Sabtu, 25 Juni 2011

Senyum


Senyum, sebuah kata yang sudah seringkali kita dengar...ya, mudah mengatakannya, bahkan sangat mudah untuk merekomendasikan senyuman sebagai pembangkit semangat pada teman, sahabat, keluarga bahkan siapapun juga yang kita temui. Akan tetapi, pada kenyataannya, senyum sebagai sebuah aktivitas (tersenyum) merupakan suatu hal yang sangat sulit. Hal ini setidaknya seringkali saya rasakan ketika mood sudah rusak karena sesuatu atau seseorang, atau ketika kita terkena masalah yang secara tidak langsung merusak pikiran saya dan akhirnya energi yang saya miliki pun saya habiskan hanya untuk berpikir tanpa mengingat bagaimana kekuatan sebuah senyuman sangat bisa mengatasi semua masalah tersebut (setidaknya membuat pikiran kita sedikit lebih jernih. Senyum bukan sekadar menggerakkan otot-otot muka, tetapi lebih kepada pergerakan suasana hati (cabemerah.com). Saya pernah membaca suatu artikel yang berisi penelitian tentang selisih energi yang kita guinakan untuk menggerutu dan tersenyum, kalaupun anda merasa tersenyum juga membutuhkan energi, setidaknya senyum membuang lebih sedikit energi dan menambah kekuatan dalam hati masing-masing.
Itu semua adalah senyum yang terjadi tulus, ikhlas, digerakkan oleh suasana hati yang senang sekaligus menjadi alasan untuk menambah spirit dalam diri. Akan tetapi banyak sekali alasan mengapa orang tersenyum, setidaknya saya pernah mengalami hal tersebut. Tersenyum bagi saya, kadang-kadang, menjadi sebuah alternatif untuk menyembunyikan amarah saya. Saya memang tipe orang yang jarang sekali bisa marah, dengan tersenyum saya bisa merasa lebih lega karena saya bisa menyindir seseorang dengan kata-kata yang membahagiakan, setidaknya bagi saya. Munafik memang sepertinya, tapi bagi saya, di beberapa kesempatan tidak punya pilihan lain selain memunafikkan diri saya daripada saya harus marah. Menyindir seseorang dengan senyuman membuat saya merasa lebih nyaman ketimbang harus menunjukkan amarah saya. Itu adalah salah satu usaha saya untuk tetap melancarkan sebuah proses, setelah proses berlangsung apa yang saya lakukan adalah berbicara blak-blakan.
Senyum selain menjadi sebuah aktivitas yang dilandasi keikhlasan atau kegiatan yang dilandasi ebuah kemunafikkan ternyata juga bisa menjadi sebuah alat untuk menjatuhkan. hal ini kadang menjadi kebiasaan yang dilakukan orang Jawa (tanpa bermaksud rasis, tapi kenyataannya memang seperti itu). Mbak Inggid, pianis yang mengirisngi PSM UAJY di Lomba BICC, mengatakan bahwa orang Jawa suka memuji untuk membuat lawan merasa puas dan tidak berusaha lagi. hal ini juga saya bawa dalam asumsi bahwa senyuman juga merupakan aktivitas menjatuhkan lawan. Kadang kita tersenyum dengan orang lain ketika malakukan sesuatu, mendekati dan membuat orang itu merasa nyaman, lalu pada akhirnya kita mengambil kesempatan untuk bisa mengambil keuntungan dari orang tersebut. Senyum ternyata bisa dilandasi oleh kepicikan juga.
Lalu yang terakhir, senyum seolah kita peduli. Ini juga merupakan sebuah senyum yang dilandasi oleh kemunafikkan. Hal ini berulangkali saya lakukan juga saya rasakan dalam sebuah pertemanan. Ketika kita ada masalah dengan seorang sahabat atau setidaknya orang yang kita anggap sahabat, kita kemudian tersenyum peduli dengan kebahagiaan atau kesusahan orang lain, sehingga seolah-olah kita lebih peduli terhadap orang lain tersebut. Padahal sejujurnya (bisa direfleksikan kembali iya atau tidak) kita hanya ingin membuat sahabat yang sedang bermasalah dengan kita (anda ataupun saya) cemburu dan peduli terhadap kekosongan pada benak kita. Hal ini seringkali kita lengkapi dengan sindiran-sindiran halus. Senyum yang kita tunjukkan dalam masalah seperti ini adalah senyuman palsu, senyuman yang hanya di bibir tetapi mata kita tetap mengisayaratkan kekosongan hati.
Itulah beberapa ulasan saya tentang senyuman. Gambar balon yang tersenyum dalam foto artikel ini terlihat blurred untuk menunjukkan abhawa ada sedemikian banyak arti dibalik sebuah senyuman yang sebagian saya sharekan. Senyum, sesuatu yang sederhana yang selama ini diulas dengan sangat berwibawa, akan tetapi senyum bisa smenjadi belenggu tersendiri. Pilihlah mana senyummu. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar