Senin, 05 Desember 2011

Arisan 2: Awal yang Absurd, Akhir yang Cukup

Judul yang mungkin membuat Anda berpikir, "Arisan yang dapat banyak penghargaan hanya dibilang cukup?" Tapi memang benar, Arisan 2 menurut saya tidak lebih dari cukup.
Singkat saja, awal dari film ini ingin menggambarkan masing-masing karakter yang bermain dengan segala aktivitas mereka. Saya rasa, scene-scene yang ditampilkan kemudian tersa sangat cepat dan sangat absurd untuk dicerna. Bagi yang sudah menonton Arisan sebelumnya pastilah karakter masing-masing tokoh: Mey, Lita, Andin, Sakti dan Nino masih melekat jelas. Di awal film Arisan 2, tampaknya Nia Dinata ingin mengulang kembali ingatan penonton tentang karakter masing-masing tokoh. Banyak latar belakang cerita yang kemudian (menurut saya) tidak penting. Hal ini berakibat pada scene-scene yang sebenarnya terlalu cepat itu tadi.

Dari segi cerita, saya menangkap sesuatu yang sebenarnya kuat. Yaitu tentang harapan dan persahabatan. Cerita dalam film Arisan 2 bukan lagi berbicara tentang kenyataan dalam hidup yang harus dihargai, tapi lebih dari itu. Setelah kenyataan itu dihargai, lalu muncul sebuah masalah (penyakit kanker yang diderita Mey). Dia kemudian membutuhkan harapan. Mey mencoba mendekatkan diri dengan alam dan Tuhan. Saya tertarik dengan pendekatan yang ditawarkan oleh Nia Dinata. Mencoba membandingkan kenyataan elite dengan kenyataan religius. Saat Mey mencoba bersatu dengan alam dan Tuhan, banyak sekali hal yang didapatkan. Bukan hanya soal persahabatan, tapi juga soal kehidupan, soal menanggapi Tuhan dan juga soal harapan.

"Kalau saya meditasi, saya tidak meminta, saya berdialog" (Tom-dokter Mey)
"Kanker itu sebuah berkah, karena kita bisa mengetahui kapan hidup kita berakhir." (Molly, penjaga bar-teman baru Mey)

Kata-kata yang kuat, yang tertanam dalam pikiran saya dan mengubah pemikiran saya. Hal ini yang lemudian memunculkan harapan dalam diri Mey. Tapi lebih dari itu, saat keduniawian dihadapkan dengan keTuhanan, banyak hal yang sebenarnya bisa dijadikan sebuah permenungan. Kalau di Arisan kita harus menanggapi perbedaan sebagai sebuah cara untuk memanusiakan manusia, di Arisan 2 kita bisa merefleksikan bahwa manusia sebenarnya tidak bisa dibedakan ketika berhadapan dengan maut. Hal ini berarti segala atribut kemanusiaan sebenarnya tidak berguna dalam relasi Tuhan dan manusia, inilah yang kemudian membuat Mey ingin menyingkir dari kehidupan foya-foya.

Hal yang menurut saya sangat menonjol dalam film ini adalah karakter masing-masing tokoh. Rio Dewanto pun muncul sebagai public enemy yang sangat kuat, hal ini yang membuat penghuni Studio 2, 21 Amplaz tak berhenti ngakak dan menghujat saat Rio Dewanto muncul. Karakter Lita, Andin, Sakti dan Nino pun tak kalah kuat. Saya suka penggambaran karakternya, sayang di awal scene masing-masing karakter terlalu di eksploitasi sehingga cerita awal menjadi sangat absurd menurut saya. Katakter-karakter ini kemudian disatukan dalam persahabatan. Harapan itu juga muncul dari kesadaran tentang adanya persahabatan. Ini lah inti lain creita yang juga cukup mengharukan.

Secara keseluruhan, menurut saya film ini bolehlah dapat bintang 3 dari 5. Bagus untuk sekedar menghibur juga melihat kenyataan, tapi kurang untuk teman-teman yang ingin menonton sesuatu yang menggetarkan. Maaf, cuma menceracau...saya juga kurang paham tentang film sebenarnya :))