“Mbak, teh panas satu ya,” ujarku sambil terlihat biasa saja. Aku mulai menghampiri etalase penuh dengan makanan untuk mengganjal perut di terik matahari saat itu. Aku ambil piring di atas meja kasir kemudian nasi dari termos berwarna jambon, kububuhi bumbu rendang, daun singkong rebus dan sambal hijau. Aku termenung sebentar, hanya menikmati pemandangan lauk-lauk di depanku, akhirnya ku ambil dua potong tempe goreng tepung berwarna coklat keemasan di pojok etalase.
“Menu biasa ya mas?” mbak penjual dengan tinggi 169 cm-an itu sudah membawa gelas berisi teh panasku, seakan bisa menghafal menu makanku setiap hari. Dia meletakkan gelas itu di meja tempat aku biasa duduk, di depan TV.
Aku diam sejenak memberinya jalan menuju etalase, seperti biasa sehabis mengantarkan minumku dia akan menutup renda-renda etalase makanan warungnya, “Iya, mbak,” jawabku sambil tersenyum. Malu. Aku duduk setelah dia lewat, dan dia pun mulai menggeser renda etalase yang sengaja kubiarkan terbuka. Aku mengetahui hal itu dari bunyinya tanpa harus memandangnya.
Aku mulai melahap satu per satu daun singkong rebus yang bertabur sambal hijau dan bumbu rendang. Aku suka sekali suasana siang itu, hanya berdua, sama dengan aku menyukai makanan di warung masakan Padang ini. Perempuan tadi sedang menata piring di meja kasir, sekali lagi aku sudah terbiasa dengan suaranya tanpa melihat dia melakukannya. Waktu awal-awal datang ke warung ini, dua bulan lalu, dia akan mulai meraih kalkulator di rak meja kasir dan membunyikan suaranya, menghitung harga yang harus kubayar untuk nasi sayur, dua potong tempe, ditambah segelas teh panas atau kadang-kadang air putih panas. Hal itu tak pernah lagi dilakukannya, aku memang tak pernah mengganti menu makanku di warung itu.
Suara sendal jepit yang diseret-seret mulai melintas melewati jalan di sebelah kananku, aku mendengarnya, tidak melihatnya. Seringkali dia tidak bisa menahan senyumnya, seringkali aku mendengar senyumnya. Mungkin bukan senyum, tapi dia jarang memperlihatkan giginya kalau itu disebut tertawa, jadi aku teguh kalau dia sedang tersenyum.
“Lagi nonton apa, mbak?” spontan aku mengagetkannya yang akan duduk menghadap TV, yang ternyata sedang dimatikan, di depanku. Dia lalu menghadapku, seperti biasa dia agak gugup dan mulai tersenyum. Dia tidak pernah memperlihatkan giginya.
“Aku gak tau e mas judulnya apa,” Ujarnya malu-malu. Mata lebarnya berbicara sesuatu. Malu. Dia mulai membenahi duduknya, membiarkanku melihat ke arah laptop yang diletakkannya di bawah rak TV. Dia seakan memberiku teka-teki, membiarkan aku menebak apa judul filmnya.
“Oh, itu kartun tentang masa purbakala. Judulnya Flinstone bukan?” aku bertanya, ya bertanya bukan benar-benar mengerti apa yang keluar dari mulutku. Melihat film itu sebelumnya pun aku tak pernah, membaca resensinya pun aku tidak pernah, asal saja aku menebak apa judul kartun itu.
“Gak tau e, mas. Ini punya anak yang punya warung, katanya aku suruh nonton. Aku gak tau apa judulnya,” Sekali lagi senyumnya membanjiri pandanganku. Ah, apa yang aku pikirkan?, tanyaku dalam hati saat mulai berlama-lama memandangi senyumnya. Dia menyadari, memalingkan mukanya ke arah layar filmnya.
Aku mengaguminya. Baru kali kedua ini, ya kali kedua, aku bisa salah tingkah. Benar-benar salah tingkah yang tidak dibuat-buat. Banyak orang salah salah tingkah, sengaja agar menarik perhatian, di depan para perempuan kota yang berstatus tinggi. Tinggi. Setidaknya bagi orang seperti penjaga warung ini. Ya, ini kali keduanya. Pertama, waktu aku berpacaran dengan pacar masa SMP, Putri. Kedua, di tempat ini.
Aku tidak lantas buru-buru membayangkan itu cinta. Aku hanya ingin merasakan sejenak getaran yang ditimbulkannya. Rasanya berbeda, tidak dibuat-buat. Ini getaran yang alami bagi diriku. Aku bahkan tak pernah mau menanyakan siapa namanya, takut keadaan ini seketika berubah dan penuh dengan kepura-puraan. Kuraih handphone di tanganku, aku hapus inbox penting agar aku bisa menuliskan dan menyimpan sesuatu di draft item-ku.
Sekali senyum,
Dua kali senyum,
Tiga kali senyum,
Matanya berbinar, walau giginya tak pernah keluar,
Wajahnya seperti cawat, elastis tapi tetap kuat,
Bibirnya menggelanyut, monyet yang melihat pasti merasa itu pisang yang melengkung sempurna,
Walaupun tidak tebal, tapi pula tak terlalu tipis. Hanya manis.
Aku tak ingin namamu, ingin hanya terus bersamamu.
Tempe tepung, aku sudah sangat tergantung.
Diam berlama-lama di warung itu, seakan sudah menjadi candu. Kalau saja aku tak punya tugas untuk belajar, tak punya tugas untuk bekerja lebih keras setiap harinya. Andai saja aku manusia yang bebas dari segala tugas, bebanku pasti hanya satu, memikirkan banyak cara untuk tetap tinggal di warung ini. Ya, seandainya aku bukan manusia yang benar-benar manusia, aku tidak akan pernah memikirkan hal lain, selain menghabiskan waktu sekedar memandangi manusia manis di depanku. Heran, aku juga berpikiran dia mempunyai pikiran seperti itu. Lucu. Aku serasa ditarik kuat oleh magnet di ujung bibirnya. Manis.
“Harganya belum naik kan mbak?” ujarku setelah sadar bahwa waktunya sudah habis untuk menabung bayangannya. Aku mengeluarkan uang kertas sepuluh ribu, berdiri dari mejaku. Dia menghampiriku.
Dia hanya menggeleng. Aku tidak tahu apa yang lucu dari penampilanku. Hari ini sengaja kupakai kemeja, celana jins hitam yang baru diwarnai juga sepatu kets untuk mengganti jepit kamar mandiku. Tapi dia terus tersenyum, tanpa mengeluarkan giginya, sesekali menahan senyuman itu dengan tangan kanannya seolah sedang menertawakanku. Matanya tak dapat sembunyi, bola hitamnya melirik ke arahku. Dia sedang mengintaiku. Aku suka, ini intaian yang spontan, bukan penuh kecurigaan, bukan intaian yang menyiksa. Intaiannya melambungkan duniaku, seolah menaburkan dandelion di sekitar wajahnya. Halus, tapi rapuh. Membuatku ingin menjaganya saat dia mulai terbang. Semuanya terlihat alami.
“Tapi gak punya kembalian, Mas,” ujarnya setengah gugup, tapi berani, sambil menuju sebuah bungkusan yang ada di etalase. “Kalau ditukar ini mau?” ujarnya lagi sambil menyodorkan bungkusan itu. Dia seolah memaksaku untuk menerimanya. Dia ingin aku menerimanya, walaupun aku tak tahu apa isinya. Dia seakan pernah memeriksa dompetku, memberikan kembalian yang tepat, sesuai uang yang akan kukeluarkan untuk membayar. Oh, lupa. Ini hari Kamis, aku pasti mengeluarkan uang sepuluh ribuan, hasil jaga warnet malam tadi.
Hatiku sejenak bertanya, tapi lagi-lagi senyumnya menyiksaku untuk segera meraih bungkusan itu dan cepat-cepat pergi menunaikan tugas yang tak berhubungan dengan perasaanku padanya, “Bo..boleh....Tempe ya?” aku tak lagi bisa menahannya, lagi-lagi dia membuatku sok tau. Suaraku mulai bergetar, baru pertama kali sejak aku lulus SMP, di depan seorang perempuan. Bukan seniorku, bukan ibuku, bukan pula guruku yang galak. Kadang aku menyesal saat mengetahui aku terlalu lemah di depan dia yang sama sekali tak berpendidikan, mungkin begitu dia menganggap dirinya, tapi aku senang walaupun lemah di depannya. Aku tidak lagi sendiri, aku selalu ditemani dia yang kuat, walaupun setiap waktu dia selalu menamparku, memukulku, menghajarku dengan tatapan matanya juga sungging bibirnya.
Aku menerimanya, aku lalu melangkah pergi. Aku baru sadar, kembalianku yang lima ribu ditukar dengan sepuluh tempe tepung goreng? Aku heran, tapi aku senang.
***
“Kamu selalu sendiri? Tidak berniat punya pacar? Teman? Sahabat?” Tia, dia satu-satunya teman bangkuku saat kuliah. Dia sering memanfaatkan kepandaianku, selalu menghafal kata-kata yang kukeluarkan. Tapi dia pulalah yang sering mencobaiku.
“Aku sedang mencari takdir!” ucapku ketus, “Masalah teman, kamu teman bangkuku, tapi tak lebih baik dari Herman. Setidaknya Herman dan anak-anak hamsternya tidak pernah berbicara, tidak pernah menanyaiku soal PR dan meninggalkanku begitu saja setelah tahun ajaran selesai.”
“Takdir? Bukannya kamu yang dulu pernah bilang: Takdir itu gak perlu dicari, Ti. Takdirmu hanya untuk hidup dan mati. Manusia bisa mengubah fisik, bisa mencari cinta, bahkan cadangannya. Bisa menemukan teman, bahkan sesekali menghujatny. Takdir itu bullshit?” katanya menghafalkan kata-kataku, dan aku benci saat dia mengetahui aku tidak konsisten. Ini semua karna warung padang. Aku kehilangan konsistensi. Aku tidak pernah mengharapkan perempuan lain sejak putus di masa SMP, kadang aku kesepian, tapi sepi adalah hal menyenangkan. Kadang aku benci dengan penjaga warung itu. Dan kadang ocehan Tia saat mencobaiku benar adanya, “Anan, Herman bukan manusia, dia tidak bisa kau beri berlebih-lebih kasih sayang saat kau menghindari manusia.”
“Iya, aku sedang mencari takdir. Lebih tepatnya takdir awal mengapa aku dilahirkan, dengan siapa aku boleh berteman juga takdir dengan siapa aku akan mati, setidaknya siapa yang benar-benar menjagaiku sebelum mati. Pacar? Teman? Sahabat?” aku mulai membenci mencari-cari alasan untuk menutupi ketidakonsistenanku, “Aku bisa mengubahnya, sehingga tidak lagi menjadi takdir. Tapi aku hanya ingin menjalaninya, siapa tahu takdirku benar. Aku hanya berharap semuanya terjadi secara alamiah, sayangku untuk teman bahkan, aku tidak mau menodainya dengan kepentingan pribadi semata. Aku tidak ingin mengubah takdir, setidaknya dalam hal hubungan dengan manusia, karena kadang itu sangat menyakitkan.” Aku punya pengalaman pahit dalam berteman, dan tanpa disadari aku mulai terhanyut dalam cobaan Tia. Kata orang, aku sedang galau, tapi kataku: curahan hati menunjukkan aku masih berpikir. Aku juga masih merasa.
Aku berjalan cepat, mulai menjauh dari Tia. Aku sudah muak berbicara tentang takdir, setidaknya setelah aku selesai merumuskannya saat lulus SMA. Dulu, saat SMA aku punya sahabat, aku anggap dia takdirku, ternyata dia hanya mampir dan semuanya terjadi secara tidak alami. Dia ada saat membutuhkan, dan aku selalu kesepian saat membutuhkannya. Dia selalu berhasil menaklukkan hasrat-hasratku untuk menolaknya memberi bantuan, tapi sekali lagi aku harus sendirian saat aku hampir tidak tertolong. Semuanya terjadi sekalipun aku telah meminta pertolongannya. Dunia kami berbeda, aku mencoba menyamakan dunia kami, tetap tak berhasil. Kami sekali lagi berbeda. Aku tidak ingin lagi mengubah takdirku, tidak ingin melakukan hal-hal yang mengubah kealamian hidupku. Aku tinggalkan dia, aku bisa menggugat takdir atas hasil belajarku, di tengah IQ yang rendah, tapi aku tak ingin mengubah takdir untuk berhubungan dengan manusia. Sakit, dan aku tak ingin orang lain merasakannya.
Ah, kenapa dia muncul? Dia mengorek lagi garis takdirku saat merasa aku ditakdirkan untuk sendiri. Sinar matanya, ahhh..sungging bibirnya. Dia membuatku tersiksa. Heran, aku justru berbunga-bunga saat dia menyiksaku dengan matanya, senyumnya.
Dalam perjalanan aku terus bergumam, menghujat perjumpaanku dua bulan lalu. Sekali lagi, aku ingin semuanya terlihat alami, tidak memaksakan kantong cekakku untuk mengirimkan bunga juga tidak memaksa kepengecutanku menjadi garang, bahkan hanya sekedar berani menanyakan namanya. Penjaga warung masakan padang.
***
Aku memang pelupa, bahkan seringkali dianggap tidak perduli. Begitu pula malam ini, saking sibuknya mencari-cari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan demokrasi, politik, sosialdan sebagainya, saat kubuka tas hitamku aku lantas menyadari bungkusan yang dititipkan sesorang. Bayangan wajahnya tidak pernah kulupakan, aku sudah banyak menabung bayangannya tadi, tapi bodoh, aku melupakan bungkusan itu. Sejenak aku merasa bersalah, takut isinya sudah tidak lagi bisa dimakan.
Aku keluarkan bungkusan berbalut kertas minyak coklat itu. Ada sedikit minyak yang menyeruak keluar dari dasar bungkusan. Kucium baunya, bau tas bercampur aroma khas. Aroma yang setiap hari selalu kurindukan, seolah dia mengerti, menitipkan setiap aroma tempe hangat lewat angin. Kini, di kamar kosku, aku bisa merasakan nyata aroma itu tanpa harus bertemu dengannya. Sejenak aku merenung, tetap saja kosong. Untung tadi sudah berlama-lama di sana, bayangannya tidak mungkin hilang dalam sekejap, aku menggumam dalam hatiku sambil membuka karet yang mengikat bungkusan itu agar tetap kuat menjaga isinya.
Aneh, ini aneh. Sekali lagi aku menggumam, terlamabat memikirkan reka adegan saat aku menerima bungkusan ini. Aneh. Seolah aku menebak, bungkusan ini sudah disiapkan sebelum aku datang. Dia sudah menyiapkannya, bisa saja sebelum aku selesai makan. Tapi untuk apa? Tanyaku dalam hati, aku memang tidak mengerti, dan inilah misteri dan teka-teki. Dia mencobaiku lagi, sama seperti saat memberikanku tebakan tentang judul film. Anehnya, walaupun tidak ada dia, aku masih tetap sok tau. Aku menbak sesuatu dengan segera tanpa pernah mengerti tanda-tanda apa ini. Aku belum pernah mengalaminya.
Ani. Ada tulisan di luar kertasnya, seolah menyindirku yang selalu enggan menanyakan namanya. Ani Tempe. Oh, Tuhan! Dia seolah tau yang ada di dalam pikiranku, hanya dia dan tempe tepungnya. Anan dan Ani, Aku bergumam sekali lagi, mencari padanan yang tepat untuk keserasianku dan dia, Ah tidak, dia harusnya ada di depanku, Ani dan Anan! Nah, ini baru cocok!
Kulahap tempe tepung berwarna coklat keemasan sambil mengerjakan sisa PR yang esok akan dicontek lagi oleh Tia. Tempenya sudah tidak hangat, tidak lagi renyah. Tempenya hanya gurih, tapi rasanya lebih dari sekedar gurih. Rasanya membuatku berandai akulah superhero, bagi diriku sendiri. Dengan cepat aku mulai melahapnya satu per satu, mempercepat gerak jariku di atas secarik kertas tugas. Ya, aku superhero, mengerjakan tugas dengan cepat. Tempe itulah kekuatanku, bayangan wajahnya adalah nyawaku.
Biasanya kutawarkan beberapa makananku untuk Herman dan empat anaknya, tapi kali ini tidak. Hamster kesayanganku pun tidak boleh merebut secuil biji kedelai dari tempe ini. Tidak, aku ingin menikmatinya sendiri. Walaupun aku belum yakin ini cinta, tapi aku sudah terkena gejalanya, egois, tak mau membagi apa yang kupunya selain dengan Ani.
Malam itu rasanya tenang. Indah. Suara bising kendaraan yang mencoba menyusuri gang-gang kosku tak lagi terdengar. Suasana ini membawaku larut dalam lelah. Kelelahan saat berpikir, semua pikiran termasuk tentang dia. Otakku mungkin akan mengeluh, mengapa harus menyimpan banyak bayangan penjaga warung itu. Tapi, aku yakin dia sudah berkompromi dengan jantungku yang berdetak lebih kencang per detiknya, dia pasti pernah mengalami jatuh cinta juga, dengan sistem tubuhku mungkin. Aku mulai terlelap, tapi otak dan jantungku tetap bekerja, menghadirkannya dalam bayangan kelam, mimpi. Kelam, tidak nyata, tapi indah. Aku berharap.
***
Dengan sigap aku menyiapkan semuanya. Parfum. Gel rambut. Aku mulai melihat diriku sendiri di depan kaca seolah tak mau meluputkan sedikitpun bagian tubuhku dari kerapian. Semuanya siap. Kuambil tasku, kupakai sepatu terbaikku. Aku berjalan menyusuri gang-gang di kota besar itu.
Etalase depan masih dipenuhi lauk pauk yang hangat. Asapnya mengepul, tanpa harus mencium baunya, aku tahu mereka pasti sangat nikmat. Aku melangkah masuk. Aku mulai kecewa.
“Mau makan sini atau dibawa pulang mas?” aku tidak suka ditanyai seperti itu. Aku sudah terbiasa mengambil sendiri makananku, memesan minuman dan melihatnya keluar dari dapur, duduk di hadapanku walaupun seringkali membelakangiku.
“Teh panas satu. Makan sini aja,” sahutku. Aku lunglai, bungkusan kemarin seolah menjadi pesan. Tempe di etalase sudah hilang, daun singkongnya pun hilang. Ini warung apa? Aku rasanya ingin cepat-cepat ke keampus dan membaca buku-buku pelajaranku daripada berlama-lama di sini.
“Ini ya mas minumnya,” ucap penjaga itu dengan ketus. Dia bukan Ani.
“Tempenya gak ada mbak?” tanyaku, juga ketus.
“Gak ada, yang biasa masak tempe tepung sudah pindah,” apa? Aku bertanya dalam hatiku. Apa-apaan ini? Dia memberitahuku namanya, dan dia pergi?
“Oh,” hanya itu yang keluar. Dalam pikirku, kalau ada tempenya pun pasti rasanya berbeda. Ani membuat tempe dengan senyum, tidak seperti kamu yang di depan pelanggan pun tidak pernah tersenyum. Dasar mbak-mbak jelek!
Aku benar-benar lunglai, kuhabiskan segera makananku. Aku mulai melangkah ke kampus. Aku terus berpikir. Lagi-lagi takdir seolah mengerti kapan harus dibicarakan. Kini aku menghadapinya, takdir. Tia mencobaiku untuk mengubah takdir, dan memang takdirku tidak pernah berubah. Aku orang yang sendiri.
Aku senang, aku tersenyum. Orang mungkin menganggapku gila, barusan patah hati, sudah tersenyum. Bukan. Aku tidak patah hati. Aku merasakan getaran pada Ani dengan ikhlas, semuanya terjadi secara alami. Aku senang walaupun dia menyiksaku dengan senyumn dan matanya. Aku ikhlas merasakannya. Inilah yang kusebut alami. Aku tidak menuntut balas akan kepergiannya, aku tak kan pernah menghujatnya saat dia pergi seolah tak tahu apa-apa. Aku cukup merasakan angin bertiup, aku yakin dia sedang membuat tempe tepung sambil memikirkanku. Aku yakin, kalaupun dia takdirku, aku akan kembali merasakan tempe tepungnya, setidaknya aromanya setiap angin berhembus di hadapanku.
Aku menggugat takdir, sedikit. Menggugat kenapa aku terlalu menjalaninya dengan mengalir. Tapi, sekali lagi aku tidak lagi menggugat cinta. Biarlah semua apa adanya. Bahagiaku hanya ketika merasakan dia datang, tidak lagi memaksakan untuk menyatu dengan cinta. Hal itu hanya membuatku berpikir cinta seolah-olah jus buah, terdiri dari macam-macam buah yang disatukan. Tepatnya dipaksakan untuk bersatu. Padahal cinta adalah buah, yang masih bergelantungan di pohon, memancarkan aroma alami dan kadang keindahannya pada semua orang. Cinta itu sempurna, hingga buah itu jatuh di tanah karena rantingnya sudah tak tahan menahan beratnya. Cinta itu tetap ada, walaupun sudah berada di tanah, menumbuhkan kembali tunas dari bijinya, menebarkan kembali keindahan saat tunas tersebut tumbuh, mulai besar dan layu. Cinta itu siklus, menjaga, merasakan, membuahkan hingga akhirnya matang dan kembali berbuah. Cinta tidak dipaksakan. Aku mulai merasakannya, aku yakin ini cinta.
Kalaupun aku salah, setidaknya aku punya pembelaan. Kalau aku salah, setidaknya aku tidak memaksakan untuk membenci takdirku. Kalupun aku salah, toh aku masih bisa mencium aroma tempe tepung di setiap hembusan angin yang hadir tepat di depanku. Aku mencintai Ani, ya, walaupun dia telah pergi. Suatu saat aroma tempe tepung yang akan mempertemukan kami, kalau itu sudah menjadi takdir. Aku mulai menghapus satu per satu puisi untuknya di handphone-ku. Aku mengaguminya, tapi aku tak mau terlarut dalamnya.
Aku jalani hariku lagi, sendiri. Hanya Tia yang mewarnainya, dengan goresan hitam yang tidak alami. Kusam. Tapi hatiku masih tetap murni, terjaga bagi dia, yang tidak tahu dimana, yang menyiapkanku tempe tepung.
***
Satu bulan berlalu sejak Ani tanpa berpamitan meninggalkanku. Satu minggu berlalu sejak ujian akhir semesterku, artinya aku sudah di rumah. Kegiatanku hanya melahap novel-novel Hosseini atau Coelho, Djenar, Sena Gumira atau juga Ahmad Tohari.
Seperti biasa, aku mengahbiskan buku-buk itu di dalam kamar. Tapi sesuatu tampak berbeda kali ini. Bau masakan ibu merebak menembus kamarku. Aromanya, aku membayangkan yang dimasaknya berwarna coklat keemasan. Aku mengenali aromanya, ini tempe tepung.
“Tumben, Bu. Biasanya tempe bumbu garam dan bawang saja,” tanyaku setelah sampai di dapur.
“Ibu baru belajar dari penjaga warung baru di jalan utama. Warung masakan Padang baru punya Pak Uni,” aku terhenyak. Kaget. Hatiku pun begitu.
Pantas saja aromanya begitu dekat. Aku hanya tersenyum. Kuambil sepotong tempe tepung buatan ibu, kubawa ke kamar. Aku tak lagi membaca bukuku, sibuk mencari kata untuk memberitahunya, dia yang akan kutemui, namaku. Anan. Anan yang suka dengan tempe tepung.