Kamis, 21 April 2011

Pernikahan Beda Agama, Siapa Takut?

“Besok kalau mau menikah, cari yang seiman Katolik ya dek” begitu kira-kira nasehat Ibu, Bapak, Mbak, Kakek, nenek, Bulek dll. Bahkan keluarga saya sempat menyayangkan ketika sepupu saya mendekati perempuan berjilbab. Karena seringnya saya didoktrin seperti itu, pada awal mencari pasangan hidup saya juga mengutamakan perempuan yang seagama. Saya cenderung menghindari perempuan-perempuan beda agama ketika memilih (walaupun mereka mungkin juga enggan untuk saya pilih, haha).
Hal ini terus saya camkan hingga pada pernikahan Kakak saya dengan seorang Hindu. Kakak saya yang notabene adalah perempuan harus mengikuti tradisi pernikahan Hindu di Bali, menurut adat Bali pula. Akan tetapi baru ada pemberkatan di gereja selang 3 bulan pernikahan, yang artinya dalam akta perikahan, akak ipar saya beragama Katolik walaupun pada akhirnya keduanya tetap menjalankan ajaran mereka masing-masing. Dari hal ini kemudian saya bertanya-tanya, Katolik-Hindu kadang tidak dipermasalahkan, lalu mengapa kebanyakan orang mempermasalahkan hubungan Katolik-Islam?
Doktrinasi sejak kecil baik dari orangtua teman-teman saya yang Muslim ataupun Kristiani untuk mencari pasangan hidup yang seiman membuat saya bertanya apakah iman akan goyah karena cinta? Bukannya dengan memaknai cinta pada keberagaman kita justru mendapatkan iman yang jauh lebih kuat? Memang pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul 100% karena asumsi saya bahwa toleransi dan memahami satu sama lain adalah bagian utama sebuah iman. Lalu saya juga mulai bertanya-tanya apakah dengan segala doktrinasi untuk mendapatkan pasangan seiman itu tidak akan menimbulkan perpecahan? Setidaknya secara tidak sadar bukannya akan muncul keyakinan bahwa pasangan yang seiman adalah pasangan yang terbaik? Dengan memunculkan pandangan bahwa pasangan yang seiman adalah pasangan yang terbaik, bukannya manusia juga menciptakan pandangan bahwa agamanya adalah yang terbaik dan harus terus menerus diturunkan pada anak cucunya?
Dari pandangan sederhana (yang mungkin terlalu sederhana) ini kemudian saya mulai tidak yakin bahwa saya diajarkan untuk beriman untuk kelangsungan kedamaian di dunia, saya justru berprasangka bahwa saya diajarkan beriman hanya untuk menjaga kelestarian agama saya di dunia. Prasangka saya kemudian berlanjut pada penolakan saya terhadap segala bentuk Muhammad, Yesus, Buddha, Syiwa atau apapun nama Nabi atau anutan yang selalu dielu-elukan utnuk mengajarkan hidup pada para pemeluknya. Bukankah mereka diciptakan sebagai anutan, bukan untuk memecahbelah pandangan manusia tentang manusia lain dan juga kedamaian yang seharusnya diciptakan oleh manusia? Tapi penolakan tersebut hanyalah penolakan sementara, karena saya tetap mengimani Yesus sebagai bagian dari anutan saya dan sekali bukan untuk memecahbelah pandangan saya tentang manusia yang baik dan buruk berdasarkan siapa yang mereka anut.
Kembali pada asumsi saya tentang agama sebagai sebuah aliran untuk mengajarkan bagaiamana manusia bersikap terhadap manusia lain untuk menciptakan kedamaian (bukan menciptakan surga atas nama agama masing-masing), maka tidak adil ketika sebuah pernikahan yang didasarkan pada cinta (sumber kedamaian)tidak direstui hanya karena masalah perbedaan agama. Ketika orang kemudian memunculkan argumen bahwa pernikahan seagamalah yang akan menciptakan kedamaian, maka saya akan memunculkan argumen bahwa tidak selamanya pergaulan seagama selalu menciptakan kedamaian. Pergaulan seagama hanya akan menutup mata teman-teman sepergaualan tentang ajaran-ajaran lain yang beragam dan secara tidak langsung membentuk sebuah pertahanan diri terhadap agama lain karena mereka benar-benar tidak paham. Begitu pula dengan sebuah hubungan pernikahan atau setidaknya hubungan percintaan, bukankah dengan berpasangan atas dasar persamaan agama tanpa pernah merasakan cinta yang sesungguhnya merupakan sebuah penghianatan tersebesar terhadap hati masing-masing orang yang merasakan. Bukankah dengan melarang mereka mencintai yang berebda gama, maka juga melarang mereka untuk mencintai manusia sebagaiamana kepercayaan mereka?
Itu merupakan pernyataan dan keyakinan saya, mungkin akan sangat salah ketika dipandang dari sudut pandang ketaatan beragama, atau akan sangat salah jika dipandang lebih jauh tentang makana pernikahan. Tapi setidaknya sebelum saya mengetahui ajaran agama yang melarang saya menikah dengan pasangan yang berbeda agama ataupun terhalang aturan yang membuat saya harus menikah dengan menjalani agama yang sama, saya punya pandangan tersendiri tentang pernikahan dan agama sebagai sebuah sarana penciptaan kedamaian yang universal. Sekian, maaf jika ada yang tersinggung atau tulisan ini berat sebelah, tapi saya berpikir saya beragama karena iman, saya memilih pasangan karena cinta dan saya bertingkahlaku karena saya ingin terjalin kedamaian di dunia setidaknya hal itulah yang melandasi saya untuk menuliskan tulisan ini. Pemikiran sangat sederhana yang mungkin susah dipahami, susah diterima dan minim argumentasi. Sekian, mohon koreksinya.

Posisioning Telkomsel di Jumoyo

Sekilas saya akan membahas sedikit tentang persepsi saya tentang Telkonsel, Simnpati khususnya. Simpati jika dibandinmgkan dengan 3 memang punya tarif yang sedikit lebih mahal, akan tetapi dari pengalaman saya meminta pelayanan langsung di masing-masing Gerai di Jalan Jenderal Sudirman, Simpati memang tampak jauh lebih siap menghadapi pelanggan. Mulai dari jumlah Satpam yang memadai dan selalu tersenyum, para Front liner dengan Style rambut yang seragam (Cowok di atur ke tengah dan ke atas, cewek digelung ke atas [kecuali yang berambut pendek]) hingga pelayanan eksklusif dan ramah yang didapatkan tiap-tiap konsumen membuat saya berpikir bahwa Telkomsel merupakan provider Telekomunikasi yang mengedepankan layanan yang eksklusif dan baik.
Hal tersebut adalah posisioning awal yang ada di benak saya ketika menerima direct service di Gerai graPari. Lalu, suatu hari sekitar 2 bulan lalu saya pulang ke Magelang. Keadaan saat itu adalah masih labilnya kondisi Merapi dan juga jalan Jumoyo yang hampir selalu dibuka tutup untuk menghindari efek dari banjir lahar. Ketika saya melewati jalur alternatif, di ujung jalan alternatif saya melihat cat merah di toko yang biasanya berwarna abu-abu itu. Saya membaca sekilas, ternyata adalah ambience Telkomsel. Sekilas memang tidak menarik karena strategi serupa juga sering dipakai oleh Walls, 3, XL dan bermacam-macam brand lainnya. Akan tetapi setelah saya memikirkan lebih lanjut, saya merasa Simpati Telkomsel punya kecerdasan dengan memanfaatkan jalur alternatif sebagai tempat pembuatan ambience tersebut.
Seakan-akan Simpati yang sudah mulai digusur oleh provider-provider murah lain menjadi alternatif yang aman, merupakan jalur cepat jika ingin sampai dengan selamat daripada menunggu dan juga penyelamat ditengah keramaian yang terjadi jika tidak ada jalur alternatif. Saya coba membandingkan hal ini dengan persaingan ketat industri Telekomunikasi di Indonesia, seolah tergusur oleh provider lain, Simpati Telkomsel menelurkan Simpati Freedom dengan paket Murahnya. Penempatan di jalur alternatif ini juga mengisyaratkan bahwa Simpati merupakan jalur aman ketika jalur utama (provider utama yang dipakai) sudah tidak lagi berfungsi. Tidak sampai di situ saja, ketika jalur utama dibuka kita juga akan melihat dengan jelas Ambience Simpati ini yang menandakan bahwa Simpati “dari alternatif jadi yang utama”. Ini mungkin hal sederhana dari pemikiran sederhana saya merespon ambience Simpati di Jalur Alternatif Jumoyo. Jika ada yang salah mohon dikoreksi.

Sabtu, 02 April 2011

Random #AsramaFever

saya ingin menuliskan kesan (sedikit saja) yang sebenarnya harus saya sampaikan, kawan....
Dulu pernah kita menjadi satu dalam kehidupan berbelenggu dan sarat akan aturan (yang kita sendiri belum mau memaknai aturan tersebut)....Dulu, bahkan, kita disatukan karena rasa ingin bebas yang selalu memberontak setiap kita melihat sedikit peluang yang diberikan..
Dulu....ketika kita mendapat suatu cobaan,,kita dengan cepat melintas ruang dan saling mendinginkan pikiran....Dulu,,ada cerita tentang saya dan anda, juga kita yang jauh dari orang tua,,mencoba memaknai kembali keluarga kecil dalam sebuah asrama....
Dulu (mungkin) saya akan sangat menyebalkan bagi anda, hingga kita kadang membagi diri dalam beberapa kelompok yang berbeda....anda tahu saya, saya tahu anda, ketika kita mengangkat piala itu bersama, mengabadikan setiap momen bersama, mengenakan jas bersama, berjalan di atas rumput upacara dan kita menerima sorakan bangga atas prestasi bersama, sharing tentang impianmu dan impianku di atas kayu berlapis busa tipis, berbagi kisah tentang Nawang, Niken, Yulia dan perempuan-perempuan hebat juga tentang Tuhan yang sempat membuat kehidupan kita pun semakin berwarna, belajar menghitung setiap angka yang entah mengapa harus dikalikan, dikurangi kemudian ditambah kembali, atau untuk bahasa yang entah kenapa semakin sulit ketika membaca banyak referensi, mendendangkan lagu dengan suara kita yang kadang sangat parau dan jauh dari sempurna, tapi kita lantas tertawa untuk semua keparauan itu. Memang semua entitas kecil itu bukan lah kesempurnaan yang ingin kita capai dalam hidup. Titik-titik yang pernah kita alami hanyalah sebagian kecil landasan untuk meraih masa depan, hingga kita bisa menatapnya bersama, walaupun kita sempat tidak bersama selama beberapa waktu yang lewat oleh amarah (yang bahkan terjadi bersamaan).
Teman, pernahkah terlintas dengan jelas....impianku kini bahkan berbeda dari apa yang pernah kita bayangkan....pernahkah terlintas dengan jelas apa yang akan terjadi dengan ikatan ini ketika kita sudah jauh berada dalam bidang-bidang tenaga yang berbeda..pernahkah terlintas dengan jelas kapan kita akan bertemu lagi dalam jangka waktu yang mau tidak mau harus kita lewatkan?? Atau kita justru berpikir sama....kita mau selalu bersama,,memberikan tenaga dalam ruang yang hampir sama,,sehingga kekuatan yang kita bangun dari awal pun akan tetap terjaga hingga ia lenyap....
Kini kita menghadapi pencerahan besar-besaran di maha bangku,,menuntut kita tak lagi hanya berpikir tentang ikatan,,tapi tentang perbuatan....membuka mata kita akan dunia yang semakin luas,,yang membutuhkan ulurang tangan dari masing-masing kita....tapi saya belum bisa membayangkan,,apakah tangan ini cukup kuat ketika mengayunkan tenaganya hanya sendiri.....walaupun saya yakin,,saya pasti kuat....
Kita pernah bermimpi untuk membantu edukasi,,setidaknya berdoa bersama bagi orang-orang yang bahkan mengalami kehidupan yang lebih buruk daripada saya....tapi kadang kita lupa untuk berdoa bagi ikatan kita,,bukan karena kita melupakan....tapi karena ikatan itu seperti sudah sangat melekat dan tak akan ada yang menggoyahkan....
Sobat,,dunia kita kini semakin luas....pengetahuan kita semakin bertambah....ayuhkan tanganmu bukan lagi karena KITA, tapi demi KITA untuk MEREKA....

Tertanda....
Teman kalian....