Minggu, 05 Februari 2012

Langit

Langit Jingga tampak di barat atas, langit biru berhamburan dari Timur ditemani cahaya bulan yang mulai meninggi. Suasana sore ini seperti perang Mahabharata yang dimenangi oleh kubu Timur. Semburat jingga mulai berubah ungu. Merah dan kuning berpencar, merah direnggut biru menjadi kelam, kuning menghilang ditelan malam. Lampu-lampu dinyalakan diatas genting, menyoroti anak-anak manusia yang berjalan kaki mengindari kelam. Gelandangan membereskan plastik-plastik mereka, menyusun kardus dan mulai tergolak dalam sepi. Sunyi, hanya sesekali kilau lampu kendaraan menyilaukan mata.

Adzan Maghrib menggema di kelamnya mega. Menjadi syair wajib mengiringi suara-suara jangkrik yang lelah diam. Kunang-kunang mulai terbang, hinggap di antara dedaunan yang sudah enggap terlelap. Daun-daun itu berayun-ayun diiringi desir angin. Suara-suara bambu bergesekan membuat pilu menjadi syahdu.

Suasana yang begitu lengang ditemani remang rembulan. Ucapan doa mengalun syahdu setelah adzan selesai beradu. Dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus. Tangan-tangan menurunkan gerak mereka dari atas dan menyamping melewati dada. Penuh keyakinan sang pemimpin menentang isak tangis. Sore ini, tak lagi sunyi. Remang rembulan menyergap hati setiap orang yang datang ke rumah. Samar-samar suara alam tergantikan gesekan ingus pada hidung, menimbulkan suara parau yang tidak ingin kudengar. Sendu.

Sore itu nenek telah berpulang, mencoba mencari kembali Tuhan yang selama ini dia idam-idamkan. Aku, masih tergolak di rumah, belum berani menyambangi jasad nenek. Belum juga tergerak untuk mengucap doa buat nenek. Semuanya masih terasa kaku, hati, bibir bahkan kantong dalam mata. Semuanya kaku, seola-olah tertunduk mendengar amarah seseorang. Semuanya kaku dan mulai kejang gemetaran. Tak ada yang tumpah, tak bisa merasakan apapun, semuanya terpaksa terjadi. Nenek pergi seolah hanya melampiaskan kebosanannya dalam hidup, tak pernah memikirkan rasa enggan berpisah dari aku, satu-satunya cucu.

Aku masih memegang syal baru nenek. Khas Sukawati, warnanya hijau. Belum sempat disentuhnya, bahkan belum ada baunya yang menempel. Warnanya hijau, kesukaan nenek. Bahkan dia pernah berandai-andai jika warna langit sehijau warna semua syalnya, pasti banyak mata yang tak pernah menangkap kelam. Tidak juga terlalu mencolok. Hijaunya, agak kebiruan, kuningnya berkurang. Perpaduan jingga tanpa merah di pergantian sore juga biru terang dari pagi menjelang matahari menyengat.

Nenek selalu bercerita tentang langit, hanya itu satu-satunya yang ingin kuingat. Langit yang hijau, langit yang tak pernah kelam. Tapi dia mungkin tidak sedang berpikir bahwa tiap-tiap orang punya langitnya masing-masing. Dan kini, langit dalam diriku warnanya hitam. Duka.

Masih belum bisa menangis, hanya sedikit terisak ketika orang-orang rumah mulai menerima komuni. Roti tanpa ragi, tidak berasa dan berwarna putih bundar dibagikan. Langit dalam diri mereka seolah memutih, memancarkan gerak kepasrahan. Hati mereka bergoyang, terobati oleh rasa hambar. Kepedihan pun seolah pudar, sebelum senyum terpendar.

Aku masih diam, tidak bergerak. Pemimpin doa yang memakai jubah putih berikat tali sintetis yang juga putih menghampiriku. Dia mengangkat roti bundar, aku menengadahkan tangan. Tangan kiri di atas, tangan kanan di bawah. Roti itu tergeletak, aku mengucapkan amin. Kupandangi roti itu sejenak, berharap dia tidak memudarkan langit suram dalam hatiku. Kuambil dengan tangan kanan yang tadi dibawah, mengangkatnya menjadi pemberi kesucian dan memasukkannya dalam lubang kenistaan. Tanpa mengunyah, dia telah lumer dalam cairan-cairan duniawi. Tertelan, habis dan aku beruntung tidak merasakan apa-apa. Saking merasa beruntungnya aku terharu, menitikkan air mata. Aku masih berduka, duka untuk kematian nenek.

Semuanya tidak lagi kaku, air dalam mataku pun menyerah ketika semua rasa kaku hilang oleh pengertian. Gemetarku hilang oleh nyanyian. Ndherek Dewi Maria, mengikuti Bunda Maria. Aku berdiri, menyalami satu per satu tamu. Langit mereka berbeda-beda, bahkan aku benci ada yang menyunggingkan senyum kemenangan.

Usai. Doa mereka telah usai. Kini aku menatap langit malam. Gagak-gagak masih muncul di atas pohon jengkol depan rumah. Warnanya hitam, tapi langit mereka begitu terang. Mereka senang bisa memanggil malaikat kematian menghampiri jiwa nenekku. Mernggutnya dari raga yang sering kuraba.

Langit saat itu mendung. Kata nenek itu hanya sebagai amarah akan ego manusia. Mungkin saja ego nenek yang tidak mau berpamitan padaku lebih dahulu. Tapi kini dia bukan lagi manusia, tak punya raga. Jiwanya melesat jauh ke angkasa. Mungkin nenek mengingatkanku, mengirim hujan itu aku aku masuk ke dalam rumah dan memaafkan raganya. Satu per satu air menyalahi ubun-ubunku, menyamarkan gerak air di wajahku. Dinginnya merembes ke dalam merah darah yang mewarnai otakku, membuat egoku tenang sejenak. Sejuk.

Nenek mungkin mengingatkanku, egoku yang sedang melesat jauh memperingatkan jiwa yang telah melayang. Mungkin salah alamat hingga menggesek langit dan membuatnya menangis. Atau mungkin saja nenekku sudah menerima egoku dan membuangnya ke bumi, menodai garis-garis langit dan lagi-lagi membuatnya menangis. Tapi langit itu adil, dia sama-sama kelam. Kadang aku bersyukur langit tidak sehijau yangdiinginkan nenek.

Aku memasuki rumahku, langit-langit rumahku terpendar cahaya terang. Kuning. Warna yang dibenci nenek ketika seharusnya bulan sudah bersinar dan membuang segala yang menyilaukan mata. Langitku pun ikut terpendar. Kau menatap wajah nenek, dari tangannya muncul langit hijau, dia mengembalikan egoku yang telah melesat jauh. Aku menangis, dalam tangisku aku tersenyum. Selamat jalan nenek.



Untuk Mbah Putriku tersayang, sudah lebih dari 100 hari. Mbah, mbah belum mengembalikan egoku. Kalau egoku kembali, semoga rindu tak pernah lagi berkunjung. Tapi biarkan egoku kau bawa mbah, sebagai persembahan untuk ketekunanmu di hadapan Tuhanmu. Sidhi sayang mbah Putri. Yogyakarta, 5 Februari 2012, 21:55.

Rabu, 01 Februari 2012

Kembar

“Ibu menyesal, ra isa nyembadani—tidak bisa menghidupi—anak-anakku,” mendengarnya saja sudah cukup meyakinkan hatiku, bahwa aku tidak pernah menyesal memiliki ibu seperti dia. Hanya saja penyesalan datang, ketika kalimat itulah yang terakhir diucapkan ibu dalam hidupnya. Kalimat itulah sepenggal kisah yang membuatku terluka, dan yang semakin membuat kakak kembarku terluka. Aku tahu, dia mulai lelah, dengan hidupnya. Lelah dengan semua rahasianya. Juga mulai terbebas dari beban, sebelas tahun atau mungkin lebih, dia memikulnya.

***

“Ron,” saudara kembarku memanggilku, hanya berbisik. Dia mendekatkan bibir mungilnya di kupingku, menyandarkan tubuhnya pada tangan kanannya yang menyangga tubuhnya sendiri, “Aku takut,” ujarnya lagi di luar ruangan itu. Badannya kurus, gertak giginya selalu terdengar tiap kali dia merasa gugup. Matanya muali berkaca-kaca, dia tidak pernah merasa tenang.

“Tenang Rob, ini hanya wawancara saja, mereka tidak akan menginterogasimu. Jangan pernah takut, Robi,” aku menenangkannya. Tangan kanannya berangsur melemas, tak lagi bergetar hebat seperti saat dia menyangga tubuh Roni. Dia kakakku, kakak kembar lebih tepatnya, tapi dia sekaligus adikku.

“Roni dan Robi,” senior kami memanggil. Robi menarik lengan kiriku, dia menunjukkan wajah enggan, air matanya seolah ingin keluar. Aku meletakkan telapak tangan kananku ke atas telapak tangan yang menarik lenganku itu. Aku menenangkannya, memberikannya isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.

“Kita gak boleh takut, kita berdua,” ucapku menenangkannya. Menatap matanya yang sayu dan basah. Matanya seolah kaca yang pecah oleh getaran hebat di jiwanya, “Aku selalu berjanji kan? Aku gak akan pergi jauh dari kamu!”

Dia hanya mengangguk, memberanikan diri untuk berdiri. Aku menariknya, membantunya, badannya masih kedinginan. Aku memahami ketakutannya. Aku memahami guncangan hebat dalam jiwanya, tapi aku tak pernah mau memahami ketidakmauannya. Dia selalu menguntitku, dan aku pun punya hak untuk mendorongnya maju, mandiri dan mulai berhadapan dengan semua orang. Halus, aku memperlakukannya dengan halus, dia rapuh. Aku memotivasinya, menuntunnya berjalan, menepuk bahunya dan memperlihatkan gigiku. Dia selalu tersenyum, dia sayang padaku, begitu pun aku.

Hari itu aku mengajarinya untuk mulai terbiasa dengan wawancara. 16 tahun sudah dia hidup, sebelas tahun dia selalu terkungkung oleh gertak jiwanya. Dia sudah dewasa, setidaknya umurnya mengharuskan hal itu, tapi langkahnya masih penuh ketakutan. Mata hitam kecoklatannya masih sama seperti cerita ibu tentang kami yang takut berjalan di usia hampir dua tahun. Bukan aku mau melepasnya mengarungi hidup, hanya saja aku tak tahu apakah aku akan bertahan di sampingnya, seumur hidupnya, setidaknya dia bukanlah istri atau suamiku, bukan pasanganku.

Aku sengaja menjelaskan pada seniorku, aku ingin Robi berlatih diwawancarai. Aku mengatakan pada mereka pada masa-masa awal memasuki tahun kedua kami di SMA, aku ingin dia mengikuti salah satu kegiatan ekstrakulikuler. Tapi, aku belum tega meninggalkannya di ruangan bersama beberapa orang, aku ingin mereka mengerti, Robi adalah saudara kembarku yang spesial.

Kami sudah di dalam. Aku sudah terbiasa, tapi lagi-lagi keringat dingin muncul dari wajah Robi. Mau tak mau tangannya pun ku genggam, kasian dia, tangannya seperti beruang kutub kehilangan rambut putih. Gertak giginya sangat terdengar di telingaku, entah di telinga empat orang di hadapan kami. Jarak mereka 6 meter. Mereka duduk di kursi bawah, kami ada di kursi yang diletakkan di atas tangga, belakang kami adalah Salib besar. Ya, sekolah kami tak punya cukup ruangan untuk melakukan aktivitas, wawancara untuk pers sekolah saat itu diadakan di kapel yang bisa direkayasa tatanan kursinya, orang yang belum terbiasa pasti akan takut menghadapinya.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul, Robi menjawabnya, tapi mereka tidak pernah bisa mendengarnya. Aku sudah jelaskan pada mereka jangan membentak, dan mereka pun melakukannnya, mereka tidak pernah membentak Robi sedikit pun. Aku mencoba memotivasi Robi, mengucapkan jawaban di pikirannya dengan lebih lantang, selalu gagal. Ini kali pertama, aku tak berharap dia di terima, lain kali masih bisa mencoba lagi.

Wajahnya membiru, bibirnya menegang, dia berdiri. Duduk lagi, gemetaran. Mata hitam kecoklatannya tidak lagi menunjukkan rasa takut, matanya kosong seolah menatap sesuatu yang jauh di lubuk hatinya. Tangannya menggenggam tanganku erat. Dia telah usai berlatih wawancara, usai. Tapi gertaknya pun tak pernah bisa dilatih, keraguan, bukan, tapi sinar ketakutan bahkan semakin menjadi-jadi.

Aku membantunya berdiri, “Tenang Robi, semua sudah selesai. Kita keluar ya,” saya ucapkan rasa terimakasih pada senior-senior yang mewawancarai kami sambil memapah Robi keluar. Tak sampai depan pintu, Teriakannya meledak dan dia mulai lunglai, aku kesal. Aku lelah menghadapinya, tapi dia lunglai, tak mungkin aku meninggalkannya sendiri.

Kugendong dia menuju UKS, kubaringkan tubuhnya. Wajahnya hampir seputih sprei di ruangan itu. Rambutnya yang sedikit ikal basah oleh keringat. Aku tak pernah bisa menggenggam erat telapak tangannya, selalu licin oleh rasa gugupnya. Kupingnya yang kecil, menggantung pucat. Hanya bibirnya yang menegang, mengucapkan doa-doa yang sama sekali tidak terdengar. Matanya pun sayu, menitikkan air, diiringi isakan dari hidungnya.

***

Roni, dia kembaranku. Adik kembarku lebih tepatnya. Kata ayah dia lahir hampir 30 menit setelah aku, kakinya keluar duluan. Dia hampir tidak tertolong, menyakiti ibuku dengan hebatnya. Alat kedokteran yang seperti sumpit dimasukkan ke rahim ibu agar dia selamat. Aku membayangkan betapa ibuku akan menjerit kesakitan. Walaupun begitu, dia menyayangiku, aku tak tahu mengapa dia berlebih-lebihan dalam menyayangiku. Aku tidak tahu dosa apa yang dia coba tebus kepadaku. Mungkin dosa, dosa saat dia tidak melihat kejadian itu, sebelas tahun yang lalu.

Roni, hari ini dia mengajariku caranya wawancara. Dia tidak pernah tahu perasaanku. Mereka yang di depanku, di hadapanku serasa pria-pria berseragam, mereka yang menuntutku mengatakan sesuatu sebelas tahun lalu. Ini sebuah luka, dia mengajariku untuk membuka luka itu. Dia menggoreskan luka itu lagi. Aku tak tahu, katanya dia menyayangiku, mungkin dia hanya bosan menemaniku. Mungkin dia sudah muak denganku, akhirnya dia menjerumuskanku.

“Hai Rob, mau ikut main?” dia menghampiriku, kami selalu melakukan tos. Kepalan, salam, dan jempol disatukan. Dia selalu mengajakku berman futsal, berbasa-basi, suatu saat aku mau menerima ajakannya, “Ayolah, sekali saja,” aku selalu menggelengkan kepala dan mulai beranjak dari dudukku. Sekali lagi, dia tidak pernah mengerti.

Bermain futsal, mereka seolah terbebas dari aturan-aturan lapangan besar, walaupun tetap ada aturan. Kadang-kadang mereka juga bermain tanpa aturan, walaupun selama ini belum pernah terjadi tawuran. Kalau Roni yang bermain, aturannya hanya satu, jangan pernah menggangguku, Robi, kakak sepupunya. Ah, aku seperti anak kecil saja, tapi memang kenyataanya aku terlalu lemah, bayi pun tidak selemah aku.

“Yuk pulang, Rob,” ucapnya setelah menyelesaikan sepiring nasi goreng. What? Pulang pun harus dia yang menuntunku? Menurutku itulah dosanya, tidak mebiarkanku sendiri. Tapi aku bisa apa? Aku hanya orang yang penuh ketakutan, aku telah banyak menyusahkannya, ini saatnya aku balas budi. Mengikuti semua kemauannya.

Dia memboncengku di motor merahnya, aku pernah diajari untuk naik motor sendiri, tapi begitu melihat ada motor lain di depanku lajuku mulai goyah dan kakiku jadi korbannya. “Kenyang, Rob?” tanyanya. Ah, bukan urusanmu, aku bahkan tidak pernah suka makan nasi goreng, kamu tahu itu sejak kecil!, ujarku dalam hati, “Lumayan,” aku tak tahu apa dia mendengarnya.

Kami memasuki rumah nenek, sejak ayah meninggal dan ibu dibui, kami tinggal di rumah ini. Rumah nenek, yang sudah meninggal lima tahun lalu, tapi suaranya selalu menggema di hatiku. Kami hidup sehari-hari dari pemberian kakak yang sudah bekerja dan sukses di Amerika. Dia sering mengirimiku buku-buku.

Aku berharap Roni suka membaca, jadi pembicaraan di rumah ini tidak hanya sekedar tentang bola, tentang motor, tentang kegiatan kampusnya, tapi juga soal Afghanistan, tentang Down Syndrom, tentang Kepercayaan Diri. Pembicaraan selalu didominasi olehnya, oleh bibirnya yang sedikit lebih tebal dari bibirku. Dia mengharapkan banyak dariku, menuntut lebih tepatnya, untuk jadi seorang laki-laki sejati menurut dia. Dia merasa dia lah kakakku, bukn, dia merasa dialah ayahku sekarang.

***

“Rob, aku tidur dulu ya!” pamitku padanya yang sedang menonton televisi, wajahnya belum cukup lelah, hanya sayu seperti biasa, “Jangan tidur malam-malam, ingat besok pagi kita ada Try Out ujian akhir.” Aku mulai memasuki kamarku di dekat ruang televisi itu.

“Iya, Ron. Tenang aja,” sahutnya, aku hampir tidak mendengarnya. Kami tidak pernah bermain di lingkungan rumah. Nenek menghalangi kami untuk bermain dengan mereka, katanya mereka brutal. Tiap malam, kami hanya akan melihat lingkungan sekitar di balik jendela ketika hujan, tidur atau sekedar menonton TV untuk menghilangkan kebosanan.

Aku memasukki kamarku, mengambil foto kami. Aku, Robi, ayah dan ibu, kakakku sudah pergi ke Amerika saat itu.Robi dan aku punya wajah yang hampir sama, dahulu kami hampir tidak bisa dibedakan. Sejak sebelas tahun lalu, berat badannya tak pernah ideal. Dia selalu memikirkannya, itulah mengapa dia selalu kurus, mungkin.

Hidung kami sama, tidak sebesar hidung bekantan, tapi cukup mancung untuk meletakkan kaca mata hitam saat kami berkunjung ke pantai Sanur. Rambut kami ikal, kuping kecil menggelantung. Bibirku agak sedikit lebih tebal dari bibirnya. Yang paling indah adalah mata kami, hitam kecoklatan dengan bulu melengkung. Kini yang memebadakan kami cukup banyak, wajahnya yang tirus juga ketakutan yang selalu dibawanya. Ketakutan itu selalu tampak, bahkan ketika aku hanya melihat bayangannya saja.

Sebelas tahun yang lalu, itu juga yang membedakan kami. Aku tidur nyenyak di kamar dan terbangun ketika para polisi menyeruak masuk dan Robi mulai menjerit. Aku hanya bisa melihat bayangan samar saat ibu di seret polisi, dan ayah menggelepar mati. Aku melihat dia, Robi, kakak kembarku terduduk di lantai sebelum akhirnya di gendong polisi. Aku hanya sendiri, bersama nenek saat semua kejadian itu selesai. Berbeda dengan Robi, dia mengetahui segalanya, tapi dia bungkam Aku yakin, dia menceritakan semuanya pada polisi, membuat ibu dipenjara. Aku yakin Robi mulai membenci Ibu, dia yang sering diceritakan dongeng oleh ayah, dan aku sama sekali tidak bisa membenci siapa-siapa. Aku pernah menyebabkan ibu hampir mati, begitu teriak ayah saat memarahiku, itu sebabnya aku tak akan pernah membenci ibuku.

Robi tak pernah jujur, nenek tak pernah tahu, ibu tak pernah berhenti menangis saat aku dan nenek, tanpa Robi, menemuinya di sel. Polisi pun selalu berbelit-belit menceritakan kejadian malam itu, hanya ibu yang menembak ayah dengan pistol, selesai. Tanpa embel-embel. Robi menurunkan volumenya sejak saat itu.

Ah, lelah aku memikirkan semua itu. Sekali lagi aku juga lelah menjadi ayah bagi Robi. Aku tak mungkin menggantikan ayah yang dikaguminya. Tidak sekali pun. Kumatikan lampu kamarku, mencoba tidur. Semuanya masih terbayang, aku mereka-reka dan akan semkain buruk ketika semuanya muncul dalam mimpi.

***

Aku tidak tahu mau nonton apa. Aku hanya tidak ingin tidur. Aku bosan dengan sikap kebapakkan Roni. Dia terlalu menjagaku, aku bahkan seperti hewan peliharaannya. Disayang, diberi makan, diingatkan jam istirahat. Yah, ayah. Aku rindu ayah.

Robi mungkin menyimpan banyak pertanyaan, sebelas tahun lalu. Saat dia tertidur lelap, dan hanya bunyi sirene polisi yang membangunkannya. Aku menyimpannya sendiri, semua orang memaksaku bercerita, seolah aku yang salah. Salah karena menjadi saksi kejadian itu.

Malam itu, saat Roni masih tertidur. Malam itu ulang tahun ayah. Sejak siang ayah sudah pergi, aku ingin memberinya kejutan yang Roni tak pernah pedulikan. Ibu sudah biasa pergi siang pulang pagi. Ayah biasanya pulang lebih awal, tapi hari itu tidak. Mungkin dia sedang merayakan hari jadinya itu bersama teman-temannya.

Aku tidak bisa tidur, ingin memberikan hadiah yang kubuat untuk ayah, sebuah lukisan selamat ulang tahun. Aku menunggunya, hingga jam 12 malam, tengah hari suara mobil ayah trdengar di depan rumahku. Aku menunggunya dari balik tembok, aku mendengar ada suara perempuan. Ibu? Tidak biasanya ibu pulang tengah hari seperti ini, mungkin dia ingin merayakan ulang tahun ayah.

“Tapi dhuitmu dari siapa?” ibu kelihatannya sedang marah. Dia membentak ayah saat membuka pintu rumah.

“Sssst, gak enak kalau didengar anak-anak,” ayah memang selalu membela anak-anaknya, dia takut pertengkaran itu kami dengar.

“Mas, aku pengin mereka tahu, aku ingin jujur sama mereka, “ Ibu mulai menangis, tapi tetap menggertak ayah.

“Sssstt..tidak usah macam-macam, aku bapak mereka,” ujar ayah, dia terdengar sedang lemas. Bicaranya tidak jelas. Mungkn karena takut dengan suara ibu.

“Mas!” ibu berteriak, seketika itu juga ada suara tamparan. Aku melihat dari balik tembok, ibu mengambil pistol yang selalu dibawa ayah di kakinya untuk berjaga-jaga—dia pernah bercerita kalau pistol itu harus dibawa, polisi juga sudah mulai jahat, dunia tidak aman, katanya—mengarahkannya ke dada kiri ayah. Suara pistol menyeruak di seluruh ruangan. Aku menutup telinga, hanya berteriak. Banyak tetangga kemudian masuk, nenek menelepon seseorag setelah menyadari yang terjadi di ruang tamu. Aku melihat dari balik tembok, Ibu melihatku, dia menangis. Aku memalingkan muka, menjerit melihat ayah berlumuran darah.

Polisi masuk ke dalam rumah, ya aku salah. Aku salah telah melihat semua kejadian itu. Aku ditanyai oleh mereka, bertubi-tubiu, aku bosan, kadang aku dibentak dan nenek kemudian menenangkan mereka. Aku hanya bisa menangis, dan aku terdiam, tunduk, aku benci ibuku. Benci. Benci! Dia telah merenggut nyawa orang yang selalu membacakan cerita untukku, bahkan ibu sendiri tidak pernah melakukannya. Dia hanya tertarik dengan Roni, dia yang membantu ibu memasak setiap harinya. Kami belum sekolah saat itu, dan aku enggan untuk mengingatnya lagi.

14 Februari, ayahku berulangtahun. Aku rindu. Roni tak pernah ingat ulang tahun ayah. Aku benci dia bersikap seperti ingin menggantikan ayah. Aku mengingat kejadian itu setiap bosan melandaku, aku tak pernah lagi menjerit, semua itu hanya akan membuat keadaan semakin kacau.

Aku mengingat kembali kejadian itu, aku mulai menangis.
“Mas, aku pengin mereka tahu, aku ingin jujur sama mereka, “ Ibu mulai menangis, tapi tetap menggertak ayah.

Bayanganku kembali ke sebelas tahun silam, mengingat kata-kata ibu. Bodoh, ibu ingin menceritakan rahasianya? Apa? Dia benci ayah? Dia ingin membunuh ayah kemudian kedua anak kembarnya? Tidak, Roni tidak mungkin ditembaknya, mungkin hanya aku yang akan dibunuhnya.

Roni, semua hanya tentang Roni. Ibu pasti tidak mau menemuiku lagi. Aku sedih, tapi sekaligus berterimakasih. Roni sudah menjagaku selama sebelas tahun. sebelas tahun yang penuh dengan ketakutan, kegentaran, gemertak gigi, wajah pucat pasi.
14 Februari, selamat ulang tahun ayah. Aku yakin kau bahagia disana, setidaknya karena pernah menjadi orang terbaik dalam hidupku. Aku mohon Tuhan, aku tak tahu apa dosanya, tapi demi orang selemah aku, beri dia tempat terbaik. Tempat terbaik yang akan kutemui di sana.

***

Pagi itu tidak seperti biasanya, Robi mengajakku membolos. Dia kulihat masih ertidur di depan televisi yang masih menyala. Pulas, tapi tampak beas air turun dari matanya. Sungai yang meninggalkan jejak. Robi seakan enggan untuk masuk sekolah, aku tak tahu mengapa. Saat kubangunkan dia, dia langsung berkata, “Bolos dulu ya, Ron.”

“Kenapa?”

“Aku pengin jenguk Ibu,” baru pertama kalinya dia punya keinginan seperti ini. Dulu waktu nenek masih hidup pun, dia selalu enggan ikut menjenguk ibu.

“Kenapa?” aku heran, sekali lagi heran. Apakah dia mau menceritakan sesuatu padaku? Ya, dia menceritakan sesuatu padaku.

Dia akhirnya menceritakan semua kejadian malam itu. Ayah yang tak kunjung pulang, aku yang tertidur lelap, juga ibu yang mengambil pistolnya. Semua kekakacauan dalam benaknya, semua ketakutan yang ada di pikirannya. Dia menangis, aku memeluknya, sudah terbiasa.

“Ibu pasti benci aku, Ron” katanya terisak. Aku tak pernah menjawabnya, takut dia berubah pikiran. Aku mengelus punggungnya.

Kami berangkat pukul 9 pagi, kami benar-benar membolos. Aku ingin melihat Robi menyapa ibu. Aku sudah lama juga tak menjenguknya, takut meninggalkan Robi. Jarak rumah nenek dengan penjara ibu tidak jauh, sekitar 30 menit lamanya.

Sipir di penjara itu masih belum ganti, “Ini kembarannya, mas? Lama tidak kesini ya mas Roni,” ujarnya kepadaku. Dia mengenalku, tidak saudaraku. Dahulu seringkali nenekku membawakannya makanan, pelicin untuk bertemu ibuku.

“Iya, mas. Sibuk sekolah. Boleh bertemu ibu?” dia ternyata tetap licin, tanpa masakan nenek. Dia mempersilahkan aku masuk. Robi muram, aku tahu dia takut dengan seragam-seragam yang mereka gunakan.

***

Roni akhirnya benar-benar membuatku bertemu ibu. Dia memeluk ibu saat ibu keluar dari pagar kayu. Sel penjara tidak seseram yang kubayangkan. Sipir-sipir perempuan memberikan 30 menit untuk kami. Aku hanya tersenyum, bingung mau mengatakan apa untuk menyapa ibu.

“Robi, kamu masih marah sama Ibu?” ucapnya kemudian. Aku baru berani menatap wajahnya. Suaranya getir, ibu tak seseram yang kubayangkan. Sebelas tahun lalu bibirnya memakai lipstik, sekarang yang ada hanyalah kering. Hidungnya tak lagi bersih, penuh dengan noda hitam. Kantong matanya membesar, dan ada sedikit keriput hingga atas hidung. Aku yakin, dia memikirkan maafku.

Aku hanya diam, memandangi setiap lekuk wajah iu. Aku rindu ibu, walaupun aku sering menghujatnya. Aku menangis. Ibu juga begitu, menangis, tapi dia tegar, mengusap telapak tangannya di bawah mataku, menghapus getir yang kurasakan, “Robi jangan menangis. Ibu rindu sama Robi,” terdengar isakan, “Ibu senang Robi menjenguk Ibu.”

Roni mengusap punggungku. Dia seakan batu, terlalu kokoh untuk membuatnya menangis. “kalau aku dan nenek kemari, Ibu selalu menangis menanyakanmu, kami jadi mengurungkan niat untuk bertanya tentang kejadian itu,” Roni menambahkan. Sial! Ibu menungguku setiap saat.

“Bu,” aku bersuara, getir. Sakit. Sesak, “Ibu menyimpan rahasia apa?” tanyaku sambil sesekali terisak.

Wajah ibu terlihat bingung, wajah Roni pun terlihat bingung. Aku menghentikan tangisku sejenak, menghirup udara dalam-dalam dan tetap menangis setelahnya. Hening, semua hening aku sadar harus akulah yang memulai. Kamu jangan jadi cengeng, nak. Apalagi di depan ibumu. Ayahku pernah berkata seperti itu.

“Ibu, malam itu ingin mengatakan sesuatu,” aku memegang erat tangan Roni. Dia kesakitan, aku tahu itu, tapi dia membiarkaku, menungguku hingga aku selesai berbicara, “Sebelum ibu menembak ayah, dan mungkin akan menambakku.”

Ibu tersentak. Wajahnya menyiratkan sesuatu, amarah karena aku memberikan kemungkinan yang mungkin tak akan dilakukannya. Tapi wajah tegangnya mengendur dengan cepat, dia kembali menangis. Mencoba mengonfirmasi pertanyaanku, dia bertanya, “Rahasia yang kuributkan dengan ayahmu? Kamu mendengar aku berjanji mengatakannya?”

“Ya,” aku mengiyakan, sebelum membuka semua yang kuketahui di malam itu.

***

Robi menceritakan semuanya, di depan ibuku. Bagian-bagian yang tidak diceritakannya padaku, dibukanya di depan ibuku. Dia membuka lukanya, aku tahu dia pasti kesakitan. Miris. Aku mendengarnya. Tapi aku yakin, ketika luka itu dibuka, maka akan semakin mudah untuk menyembuhkannya daripada ketika disimpan.

Robi, dia tidak pernah jujur padaku, orang yang selalu di dekatnya. Aku mengerti, kejujuran itu egois, kadang hanya milik orang tertentu saja, tapi kenyataannya menjadi seseorang yang jujur itu menyakitkan. Jujur di saat yang tidak tepat, Robi mencoba menghindarinya. Sekarang, sebelas tahun kemudian, aku yakin inilah saat yang tepat.

“Ibu,” suara Robi tertahan, “Ibu jahat! Tapi apa ibu mau jujur, apa yang ibu rahasiakan dari kami?” suaranya bergetar, bergetar tapi lantang. Robi didorong oleh kemauannya. Kemauan memperbaiki jiwanya, meredam getar hatinya, membuka rahasia masa lalu kami.

“Ayahmu, bukan. Dia bukan ayah kalian,” ibu setengah berteriak, aku menghampirinya, memeluknya. Aku merasakan luka itu dalam. Sangat dalam. Kepalanya disandarkan dibahuku, tangannya memeluk tanganku, Robi hanya diam. Dia masih terguncang, lukanya belum selesai, “Dia bukan ayah kalian,” aku mencoba mencerna kata-katanya, hanya mencerna kemudian menitikkan air mata.

Dalam pelukanku, dalam ancaman mata Robi yang mulai menajam dan penuh tanya, ibu menceritakan semuanya. Semua. Ayahku, bukan ayahku. Ibu tidak tahu siapa ayahku. Ayahku penadah, ibuku yang ditodong. Ayah yang membesarkanku adalah germo, ibuku yang menerima lendir dari berbagai pria. Mereka menikah, untuk menutupi rasa malu keluarga saat kelahiran kakakku. Dia, dia dibawa ke Amerika oleh ayahnya. Sedangkan kami? Kami tidak pernah dicari oleh ayah kami, ayah yang membuahi rahim ibu kami. Ayah yang selama ini kami kenal hanyalah numpang lewat, numpang membesarkan kami.

Luka itu dalam, dan bertubi-tubi. Ayah yang kami kenal menginginkan kami, istri pertamanya meninggal dan tak pernah punya anak. Sekalipun wanitanya banyak, tapi mereka tak pernah mau dengannya, tak bisa memberi kepuasan. Kasar, walupun tidak begitu saat berhadapan dengan Robi. Dia sangat menginginkan Robi, seolah Robi adalah anak dari darahnya. Sedangkan aku? Aku hampir membunuh ibuku, artinya aku hampir membunuh rejekinya. Aku dibencinya, dan aku membencinya. Mata Robi seolah tak percaya, tapi dia menyesal.

Malam itu, setelah sekian lama perundingan untuk membangun rumah di tempat yang jauh, ayah yang membesarkan kami tak juga memberikan uang untuk ibu. Ibu sudah muak dibicarakan tetangga, ibu malu pada nenek. Malu. Ibu ingin pindah, tapi kenyataannya tak pernah pindah. Satu lagi rahasia terungkap, nenek tidak pernah mengijinkan kami bermain dengan anak-anak di lingkungan rumah karena takut akan membuka luka baru bagi Robi. Robi, dan Robi, semuanya tentang Robi!

Malam itu, ibuku sudah tidak tahan lagi. Ayah mabuk, dia menampar ibuku. Ibuku selalu tahu dimana ayah yang membesarkan kami menyimpan pistol ilegalnya, menariknya dan menekan pelatuknya. Matilah ayah di malam itu, membawa misteri dan teka-teki yang lama, sebelas tahun, baru terungkap.

Ibu menunggu saat ini, saat Robi hadir di depannya. Ibu tidak ingin mereka mendengar dari nenek yang terlalu sensitif membicarakan hal-hal seperti ini. Ibu menunggu kami berdua bersama, menjelaskan dengan detail setiap kejadian seperti saat dia menjelaskannya pada kakak kami, pada umur yang masih sangat belia.

Kami menghapus tangis yang mengalir, memeluk satu sama lain. “Aku sayang ibu, maafkan Robi, Bu” Robi menitikkan air mata, matanya tak lagi sendu. Wajahnya penuh kebahagiaan. Dia tersenyum, hal paling langka yang kudapatkan. Dia egois memang, mebagi senyum itu pada ibu. Aku berharap dia tidak lagi egois padaku, soal rahasia, soal senyum. Aku menyayanginya. Robi, kakak kembarku.

Aku berharap aku tidak lagi punya banyak dosa yang menyebabkan ibu hampir mati juga dosa tidak melindungi kakakku saat hatinya rapuh melihat kejadian malam itu. Aku sudah bosan, aku sudah lelah. Robi, semoga kau mengerti, aku tak mau berpura-pura jadi ayahmu lagi.

***

Aku baru yakin, ketika bosan itu sudah melanda, maka luka akan terbuka. Mau tidak mau aku harus membuka semua luka, dengan begitu orang-orang di sekitarku akan tahu cara yang tepat untuk menyembuhkannya. Aku salah sebelas tahun ini, aku tak pernah berpikir apakah ini saat yang tepat, tapi aku hanya ingin meminta penjelasan pada ibuku.

Roni, adikku. Aku tak lagi akan pelit memberinya senyum. Dia bukan adik yang ingin membunuh ibuku, bukan seperti kata ayahku. Dia adik yang menyayangiku. Semuanya sudah terbuka dua bulan lalu. Saat ini, saat ini aku di pemakaman ibuku. Dia menyesal tidak bisa menghidupi kami, tapi aku tidak pernah menyesal punya ibu sepertinya. Aku sadar, aku tidak boleh menyesal mempunyai ibu sepertinya.

Rahasia-rahasia itu terungkap seperti energi terakhir untuk ibu. Ibu menderita sakit jantung, mungkin selama ini ditahannya. Aku yakin dia pasti kuat, tapi ternyata sudah terlambat. Kini dia disemayamkan.

“Rob, ada surat ini dari Ibu,” Roni menyapaku, aku sambut dengan senyum. Ketakutanku masih tersisa, banyak. Tapi keceriaanku mulai muncul, masih sedikit. Aku baru bisa tersenyum, belum berbicara lantang. Tidak seperti saat aku emosional meminta penjelasan kepada ibu.


Untuk Robi dan Roni, kembarku tercinta
Maaf, Ibu menyembunyikan kenyataan dari kalian,
Membuat kalian, lebih-lebih Robi, membenciku
Kenyataan tidak harus diungkap dalam segala suasana,
Aku butuh keberanian, juga keberanian Robi, untuk mengungkapkannya
Aku tahu ini terlambat, Tapi aku yakin kalian menyayangiku, lebih dari yang kutahu.

Sebelas tahun dalam penjara memendam rasa sayangku untuk kalian. Aku tersiksa tidak bisa menyayangi kalian, batinku tercabik setiap mengingat kalian. Kalian yang aku cintai.
Sebelas tahun, rasanya seperti tiga puluh tahun setelah Robi datang dengan keberanian.
Roni, aku berterimaksih padamu telah menjaga kakakmu.
Semuanya hanya soal waktu, ya hanya waktu sampai kenyataan terungkap. Menyakitkan.
Lebih sakit lagi, ketika kita menyembunyikannya.

Kalian, jangan lupa memberitahu semua ini ke kakakmu di Amerika, Lina. Sampaikan salamku, aku menyayangnya juga.
Ibu sudah tidak suci, demi sesuap nasi untuk nenek kalian. 
Semuanya terungkap, luka, cinta, dan kini yang tersisa adalah bahagia.
Jangan lupakan ibu ya, nak. Robi, Roni.


Cinta itu penuh kebohongan, tapi kenyataan yang akan menjawabnya. Cinta itu tergesa-gesa, hingga ibu pun tergesa-gesa meninggalkan kami saat cinta kami mulai tumbuh. Kami berjanji akan membingkai surat ibu ini. Kami berjanji akan membingkainya dalam hidup kami. Ibu yang kami cintai.

***

Senang rasanya melihat Robi mulai banyak tersenyum, dia tidak lagi egois. Robi, aku tahu dia akan menjadi tegar setelah banyak terluka, aku tahu dia akan berubah setelah mengobati luka itu.

Kami kembar, walaupun berbeda tapi kami punya hati yang sama-sama unggul. Aku berani berbicara, Robi berani mengungkapkan perasaannya. Aku kadang terlihat terlalu angkuh, Robi mulai dikenal sebagai orang yang ceria. Dia masih tetap spesial seperti dulu, mampu memberi kebahagiaan. Robi, aku Roni, adik kembarmu. Aku menyayangimu.

Senin, 30 Januari 2012

Tempe

“Mbak, teh panas satu ya,” ujarku sambil terlihat biasa saja. Aku mulai menghampiri etalase penuh dengan makanan untuk mengganjal perut di terik matahari saat itu. Aku ambil piring di atas meja kasir kemudian nasi dari termos berwarna jambon, kububuhi bumbu rendang, daun singkong rebus dan sambal hijau. Aku termenung sebentar, hanya menikmati pemandangan lauk-lauk di depanku, akhirnya ku ambil dua potong tempe goreng tepung berwarna coklat keemasan di pojok etalase.

“Menu biasa ya mas?” mbak penjual dengan tinggi 169 cm-an itu sudah membawa gelas berisi teh panasku, seakan bisa menghafal menu makanku setiap hari. Dia meletakkan gelas itu di meja tempat aku biasa duduk, di depan TV.

Aku diam sejenak memberinya jalan menuju etalase, seperti biasa sehabis mengantarkan minumku dia akan menutup renda-renda etalase makanan warungnya, “Iya, mbak,” jawabku sambil tersenyum. Malu. Aku duduk setelah dia lewat, dan dia pun mulai menggeser renda etalase yang sengaja kubiarkan terbuka. Aku mengetahui hal itu dari bunyinya tanpa harus memandangnya.

Aku mulai melahap satu per satu daun singkong rebus yang bertabur sambal hijau dan bumbu rendang. Aku suka sekali suasana siang itu, hanya berdua, sama dengan aku menyukai makanan di warung masakan Padang ini. Perempuan tadi sedang menata piring di meja kasir, sekali lagi aku sudah terbiasa dengan suaranya tanpa melihat dia melakukannya. Waktu awal-awal datang ke warung ini, dua bulan lalu, dia akan mulai meraih kalkulator di rak meja kasir dan membunyikan suaranya, menghitung harga yang harus kubayar untuk nasi sayur, dua potong tempe, ditambah segelas teh panas atau kadang-kadang air putih panas. Hal itu tak pernah lagi dilakukannya, aku memang tak pernah mengganti menu makanku di warung itu.

Suara sendal jepit yang diseret-seret mulai melintas melewati jalan di sebelah kananku, aku mendengarnya, tidak melihatnya. Seringkali dia tidak bisa menahan senyumnya, seringkali aku mendengar senyumnya. Mungkin bukan senyum, tapi dia jarang memperlihatkan giginya kalau itu disebut tertawa, jadi aku teguh kalau dia sedang tersenyum.

“Lagi nonton apa, mbak?” spontan aku mengagetkannya yang akan duduk menghadap TV, yang ternyata sedang dimatikan, di depanku. Dia lalu menghadapku, seperti biasa dia agak gugup dan mulai tersenyum. Dia tidak pernah memperlihatkan giginya.

“Aku gak tau e mas judulnya apa,” Ujarnya malu-malu. Mata lebarnya berbicara sesuatu. Malu. Dia mulai membenahi duduknya, membiarkanku melihat ke arah laptop yang diletakkannya di bawah rak TV. Dia seakan memberiku teka-teki, membiarkan aku menebak apa judul filmnya.

“Oh, itu kartun tentang masa purbakala. Judulnya Flinstone bukan?” aku bertanya, ya bertanya bukan benar-benar mengerti apa yang keluar dari mulutku. Melihat film itu sebelumnya pun aku tak pernah, membaca resensinya pun aku tidak pernah, asal saja aku menebak apa judul kartun itu.

“Gak tau e, mas. Ini punya anak yang punya warung, katanya aku suruh nonton. Aku gak tau apa judulnya,” Sekali lagi senyumnya membanjiri pandanganku. Ah, apa yang aku pikirkan?, tanyaku dalam hati saat mulai berlama-lama memandangi senyumnya. Dia menyadari, memalingkan mukanya ke arah layar filmnya.

Aku mengaguminya. Baru kali kedua ini, ya kali kedua, aku bisa salah tingkah. Benar-benar salah tingkah yang tidak dibuat-buat. Banyak orang salah salah tingkah, sengaja agar menarik perhatian, di depan para perempuan kota yang berstatus tinggi. Tinggi. Setidaknya bagi orang seperti penjaga warung ini. Ya, ini kali keduanya. Pertama, waktu aku berpacaran dengan pacar masa SMP, Putri. Kedua, di tempat ini.

Aku tidak lantas buru-buru membayangkan itu cinta. Aku hanya ingin merasakan sejenak getaran yang ditimbulkannya. Rasanya berbeda, tidak dibuat-buat. Ini getaran yang alami bagi diriku. Aku bahkan tak pernah mau menanyakan siapa namanya, takut keadaan ini seketika berubah dan penuh dengan kepura-puraan. Kuraih handphone di tanganku, aku hapus inbox penting agar aku bisa menuliskan dan menyimpan sesuatu di draft item-ku.


Sekali senyum,
Dua kali senyum,
Tiga kali senyum,
Matanya berbinar, walau giginya tak pernah keluar,
Wajahnya seperti cawat, elastis tapi tetap kuat,
Bibirnya menggelanyut, monyet yang melihat pasti merasa itu pisang yang melengkung sempurna,
Walaupun tidak tebal, tapi pula tak terlalu tipis. Hanya manis.
Aku tak ingin namamu, ingin hanya terus bersamamu.
Tempe tepung, aku sudah sangat tergantung.


Diam berlama-lama di warung itu, seakan sudah menjadi candu. Kalau saja aku tak punya tugas untuk belajar, tak punya tugas untuk bekerja lebih keras setiap harinya. Andai saja aku manusia yang bebas dari segala tugas, bebanku pasti hanya satu, memikirkan banyak cara untuk tetap tinggal di warung ini. Ya, seandainya aku bukan manusia yang benar-benar manusia, aku tidak akan pernah memikirkan hal lain, selain menghabiskan waktu sekedar memandangi manusia manis di depanku. Heran, aku juga berpikiran dia mempunyai pikiran seperti itu. Lucu. Aku serasa ditarik kuat oleh magnet di ujung bibirnya. Manis.

“Harganya belum naik kan mbak?” ujarku setelah sadar bahwa waktunya sudah habis untuk menabung bayangannya. Aku mengeluarkan uang kertas sepuluh ribu, berdiri dari mejaku. Dia menghampiriku.

Dia hanya menggeleng. Aku tidak tahu apa yang lucu dari penampilanku. Hari ini sengaja kupakai kemeja, celana jins hitam yang baru diwarnai juga sepatu kets untuk mengganti jepit kamar mandiku. Tapi dia terus tersenyum, tanpa mengeluarkan giginya, sesekali menahan senyuman itu dengan tangan kanannya seolah sedang menertawakanku. Matanya tak dapat sembunyi, bola hitamnya melirik ke arahku. Dia sedang mengintaiku. Aku suka, ini intaian yang spontan, bukan penuh kecurigaan, bukan intaian yang menyiksa. Intaiannya melambungkan duniaku, seolah menaburkan dandelion di sekitar wajahnya. Halus, tapi rapuh. Membuatku ingin menjaganya saat dia mulai terbang. Semuanya terlihat alami.

“Tapi gak punya kembalian, Mas,” ujarnya setengah gugup, tapi berani, sambil menuju sebuah bungkusan yang ada di etalase. “Kalau ditukar ini mau?” ujarnya lagi sambil menyodorkan bungkusan itu. Dia seolah memaksaku untuk menerimanya. Dia ingin aku menerimanya, walaupun aku tak tahu apa isinya. Dia seakan pernah memeriksa dompetku, memberikan kembalian yang tepat, sesuai uang yang akan kukeluarkan untuk membayar. Oh, lupa. Ini hari Kamis, aku pasti mengeluarkan uang sepuluh ribuan, hasil jaga warnet malam tadi.

Hatiku sejenak bertanya, tapi lagi-lagi senyumnya menyiksaku untuk segera meraih bungkusan itu dan cepat-cepat pergi menunaikan tugas yang tak berhubungan dengan perasaanku padanya, “Bo..boleh....Tempe ya?” aku tak lagi bisa menahannya, lagi-lagi dia membuatku sok tau. Suaraku mulai bergetar, baru pertama kali sejak aku lulus SMP, di depan seorang perempuan. Bukan seniorku, bukan ibuku, bukan pula guruku yang galak. Kadang aku menyesal saat mengetahui aku terlalu lemah di depan dia yang sama sekali tak berpendidikan, mungkin begitu dia menganggap dirinya, tapi aku senang walaupun lemah di depannya. Aku tidak lagi sendiri, aku selalu ditemani dia yang kuat, walaupun setiap waktu dia selalu menamparku, memukulku, menghajarku dengan tatapan matanya juga sungging bibirnya.

Aku menerimanya, aku lalu melangkah pergi. Aku baru sadar, kembalianku yang lima ribu ditukar dengan sepuluh tempe tepung goreng? Aku heran, tapi aku senang.
***
“Kamu selalu sendiri? Tidak berniat punya pacar? Teman? Sahabat?” Tia, dia satu-satunya teman bangkuku saat kuliah. Dia sering memanfaatkan kepandaianku, selalu menghafal kata-kata yang kukeluarkan. Tapi dia pulalah yang sering mencobaiku.

“Aku sedang mencari takdir!” ucapku ketus, “Masalah teman, kamu teman bangkuku, tapi tak lebih baik dari Herman. Setidaknya Herman dan anak-anak hamsternya tidak pernah berbicara, tidak pernah menanyaiku soal PR dan meninggalkanku begitu saja setelah tahun ajaran selesai.”

“Takdir? Bukannya kamu yang dulu pernah bilang: Takdir itu gak perlu dicari, Ti. Takdirmu hanya untuk hidup dan mati. Manusia bisa mengubah fisik, bisa mencari cinta, bahkan cadangannya. Bisa menemukan teman, bahkan sesekali menghujatny. Takdir itu bullshit?” katanya menghafalkan kata-kataku, dan aku benci saat dia mengetahui aku tidak konsisten. Ini semua karna warung padang. Aku kehilangan konsistensi. Aku tidak pernah mengharapkan perempuan lain sejak putus di masa SMP, kadang aku kesepian, tapi sepi adalah hal menyenangkan. Kadang aku benci dengan penjaga warung itu. Dan kadang ocehan Tia saat mencobaiku benar adanya, “Anan, Herman bukan manusia, dia tidak bisa kau beri berlebih-lebih kasih sayang saat kau menghindari manusia.”

“Iya, aku sedang mencari takdir. Lebih tepatnya takdir awal mengapa aku dilahirkan, dengan siapa aku boleh berteman juga takdir dengan siapa aku akan mati, setidaknya siapa yang benar-benar menjagaiku sebelum mati. Pacar? Teman? Sahabat?” aku mulai membenci mencari-cari alasan untuk menutupi ketidakonsistenanku, “Aku bisa mengubahnya, sehingga tidak lagi menjadi takdir. Tapi aku hanya ingin menjalaninya, siapa tahu takdirku benar. Aku hanya berharap semuanya terjadi secara alamiah, sayangku untuk teman bahkan, aku tidak mau menodainya dengan kepentingan pribadi semata. Aku tidak ingin mengubah takdir, setidaknya dalam hal hubungan dengan manusia, karena kadang itu sangat menyakitkan.” Aku punya pengalaman pahit dalam berteman, dan tanpa disadari aku mulai terhanyut dalam cobaan Tia. Kata orang, aku sedang galau, tapi kataku: curahan hati menunjukkan aku masih berpikir. Aku juga masih merasa.

Aku berjalan cepat, mulai menjauh dari Tia. Aku sudah muak berbicara tentang takdir, setidaknya setelah aku selesai merumuskannya saat lulus SMA. Dulu, saat SMA aku punya sahabat, aku anggap dia takdirku, ternyata dia hanya mampir dan semuanya terjadi secara tidak alami. Dia ada saat membutuhkan, dan aku selalu kesepian saat membutuhkannya. Dia selalu berhasil menaklukkan hasrat-hasratku untuk menolaknya memberi bantuan, tapi sekali lagi aku harus sendirian saat aku hampir tidak tertolong. Semuanya terjadi sekalipun aku telah meminta pertolongannya. Dunia kami berbeda, aku mencoba menyamakan dunia kami, tetap tak berhasil. Kami sekali lagi berbeda. Aku tidak ingin lagi mengubah takdirku, tidak ingin melakukan hal-hal yang mengubah kealamian hidupku. Aku tinggalkan dia, aku bisa menggugat takdir atas hasil belajarku, di tengah IQ yang rendah, tapi aku tak ingin mengubah takdir untuk berhubungan dengan manusia. Sakit, dan aku tak ingin orang lain merasakannya.
Ah, kenapa dia muncul? Dia mengorek lagi garis takdirku saat merasa aku ditakdirkan untuk sendiri. Sinar matanya, ahhh..sungging bibirnya. Dia membuatku tersiksa. Heran, aku justru berbunga-bunga saat dia menyiksaku dengan matanya, senyumnya.

Dalam perjalanan aku terus bergumam, menghujat perjumpaanku dua bulan lalu. Sekali lagi, aku ingin semuanya terlihat alami, tidak memaksakan kantong cekakku untuk mengirimkan bunga juga tidak memaksa kepengecutanku menjadi garang, bahkan hanya sekedar berani menanyakan namanya. Penjaga warung masakan padang.
***
Aku memang pelupa, bahkan seringkali dianggap tidak perduli. Begitu pula malam ini, saking sibuknya mencari-cari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan demokrasi, politik, sosialdan sebagainya, saat kubuka tas hitamku aku lantas menyadari bungkusan yang dititipkan sesorang. Bayangan wajahnya tidak pernah kulupakan, aku sudah banyak menabung bayangannya tadi, tapi bodoh, aku melupakan bungkusan itu. Sejenak aku merasa bersalah, takut isinya sudah tidak lagi bisa dimakan.

Aku keluarkan bungkusan berbalut kertas minyak coklat itu. Ada sedikit minyak yang menyeruak keluar dari dasar bungkusan. Kucium baunya, bau tas bercampur aroma khas. Aroma yang setiap hari selalu kurindukan, seolah dia mengerti, menitipkan setiap aroma tempe hangat lewat angin. Kini, di kamar kosku, aku bisa merasakan nyata aroma itu tanpa harus bertemu dengannya. Sejenak aku merenung, tetap saja kosong. Untung tadi sudah berlama-lama di sana, bayangannya tidak mungkin hilang dalam sekejap, aku menggumam dalam hatiku sambil membuka karet yang mengikat bungkusan itu agar tetap kuat menjaga isinya.

Aneh, ini aneh. Sekali lagi aku menggumam, terlamabat memikirkan reka adegan saat aku menerima bungkusan ini. Aneh. Seolah aku menebak, bungkusan ini sudah disiapkan sebelum aku datang. Dia sudah menyiapkannya, bisa saja sebelum aku selesai makan. Tapi untuk apa? Tanyaku dalam hati, aku memang tidak mengerti, dan inilah misteri dan teka-teki. Dia mencobaiku lagi, sama seperti saat memberikanku tebakan tentang judul film. Anehnya, walaupun tidak ada dia, aku masih tetap sok tau. Aku menbak sesuatu dengan segera tanpa pernah mengerti tanda-tanda apa ini. Aku belum pernah mengalaminya.

Ani. Ada tulisan di luar kertasnya, seolah menyindirku yang selalu enggan menanyakan namanya. Ani Tempe. Oh, Tuhan! Dia seolah tau yang ada di dalam pikiranku, hanya dia dan tempe tepungnya. Anan dan Ani, Aku bergumam sekali lagi, mencari padanan yang tepat untuk keserasianku dan dia, Ah tidak, dia harusnya ada di depanku, Ani dan Anan! Nah, ini baru cocok!

Kulahap tempe tepung berwarna coklat keemasan sambil mengerjakan sisa PR yang esok akan dicontek lagi oleh Tia. Tempenya sudah tidak hangat, tidak lagi renyah. Tempenya hanya gurih, tapi rasanya lebih dari sekedar gurih. Rasanya membuatku berandai akulah superhero, bagi diriku sendiri. Dengan cepat aku mulai melahapnya satu per satu, mempercepat gerak jariku di atas secarik kertas tugas. Ya, aku superhero, mengerjakan tugas dengan cepat. Tempe itulah kekuatanku, bayangan wajahnya adalah nyawaku.

Biasanya kutawarkan beberapa makananku untuk Herman dan empat anaknya, tapi kali ini tidak. Hamster kesayanganku pun tidak boleh merebut secuil biji kedelai dari tempe ini. Tidak, aku ingin menikmatinya sendiri. Walaupun aku belum yakin ini cinta, tapi aku sudah terkena gejalanya, egois, tak mau membagi apa yang kupunya selain dengan Ani.

Malam itu rasanya tenang. Indah. Suara bising kendaraan yang mencoba menyusuri gang-gang kosku tak lagi terdengar. Suasana ini membawaku larut dalam lelah. Kelelahan saat berpikir, semua pikiran termasuk tentang dia. Otakku mungkin akan mengeluh, mengapa harus menyimpan banyak bayangan penjaga warung itu. Tapi, aku yakin dia sudah berkompromi dengan jantungku yang berdetak lebih kencang per detiknya, dia pasti pernah mengalami jatuh cinta juga, dengan sistem tubuhku mungkin. Aku mulai terlelap, tapi otak dan jantungku tetap bekerja, menghadirkannya dalam bayangan kelam, mimpi. Kelam, tidak nyata, tapi indah. Aku berharap.
***
Dengan sigap aku menyiapkan semuanya. Parfum. Gel rambut. Aku mulai melihat diriku sendiri di depan kaca seolah tak mau meluputkan sedikitpun bagian tubuhku dari kerapian. Semuanya siap. Kuambil tasku, kupakai sepatu terbaikku. Aku berjalan menyusuri gang-gang di kota besar itu.

Etalase depan masih dipenuhi lauk pauk yang hangat. Asapnya mengepul, tanpa harus mencium baunya, aku tahu mereka pasti sangat nikmat. Aku melangkah masuk. Aku mulai kecewa.

“Mau makan sini atau dibawa pulang mas?” aku tidak suka ditanyai seperti itu. Aku sudah terbiasa mengambil sendiri makananku, memesan minuman dan melihatnya keluar dari dapur, duduk di hadapanku walaupun seringkali membelakangiku.

“Teh panas satu. Makan sini aja,” sahutku. Aku lunglai, bungkusan kemarin seolah menjadi pesan. Tempe di etalase sudah hilang, daun singkongnya pun hilang. Ini warung apa? Aku rasanya ingin cepat-cepat ke keampus dan membaca buku-buku pelajaranku daripada berlama-lama di sini.

“Ini ya mas minumnya,” ucap penjaga itu dengan ketus. Dia bukan Ani.
“Tempenya gak ada mbak?” tanyaku, juga ketus.
“Gak ada, yang biasa masak tempe tepung sudah pindah,” apa? Aku bertanya dalam hatiku. Apa-apaan ini? Dia memberitahuku namanya, dan dia pergi?
“Oh,” hanya itu yang keluar. Dalam pikirku, kalau ada tempenya pun pasti rasanya berbeda. Ani membuat tempe dengan senyum, tidak seperti kamu yang di depan pelanggan pun tidak pernah tersenyum. Dasar mbak-mbak jelek!

Aku benar-benar lunglai, kuhabiskan segera makananku. Aku mulai melangkah ke kampus. Aku terus berpikir. Lagi-lagi takdir seolah mengerti kapan harus dibicarakan. Kini aku menghadapinya, takdir. Tia mencobaiku untuk mengubah takdir, dan memang takdirku tidak pernah berubah. Aku orang yang sendiri.

Aku senang, aku tersenyum. Orang mungkin menganggapku gila, barusan patah hati, sudah tersenyum. Bukan. Aku tidak patah hati. Aku merasakan getaran pada Ani dengan ikhlas, semuanya terjadi secara alami. Aku senang walaupun dia menyiksaku dengan senyumn dan matanya. Aku ikhlas merasakannya. Inilah yang kusebut alami. Aku tidak menuntut balas akan kepergiannya, aku tak kan pernah menghujatnya saat dia pergi seolah tak tahu apa-apa. Aku cukup merasakan angin bertiup, aku yakin dia sedang membuat tempe tepung sambil memikirkanku. Aku yakin, kalaupun dia takdirku, aku akan kembali merasakan tempe tepungnya, setidaknya aromanya setiap angin berhembus di hadapanku.

Aku menggugat takdir, sedikit. Menggugat kenapa aku terlalu menjalaninya dengan mengalir. Tapi, sekali lagi aku tidak lagi menggugat cinta. Biarlah semua apa adanya. Bahagiaku hanya ketika merasakan dia datang, tidak lagi memaksakan untuk menyatu dengan cinta. Hal itu hanya membuatku berpikir cinta seolah-olah jus buah, terdiri dari macam-macam buah yang disatukan. Tepatnya dipaksakan untuk bersatu. Padahal cinta adalah buah, yang masih bergelantungan di pohon, memancarkan aroma alami dan kadang keindahannya pada semua orang. Cinta itu sempurna, hingga buah itu jatuh di tanah karena rantingnya sudah tak tahan menahan beratnya. Cinta itu tetap ada, walaupun sudah berada di tanah, menumbuhkan kembali tunas dari bijinya, menebarkan kembali keindahan saat tunas tersebut tumbuh, mulai besar dan layu. Cinta itu siklus, menjaga, merasakan, membuahkan hingga akhirnya matang dan kembali berbuah. Cinta tidak dipaksakan. Aku mulai merasakannya, aku yakin ini cinta.

Kalaupun aku salah, setidaknya aku punya pembelaan. Kalau aku salah, setidaknya aku tidak memaksakan untuk membenci takdirku. Kalupun aku salah, toh aku masih bisa mencium aroma tempe tepung di setiap hembusan angin yang hadir tepat di depanku. Aku mencintai Ani, ya, walaupun dia telah pergi. Suatu saat aroma tempe tepung yang akan mempertemukan kami, kalau itu sudah menjadi takdir. Aku mulai menghapus satu per satu puisi untuknya di handphone-ku. Aku mengaguminya, tapi aku tak mau terlarut dalamnya.

Aku jalani hariku lagi, sendiri. Hanya Tia yang mewarnainya, dengan goresan hitam yang tidak alami. Kusam. Tapi hatiku masih tetap murni, terjaga bagi dia, yang tidak tahu dimana, yang menyiapkanku tempe tepung.
***
Satu bulan berlalu sejak Ani tanpa berpamitan meninggalkanku. Satu minggu berlalu sejak ujian akhir semesterku, artinya aku sudah di rumah. Kegiatanku hanya melahap novel-novel Hosseini atau Coelho, Djenar, Sena Gumira atau juga Ahmad Tohari.

Seperti biasa, aku mengahbiskan buku-buk itu di dalam kamar. Tapi sesuatu tampak berbeda kali ini. Bau masakan ibu merebak menembus kamarku. Aromanya, aku membayangkan yang dimasaknya berwarna coklat keemasan. Aku mengenali aromanya, ini tempe tepung.

“Tumben, Bu. Biasanya tempe bumbu garam dan bawang saja,” tanyaku setelah sampai di dapur.
“Ibu baru belajar dari penjaga warung baru di jalan utama. Warung masakan Padang baru punya Pak Uni,” aku terhenyak. Kaget. Hatiku pun begitu.

Pantas saja aromanya begitu dekat. Aku hanya tersenyum. Kuambil sepotong tempe tepung buatan ibu, kubawa ke kamar. Aku tak lagi membaca bukuku, sibuk mencari kata untuk memberitahunya, dia yang akan kutemui, namaku. Anan. Anan yang suka dengan tempe tepung.