Sabtu, 16 Juli 2011

Lawu, Pendaki Gunung

Yang ini berbeda dari postingan sebelumnya. Saya ingin menceritakan bagaimana ada beberapa hal kontras yang kami temukan di Lawu, sebuah Gunung yang indah (sama dengan gunung-gunung lain). Tapi di Lawu, kami berhenti dan menginap di tempat yang penuh sampah, bahkan burung Paruh Gading pun makan dari sampah-sampah yang ada. Tidak indah untuk dilihat, sangat kontras dengan pemandangan hijau di depan kami. Padahal sudah ada tertulis di berbagai tempat 3 prinsip pendakian gunung:
1. tidak mengambil apapun selain foto
2. tidak meninggalkan apapun selain jejak
3. tidak membunuh apapun selain waktu
Dari prinsip nomor dua kita tahu bahwa meninggalkan sampah adalah sesuatu yang tidak benar. Lawu, dengan keindahan di depan mata kami ternyata tercemar, sama halnya dengan beberapa gunung yang pernah saya daki (merbabu dan Merapi).
Hal lain adalah ketika dalam perjalanan, entah mengapa setiap bertemu kelompok lain yang mendaki akan selalu ada interaksi walaupun tidak mengenal satu sama lain. Hal ini yang berbeda dengan keadaan sehari-hari kami.
Hal yang pasti adalah Lawu, Merbabu maupun Merapi hendaknya menjadi refleksi cinta terhadap dunia, bukan lagi keegoisan untuk melihat dan menuntut keindahan dari Tuhan, Pemerintah dan orang lain tanpa melakukan aksi apa-apa. Rada gak nyambung sih antara poin satu, dua dan kesimpilan...tapi intinya menjadi pendaki Gunung bukan berarti menjadi pengamat, pelihat..tapi menjadi reaktor atas isu-isu bersama, terlebih kelestarian alam. Selamat mendaki para pendaki Gunung, saya sudah pensiun....haha

Belum Tiba di Golgota


Tanggal 15-16 Juli lalu saya dan 8 orang lainnya mendaki gunung Lawu, dengan ekspektasi dan keyakinan akan mencapai puncaknya. Saya dan 7 teman laki-laki berangkat dari Jogja ke Solo dengan kereta Prameks, selanjutnya di Terminal Tirta, Solo kami disusul oleh Yulia. Dari terminal menuju Cemara Sewu kami naik mobil carteran. Untuk perjalanan Jogja-Solo hitung saja kami menghabiskan 31ribu rupiah (prameks 9rb dan carter mobil 22rb)/orang. Tiba di Cemara Sewu kami klekeran dari jam 3 hingga jam 6. Tak usah banyak kata, dengan semangat kami mendaki gunung diawali dengan pemanasan badan. Berat memang ketika memikirkan mana pos 1, kok belum kelihatan?, ditambah lagi ketika kami sudah tiba di pos satu dan melanjutkan perjalanan mana pos dua? kok jauh banget rasanya?. Hal itu mungkin yang terus menerus ditanyakan oleh teman-teman dalam perjalanan, ya hanya sebuah perkiraan saja. Tapi overall saya menikmati perjalanan menuju Golgota itu, ditemani cahaya bulan purnama. Perjalanan yang mendaki, berbatu, dengan beban masing-masing entah mental ataupun fisik. Di tengah jalan teman-teman mulai sakit satu per satu, dengan beranggapan bahwa kami belum menemukan pos 2 (lebih tepatnya belum melihat) dan melihat persiapan fisik yang belum cukup untuk mendaki hingga puncak maka kami putuskan untuk menghentikan perjalanan dan mulai nge-camp di pos sebelumnya, yang baru kami ketahui esok paginya bahwa itu adalah pos 2, 2,6km dari Cemara Sewu dan 1,8 km dari puncak. Ya, intinya di malam itu kami menjalin keakraban dengan dua panci mie dan minum seadanya.
Esok paginya, kami *setidaknya saya* berharap melihat sunrise, dan kami baru sadar di timur kami adalah tebing yang tinggi yang berarti pandangan kami untuk melihat sunrise tertutup. Dalam hati kami juga bersyukur tebing ini pula yang menghalangi angin menerpa kami. Dengan penasaran akhirnya saya, Otonk, Warih dan Lai mencoba untuk mendaki selama 15 menit, merekan beberapa keindahan yang sekiranya dapat kami tangkap sedikit lebih ke atas dari tempat camp kami. Cukup indah, tapi cukup membuat kami penasaran untuk menengok Karya Agung yang ada di puncak.
Jam 9 kami persiapan turun, menikmati pemandangan yang belum sempat kami nikmati di malam yang terang (tapi tidak cukup terang untuk mengukir pemandangan di tiap mata kami). Tiba di basecamp saya sangat bersyukur melihat dan merekam keindahan yang tidak ada lagi baik di rumah saya di desa ataupun domisili di Jogja. Dan akhirnya, saya belum sampai di Golgota. Golgota masih jauh, memikul beban yang jauh lebih berat dari apa yang kami bebankan kemarin. Lawu, angan untuk mencoba perjalanan menuju ke Golgota yang bisa dibilang sukses hingga di pertengahan jalan. Haha..di tengah perjalanan saya ingat janji saya Merapi adalah pendakian terakhir. Mungkin mencoba perjalanan ke Golgota tidak harius selalu mendaki Gunung. Selamat berekspedisi kembali teman-teman. Saya mencari ekspedisi lain untuk memikul beban ke Golgota. Terimakasih untuk Ndhul, hehe..dua kali kita tidak sampai puncak..saya belum menemukan ini tanda apa, Haha..
NB: Video di atas adalah gambaran keindahan dari lebih dari setengah Lawu. Bayangkan indahnya. Jika dibandingkan dengan Golgota, bayangkan indahnya ketika di Golgota manusia diampuni....haha....