“Ibu menyesal, ra isa nyembadani—tidak bisa menghidupi—anak-anakku,” mendengarnya saja sudah cukup meyakinkan hatiku, bahwa aku tidak pernah menyesal memiliki ibu seperti dia. Hanya saja penyesalan datang, ketika kalimat itulah yang terakhir diucapkan ibu dalam hidupnya. Kalimat itulah sepenggal kisah yang membuatku terluka, dan yang semakin membuat kakak kembarku terluka. Aku tahu, dia mulai lelah, dengan hidupnya. Lelah dengan semua rahasianya. Juga mulai terbebas dari beban, sebelas tahun atau mungkin lebih, dia memikulnya.
***
“Ron,” saudara kembarku memanggilku, hanya berbisik. Dia mendekatkan bibir mungilnya di kupingku, menyandarkan tubuhnya pada tangan kanannya yang menyangga tubuhnya sendiri, “Aku takut,” ujarnya lagi di luar ruangan itu. Badannya kurus, gertak giginya selalu terdengar tiap kali dia merasa gugup. Matanya muali berkaca-kaca, dia tidak pernah merasa tenang.
“Tenang Rob, ini hanya wawancara saja, mereka tidak akan menginterogasimu. Jangan pernah takut, Robi,” aku menenangkannya. Tangan kanannya berangsur melemas, tak lagi bergetar hebat seperti saat dia menyangga tubuh Roni. Dia kakakku, kakak kembar lebih tepatnya, tapi dia sekaligus adikku.
“Roni dan Robi,” senior kami memanggil. Robi menarik lengan kiriku, dia menunjukkan wajah enggan, air matanya seolah ingin keluar. Aku meletakkan telapak tangan kananku ke atas telapak tangan yang menarik lenganku itu. Aku menenangkannya, memberikannya isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.
“Kita gak boleh takut, kita berdua,” ucapku menenangkannya. Menatap matanya yang sayu dan basah. Matanya seolah kaca yang pecah oleh getaran hebat di jiwanya, “Aku selalu berjanji kan? Aku gak akan pergi jauh dari kamu!”
Dia hanya mengangguk, memberanikan diri untuk berdiri. Aku menariknya, membantunya, badannya masih kedinginan. Aku memahami ketakutannya. Aku memahami guncangan hebat dalam jiwanya, tapi aku tak pernah mau memahami ketidakmauannya. Dia selalu menguntitku, dan aku pun punya hak untuk mendorongnya maju, mandiri dan mulai berhadapan dengan semua orang. Halus, aku memperlakukannya dengan halus, dia rapuh. Aku memotivasinya, menuntunnya berjalan, menepuk bahunya dan memperlihatkan gigiku. Dia selalu tersenyum, dia sayang padaku, begitu pun aku.
Hari itu aku mengajarinya untuk mulai terbiasa dengan wawancara. 16 tahun sudah dia hidup, sebelas tahun dia selalu terkungkung oleh gertak jiwanya. Dia sudah dewasa, setidaknya umurnya mengharuskan hal itu, tapi langkahnya masih penuh ketakutan. Mata hitam kecoklatannya masih sama seperti cerita ibu tentang kami yang takut berjalan di usia hampir dua tahun. Bukan aku mau melepasnya mengarungi hidup, hanya saja aku tak tahu apakah aku akan bertahan di sampingnya, seumur hidupnya, setidaknya dia bukanlah istri atau suamiku, bukan pasanganku.
Aku sengaja menjelaskan pada seniorku, aku ingin Robi berlatih diwawancarai. Aku mengatakan pada mereka pada masa-masa awal memasuki tahun kedua kami di SMA, aku ingin dia mengikuti salah satu kegiatan ekstrakulikuler. Tapi, aku belum tega meninggalkannya di ruangan bersama beberapa orang, aku ingin mereka mengerti, Robi adalah saudara kembarku yang spesial.
Kami sudah di dalam. Aku sudah terbiasa, tapi lagi-lagi keringat dingin muncul dari wajah Robi. Mau tak mau tangannya pun ku genggam, kasian dia, tangannya seperti beruang kutub kehilangan rambut putih. Gertak giginya sangat terdengar di telingaku, entah di telinga empat orang di hadapan kami. Jarak mereka 6 meter. Mereka duduk di kursi bawah, kami ada di kursi yang diletakkan di atas tangga, belakang kami adalah Salib besar. Ya, sekolah kami tak punya cukup ruangan untuk melakukan aktivitas, wawancara untuk pers sekolah saat itu diadakan di kapel yang bisa direkayasa tatanan kursinya, orang yang belum terbiasa pasti akan takut menghadapinya.
Pertanyaan demi pertanyaan muncul, Robi menjawabnya, tapi mereka tidak pernah bisa mendengarnya. Aku sudah jelaskan pada mereka jangan membentak, dan mereka pun melakukannnya, mereka tidak pernah membentak Robi sedikit pun. Aku mencoba memotivasi Robi, mengucapkan jawaban di pikirannya dengan lebih lantang, selalu gagal. Ini kali pertama, aku tak berharap dia di terima, lain kali masih bisa mencoba lagi.
Wajahnya membiru, bibirnya menegang, dia berdiri. Duduk lagi, gemetaran. Mata hitam kecoklatannya tidak lagi menunjukkan rasa takut, matanya kosong seolah menatap sesuatu yang jauh di lubuk hatinya. Tangannya menggenggam tanganku erat. Dia telah usai berlatih wawancara, usai. Tapi gertaknya pun tak pernah bisa dilatih, keraguan, bukan, tapi sinar ketakutan bahkan semakin menjadi-jadi.
Aku membantunya berdiri, “Tenang Robi, semua sudah selesai. Kita keluar ya,” saya ucapkan rasa terimakasih pada senior-senior yang mewawancarai kami sambil memapah Robi keluar. Tak sampai depan pintu, Teriakannya meledak dan dia mulai lunglai, aku kesal. Aku lelah menghadapinya, tapi dia lunglai, tak mungkin aku meninggalkannya sendiri.
Kugendong dia menuju UKS, kubaringkan tubuhnya. Wajahnya hampir seputih sprei di ruangan itu. Rambutnya yang sedikit ikal basah oleh keringat. Aku tak pernah bisa menggenggam erat telapak tangannya, selalu licin oleh rasa gugupnya. Kupingnya yang kecil, menggantung pucat. Hanya bibirnya yang menegang, mengucapkan doa-doa yang sama sekali tidak terdengar. Matanya pun sayu, menitikkan air, diiringi isakan dari hidungnya.
***
Roni, dia kembaranku. Adik kembarku lebih tepatnya. Kata ayah dia lahir hampir 30 menit setelah aku, kakinya keluar duluan. Dia hampir tidak tertolong, menyakiti ibuku dengan hebatnya. Alat kedokteran yang seperti sumpit dimasukkan ke rahim ibu agar dia selamat. Aku membayangkan betapa ibuku akan menjerit kesakitan. Walaupun begitu, dia menyayangiku, aku tak tahu mengapa dia berlebih-lebihan dalam menyayangiku. Aku tidak tahu dosa apa yang dia coba tebus kepadaku. Mungkin dosa, dosa saat dia tidak melihat kejadian itu, sebelas tahun yang lalu.
Roni, hari ini dia mengajariku caranya wawancara. Dia tidak pernah tahu perasaanku. Mereka yang di depanku, di hadapanku serasa pria-pria berseragam, mereka yang menuntutku mengatakan sesuatu sebelas tahun lalu. Ini sebuah luka, dia mengajariku untuk membuka luka itu. Dia menggoreskan luka itu lagi. Aku tak tahu, katanya dia menyayangiku, mungkin dia hanya bosan menemaniku. Mungkin dia sudah muak denganku, akhirnya dia menjerumuskanku.
“Hai Rob, mau ikut main?” dia menghampiriku, kami selalu melakukan tos. Kepalan, salam, dan jempol disatukan. Dia selalu mengajakku berman futsal, berbasa-basi, suatu saat aku mau menerima ajakannya, “Ayolah, sekali saja,” aku selalu menggelengkan kepala dan mulai beranjak dari dudukku. Sekali lagi, dia tidak pernah mengerti.
Bermain futsal, mereka seolah terbebas dari aturan-aturan lapangan besar, walaupun tetap ada aturan. Kadang-kadang mereka juga bermain tanpa aturan, walaupun selama ini belum pernah terjadi tawuran. Kalau Roni yang bermain, aturannya hanya satu, jangan pernah menggangguku, Robi, kakak sepupunya. Ah, aku seperti anak kecil saja, tapi memang kenyataanya aku terlalu lemah, bayi pun tidak selemah aku.
“Yuk pulang, Rob,” ucapnya setelah menyelesaikan sepiring nasi goreng. What? Pulang pun harus dia yang menuntunku? Menurutku itulah dosanya, tidak mebiarkanku sendiri. Tapi aku bisa apa? Aku hanya orang yang penuh ketakutan, aku telah banyak menyusahkannya, ini saatnya aku balas budi. Mengikuti semua kemauannya.
Dia memboncengku di motor merahnya, aku pernah diajari untuk naik motor sendiri, tapi begitu melihat ada motor lain di depanku lajuku mulai goyah dan kakiku jadi korbannya. “Kenyang, Rob?” tanyanya. Ah, bukan urusanmu, aku bahkan tidak pernah suka makan nasi goreng, kamu tahu itu sejak kecil!, ujarku dalam hati, “Lumayan,” aku tak tahu apa dia mendengarnya.
Kami memasuki rumah nenek, sejak ayah meninggal dan ibu dibui, kami tinggal di rumah ini. Rumah nenek, yang sudah meninggal lima tahun lalu, tapi suaranya selalu menggema di hatiku. Kami hidup sehari-hari dari pemberian kakak yang sudah bekerja dan sukses di Amerika. Dia sering mengirimiku buku-buku.
Aku berharap Roni suka membaca, jadi pembicaraan di rumah ini tidak hanya sekedar tentang bola, tentang motor, tentang kegiatan kampusnya, tapi juga soal Afghanistan, tentang Down Syndrom, tentang Kepercayaan Diri. Pembicaraan selalu didominasi olehnya, oleh bibirnya yang sedikit lebih tebal dari bibirku. Dia mengharapkan banyak dariku, menuntut lebih tepatnya, untuk jadi seorang laki-laki sejati menurut dia. Dia merasa dia lah kakakku, bukn, dia merasa dialah ayahku sekarang.
***
“Rob, aku tidur dulu ya!” pamitku padanya yang sedang menonton televisi, wajahnya belum cukup lelah, hanya sayu seperti biasa, “Jangan tidur malam-malam, ingat besok pagi kita ada Try Out ujian akhir.” Aku mulai memasuki kamarku di dekat ruang televisi itu.
“Iya, Ron. Tenang aja,” sahutnya, aku hampir tidak mendengarnya. Kami tidak pernah bermain di lingkungan rumah. Nenek menghalangi kami untuk bermain dengan mereka, katanya mereka brutal. Tiap malam, kami hanya akan melihat lingkungan sekitar di balik jendela ketika hujan, tidur atau sekedar menonton TV untuk menghilangkan kebosanan.
Aku memasukki kamarku, mengambil foto kami. Aku, Robi, ayah dan ibu, kakakku sudah pergi ke Amerika saat itu.Robi dan aku punya wajah yang hampir sama, dahulu kami hampir tidak bisa dibedakan. Sejak sebelas tahun lalu, berat badannya tak pernah ideal. Dia selalu memikirkannya, itulah mengapa dia selalu kurus, mungkin.
Hidung kami sama, tidak sebesar hidung bekantan, tapi cukup mancung untuk meletakkan kaca mata hitam saat kami berkunjung ke pantai Sanur. Rambut kami ikal, kuping kecil menggelantung. Bibirku agak sedikit lebih tebal dari bibirnya. Yang paling indah adalah mata kami, hitam kecoklatan dengan bulu melengkung. Kini yang memebadakan kami cukup banyak, wajahnya yang tirus juga ketakutan yang selalu dibawanya. Ketakutan itu selalu tampak, bahkan ketika aku hanya melihat bayangannya saja.
Sebelas tahun yang lalu, itu juga yang membedakan kami. Aku tidur nyenyak di kamar dan terbangun ketika para polisi menyeruak masuk dan Robi mulai menjerit. Aku hanya bisa melihat bayangan samar saat ibu di seret polisi, dan ayah menggelepar mati. Aku melihat dia, Robi, kakak kembarku terduduk di lantai sebelum akhirnya di gendong polisi. Aku hanya sendiri, bersama nenek saat semua kejadian itu selesai. Berbeda dengan Robi, dia mengetahui segalanya, tapi dia bungkam Aku yakin, dia menceritakan semuanya pada polisi, membuat ibu dipenjara. Aku yakin Robi mulai membenci Ibu, dia yang sering diceritakan dongeng oleh ayah, dan aku sama sekali tidak bisa membenci siapa-siapa. Aku pernah menyebabkan ibu hampir mati, begitu teriak ayah saat memarahiku, itu sebabnya aku tak akan pernah membenci ibuku.
Robi tak pernah jujur, nenek tak pernah tahu, ibu tak pernah berhenti menangis saat aku dan nenek, tanpa Robi, menemuinya di sel. Polisi pun selalu berbelit-belit menceritakan kejadian malam itu, hanya ibu yang menembak ayah dengan pistol, selesai. Tanpa embel-embel. Robi menurunkan volumenya sejak saat itu.
Ah, lelah aku memikirkan semua itu. Sekali lagi aku juga lelah menjadi ayah bagi Robi. Aku tak mungkin menggantikan ayah yang dikaguminya. Tidak sekali pun. Kumatikan lampu kamarku, mencoba tidur. Semuanya masih terbayang, aku mereka-reka dan akan semkain buruk ketika semuanya muncul dalam mimpi.
***
Aku tidak tahu mau nonton apa. Aku hanya tidak ingin tidur. Aku bosan dengan sikap kebapakkan Roni. Dia terlalu menjagaku, aku bahkan seperti hewan peliharaannya. Disayang, diberi makan, diingatkan jam istirahat. Yah, ayah. Aku rindu ayah.
Robi mungkin menyimpan banyak pertanyaan, sebelas tahun lalu. Saat dia tertidur lelap, dan hanya bunyi sirene polisi yang membangunkannya. Aku menyimpannya sendiri, semua orang memaksaku bercerita, seolah aku yang salah. Salah karena menjadi saksi kejadian itu.
Malam itu, saat Roni masih tertidur. Malam itu ulang tahun ayah. Sejak siang ayah sudah pergi, aku ingin memberinya kejutan yang Roni tak pernah pedulikan. Ibu sudah biasa pergi siang pulang pagi. Ayah biasanya pulang lebih awal, tapi hari itu tidak. Mungkin dia sedang merayakan hari jadinya itu bersama teman-temannya.
Aku tidak bisa tidur, ingin memberikan hadiah yang kubuat untuk ayah, sebuah lukisan selamat ulang tahun. Aku menunggunya, hingga jam 12 malam, tengah hari suara mobil ayah trdengar di depan rumahku. Aku menunggunya dari balik tembok, aku mendengar ada suara perempuan. Ibu? Tidak biasanya ibu pulang tengah hari seperti ini, mungkin dia ingin merayakan ulang tahun ayah.
“Tapi dhuitmu dari siapa?” ibu kelihatannya sedang marah. Dia membentak ayah saat membuka pintu rumah.
“Sssst, gak enak kalau didengar anak-anak,” ayah memang selalu membela anak-anaknya, dia takut pertengkaran itu kami dengar.
“Mas, aku pengin mereka tahu, aku ingin jujur sama mereka, “ Ibu mulai menangis, tapi tetap menggertak ayah.
“Sssstt..tidak usah macam-macam, aku bapak mereka,” ujar ayah, dia terdengar sedang lemas. Bicaranya tidak jelas. Mungkn karena takut dengan suara ibu.
“Mas!” ibu berteriak, seketika itu juga ada suara tamparan. Aku melihat dari balik tembok, ibu mengambil pistol yang selalu dibawa ayah di kakinya untuk berjaga-jaga—dia pernah bercerita kalau pistol itu harus dibawa, polisi juga sudah mulai jahat, dunia tidak aman, katanya—mengarahkannya ke dada kiri ayah. Suara pistol menyeruak di seluruh ruangan. Aku menutup telinga, hanya berteriak. Banyak tetangga kemudian masuk, nenek menelepon seseorag setelah menyadari yang terjadi di ruang tamu. Aku melihat dari balik tembok, Ibu melihatku, dia menangis. Aku memalingkan muka, menjerit melihat ayah berlumuran darah.
Polisi masuk ke dalam rumah, ya aku salah. Aku salah telah melihat semua kejadian itu. Aku ditanyai oleh mereka, bertubi-tubiu, aku bosan, kadang aku dibentak dan nenek kemudian menenangkan mereka. Aku hanya bisa menangis, dan aku terdiam, tunduk, aku benci ibuku. Benci. Benci! Dia telah merenggut nyawa orang yang selalu membacakan cerita untukku, bahkan ibu sendiri tidak pernah melakukannya. Dia hanya tertarik dengan Roni, dia yang membantu ibu memasak setiap harinya. Kami belum sekolah saat itu, dan aku enggan untuk mengingatnya lagi.
14 Februari, ayahku berulangtahun. Aku rindu. Roni tak pernah ingat ulang tahun ayah. Aku benci dia bersikap seperti ingin menggantikan ayah. Aku mengingat kejadian itu setiap bosan melandaku, aku tak pernah lagi menjerit, semua itu hanya akan membuat keadaan semakin kacau.
Aku mengingat kembali kejadian itu, aku mulai menangis.
“Mas, aku pengin mereka tahu, aku ingin jujur sama mereka, “ Ibu mulai menangis, tapi tetap menggertak ayah.
Bayanganku kembali ke sebelas tahun silam, mengingat kata-kata ibu. Bodoh, ibu ingin menceritakan rahasianya? Apa? Dia benci ayah? Dia ingin membunuh ayah kemudian kedua anak kembarnya? Tidak, Roni tidak mungkin ditembaknya, mungkin hanya aku yang akan dibunuhnya.
Roni, semua hanya tentang Roni. Ibu pasti tidak mau menemuiku lagi. Aku sedih, tapi sekaligus berterimakasih. Roni sudah menjagaku selama sebelas tahun. sebelas tahun yang penuh dengan ketakutan, kegentaran, gemertak gigi, wajah pucat pasi.
14 Februari, selamat ulang tahun ayah. Aku yakin kau bahagia disana, setidaknya karena pernah menjadi orang terbaik dalam hidupku. Aku mohon Tuhan, aku tak tahu apa dosanya, tapi demi orang selemah aku, beri dia tempat terbaik. Tempat terbaik yang akan kutemui di sana.
***
Pagi itu tidak seperti biasanya, Robi mengajakku membolos. Dia kulihat masih ertidur di depan televisi yang masih menyala. Pulas, tapi tampak beas air turun dari matanya. Sungai yang meninggalkan jejak. Robi seakan enggan untuk masuk sekolah, aku tak tahu mengapa. Saat kubangunkan dia, dia langsung berkata, “Bolos dulu ya, Ron.”
“Kenapa?”
“Aku pengin jenguk Ibu,” baru pertama kalinya dia punya keinginan seperti ini. Dulu waktu nenek masih hidup pun, dia selalu enggan ikut menjenguk ibu.
“Kenapa?” aku heran, sekali lagi heran. Apakah dia mau menceritakan sesuatu padaku? Ya, dia menceritakan sesuatu padaku.
Dia akhirnya menceritakan semua kejadian malam itu. Ayah yang tak kunjung pulang, aku yang tertidur lelap, juga ibu yang mengambil pistolnya. Semua kekakacauan dalam benaknya, semua ketakutan yang ada di pikirannya. Dia menangis, aku memeluknya, sudah terbiasa.
“Ibu pasti benci aku, Ron” katanya terisak. Aku tak pernah menjawabnya, takut dia berubah pikiran. Aku mengelus punggungnya.
Kami berangkat pukul 9 pagi, kami benar-benar membolos. Aku ingin melihat Robi menyapa ibu. Aku sudah lama juga tak menjenguknya, takut meninggalkan Robi. Jarak rumah nenek dengan penjara ibu tidak jauh, sekitar 30 menit lamanya.
Sipir di penjara itu masih belum ganti, “Ini kembarannya, mas? Lama tidak kesini ya mas Roni,” ujarnya kepadaku. Dia mengenalku, tidak saudaraku. Dahulu seringkali nenekku membawakannya makanan, pelicin untuk bertemu ibuku.
“Iya, mas. Sibuk sekolah. Boleh bertemu ibu?” dia ternyata tetap licin, tanpa masakan nenek. Dia mempersilahkan aku masuk. Robi muram, aku tahu dia takut dengan seragam-seragam yang mereka gunakan.
***
Roni akhirnya benar-benar membuatku bertemu ibu. Dia memeluk ibu saat ibu keluar dari pagar kayu. Sel penjara tidak seseram yang kubayangkan. Sipir-sipir perempuan memberikan 30 menit untuk kami. Aku hanya tersenyum, bingung mau mengatakan apa untuk menyapa ibu.
“Robi, kamu masih marah sama Ibu?” ucapnya kemudian. Aku baru berani menatap wajahnya. Suaranya getir, ibu tak seseram yang kubayangkan. Sebelas tahun lalu bibirnya memakai lipstik, sekarang yang ada hanyalah kering. Hidungnya tak lagi bersih, penuh dengan noda hitam. Kantong matanya membesar, dan ada sedikit keriput hingga atas hidung. Aku yakin, dia memikirkan maafku.
Aku hanya diam, memandangi setiap lekuk wajah iu. Aku rindu ibu, walaupun aku sering menghujatnya. Aku menangis. Ibu juga begitu, menangis, tapi dia tegar, mengusap telapak tangannya di bawah mataku, menghapus getir yang kurasakan, “Robi jangan menangis. Ibu rindu sama Robi,” terdengar isakan, “Ibu senang Robi menjenguk Ibu.”
Roni mengusap punggungku. Dia seakan batu, terlalu kokoh untuk membuatnya menangis. “kalau aku dan nenek kemari, Ibu selalu menangis menanyakanmu, kami jadi mengurungkan niat untuk bertanya tentang kejadian itu,” Roni menambahkan. Sial! Ibu menungguku setiap saat.
“Bu,” aku bersuara, getir. Sakit. Sesak, “Ibu menyimpan rahasia apa?” tanyaku sambil sesekali terisak.
Wajah ibu terlihat bingung, wajah Roni pun terlihat bingung. Aku menghentikan tangisku sejenak, menghirup udara dalam-dalam dan tetap menangis setelahnya. Hening, semua hening aku sadar harus akulah yang memulai. Kamu jangan jadi cengeng, nak. Apalagi di depan ibumu. Ayahku pernah berkata seperti itu.
“Ibu, malam itu ingin mengatakan sesuatu,” aku memegang erat tangan Roni. Dia kesakitan, aku tahu itu, tapi dia membiarkaku, menungguku hingga aku selesai berbicara, “Sebelum ibu menembak ayah, dan mungkin akan menambakku.”
Ibu tersentak. Wajahnya menyiratkan sesuatu, amarah karena aku memberikan kemungkinan yang mungkin tak akan dilakukannya. Tapi wajah tegangnya mengendur dengan cepat, dia kembali menangis. Mencoba mengonfirmasi pertanyaanku, dia bertanya, “Rahasia yang kuributkan dengan ayahmu? Kamu mendengar aku berjanji mengatakannya?”
“Ya,” aku mengiyakan, sebelum membuka semua yang kuketahui di malam itu.
***
Robi menceritakan semuanya, di depan ibuku. Bagian-bagian yang tidak diceritakannya padaku, dibukanya di depan ibuku. Dia membuka lukanya, aku tahu dia pasti kesakitan. Miris. Aku mendengarnya. Tapi aku yakin, ketika luka itu dibuka, maka akan semakin mudah untuk menyembuhkannya daripada ketika disimpan.
Robi, dia tidak pernah jujur padaku, orang yang selalu di dekatnya. Aku mengerti, kejujuran itu egois, kadang hanya milik orang tertentu saja, tapi kenyataannya menjadi seseorang yang jujur itu menyakitkan. Jujur di saat yang tidak tepat, Robi mencoba menghindarinya. Sekarang, sebelas tahun kemudian, aku yakin inilah saat yang tepat.
“Ibu,” suara Robi tertahan, “Ibu jahat! Tapi apa ibu mau jujur, apa yang ibu rahasiakan dari kami?” suaranya bergetar, bergetar tapi lantang. Robi didorong oleh kemauannya. Kemauan memperbaiki jiwanya, meredam getar hatinya, membuka rahasia masa lalu kami.
“Ayahmu, bukan. Dia bukan ayah kalian,” ibu setengah berteriak, aku menghampirinya, memeluknya. Aku merasakan luka itu dalam. Sangat dalam. Kepalanya disandarkan dibahuku, tangannya memeluk tanganku, Robi hanya diam. Dia masih terguncang, lukanya belum selesai, “Dia bukan ayah kalian,” aku mencoba mencerna kata-katanya, hanya mencerna kemudian menitikkan air mata.
Dalam pelukanku, dalam ancaman mata Robi yang mulai menajam dan penuh tanya, ibu menceritakan semuanya. Semua. Ayahku, bukan ayahku. Ibu tidak tahu siapa ayahku. Ayahku penadah, ibuku yang ditodong. Ayah yang membesarkanku adalah germo, ibuku yang menerima lendir dari berbagai pria. Mereka menikah, untuk menutupi rasa malu keluarga saat kelahiran kakakku. Dia, dia dibawa ke Amerika oleh ayahnya. Sedangkan kami? Kami tidak pernah dicari oleh ayah kami, ayah yang membuahi rahim ibu kami. Ayah yang selama ini kami kenal hanyalah numpang lewat, numpang membesarkan kami.
Luka itu dalam, dan bertubi-tubi. Ayah yang kami kenal menginginkan kami, istri pertamanya meninggal dan tak pernah punya anak. Sekalipun wanitanya banyak, tapi mereka tak pernah mau dengannya, tak bisa memberi kepuasan. Kasar, walupun tidak begitu saat berhadapan dengan Robi. Dia sangat menginginkan Robi, seolah Robi adalah anak dari darahnya. Sedangkan aku? Aku hampir membunuh ibuku, artinya aku hampir membunuh rejekinya. Aku dibencinya, dan aku membencinya. Mata Robi seolah tak percaya, tapi dia menyesal.
Malam itu, setelah sekian lama perundingan untuk membangun rumah di tempat yang jauh, ayah yang membesarkan kami tak juga memberikan uang untuk ibu. Ibu sudah muak dibicarakan tetangga, ibu malu pada nenek. Malu. Ibu ingin pindah, tapi kenyataannya tak pernah pindah. Satu lagi rahasia terungkap, nenek tidak pernah mengijinkan kami bermain dengan anak-anak di lingkungan rumah karena takut akan membuka luka baru bagi Robi. Robi, dan Robi, semuanya tentang Robi!
Malam itu, ibuku sudah tidak tahan lagi. Ayah mabuk, dia menampar ibuku. Ibuku selalu tahu dimana ayah yang membesarkan kami menyimpan pistol ilegalnya, menariknya dan menekan pelatuknya. Matilah ayah di malam itu, membawa misteri dan teka-teki yang lama, sebelas tahun, baru terungkap.
Ibu menunggu saat ini, saat Robi hadir di depannya. Ibu tidak ingin mereka mendengar dari nenek yang terlalu sensitif membicarakan hal-hal seperti ini. Ibu menunggu kami berdua bersama, menjelaskan dengan detail setiap kejadian seperti saat dia menjelaskannya pada kakak kami, pada umur yang masih sangat belia.
Kami menghapus tangis yang mengalir, memeluk satu sama lain. “Aku sayang ibu, maafkan Robi, Bu” Robi menitikkan air mata, matanya tak lagi sendu. Wajahnya penuh kebahagiaan. Dia tersenyum, hal paling langka yang kudapatkan. Dia egois memang, mebagi senyum itu pada ibu. Aku berharap dia tidak lagi egois padaku, soal rahasia, soal senyum. Aku menyayanginya. Robi, kakak kembarku.
Aku berharap aku tidak lagi punya banyak dosa yang menyebabkan ibu hampir mati juga dosa tidak melindungi kakakku saat hatinya rapuh melihat kejadian malam itu. Aku sudah bosan, aku sudah lelah. Robi, semoga kau mengerti, aku tak mau berpura-pura jadi ayahmu lagi.
***
Aku baru yakin, ketika bosan itu sudah melanda, maka luka akan terbuka. Mau tidak mau aku harus membuka semua luka, dengan begitu orang-orang di sekitarku akan tahu cara yang tepat untuk menyembuhkannya. Aku salah sebelas tahun ini, aku tak pernah berpikir apakah ini saat yang tepat, tapi aku hanya ingin meminta penjelasan pada ibuku.
Roni, adikku. Aku tak lagi akan pelit memberinya senyum. Dia bukan adik yang ingin membunuh ibuku, bukan seperti kata ayahku. Dia adik yang menyayangiku. Semuanya sudah terbuka dua bulan lalu. Saat ini, saat ini aku di pemakaman ibuku. Dia menyesal tidak bisa menghidupi kami, tapi aku tidak pernah menyesal punya ibu sepertinya. Aku sadar, aku tidak boleh menyesal mempunyai ibu sepertinya.
Rahasia-rahasia itu terungkap seperti energi terakhir untuk ibu. Ibu menderita sakit jantung, mungkin selama ini ditahannya. Aku yakin dia pasti kuat, tapi ternyata sudah terlambat. Kini dia disemayamkan.
“Rob, ada surat ini dari Ibu,” Roni menyapaku, aku sambut dengan senyum. Ketakutanku masih tersisa, banyak. Tapi keceriaanku mulai muncul, masih sedikit. Aku baru bisa tersenyum, belum berbicara lantang. Tidak seperti saat aku emosional meminta penjelasan kepada ibu.
Untuk Robi dan Roni, kembarku tercinta
Maaf, Ibu menyembunyikan kenyataan dari kalian,
Membuat kalian, lebih-lebih Robi, membenciku
Kenyataan tidak harus diungkap dalam segala suasana,
Aku butuh keberanian, juga keberanian Robi, untuk mengungkapkannya
Aku tahu ini terlambat, Tapi aku yakin kalian menyayangiku, lebih dari yang kutahu.
Sebelas tahun dalam penjara memendam rasa sayangku untuk kalian. Aku tersiksa tidak bisa menyayangi kalian, batinku tercabik setiap mengingat kalian. Kalian yang aku cintai.
Sebelas tahun, rasanya seperti tiga puluh tahun setelah Robi datang dengan keberanian.
Roni, aku berterimaksih padamu telah menjaga kakakmu.
Semuanya hanya soal waktu, ya hanya waktu sampai kenyataan terungkap. Menyakitkan.
Lebih sakit lagi, ketika kita menyembunyikannya.
Kalian, jangan lupa memberitahu semua ini ke kakakmu di Amerika, Lina. Sampaikan salamku, aku menyayangnya juga.
Ibu sudah tidak suci, demi sesuap nasi untuk nenek kalian.
Semuanya terungkap, luka, cinta, dan kini yang tersisa adalah bahagia.
Jangan lupakan ibu ya, nak. Robi, Roni.
Cinta itu penuh kebohongan, tapi kenyataan yang akan menjawabnya. Cinta itu tergesa-gesa, hingga ibu pun tergesa-gesa meninggalkan kami saat cinta kami mulai tumbuh. Kami berjanji akan membingkai surat ibu ini. Kami berjanji akan membingkainya dalam hidup kami. Ibu yang kami cintai.
***
Senang rasanya melihat Robi mulai banyak tersenyum, dia tidak lagi egois. Robi, aku tahu dia akan menjadi tegar setelah banyak terluka, aku tahu dia akan berubah setelah mengobati luka itu.
Kami kembar, walaupun berbeda tapi kami punya hati yang sama-sama unggul. Aku berani berbicara, Robi berani mengungkapkan perasaannya. Aku kadang terlihat terlalu angkuh, Robi mulai dikenal sebagai orang yang ceria. Dia masih tetap spesial seperti dulu, mampu memberi kebahagiaan. Robi, aku Roni, adik kembarmu. Aku menyayangimu.