Ibu
memegang teko, dituangkan air putih ke cangkir kecil punyaku, lalu ke gelas
besar punya mbak dan Bapak berturut-turut. AKu setengah cemberut. Gelasku
memang paling kecil, tapi minuman yang harus kuhabiskan bahkan jauh lebih
banyak dari gabungan dua gelas besar mbak dan Bapak. Aku harus menghabiskan
satu gelas sangat besar susu kedelai, mungkin dua setengah kali gelas yang
dipakai minum air putih mbak dan Bapak. Aku sakit-sakitan waktu itu, dan susu
kedelai katanya bisa menyembuhkan penyakitku.
Itu
baru pagi hari, ditambah sarapan nasi stu piring tidak boleh bersisa. Kalau
bersisa, aku harus bersiap menutup kuping agar tidak mendengar omelan Ibu dan
tidak merasakan jewera dari Bapak. Satu lagi, tidak perlu sebal dengan
cekikikan mbakku. Sial! Subuh sebelum sarapan, jam empat pagi, aku harus bangun
pagi-pagi lalu minum tiga macam obat. Sebelum makan, sebelum minum susu
kedelai.
Siang sama, nasi
sepiring tak boleh bersisa, bahkan kadang-kadang harus dipaksakan tersimpan penuh
di mulut sebelum dikunyah, tmbah air putih seukuran gelas mbak dan Bapak dan
lima macam obat. Antibiotik, harus habis. Mati
pikirku setiap makan siang, setelah membau puyer yang menyengat hidung. Aku
tidak boleh terlalu lama bermain, hanya dari jam empat sampai setengah lima,
setengah jam saat matahari tidak lagi terik dan anak-anak belum ramai. Watu
setengah jam bermain pun sering hilang kalau saya tidak bisa merem di jam tidur siang. Padahal, tidur
siang membuat aku seringkali bangun dengan perasaan kagol, merasa bersalah. Tanpa alasan. Dan sekalinya bangun, sudah
ada berbagai perintah, nasihat, petuah, nyanyanayanyanyanayanaynyanya,
malas aku mendengarnya.
Sore, harus
mandi dengan sabun khusus yang baunya membuatku rasanya ingin muntah.
Menyengat, belerang murni, agak panas. Kalau tidak mau menuruti gerak tangan
ibu, maka punggungku makin panas karena berulang kali ditampar. Setelah itu,
waktu adzan maghrib, anak-anak di luar cekikian sehabis maghrib, aku harus
duduk manis di bawah lampu belajar. Sekali terlihat mataku kosong, seprti tak
mengerjakan apa-apa, aka nada soal-soal yang diberikan Ibu dan Bapak, kalau
sedang rese kakak juga ikut-ikutan.
Semuanya diberi waktu maksimal. Boleh bertanya kalau tidak bisa, tapi lebih
baik tidak. Daripada jantung copot dan mata kering karena dibentak-bentak.
Gendang telinga juga bisa-bisa pecah, Bapak sering menempatkan mulut ganasnya
tepat di daun telinga. Semakin dibentak, aku tahu bahwa mereka memang tidak
sungguh-sungguh tahu jawaban dari soal-soal yang mereka buat. Sial! Jeda jam
tujuh malam sampai maksimal jam delapan, maka malam. Menu kali ini adalah nasi
sepiring penuh tak boleh bersisa dan dua macam obat. Dua-duanya puyer.
Sudah dua tahun
berturut-turut, setiap hari, aku kesal seperti ini. Kebebasan masa kecil
direnggut oleh penyakit. Penyakit yang ada di dalam tubuhku dan penyakit kasar
dari keluargaku. Satu lagi, penyakit harapan berlebihan bahwa aku harus selalu
jadi nomor satu. Lalu, mereka bisa mengoceh bangga ke tetangga, walaupun kami
hanya keluarga miskin. Tai kucing! Pernah, saking bosannya dengan obat-obatan
berbau sengak, diam-diam aku membuang semua obat yang baru dibeli ke selokan. Telingaku
rasanya harus dilindungi dengan baja yang didalamnya didesain seperti thermos
air, ada ruangan kedap suara sehingga suara dari luar tidak mungkin masuk,
siapapun yang akan menjewer akan kesulitan dan yang mulai cekikikan akan
kulempar dengan penyumbatnya yang agak lunak tapi kompak. Orang tuaku marah
sejadi-jadinya, mbakku senang sejadi-jadinya.
Rutinitas pagi
harus makan, siang setelah makan harus tidur, sore tak boleh pulang terlambat,
malam belajar dan diberi soal, malam harus tidur awal tak boleh nonton televise
berlebihan terus-terusan terjadi sampai aku kuliah. Melepaskan diri dari
paksaan dan menghilangkan salah satu hiburan mbakku. Membantu orang tua pun
kewajiban, paksaan tepatnya. Kalau ada pekerjaan yang kurang sedikit saja, maka
telingaku dikerjai lagi dengan suara, jeweran dan masih sering terdengar
cekikikan. Padahal mbakku sudah besar! Setan!
Kalau banyak
program tivi yang membuat seolah-olah membesarkan anak tidak boleh menggunakan
kekerasan, kenyataannya beda. Beban ekonomi membuat orang tuaku membesarkan
anak, khususnya aku, laki-laki pertama, dengan sangat emosional! Seakan semua
yang mereka kerjakan, yang pasti sangat menyiksa, adalah sumber kebahagiaan
yang membuat mereka lupa akan hutang-hutang. Tak jarang aku berpikir, pelajaran
keluarga yang seperti militer tai kucing ini pasti dipengaruhi Mbah Kung yang
memang veteran ABRI, Mbah Putri yang galaknya melebihi nenek lampir. Dua-duanya
menurun ke Ibu yang sebenarnya kalem dan penyabar. Tapi, suasana akan keruh
kalau Bapak sudah ikut-ikutan, berlagak sok tentara, sok disiplin,
memanas-manasi keadaan dan seolah tidak ada hal yang bisa diselesaikan dengan
santai dan baik-baik. Telingaku lagi-lagi selalu jadi sasaran. Pantas,
komposisinya agak tidak proporsional, terlihat sedikit lebih besar di kepala
yang kecil. Ah, kepala yang kecil ini membuat mukaku terlihat culun dan memang aku
tidak berani membantah sedikitpun.
Kukira setelah
kuliah, kekebasan sepenuhnya sudah ada. Tapi nyatanya, aku memang bebas dari
rutinitas pagi-siang-sore-malam yang ditetapkan oleh orang tua. Aku sudah bebas
mengatur jam makanku, yang bahkan seringkali tidak kumanfaatkan untuk makan.
Aku sudah bebas mengatur jam belajar, yang kebanyakan malah diisi pergi ke kafe,
ngobrol, nyanyi-nyanyi. Jam tidur siang, yang sialnya tetap. Tidur siang di
kelas, bersama dosen yang, serius, bikin ngantuk. AKu sepertinya bebas, tapi
telingaku tidak. Teknologi sekarang sudah makin maju, kami sekeluarga pun sudah
menggenggam telepon. Setiap pagi ada telepon, siang juga, malam apalagi. Pagi
tidak terangkat karena masih belum bangun, siang sengaja tidak diangkat karena
aku masih tidur di kelas, malam. Malam, tidak ada alasan untuk tidak mengangkat
telepon atau orang tuaku akan datang keesokan harinya untuk menjewer telingaku.
Dikiranya aku masih anak kecil yang harus dapat IPK terbaik di seluruh kampus,
lulus tepat waktu, tidak memperpanjang masa studi yang artinya harus
memperbanyak uang yang dikeluarkan untuk segala biaya studi. Telingaku belum
merdeka.
Belum lagi kalau
liburan datang, dengan jarak kota perantauan yang hanya 40an km, aku tidak
boleh tidak pulang. Apalagi kalau kumpul keluarga besar, kebiasaan militer,
terutama pakdhe yang mirip Mbah Kung, akan melakukan pengecekan kelengkapan
anggota keluarga dengan 12 orang saudara, 27 anak dan keponakan, dan cucu yang
tidak bisa dihitung. Satu anggota keluarga belum hadir, bisa jadi cibiran di
pertemuan-pertemuan berikutnya. Cibiran yang mengatasnamakan keluarga. Orang
tua mana yang mau keluarganya dicibir? Ah, kuno sekali keluarga ini.
Saat berkumpul
itulah, mereka saling membagakan profesi dan studi anaknya. Dulu, aku jadi
garda depan di keluargaku. Saat itulah mbakku tidak akan cekikikan. Tapi
setelah kuliah, malas aku membahasnya. Telingaku panas, ditanya sampai mana? Bab
berapa? Kemarin katanya janji tanggal segini? Pakdhe tagih janjimu ya! Kenapa
Ibumu harus bayar lagi? Belum puas belajar lima tahun? Kapan kerja? Uang dari
mana? Sekali lagi, telingaku belum merdeka.