibur dan menginap ke suatu tempat. Menginap tidak di balik tembok, tapi menyatu dengan alam. Lagi. Aku iyakan, rencana mendirikan tenda di pantai berubah menjadi menyelinap di balik dingin Merbabu. Aku suka, tapi di sinilah kata-kata Wujil Kinasih tentang diriku menjadi terbukti. 
  
   Perjalanan dimulai akhir minggu. Tepat tujuh hari setelah aku mengunjungi Di Hyang. (bersambung)

Mencari Cermin 1: Percakapan dengan Wujil Kinasih

   Wujil Kinasih, hamba Majapahit yang sedang sowan pada Panembahan Wahdat, menantang halus gurunya itu. Dia sudah melakukan pembacaan terhadap karya-karya Kitab suci yang hendak diajarkan gurunya, dia sudah melakukan semua yang ada di Kitab Suci. Makin dia membaca, makin dia tak mengerti. Makin dia membaca, makin dia merasa seperti boneka, digerakkan oleh pikiran-pikirannya sendiri: harus begini lah, harus begitulah. Hidupnya tak lagi luwes. Dengan halus dia meminta gurunya itu menjelaskan mengapa dia mulai terbebani. 

   “Kamu membaca tanpa memahami,” kata Panembahan Wahdat, “ Kamu dalami dulu siapa dirimu. Tanpa membaca, dengan mengenal siapa dirimu kamu akan menjadi lebih agung dari pada pembaca-pembaca Kitab Suci yang sekedar mencari tutorial kehidupan.” Wahdat meneruskan lagi bahwa siapa yang mematikan jiwa dalam dirinya, tindakannya akan terus mengekang. Siapa yang mulai mengekang tubuhnya, tak henti-henti memaki kekurangan, terjebak dan patuh pada sabda tanpa menghadirkan kembali Sang Ada. 

   Mendengar itulah Sang Wujil Kinasih akhirnya menyadari betapa buruk pembacaan sabdanya. Bahwa sabda bukanlah tutorial belaka. Sabda adalah memahami dengan sungguh-sungguh dalam pengalaman yang hening. Dia teringat kta Wahdat di awal dia berguru, “Kalau perlu, kau harus membaca Kitab Suci di tempat yang sunyi.” Sayang, dia terlalu riuh membaca Kitab Suci bersama para koloni. Tak hening, sehingga Sang Rasa pun mati dalam kata-kata yang jarang berhenti. 

 *** 

  Aku menemui Sang Wujil Kinasih karena aku tahu dia sudah tersenyum bahagia. Tubuhnya tidak lagi bergerak seperti robot, pun pikirannya sudah bebas. 

  “Mbah, Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanyaku heran. Sebelumnya dia selalu murung. 

  “Aku ini mbahmu to le. Mbah juga punya banyak cucu di desa ini. Mbah sudah kembali seperti sedia kala, tidak lagi akan marah-marah pada cucu-cucu mbah. Mbah kembali kepada sejatinya Kinasih, welas asih,” dia berhenti berbicara sebentar, “Kamu kenapa ke sini le? Tumben sekali? Biasanya kamu yang sok-sokan mau mengajari Mbah tentang kehidupan.” 

  “Aku semakin tidak kenal kehidupan Mbah. Bayangkan saja, aku sudah belajar selama tiga tahun, membaca, sama seperti Mbah membaca Kitab Suci. Aku sudah turun dari gunung di selatan dan hidup bersama penduduk di sana, aku juga sudah mencoba bekerja. Uang Mbah, uang yang terkumpul. 

   Satu yang belum aku lewati Mbah, aku harus mengulangi semua pembacaan atas pengetahuan selama tiga tahun. Personal, Mbah. Walaupun dari sekian banyaknya pengetahuan yang kudapat, aku boleh memilih beberapa di antaranya, tapi justru itu yang membuat aku bingung. Memilih dari sekian banyak yang diajarkan. Memilih pengetahuan pekerja yang bekerja demi keinginan orang lain, atau memilih pengetahuan yang sejatinya cermin atas diri sendiri. Aku memilih yang kedua, sayangnya cermin itu hilang, Mbah. Entah pecah, entah dicuri oleh siapa, tinggal bingkainya saja. Aku harus mencari kemana, Mbah? Tanpa cermin itu aku tidak bisa apa-apa kan?” 

   “Memang kau apakan cermin itu hingga hilang dari bingkainya? Pasti tak pernah kau ajak bicara cermin itu, kan? Jarang sekali kau ajak bercakap-cakap dengan abab? Dia menggigil kedinginan di tengah keras hatimu yang merasa penuh oleh pengetahuan, mungkin.” 

  “lalu, aku harus bagaimana, Mbah? Ibu dan mbakku sudah selalu bertanya kapan pembacaanku yang sudah hampir empat tahun ini akan berakhir.” 

  “Kau cari saja di tempat-tempat yang sunyi. Kau ajak lagi hatimu keluar dan bercakap-cakap. Mungkin kau sudah lupa caranya, tapi dengan memaksanya kau akan terbiasa. Toh, hatimu yang paling tahu kemana perginya cermin itu. Kalau kau saja tak pernah mengajaknya bercakap, jangan harap dia memercayaimu untuk sekedar memberikan petunjuk.” 

  “Mana itu tempat sunyi, Mbah?” 

  “Tempat pertama kali kamu merasakan kedamaian. Kamu yang bisa menentukan, aku tak akan pernah tahu karena tempat yang damai itu ada Sang Rasa, ketika Sang ada berada. Carilah dengan doa.” “Baik, Mbah.” 

  Aku terhuyung-huyung pamitan. Dalam hatiku aku memaki, percakapan macam apa barusan? Aku tidak juga mengerti. (bersambung)